frontpage hit counter

Hasan al-Bashri dan Kepemimpinan yang Dzalim [1]

Hasan al-Bashri memberikan keteladanan pada umat, menyebarluaskan ilmu ke tengah masyarakat, mensucikan jiwa- manusia

Hasan al-Bashri dan Kepemimpinan yang Dzalim [1]
Bukhara

Terkait

Oleh: Alwi Alatas

 

HASAN al-Bashri (642-728) merupakan seorang pemimpin di kalangan tabi’in.Ilmunya luas, zuhud dan wara’-nya sulit dicari tandingannya, tutur katanya indah dan menghunjam ke lubuh hati banyak manusia.

Ia dilahirkan dua tahun menjelang wafatnya khalifah Umar bin al-Khattab ra.(w. 644). Ayahnya, Yasar, merupakan budak Zaid bin Tsabit ra.(w. 665) yang dimerdekakan, sementara ibunya yang bernama Khairah juga adalah budak yang dimerdekakan oleh Ummul Mukminin Ummu Salamah ra.(w. 680). “(saat ia bayi) kadang ibunya pergi untuk suatu urusan,” tulis Ibn Khallikan dalam Wafayat al-A’yan, “dan Ummu Salamah akan menyusuinya untuk mencegahnya menangis dan untuk mendiamkannya sampai ibunya kembali; disebabkan keberkahan air susu itulah ia (al-Hasan) memiliki kebijaksanaan dan keindahan tutur kata yang membuatnya terkenal di kemudian hari.”

Di usia pra-baligh ia biasa mendengarkan khutbah khalifah Utsman bin Affan ra. (w. 656) dan kadang ia mengunjungi rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam. Badannya yang mulai tumbuh besar memungkinkannya untuk menyentuh langit-langit rumah yang penuh berkah itu.Ia berjumpa dengan banyak Sahabat Nabi dan berguru pada banyak ulama. Di usia 14 tahun ia meninggalkan kota kelahirannya, Madinah, dan pergi menuju Bashrah. Di kota inilah ia menetap dan mengajar hingga akhir hayatnya, kota yang kemudian disandingkan pada namanya, al-Bashri.

Ia hidup di era peralihan dari masa Khulafa’ al-Rashidin kepada pemerintahan keluarga Umayyah.Pada era ini mulai terpecah kepemimpinan umara dan ulama, semakin terbuka pintu-pintu kemewahan duniawi, dan mulai bermunculan sekte-sekte keagamaan.Hasan al-Bashri tampil memberikan keteladanan pada umat, menyebarluaskan ilmu ke tengah masyarakat, mensucikan jiwa-jiwa manusia dengan nasihat-nasihat bernas yang menggerakkan jiwa. Bahkan majelisnya sempat dikunjungi beberapa rahib Kristen yang menganggap perkataannya seperti perkataan al-Masih dan mereka duduk mendengarkan hingga menangis sesenggukan.

Baca: Imam Hasan Al Bashri dan Sang Pembantu

Walaupun ia tidak berasal dari keluarga berdarah biru, tetapi ia meraih capaian yang tinggi berkat ilmu. Ia bukan seorang yang berharta, tapi diakui kedudukannya disebabkan agama. Pernah suatu kali seorang Arab badui datang ke Kota Bashrah dan bertanya pada orang-orang, “Siapa pemimpin (sayyid) kota ini?” Ketika orang-orang menyebut nama Hasan al-Bashri, orang itu bertanya apa sebabnya ia dianggap sebagai pemimpin mereka. “Karena ia tidak memerlukan apa-apa yang ada di tangan mereka (penduduk Bashrah) dari dunia mereka,” jawab orang-orang, “sementara mereka memerlukan apa yang ada padanya dari agamanya.”Orang badui tadi bergumam, “Ini baru pemimpin yang sebenarnya.”

Kharismanya begitu kuat sehingga ketika ada yang baru datang ke kota itu dan bertanya bagaimana cara ia mengenali al-Hasan, al-Sya’bi, seorang ulama lainnya, menyuruhnya pergi ke masjid jami’ (tempat al-Hasan biasa mengajar). “Kalau kamu melihat seseorang yang tak ada seorang pun sepertinya, maka dia itulah al-Hasan.”

Begitulah al-Hasan hidup di tengah penduduk Bashrah, membimbing mereka dengan ilmu dan rasa takutnya yang mendalam kepada Allah, di saat sukar dan di saat mudah, sehingga penduduk Bashrah menyintainya. Saat ia meninggal dunia di tahun 728, penduduk Bashrah berbondong-bondong ikut mengantarkan jenazahnya, sampai-sampai untuk pertama kalinya masjid jami’ kota itu kosong dari solat ashar.

Ujian Pemerintahan yang dzalim

Hasan al-Bashri mengalami masa pemerintahan yang dzalim saat Irak dipimpin oleh al-Hajjaj bin Yusuf (w. 714), sebagaimana ia juga mengalami masa pemerintahan yang adil di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 720) pada masa-masa setelahnya. Hajjaj merupakan gubernur Iraq yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah, memerintah sejak tahun 694 hingga wafatnya di tahun 714. Kepemimpinannya berhasil, tetapi ia juga terkenal dengan kedzalimannya. Tak sedikit ulama dan masyarakat yang merasakan kekejamannya, bahkan mati di tangannya.

Baca: Kisah Hasan Al-Basri dan Kuli Pengangkut Air

Kepemimpinan yang dzalim dan represif biasanya menimbulkan ketidakpuasan yang bisa berujung pada pemberontakan.Ini pula yang berlaku di era al-Hajjaj. Beberapa pemberontakan terjadi dan setiap kali itu pula Hajjaj menindasnya dengan kejam.Di antara pemberontakan serius yang pernah terjadi adalah yang dipimpin oleh Abdul Rahman Ibn al-Asy’at (w. 703/4), salah seorang jenderal Bani Umayyah yang kemudian berbalik melawan kedzaliman pemerintah.

Ibn al-Asy’at melakukan perlawanan militer sekitar tahun 700, tetapi ia dan para pendukungnya akhirnya dikalahkan oleh Hajjaj.Walaupun kebanyakan ulama tidak menyetujui pemberontakan terhadap pemimpin Muslim yang dzalim, sejarah mencatat adanya beberapa ulama yang terlibat atau memberikan dukungan terhadap kalangan tertentu yang melakukan perlawanan militer terhadap pemerintah yang dzalim.

Dalam pemberontakan Ibn al-Asy’at juga tercatat adanya dukungan aktif seorang ulama besar, yaitu Said bin Jubair (w. 714). Banyak ulama lainnya yang berbeda sikap dengannya dalam masalah ini, tetapi tidak ada yang menuduh Said bin Jubair sebagai khawarij atau yang semisalnya disebabkan keterlibatannya dalam pemberontakan tersebut. Said bin Jubair menyembunyikan diri saat pemberontakan gagal dan tertangkap pada tahun kematiannya Hajjaj. Ia berdoa pada Allah agar ia menjadi orang terakhir yang merasakan kedzaliman Hajjaj. Hajjaj pun meninggal dunia beberapa hari setelah eksekusi Ibn Jubair.

Baca: Ulama dan Kebangkitan Umat

Pada masa terjadinya pemberontakan Ibn al-Asy’at, al-Hasan termasuk yang didekati oleh pihak pemberontak agar bergabung bersama mereka.Namun, al-Hasan menolak.Ada beberapa pelajaran menarik yang bisa diambil dari sikap dan nasihat al-Hasan berkaitan dengan masalah ini.

Sebuah artikel mengutip Tabaqat al-Kubra karya Ibn Saad dan menceritakan bahwa beberapa orang meminta fatwa kepadanya untuk melawan Hajjaj sambil berkata, “Wahai Abu Said [panggilan al-Hasan]!Apa pandanganmu tentang (hukum) memerangi orang dzalim ini yang menumpahkan darah dan merampas harta secara tidak sah serta melakukan ini dan itu?”

Hasan al-Basri menjawab, “Saya berpendapat bahwa dia jangan diperangi. Kalau ini [yaitu adanya pemimpin yang dzalim] merupakan suatu hukuman dari Allah, maka kalian tidak akan bisa menghapusnya dengan pedang-pedang kalian. Jika ini ujian dari Allah, maka bersabarlah sampai datang ketetapan Allah, dan Dialah sebaik-baik pemberi ketetapan.” [BERSAMBUNG]

Penulis mudir PRISTAC, Pesantren at-Taqwa, Cilodong, Depok

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !