Muslimah dan Jihad Wanita Masa Kini

Meski ada wanita memilih terjun perang, namun tugas wanita sebaiknya tidaklah fisik. Masih banyak peran yang lebih berarti

Muslimah dan Jihad Wanita Masa Kini

Terkait

AYAT-AYAT al-Qur’an yang menyeru berjihad tidah hanya diarahkan kepada kaum laki-laki saja. Namun untuk seluruh ummat Islam. Para istri sahabat ikut serta dalam peperangan bersama kaum pria. Mereka tidak menyingkir dari peperangan.

Di antara tugas yang dilakukan wanita muslimah adalah memberi minum kepada para pejuang serta merawat luka mereka. Bahkan di antara mereka ada yang maju di barisan terdepan di tengah suasana perang di antara kilatan pedang dan sambaran panah. Para pejuang yang terluka ataupun yang tertimpa musibah lain, mereka bawa ke dalam tenda-tenda perawatan.

Sayyidah Rafidah dianggap sebagai dokter wanita pertama dalam Islam. Rasulullah mendirikan tenda besar menyerupai sebuah rumah sakit saat ini khusus untuk beliau. Dalam menjalankan tugasnya, Sayyidah Rafidah dibantu para istri sahabat yang lain. Pada mulanya, ummat Islam membawa para pejuang yang gugur syahid ke kota Madinah untuk di makamkan di sana. Tugas ini ditangani para wanita muslimah. Mereka bawa para syahid ke kota Madinah. Mereka menggali tanah untuk pemakaman para syuhada. Setelah turun wahyu kepada Rasul agar para syahid di makamkan di medan perang, para wanita jugalah yang melaksanakan tugas tersebut.

Para istri sahabat juga turut berperan dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka turut menentukan antara perang atau damai, perang atau genjatan senjata. Mereka mempunyai hak “grasi” terhadap tawanan serta hak mengembalikan harta mereka.

Sebelum berperang, Rasulullah dan para sahabat juga hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka samua tanpa kecuali mendapat seruan Rasul “Wahai manusia, berikanlah nasehat kepadaku! Sungguh Allah memerintahkan aku untuk bermusyawarah.”

Di antara tugas yang juga dijalani kaum hawa di masa Rasulullah adalah menyediakan makanan dan minuman bagi para pejuang serta merawat kuda-kuda perang. Selain itu, mereka bertugas memparbaiki dan mempersiapkan persenjataaan para pejuang di tengah berkecamuknya perang.

Dalam suatu peperangan, pedang yang ada di tangan Khalid bin Walid patah. Melihat hal itu, istri Khalid yakni Ummi Tamim segera membantu sang suami dengan memberikan senjata yang baru agar dapat melanjutkan pertempuran. Demikian pula dengan Asma binti Abu Bakar, dia bantu sang suami Zubair bin Awam dengan persenjataan.

Kehadiran sang istri di samping suami di medan perang sangat memupuk semangat juang mereka. Ini semua demi membela martabat dan kehormatan serta menampilkan semangat kepahlawanan dan keluhuran di hadapan istri. Betapa banyak pejuang terpompa semangatnya di medan perang disebabkan kehadiran seorang perempuan.

Di saat terjadi perang Kodisiah, Al-Khasna seorang penyair wanita membakar semangat juang empat prang puteranya serta para pemuda muslim untuk berjuang dan bersyahid. Ketika ia saksikan empat putranya telah gugur sebagai syahid dalam perang tersebut, Khasna tidak menangisi mereka. Bahkan dia mengucapkan kata-kata yang teramat mashur “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan diriku dan dengan gugurnya putra-putraku.”

Tugas lain para wanita adalah menghalang-halangi para pejuang agar tidak melarikan diri di saat perang berkobar. Para wanita berdiri dibelakang para prajurit yang sedang berperang. Apabila ada pejuang yang mundur dari medan perang, sang istri segera menunjuk-nunjukkan anak-anaknya di mata sang ayah (menunjukkan betapa memalukannya sikap lari dari medan perang.

Saat terjadi perang Yarmuk, Khalid bin Walid menempatkan para wanita di atas bukit yang ada dibelakang prajurit. Para wanita tersebut akan melempari pejuang yang mundur dari medan laga dengan kerikil dan kayu, ataupun menyiram mereka dengan debu.

Sebenarnya tugas pokok wanita dalam peperangan bukanlah adu fisik. Meski demikian banyak wanita perkasa terjun langsung dalam peperangan. Mereka ada yang menggunakan pedang adapula yang menggunakan panah. Demi membantu para pejuang ataupun menghindari kekalahan.

Dalam berbagai perang besar jumlah wanita dapat mencapai ribuan orang. Sejarah telah mencetat pahlawan wanita di masa-masa awal Islam. Ummi Amarah Nasibah binti Ka’ab tidak hanya sekali terjun bersama Rasulullah. Dalam perang Uhud, Ummi Amarah habis-habisan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam hingga beliau terluka.

Dalam setiap peperangan, jumlah kaum Muslimin selalu lebih sedikit dibanding jumlah lawan. Oleh karena itu ketika pertempuran hampir berkobar, para wanita melakukan penjagaan siang dan malam. Mereka memberikan kesempatan kepada para pejuang untuk banyak-banyak beristirahat.

Dalam perang Yarmu’ semua prajurit tertidur karena kelelahan yang teramat sangat. Sang komandan Abu Ubaidah bin Jirah tidak mau membebani prajuritnya yang sudah sangat lelah agar berjaga-jaga. Sehingga meski seorang komandan, beliau sendiri yang melakukan tugas penjagaan. Ternyata beliau melihat Asma binti Abu Bakar dan sekelompok putri muslimah tengah berjaga-jaga di sekitar perkemahan. Mereka semua menghunus pedang. Sungguh suatu pemandangan yang sangat indah, seorang panglima besar dan putri khalifah bersama-sama melakukan tugas jaga.

Demikianlah, sejarah Islam dipenuhi kepahlawanan para wanita. Alangkah baiknya apabila heroisme yang luar biasa ini kita ungkapkan kepada generasi-generasi kita agar menjadi teladan untuk berjihad di jalan Allah.

Jihad wanita zaman kini

Pintu jihad bagi para wanita masih tetap terbuka. Apalagi di zaman yang dipenuhi kehidupan yang serba keras kini. Mereka menempati posisi strategis untuk menjadi benteng-benteng keluarga. Di saat para suami sibuk mencari kehidupan nafkah untuk keluarga, mereka mempunyai tanggung jawab mendidik mental dan akhlak anak-anaknya agar tidak turut terseret arus yang terus menyeretnya ke tubir kehancuran. Inilah bentuk tanggung jawab kaum ibu yang tidak ringan.

Bentuk tanggung jawab ini tidak jauh beratnya dengan para pasukan yang harus menghadapi musuh secara langsung di medan peperangan. Bila kehadiran pasukan musuh dan hiruk pikuk gelombang kedatangannya mampu menggelorakan jiwa untuk melawan–pada kondisi seperti itu kita bisa menumbuhkan semangat perlawanan sebesar-besarnya. Akan tetapi musuh-musuh sekarang sudah dibungkus dan masuk dalam kemasan-kemasan menarik. Mereka masuk ke dalam sela-sela kehidupan rumah tangga dengan senjata yang menawan.

Televisi, vedieo, laser disc tidak bisa disangkal mempunyai nilai-nilai manfaat didalamnya. Akan tetapi tingkat kemudharatannya jauh lebih besar dan berbahaya, jika kita bisa menggunakan secara tepat..

Ketika agama menganjurkan agar anak-anak Islam pandai memanfaaatkan waktu sebaik-baiknya, televisi malah sebaliknya; mengajak para pemirsa berfoya-foya dengan waktu dan membuang-buangnya secara percuma. Ketika agama menganjurkan anak-anak Islam berlaku halus dan santun kepada orang yang lebih tua dan terhadap masyarakat manusia, vedieo mendidik mereka dengan perilaku yang kasar dan keras. Begitu juga ketika agama menganjurkan agar anak-anak Islam manjauhi tingkah laku yang menjurus pada perbuatan zina dan maksiat, laser disc menawarkan sebagai guru privat zina yang baik setiap saat.

Ibu-ibu yang baik adalah mereka yang menyadari bahwa bentuk-bentuk tontotan seperti itu, kini bukan semata sebagai hiburan, akan tetapi sudah menjelma menjadi musuh. Mereka secara pelan telah menggerogoti pikiran dan hati putra-putri kita, agar mereka menjadi liar dan hidup diluar kendali agama.

Dari rumah kita masing-masing marilah kita kendalikan musuh agar kesewenang-wenangannya tidak terus merajalela. Dengan segala kesederhanaan kita ciptakan lingkungan yang Islami di lingkungan rumah masing masing dengan mengawal pemikiran anak-anak, mengawal mainan dan tontonan dan mengajarkan anak-anak pendidikan dan akhlak mulia, membudayakan membaca al-Qur’an di lingkungan keluarga termasuk shalat berjamaah.

Sinyal terang Islam itu sudah mulai terang dengan tingkat gairah anak-anak kita ke TPA-TPA yang ada semakin semarak. Para Muslimah mempunyai peranan besar untuk memperbaiki kondisi ini terus menerus. Semoga dengan demikian, para memilik ide kebathilan akan berpikir seribu kali. Semoga hidayatullah (hidayah Allah) selalu tercurahkan untuk kita semua. Amiin.*

Keterangan: Ibu Guru Meher Afrozakanan, sedang mengajarkan al-Quran terhadap murid-murid di sebuah sekolah Islam di Kabul/mnsbc

Rep: sahid

Editor: Cholis Akbar

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !