Sejarah – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Wed, 01 Nov 2017 15:28:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.3 Asaduddin Syirkuh; Pahlawan Pemusnah Daulah Syiah Fathimiyah http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/10/22/126166/asaduddin-syirkuh-pahlawan-pemusnah-daulah-syiah-fathimiyah.html Sun, 22 Oct 2017 09:59:08 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126166

Dari perjalanan sejarah Syirkuh memberantas Daulah Syiah Fathimiyah, kita akhirnya bisa belajar berwaspada

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SINGA GUNUNG Begitulah arti dari Syirkuh (W. 1169 M) dalam bahasa Persi-Urdu (Tabrîzî, 2003: 52). Julukannya, di kemudian hari, dalam bahasa Arab, tak jauh dari itu: “Asaduddin” yang berarti: Singa Agama. Panglima militer kawakan di era Bani Zanki ini terlahir di Duwin, Armenia (Usamah, 1998: 25) sekitar 500 hijriah. Bersama saudaranya; Nadmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin), menghabiskan masa kecilnya di Tikrit. Kala itu, Syadzi, sang ayah, menjadi penanggung jawab benteng Tikrit.

Dengan demikian, baik Asaduddudin dan Najmuddin, sejak kecil merasakansecara langsung nuansa militer (Muhammad Syafi’i, 1962: 31). Hanya saja, meski sama-sama memiliki keberanian mumpuni, antara keduanya ada perbedaan mendasar: kalau Najmuddin lebih defensif (menonjol dalam bidang intilektual, kebijaksanaan dan lebih hati-hati). Sedangkan Syirkuh lebih ofensif dan tidak tahan dengan kezaliman orang. Dengan keberanian dan kepiawaiannya dalam militer, maka siapa pun orang yang lalim akan dilawan, walau nyawa harus melayang.

Melihat pertumbuhannya di lingkungan yang akrab dengan dunia militer, pantas jika di kemudian hari, dia diangkat menjadi panglima perang sekaligus mendapat gelar “Asaduddin” dari keluarga Zanki (Imaduddin dan Nuruddin Mahmud). Bersama saudara kandungnya (Najmuddin), ia mengabdi kepada Dinasti Zankiyah (Shalahuddin, 2000:31).

Sepanjang kiprahnya dalam dunia militer, salah satu karya prestisius Syirkuh yang patut dibanggakan adalah keberhasilannya dalam melenyapkan dan memusnahkan Daulah Syiah Fathimiyah Mesir. Bersama keponakannya (Shalahuddin Al-Ayyubi), dirinya berjuang gigih melenyapkan virus Syiah dari Bumi Kinanah.

Baca: Ketika Syiah Menguasai Mesir

Sebelumnya, atas instruksi Nuruddin Mahmud Zanki, Syirkuh mengemban misi besar berupa: mengalahkan Pasukan Salib. Obsesi ini tidak akan berhasil, sebelum Syam dan Mesir disatukan kekuatannya. Sementara itu, yang menjadi aral bagi ekspedisi ini adalah Dinasti Fatimiyah, Mesir. Suatu saat Syirkuh meminta Izin Nuruddin untuk menaklukkan Mesir, namun tak dibolehkan karena belum ada momentum.

Saat momentum tiba, ditandai dengan pergolakan internal perebutan kekuasaan antara Syawar dan Dhorgom atas kekuasaan Khalifah Al-‘Adhid, maka Nuruddin memberi “lampu hijau” untuk misi luhur ini.

Alkisah, pasca kekalahannya dari Dhorgom, Syawur meminta bantuan kepada Nuruddin agar menolongnya menghabisi rivalnya, Dhorgom. Tak tanggung-tanggung, jika berhasil, Syawur berjanji akan memberikan sepertiga penghasilan Mesir kepada Nuruddin. Bagi Nuruddin, ini adalah kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan jika ingin cita-citanya berhasil.

Untuk mengemban misi besar ini, diutuslah Asaduddin Syirkuh, bersama keponakannya, Shalahuddin Al-Ayyubi. Saat bala bantuan 1000 pasukan dari Nuruddin yang dikomandoi Syirkuh bersama Shalahuddin sukses mematahkan perlawanan Dhorgom bin Tsa’labah (yang bekerjasama dengan Raja Amauri I) di kota Bilbeis (wilayah bagian Muhafadhah Syarqiyah), Syawar berkhianat. Saat janji ditagih, ia tak peduli, bahkan mengusirnya.  “Lain di bibir, lain di hati.” Demikianlah pribahasa yang paling pas menggambarkan sosoknya. Mulutnya seakan memihak dan menjanjikan sesuatu, sedang hatinya menolak dan menganggapnya musuh.

Tak cukup sampai di situ, ia juga memperlakukan tentara dengan tidak baik, bahkan mengusir Asaduddin dan Shalahuddin beserta rombongannya. Seperti inilah sikap Syiah di sepanjang sejarah. Ketika mereka lemah, akan menjilat dan pura-pura bersahabat, namun ketika kuat, mereka akan bertindak semena-mena terhadap orang yang bersebrangan.

Baca: Sikap Panglima Shalāhuddin Al-Ayyubi Terhadap Syiah

Ironisnya, yang lebih menyakitkan, ia bersekongkol dengan tentara Salib untuk mengusir dan menghabisi pasukan pimpinan Syirkuh. Selama tiga bulan Syirkuh mengepung Beilbis meski hanya dengan seribu pasukan. Ia tidak akan angkat kaki dari bumi Kinanah sebelum meringkus Syawar dan penyokongnya. Meski dalam misi ini belum menuai hasil berarti, setidaknya Pasukan Salib mau melakukan gencatan senjata karena tentara Salib di Syam diserang oleh pasukan Nuruddin Mahmud.

Dengan hati geram, Syirkuh kembali ke Syam. Dia bertekad untuk menghabisi penghianat durjana ini. Pada tahun 562 H, ekspedisi ke Dinasti Fatimiyah digencarkan kembali dengan dua ribu tentara. Seperti sebelumnya, Syawar meminta bala bantuan kepada tentara Salib. Syirkuh bersama Shalahuddin baru sukses menumbangkan Syawar pada ekspedisi militer ketiga (564H/1169M).

Akhirnya, dengan perjuangan yang luar biasa, tentara Salib bisa dikalahkan, bahkan Syawur dihukum mati. Setelah itu, diangkatlah Asaduddin menjadi pemimpin. Tak lama kemudian (2 bulan 15 hari), ia pun meninggal dan digantikan oleh Shalahuddin al Ayyubi.

Dari perjalanan sejarah Syirkuh memberantas Daulah Syiah Fathimiyah, kita bisa belajar: Pertama, waspadalah terhadap Syiah. Apa yang ditampakkan, seringkali bertolak belakang dengan yang dibatin. Kedua, ciri khas orang Syiah –sepenjang sejarah- adalah berkhianat dan bersekongkol dengan musuh Islam. Ketiga, sebelum Syiah berkuasa, maka harus ada upaya pencegahan baik dalam bidang pendidikan atau bidang lain agar pengaruhnya tidak dominan. Sejarah adalah guru terbaik agar kita tidak jatuh pada lubang yang sama. */Mahmud Budi Setiawan

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Keluarga Yasir Teladan Umat dalam Dakwah Islamiyah http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/10/22/126169/keluarga-yasir-teladan-umat-dalam-dakwah-islamiyah.html Sun, 22 Oct 2017 09:32:57 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126169

Keluarga Bani Makhzum menimpakan berbagai siksaan amat pedih kepada keluarga Yasir. Dipaksanya anak beranak itu keluar dari Islam.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

KELUARGA Ammar bin Yasir adalah teladan umat. Ammar, ibunya, Sumayyah, dan ayahnya, Yasir, memiliki andil cukup besar bagi perjalanan dakwah Islamiyah. Mereka telah mendapat siksaan, yang menurut ukuran manusia amatlah mustahil untuk tetap istiqamah, yaitu ketika majikannya (keluarga Bani Makhzum) mengetahui bahwa keluarga Ammar bin Yasir masuk Islam, kemudian menimpakan berbagai siksaan amat pedih kepada keluarga Ammar.

Dipaksanya anak beranak itu untuk keluar dari Islam, dan kembali kepada agama berhala yang penuh kekufuran.

Suatu hari, di saat matahari padang pasir tengah membara, di sebuah lapangan terbuka di kawasan kota Mekkah, satu keluarga itu tengah menerima siksaan tak terperikan. Berhari-hari lamanya siksaan itu telah mereka derita.

Tatkala Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam berlalu dari hadapan keluarga itu, tiba-tiba terdengarlah rintihan Yasir dalam keadaan terbelenggu kedua tangan dan kakinya, ”Adakah derita ini sepanjang masa?” Segera Rasulullah menengadah ke langit seraya berseru, ”Wahai keluarga Yasir, bersabarlah. Bergembiralah kamu. Sesungguhnya surga telah dipersiapkan sebagai tempat kembali keluargamu.” Mendengar seruan Nabi tersebut, keluarga Yasir menjadi tenteram jiwanya dan kian tabah dalam menghadapi ujian.

Datanglah Abu Jahal laknatullah. Dimintanya keluarga itu memilih antara mati syahid ataukah dibiarkan hidup bersama rekannya dengan meninggalkan ajaran Muhammad, dan kembali menganut agama nenek moyangnya.

Keluarga itu pun tetap berpihak pada ajaran Muhammad. Gugurlah Sumayyah sebagai saksi atas kebenaran yang diyakininya. Ia wanita pertama yang menyandang gelar syahidah atas din Islam ini. Disusul suaminya, Yasir sebagai lelaki pertama yang bergelar sebagai syuhada.

Sementara Ammar, anak pertama tetap bergulat menanggung siksaan. Ia tetap berupaya menanggung siksaan itu betapa pun pedihnya. Namun ia tetaplah sebagai manusia. Sesungguhnya siksaan yang ia terima telah melampaui batas kemanusiaan, hingga tanpa sadar Ammar pun mengucapkan kata-kata kekufuran sebagai upaya melepaskan siksaan yang ia derita.

Sungguh ia bersedih dengan ucapan itu, walaupun dalam hatinya tetap menyakiti sepenuhnya akan kebenaran Islam. Pada saat itu turunlah kebenaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah ia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keadaan beriman (dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106).*/Sudirman STAIL (Sumber buku: 5 Taujih Ruhiyah, penulis: Abdullah Nashih ‘Ulwan)

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Peran “Para Murid” Al Ghazali dalam Jihad Shalahuddin http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/10/19/125982/peran-para-murid-al-ghazali-dalam-jihad-shalahuddin.html Thu, 19 Oct 2017 09:34:20 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125982

IMAM AL GHAZALI pada waktu itu menyadari kondisi kemunduran umat Islam yang berlanjut dengan penjajahan pasukan Salib. Kemunduran terjadi dalam […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

IMAM AL GHAZALI pada waktu itu menyadari kondisi kemunduran umat Islam yang berlanjut dengan penjajahan pasukan Salib. Kemunduran terjadi dalam berbagai hal, terutama berkenaan dengan masalah ruhiyah. Sehingga, Al Ghazali pun melakukan gerakan ishlahiyah (perbaikan), yang ditandai dengan munculnya karya-karya yang berkenaan dengan masalah ruhiyyah, semisal karya besar yang berjudul Ihya Ulumiddin.

Meski Imam Al Ghazali berasal dari Thus, namun gerakan ishlah yang dilakukan telah menyebar ke sebagaian besar dunia Islam kala itu, dimana Al Ghazali melakukan pengembaraan ke Naisabur, Baghdad, Hijaz, Mesir, Syam termasuk Al Quds dan Damaskus (Tarikh Ibni Al Wardi, 2/20).

Di wilayah-wilayah tersebut, Al Ghazali telah menulis banyak karya dan mengajarkan ilmunya. Di Al Quds sendiri Al Ghazali menulis Al Ihya’ (Al Ans Al Jalil fi Tarikh Al Quds wa Al Khalil, 1/299).

Sedangkan Adz Dzahabi menyebutkan bahwa di Damaskus Al Ghazali juga menulis Al Arbain, Al Qisthas, Muhikk An Nadhar, yang berkenaan dengan ushuluddin (Siyar A’lam An Nubala, 19/232). Selama di Damaskus ia juga mengajarkan kitabnya tersebut (Syadzrat Adz Dzahab, 3/383).

Saat tinggal di Damaskus banyak yang menghadiri majelis Al Ghazali, yang saat itu mengajar di Khaniqah Syeikh Nashr Al Maqdisi, yang akhirnya dikenal sebagai madrasah Al Ghazaliyah (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/134).

Dari gerakan ishlah yang dilakukan oleh Al Ghazali ini kelak memunculkan profil ulama-ulama rabbani yang memiliki andil besar dalam pembebasan Bait Al Maqdis.

Murid Al Ghazali Menjadi Wazir Imaduddin Zanki

Para murid Imam Al Ghazali yang menyebar di banyak wilayah melanjutkan misi gerakan ishlah, dimana peran mereka mulai terlihat mencolok di masa Imaduddin Zanki, yang merupakan ayah dari Nuruddin Zanki. Saat itu mengangkat Marwan bin Ali Ath Thanzi, murid dari Imam Al Ghazali sebagai wazir, ketika ia berkuasa atas Mosul (Thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra, 7/295). Dimana saat itu perlawanan terhadap pasukan Salib mulai dilancarkan oleh Daulah Az Zankiyah.

“Murid-murid” Al Ghazali dalam Jihad Nuruddin Zanki

Selain Marwan Ath Thanzi, ada seorang murid yang cukup berpengaruh di wilayah Syam, yakni Jamal Al Islam Abu Hasan Ali As Sulami, dimana Ibnu Asakir berkata mengenai As Sulami,”Telah sampai kepadaku kabar, bahwasannya Al Ghazali berkata,’Aku meninggalkan di Syam seorang pemuda, jika dia berumur panjang maka ia bakal terjadi perkara hebat pada dirinya’”( Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/134)

Gerakan ishlah Marwan Ath Thanzi dan As Sulami ini beserta para murid Imam Al Ghazali lainnya memunculkan generasi dari kalangan ulama yang memiliki hubungan langsung dengan gerakan jihad. Diantara ulama itu adalah Al Hafidz Ibnu Asakir, yang merupakan murid dari kedua ulama itu. (lihat, Thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra, 7/295, Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/134).

Ibnu Asakir ini memiliki peran kuat dalam gerakan jihad, dimana ia merupakan penasihat bagi Nuruddin Zanki yang melanjutkan misi jihad sang ayah dalam melawan pasukan Salib. Saat itu, hubungan baik terjalin antara Al Hafidz Ibnu Asakir dengan Nuruddin Zanki, ia pun membangun madrasah hadits untuk Ibnu Asakir, yakni Dar Al Hadits An Nuriyah, yang merupakan dar al hadits yang pertama dibangun di dunia Islam (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/74).

Ibnu Asakir sendiri memiliki karya penting seperti Kitab Al Jihad dan Fadhail Masjid Al Aqsha sebagai dukungan terhadap gerakan jihad waktu itu (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/77).

Sebaliknya, Nuruddin Zanki juga memberi dukungan penuh dalam bidang keilmuan. Disamping mendirikan madrasah, Nuruddin mendukung gerakan pencatatan ilmu. Hal ini terlihat dari proses penulisan kitab Tarikh Dimasyq yang berpuluh-puluh jilid oleh Ibnu Asakir dimana Nuruddin Zanki berharap agar penulisannya bisa selesai, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Asakir dalam muqaddimah Tarikh-nya. (Lihat, muqaddimah Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 1/4)

Selain Ibnu Asakir, seorang ulama besar yang dihormati oleh Nuruddin Zanki adalah Quthbuddin An Naisaburi yang mana Nuruddin juga membangun madrasah untuknya, yakni madrasah Al Adiliyah Al Kubra, namun Nuruddin wafat terlebih dahulu sebelum madrasah selesai dibangun (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/136).

Sedangkan Quthbuddin An Naisaburi sendiri adalah murid dari Umar bin Sahl dan Ahmad bin Yahya yang kedunya merupakan murid Al Ghazali. (Lihat, Al Bidayah wa An Nihayah, 12/383, Tarikh Ibnu Al Wardi, 2/310.

“Murid-murid” Al Ghazali di Sekitar Shalahuddin

Pasca gerakan Nuruddin Zanki, muncul Shalahuddin Al Ayyubi yang tidak lain merupakan hasil dari didikan Nuruddin. Sebagaimana di masa Nuruddin Zanki, para figur di sekeliling Shalahuddin juga merupakan murid dari para murid Imam Al Ghazali,yang memiliki pengaruh besar terhadap pribadinya.
Al Hafidz Ibnu Asakir disamping berperan menjadi penasehat Nururddin Zanki, setelah ia pun menjadi penasihat Shalahuddin Al Ayyubi, dimana Shalahuddin selalu mengundang ulama ini untuk hadir di setiap pertemuannya dengan para pejabatnya untuk memberikan nasihatnya (Ar Rauhdatain fi Akhbar Ad Daulatain, 1/13).

Selain Al Hafidz Ibnu Asakir,ada pula Al Hafidz As Silafi, ulama Iskandariyah yang sering diminta fatwa oleh Shalahuddin yang juga merupakan guru hadits bagi Shalahuddin Al Ayyubi. As Silafi, disamping termasuk murid dari As Sulami, ia pernah berguru kepada Syeikh Ahmad saudara Imam Al Ghazali yang meringkas Ihya’ Ulumiddin dan keduanya menjalin hubungan yang cukup baik (Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra, 6/60).

Di sekitar Shalahuddin, adapula ulama yang bernama Najmuddin Al Khubusyani, ulama penasihat Shalahuddin yang memiliki peran besar dalam menumbangkan dinasti Fathimiyah ini merupakan murid dari Ahmad bin Yahya yang juga merupakan murid dari Al Ghazali. Ia juga merupakan ulama yang bertanggung jawab atas madrasah yang Ash Shalahiyah yang dibangun oleh Shalahuddin di samping makam Imam Asy Syafi’i (Husn Al Muhadharah fi Tarikh Al Mishr wa Al Qahirah, 1/406).

Adapun Ibnu Syaddad qadhi militer yang juga penasihat Shalahuddin, yang merupakan guru Shalahuddin di bidang fiqih dan hadits adalah murid dari Najmuddin Abu Manshur Muhammad Ath Thusi, seorang ulama yang merupakan murid Imam Al Ghazali. Ibnu Syaddad sendiri telah menulis untuk Shalahuddin kitab Al Jihad, baik Shalahuddin dan anak-anaknya mempelajari kitab ini dengan baik (lihat, An Nawadir As Sulthaniyah, hal. 51, Siyar A’lam An Nubala, 20/540).

Ada pula ulama yang menuliskan sebuah kitab tentang aqidah untuk Shalahuddin Al Ayyubi, hingga ia sendiri mengajarkan kitab itu kepada anak-anaknya. Penulis kitab itu tidak lain adalah Quthbuddin An Naisaburi, adalah murid dari Umar bin Sahl dan Ahmad bin Yahya yang kedunya merupakan murid Imam Al Ghazali (Lihat, Al Bidayah wa An Nihayah, 12/383, Tarikh Ibnu Al Wardi, 2/310).

Dengan demikian, tidaklah heran jika profil Imam Al Ghazali memeiliki tempat tersendiri di hati Shalahuddin Al Ayyubi, dimana ia mewakafkan tanah untuk madrasah Al Ghazaliyah di Damaskus, dimana Imam Al Ghazali pernah mengajar ilmu di tempat tersebut (Al Wafi bi Al Wafayat, 29/61).

Dari sini, para murid Imam Al Ghazali memiliki peran cukup penting dalam gerakan jihad, baik di masa Imaduddin Zanki, Nururddin Zanki juga Shalahuddin Al Ayyubi, juga tentu memberi pengaruh terhadap terbentuknya karakter para tokoh gerakan jihad tersebut.

Walhasil, Imam Al Ghazali meski tidak melihat langsung hasil gerakan perbaikan yang ia lakukan, gerakan itu terus berlangsung dan bergulir oleh para muridnya dan munculnya generasi pembebas Al Quds merupakan salah satu dari hasilnya.

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Pribumi dalam Sirah Nabi http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/10/19/125951/pribumi-dalam-sirah-nabi.html Thu, 19 Oct 2017 02:15:15 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125951

Penyebutan suku, golongan, ras, penduduk asli (pribumi) asli atau bukan, Arab atau Ajam (non Arab), Muhajirin dan Anshar diakui di zaman Nabi

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

KOTA Yatsrib (Madinah), yang di kemudian hari, menjadi tempat hijrah umat Islam, menyimpan cerita pilu sekaligus haru. Daerah yang menonjol di bidang agraris ini, ditempati Suku Arab Qahtan (Aus dan Khazraj), Yahudi dan para budak. Pada saat itu, suku Yahudi (Qainuqa, Nadhir dan Quraidhah) menguasai Madinah hampir pada segenap aspeknya. Sementara itu, Suku Aus dan Khazraj, hidupnya tak lebih baik dari golongan Yahudi.

Jika diperkenankan memakai idiom kelas, maka suku Yahudi pada saat itu adalah warga kelas satu dan terpandang. Sedangkan kelas penduduk Arab berada di bawahnya. Sedangkan level yang lebih rendah, ditempati hamba sahaya yang kebanyakan dari luar Arab (seperti: Afrika).

Untuk melanggengkan kekuasaanya, Yahudi memakai cara-cara picik dan licik. Suku Aus dan Khazraj yang sama-sama berasal dari keturunan Qahtan dan sudah lama menjadi penduduk asli Yatsrib, diadu domba agar mudah dikendalikan.

Perang Buats yang tersulut akibat provokasi orang Yahudi adalah contoh konkretnya. Selama lebih dari seratus tahun, Aus dan Khazraj tak berhenti berperang. Virus fanatisme golongan menjadi senjata utama Yahudi untuk mengobarkan api permusuhan antara keduanya. Belum lagi sistem ekonomi ribawi yang diterapkan Yahudi, turut serta membuat ekonomi masyarakat melemah. Yang kaya makin kaya, dan yang miskin semakin miskin.

Baca: Pidato Gubernur Anies: Pribumi Harus Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Sebenarnya, orang-orang Aus dan Khazraj sudah lelah menjalani konflik berdarah ini. Beberapa oknum di antara mereka sangat mendambakan figur agung yang bisa mempersatukan mereka sehingga menjadi entitas yang kuat. Setiap kali mereka berusaha bangkit dan melawan hegemoni Yahudi, mereka selalu diancam, ditakut-takuti dengan datangnya seorang nabi akhir zaman yang akan memerangi orang Arab bersama suku Yahudi. Rupanya, informasi ini dipegang secara baik oleh sebagian penduduk Arab di Yatsrib.

Ketika dakwah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menggema di seantero Madinah, Suku Aus dan Suku Khazraj tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mereka tidak mau didahului oleh orang-orang Yahudi.

Pertemuan di Bukit Aqabah, baik yang pertama maupun kedua, menjadi tonggak penting yang akan membuat perubahan besar di Madinah. Komitmen berupa Baiat Aqabah I dan II yang dipegang erat oleh perwakilan Suku Aus dan Suku Khazraj, menjadi jembatan pemersatu bagi kedua suku ini sekaligus menjadi tuan rumah yang menyambut figur perekat: Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersama sahabat-sahabatnya.

Melalui tangan dingin Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi (yang diutus nabi bersama perwakilan masyarakat Madinah untuk berdakwah), Islam bisa cepat menyebar luas. Asad bin Zurarah (berasal dari Suku Khazraj), bersama Shuhaib berhasil mengajak kepala Suku Aus: Usaid bin Khudair, bahkan Saadz bin Muadz memeluk Islam. Dampak dakwah ini begitu dahsyat. Banyak penduduk Madinah yang masuk Islam secara diam-diam, konflik internal yang selama ini disulut Yahudi pun bisa diredam.

Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, penduduk terbelah. Bagi penduduk yang diam-diam masuk Islam, mereka dengan suka-rela menyambut kedatangan sosok pemersatu ini. Sedangkan yang disenggol kepentingan politiknya seperti Abdullah bin Ubay, diam-diam menyimpan kedengkian.

Adapun Yahudi, kebanyakan dari mereka, meski tahu kebenaran Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, alih-alih beriman, justru mereka menolak, naik pitam dan menyimpan dendam. Kedatangan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bagi mereka dinilai sebagai bencana yang bisa menggoyang singgahsana kepentingan mereka.

Pada faktanya, kehadiran nabi benar-benar menjadi perekat dan pemersatu. Kabilah Aus dan Khazraj melebur jadi satu entitas: Anshar. Sedangkan sahabat-sahabat yang berhijrah bersama nabi disebut: Muhajirin. Selain itu, ada pula identitas lain seperti ‘Ajami (non-Arab, seperti Salman Al-Farisi dan Bilal bin Rabbah) maupun Arab.

Di dalam Al-Qur`an pun ada penyebutan: Arabi dan ‘Ajami (QS. An-Nahl [16]: 103 dan Fushshilat [41]: 44). Bahkan, Yahudi dan Abdullah bin Ubay pun, pasca kemenangan gemilang nabi bersama sahabat pada perang Badar Kubra (2 H), terpaksa mengakui kekuatan Islam. Mereka diikat dalam perjanjian maha penting, yang diabadikan sejarah dengan istilah: Piagam Madinah, sebagai konstitusi pertama di dunia.

Adanya kaum Muhajirin-Anshar, Arab-’Ajami (non-Arab), penduduk asli-pendatang, justru bisa harmoni menjadi satu untuk bersama-sama menorehkan kebaikan dan manfaat sosial. Bahkan Yahudi pun (meski tak menerima Islam)  selama tidak menyalahi janji- demikian pula gembong munafik (Abdullah bin Ubay) diikat dalam perjanjian luhur (Piagam Madinah) untuk bersama-sama menciptakan stabilitas dan manfaat, dan kemaslahatan sosial.

Akan tetapi, jika adanya suku, ras, golongan dijadikan alat untuk memecah belah, maka nabi secara tegas mengecam dan segera meredam.

Misalnya, saat Suku Aus dan Khazraj kembali berseteru -akibat adu domba orang Yahudi renta bernama Sya`s bin Qais-, Rasulullah pun dengan sigap dan cepat mendamaikan keduanya agar tak terpancing ajakan jahiliah (Muhammad al-Shallâbi, Sirah Nabawiyah, 2/10).

Baca: Pandangan HAMKA tentang Usaha Pemisahan Pribumi dengan Islam

Demikian juga ketika sahabat dari golongan Muhajirin mendorong sahabat dari golongan Anshar, pada Perang Bani Musthaliq, karena hasutan orang Yahudi. Kondisi ini berbuntut konflik menegangkan yang didasarkan pada fanatisme golongan. Kedua pihak akhirnya memanggil kawannya masing-masing. Ketika nabi mendengar perbedaaan kontradiktif tersebut, beliau segera meredamnya dengan menegaskan bahwa hal itu adalah propaganda buruk jahiliah (HR. Bukhari).

Adapun nasib Yahudi (bukan melihat pada ras, tapi lebih kepada perilaku buruknya), yang suka melanggar janji, mengeksploitasi, memecah belah umat dan berkhianat (meski menguasai modal besar), pada akhirnya terusir dari Madinah. Yang berniat jahat, maka kejahatan itu akan kembali kepada dirinya sendiri.

Non Arab

Dari uraian singkat mengenai kondisi penduduk Madinah, baik sebelum maupun sesudah kedatangan nabi, ada poin penting yang dapat dipelajari.

Suku, golongan, ras, penduduk asli (pribumi) asli atau bukan, ada dan diakui di zaman Nabi.  Dalam sejarah umat Islam, penggunaan istilah “pribumi” juga dipakai oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Karena itu ada istilah Arab dan ‘Ajam (non Arab),  Anshar dan Muhajirin.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنَ اْلأَعَاجِمِ حُمْرَ الْوُجُوهِ فُطْسَ اْلأُنُوفِ، صِغَارَ اْلأَعْيُنِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ، نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ.

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga kalian memerangi bangsa Khuzdan bangsa Karman dari kalangan Bangsa ‘‘Ajam (non Arab), bermuka merah, berhidung hidung pesek, bermata sipit, wajah-wajah mereka bagaikan tameng yang dilapisi kulit dan terompah-terompah mereka terbuat dari bulu.” [HR Bukhari]

Baca: Mantan Ketua MK: Pidato Anies Tidak Berdampak Hukum

Nabi sendiri tidak mempermasalahkan, selama tidak menjadi fanatisme buta, tidak menjadi pemecah belah, sebagaimana masyarakat jahiliah yang dapat mengoyak persatuan.

Perbedaan yang ada justru diharmonikan supaya menjadi kekuatan besar untuk menciptakan kemaslahatan sosial.

Sebagai penutup, potongan khutbah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pada waktu Haji Wada’ ini bisa dijadikan renungan:

أيها الناس أكرمكم عند الله أتقاكم، ليس لعربي فضل على عجمي إلّا بالتقوى.

“Wahai sekalian manusia! Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.  Orang Arab tidak lebih muliah daripada orang non-Arab, melainkan dengan ketakwaan (yang dimilikinya.” (Al-Khudari, Nur al-Yaqîn, 229)*/Mahmud Budi Setiawan

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Peran Najmuddin Ayyub atas Kepahlawanan Shalahuddin al Ayyubi http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/10/17/125783/peran-najmuddin-ayyub-atas-kepahlawanan-shalahuddin-al-ayyubi.html Tue, 17 Oct 2017 06:52:30 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125783

Ibnu Katsir mencatat, najmuddin rajin beribadah. Selain masjid, ia memiliki tempat khusus menyendiri baik di Mesir maupun di Damskus yang disebut dengan An-Najmiyah

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

KOTA Duwin (Armenia), perbatasan Azerbaijan, menjadi saksi bisu kelahiran ksatria Muslim kenamaan yang di kemudian hari melahirkan pahlawan agung pembebas Al-Quds dari cengkeraman tentara Salib dan Mesir dari pengaruh Dinasti Syi’ah Fathimiyah.

Dalam literatur sejarah, figur ini dikenal sebagai seorang pemberani. Di medan tempur, ia pantang mundur. Jika badan sudah berada di arena juang, dengan nyali tinggi akan melawan siapa pun yang menghadang. Sosok ini bernama Najmuddin Ayyub. Sedangkan anaknya adalah Shalahuddin Al-Ayyubi.

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” demikian kata peribahasa masyhur untuk menggambarkan figur Shalahuddin al Ayyubi. Di balik kepahlawanan, keagungan, ksatriaan, kehebatan dan kepopulerannya dalam belantika sejarah, setelah takdir Allah Subhanahu Wata’ala, tidak bisa dilepaskan dari  “tangan dingin” Najmuddin.

Figur ayah yang memiliki nama lengkap Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub al-Amir Najmuddin Abu al-Syukr Ad-Duwini ini, dengan ketelatenannya, dan juga atas dukungan istri dan saudaranya mampu mencetak kader brilian yang sumbangsihnya bagi umat Islam begitu besar.

Apa peran Najmuddin atas kesuksesan Shalahuddin? Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu diungkap terlebih dahulu sisi-sisi istimewa dari sosok Najmuddin yang kelak berpengaruh besar dalam kepribadian Shalahuddin.

Menurut beberapa sejarawan Muslim yang menulis biografi beliau (sebut saja misalnya: Ibnu Katsir, Ibnu Khillikan, Shalahuddin Khalil, Majid Arsan Al-Kailani, Muhammad Shallabi) memiliki keistimewaan yang mumpuni. Setidaknya, bisa dikerucutkan menjadi tiga kata kunci:  Pertama, taat agama. Kedua, pemberani. Ketiga, dermawan. Dari tiga hal ini, penulis akan mengurai peran Najmuddin yang sukses dalam mendidik pahlawan sekaliber Shalahuddin Al Ayyubi.

Baca: Meneladani Panglima Shalahuddin al Ayyubi dan Nuruddin Zanki

Najmuddin dalam sejarah dikenal sebagai pribadi yang taat beragama.  Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah wa al-Nihayah (1408: XII/337) mencatat bahwa beliau rajin beribadah. Ibadah seperti Shalat, puasa dan yang lainnya, begitu dijaga. Sampai-sampai, selain masjid, ayah Shalahuddin ini memiliki tempat khusus untuk menyendiri beribadah baik di Mesir maupun di Damskus yang disebut dengan An-Najmiyah. Maka tidak mengherankan jika Muhammad Shallabi (2008: 230) ketika membicarakan perangai Shalahuddin, beliau menyebut dirinya adalah pribadi yang sangat menjaga ibadah dan takwa.

Saat membahas poin ini, Shallabi menyebutkan bahwa Shalahuddin adalah sosok yang berakidah lurus, menjaga shalat berjamaah, rutin berzakat sekaligus bersedekah, puasa, haji, hobi menyimak al-Qur`an serta hadits, menjaga syiar-syiar agama, dan selalu berperasangka baik kepada Allah (2008: 230-233).

Shalahuddin Khalil dalam bukunya yang berjudul al-Wâfî bi al-Wafayât (2000: 10/30-33) juga mengamini jika anak Najmuddin adalah pribadi yang religius dan baik. Salah satu yang berperan besar terhadap ketaatannya dalam beragama adalah ayahnya sendiri.

Lebih dari itu, berkat didikan ayahnya, menurut catatan Muhammad Ash-Shayim, Shalahuddin mampu menghafal al-Qur`an ketika berumur sepuluh tahun. Bahkan ia rajin hadir dalam maelis ilmu fikih, hadits dan tafsir (GIP: 216). Tanpa didikan keagamaan yang baik, tak mungkin Shalahuddin bisa menjadi pribadi yang taat beragama.

Baca: Sebab-sebab Keberhasilan dalam Pembebasan al-Quds pada Masa Perang Salib

Dari segi keberanian, Najmuddin memang sangat mumpuni. Imaduddin Zanki dan Nuruddin Mahmud Zanki, melihat sendiri keberanian dan kepiawaiannya di medan tempur; sehingga menjadikannya sebagai sosok penting yang dilibatkan dalam urusan militer.

Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh dalam al-Mausû’ah al-Muyassarah fî al-Târikh al-Islâmi yang diterjemah Zaenal Arifin menjadi Buku Pintar Sejarah Islam (2014: 606) menyebutkan bahwa Najmuddin memang dikenal sebagai seorang pemberani. Atas keberaniannya ini, beliau dipercaya Raja Muhammad Maliksyah di Tikrit.

