Oase Iman – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Wed, 01 Nov 2017 15:28:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.3 Belajar ‘Hakikat Taat’ kepada Abu Bakar http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/10/27/126593/belajar-hakikat-taat-kepada-abu-bakar.html Fri, 27 Oct 2017 03:04:05 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126593

Ketaatan butuh bukti nyata, bukan retorika. Ketaatan juga membutuhkan nyali keberanian

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

BAGI Ahlus Sunnah Wal Jama’aah, tidak ada perbedaan mengenai keagungan sosok ini. Beliau adalah figur yang paling paling disayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selama hidup nabi, Khalifah pertama ini selalu bersama beliau baik susah maupun duka; kaya maupun papa; bahagia maupun sengsara. Begitu banyak keagungan yang dimiliki oleh sahabat yang berjuluk Ash-Ashiddiq ini, sampai-sampai beliau adalah di antara orang yang memiliki keistimewaan bisa masuk surga dari berbagai pintu (HR. Bukhari, Muslim).

Sebenarnya, masih banyak kelebihan lain yang tak mungkin disebut semua. Hanya saja, kalau mau belajar pada Abu Bakar, maka yang patut diteladani, kata kuncinya adalah: taat.

Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu  mencegah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu memerangi kaum yang murtad dan menolak membayar zakat, Abu Bakar dengan lantang menjawab, “Demi Allah! Seandainya mereka enggan membayar zakat walaupun hanya seutas tali onta, yang biasa mereka tunaikan pada Rasulullah, sungguh akan aku perangi mereka. Sesungguhnya zakat adalah hak harta, demi Allah! Akan aku perangi orang yang bembeda-bedakan antara shalat dan zakat.” (HR. Bukhari).

Peristiwa ini, merupakan di antara sekian peristiwa yang menggambarkan ketaatan Abu Bakar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Baca: Hidup Lebih Indah dengan Taat Beribadah

Menurutnya, zakat merupakan perkara wajib, dan merupakan rukun Islam, karenanya sebagai umat Islam wajib membayarnya jika mampu dan tidak boleh membedakan status hukumnya dengan rukun-rukun lain yang sudah final. Bila tidak maka pondasi Islam akan hancur, dan tentu ini sangat membahayakan bagi kekokohan umat Islam yang ketika itu baru saja kehilangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan pandangan dangkal dan tak teliti barangkali akan ada yang menganggap bapak Aisyah ini egois dan menolak nas yang sudah tetap berupa: larangan memerangi orang yang sudah bersyahadat dan shalat. Jika kita mempunyai pandangan demikian, perlu kiranya dipertimbangkan, diteliti kembali, bahkan dikoreksi. Abu Bakar radhilallahu ‘anhu  sama sekali tidak menolak nas yang sudah tetap; ia juga tidak egois apalagi berpikir pragmatis. Satu-satunya jawaban yang bisa menjelaskan sikap Abu Bakar ialah gelora ketaatan yang terjaga dengan baik di dalam jiwanya.

Sikap keras yang ditunjukkannya pada peristiwa ini, meski menyalahi karakter lemah lembut dan kasih sayang yang biasa ditampakkan, justru menggambarkan kapasitas ketaatan Abu Bakar kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasulnya shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada setiap jengkal dari kehidupan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, spirit ketaatan akan selalu dirasakan. Beliau adalah sahabat yang terdepan dalam ketaatan dan praktiknya. Karenanya, tak heran jika anak Abu Kuhafah ini meraih “tropi kehormatan” menjadi orang yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan laki-laki.

Baca: Haji Itu Tentang Ketaatan

Sebagai sahabat yang memiliki nalar kuat, saat itu Umar radhiyallahu ‘anhu memang sempat membantah pendapat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, karena Ia berlandaskan pada hadits: “Aku diperintah memerangi manusia, hingga mereka bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku utusan Allah…., jika mereka melakukan itu, maka darah dan harta mereka akan dilindungi.” (HR. Bukhari, Muslim).

Bila mau digambarkan, kira-kira logika Umar radhiyallahu ‘anhu demikian: Orang yang sudah bersyahadat itu dilarang diperangi. Sedangkan orang yang diperangi Abu Bakar itu, adalah orang yang bersyahadat dan bahkan melaksanakan shalat. Dengan demikian, kesimpulannya, memerangi orang bersyahadat itu dilarang karena menyalahi hadits di atas.

Namun pada faktanya, Abu Bakar tetap bersih keras memerangi mereka, karena ini bukan sekadar masalah logis atau tidak, di sana ada hal yang sangat penting yang melampau nalar atau logika, yaitu “ketaatan”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama hidupnya tidak pernah membeda-bedakan antara kewajiban shalat dan zakat. Karena itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah akan aku perangi orang yang membeda-bedakan antara shalat dan zakat!” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dengan spirit ketaatan yang dimiliki, memandang bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam selama hidup tidak pernah membedakan antara shalat dan zakat, karena itu kita harus menaatinya, jadi siapa saja yang tidak taat dengan ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan membeda-bedakan tentang kewajibannya maka patut diperangi karena sama saja telah menolak masalah-masalah fundamental yang berkonsekuensi murtad dari agama. Lantaran mereka murtad, maka wajib diperangi.

Melalui dialog yang panjang akhirnya Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu berlapang dada bahwa pendapat yang benar adalah pendapat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Pada realitanya, ketaatan ini berbuah kemenangan gemilang: negara kembali setabil dan persatuan semakin terjaga baik.

Dari peristiwa ini, kita bisa belajar kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bagaimana sejatinya ketaatan.

Pertama, selama itu adalah perintah dari Al-Qur`an dan Hadits shahih, maka tidak ada reserve di dalamnya. Kedua, ketika taat berhadapan dengan logika, maka taat didahulukan, meski bukan berarti menafikan nalar sama sekali. Ketiga, ketaatan butuh bukti nyata, bukan sekadar retorika. Keempat, ketaatan membutuhkan nyali keberanian. Kelima, ketaata berbuah keberuntungan. Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Hifdzul-Lisan http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/10/24/126378/hifdzul-lisan.html Tue, 24 Oct 2017 07:51:50 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126378

Satu-satunya cara untuk menjaga lisan adalah dengan diam. Sebagian ulama mengatakan: "Diam itu adalah hikmah, namun sedikit yang melakukannya”

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

DALAM pepatah Arab, ”lisan lebih tajam daripada pedang”. Lisan merupakan anggota badan manusia yang kecil, namun memiliki pengaruh besar pada pemiliknya antara menjadi Ahlus   surga atau dilemparkannya ke api Neraka.

Tiap ucapan manusia selalu dicatat oleh malaikat yang hadir di dekatnya sebagai pengawas (QS Qaf: 18), demikian juga ketika ia berdzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam memperingatkan kita agar tidak banyak berbicara kecuali berbicara hal penting, bermanfaat, atau untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Karena orang yang memperbanyak perkataan dan sedikit berdzikir akan keras hatinya (HR. Tirmidzi).

Ayat Al-Qur`an dan hadits tersebut menunjukkan rentannya penggunaan lisan oleh seseorang.

Lisan yang dipakai untuk mengatakan hal yang salah, kebohongan, ghibah, adu domba, riya, munafik, mencari kesalahan orang lain, menyakiti orang lain, membela diri, dan sebagainya. Setelah berkata dengan lisan, memang terasa manis di hati, namun sebenarnya tersimpan bujukan dan hasutan setan. Hanya orang-orang tertentu yang mendapat pertolongan Allah dan mengetahui semua akibatnya yang dapat menghidari tergelincirnya lisan.

Bahkan pada taraf tertentu, seseorang tidak dikatakan beriman dikarenakan tidak menjaga lisannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Yang disebut Muslim adalah orang yang lisan dan perbuatan tangannya membuat orang lain aman dan selamat.”(HR. Muslim).

Baca: Menjaga Lisan, Selamat

Keselamatan seseorang tergantung dari lisannya. Uqbah ibn `Amir menuturkan, “Aku pernah bertanya, ‘Wahai Rasul, bagaimana cara memperoleh keselamatan?’ Beliau menjawab, ‘Jagalah lisanmu niscaya rumahmu akan luas bagimu. Dan menangislah atas kesalahanmu.’

Menjaga lisan juga menjadi salah satu amalan untuk masuk surga. Seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, “Siapa yang menjamin apa yang ada di antara janggut (lisan) dan kedua kakinya (kemaluan) demiku, aku akan menjaminnya dengan surga.” Beliau juga bersabda, “Siapa yang menjaga pandangan, kemaluan, dan lisannya berarti dia telah terpelihara. Sebab, ketiga anggota tubuh inilah yang paling banyak mencelakakan manusia.”

Namun, karena lisan juga seseorang dapat dilemparkan ke api neraka. Seperti pertanyaan Mu`adz ibn Jabal kepada Rasulullah, “Wahai Rasul, apakah kita akan disiksa karena sesuatu yang kita ucapkan?” Beliau menjawab, “Tidaklah manusia dilemparkan ke neraka pada lubang hidungnya kecuali akibat lisan mereka.”

Dalam riwayat Anas ibn Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam  juga bersabda, “Tidak akan lurus iman seseorang sebelum lurus hatinya. Namun, tidak akan lurus hatinya sebelum lurus lisannya. Tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak selamat dari keburukan lisannya.”

Sa`id ibn Jubair meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika seseorang memasuki waktu pagi, seluruh anggota tubuhnya juga turut memasukinya. Kemudian lisan bernyanyi, ‘Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala terhadap diri kami. Sesungguhnya jika engkau lurus, kami pun lurus. Namun, jika engkau bengkok, kami pun bengkok.”

Ketika bertalbiyah di Shafa, Ibn Mas`ud menuturkan, “Wahai lisan, katakan yang terbaik. Dengan begitu, kamu akan beruntung. Diamlah dari keburukan, niscaya kamu akan selamat sebelum menyesal.” Seseorang bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman, apakah itu berasal darimu sendiri atau kau dengar dari Rasulullah?” Ibn Mas`ud menjawab, “Bahkan aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menyatakan, ‘Sesungguhnya kesalahan paling banyak dari anak cucu Adam adalah akibat lisannya.’”

Lisan seorang mukmin berada di balik hatinya, ia akan mempertimbangkannya dengan hati terlebih dahulu sebelum mengucapkannya. Sedangkan lisan orang munafik berada di depan hatinya, ia mengucapkan perkataan tanpa mempertimbangkannya dengan hati.

Dikisahkan bahwa Abu Bakar pernah meletakkan sebuah batu pada lisannya agar tidak berbicara. Lalu, ia memberi isyarat kepada lisannya dan berkata, “Ini mendekatkanku pada sumber segala sumber (Allah).”

Baca: Lisan yang Membahayakan

Ibnu Mas`ud menyatakan, “Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, tidak ada yang lebih memerlukan kekuatan besar untuk menjaganya selain lisanku.”

Abu Bakar ibn `Ayyasy pernah bercerita, “Suatu ketika, empat orang raja berkumpul. Mereka adala Raja India, Raja China, seorang kisra, dan seorang kaisar. Raja pertama berbicara, ‘Aku menyesali apa yang telah kukatakan, namun tak menyesali apa yang belum kukatakan.’ Lalu raja kedua berkata, ‘jika aku mengucapkan satu kata maka kata tersebut telah menguasaiku, bukan aku yang menguasainya. Namun jika aku tidak berbicara maka akulah yang menguasai kata-kata, bukan kata-kata yang menguasaiku.’ Raja ketiga juga berkata, ‘aku heran kepada orang yang berbicara padahal perkataannya membahayakan dirinya sendiri dan tidak memberikn manfaat baginya.’ Raja keempat pun berkata, ‘bagiku, membantah apa yang tidak aku katakan lebih mudah daripada membantah apa yang kukatakan.’

Satu-satunya cara untuk menjaga lisan adalah dengan diam. Sebagian ulama mengatakan: “Diam itu adalah hikmah, namun sedikit yang melakukannya”. Maka, hendaknya kita diam dan menghindari kata-kata yang tidak berguna yang dapat menyakiti diri sendiri apalagi orang lain.

Alangkah baiknya jika kita menggunakan lisan kita untuk lebih banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan menghiasi lisan kita dengan ayat Al-Qur`an, serta mengatakan ucapan-ucapan baik yang mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.*/Aqif Khilmia, Universitas Darussalam Gontor

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Pribumi Pendatang di Era Kenabian http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/10/23/126244/pribumi-pendatang-di-era-kenabian.html Mon, 23 Oct 2017 06:31:26 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126244

Pelan namun pasti imperium ekonomi yang ratusan tahun dibangun kapitalis-Yahudi di kota metropolis Madinah pun mengalami kebangkrutan dan akhirnya gulung tikar

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: H.T. Romly Qomaruddien

 

PERISTIWA hijrah dari Makkah  ke Madinah merupakan revolusi terbesar sepanjang sejarah,” demikian ungkapan Philip K. Hiti. Thomas W. Arnold juga menuturkan: “Tidaklah suatu negeri yang Bangsa Arab (Islam) menapakkan kakinya, melainkan akan terbangun suasana toleransi yang baik.”

Pengakuan jujur dua orang ilmuwan Barat, yang nuraninya tidak bisa menutupi kekagumannya terhadap hakikat ajaran Islam, sebagai penyampai pesan yang membawa ajaran rahmatan lil ‘aalamin.

Setibanya di Kota Yatsrib  (kini Madinah). Dalam bahasa latin: lathrifa, artinya lembah subur, sebagai bumi hijrah mereka, bukanlah hal yang sulit untuk menyesuaikan diri. Pertautan satu sama lain yang berbeda suku, adat istiadat, warna kulit dan bahkan agama waktu itu  tidak menghalangi mereka untuk saling menebar kasih sayang.

Kehadiran para muhajirin Makkah, sungguh mencerminkan peribadi-peribadi tauladan kaum pendatang yang mengesankan. Sementara pribuminya, yakni kaum Anshar Yatsrib tampil menjadi peribadi-peribadi simpatik yang prophetik (yaitu menjunjung nilai-nilai luhur kenabian).

Maka sangatlah wajar, dalam waktu yang relatif singkat (yaitu sepuluh tahun lamanya), Yatsrib pun berubah menjadi kota mercusuar peradaban yang gemilang (madinatul munawwarah), kota asri (daarut thayyibah), kota aman-nyaman (daarul amn) dan sebutan-sebutan mulia lainnya.

Syeikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury (ulama India peraih penghargaan dari ulama dunia yang diwakili Syeikh Ali al-Harakan tentang penulisan sejarah Nabi) dalam kitabnya Ar-Rahiqul Makhtuum  memaparkan, ada tiga tatanan kemasyarakatan yang dibangun oleh Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam dalam mengantarkan kemajuan bumi hijrah, yaitu:

Pertama, ketahanan spiritual; yang dipraktekkan langsung dengan membangun rumah Allah ‘azza wa jalla, yaitu Masjid Nabawi sebagai markaz pembinaan, pengkhidmatan dan perjuangan ummat.

Baca: Pribumi dalam Sirah Nabi

Kedua, ketahanan politik (siyasah); dengan melahirkan “Piagam Madinah” (mitsaq madinah) yang meliputi perjanjian damai dan berbagai fasal kesepakan dengan pihak lain dari suku-suku yang berbeda (di antaranya Bani ‘Auf, Bani Najjar, Bani Sa’idah, Bani Harus dan Bani Aus) untuk melindungi  Madinah dari berbagai ancaman luar.

Ketiga, ketahanan sosial; yang dibuktikan dengan dijalankannya program ta’aakhi, yaitu “saling dipersaudarakannya” para shahabat ridhwaanullaah ‘alaihim satu sama lain tanpa memandang kelas dan kedudukannya. Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zuhair, Hamzah bin ‘Abdul Muthalib dipersaudarakan dengan Mu’adz bin Jabal dan Umar bin Khattab dipersaudarakan dengan Itban bin Malik, dan lain-lainnya.

Sungguh suasana yang menyejukkan, cerminan masyarakat generasi terbaik (khairu ummah) yang banyak diidam-idamkan benar-benar menjadi kenyataan di mana asas kemasyarakan tertunaikan dengan baik.

Terciptanya masyarakat yang tertib (mujtama’an munazzhaman), masyarakat yang kokoh (mujtama’an qawiyyan) dan masyarakat yang selamat dan sejahtera (mujtama’an salieman) merupakan buah yang dipetik dari sebuah proses yang tidak gampang, melainkan perjuangan panjang dan membutuhkan kesabaran.

Di samping tiga hal tersebut, Nabi pun menindak lanjuti dengan menghidupkan perniagaan ummat (tijaarah) baik secara sewa-menyewa (ijaarah), bagi hasil produk (muzaara’ah) dan bagi keuntungan (mudharabah).

Baca: Mantan Ketua MK: Pidato Anies Tidak Berdampak Hukum

Atas donasi seorang saudagar Muslim bernama ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anh dibuka pula Pasar Anshar (Suuq Anshaar) yang mampu berkompetisi secara sehat dengan pasarnya orang-orang Yahudi.

Akhirnya, pelan namun pasti imperium ekonomi yang ratusan tahun dibangun kapitalis-Yahudi di kota metropolis Madinah pun mengalami kebangkrutan dan akhirnya gulung tikar, terkalahkan oleh komitmen Muhajirin-Anshar yang secara sukarela dan penuh tanggung jawab untuk berbelanja di pasar sendiri.

Sebagaimana dituturkan Nur Khalis dalam Jurnal Al-Mawaarid FIAI UII (edisi XVI thn. 2006) bahwa keberhasilan pemberdayaan ekonomi kaum Muslimin mampu membawa Madinah kepada karakteristik ekonomi yang sosialis-religius, yakni ekonomi berbasis masyarakat yang patuh terhadap ajaran agama.

Secara seksama, dengan jujur harus diakui; ketika prinsip keadilan ditegakkan, nilai-nilai kejujuran dijunjung tinggi dan komitmen ummat yang terpelihara, maka para pendatang Muhaajirin yang disambut pribumi Anshar telah membawa perubahan besar bagi masyarakat luas yang penuh keberkahan.

Masyarakat madani yang  kini menjadi populer dengan istilah civil society benar-benar sangat diilhami dari peristiwa ini. Sungguh Al-Qur’an telah memberikan kesaksian, masyarakat Yatsrib yang tadinya berada di tepi jurang kehancuran (syafaa khufratin) disebabkan lamanya permusuhan etnik berubah total menjadi masyarakat yang beradab dan hidup penuh pertemanan di bawah naungan hidayah Rabbul ‘Alamien (Lihat QS. Alu ‘Imran/ 3 : 3).

Menurut Al-Hafizh Ibnu Katsir dan As-Syaukany, ayat ini turun terkait dengan kondisi mereka. Wallaahu a’lam bis shawwaab.* 

Penulis Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat dan Ketua Bidang Ghazwul Fikri dan Harakah Haddamah Pusat Kajian Dewan Da’wah

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Ikhlaskan Niat Selamatkan Diri http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/10/17/125789/ikhlaskan-niat-selamatkan-diri.html Tue, 17 Oct 2017 07:18:55 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125789

Amal ibadah tidak akan sah kecuali diiringi dengan niat. Karena niat tanpa amal diberi pahala, sedangkan amal tanpa niat adalah sia-sia

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

IBARAT perjalanan, tidak selamanya yang dilewati itu jalan yang lurus. Di tengah jalan kadang ada belokan atau menanjak dan sedikit terjal.

Bahkan mungkin adakalanya  melewati tikungan tajam yang butuh konsentrasi dan kehati-hatian dalam berkendara.

Demikian pula seorang Mukmin dalam meniti satu kebaikan. Orang itu dituntut mampu mengemudi dan menata hatinya. Ada rambu-rambu yang harus awas diperhatikan mulai dari awal hingga akhir perbuatan. Apakah sudah sejalan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya?

Bagaimana menata hati agar tidak mengembang sembari menganggap orang lain lebih kecil hanya karena ia sudah  berprestasi.

Karena amal yang diterima Allah sejatinya hanya yang memang diperuntukkan untuk-Nya semata.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh serta kemolekan wajahmu, tetapi Allah melihat keikhlasan hatimu.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Baca: Beramal dengan Ikhlas Tanpa Syarat! 

Rasa bangga dan senang ketika bertabur pujian adalah rasa manusiawi yang kadang hadir dan dianggap wajar, tetapi menjaga hati adalah sesuatu yang mutlak.

Bercermin pada orang-orang shaleh terdahulu, sebisa mungkin mereka menyembunyikan amalan-amalan baiknya dari pandangan manusia agar terjaga keikhlasannya.

Jakfar ash-Shadiq berkata:  Mereka yang menyembunyikan amalan baiknya sebagaimana dia bersemangat menyembunyikan aib dan kekurangannya.

Jakfar juga pernah berpesan, tidak sempurna suatu amal baik kecuali dengan tiga perkara. Yakni menyegerakan, menganggapnya kecil dan menyembunyikannya.

Ikhlas adalah amalan yang diusahakan sekaligus pemberian dari Allah. Beruntunglah orang beriman yang setiap aktifitasnya bernilai ibadah dan bisa menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena disertai dengan niat ikhlas.

Tersebab niat itu pula Allah menimbang amalan manusia, diterima atau tertolak kelak.

Baca: Mengikuti Jejak Ikhlas Para Nabi Allah

Al-Baidhawi  berkata: Amal ibadah tidak akan sah kecuali diiringi dengan niat. Karena niat tanpa amal diberi pahala, sedangkan amal tanpa niat adalah sia-sia.

Perumpamaan niat bagi amal itu seperti ruh  bagi jasad. Jasad tidak akan berfungsi jika tidak ada ruh dan ruh pun tidak akan tampak tanpa jasad.

Lebih jauh, Ibnu Hajar al-Atsqalani  menyebutkan dalam kitabnya ”Nashaihul Ibad” bahwa amal itu harus disertai dengan niat yang ikhlas. Tanpa niat yang ikhlas, amal seseorang tidak akan diterima meskipun banyak. Tapi dengan ikhlash, kendatipun sedikit akan besar timbangannya dihadapan Allah.

Terkadang ada sebagian orang mengatakan akan berinfak atau mendermakan hartanya ketika sudah merasa ikhlas, menghitung dan mengurangi kembali karena merasa belum ikhlas.

Padahal ikhlas itu tidak hadir serta merta tetapi  karena diusahakan dari awal yang dimulai dengan niat di hati, ketika menjalani proses dan sesudahnya.

Meminjam perkataan Salim A Fillah, bahwa menjadi ikhlas itu adalah runtutan perjalanan yang tak kenal henti dan terus mengaca diri serta berbenah hingga maut menjemput.

Kekhawatiran akan rasa ketidakikhlasan itu mestinya menambah semangat untuk berbuat lebih dan lebih baik lagi, karena keikhlasan itu adalah refleksi dari bersitan niat yang dapat diusahakan.

Firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya mereka memurnikan peribadatan hanya kepada Allah semata, yaitu agamanya yang lurus. Supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, itulah agama yang lurus.” (QS: Al-Bayyinah: 5).

Terkait ayat di atas, Imam al-Qurthubi menyatakan wajibnya mengikhlaskan niat karena Allah dalam semua ibadah. Karena ini adalah amalan hati yang hanya ditujukan kepada Allah bukan kepada selainnya.

Baca: Dahulukan Ilmu Sebelum Amal 

Pahalamu sesuai dengan kadar lelahmu. Demikian pesan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam kepada Ummu al-Mukminan, Aisyah.

Bahwa sebaik apa pun dan sebanyak apa pun amal shaleh yang kita lakukan bila tidak diniatkan karena Allah maka hanya kerugian saja yang didapatkan nanti.

Seperti halnya orang yang berpuasa bukan karena Allah maka lapar dan haus saja yang bakal diterima orang tersebut.

Alih-alih mendapat untung berupa pahala berlipat, ia justru bisa celaka karena perbuatannya sendiri. Hati yang ikhlas adalah sebab diri bisa selamat.*/ Sholehah, Pengajar STIS Balikpapan, anggota komunitas menulis PENA

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Hakikat Sabar http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/10/16/125723/hakikat-sabar.html Mon, 16 Oct 2017 07:02:28 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125723

Apabila seseorang yang mendapat musibah dapat  menghadapinya dengan ikhlas dan sabar, maka Allah akan menaikkan  keimanannya dan menyediakan pahala baginya

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

“Kenapa nilai ulangannya jelek sekali. Rasanya aku sudah cukup sabar mengajarinya.”

“Kesabaranku sudah habis, kelakuannya seringkali membuat emosiku naik.”

Bisa dikata, setiap manusia pasti pernah diuji kesabarannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada-ada saja persoalan yang membuat dia harus menanggung sabar tersebut.

“Aku sudah sabar.”

Pernyataan tersebut acap keluar dari orang yang mengaku sudah bersabar. Dengan ucapan itu, seolah ia lalu membenarkan sikapnya, yang dianggap sudah sejalan dengan kesabarannya.

Namun jika jujur, apakah kita semua sudah mengetahui hakikat sabar yang sebenarnya?

Orang yang bagaimanakah yang disebut  sebagai orang yang sabar? Adakah ia punya batas yang bisa diketahui?

Baca: Bagaimana agar bisa menjadi istri yang sabar?

Sebuah ungkapan menyebut, sabar itu ilmu tingkat tinggi,  belajarnya setiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya sering mendadak,  sekolahnya seumur hidup.

Benarkah demikian?

Uswatun hasanah umat Islam yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw), yang perangainya  mampu membuat seluruh manusia berdecak kagum, adalah teladan luar biasa bagi seluruh alam.

Sikapnya dalam  menghadapi perilaku jahat kafir Quraisy dan kelembutan orang-orang beriman  merupakan bukti kesabaran dan ketabahannya yang patut kita contoh.

Mengenai kesabaran, Allah juga menuang satu penjelasan yang sangat bermanfaat dalam al-Qur’an.

Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣‏

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,  sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ” (Al-Baqarah [2]: 153).

Allah mengajarkan, bahwa shalat dan  sabar akan memberi pertolongan dalam setiap urusan-urusan seseorang dalam  hidupnya.

Sebagaimana Allah memberi jaminan bahwa Dia akan membersamai orang-orang  yang sabar dalam waktu luang dan sempit sekalipun.

Lebih jauh, Ibnu al,-Qayyim al-Jauziah menjelaskan dalam kitab Madarijus Salikin, tentang hakikat sabar tersebut.

Di antaranya:

Sabar di atas ketaatan kepada Allah Ta’ala, dengan  mengerjakan segala perintah-Nya.

Siapa yang ingin menjadi Muslim kaffah, maka amalkanlah al-Qur’an dan  sunnah. Sedungguhnya Allah menyediakan surga dan pahala yang berlipat-lipat bagi orang  yang bertakwa.

Namun, setan juga terus berusaha mengganggu manusia  dari arah depan belakang, samping kanan dan kiri serta menggagalkan  niat baik manusia beribadah kepada Allah.

Karena istimewanya hadiah tersebut, jalan yang ditempuh terkadang penuh  dengan lika-liku. Dan karena indahnya hadiah yang diberikan Allah, setiap  Muslim dituntut untuk bersabar dalam menjalankan syari’at Allah.

Baca: Bersabar dalam Ujian, Bersyukur dalam Kenikmatan

Sabar dari perbuatan maksiat,  selalu menahan diri dari segala yang dilarang  oleh Allah.

Ada beberapa hal yang diharamkan dalam  ajaran Islam. Seperti, minum khamr, mencuri, berzina dan membunuh. Allah  mengharamkan perbuatan tersebut karena terdapat mudharat di dalamnya.

Tetapi setan selalu menjadikan indah hal-hal yang telah diharamkan Allah.

Semua itu merupakan ujian, apakah kita tetap meninggalkan hal yang  diharamkan, atau justru melanggar larangan Allah.

Sebagai orang  beriman, kita memerlukan kesabaran agar tidak tergiur bujukan setan untuk  berbuat maksiat.

Sabar atas segala musibah yang menimpa

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna  lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun

Sesungguhnya apa yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah.

Allah  menitipkannya pada hamba-Nya untuk menguji apakah ia dapat menjalankan  amanah yang baik atau tidak. Maka apabila titipan tersebut diambil kembali oleh  Allah, sudah seharusnya ia menghadapi dengan adab yang baik.

Baca: Sabar Hadapi Cobaan, Semoga Pertolongan Segera Datang

Sesungguhnya  musibah yang Allah berikan kepada hamba-Nya merupakan ujian kenaikan iman  yang harus dihadapi.

Apabila seseorang yang mendapat musibah dapat  menghadapinya dengan ikhlas dan sabar, maka Allah akan menaikkan  keimanannya dan menyediakan pahala baginya.

Semakin besar kadar iman seseorang,  maka kian berat pula ujian keimanannya.

Demikian, semoga kita semua termasuk orang-orang yang sabar.*/ Arsyis Musyahadah, lulusan STIS Hidayatullah, pegiat komunitas menulis PENA

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Ketaatan Dzun Nurain http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/10/12/125537/ketaatan-dzun-nurain.html Thu, 12 Oct 2017 05:49:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125537

Ketaatan Utsman pada Rasulullah melahirkan energi dahsyat, membuatnya tetap sabar dan tegar di tengah terjangan fitnah

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

KETAATAN penuh kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam membuat seorang muslim menjadi tabah, tegar, dan sabar dalam menghadapi cobaan. Utsman bin Affan RA misalnya, beliau adalah di antara sahabat yang memiliki jenis ketaatan unik yang dalam sejarah membuatnya kokoh dalam menghadapi ujian hidup.

Pada suatu hari, suami dari Ruqayya dan Ummi Katsum ini –sebagai gambaran yang menunjukkan kadar ketaatan beliau kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam – pernah berujar, “Semenjak aku berbaiat kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, aku tidak pernah menyentuh kemaluanku –beristinjak– dengan tangan kanan.”

Bayangkan! Mungkin bagi sementara orang urusan memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika bersistinjak  (menghilangkan najis kecil atau besar dari kemaluan atau dubur) adalah perkara biasa. Namun, bagi Utsman RA, sekecil apapun itu, kalau itu dilarang oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, maka baginya sam’an wa tha’atan (aku mendengar dan taat). Dirinya yakin semua yang datang dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pasti baik dan wajib ditaati.

Ketaatan yang mungkin disepelekan, tidak begitu diperhatikan orang seperti apa yang dilakukan sahabat dari kabilah Umayyah ini mampu didawami, diamalkan secara istiqamah oleh Utsman sejak berbaiat kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Baca: Program Air Gratis Sumur Utsman

Kalau Utsman masuk Islam pada umur 30-an, dan meninggal pada usia 80-an, jika baiat digenapkan pada usia 40 tahun, maka selama 40 tahun Utsman tidak pernah menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya sebagai wujud ketaatan.

Jika pada hal yang kecil saja beliau sangat taat, apa lagi dengan perintah dan larangan lain yang berasal dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Itulah Utsman bin Affan radiyallahu ‘anhu yang mendapat laqab (gelar) dzun nurain (orang yang memiliki dua cahaya).  Sebab hanya satu orang di dunia,  yaitu  Utsman bin Affan, yang  menikahi dua putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Sa’id Ramadhan Buthi dalam Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah (2008: 368) menukil riwayat Ibnu Asakir tentang cerita Abu Tsaur al-Fahmi yang mendengar dari lisan Utsaman langsung di saat beliau sedang dikepung pemberontak menjelang kematiannya.

Utsman menyebut ada 10 keistimewaan yang dimilikinya di antaranya, “Aku tidak pernah menyentuh kemaluanku dengan tangan kanan sejak aku berbaiat kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam,”. Keistimewaan ini disebut bisa jadi untuk menampik tudingan miring yang diarahkan padanya. Bagaimana mungkin beliau melakukan perbuatan yang melanggar agama, jika pada hal yang kecil saja beliau sangat taat kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Pada tahun 35 H, fitnah semakin berkecamuk. Klarifikasi Utsman oleh para pemberontak tak dipedulikan. Mereka ngotot ingin Utsman mempertanggungjawabkan kesalahannya. Apa nyali Utsman menciut dengan gelombang fitnah yang begitu deras menderanya? Ternyata tidak.

Baca: Fitnah Besar, Tercampurnya Antara Kebenaran dan Kebatilan

Ketaatan kepada Rasulullah seolah menjadi kekuatan tersendiri bagi Utsman. Dia tetap tegar di hadapan badai fitnah yang menerjang.

Dirinya sama sekali tidak khawatir. Jauh-jauh hari dia sudah mendengar dari Nabi yang sangat ditaatinya bahwa dia akan diterpa fitnah dahsyat, bahkan akan mati syahid, tapi semua itu bisa dihadapi dengan baik dan sama sekali tidak menimbulkan bahaya apapun bagi Utsman. Beliau akhirnya gugur di tangan pemberontak dalam kondisi berpuasa dan sedang membaca al-Qur`an sampai pada ayat fasayakfikahumullah (QS. Al-Baqarah [2]: 137)

Dari kisah Utsman RA ini, pembaca bisa mengambil pelajaran bahwa ketaatan Utsman kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam melahirkan energi dahsyat yang membuatnya tetap sabar, tegar, teguh pendirian di tengah terjangan fitnah yang bisa merenggut nyawanya. Semua prahara fitnah yang dihadapi, bisa dijalani dengan baik bahkan mengantarkan beliau pada takdir syahidnya. Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Perbaikilah Istighfarmu, Allah akan Memudahkanmu! http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/10/09/125345/perbaikilah-istighfarmu-allah-akan-memudahkanmu.html Mon, 09 Oct 2017 09:31:17 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125345

Istighfar tak hanya untuk minta ampunan, tapi juga ampun membuka rezeki, kemandulan dan kekeringan

(Bambang S,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–Suatu ketika datang seseorang kepada Hasan al Bashri. Dia mengadu soal masa paceklik yang menimpa wilayahnya. Sang ulama lantas berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Selang beberapa saat, datang seseorang lagi. Dia mengeluhkan kemiskinan yang menghimpitnya. Hasan pun berkata yang sama, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Datang lagi laki-laki lain yang meminta, “Doakanlah aku, agar Allah memberiku anak.” Lagi-lagi jawaban Hasan tak berubah, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Masih ada laki-laki lain yang berkonsultasi. Kali ini dia mengeluhkan kebunnya yang mengalami kekeringan. Jawaban Hasan persis sama “Beristighfarlah kepada Allah.”

