Oase Iman – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Umat Islam Mesti Waspada Politik Adu Domba http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/08/29/149690/umat-islam-mesti-waspada-politik-adu-domba.html Wed, 29 Aug 2018 09:00:51 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=149690

Salah satu keberhasilan Belanda melemahkan umat Islam adalah menggunakan politik “devide et impera” (pecah belah)

The post Umat Islam Mesti Waspada Politik Adu Domba appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DEWASA ini, menjelang dihelatnya hajatan nasional Pilpres 2019, persatuan dan kesatuan anak bangsa semakin tergerus. Perbedaan haluan dan pilihan politik yang dalam iklim negara demokrasi merupakan hal wajar, pada realitanya di lapangan membuat hubungan antar anak bangsa terancam. Persekusi demi persekusi lahir akibat perbedaan tajam ini.

Anak bangsa terpolarisasi dengan sangat tajam. Yang satu mati-matian membela calonnya, tanpa memperdulikan kekurangan dan aib yang ada pada dirinya. Sebaliknya, yang lain ngotot dengan deklarasi-deklarasi yang menunjukkan sikap “emoh” dengan penguasa yang ada. Yang ada di pikirannya: ganti pemimpin; titik! Mereka ini sudah muak dengan janji-janji yang tak ditepati oleh penguasa. Mirisnya, hal ini terkadang –kala bukan sering—malah menutupi sisi baik yang ada pada penguasa yang dikritik.

Ironisnya, pihak yang paling terdampak pada persaingan tak sehat yang bisa mengancam persatuan ini –baik disadari atau tidak– adalah mayoritas umat Islam. Perpedaan pilihan calon seringkali membuat hubungan senjang di antara mereka bahkan menimbulkan permusuhan yang menafikan persaudaraan sesama muslim.

Polemik dan konflik demikian, jika terus meruncing semacam ini, kemudian masing-masing tidak bersikap dewasa untuk bisa meredamnya dan senantiasa mencari solusinya, maka tidak menutup kemungkinan yang rugi nantinya adalah umat Islam sendiri secara khusus, bahkan seluruh bangsa Indonesia.

Baca: Kekerasan atas Tokoh-tokoh Agama, Waspadai Upaya Adu Domba

Dalam surah al-Anfal ayat 46, ada solusi jitu untuk menjaga stabilitas keharmonisan umat Islam. Di samping taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hal yang sangat ditekankan adalah jangan sering cekcok (berbantah-bantahan dan konflik yang kontraproduktif) antar sesama umat Islam sehingga bisa hilang kekuatan bahkan menimbulkan kegagalan. Semua itu –baru bisa dilakukan dengan baik bila—diiringi dengan kesabaran.

Bila konflik semacam ini dibiarkan berkembang, maka umat akan mudah ditunggangi oleh pihak-pihak berkepentingan atau pihak ketiga. Pada lembaran sejarah, bisa ditilik, salah satu keberhasilan penting kolonialisme dalam menghunjamkan cakar penjajahannya di bumi pertiwi adalah dengan memanfaatkan konflik-konflik internal anak bangsa, khususnya umat Islam.

Dalam realitas sejarah, salah satu langkah yang digunakan untuk memanfaatkan peluang itu adalah dengan sistem politik “devide et impera” (belah bambu atau memecah belah).

Sebagai contoh, adalah kelicikan dan kepintaran Belanda mampu mengadu domba bangsa Nusantara. Negara penjajah ini, di satu sisi mengikat perjanjian damai dengan Jawa Mataram, namun diam-diam mereka juga mengadakan perjanjian rahasia dengan raden Trunojoyo dari Madura dan kelompok orang Makassar. (Wahyu, Amangkurat Agung: Prahara Takhta Mataram, 2014:325) Akibatnya, jelas perang saudara –yang merupakan mayoritas muslim—tak terdapat terelakkan. Dan yang diuntungkan dalam konflik ini adalah penjajah.

Perang Aceh pun demikian. Untuk menguasai daerah yang dijuluki Serambi Mekah ini, kolonial Belanda mengirim Snouck Hurgronje. Dinasihatilah pemerintah kolonial untuk merangkul ulama yang menganggap Islam sebatas agama rituil dan memerangi muslim yang memperjuangkan Islam melalui politik. Taktik ini berhasil memecah belah rakyar Aceh bahkan sebagian tokohnya bisa ditangkap. (Sabili, Islam Lawan atau Kawan, 2004) Lagi-lagi, pihak ketigalah yang diuntungkan dalam konflik internal umat Islam.

Masih terngiang juga dalam memori umat Islam terkait Perang Padri (1821-1837). Konflik internal umat Islam yang dipimpin Imam Bonjol antara kaum adat dan paderi ini terjadi akibat provokasi pemerintah kolonial Belanda agar terjadi perang antara kaum adat kontra kaum Padri. (Mansur, 2015: 202) Akibatnya jelas, ketika sesama saudara bertempur, maka kolonial bisa mensukseskan penjajahan di daerah tersebut.

Pada kasus lain, Kesunanan Surakarta dengan Kesuhunan Pakubuwono IV oleh Belanda diperkecil dan ditandingkan dengan kekuasaan politik tingkat kadipaten yang dipimpin oleh adipati Mangkunegara. Yogyakarta juga ditandingi dengan P. Natakusuma atau P. Paku Alam. (Manshur, 2015: 200) Metofe semacam ini jelas-jelas merugikan umat karena akan memicu konflik berdarah di internal umat.

Selanjutnya, masih segar dalam ingatan kolektif sejarah umat Islam di Indonesia, salah satu yang menyebabkan keretakan partai Islam adalah politik devide et impera  Belanda. Kata Mansur Suryanegara dalam “Api Sejarah I” (Mansur, 2015: 543), “Baik P.S.I.I maupun P.N.I terkena dampak politik devide et impera pemerintah kolonial Belanda.” Terbelahlah umat Islam dan bangsa Indonesia ketika dan harus menunggu untuk mewujudkan kemerdekaannya.

Kelahiran PKI dalam tubuh Syarikat Islam yang kemudian membuat SI terbelah menjadi SI Merah dan SI Putih adalah bagian dari politik devide et impera pemerintah kolonial Belanda. Ini tentu menguntungkan Belanda. Pada gilirannya ajaran teologi ideologi Islam akan tergantikan dengan ideologi marxist yang mengajarkan ateisme. (Mansur, 2015: 511)

Baca: Saat Ini Umat Islam Dikepung Tiga Fitnah

Dari sisi umum kebangsaan Indonesia, terlihat jelas bahwa contoh-contoh tadi menunjukkan konflik antar penduduk bangsa yang tak teredam bisa menimbulkan masalah besar bagi persatuan dan kesatuan sehingga susah untuk meraih cita-cita bersama. Yang lebih parah, konflik itu malah ditunggangi oleh yang sengaja menangguk keuntungan; sebagaimana Belanda.

Dari sisi internal umat Islam, konflik antar saudara akibat perbedaan haluan politik dan lain sebagainya, jelas juga sangat merugikan. Hal ini bisa dilihat dari contoh sejarah.

Singgih Nugroho –seperti yang dinukil oleh Arif Wibowo dalam buku “Berebut Indonesia” (2018: 158) menyebutkan bahwa pasca meletusnya G 30 S- PKI, yang kemudian diiringi tindakan kekerasan bahkan pembunuhan yang merupakan kolaborasi milisi Islam dan militer, membuat orang-orang PKI (yang pada umumnya adalah beragama Islam walaupun hanya KTP) pindah agama Kristen. Jumlahnya cukup fantastis, Averry T Willis menyebutkan ada sekitar 2 juta orang yang berkonversi agama dari Islam ke Kristen demi alasan keamanan.

Dari peristiwa sejarah tersebut hendaknya umat Islam secara khusus, dan secara umum bangsa Indonesia berhati-hati. Kita tentu tidak mau konflik yang ada di antara internal umat dan anak bangsa dibiarkan begitu saja sehingga akan ditunggangi oleh pihak ketiga.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Umat Islam Mesti Waspada Politik Adu Domba appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
149690
Nak! Jangan Jadi Pemimpin Stuntman http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/08/24/149262/nak-jangan-jadi-pemimpin-stuntman.html Fri, 24 Aug 2018 02:20:53 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=149262

Barangsiapa ingin mengambil teladan yang baik, maka ambillah teladan orang yang sudah meninggal

The post Nak! Jangan Jadi Pemimpin Stuntman appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

JODI Setiadi saat hendak dilantik menjadi kepala daerah meminta nasihat kepada ayahnya yang bernama Cahyadi, “Assalamu’alaikum. Bapak….Sebentar lagi aku akan diangkat menjadi pemimpin. Jodi minta nasihatnya.” Mendengar permintaan anaknya, Cahyadi termenung cukup lama. Dengan mimik wajah serius, keluarlah nasihat emas, “Nak! Jangan jadi pemimpin stuntman!”

“Lho, apa maksudnya pak? Kok ga boleh jadi pemimpin peran pengganti.” tanyanya agak keheranan. “Maksudku, kalau jadi pemimpin jangan sampai menjadi pemimpin figuran atau boneka; yaitu pemimpin yang tindakannya bukan orisinil dari integritasnya sebagai pemimpin, tapi didikte oleh orang lain. Pemimpin semacam ini tak layak jadi pemimpin. Ia hanya mengejar keuntungan pribadi ketimbang memperjuangkan aspirasi rakyat. Tindakannya pun mengarah pada hal-hal remeh untuk mendongkrak citranya.”

“Nak! Kamu tahu kisah Ibnu Alqami?” tanya Cahyadi kepada anaknya yang pernah nyantri di pondok tradisional dan modern. “Iya pak! Tokoh syi’ah, sang pengkhianat yang menyebabkan kejatuhan Daulah Abbasiyah di Baghdad.” “Kalau bapak, tak sekadar melihat dari sisi itu. Figur Alqami adalah gambaran dari pemimpin boneka, figuran alias stuntman.”

“Demi kepentingan pribadi dan golongan, jabatan mentereng yang diberikan kepadanya oleh Khalifah al-Musta’shim disalahgunakan. Ia berambisi mendapat kekuasaan dengan cara-cara curang. Ketika kesempatan tiba, ia bersekongkol dengan Hulaghu Khan untuk memporak-porandakan daulah dari dalam. Baginya, biarlah rakyat terpecah-belah, sengsara dan negeri terjajah asal dirinya mendapat kekuasaan dan keuntungan.”

“Baghdad pun hancur. Konspirasinya dengan orang nomer satu Mongol berhasil. Kamu pasti tau apa yang dia dapat. Orang Mongol tak menepati janji. Ia hanya dijadikan pejabat rendahan dan hanya menjadi penguasa boneka di sana. Alih alih mendapat kuasa, justru nasibnya menjadi orang terhina. Bahkan dengan nada satire ada ibu-ibu yang mencibirnya dengan pertanyaan. Intinya: pernakah dulu kamu diperlakukan seperti ini oleh khalifah Abbasiyah?”

Baca: Delapan Bekal untuk Para Pemimpin

“Iya Pak! Nasihat bapak akan selalu saya pegang. Ada lagi pak nasihat yang lain?” “Masih ada,” tukas laki-laki berusia 65 itu dengan nada meyakinkan, “jadilah pemimpin seperti Shalahuddin Al-Ayyubi!” “Sisi mana pak yang perlu dijadikan teladan?” tanyanya penasaran.

“Nanti kalau ada waktu lenggang, baca buku “Uluwwu al-Himmah” (Hal: 316) karya Muhammad Ahmad Ismail Muqaddam. Di situ Al-Qadhi bin Syaddad menggambarkan kapasitas agung kepemimpinan Shalahuddin.”

Shalahuddin adalah tipe pemimpin berintregitas tinggi, tegas, berpikir dan bertindak besar dan yang jelas bukanlah seorang stuntman. “Kamu tahu cita-citi tinggi Shalahuddin? Ia ingin memerdekakan Aqsha dari tangan penjajah. Bagi  Shalahuddin, masalah Al-Aqsha adalah perkara amat besar yang tak kan mampu ditanggung gunung sekalipun.”

“Nak! Kehilangan Al-Aqsha bagi beliau laksana seorang ibu yang kehilangan anak yang berkeliling  sendiri untuk mencari anaknya. Beliau memotivasi umat Islam untuk berjihad (merebut kembali Al-Aqsha), seraya berkeliling melibatkan diri secara langsung untuk menemukannya, seraya berujar, ‘Wahai umat Islam!’ pada waktu bersamaan, kedua matanya basah dengan air mata.”

Dari diksi-diksi yang dipakai, terasa jelas betapa tingginya cita-cita Shalahuddin: gunung saja tak mampu menanggung beban problem Al-Aqsha, antusiasnya dalam membebaskannya bagai ibu yang kehilangan anaknya.

Sebagai pemimpin dia bukanlah pemimpin boneka yang gila citra dan suka mencari keuntungan pribadi. Beliau adalah pemimpin yang sangat peduli dengan nasib rakyatnya. Bagi kebanyakan umat Islam kala itu membebaskan Aqsha –dengan kondisi rill saat itu—hampir terbilang mustahil. Namun, tidak bagi Shalahuddin. Beliau bekerja keras tanpa lelah, menyatukan umat, menggalang persatuan, berpikir dan bertindak besar.

Baca: Bekal Diri agar Tak Jadi Pemimpin Dzalim 

“Berbeda dengan Alqami, nasib pemimpin sekaliber Shalahuddin berujung manis. Al-Aqsha menjadi merdeka kembali, persatuan umat bisa tergalang dan izzah Islam kembali ke pangukan umat.”

“Baik pak! Terimakasih atas nasihat sangat berharga ini. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.”

Nasihat Pak Cahyadi ini hanyalah imaginer, namun sangat penting direnungkan di tengah pecintraan para pemimpin negeri yang begitu tinggi. Apalagi, mendekati tahun-tahun Pemilu, janji-janji manis pemimpin akan kembali diucapkan yang pada akhirnya sering dilanggar sendiri ketika menjadi penguasa. Karena pada hakikatnya, selain kepentingan pribadi, ia tak sungguh-sungguh berkuasa. Ada dalang-dalang besar yang berada di belakangnya.

Seorang pemimpin yang memburu keuntungan pribadi dan disibukkan dengan membesarkan citranya yang sebenarnya kecil dan tidak disertai dengan pikiran dan tindakan besar untuk rakyat, maka tidak layak dijadikan pemimpin.

“Barangsiapa ingin mengambil teladan yang baik, maka ambillah teladan orang yang sudah meninggal!” demikian sepenggal nasihat dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Di bumi pertiwa ini, ada banyak pahlawan-pahlawan besar yang bisa diteladani bagi orang yang menjadi pemimpin agar tidak menjadi figuran, boneka dan stuntman. Mereka adalah orang yang berjuang bukan untuk kepentingan pribadi dan hal-hal remeh, tapi untuk kemaslahatan yang lebih besar bagi bangsa dan negara.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Nak! Jangan Jadi Pemimpin Stuntman appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
149262
Tiga Karakter Mendasar, Kemuliaan Keluarga Ibrahim http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/08/23/149161/tiga-karakter-mendasar-kemuliaan-keluarga-ibrahim.html Thu, 23 Aug 2018 03:00:39 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=149161

Kesuksesan Ibrahim dalam menghindari bujuk-rayu syetan, bukti ketulusan/keikhlasan seorang hamba, dalam menjalankan perintah Allah

The post Tiga Karakter Mendasar, Kemuliaan Keluarga Ibrahim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

IDUL ADHA atau Idul Qurban, kait eratannya dengan kisah perjalanan Nabi Allah Ibrahim dan keluarga. Dalam al-Qur’an, Allah sendiri dengan tegas menetapkan Nabi yang berjuluk sebagai ‘Bapak para Nabi’ itu sebagai suri teladan bagi kaum muslimin, dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.

Allah berfirman;

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia….” (QS: al-Mumtahananh: 4)

Dan bila ditelusuri jejak perjalanan keluarga mulia ini, maka sungguh banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari setiap segmentasi kehidupan yang dilalui. Maka dalam kupasan singkat ini, penulis hanya mengerucut pada tiga karakter mendasar, yang menjadi basis kemuliaan yang didapat.

Yang pertama; Ibrahim dan keluarga tipikal hamba yang totalitas dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Ketika turun suatu perintah kepada mereka,  maka ditunaikan sesuai dengan ‘porsi’nya. 100% tanpa dikurangi barang sedikit pun. Meski itu sangat berat, dan berlawanan dengan hati nurani.

Setidaknya ada dua peristiwa yang menggambarkan akan hal itu. Pertama, ketika turun perintah untuk meletakkan Hajar, sang istri, beserta Ismail yang masih dalam buaian, di lembah yang tidak ada nuansa kehidupannya. Padang sahara nan tandus (Ibrahim: 37).

Baca: Idul Adha dan “Menyembelih Sifat Hewani” 

Aduhai, kepala keluarga manakah yang tidak sedih, di saat rasa cinta, kasih dan sayang membuncah dalam diri, karena begitu lamam menanti kehadirannya. Secarar tetiba, datang perintah meninggalkan mereka di tempat yang tumbuhan saja enggan hidup. Seorang diri. Secara logika tidak ada jaminan hidup. Namun, sejarah mencatat, Ibrahim dan keluarga mampu menjalankannya.

Sungguh inilah bentuk dari sebuah idealita ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Peribadatan semisal ini pula yang diminta oleh Allah kepada setiap hamba-Nya, hingga mereka memperoleh keberuntungan, di kemudian hari.

Firman Allah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; Dana janganlah kamu mati selain dalam keadaan beragama Islam.” (QS: Ali Imran: 102)

Peristiwa yang kedua, datang ketika anak laki-laki itu (Ismail) telah tumbuh remaja/dewasa. Kembali datang ujian dari Allah. Lebih dahsyat dari yang pertama. Ibrahim diminta menyembelih sang anak. Dengan tangannya sendiri.

Aduhai, orangtua manakah yang mampu melakukan perintah ini. Bagi mereka yang telah memiliki anak, tahu betul bagaiman pedihnya hati, bila mendapati buah hati (apa lagi yang masih bayi) terserang sakit. Tidak usah bicara sakit kronis. ‘Cukup’ panas, pilik, dan batuk saja. sangat terusik kenyamanan, perasaan dan pikiran.

Tapi ujian yang menimpa Ibrahi, jauh dari itu. ia diminta mengorbankan sang anak, dengan menyembelihnya. Tapi, kembali tinta sejarah sejarah mencatat, Ibrahim dan keluarga mampu menunaikan perintah ini dengan sempurna. Tak ada keraguan dari mereka untuk melaksanakan perintah Allah, sesuai dengan apa yang diminta.

Teguh pendirian, demi menggapai ridha-Nya.  segala perasaan manusiawi yang mengikat dihempaskan. Itu semua karena, ketundukan mereka kepada Allah, telah beradi atas segala yang mereka miliki, tak terkecuali keluarga, bahkan diri merkea sendiri.

Masuk kepada karakter kedua, keluarga Ibrahim merupakan kumpulan orang yang ikhlas (mukhlisun) menerima ketetapan Allah, segetir apapun itu. Sungguh suatu ketaatan, hanya bisa dilakukan secara totalitas, bila mana dilandasi oleh rasa ikhlas.

Sebaliknya, ketika keikhlasan itu tercerabut dari hati, maka hasilnya akan buruk. Bukan hanya tidak sempurna pekerjaan dari sebuah perintah, namun jauh dari itu, boleh jadi menyimpan dari standar yang telah ditetapkan.

Tipikal kelompok semisal ini, bisa kita lihat pada perilaku orang-orang munafik, sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an. Ketika diperintahkan untuk mendirikan sholat, mereka mengerjakannya. Tapi tidak penuh antusia, sungguh-sungguh, apa lagi sampai maqam khusyu.’ Yang ada mereka melakukannya secara serampangan dan malas-malasan (QS: an-Nisa’: 142).

Ibrahim dan keluarganya jauh dari tabiat uruk ini. Terbukti, ketika datang godaan secara bertubi-tubi dari syetan, agar Ibrahim mengurung niatnya untuk menyembelih Ismail, bujukan itu tak diindahkan. Yang ada syetan itu dilempar dengan batu, hingga lari terbirit-birit. Itulah asal muasal dari lembar jumrah, dalam ibadah haji.

Kesuksesan Ibrahim dalam menghindari bujuk-rayu syetan, itu sebuah bukti akan ketulusan/keikhlasan seorang hamba, dalam menjalankan perintah Allah. Karena sejatinya, syetan sendiri telah membuka tabir di hadapan Allah, ia tidak akan pernah mampu menggelincir seorang hamba dari ketaatan, yang didasari oleh keikhlasan.

Allah berfirman;

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata; ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutusskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan panti aku akan menyesatkan semuanya. Kecuali hamba-hama Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka.’” (QS: al-Hijr: 39-40)

Masuk ke karakter ketiga, sekaligus nan terakhir dalam pembahasan ini; Nabi Ibrahim dan keluarga merupakan pribadi-pribadi yang penyabar. Sungguh apa yang telah menjadi ketetapan Allah bagi seorang hamba adalah sebuah takdir yang harus diterima. Terutama yang mengenai urusan-urusan yang menyelisihi keinginan pribadi.

Dan sikap terbaik bagi seorang hamba ialah bersikap sabar. Hal inilah yang akan menjadikannya spesial. Menakjubkan. Bersabar ketika menerima musibah. Maka kita perhatikan jawaban dari sang anak yang hendak dikorbankan/disembelih; ia berharap tergolong kelompok orang-orang yang bersabar. Sehingga dikuatkannya sang ayahanda, untuk melakukan apa yang diperintahkan.

Baca: Qurban, Pendidikan Karakter dan Cinta 

Allah berfirman;

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“….Ia (Ismail) menjawab; ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS: ash-Shaffat: 102)

Dan bila kita telusuri al-Qur’an dan al-Hadits, maka kita temukan sebuah ketetapan, bahwa keberuntungan itu akan senantiasa menaungi orang-orang yang bersabar. Dalam Surat al-‘Ashr, misal. Dijelaskan di sana, bahwa hakekat manusia, apapun status sosialnya, semua dalam keadaan yang merugi. Kemudian Allah memberi pengecualian beberapa kelompok, satu di antaranya adalah mereka yang senantiasa menasehati dalam kesabaran.

Sedangkan dalam Surat al-Baqarah ayat 155-157, Allah memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang bersabar dalam menghadapi ujian, bahwa mereka kan mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari  Tuhannya. Dan mereka tergolong orang-orang yang mendapat hidayah.

Inilah di antar pelajaran dari perjalan dari Nabi Ibrahim. Untuk kita yang mengharapkan posisi serupa, untuk pribadi ataupun keluarga, maka menjadi keniscayaan bagi kita untuk menapi setiap jejak langkah perjalanan beliau, sebagaimana yang menjadi himbauan Allah pada ayat bagian awal pada pembukaan tulisan ini. Wallahu ‘Alamu Bish-Shawab.*/Khairul Hibri, Pengajar STAIL, Anggota PENA Surabaya

The post Tiga Karakter Mendasar, Kemuliaan Keluarga Ibrahim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
149161
Arafah, Tak Kenal Maka Tak Cinta http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/08/18/148845/arafah-tak-kenal-maka-tak-cinta.html Sat, 18 Aug 2018 02:54:48 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=148845

Belajar dari wuquf di padang arafah kita dapat menarik benang hikmahnya tentang makna kebersamaan dalam bingkai persaudaraan yang sejati

The post Arafah, Tak Kenal Maka Tak Cinta appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh : Ali Akbar bin Aqil

Arafah. Inilah nama sebuah tempat yang tidak asing. Bagi Umat Islam yang pernah menjalankan ibadah haji Arafah adalah sebuah tempat sakral dan penuh kenangan indah. Ia menjadi puncak ibadah haji. “al-Hajjuarafah, Haji itu Arafah.”

Arafah bisa berarti mengenal dan mengetahui. Ada beberapa versi mengapa ia disebut demikian. Sebuah riawayat menyebutkan suatu ketika Jibril membimbing Nabi Ibrahim untuk melaksanakan ibadah haji. Usai mendapat bimbingan, Jibril bertanya, “a`rafta, apakah kamu sudah tahu.” Jawab Nabi Ibrahim, “Iya.” Dari sini tempat tersebut dinamai Arafah.

Versi lain menyebutkan dinamakan Arafah karena menjadi tempat bersua antaraNabi Adam dan Siti Hawa. Setelah sekian lama terpisah mereka dipertemukan kembali di Padang Arafah. Ketika itu, Nabi Adam berada di sebuah negeri yang saat ini disebut India,sementara Hawa berada di tempat yang kini dikenal dengan Kota Jeddah.

Setiap tanggal 9 Dzulhijjah Arafah menjadi tempat pertemuan akbar umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Tentunya mereka datang dengan beragam perbedaan. Ada perbedaan suku bangsa, ras, warna kulit, dan bahasa. Diantara sesama jamaah haji dari Indonesia saja tidak sedikit perbedaan yang ada. Namun mereka digiring oleh Allah Subhanahu Wata’ala melalui wuquf di padang Arafah untuk menyadari bahwa kita adalah umat yang satu, umat Islam, umat yang diutus kepada mereka seorang Nabi dan Rasul, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Di padang Arafah umat Islam belajar tentang sikap saling menghormati perbedaan yang ada dan mengelolanya menjadi sumber energi kekuatan. Kita belajar Berbhineka Tunggal Ika. Setiap tahun kita diingatkan untuk menjaga kekompakan. Latar budaya dan madzhab yang berbeda tidak berarti membuat kita saling bermusuhan.

Baca: Wukuf Arafah Senin, Arab Saudi Umumkan Idul Adha hari Rabu

Haji dan khususnya wuquf di padang Arafah mengingatkan kita kembali akan firman Allah Subhanahu Wata’ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS. Al-Hujurat : 13).

Dari ayat di atas dan belajar dari wuquf di padang arafah kita dapat menarik benang hikmahnya tentang makna kebersamaan dalam bingkai persaudaraan yang sejati. Persaudaraan yang tak bisa dan tak boleh lapuk dimakan zaman. Ia berlaku abadi untuk selama-lamanya di sepanjang hayat. Kita yakin bahwa Islam tidak hanya dipeluk oleh umat Islam di Nusantara. Nun jauh di sana, di Benua Afrika, Eropa, Asia, Australia, Amerika, ada saudara-saudara kita. Irama dan gerakannya sama. Sama-sama melantukan kalimat talbiyah yang berisi sikap seorang hamba dalam memuliakan dan mengagungkan Allah. Mengenakan pakaian yang sama. Dan sama-sama berkorban dengan tenaga dan dana yang tak sedikit.Indah sekali.

Persaudaraan seperti inilah yang digambarkan oleh Nabi sebagai persaudaraan yang senasib sepenanggungan. Sakitmu sakitku. Gembiramu gembiraku. Jika ada yang sakit, kita merasakan hal yang sama. Jika ada umat Islam di Myanmar, Tiongkok, Papua, Palestina, Suriah, Afghanistan, Yaman dan sebagainya, yang teraniaya kita merasakan seperti yang mereka rasakan. Jika kita melihat saudara kita sedang dalam keadan lapar, kita mengenyangkannya. Jika mereka dalam keadaan kekurangan, kita datangidan meringankan bebannya. Demikianlah api solidaritas Arafah yang mengajak saling mengenal satu sama lain yang tidak boleh redup.

Baca: Tanpa Tulang di Arafah

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencinta dan menyayang mereka, seperti satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh didera rasa demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim).

Dari Arafah kita belajar untuk saling mengenal dengan cara membuka selebar-lebarnya ruang rasa hormat kala melihat perbedaan. Ada pria dan wanita. Ada suka dan duka. Ada aku dan kamu. Tapi bukan pada perbedaan itu kita terpaku. Dengan bepergian menuju padang Arafah sama halnya kita tengah melakukan perjalanan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbentang. Dengan pengelanaan sembari mencicipi payahdan pahit getirnya jalan yang kita lalui, akan mampu mengasah ketajam hati, memperkaya batin sekaligus menjadi sarana melakukan proses tazkiyatun nafsi (penyucian diri).

Dari perjalanan ini pula, kita bisa mengais ilmu. Bukalah riwayat para ulama dan imam. Banyak dari mereka mengembara, melewati jalan yang berlika-liku demi mencari ilmu. Mereka menghimpun ilmu dari berbagai negeri yang disinggahi. Hasilnya nyata terasa. Lahirlah para ulama dengan penguasaan ilmu yang luas. Dari padang Arafah kita belajar untuksaling mengisi ilmu, mengais pengetahuan, menghadiri kajian-kajian, majlis-majlis taklim di masjid-masjid kampung, perkantoran, kampus, atau rumah kita sendiri. Kita akan mengenal beragam karakter manusia, adat istiadatnya, bahasanya. Dari situ kita bisa belajar banyak kekayaan khazanah umat Islam.

Entah apa yang terjadi saat ini, khususnya di Tanah Air, jika tidak ulama yang melakukan perjalanan dan pengembaraan ke Nusantra, mendakwahkan agama sehingga kita menjadi umat mayoritas di negeri ini. Bayangkan jika para ulama dari  Timur Tengah, India dan lain-lain tidak melakukan pengembaraan ilmiah, membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan, bisa jadi saat ini kita tak mendapat cahaya Islam yang dibawa oleh Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Perkumpulan jutaan umat di Padang Arafah memberi pelajaran untuk siap menghadapi kematian. Kita belajar menjalani prosesi kehidupan pascakematian, dibangkitkan oleh Allah di sebuah padang bernama Mahsyar. Padang Arafah adalah simulasi bagi setiap orang untuk bersiap-siap sebelum menghadapi pertemuan akbar di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.

Maka, mari ber-arafah, saling mengenal. Kita datangi saudara-saudara yang tertindas. Kita ulurkan bantuan. Kita ringakan yang berat, angkat bersama, bergotong royong saling memikul beban. Kita adalah bagian dari umat Islam di negeri-negeri yang jauh maupun dekat. Semangat persaudaraan, saling mengenal, mengisi diri dengan ilmu, dan saling mengingatkan jangan sampai redup. Tidak boleh padam karena hembusan perpecahanyang dilatari sikap fanatic terhadap Ormas, Parpol, dan kelompok. Inilah seklumit pesan amal wuquf di Arafah.*

Penulis adalah pengajar di Pesantren Daruttauhid, Kota Malang

The post Arafah, Tak Kenal Maka Tak Cinta appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
148845
Berburu Berkah di Sepuluh Pertama Dzulhijjah http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/08/14/148518/berburu-berkah-di-sepuluh-pertama-dzulhijjah.html Tue, 14 Aug 2018 02:50:56 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=148518

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua ekor kambing kibasy yang berwarna putih dan bertanduk

The post Berburu Berkah di Sepuluh Pertama Dzulhijjah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BULAN Dzulhijjah adalah momen istimewa dan penuh berkah yang perlu dimanfaatkan dengan baik oleh segenap muslim.  Pada 10 awal bulan Dzulhijjah misalnya, ada beberapa amalan utama yang dianjurkan syariat. Amat disayangkan, jika muslim terlewatkan dari keberkahan-keberkahan yang terkandung dalam bulan ini.

Pertama, menunaikan haji dan umrah. Ini merupakan amalan paling utama di bulan yang termasuk “asyhurul-hurum” (bulan suci dan mulia) ini. Di antara yang menunjukkan keutamaannya adalah hadits berikut:

العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ

“Umrah satu ke Umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.” (HR. Bukhari, Muslim)

Kedua, berpuasa; khususnya di Hari Arafah (9 Dzulhijjah). Hadits berikut paling tidak menunjukkan betapa besar keutamaannya.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa hari ‘Arafah -saya berharap dari Allah- dapat menghapuskan dosa-dosa setahun sebelumnya dan juga tahun sesudahnya.” (HR. Tirmidzi)

Baca: Keutamaan Amal Shalih di Awal Dzulhijjah

Ketiga, amalan lainnya adalah takbir dan berdzikir. Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

“…dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Haj [22]: 28). Karena itulah, Ibnu Umar pernah berkata:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْد ِ

“Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta’ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah).” (HR. Ahmad)

Keempat, bertaubat dan segera berhenti dari segala maksiat dan dosa. Dalam hadits disebutkan:

إِنَّ اللهَ يُغَارُ وَغِيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللهُ.

“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah itu muncul manakala seorang mukmin mengerjakan apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari) Maka untuk mencapai keberkahan bulan ini, wajib berhenti dari segenap maksiat dan dosa.

Baca: Keutamaan Amal Shalih di Awal Dzulhijjah

Kelima, memperbanyak amal saleh. Bulan Dzulhijjah adalah bulan Haram yang begitu agung di sisi Allah. Tidak mengherankan jika kezaliman yang dilakukan pada bulan ini dianggap sebagai kezaliman yang sangat besar (QS. At-Taubah [9]: 36). Dan kebaikan atau amal saleh yang dilakukan pada momen ini dinilai dengan ganjaran sangat besar.

Keenam, secara umum takbir dianjurkan di hari-hari ini. Bagi yang tidak berhaji disunnahkan bertakbir sejak fajar Hari Arafah hingga shalat Ashar di akhir hari Tasyriq. Takbir –yang dianjurkan di antaranya– dilantunkan bakda shalat wajib yang dilakukan secara berjamaah.

Ketujuh, disyariatkan menyembelih hewan qurban pada hari qurban (bakda shalat Idul Adha) dan pada hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah). Ini merupakan sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam ketika taat pertintah Allah untuk menyembelih Ismail.

Baca: Sunnah Nabi di Bulan Dzulhijjah 

Lalu, oleh Allah diganti dengan sembelihan yang besar. Pada momen ini nabi –menurut hadits Bukhari dan Muslim– pernah menyembelih domba besar bertanduk. Anas bercerita:

ضَحَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَرَّبَ أَحَدُهُمَا فَقَالَ بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ هَذَا مِنْ مُحَمَّدٍ وَأَهْلِ بَيْتِهِ، وَقَرَّبَ الآخَرُ فَقَالَ: بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ هَذَا مِنْ عَمَّنْ وَحَّدَكَ مِنْ أُمَّتِي

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua ekor kambing kibasy yang berwarna putih dan bertanduk. Beliau menyembelih yang seekor seraya berkata: “Bismillah. Ya, Allah! Ini adalah dariMu dan untukMu, kurban dari Muhammad dan keluarganya.” Lalu Beliau menyembelih yang seekor lagi seraya berkata: “Bismillah. Ya, Allah! Ini adalah dariMu dan untukMu, qurban dari siapa saja yang mentauhidkanMu dari kalangan umatku.”

Kedelapan, bagi orang yang hendak berqurban maka ketika sudah masuk bulan Dzulhijjah dianjurkan untuk tidak memotong rambut dan kuku hingga hari qurban. Imam Muslim meriwayatkan sabda nabi:

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

“Jika kalian telah melihat hilal Dzul Hijjah, dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, hendaknya ia tidak mencukur rambut dan tidak memotong kuku terlebih dahulu.”

Kesembilan, bersemangat dalam menghadiri shalat Id dan menyimak khutbah hingga usai. Ini sesuai dengan yang dicontohkan oleh nabi dan para sahabatnya.

Kesepuluh, sepuluh hari ini adalah momentum istimewa untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan segala yang bisa membuat ketaatan muslim bertambah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Itu bisa dengan berzikir, bersyukur, melaksanakan kewajiban, menghindarkan diri dari segenap larangan dan lain sebagainya.

Mari berburu keberkahan di bulan mulia ini. Semoga, kita adalah bagian dari orang-orang yang akan mendapat keberkahan tersebut.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Berburu Berkah di Sepuluh Pertama Dzulhijjah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
148518
Lima Panduan Berqurban http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/08/11/148340/lima-panduan-berqurban.html Sat, 11 Aug 2018 02:31:57 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=148340

siapa yang menyembelih setelah shalat (‘Id), sungguh telah sempurna sembelihannya dengan mendapatkan sunnahnya kaum muslimin

The post Lima Panduan Berqurban appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BERQURBAN pada tanggal 10 Dzulhijjah adalah amalan agung yang disyariatkan dalam Islam. Dalam surah Al-Kautsar Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar [108]: 2)

Nabi pun bersabda: “Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” (HR. Ibnu Majah)

Bagi yang ingin berqurban, panduan berikut –sedikit banyak– bisa membantu untuk melaksanakannya:

Pertama: Mengetahui Ketentuan Hewan yang Disembelih

Hewan yang disyariatkan untuk berqurban adalah hewan ternak (baca: surah Al-Haj ayat 28) seperti kambing, sapi dan unta. Selain itu, maka tidak bisa dijadikan qurban. Untuk domba jenis jadz’ah maka boleh dijadikan hewan qurban ketika usianya setahun atau mendekati setahun. Sementara kambing, onta atau sapi maka baru bisa dijadikan hewan qurban ketika sudah “musinnah” (cukup umur).

Untuk kambing baru layak dijadikan qurban ketika berumut satu tahun dan memasuki tahun kedua. Sedangkan onta yang berumur empat tahun dan memasuki tahun kelima. Adapun sapi yang berumut dua tahun dan memasuki tahun ketiga. Hal ini berdasarkan hadits beliau:

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً، إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ، فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ

“Jangan sembelih kecuali Musinnah (cukup umur), apabila sulit bagi kalian maka sembelihlah domba jadz’ah.” (HR. Muslim)

Baca: Pertanyaan-pertanyaan Terkait Hewan Qurban

Selain ketentuan tersebut, hewan yang diqurbankan harus sehat dan bebas dari cacat, misalnya: buta, pincang, pecah tanduknya, putus telinganya, sakit-sakitan dan kurus kering. Sabda nabi:

أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى

“Empat perkara yang tidak boleh ada di dalam hewan-hewan kurban.” Kemudian belaiu berkata; yaitu; buta sebelah matanya yang jelas kebutaannya, pincang yang jelas pincangnya, sakit yang jelas sakitnya, dan pecah kakinya yang tidak memiliki sumsum.” (HR. Abu Dawud)

Adapun yang paling utama dijadikan qurban adalah kambing  gibas bertanduk, jantan, berwarna putih dan ada pola hitam menghiasai sekitar mata dan keempat kakinya. Aisyah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatjan, “Sesunguhnya nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyembilih kambing qibas yang memiliki tanduk, menginjak deng tapak yang hitam, berhalan dengan kaki yang hitam, dan melihat dengan mata yang hitam.” (HR. Tirmidzi)

Hal lain yang perlu diketahui terkait hewan qurban; boleh bersekutu (bergabung) menyembelih 1 ekor sapi untuk tujuh orang. Selain itu, satu kambing bisa diniatkan untuk seluruh anggota keluarga. Karena nabi sendiri pernah menyembelih kambing diniatkan untuk diri sendiri, keluarga dan umatnya. 

Kedua: Memahami Waktu Berqurban

Bagi yang hendak berqurban, terlebih dahulu harus memahawi kapan waktu yang disyariatkan. Dengan mengetahuinya, maka kualitas ibadah ini juga akan terjaga. Waktu berqurban adalah pada waktu dhuha, pasca pelaksanaan shalat Idul Adha. Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِيْنَ.

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka ia hanyalah menyembelih untuk dirinya sendiri. Namun barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (‘Id), maka sungguh telah sempurna sembelihannya dengan mendapatkan sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

Selain itu, meski yang utama waktu sembelihan adalah tanggal 10 Dzulhijjah, namun waktunya bisa dimundurkan hingga hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah). Hal ini sesuai dengan hadits:

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Di setiap hari tasyriq boleh menyembelih.” (HR. Ahmad)

Ketiga : Mengerti Larangan Bagi Orang yang Hendak Berqurban

Orang yang mau berqurban dilarang mencukut rambut dan memotong kuku. Sebagaimana sabdanya: “Jika kalian melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang kalian mau berkurban, maka tahanlah diri anda dari mencukur rambut, dan memotong kukunya.” (HR. Muslim)

Baca: Enam Fadhilah dan Keutamaan Berqurban

Keempat : Memahami Tata Cara Menyembelih

Di antara yang perlu diperhatikan saat menyembelih adalah: menyiapkan alat sembelihan yang tajam. Ini sesuai dengan petunjuk nabi: “Jika kalian menyembelih perelokkanlah sembelihan kamu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim). Setelah itu, hewan dihadapkan ke kiblat.