Shalahuddin hidup dalam didikan keberanian pada nuansa militer yang cukup ketat di benteng Tikrit. Ia dilatih kesatriaan, berenang, bela diri, dan seni perang oleh ayahnya.

Dalam buku yang berjudul Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angka Nol (Republika, 89-90) disebutkan bahwa sosok ayah dan paman (Asaduddin Syirkuh yang juga merupakan panglima Tangguh yang mendapat kepercayaan dari Raja Nuruddin Mahmud Zanki) mempunyai andil besar dalam mendidik Shalahuddin menjadi ksatria tangguh. Sangat lumrah jika pada usia 14 tahun, dirinya sudah dilibatkan dalam ekspedisi militer.

Selanjutnya, yang berpengaruh besar pada sosok Shalahuddin adalah kedermawanan ayahnya. Shalahuddin Khalil dalam al-Wâfî bi al-Wafayât (2000: 10/30-33) menyebut figur karismatik ini sebagai orang yang dermawan.

Baca: Shalahuddin al-Ayubi Pulihkan Ajaran Sunni

Ibnu Katsir pun mencatat tentang kedermawanannya. Beliau rajin bersedekah dan menolong orang yang kesusahan. Pantas saja di kemudian hari, Shalahuddin juga mewarisi kedermawanannya. Begitu dermawannya, sampai-sampai menurut catatan Shallabi, ketika Shalahuddin wafat –meski sebagai penguasa- dalam simpanannya hanya tersisa perak berjumlah 40 dirham Nashiriyah dan emas hanya satu gram Shuri (2008: 238) Kekayaan yang dimiliki Shalahuddin hampir habis untuk kepentingan agama dan sosial.

Sebenarnya masih banyak sisi istimewa Shalahuddin yang terinspirasi ayahnya, namun ketiga hal berupa: ketaatan beragama, keberanian dan kedermawanan, paling tidak bisa menjelaskan bagaimana peran Najmuddin dalam mendidik Shalahuddin sehingga menjadi pahlawan legendaris yang dihormati baik oleh kawan maupun lawannya; demikian juga Muslim maupun non Muslim.

Sehingga tidak heran jika Carole Hillenbrand -Guru Besar Staudi Islam dan Bahasa Arab Universitas Edinburg- dalam buku The Crusade; Islamic Prespectives yang diterjemahkan Heryadi dengan judul Perang Salib Sudut Pandang Islam menyebutkan, “Di antara para pemimpin kaum Muslim yang terlibat dalam Perang Salib, Saladin [Shalahudin] mendapat posisi yang terhormat di dalam biografi ilmiah modern.” (2007:17) Sosok seperti Gibb, Ehrenkreutz, M.C. Lyons dan D.E.P. Jackson di antara sekian contoh orang Barat yang memujinya. Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Istanbul: Di Mana Semuanya Pertama Kali Dimulai http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/10/04/124892/istanbul-di-mana-semuanya-pertama-kali-dimulai.html Wed, 04 Oct 2017 03:54:43 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124892

Pertandingan sepak bola pertama di Istanbul diselenggarakan 121 tahun di padang Kuşdili, Kadıköy antara Club Moda melawan tim gabungan dari İzmir

(Nashirul Haq AR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–Dari karya arsiteltural hingga perkembangan teknologi dan dari kehidupan sosial hingga standar ekonomi dan budaya, Istanbul telah menjadi rumah bagi sejumlah hal baru selama bertahun-tahun.

Süleyman Faruk Göncüoğlu telah melakukan penelitian tentang pengalaman pertama yang sangat penting bagi sejarah budaya kita, dengan mempublikasikan buku berjudul, “Istanbul’un İlkleri” (Hal-hal Pertama Istanbul).

Bukunya, yang dipublikasikan oleh Timaş Publishing House, merupakan sebuah antologi yang terdiri dari pengalaman pertama Istanbul, termasuk periode sejarah Istanbul mulai dari Bizantium kuno, Ottoman hingga Republik.

Baca: Istanbul yang Tenang dan Menenangkan

Buku ini mendorong pembaca untuk mengelilingi aula pameran pertama di Istanbul dan mendengarkan suara “halo” pertama yang keluar dari sebuah penerima telepon untuk pertama kalinya di Istanbul.

Berdasarkan penelitian Göncüoğlu, kita telah mengumpulkan sejumlah contoh dari daftar yang pertama menarik ini, kutip Daily Sabah.

Jalanan mobil pertama di Istanbul

Penduduk Istanbul pertama kali melihat mobil pribadi bertenaga bensin di pemukiman Fenerbahçe Istanbul pada 1895. Mata mereka tertuju pada sebuah Renault-Landaulet milik Deputi Basra Züheyrzade Ahmet Pasha, orang-orang menunjukkan perhatian yang besar pada kendaraan itu.

Saat impor kendaraan berbahan bakar cair diperbolehkan pada 17 Agustus, 1907, jumlah kendaraan  di Istanbul berangsur-angsur meningkat. Kecelakaan lalu lintas pertama dilaporkan terjadi melibatkan supir pribadi Duta Besar Italia di depan Masjid Şişli, yang berakhir dengan penangkapannya oleh polisi di pemukiman Pangaltı.

Penduduk Istanbul merasakan basket

Pertandingan basket pertama di Istanbul dimainkan di Perguruan Tinggi Robert’s 113 tahun yang lalu. Tujuh tahun setelah pertandingan pertama itu, pertandingan lain diorganisir di aula olahraga Sekolah Menengah Atas Galatasaray, sementara pertandingan profesional pertama diselenggarakan antara tim Turki dan Amerika pada 4 April, 1921 di sebuah bangunan sekolah yang saat ini merupakan Sekolah Menengah Kejuruan Cağaloğlu. Tim Amerika memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 18-14.

Percakapan pertama melalui telepon

Pada 1881, Istanbul terpesona oleh suara “halo” pertama yang diresonansikan dari sebuah penerima telepon. Tidak sampai tiga thaun kemudian dengan diperkenalkannya telepon yang paru pada Pameran Paris 1878, Sultan Ottoman Abdülhamid memulai usahanya membangun jaringan telepon pertama Istanbul.

Baca: Ruhul Islam Sultan Abdul Hamid II

Pada tahun 1919, papan-hubung telepon Istanbul memiliki 9.600 pelanggan, sementara panggilan telepon jarak-jauh pertamanya dilakukan antara Istanbul dan Ankara.

Gila bola dimulai di Istanbul

Pertandingan sepak bola pertama di Istanbul diselenggarakan 121 tahun yang lalu di padang Kuşdili, Kadıköy antara Club Moda dan sebuah tim gabungan dari provinsi İzmir, sedangkan klub bola pertamanya, bernama Black Stockings, didirikan pada 1897 oleh Fuad Hüsnü dan teman-temannya. Fuad Hüsnü juga merupakan pesepakbola Turki pertama dari Istanbul. Klub olahraga Turki resmi pertamanya merupakan Klub Olahraga Galatasaray.

Galeri-galeri seni kota kuno

Aula Pameran pertama yang dibuka pada tahun 1901 di Beyoğlu Şark Pasajı bernama Pera Hall. Yang menampilkan lukisan-lukisan serta pahatan, tetapi aula itu ditutup tiga tahun kemudian.

Empat tahun setelah penutupannya, pameran seni pertama di kota itu diadakan oleh Asosiasi Pelukis Ottoman dengan judul “Pameran Galatasarat” dan diikuti oleh 44 seniman. Pameran-pameran semacam ini secara regular diadakan hingga tahun 1950-an.

Para pelukis wanita juga mempunyai kesempatan untuk menampilkan lukisan-lukisan mereka untuk pertamanya kalinya di pameran tersebut.

Bangunan pertama dengan listrik dan sistem pemanas

Bertahan dalam periode kekuasaan Sultan Abdülhamid II, Mansion Mahmud Cemil Molla juga telah melihat banyak hal pertama. Rumah itu dibangun untuk Menteri Kehakiman pada masa Abdülhamid II, Mahmud Cemil, pada tahun 1885 oleh arsitek Italia Alberti di sebuah hutan di sebelah kiri Pemakaman Nakkaştepe, yang berlokasi diantara pemukiman Kuzguncuk dan Beylerbeyi.

Baca: Desa Bersejarah Ottoman di Bosnia

Rumah yang menandakan langkah pertama Istanbul menuju kehidupan moderen, dilengkapi dengan listrik, sistem pemanas dan telepon yang dipasang di luar istana. Sistem pemanas bangunan itu juga merupakan salah satu contoh hal pertama yang ada di Istanbul, sementara listriknya disediakan dari generator khusus. Bangunan itu saat ini digunakan sebagai kantor Mesa Construction Istanbul.

Moda: Di mana pantai pertama Istanbul dibuka

Di Ensiklopedia Istanbulnya, Reşat Ekrem Koçu menulis bahwa budaya mandi di luas terkenal pada masa Ottoman dikarenakan Tempat Pemandian Laut Çardak Pier yang beroperasi antara tahun 1826 hingga 1850.

Penduduk Istanbul pertama kali berkenalan dengan konsep “pantai” ketika warga Belarusia yang lari dari Rusia tiba di Istanbul. Konsep itu dilakukan pertama kalinya di pemukiman Moda sedangkan umat Muslim kebanyakan lebih memilih pantai-pantai Altınkum dan Küçüksu yang berlokasi di Rumelikavağı.*

(Nashirul Haq AR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Keturunan Tionghoa di Mata Bung Hatta http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/08/29/122425/keturunan-tionghoa-di-mata-bung-hatta.html Tue, 29 Aug 2017 01:28:13 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=122425

Inti persoalan WNI asli dengan WNI keturunan Tionghoa bukanlah diskriminasi ras/rasis atau SARA, melainkan ketimpangan ekonomi

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Andi Ryansyah

 

PEMERINTAH Jogja diprotes. Karena melarang Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa punya tanah di sana. “Kami mempertanyakan kenapa kebijakan diskriminatif itu masih dipertahankan sampai sekarang,” demo Willie, seorang pria keturunan Tionghoa di depan gedung DPRD Jogja dua tahun lalu (Kompas, 29/9/2015). Tahun 2016, keturunan Tionghoa lainnya, Siput, juga tidak terima. Ia melayangkan somasi kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Jogja agar mencabut larangan itu. Bahkan ia mengancam akan memproses secara hukum bila somasinya diabaikan.  Kini sudah 2017. Belum kedengaran kasus ini selesai.

Dasar larangan WNI keturunan Tionghoa punya tanah di Kota Gudeg adalah Surat Instruksi Wakil Gubernur tahun 1975, yang memerintahkan bupati dan walikota tidak menerbitkan surat sertifikat hak milik tanah kepada WNI nonpribumi. WNI nonpribumi ini meliputi keturunan Arab, India, Tionghoa, dan lain sebagainya.

Konon, keluarnya instruksi itu lantaran dulu semua tanah di Jogja adalah milik Kesultanan Jogja dan Kadipaten Pakualaman. Kesultanan dan Pakualaman kala itu memberikan tanah-tanahnya kepada warganya sesuai dengan kebutuhan dan berdasarkan hukum adat.

“Dalam masyarakat adat, tidak mungkin ada orang dari masyarakat adat lain bisa punya hak yang sama. Itu dasarnya,” kata Parampara Praja bidang pertanahan Pemda Jogja, Suyitno.

Baca: Ahok, Kecelakaan Sejarah’ dan ‘Misrepresentasi’ Imej Tionghoa di

Selain itu, tambahnya, keluarnya instruksi tersebut juga karena mayoritas WNI keturunan Tionghoa di Jogja menguasai tanah di sana.  “Kan sekarang ini mereka itu yang ekonominya kuat, ada ketimpangan. Aturan ini dikeluarkan biar ada keseimbangan. Kalau dibilang nggak adil, justru kalau tidak diatur kan tidak adil,” ujarnya (Tirto.id, 5/10/2016).

Oleh sebagian kalangan, instruksi ini dianggap bertentangan dengan HAM dan sejumlah Undang-Undang. Diantaranya UU No.5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria pasal 9 ayat 2 dan pasal 21 ayat 1. Pasal 9 ayat 2 menyebutkan, “Tiap-tiap warga negara Indonesia, baik laki-laki maupun wanita, mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh sesuatu hak atas tanah serta untuk mendapat manfaat dan hasilnya, baik bagi diri sendiri maupun keluarganya.” Sedangkan pasal 21 ayat 1 menegaskan, “Hanya warga negara Indonesia dapat mempunyai hak milik.”

Memandang persoalan yang cukup sensitif ini, agaknya masing-masing pihak perlu memahami dulu apa yang hidup di hati yang lain. Kalau isi hati masing-masing bisa diselami dan dituturkan dengan hati-hati, maka akan memperdalam pengertian di antara keduanya. Dari situ baru kita bisa loncat ke babak penilaian dan penyelesaian.

Untuk menyelami isi batin WNI keturunan Tionghoa dan WNI asli, pikiran Bung Hatta yang tertuang di dalam majalah Star Weekly No.578 tanggal 26 Januari 1957, bisa sangat membantu. Meski ditulis 60 tahun silam, tapi pikirannya masih terasa relevan dengan kondisi kekinian.

Dalam menghadapi persoalan status WNI keturunan Tionghoa, kata Bung Hatta, kita harus bisa memilah mana norma dan mana fakta. Kalau dari segi norma, gampang saja. Negara punya aturan tentang siapa warga negara dan bagaimana orang asing bisa jadi warga negaranya. Kalau status keturunan Tionghoa sudah jadi  WNI, maka hak dan kewajibannya pun jadi sama dengan kita.

Tapi itu norma. Faktanya, ungkap beliau,persamaan status ini mudah diterima otak, tapi susah diterima hati rakyat banyak. “Realitet ini harus diakui, dihadapi dengan hati jang terbuka serta kepala jang dingin,” ujarnya.Beliau melihat penyebab utama adanya realitas itu terkandung dalam sejarah dan psikologi kita.

Politik Diskriminatif Kolonial

Dulu, kolonial Belanda memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada orang Tionghoa. Mereka membeda-bedakan penduduk Hindia Belanda dalam kelompok Europeanen (golongan Eropa), Vreemde Oosterling (golongan Timur Asing yang sebagian besar orang Tionghoa), dan inlander (golongan pribumi). Diskriminasi ini memunculkan aturan yang berlainan antara golongan pribumi dan non pribumi dalam sistem pewarisan, perkawinan, agama, lokalisasi pemukiman, dan lain sebagainya.

Baca: SBY Keluarkan Keppres Ganti Istilah China dengan Tionghoa

Kedudukan istimewa kepada golongan Tionghoa ini berakibat orientasi pengabdiannya tertuju kepada penguasa kolonial dan sering berlawanan dengan kepentingan pribumi. Pola kelakuan penguasa terhadap pribumi yang tidak mengenal prinsip-prinsip moral, membuat mereka menghalalkan segala cara dalam menjalankan tugas atasannya. Mereka jadi seperti menjilat ke atas dan menendang ke bawah kalau berhubungan dengan bosnya dan golongan pribumi.

Penguasa kolonial juga sengaja menjadikan golongan nonpribumi sebagai alat penguasaan ekonomi golongan pribumi. Mengapa golongan nonpribumi? Sebab golongan pribumi tidak dipercaya oleh penguasa kolonial. Sedangkan golongan nonpribumi, khususnya keturunan Tionghoa, bisa diawasi dan diatur. Opsir Tionghoa yang menjadi perantara penguasa, mendapatkan manfaat ekonomi yang diperas dari golongan pribumi. Mereka diberikan hak monopoli menjual candu, pengangkutan, pengambalian sumber daya alam dan hak menarik pajak, bea cukai, dan lain-lain (Emil Salim dalam bukuNonpri di Mata Pribumi, 1991).

Lambat laun dari cuma alat kolonial, tutur Bung Hatta,golongan Tionghoa kemudian dapat merebut kedudukan ekonomi sendiri sebagai kaum pertengahan dan menguasai rantai distribusi.Kedudukannya yang menguasai perekonomian, juga dimanfaatkan oleh penjajah Jepang untuk melancarkan ekonomi perang. Tak sedikit orang Tionghoa diperasnya. >> klik (BERSAMBUNG)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Saat Tha’if Dikepung 40 Hari http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/07/04/119329/saat-thaif-dikepung-40-hari.html Tue, 04 Jul 2017 07:08:49 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119329

Pada awal pengepungan, orang-orang Muslim mendapatkan serangan anak panah secara gencar.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

PERANG ini pada hakekatnya merupakan perpanjangan dan kelanjutan dari perang Hunain. Sebab mayoritas pelarian Hawazin dan Tsaqif masuk ke Tha’if bersama komandan tertinggi mereka, Malik bin Auf An-Nashri. Mereka bertahan di sana. Karena itu Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam beranjak ke Tha’if seusai dari Hunain dan setelah rampung mengumpulkan harta rampasan di Ji’ranah.

Khalid bin Walid berangkat lebih dahulu ke sana bersama 1.000 prajurit, kemudian Rasulullah menyusul dengan melewati Nakhlah Al-Yamaniyah, Qarnul Manazil, hingga tiba di Liyyah. Di sana ada benteng milik Malik bin Auf. Beliau memerintahkan untuk menghancurkan benteng tersebut.

Beliau melanjutkan perjalanan hingga tiba di Tha’if. Beliau berhenti tak jauh dari benteng mereka dan berkubu di sana. Kemudian beliau memerintahkan untuk mengepung benteng tersebut.

Pengepungan ini berjalan cukup lama. Dalam riwayat Muslim dari Anas, tempo pengepungan ini selama 40 hari. Tetapi menurut para penulis sejarah, tidak selama itu. Pada awal pengepungan, orang-orang Muslim mendapatkan serangan anak panah secara gencar.

Cukup banyak orang Muslim yang cedera. Ada 12 orang meninggal dunia, hal ini memaksa mereka mengalihkan kubu ke tempat yang lebih tinggi, tepatnya di tempat yang didirikannya masjid Tha’if saat ini. Mereka pun bermarkas di sana.

Nabi memasang Manjaniq ke arah penduduk Tha’if di dalam benteng dan melontarkan peluru-peluru batu, hingga dapat merontokkan sebagian dinding benteng dan beberapa prajurit Muslim masuk ke dalam benteng lewat dinding yang sudah terlubangi itu.

Mereka masuk ke arah pagar benteng untuk membakarnya. Tetapi musuh melontarkan besi yang sudah dibakar panas dan juga serangan anak panah ke arah orang-orang Muslim yang masuk ke dalam benteng hingga dapat membunuh sebagian di antara mereka.

Sebagai bagian dari siasat perang, Rasulullah memerintahkan untuk menebangi pohon anggur dan membakarnya. Karena cukup banyak pohon anggur ditebangi, pihak musuh dari Tha’if memohon atas nama Allah dan hubungan kerabatan, agar penebangan itu dihentikan. Beliau mengabulkan permohonan mereka. Lalu beliau berseru, ”Siapa pun yang mau turun dari benteng dan datang ke sini, maka dia bebas.”

Ada 20 orang turun dari benteng dan mendatangi pasukan Muslim. Di antara mereka ada yang dijuluki Abu Bakhra. Pekerjaannya memanjat dinding benteng Tha’if, lalu menjulurkan kerekan bundar untuk mengambil air minum. Maka ia dijuluki Abu Bakrah (tukang kerek).

Beliau membebaskannya dan setiap orang di antara mereka diserahkan kepada seorang Muslim untuk diberi makan.

Setelah pengepungan berjalan sekian lama dan benteng tidak mudah ditaklukkan begitu saja, sementara musuh bisa bertahan di dalam benteng selama setahun, maka Rasulullah meminta pendapat Naufal bin Mu’awiyyah Ad-Dili. Dia berkata, ”Mereka adalah rubah di dalam lubang. Jika engkau tetap mengepung mereka, maka mereka pun tidak akan berbahaya.”

Beliau pun bermaksud hendak meninggalkan benteng dan pergi. Beliau memerintahkan Umar bin Al-Khattab mengumumkan kepada orang-orang, ”Insya Allah besok kita akan pergi.”

Tetapi ada di antara mereka yang keberatan dengan rencana ini. Mereka berkata, ”Maka kita pergi begitu saja dan tidak menaklukkannya?”

“Kalau begitu serbulah mereka!” sabda beliau.

Tetapi justru serbuan yang mereka lakukan mengakibatkan banyak orang terluka, karena benteng musuh memang cukup kuat. Maka beliau bersabda, “Insya Allah besok kita akan pergi.”

Perintah ini justru membuat mereka merasa senang. Karena itu mereka pergi. Melihat hal ini beliau hanya bisa tersenyum. Setelah mereka beranjak pergi, beliau bersabda, ”Ucapkanlah, ’Kami pasrah, bertaubat, menyembah dan kepada Rabb kami memuji.’”

Ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, berdoalah bagi kemalangan Tsaqif.”

Maka beliau bersabda,”Ya Allah, berikanlah petunjuk bagi penduduk Tsaqif dan limpahilah mereka.”*/Sudirman STAIL (sumber buku: Sirah Nabawiyah, penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Ainun Jalut; Meruntuhkan Mitos Kedigdayaan Tartar di Bulan Ramadhan http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/06/24/119067/ainun-jalut-meruntuhkan-mitos-kedigdayaan-tartar-di-bulan-ramadhan.html Sat, 24 Jun 2017 06:06:03 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119067

Kondisi umat yang sedemikian lemah ini tentu sangat memuluskan jalan Tartar menguasai wilayah umat Islam. Jatuhnya wilayah Khawarizmi Syah (617 H) hingga runtuhnya Baghdad (656 H)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

PADA awal abad ketujuh Hijriah (603-657), Bangsa Tartar (Mongol) menjadi momok seantero negeri Islam, bahkan dunia pada umumnya. Keganasan dan kebiadaban bangsa yang sedang “naik daun” ini begitu mengerikan dan di luar nalar kemanusiaan. Siapa pun akan dibabat habis oleh mereka.

Pada bulan Pebruari 1258, tentara Mongol  dibawah kepemimpinan Jenderal Hülegü atau Hulagu Khan (Khan pertama dari Dinasti Khan yang menguasai wilayah Persia) melampiaskan kebengisan mereka dan menaklukan wilayah yang dikuasai kaum muslimin di Timur Tengah.

Pada Januari 1260, pasukan Mongol bergerak ke arah barat. Aleppo bernasib sama dengan Bagdad. Pada bulan Maret, Damaskus membuka pintu-pintu gerbangnya bagi orang Mongol dan bertekuk lutut. Tak lama setelah itu, orang Mongol merebut kota-kota di Palestina, yaitu Nablus (dekat situs kuno Syikhem) dan Gaza.

, dan memerintahkan kepadanya agar tidak menghancurkan setiap daerah yang menyerah tetapi sebaliknya membumihanguskan setiap daerah yang memberikan perlawanan.

Dalam perang yang disebut Perang Ain Jalut atau the Battle of Ain Jalut (Spring of Goliath) Hulagu  menaklukkan Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, menaklukkan Kekhalifahan Ayyubiyyah di Suriah dan terakhir menundukkan Kekhalifahan Mameluk di Mesir.

Baca:  Ketika Pasukan Tartar Mejadikan Buku Para Ulama Sebagai Tempat Penyeberangan

Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut lenyap dibumihanguskan Mongol.

Perpustakaan Baghdad (saat itu Baghdad terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia) yang penuh dengan buku-buku sejarah, kedokteran dan astronomi dan lainnya dijarah dan semua bukunya dilempar ke Sungai Tigris, para saksi mata mengatakan Sungai Tigris berubah warnanya menjadi hitam dikarenakan saking banyaknya buku yang terendam sehingga tintanya luntur.

Khalifah Al-Mus’tasim ditangkap dan disuruh melihat rakyatnya yang sedang disembelih di jalan-jalan dan hartanya yang dirampas. Kemudian setelah itu khalifah dibunuh dengan cara dibungkus dengan permadani dan diinjak-injak dengan kuda sampai mati. Semua anaknya dibunuh kecuali satu yang masih kecil dijadikan budak dan dibawa ke Mongol.

Sejarawan Islam, Abdullah Wassaf memperkirakan pembantaian warga kota Baghdad mencapai beberapa ratus ribu orang. Ian Frazier dari majalah The New York Worker memberi perkiraan sekitar 200 ribu sampai dengan 1 juta orang. (Wikipedia)

Imam Ibnu Atsir (555-630 H) seorang ulama sejarah kenamaan pada masa Abbasiyah, sampai mengatakan bahwa Tartar adalah tragedi besar kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya (Ibnu Atsîr, al-Kâmil fî al-Târîkh, X/333).

Baca: Ramadhan di Ayn Jalut

Di samping itu, ulama kelahiran Jazirah Ibn Umar (sekarang wilayah Turki) ini sampai berkomentar bahwa kerusakan yang dibuat oleh Tartar tidak ada bandingannya sebelumnya, melainkan setaraf dengan kelakuan Yajuj dan Majuj yang membuat kerusakan besar di akhir zaman. Ciri fisiknya pun sudah dilansir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sejak lima belas abad yang lalu:

«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمُ الشَّعَرُ، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا صِغَارَ الْأَعْيُنِ، ذُلْفَ الْآنُفِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ»

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian memerangi kaum yang mengenakan sandal dari rambut. Dan tak akan terjadi hari kiamat hingga kalian memerangi suatu kaum yang matanya sipit, hidung pesek dan wajah mereka seperti tameng untuk perang.” (HR. Abu Daud).

Dalam al-Qur`an sendiri mereka (Yajuj wa Majuj) meiliki dua indikator. Pertama, hobinya membuat kerusakan (QS. Al-Kahfi [18]: 94). Kedua, mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi (QS. Al-Anbiya [21]: 96). Kalau melihat kompas, arah tinggi adalah atas. Sedangkan yang atas (dalam kompas) adalah: utara. Barangkali mereka adalah bangsa dari arah utara yang bermata sipit. Wallahu alam. Yang jelas, indikator itu tersebut dalam al-Qur`an. Saat itu, Tentara Mongol seakan dianalogikan sebagai Yajuj dan Majuj pada zamannya yang hobinya merusak dan datang dari arah utara yang bermata sipit. Dengan demikian, potensi demikian bisa jadi akan selalu ada sampai Yajuj wa Majuj sebenarnya muncul di akhir zaman.

Al-Muwaffaq Abdul Lathif juga berkomentar cukup pedas terhadap bangsa yang dirintis Jengis Khan ini, Seolah-olah mereka tidak menginginkan harta benda dan kekuasaan. Yang mereka inginkan hanyalah genosida spesies manusia. (Adz-Dzahabi, Târîkh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-Alâm, 43/27). Bagaimana tidak ganas, hobi mereka adalah membunuh dengan sangat sadis. Pembunuhan yang tidak pandang bulu. Kakek-kakek, ibu-ibu, anak-anak dan orang dewasa menjadi sasara kebiadaban mereka. Kepala manusia ditumpuk hingga membentuk piramida, ibu hamil perutnya dibedah dan dikeluarkan bayinya dan kekejaman lainnya.* (Bersambung)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Pengkhianatan Syiah di Bumi Syam http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2017/06/12/118448/pengkhianatan-syiah-di-bumi-syam.html Mon, 12 Jun 2017 04:34:48 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=118448

Dalam kasus lain, Syiah Nushairiah juga pernah melakukan pengkhianatan dengan bekerjasama dengan Tartar pada tahun 696 H

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

 

BUMI SYAM (sekarang mencakup wilayah Lebanon, Palestina, Suriah, Yordania dan Syam Jura) yang pernah menjadi pusat pemerintahan Dinasti Umawi, dalam perjalanan sejarahnya merekam banyak jejak pengkhianatan Syiah.

Dr. ‘Imad Ali Abdul Samî’ Husain dalam desertasinya yang berjudul: Khiyânâtu al-Syî’ah wa Atsaruhâ fî Hazâimi al-Ummah al-Islâmiyah (2004) menyebutkan beberapa pengkhianatan Syiah di bumi Syam.

Buku yang telah diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar pada tahun 2006 dengan judul “Pengkhianatan-Pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam” ini menjelaskan dengan cukup baik mengenai pengkhianatan Syiah di Bumi Syam.

Setelah Aleppo dan daerah Syam lainnya jatuh ke tangan Tartar -yang dikomandoi Hulagu Khan pada tahun 658 Hijriah- maka komandan yang sadis ini mengutus hakim boneka bernama Kamaluddin ‘Umar bin Badar al-Taflisi Asy-Syi’i yang diberi mandat mengurusi urusan kehakiman di seluruh kota-kota Syam, Jazirah, Maushil, Maridin dan Kurdi.

Pasca kemenangan umat Islam pada Pertempuran Ainun Jalut (658 H/1260 M) atas komando Saifuddin Quthz, penduduk muslim Negeri Syam meringkus para pengkhianat dari kalangan Nashrani dan Syiah yang sebelumnya menyokong Tartar dan menyusahkan umat Islam. Syekh Syiah Muhammad bin Yusuf bin Muhammad al-Kanhi yang merupakan pengkhianat dari kalangan Syiah akhirnya dieksekusi mati.

Baca: Motif Pengusiran Syiah dari Mesir

Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah berkomentar cukup pedas kepada tokoh Syiah ini, “Dia merupakan Syekh Syiah Rafidhah yang ditugasi Tartar mengurusi harta umat Islam. Ia memiliki niat busuk. Yang ditugasi mengurusi harta umat Islam. Semoga Allah memburukkannya.” (1408: 13/256).

Pengkhianat Syiah yang lain adalah Shawar bin Mujīr al-Sa`adi. Pemimpin Syiah yang  dimakzulkan secara paksa dari kursi kepemimpinan di Mesir lari ke Damaskus meminta bantuan Nuruddin Zanki. Ia berjanji -kalau kembali memimpin- akan menjadi wakilnya di Mesir. Tak tanggung-tanggung, ia siap memberikan sepertiga pendapatan Mesir pertahun kepadanya.

Diutuslah Asad ad-Dīn Shīrkūh, bersama Shalahuddin Al-Ayyubi oleh Nuruddin untuk menjalankan missi ini. Setelah kembali berkuasa, ternyata watak asli Shawar tampak. Ia ingkar janji, memperlakukan tentara dengan tidak baik, bahkan mengusir Asad ad-Dīn dan Shalahuddin beserta rombongannya. Bahkan meminta bantu Raja dari Frank yang sedang menuduki Al-Quds. Pada pertempuran pertama dan kedua ia sukses mengalahkan Shalahuddin. Tapi, pada pertempuran ketiga, Shalahuddin bisa menumbangkan Shawar pada ekspedisi militer ketiga (564H/1169M).

Dhargam, Menteri Dinasti Fathimiyah juga melakukan pengkhianatan terhadap Asa ad-Dīn dalam ekspedisi Damaskus (1164 M). Ternyata, menteri syiah licik ini meminta bantuan Raja Amouri I untuk menumpas panglima muslim utusan Nuruddin Zanki. Sebagai imbalannya, Mesir akan di bawah kekuasaan raja tersebut. Pengkianatan ini pada akhirnya bisa ditumpas. Dargham pun nasibnya berakhir naas. Di samping ditinggal para khalifah, ia pada akhirnya di tewas terbunuh. (Sa’ad Karim al-Fiqi, Pengkhianat-Pengkianat dalam Sejarah Islam, 222-223)

Dalam kasus lain, Syiah Nushairiah juga pernah melakukan pengkhianatan dengan bekerjasama dengan Tartar pada tahun 696 H. Syarif al-Qummi adalah otak penting dalam pengkhianatan ini. Di Syam, lebih khususnya Damaskus, Syiah membombardir kaum muslimin dan membuat kerusakan yang sedemikian dahsyat sehingga merenggut stabilitas kemanan bumi Syam. Pada saat itu, masjid-masjid terlihat sepi, orang mau keluar rumah saja dengan rasa takut yang amat sangat. Ironisnya, semua ini terjadi atas kerjasama Syiah Nushairiyah dengan tentara Tartar. Dalam lembaran sejarah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah figur ulama yang aktif dalam melawan pengkhianatan ini.

Baca:  Sikap Panglima Shalāhuddin Al-Ayyubi Terhadap Syiah

Timur Lank ketika menguasai Badhdad, Aleppo, dan Syam pada kisaran tahun 822-823 H, disinyalir sebagai seorang yang berideologi Syiah Nushairiyah. Pada saat di Aleppo misalnya, Emir Alawi seorang Nushairiyah waki Aleppo bekerja sama dengan Timur Lank secara sembunyi-sembunyi untuk menyerang Aleppo. Pengkhianatan ini berhasil, banyak penduduk yang disiksa secara sadis, dibantai bahkan kepala yang dipenggal ditumpuk laksana bukit.

Di Era modern Syiah Nushairiyah bekerjasama  bersama penjajah Perancis untuk menyerang Khilafah Turki Utsmani. Atas pengkhianatan ini, penjajah Perancis menghadiahi mereka tanah yang dikenal dengan Pegunungan Alawiyin. Sebagai contoh, sosok yang terkenal dalam pengkhianatan ini adalah Salman Mursyid dari desa Jauba, Suriyah yang mengaku menjadi Tuhan. Basyar Asad, yang merupakan presiden Siria yang kontrovelsial, nyatanya bagian dari sekte Nushairiyah ini.

Di Lebanon, untuk menyerang muslim Sunni, Musa Al-Shadr tidak segan-segan bekerjasama dengan Sharel Al-Halew, Presiden Libanon dari kalangan Nashrani Maronit. Kerjasama ini menjadikan Syiah memiliki Majelis Islam Syiah tertinggi di Lebanon. Bahkan, tak malu bekerjasama dengan Amerika. (Raghib As-Sirjani, Syahwat Politik Kaum Syiah, 64).

Sebenarnya, masih banyak contoh-contoh pengkhianatan Syiah yang lain. Hanya saja, yang penting dijadikan catatan bagi pengkhianatan Syiah –baik di bumi Syam secara khusus maupun daerah lainnya secara umum- adalah: Pertama, ketika lemah, mereka akan pura-pura bekerjasama dengan muslim sunni. Kedua, mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi syahwat politiknya. Kerjasama mereka dengan tentara Salib dan Mongol misalnya, adalah contoh konkret pengkhianatan busuk ini. Ketiga, belajar dari sejarah pengkhianatan Syiah, jangan memberi ruang sedikit pun bagi mereka, sebab jika mereka mendapat kesempatan, pasti berujung pengkhianatan. Wallâhu a’lam.*

Penulis adalah Alumni Al Azhar Mesir, peserta PKU VIII UNIDA Gontor 2014

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>