Rupanya ada orang yang mangamati peristiwa di atas. Ia merasa heran, ditanya macam-macam jawabannya sama. Ia lantas bertanya kepada Hasan, “Beberapa orang datang kepadamu mengeluhkan berbagai macam, tetapi engkau menyuruh mereka melakukan hal yang sama. Membaca istighfar. Bagamaimana ini?”

Baca: 20 Fadhilah dan Keutamaan Dzikir (1)

Hasan menjawab, “Aku sama sekali tidak mengatakan apapun dari diriku, selain itu firman Allah.” Hasan, sebagaimana dikutip al-Qurthubi dari Ibnu Shabib, lalu menyitir ayat al-Qur`an yang artinya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً

يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً

 “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,  niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS: Nuh {71}: 10-12)

Benar, istighfar  artinya meminta ampun. Tentu saja minta ampun terhadap segala dosa. Kita dianjurkan memperbanyak istighfar.  Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sendiri senantiasa beristighfar.

Dalam  riwayat Muslim, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tak kurang seratus kali beristighfar tiap hari. Dalam riwayat lain, disebut tujuh puluh kali. Itu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, yang sudah dijamin masuk surga. Bagaimana dengan kita?

Mestinya lebih banyak. Manusia adalah tempatnya dosa. Tidak ada manusia tanpa dosa. Kadarnyalah yang berbeda-beda. Tapi dosa kecil maupun dosa besar, sama-sama harus memperbanyak istighfar. Firman Allah yang artinya:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah Kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS: An- Nuur: 31).

Baca: 20 Fadhilah dan Keutamaan Dzikir (2)

Tentang dahsyatnya istighfar, dalam Musnah Abu Hanifah disebutkan sebuah riwayat dari Jabir bin Abdullah. Suatu ketika ada seseorang yang datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Orang ini berkata, “Wahai Rasulullah, aku sama sekali belum diberi rezeki berupa anak dan aku tidak memiliki anak.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam kemudian berkata, “Dimana engekau berbanyak istighfar dan memperbanyak sedekah maka engkau akan diberi rezeki dengan lantaran keduanya.”

Lelaki itu lalu memperbanyak istighfar dan sedekah. Jabir mengatakan bahwa akhirnya laki-laki itu dikaruniai Sembilan anak laki-laki. Masyaallah.

Syaikh ‘Aidh al-Qarni, penulis buku super laris, La Tahzan, dalam sebuah ceramahnya bercerita. Ada seorang mandul tak punya anak. Para dokter sudah angkat tangan. Dan obat-obatan juga sudah tidak mempan lagi. Orang yang mandul itu, lalu bertanya kepada seorang ulama.

Dijawab oleh ulama, “Hendaklah engkau memperbanyak bacaan istighfar di kala subuh dan sore. Sesungguhnya Allah mengatakan perihal orang-orang yang beristighfar  ‘Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu (Nuh: 10-12).’

Lelaki itu nurut. Ia memperbanyak istighfar  terus menerus. Akhirnya, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala, Dia membernya keturunan yang shaleh-shaleh.*

(Bambang S,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Membelot dari Jalan Tuhan? http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/09/29/124600/membelot-dari-jalan-tuhan.html Fri, 29 Sep 2017 03:58:47 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124600

Bagi kaum Muslim, layak untuk direnungkan kembali tiga pokok pengetahuan dalam Islam [ushuulul ma'rifah fil Islaam]

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

 PERTANYAAN besar yang sering muncul di tengah-tengah kita, mengapa manusia bisa membelot dari jalan Tuhan?

Bila dikatakan karena kurang pengetahuan agama, bukankah belakangan gelombang demikian banyak diteriakkan oleh orang-orang yang mengaku beragama.

Bila dikatakan karena kurangnya ilmu, justeru belakangan paham ini banyak didukung kalangan orang yang memiliki ilmu. Semua itu tentunya, tidak dapat dilepaskan dari cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang wajib dipahaminya.

Mengapa manusia ada, siapa yang mengadakan? Mengapa alam dicipta, siapa yang mencipta dan untuk apa diciptakan? Lalu apa kewajiban manusia bagi Penciptanya, kewajiban sesama manusia dan bagaimana memperlakukan alam agar terjadi kemakmuran semesta?

Bagi kaum Muslim, nampaknya, layak untuk direnungkan kembali tiga pokok pengetahuan dalam Islam [ushuulul ma’rifah fil Islaam] sebagai tolok ukur dalam memahami penilaian “benar” dan “salah”.

Baca: Di Dunia Kita Meminta, Di Akhirat Kita Berharap Nikmat

Pokok-pokok yang dimaksud adalah: Mengetahui siapaTuhan itu? [ma’rifatur Rabb], Mengetahui siapa manusia itu? [ma’rifatul insaan] dan apa alam itu? [ma’rifatul ‘aalam].

Ketika benar memahami tiga perkara ini, maka cara pandangnya bisa benar. Dan ketika salah memahami tiga perkara ini, maka cara pandangnya bisa salah.

Pertama,  mengetahui siapa Tuhan [Ma’rifatur Rabb]

Dalam Islam, keberadaan Tuhan sudah final, Dialah Allah jalla jalaaluhu Dzat penguasa alam [Rabbul ‘aalamien]. Al-Qur’an menjelaskan akan hal ini; Allah Subhanahu Wata’ala itu Esa, Allah itu tempat bergantung semua makhluk, Allah itu tidak berputra dan tidak diputrakan, serta tidak ada yang mampu menyamaiNya seorang pun. Itulah QS. Surat Al-Ikhlas.

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (١) ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (٢) لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ (٣) وَلَمۡ يَكُن لَّهُ ۥ ڪُفُوًا أَحَدٌ (٤)

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (2) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, (3) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” [QS: al Ikhlas [112]:1-4]

Dialah Allah  yang tidak ada Tuhan selainNya, Dia yang Maha hidup dan berdiri sendiri, tidak terkena lupa dan tidur. Itulah mutiara ayat Kursi. Allah itu pun cahaya yang menerangi langit dan bumi, perumpaan cahayanya laksana lampu [misykat] yang di dalamnya ada pelita. Itulah mutiara Qs. An-Nuur. Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan siapa Tuhan itu, demikian pula Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan di banyak haditsnya.

Berbeda dengan pandangan yang lain yang masih memperdebatkan dan masih mencari siapa Tuhan. Ketika mereka belum atau tidak bisa menemukan jawabnya, merekapun menuduhnya dengan kata-kata “Tuhan mulai lelah”, “Tuhan mulai bosan”, “Tuhan mulai sakit”, bahkan sebagian mereka menyebutkan “Tuhan sudah mati” [God is dead].

Kedua,  mengetahui siapa manusia [ma’rifatul Insaan]

Dalam Islam, perkara ini pun sudah final. Manusia itu adalah makhluk turunan ayahanda Adam ‘alaihis salaam dan bunda Hawa, Adam dicipta dari saripati tanah [sulaalatin min thin]. Beranak pinak melalui percampuran air mani yang memancar [nuthfah], lalu menjadi segumpal darah [‘alaqah], kemudian menjadi seketul daging [mudhghah] yang membungkus tulang. Berikutnya, diciptakanlah pendengaran, penglihatan, hati dan ditiupkannya ruh. Semua itu dijelaskan Al-Qur’an [QS. Al-Hijr/15: 26, 28, 29, Qs. Al-Mu’minuun/23: 12-14, QS. An-Nahl/16:78, dll.], demikian pula Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan di banyak haditsnya.

Baca: Tumbuhkanlah Rasa Takut pada Allah

Berbeda dengan pandangan yang masih menduga-duga dengan berbagai teorinya, di antaranya Teori Evolusi-nya, Charles Darwin yang meyakini manusia itu berasal dari turunan kera. Namun kenyataannya,  mereka unggulkan ras tertentu dengan species istimewanya, namun di sisi lain, mereka remehkan manusia lainnya.

Ketiga, mengetahui alam [ma’rifatul ‘aalam]

Dalam Islam, hal ini pun sudah final. Ada alam yang tak nampak [ghaib], ada pula alam yang nampak [syahaadah] sebagaimana QS. Al-Jumu’ah/62:8, atau alam dunia yang fana dan terbatas [dunyaa] dengan alam akhir yang kekal abadi [akhirat].

Karenanya doa yang dipanjatkan pun do’a keselamatan dua alam “Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa adzaaban naar.” [QS. Al-Baqarah/2:201].

Semua ini menunjukkan bahwa Allah jalla jalaaluh menjadikan dunia sebagai tempat sementara, dan akhirat merupakan negeri ujung pengharapan. Pantas, kalaulah Allah menyebutnya dengan “wal aakhiratu khairun laka minal uulaa“.

Demikian pula Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menerangkan di banyak haditsnya. Ibnul Qayyim mengistilahkannya dengan “daarul hijratain wa baabus sa’aadatain; dua negeri tempat berhijrah dan dua pintu kebahagiaan”.

Berbeda dengan mereka, yang memahami alam ini perlu perlakuan khusus dengan  ritus-ritus  tertentu yang melahirkan pandangan alam yang penuh sinkretik.

Dengan pemahaman yang benar terhadap konsep ke-Tuhanan, maka bisa selamat pula dari pandangan materialisme-atheisme yang menganggap Allah Subhanahu Wata’ala itu benda atau tidak ada sama sekali.

Dengan pemahaman yang benar terhadap konsep manusia sebagai makhluk yang wajib patuh pada Penciptanya, maka selamat pula dari keyakinan humanisme yang keliru di mana hak asasi manusia bisa mengalahkan hak-hak Tuhan. Dengan pemahaman terhadap konsep alam yang benar, di mana manusia harus merawatnya, maka selamat pula dari keyakinan nativisme yang menggiring manusia pada ajaran mistik penuh klenik dan kejumudan alam perasaan.

Dengan tiga pokok pengetahuan itulah, minimalnya diharapkan mampu menutup celah-celah pintu kesesatan yang menyebabkan pelakunya membelot dari jalan Tuhan, bahkan anti Tuhan.* klik>>> (Bersambung) >> ‘Liberalisme & Pengingkaran pada Tuhan’..

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Hijrah; Api Sejarah yang Tak Boleh Padam http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/09/23/124212/hijrah-api-sejarah-yang-tak-boleh-padam.html Sat, 23 Sep 2017 02:05:06 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124212

Para ulama pensyarah hadits menjelaskan: "Jika sebuah negeri telah berubah menjadi kawasan Islam, maka hijrah fisik tidak wajib lagi hukumnya"

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Dijadikannya Muharram sebagai awal penanggalan dalam Islam, karena di dalamnya ada momentum tepat yang layak direnungkan dan semangat yang patut diabadikan dalam sejarah, yaitu peristiwa hijrahnya Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya dari Makkah ke Madinah.

Inilah yang melatar belakangi Khalifah ‘Umar bin Khathab radhiyallaahu ‘anh menjadikannya titik tolak penentuan awal bulan Hijriyyah. Walaupun data lain menyebutkan, hijrahnya kaum Muslimin terjadi awal bulan shafar sebagaimana informasi Al-Manshurfuri yang dipetik Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiqul Makhtum.

Api sejarah dan spirit perjuangan yang tetap harus menyala; peristiwa hijrah benar-benar menginspirasi setiap insan yang sadar akan tanggung jawabnya dalam menggali dan memelihara mutiara-mutiara terpendam yang terkandung di dalamnya.

Di antara percikan ‘ibrah dan hikmah itu, menurut para ahli sierah adalah:

Pertama, kesabaran dan keteguhan hati dalam mempertahankan cita-cita sekalipun kesulitan dan rintangan datang silih berganti.

Baca: Tahun Baru 1436 Hijriah Momentum Umat Islam Bermuhasabah

Kedua, adanya kesediaan berkorban dalam segala hal; mulai dari korban kesenangan diri, korban perasaan, korban harta benda, korban rumah tangga dan bahkan adakalanya meminta pengorbanan fisik.

Ketiga, yakin adanya harapan, yaitu cita-cita dan kemauan yang tak pernah   lelah, tidak kenal kata mundur, apalagi putus asa, dan selalu memiliki jiwa optimisme.

Dr. M. Abdurrahman Baishar, sebagaimana dipetik Allaahu yarham M. Yunan Nasution (Tokoh Masyumi) dalam Mutiara Hijrah, bahwa ada banyak mutiara terpendam dalam peristiwa hijrah yang mencerminkan kesiapan fisik dan mental untuk melakukan perubahan; bersedianya berkorban demi mempertahankan ‘aqiedah melukiskan kemantapan iman yang bersemi dalam jiwa panutan ummat Rasul dan para shahabatnya, resiko penderitaan yang dialami dikarenakan hijrah merupakan wujud keberanian yang luar biasa dalam menegakkan agama Alloh, jiwa yang suci dan pikiran yang jernih merupakan manifestasi hubungan yang dekat antara hamba dengan Tuhannya, kemenangan yang diraih kaum Muslimien merupakan buah yang dipetik dari langkah-langkah perjuangan (khittah) yang selama itu meteka lakukan serta hancurnya kebatilan menjadi symbol perlawanan ahlul haq dalam mengikis nilai-nilai kejahiliyahan dan peperangan melawan kemungkaran.

Semua itu menunjukkan, betapa hijrah memiliki arti ma’nawy yaitu berlaku abadi sepanjang masa.

Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hijrah belum berakhir sehingga berakhirnya taubat, dan taubat tidak akan berakhir sehingga matahari terbit dari sebelah Barat.” (HR. Ahmad dalam Musnad no. 17030 dan Abu Daawud dalam Sunan 2/ 337 no. 2479 Bab Fil Hijrah Hal Inqatha’at dari shahabat Abu Hindun al-Bajalli dan Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhumaa)

Muhammad ‘Abdullah al-Khathib dalam Min Fiqhil Hijrah memberikan komentar: “Ucapan Rasulullaah ini mengisyaratkan bahwa hijrah dalam arti luas tanpa dibatasi waktu, berlaku sepanjang zaman dan sudah merupakan sunnatullaah bagi manusia. Adapun dalam maknanya yang khusus, seperti halnya hijrah dari Mekkah ke Medinah dan kembali lagi membebaskan Makkah dari cengkraman musuh-musuh dakwah. Inilah yang dikenal peristiwa Fathul Makkah“.

Baca: Sikap Muslim Menyambut Muharram dan Bulan Allah

Setelahnya Kota Makkah kembali aman dan stabil, maka terhapuslah kezhaliman di negeri ini, maka tidak ada lagi hijrah melainkan bagaimana memelihara semangat jihad (ruuhul jihaad) dan ketulusan niat. Para ulama menyebut hijrah fisik ini dengan sebutan hijrah hitsiy atau badaniy.

Para ulama pensyarah hadits menjelaskan: “Jika sebuah negeri telah berubah menjadi kawasan Islam, maka hijrah fisik tidak wajib lagi hukumnya. Karena tetapnya hukum wajib hijrah, apabila di sebuah negeri seorang Muslim tidak dapat lagi menunaikan agamanya.” (Musthafa Sa’ied al-Khan dan Musthafa al-Bugha, Nuzhatul Muttaqin, 1992: 22).

Dalam tutur katanya yang populer, Nabi bersabda: “Tidak ada hijrah setelah dibebaskannya Kota Mekkah, melainkan kesungguhan dan niat. Apabila kalian diperintahkan bersungguh-sungguh untuk berperang, berangkatlah kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Shahabat ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anh).

Semoga spirit itu masih menyala lapangkan jalan amal seiring dengan batu ujian (ibtilaa) yang akan terus ada. Wallaahul musta’aan.*/H.T. Romly Qomaruddien, Ketua Bidang Ghazwul Fikri dan Harakah Haddaamah  Pusat Kajian Dewan Da’wah

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Janji Allah untuk Kaum Terusir, Hijrah, dan yang Dihinakan http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2017/09/13/123527/janji-allah-untuk-kaum-terusir-hijrah-dan-yang-dihinakan.html Wed, 13 Sep 2017 04:21:37 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123527

Pengusiran juga pernah dirasakan Rasulullah dan para shahabatnya ketika berada di Thaif

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

ADA banyak kalimat dalam Kalam Allah, untuk menyebut sebuah peristiwa pergerakan  atau kerumunan massa yang bertolak dari satu tempat menuju tempat lain. Allah Subhanahu Wata’ala membedakan satu sama lain, walaupun sama-sama artinya berpindah. Namun, esensi pergerakan kepindahan mereka tentu berbeda.

Di antara untaian kalimat itu adalah:

Pertama, Bukankah bumi Allah itu luas?

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّٮٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِہِمۡ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمۡ‌ۖ قَالُواْ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ قَالُوٓاْ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٲسِعَةً۬ فَتُہَاجِرُواْ فِيہَا‌ۚ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَأۡوَٮٰهُمۡ جَهَنَّمُ‌ۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا (٩٧)

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri [3], [kepada mereka] malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri [Mekah]”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?“. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: an Nisa’ [4]: 97)

Kalimat ini termaktub dalam QS. An-Nisaa/4 : 97 yang mengisyaratkan perintah hijrah ketika kaum Muslimin waktu itu mendapatkan tekanan, intimidasi dan kezhaliman.

Baca: Kisah Hijrah untuk Ibrahim

Syeikh Munier Ghadhaban dalam Al-Manhaj al-Haraky, Syaikh Sa’ied Ramadhan al-Buthy dalam As-Sirah an-Nabawiyyah atau Al-Mubarakfury dalam Ar-Rahiqul Makhtuum dan pakar-pakar sejarah [sirah] lainnya memaparkan bahwa berhijrahnya kaum Muslimin, di samping perintah Allah Subhanahu Wata’ala, menghindari kemadharatan atau kezhaliman, juga memupuk jiwa optimisme  untuk membangun kekuatan dakwah di ranah yang berbeda.

Hal in diurai oleh Ibnul ‘Arabi dalam Ahkaamul Qur’aan bahwa hijrah mengandung banyak makna; Bertolak dari negeri syirik menuju negeri tauhid, dari negeri kufur menuju negeri iman, dari negeri kecamuk perang menuju negeri aman nan damai, dari negeri berwabah penyakit menuju negeri yang sehat nan nyaman.

Demikian pula disebutkan oleh para ulama pensyarah hadits seperti itu, sebagaimana halnya Syeikh Musthafa al-Bugha dkk dalam Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Shalihin.

Sangatlah wajar, apabila seorang sejarawan orientalis Philip K. Hitty [terlepas plus minusnya] menuturkan: “Peristiwa hijrahnya kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah, merupakan peristiwa revolusi terbesar sepanjang sejarah”.

Baca: PBB: Muslim Rohingya, Kelompok Minoritas Paling Teraniaya

Kedua, Orang-orang yang diusir tanpa alasan.

“Orang-orang yang dipaksa keluar [terusir] dari rumah-rumah [kampung halaman] mereka …”

ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَـٰرِهِم بِغَيۡرِ حَقٍّ إِلَّآ أَن يَقُولُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ‌ۗ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَہُم بِبَعۡضٍ۬ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٲمِعُ وَبِيَعٌ۬ وَصَلَوَٲتٌ۬ وَمَسَـٰجِدُ يُذۡڪَرُ فِيہَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ ڪَثِيرً۬ا‌ۗ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۥۤ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ (٤٠)

“[yaitu] orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak [keganasan] sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong [agama] -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS: al Hajj [22]: 40)

Kalimat ini termaktub dalam QS. Al-Hajj/22 : 40, yang beriringan sebelumnya mengenai ayat diidzinkannya perang kepada kaum Muslimin.

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’aanil ‘Adzim, ini terkait dengan ayat sebelumnya yang mengisyaratkan diidzinkannya perang disebabkan dizhaliminya kaum Muslimin. Menukil Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anh, “ini ayat pertama kali turun tentang perintah berperang kepada Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam”.

Kembali kepada kata ukhrijuu, ini menunjukkan makna bahwa mereka benar-benar dipaksa keluar, terusir dari kampung halamannya sendiri tanpa perencanaan dan keinginan.* >>> klik (BERSAMBUNG)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>