Sebelum menyembelih dianjurkan berdoa dengan:

بسمِ اللّهِ و الله أكبرُ اللهم هذَا منكَ ولكَ

Bismillahi Allahuakbar wallahu akbar. Allahuma hadza minka walak. “Dengan nama Allah dan Allah yang Maha besar. In dari-Mu dan untuk-Mu.” Lalu, kemudian hewan disembelih.

Mengenai penyembelihan, boleh dilakukan sendiri atau diwakilkan kepada orang lain. Sebagai catatan untuk penyembelih, tidak boleh diberi upah dari hewan yang disembelih sebagaimana keterangan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Hanya saja, jika upahnya dikeluarkan dari dana lain selain qurban, maka dibolehkan.

Kelima : Pembagian Hewan Qurban

Pembagian hewan qurban bisa dibagi tiga. Sepertiga untuk dimakan keluarga sendiri, sepertiga lagi untuk sedekah, dan sepertiga lagi untuk dihadiahkan kepada teman-teman atau rekan. Ini sesuai dengan sabda nabi:

كُلُوا وَادَّخرُوْا وَتَصَدَّقُوْا

“Makanlah kalian, simpanlah dan bersedekahlah.” (HR. Abu Dawud dan Nasai)

Demikianlah lima panduan singkat dalam berqurban. Semoga, ibadah qurban di tahun ini diterima di sisi Allah, semakin meningkat setiap tahunnya dan menjadi pemberat amal kita di akhirat.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Lima Panduan Berqurban appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
148340
Diksi Persatuan Pemimpin Teladan http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/08/09/148147/diksi-persatuan-pemimpin-teladan.html Thu, 09 Aug 2018 05:59:39 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=148147

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyapaikan diksi yang membuat sejuk, damai, tentram dan harmoni

The post Diksi Persatuan Pemimpin Teladan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SUATU hari, Sya`s bin Qais, seorang tua renta kafir dan sangat dengki terhadap Islam, mencoba mengadu domba Suku Aus dan Khazraj yang sedang berkumpul dalam suatu majlis.

Untuk meluluskan maksudnya, ia suruh pemuda Yahudi untuk memprovokasi mereka dengan bahasa yang menimbulkan bentrokan. Ia mengobarkan kembali dendam kesumat dalam Pertempuran Buâts. Cara yang digunakan ternyata ampuh. Masing-masing bangga dengan suku dang golongannya bahkan sudah siap bertempur di waktu Dzuhur.

Tak lama setelah itu, sampailah berita ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam. Melihat konflik tersebut, beliau lekas meredamnya. Inilah diksi yang digunakan nabi, “Wahai sekalian orang muslim, ingat Allah! Ingat Allah! Apa kalian (kembali) terprovokasi dengan propaganda Jahiliah padahal aku di hadapan kalian; setelah kalian dibimbing Allah kepada Islam; memuliakan kalian dengannya; memutus perkara jahiliah dengannya; menyelamatkan kalian dai kekufuran serta menyatukan hati-hati kalian?”

Mendengar diksi yang digunakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka pun pada akhirnya sadar sembari menangis dan saling berpelukan (Muhammad Shallabi, al-Sîrah al-Nabawiyyah, II/10).  Kata-kata yang disampaikan nabi ini senada dengan firman Allah, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS: Ali Imran [3]: 103)

Baca: Takutlah Jadi Pemimpin

Bandingkan! Kalau diksi yang digunakan pemuda suruhan Sya’s mengandung unsur provokasi, adu domba dan penuh hasutan. Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyapaikan diksi yang membuat sejuk, damai, tentram dan harmoni.

Pada kesempatan lain, Jabir bin Abdullah menceritakan, dalam suatu pertempuran, seorang sahabat dari golongan Muhajirin mendorong sahabat dari golongan Anshar. Kondisi ini berbuntut konflik menegangkan yang didasarkan pada fanatisme golongan. Kedua pihak akhirnya memanggil kawannya masing-masing. Ketika nabi mendengar perbedaaan kontradiktif tersebut, beliau segera meredamnya dengan mengatakan, “Seruan Jahiliyyah macam apa ini?” (HR. Bukhari).

Setelah diberitahu alasannya, beliau menyuruh mereka meninggalkan atau menyudahi perselisihan karena itu buruk.

Dengan bahasa sejuk, penuh dengan narasi persatuan dan sarat akan persaudaraan, beliau mampu menjadi sang pemersatu. Percekcokan yang berpotensi menimbulkan persimbahan darah, akhirnya bisa reda dengan begitu mudah.

Baca: Menjadi Pemimpin Adil dan Bijaksana

Begitulah seharusnya seorang pemimpin. Bila berbicara –apa lagi yang menyangkut hal yang bisa menyulut konflik internal— semestinya berhati-hati dalam mengundakan diksi. Bila tidak, maka akan menimbulkan kegaduhan di dalam internal yang dimimpin.

Apa yang sedang viral baru-baru ini, terkait diksi yang dipakai orang nomer satu negeri ini kepada para relawan, “Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani,” dan kalimat, “tapi jangan ngajak (berantem) loh. Saya bilang tadi, tolong digarisbawahi. Jangan ngajak. Kalau diajak, tidak boleh takut,” justru mengarahkan orang kepada konflik dan perpecahan yang bisa mengancam kesatuan bangsa.

Walaupun ke depan, tahun 2019, ada persaingan perebutan jabatan presiden, dan masing-masing memiliki calon yang diunggulkan yang merupakan hal wajar dalam demokrasi, tidak arif jika diksi yang disampaikan adalah “berani diajak berantem” dan “kalau ngajak, tidak boleh takut”. Apa kita sedang perang fisik dengan musuh? Bukankah walau berbeda calon, masing-masing adalah tetap saudara dan satu bangsa.

Dalam sejarah demokrasi Indonesia, persaingan atau konflik antar partai sudah biasa. Misalkan konflik antar Partai Masyumi dan PKI sebelum meletusnya G30S-PKI 1965.

Namun, di level pemimpin mereka terlihat rukun-rukun saja. Mohammad Natsir misalnya, biasa duduk bareng ngopi bersama D.N. Aidit. Demikian juga I.J. Kasimo dan Prawoto, hubungannya demikian harmonis walaupun haluan politiknya berbeda. Mereka para pemimpin menghadirkan kesejukan. Diksi yang dipilih pun tak membuat perpecahan.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Diksi Persatuan Pemimpin Teladan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
148147
“Diam” Sumber Keselamatan http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/08/07/147949/diam-sumber-keselamatan.html Tue, 07 Aug 2018 11:43:42 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=147949

Diam dan tidak meladeni orang yang bodoh adalah kemuliaan. Sedang tidak merespon orang pandir bisa menjaga kehormatan diri

The post “Diam” Sumber Keselamatan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

IMAM Syafi’i dalam kitab “Dîwân al-Imâm al-Syâfi’i” (1431: 63) pernah menyenandungkan sya’ir yang berjudul “As-Sukûtu Salamatun” (Diam adalah keselamatan). Kandungan dari bait-bait berikut ini sangat menarik untuk dijadikan refleksi di tengah era digital yang penuh dengan fitnah dan hasutan.

Beliau melantunkan:

قَالُوْا : سَكَتَّ وَقَدْ خُوْصِمْتَ قُلْتُ لَهُمْ                           إِنَّ الْجَوَابَ لِبَابِ الشَّرِّ مِفْتَاحُ

وَالصَّمْتُ عَنْ جَاهِلٍ أَوْ أَحْمَقٍ شَرَفٌ                          وَفِيْهِ أَيْضًا لِصَوْنِ الْعِرْضِ إِصْلاَحُ

أَمَا تَرَى الْأَسَدَ تُخْشَى وَهْيَ صَامِتَةٌ؟                          وِالْكَلْبُ يُخْسَى، لَعًمْريْ، وَهْوَ نَبَّاحُ

Mereka berkata, “Kamu diam saja padahal dimusuhi,” lantas aku menjawab,

            “Sungguh, malah membuka pintu kejahatan jika aku turut menjawab

Bersikap diam terhadap orang bodoh atau pandir adalah kemuliaan

             Dsamping itu juga bisa menjaga dan memperbaiki kehormatan

Tidakkah engkau melihat singa ditakuti padahal dia diam (tak banyak omong)?

             Sedangkan anjing dihinakan, karena dia menggonggong.”

Dari bait sya`ir yang indah ini, bisa diambil pelajaran. Pertama, tidak usah meladeni permusuhan seseorang jahil dengan jawaban yang malah akan menimbulkan keburukan yang lebih besar. Kedua, diam atau tidak meladeni orang yang bodoh adalah kemuliaan. Ketiga, tidak merespon orang pandir juga bisa menjaga kehormatan diri. Maka, dalam situasi demikian, sebaik-baik sikap adalah diam.

Baca: Rasulullah Ceria Selalu Murah Hati, Lembut dan Tak Banyak Bicara

Bukankah ada ayat al-Qur`an yang menyarankan wa a’ridh ‘anil jâhilîn [dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil] (QS. Al-A’raf [7]: 199). Dengan tidak meladeni mereka, maka marwah dan kehormatan diri akan terjaga. Demikian juga Maryam pasca kelahiran Isa AS dan kembali ke kediamannya. Banyak yang menuduhnya macam-macam, tapi dia diajari oleh Allah agar diam saja (QS. Maryam [19]: 26).

Pada bait sya’ir ketiga, Imam Syafi’i rahimahullah menyampaikan analogi menarik mengenai begitu berartinya sikap diam. Diam –dalam kondisi demikian- diibaratkan seperti diamnya singa. Singa diam justru ditakuti. Sedangkan anjing yang menggonggong, justru dihinakan, direndahkan, bahkan diusir dilempar pakai batu. Maka tidak heran jika ada ungkapan: “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.” Tidak perlu meladeni omongan orang yang jahil.

Baca: Yang Dibenci karena Bicaranya 

 

Dalam hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bahkan, diam merupakan indikator kuat keimanan seseorang kepada Allah dan Hari Akhir:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR. Bukhari, Muslim).

Namun, yang menjadi catatan penting dalam hadits ini, yang diusahakan terlebih dahulu adalah mengatakan sesuatu yang baik. Jika sudah tidak mampu, maka diam adalah lebih baik.

Dalam dunia maya misalnya, jika seorang muslim tidak bisa menulis, membagikan, dan menyebarkan sesuatu yang baik, maka diam adalah solusi terbaik. Tidak ikut menulis status negatif, nyinyir, menyebar fitnah, membagikan propaganda liar, dan lain sebagainya sehingga gerak-geriknya sebagai muslim menciptakan suasana aman dan tentram bagi lingkungannya. Pada kondisi inilah diam bisa membuat tentram.*/ Mahmud Budi Setiawan | Abu Kafillah

The post “Diam” Sumber Keselamatan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
147949
Belajar Seni Berdoa Kepada Nabi Ibrahim http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/07/30/147233/belajar-seni-berdoa-kepada-nabi-ibrahim.html Mon, 30 Jul 2018 06:06:41 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=147233

Umat harus berdoalah pada Allah untuk mendapatkan kebaikan meski mustahil di mata manusia

The post Belajar Seni Berdoa Kepada Nabi Ibrahim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DALAM Khutbah Jum’at di Masjid Ar-Rahman AQL Islamic Center (27/07/2018), Ustadz. Asep Sobari — Pendiri Sirah Community Indonesia – menyampaikan topik menarik tentang dua sosok nabi dan Rasul yang keduanya disebut sebagai “uswah hasanah” (teladan yang baik) dalam al-Qur`an: Ibrahim ‘Alaihis salam dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pada Surah Al-Ahzab [33] ayat 21 disebutkan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Yang dimaksud di sini adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sedangkan dalam Surah Al-Mumtahanah [60] ayat 4 disebutkan:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim,” Di sini dengan jelas disebutkan bahwa dalam diri Ibrahim ada suri tauladan yang baik untuk ditiru.

Baca: Empat Langkah lebih Dekat dengan Allah Ta’ala

Menariknya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah buah dari doa Nabi Ibrahim sejak 2400 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan pada hayat kedua sosok ini, harus dijadikan teladan dalam kehidupan.

Pada kesempatan Jum’at yang berkah ini, salah satu peneliti INSISTS ini mengetengahkan teladan Ibrahim dalam berdoa. Di dalam al-Qur`an di antara sekian banyak doa yang dipanjatkan para nabi dan rasul, maka doa Nabi Ibrahim memiliki kekhasan tersendiri. Seni berdoa yang dilantunkan Ibrahim layak diteladani bagi siapa saja yang ingin membina keluarga yang sukses.

Pertama, menyertakan keluarga dan keturunannya dalam doanya. Di antara sekian banyak doa yang dipanjatkan para nabi, hanya Ibrahim yang sangat sering menyertakan keluarganya dalam doa-doanya.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 124, 126, 127, 128, 129 dan Ibrahim ayat 40, adalah merupakan contoh rill penyertaan keluarga dan keturunan dalam doa. Dari sini, seyogianya umat Islam bisa meneladani ia. Bahwa doa yang dilantunkan bukan hanya untuk kepentingan sendiri dan untuk kepentingan sesaat, namun juga diproyeksikan untuk kepentingan yang lebih besar laiknya Ibrahim.

Kedua, menanamkan kesadaran untuk tawadu’ dan tidak bangga kepada kebaikan diri sendiri. Setelah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salam membangun ka’bah, doa yang dilantunkan adalah:

{رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [البقرة: 127]

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 127) Dalam doa ini mengandung pelajaran yang luar biasa.

Baca: Tujuh Rahasia Dikabulkannya Doa Kita 

Walau ia adalah seorang nabi, mendapat perintah langsung dari Allah serta mengamalkan hal yang sangat mulia (berupa membangun rumah-Nya), namun ia tetap menundukkan hatinya dan tidak bangga dengan amal baik yang dilakukannya. Sebagai nabi ia masi meminta agar amalnya dikabulkan oleh Allah. Ia takut amal yang dilakukan tidak diterima di sisi-Nya.

Ini pelajaran berharga bagi setiap orang agar tidak merasa bangga dengan amal yang dikerjakannya. Maka tidak mengherankan jika sebagian ulama ada yang mengatakan:

لَا تَغْتَرّ بِكَثْرَةِ الْعَمَلِ فَإِنَّكَ لَا تَدْرِىْ أَيُقْبَلُ مِنْكَ أَمْ لَا

“Jangan terperdaya atau takjub dengan banyaknya amal! Karena engkau tidak tahu (amal itu) diterima darimu atau tidak.”

Ketiga, berdoa secara spesifik dan mengerucut. Dalam berdoa Nabi Ibrahim begitu spesifik. Dalam doa ini misalnya ia mengatakan:

{رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [البقرة: 129]

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Pada doa tersebut, dengan sangat spesifik Ibrahim meminta agar diutus Rasul dari keturunannya yang memiliki empat kualifikasi: membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kitab dan hikmah serta membersihkan mereka.

Menariknya, satu-satunya keturunan ia yang memiliki keempatnya adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini bisa dibaca dalam Surah Al-Jumu’ah ayat kedua. Lebih dari itu, doa yang dilantunkan hingga sampai terwujud rupanya mencapai waktu sekitar 2400 tahun lamanya. Sebuah doa spisifik yang juga perlu kesabaran yang luar biasa.

Ustadz lulusan Madinah ini juga berharap, di tengah kondisi bangsa yang mengalami banyak cobaan seperti sekarang ini, hendaknya umat berdoa kepada Allah yang lebih spesifik untuk kemaslahatan bangsa. Semoga Allah membangkitkan dari keturunan bangsa ini yang bisa berubahan yang lebih baik untuk negara Indonesia.

Keempat, berdoa dengan optimis, penuh keyakinan dan husnudzan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Doa-doa tadi yang dipanjatkan Nabi Ibrahim hingga terkabulkan mencerminkan betapa optimism, yakin dan berbaik sangka Ibrahim terhadap Allah Ta’ala.

Baca: Doa Empat Ribu Tahun

Kelima, berdoa dengan sesuatu yang baik sekalipun mustahil di mata manusia. Dalam salah satu doanya ia berkata:

{ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ } [البقرة: 126]

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 126)

Bayangkan, pada Surah Ibrahim ayat 37 Ibrahim sudah mengatakan bahwa dia menempatkan keluarganya (Ismail dan ibunya) di lembah yang tidak mungkin ditumbuhi tanaman. Tapi, yang ia minta adalah agar mereka diberi rezeki dari berbagai macam buah-buahan.

Dari sini umat bisa belajar, bahwa berdoalah kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan yang mustahil sekalipun di mata manusia. “Kemustahilan adalah keterbatasan manusi sedang Allah adalah Maha Tak Terbatas,” tuturnya.

Apa yang didapatkan Ibrahim hingga menjadi imam bagi manusia dan dikenal sebagai “Abu Anbiya” (Bapak Para Nabi) bukanlah hal yang mudah. Pada surah Al-Baqarah ayat 124 dijelaskan bahwa ia telah menjalani ujian-ujian yang sangat berat. Ujian saat masih muda, saat di Pelestina, saat di Mesir, Syam dan lain sebagainya. Namun, pada akhirnya mampu dijalani secara gemilang dan sempurna. Hasilnya, ia dijadikan imam (pemimpin) bagi umat manusia dan ketika ia meminta dari keturunannya juga ada yang jadi pemimpin, juga dikabulkan selama tidak melakukan kezaliman.

Pesan menarik dari ia sebelum khutbah usai, “Negara ini banyak mengalami ujian berat. Kita perlu punya optimisme seperti Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Tidak mustahil Allah memberi pada negeri ini generasi yang membuat perubahan besar serta menjadikan negeri ini sebagai baldatun thayyibatun warabbun ghafur.”

Semoga kita bisa meneladani Nabi Ibrahim (sekaligus nabi Muhammad) dalam berdoa sekaligus dalam segenap lini kebaikan yang dicontohkan ia dalam kehidupannya.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Belajar Seni Berdoa Kepada Nabi Ibrahim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
147233
Spirit Tabayyun di Era Digital http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/07/24/146737/spirit-tabayyun-di-era-digital.html Tue, 24 Jul 2018 14:39:29 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=146737

Jika kepada hewan saja Rasulullah Muhammad menanamkan spirit klarifikasi (tabayyun), bagaimana kepada manusia?

The post Spirit Tabayyun di Era Digital appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

APA yang terjadi dewasa ini di era digital cukup memprihatinkan. Kecanggihan teknologi-informasi seringkali menjadi faktor perpecahan di kalangan internal umat Islam bahkan bangsa. Perbadaan-perbedaan pemahaman furu’iyah (bersifat ijtihad), kelompok bahkan haluan politik bisa turut memperparah kondisi ini.

Dengan modal potongan video yang di-framing sesuai kehendak pribadi misalnya, orang yang tak sama pemahamannya dengan mudah memviralkannya di media sosial sehingga bisa menimbulkan kegaduhan publik.

Apa yang sedang viral saat ini terkait: berat badan wanita shalehah yang tak lebih dari 55 kilo gram; adalah bukti konkret ketika kecanggihan teknologi-informasi tak diiringi dengan spirit tabayyun (klarifikasi) maka akan berujung fitnah dan adu domba.

Padahal, sudah sangat jelas perintah tabayyun dalam surah Al-Hujurat [49] ayat 6. Nabi pun juga pernah mengingatkan dalam riwayat Baihaqi bahwa:

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Kehati-hatian adalah dari Allah dan tergesah-gesah adalah dari setan.”

Salah satu pengertian “ta`anni” dalam hadits ini adalah membiasakan diri untuk klarifikasi.

Baca: 3 Cara Selamat dari Berita Bohong

Ketika Ma’iz bin Malik datang menghadap nabi untuk disucikan karena telah berzina, Nabi tak menerimanya mentah-mentah. Belia menyuruhnya kembali dan beristighfar sekaligus bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Rupanya, Ma’iz tidak tenang dan kembali sampai berkali-kali. Jawaban Rasulullah pun sama. Untuk yang keempat kalinya baru beliau bertanya, “Kamu mau aku sucikan dari apa?” Maiz ingin disucikan dari perbuatan zina. Dengan sangat hati-hati Rasulullah mengklarifikasi apakah dia gila atau sedang minum khamr (Miras). Baru kemudian setelah jelas perkaranya, kemudian ditetapkan hukuman.

Menariknya, Rasulullah Shallallahu ‘alaih wasallam ketika mendapat kabar langsung dari Maiz tidak tergesah-gesah dalam mengambil keputusan. Spirit tabayyun dan klarifikasi didahulukan oleh beliau.

Bahkan spirit tabayyun juga bisa dipelajari dari kisah Nabi Sulaiman dan burung hud-hud. Ketika burung ini membawa kabar dari Saba`, anak Nabi Daud ini tak langsung menerima mentah-mentah tapi berkata:

سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS. An-Naml [27]: 27)

Baca: MUI Ingatkan Fatwa terkait Media Sosial 

Kepada hewan sekalipun beliau menanamkan spirit klarifikasi, apalagi kepada manusia. Tidak mengherankan jika kecanggihan teknologi di masa beliau tetap menebar manfaat karena spirit tabayyun begitu ditegakkan.

Dari para generasi salaf juga bisa belajar spirit tabayyun. Suatu saat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu mendapat laporan wanita yang berbuat zina. Beliaupun memerintahkan untuk merajamnya. Di tengah perjalanan, petugas rajam bertemu dengan Ali. Ali bertanya mengenainya kemudian melepaskan tangan wanita itu dari mereka. Dilaporkanlah peristiwa itu kepada Umar. Dan beliau berkeyakinan bahwa tidak mungkin Ali melakukan itu tanpa alasan. Ternyata, setelah diklarifikasi wanita ini gila dan kemungkinan ada yang memperkosanya. Akhirnya, keputusan pun dicabut. (HR. Ahmad)

Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah didatangi seseorang yang melaporkan suatu (keburukan) seseorang. Umar tak langsung menerimanya tapi berkomentar, “Kami akan menunggu terlebih dahulu perkaramu, jika kamu berdusta maka kamu masuk pada ayat “jika datang kepadamu orang fasik dengan suatu berita maka tabayunlah” (QS. Al-Hujurat [49]: 6) dan jika kamu benar, maka kamu masuk dalam ayat “yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,” (QS. Al-Qalam [69]: 11). Jika kamu mau, maka kami akan memaafkanmu.” Orang itupun meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. (Adz-Dzammar, Tashfiyah al-Quluub min Adraan al-Auzaar, 107)

Ada kisah lain yang perlu diangkat terkait spirit tabayyun. Suatu hari, Al-Mawarzi berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal terkait Humaid Al-Khazzaz, “Aku bertanya tentangnya kepada Yahya, ia mengomentarinya dengan sangat pedas. Bahwa dia mencuri kitab Yahya bin Adam dari Ubaid bi Ya’isy kemudian mengakuinya (sebagai karangannya). Akupun bertanya kepada Abu Zakariya, “Apakah anda mendengar langsung Ubaid bin Ya’isy mengatakan ini?” “Tidak!” jawabnya. Tapi sebagian sahabat kami yang memberitahukannya kepadaku dan tak memiliki alasan selain ini.” Imam Ahmad pun marah sembari berkomentar, “Subhaallah apakah bisa diterima hal seperti ini tentangnya? Orang seperti ini bisa jatuh (nilanya).” (Daruquthni, al-Ru`yah, 200, 201)

Spirit tabayyun yang digelorakan al-Qur`an, as-Sunnah dan kisah-kisah para salaf  begitu mendesak bahkan darurat dilakukan di era digital ini agar sesama umat Islam khususnya tidak terpecah belah dan termakan adu domba. Demikian juga  bangsa Indonesia secara umum tidak porak-poranda oleh berbagai fitnah yang lahir di medsos tanpa tabayyun.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Spirit Tabayyun di Era Digital appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
146737