Jendela Keluarga – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Wed, 01 Nov 2017 15:28:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.3 Shalat Malam, Kunci Mendidik Anak http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/11/01/126959/shalat-malam-kunci-mendidik-anak.html Wed, 01 Nov 2017 06:52:25 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126959

Bisa dibedakan, antara anak yang dibimbing orangtua tanpa doa dan anak yang dibimbing orangtua dengan doa

(Bambang S,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–“Wah, kalau soal pendidikan anak jangan saya orangnya. Saya ini tak pernah mendidik anak-anak.” Begitu kata Ustadz Anwari Hambali (53) ketika media ini minta waktu untuk wawancara. Ustad Anwari, begitu biasa dipanggil, adalah seorang dai senior di Hidayatullah.

Pernyataan Anwari itu bisa dibaca sebagai ungkapan rendah hati. Nyatanya, ia dikaruniai 9 anak. Sebagai orangtua yang mempunyai anak sebanyak itu, mana mungkin tak pernah mendidik putra-putrinya. Hanya,  dai kelahiran Probalingga, Jawa Tengah ini  memang punya cara tersendiri yang mungkin berbeda dengan orangtua lainnya.

Dan cara itu, sejauh ini lumayan berhasil. “Cukup menyejukan hati,” begitu ujar anggota Dewan Syura Hidayatullah ini.

Anwari menikah pada l985 dengan Umi Latifah, teman sepengajian di Probalinggo. Dari 9 anah buah pernikahan mereka, kini tinggal 5. Empat anaknya sudah dipanggil pulang ke rahmatullah. Lima anak tersisa itu adalah Faiz Ghufron Muhammad (24), Nafis Mahfudz Muthohar (20), Iffah Nurfathi (17), Luthfia Nur Rokhani (16), dan Tsabit Amin Fuadi (14).

Baca: Kisah Fajar, Inspirator Penghafal Al-Qur’an

Dari lima anak Anwari yang tersisa, 4 di antaranya kini sedang menghafal al-Qur`an di beberapa pesantren di Jawa. Bahkan Nafis sudah khatam 30 Juz.      Sedangkan Faiz memilih  menjadi guru di sebuah pesantren di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Terhadap anak-anaknya yang menghafal al-Qur`an, Anwari mengaku bukan hasil arahannya. “Itu kemauan anak-anak sendiri,” tambah pria yang rajin olahraga bulutangkis dan tenis meja ini. “Saya hanya mendoakan saja.”

Bagaimana resep Anwari mendidik putra-putrinya, mengapa ia menaruh anak-anak di pesantren dan bagaimana pula sejarah berhidayatullahnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, hidayatullah.com menemui  Anwari di rumahnya yang sederhana di pinggir danau Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Baca: Ikuti Kebiasaan Sahabat Menghafal Al-Qur’an

Rumah itu berdinding dan berlantai kayu, sama dengan rumah lain di Kampus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Kami diterima di ruang tamu yang benar-benar minimalis. Tak ada sehelai pun barang berharga di situ, selain beberapa buku.

Ditemani sepiring pisang goreng, kami ngobrol dengan pria yang pernah kuliah tafsir di IAIN Sunan Kalijaja, Yogyakarta ini. Ikkuti hasil wawancara dengan Anwari pada artikel berikutnya. >>>> (BERSAMBUNG)

(Bambang S,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mengarahkan Kesuksesan Buah Hati http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/10/12/125560/mengarahkan-kesuksesan-buah-hati.html Thu, 12 Oct 2017 06:58:08 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125560

Doa adalah senjata yang paling ampuh untuk mendapatkan kemudahan dan keberkahan, terutama dalam upaya mendidik anak

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

APAKAH ada orangtua yang ingin masa depan putra-putrinya dalam ketidaksuksesan? Tentu tidak ada.

Lantas bagaimana agar kelak mereka menjadi pribadi yang sukses?

Pertanyaan tersebut sangat penting, sebab itu bagian dari tradisi para ulama dan menjadi anjuran mereka kepada umat Islam untuk memperhatikan masa depan buah hati.

Ibn Qayim berkata, “Di antara hal yang harus diperhatikan ketika anak masih keccil adalah mempersiapkan pekerjaan yang sesuai dengan potensi anak. Hendaklah orangtua mengetahui potensi anak dengan baik.

Anak jangan dipaksa melakukan pekerjaan lainnya, selama pekerkaan yang dipilihnya dibolehkan agama. Karena bila orangtua memaksa anak melakukan pekerjaan lain, yang ia tidak memiliki kesiapan untuknya (bukan kompetensinya), maka anak tidak akan berhasil di dalmanya. ia akan kehilangan potensinya” (Lihat Jamal Abdurrahman dalam bukunya Athfalul Muslimin Kayfa Rabbahum An-Nabi Al-Amin).

Selanjutnya Ibn Qayyim memberikan contoh indikasi keseuaian anak dengan kapasitasnya untuk sukses di masa depan depan.

“Bila orangtua melihat anaknya memiliki pemahaman yang bagus, daya tangkapnya baik, hafalannya kuat dan cepat mengerti, maka ini merupakan pertanda bahwa ia siap untuk menerima ilmu (menjadi ulama).”

Maka lihatlah bagaimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengenali potensi dan kompetensi dari setiap sahabatnya. Mereka yang ahli dalam memimpin pasukan, meski usianya muda, beliau tunjuk untuk memimpin pasukan umat Islam. Itulah Usamah bin Zaid yang ditunjuk Nabi menjadi panglima perang saat usianya baru 17 tahun.

Baca: Adab dan Pendidikan Agama, Kunci Sukses Masa Depan Anak

Terhadap yang memiliki memori kuat, seperti Abu Hurairah, maka Rasulullah mengizinkan perawi hadits paling populer itu untuk senantiasa hadir dalam aktivitas Nabi Muhammad.

Pernah suatu waktu, saya duduk satu mobil dengan seorang ulama yang juga cendekiawan Muslim dari Bogor,  Prof Dr Didin Hafidhuddin menuju Depok.

Di kesempatant tersebut saya bertanya, “Bagaimana dulu Prof, mendidik putranya yang sekarang menjadi seorang  penting di Indonesia?”

Beliau menjawab dengan tersenyum, “Saya tidak punya cara-cara khusus. Tetapi memang anak-anak itu saya libatkan dalam setiap pekerjaan saya, sehingga mereka sudah terbiasa membaca makalah, mengoreksi kesalahan huruf, dan termasuk ikut membantu ayahnya mengetik apa yang sudah dituang dalam bentuk peta konsep di sebuah kertas. Mungkin kebiasaan itu yang membuatnya seperti sekarang.”

Pengalaman lain memberikan pelajaran berbeda. Suatu waktu ayah dari seorang pakar psikologi forensik datang ke tempat saya berdedikasi. Seperti biasa, setiap bertemu orangtua saya selalu bertanya, bagaimana dahulu mendidik putranya sekarang yang wajahnya selalu hadir di layar televisi.

“Saya tidak pernah menekankan pendidikan kepada anak saya waktu kecil selain pendidikan agama. Anak kalau agamanya kuat, mau milih jadi apapun dia akan sukses. Dan, sekarang saya bersyukur sebab anak saya bisa menjadi selebriti, (tentu) bukan selebriti dalam pengertian umum, tetapi selebriti yang mendidik bangsa ini dengan keahlian yang dia miliki,” ucapnya penuh kehati-hatian.

Dengan demikian teranglah bagi kita para orangtua, untuk menjadikan anak-anak kita sukses di masa depan bisa kita mulai dengan mengidentifikasi minat, bakat dan komptensi anak.

Baca: Tiga Pilar Penting Pendidikan Islam bagi Anak

Kemudian jangan lupakan pendidikan agama, karena dari menjalankan agama itu akan lahir kedisiplinan, empati, dan tentu saja integritas.

Dalam sejarah peradaban Islam, kita bisa lihat bagaimana dahulu saintis Muslim, inventor dan para cendekiawan Muslim adalah orang yang memiliki keahlian dalam berbagai disiplin ilmu, seperti fisika, matematika, kedokteran, filsafat, dan pada saat yang sama mereka adalah ahli Al-Qur’an, Hadits, dan Fiqh. Beberapa di antaranya bisa kita sebut Ibn Sina, Ibn Rusd, Fakhruddin Al-Razi, Imam Ghazali, Ibn Haytam, dan yang lainnya.

Terakhir, tentu saja doa. Karena doa adalah senjata yang paling ampuh untuk membuat diri mendapatkan kemudahan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan ini, terutama dalam upaya mendidik anak menjadi pribadi sukses, bermanfaat bagi kehidupan sesama.Wallahu a’lam.*

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mendidik Buah Hati dengan Penugasan http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/08/30/122543/mendidik-buah-hati-dengan-penugasan.html Wed, 30 Aug 2017 05:34:07 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=122543

Celakalah bagi yang tidak memahami kadar kemampuan anak-anaknya

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Usmanul Hakim

 

PENDIDIKAN adalah kewajiban setiap orang tua terhadap anak-anaknya. Berbagai metode dalam mendidik perlu dilakukan diantaranya adalah penugasan.

Sudah biasa berlaku dalam lingkup rumah tangga jika anak-anak mengajukan permintaan mereka kepada orang tua. Minta dibuatkan susu atau makanan, minta dimandikan, minta mainan bahkan minta digaruk ketika merasa gatal, dll. Orang tua dengan kasih sayangnya tentu tidak akan merasa keberatan menuhi permintaan buah hatinya itu, bahkan tengah malam sekalipun.

Namun, orang tua juga tidak salah jika mereka memberikan beberapa penugasan kepada anak-anaknya. Seperti meminta anak-anak membersihkan kamar mereka, membuang sampah, menbantu mengambil sesuatu, atau berbelanja ke warung terdekat. Tentunya penugasan itu adalah untuk tujuan pendidikan dan disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas anak-anak.

Sejarah mencatat bahwa para Nabi dan juga para sahabat dididik dengan berbagai penugasan. Nabi Ibrahim A.S. mendapat tugas dari orang tuanya untuk membantu membuat patung. Nabi Muhammad Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam pernah mengembala kambing, begitu juga Nabi Musa A.S. Sahabat Umar Ibn Khatab ditugasi oleh ayahnya untuk mengembala unta dan mencarikan kayu bakar untuk bibiknya.

Dengan tempaan yang berupa penugasan inilah  para tokoh tersebut dibentuk lahir dan batinnya dan berlanjut menjadi manusia utama dan mulia. Dengan begitu mereka siap memikul berbagai amanat yang dibebankan kepada mereka, amanat kepemimpinan bahkan amanat kenabian.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui penugasan mempunyai manfaat yang besar diantaranya:

Pertama, menanamkan kemandirian.

Penugasan yang diberikan oleh orang tua kepada buah hatinya akan menghilankan sikap manja dan tergantung kepada orang lain. Anak diajari untuk menyelesaikan berbagai permasalahannya sendiri mulai hal-hal yang sepele dan bersifat pribadi secara bertahap sampai pada hal-hal yang rumit.

Baca: Enam Prinsip Mendidik Anak

Kemandirian ini akan menjadi bekal yang sangat berguna ketika dewasa nanti. Dengan kemandirian, seseorang akan mengandalkan jerih payah tangannya sendiri dalam menghidupi keluarganya. Tidak mengandalkan bantuan orang lain. Dengan demikian kehormatan dan kemuliaannya akan selalu terjaga.

Kedua, menanamkan Tanggungjawab

Tugas adalah tanggungjawab. Jika orang tua memberikan penugasan kepada anaknya berarti ia telah memberikan sebuah tanggung jawab di pundak anaknya. Orang tua berkewajiban membantu anaknya untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugasnya. Sejauhmana tugas dilaksanakan? Kesulitan apa yang dialami? Dan bagaimana penyelesaiannya?

Mendidik, bukan hanya sekedar memberi tugas namun juga mengarahkan dan mengawal dalam pelaksanaan tugas.

Kamudian orang tua berkewajiban meminta pertangggungjawaban dari tugas yang diberikan. Orang tua berhak memberikan penilaian, evaluasi dan saran terhadap tugas anaknya. Sembari juga memberi reward, pujian dan dorongan sesuai keperluannya. Yang jelas, mendidik dengan menugasi adalah pendidikan tanggungjawab.

Ketiga, mengasah skill dan kreatifitas

Kisah nabi Muhammad Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam, cukup menjadi contoh dalam hal ini. Dengan membatu pamannya Abu Tholib berdagang, jadilah Beliau cakap dalam keterampilan berdagang. Sehingga pantaslah Khadijah sang saudagar kaya merasa yakin melepas barang dagangannya di tangan Rasulullah muda, dan terbukti menguntungkan.

Baca: Tugas Kita, Bukan Sekolah

Dalam pelaksanaan tugas tentu akan didapati berbagai kendala dan hambatan. Di sinilah anak didik dituntut berkreasi mencari jalan keluar terbaik. Dengan demikian pemikiran anak-anak akan terbiasa kreati. Kreatif yang benar tentunya. Sehingga diharapkan nantinya anak-anak menjadi priadi-bribadi yang tangguh, kreatif secara benar dewasa nanti.

Mengambil hikmah pendidikan dengan penugasan yang dialami para nabi dan sahabat, sekaligus melihat pentignya metode penugasan, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, menulis dalam bukunya Managemen Pesantren: Pengalaman Pondok Modern Darussalam Gontor bahwa salah satu metode mendidik yang harus dilakukan adalah penugasan.

Oleh karena itu, santri-santrinya diberikan penugasan dalam banyak kegiatan namun terukur guna menjadi bekal sekembalinya mereka  ke masyarakat.

Pada akhir tulisan ini, penulis ingin mengingtakan kembali bahwa memberi penugasan sebagai pendidikan orang tua kepada anak-anak adalah perlu dilakukan. Paling tidak agar anak-anak dapat mandiri dan tidak manja, bertanggungjawab dan dapat mengasah skill serta kreatifitas mereka.

Namun juga perlu diingat pemberian tugas harus proporsional dengan keadaan dan kemampuan anak-anak. Jangan sampai berlebihan dan keterlaluan. Betullah petuah orang bijak, “Celaka bagi mereka yang tidak mengetahui kadar kemampuaannya.” Demikian pula orang tua, celakalah bagi yang tidak memahami kadar kemampuan anak-anaknya. Wallahu’alam.*

Guru di PP Al-Ikhlas Taliwang, KSB, NTB

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Ayah Bunda, Jangan Pilih Kasih Pada Anak-anakmu! http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/08/23/122041/ayah-bunda-jangan-pilih-kasih-pada-anak-anakmu.html Wed, 23 Aug 2017 04:30:24 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=122041

Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam hibah, sebagaimana kalian menginginkan mereka adil dalam berbakti

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

“Membagi sama adil, memotong sama panjang, “ demikian pepatah orang bijak terkait berbuat adil.  Meski hanya empat huruf, tetapi melakukan perbuatan adil bukanlah pekerjaan ringan. Hatta, berlaku adil kepada anak-anak kita.

Tak sedikit para orang tua lebih condong hatinya kepada salah satu anaknya sehingga terkesan ‘mengistimewakan perlakuan’ terhadap salah satu anaknya.

Tak ayal, hal ini akan menimbulkan kecemburuan dan kedengkian diantara anak-anak yang lainnya.

Adil berasal dari kata Al-‘Adl artinya Maha Adil. Al-‘Adl bearasal dari kata ‘adala yang berarti lurus dan sama. Tak bisa dipungkiri, hanya Allah Subhanahu Wata’ala saja yang bisa berlaku adil.

Sedang hati manusia cenderung berobah. Termasuk perlakukan orang tua kepada anak-anaknya. Hal ini sangat manusiawi.

Baca: 90 Persen Kesalahan Mendidik Anak karena Masalah Komunikasi

Nabi Ya’qub Alaihis salam sendiri lebih sayang dan cinta kepada putranya, Yusuf daripada saudara-saudaranya yang lain. Namun perasaan sayang kepada Yusuf diantara anak-anak beliau yang lain itu hanya beliau simpan di dalam hati dan tidak ditunjukkan dalam perlakuan khusus diantara anak-anak beliau.

Al-Qur’an menceritakan perihal Yusuf ketika ia menceritakan sebuah mimpi kepada ayahnya, Ya’qub alaihissalam;

إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku“. (Qs. Yusuf : 4)

Baca:  Raih Kemuliaan dengan Berbakti pada Orangtua

Nabi Ya’qub sadar bahwa ini adalah pertanda sebuah keistimewaan yang bakal Allah anugerahkan kepada Yusuf, putra kesayangannya tersebut. Alih-alih segera memberi tahu ta’wil mimpi tersebut, Nabi Ya’qub malah lebih dahulu berpesan kepada Yusuf agar tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya yang lain agar tidak timbul rasa dengki di hati mereka.

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf : 5)

Nabi Ya’qub lebih mendahulukan yang lebih penting dari yang penting yaitu berpesan kepada Yusuf untuk tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya yang lain agar tidak memunculkan kecemburuan dan kedengkian di hati mereka, baru kemudian beliau menafsirkan arti dari mimpi tersebut (Qs. Yusuf : 6)

Memang tidak mungkin seseorang memiliki rasa kasih sayang yang sama di dalam hati terhadap anak-anaknya. Tentunya ada salah satu anak yang lebih ia sayangi dari yang lainnya.

Namun hal itu tidak ada masalah dan tidak ada dosa baginya selama ia bisa berbuat adil dalam perlakuan dzahir terhadap anak-anaknya. Ia harus berlaku adil dalam memberikan sesuatu kepada anak-anaknya termasuk juga dalam memberi ciuman untuk anak-anaknya, menampakkan senyum dan wajah yang berseri-seri kepada mereka semua tanpa membedakan satu dari yang lainnya.

Itulah sebabnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyuruh Sahabat beliau Basyir bin Sa’ad Al-Anshory untuk berlaku adil terhadap seluruh anak-anaknya saat ia lebih mengutamakan putranya yang bernama Nu’man dari saudara-saudaranya. Nu’man bin Basyir menceritakan ;

تَصَدَّقَ عَلَيَّ أَبِي بِبَعْضِ مَالِهِ فَقَالَتْ أُمِّي عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ قَالَ لَا قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلَادِكُمْ فَرَجَعَ أَبِي فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ

“Ayahku pernah memberikan sebagian hartanya kepadaku, lantas ibuku ‘Amrah binti Rawahah berkata, “Saya tidak akan rela akan hal ini sampai kamu meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai saksinya.”

Baca: Akhlak Nabi Muhammad kepada Anak-anak

Setelah itu saya bersama ayahku pergi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberitahukan pemberian ayahku kepadaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Apakah kamu berbuat demikian kepada anak-anakmu?” dia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anakmu. Kemudian ayahku pulang dan meminta kembali pemberiannya itu.” (HR. Muslim: 3055)

Memang berbuat adil itu tidak mudah.  Apalagi menyamaratakan semua anak dalam kasih sayang hati adalah sesuatu yang sulit. Adapun dalam perkara pemberian, Islam menggariskan bahwa orang tua harus berbuat adil,  dan harus memberi bagian yang sama. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلادِكُمْ فِي النُّحْلِ، كَمَا تُحِبُّونَ أَنْ يَعْدِلُوا بَيْنَكُمْ فِي الْبِرِّ وَاللُّطْفِ

“Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam hibah, sebagaimana kalian menginginkan mereka berlaku adil kepada kalian dalam berbakti dan berlemah lembut. [HR. al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra no. 12.003].*/Imron Mahmud

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Enam Prinsip Mendidik Anak http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/08/13/121380/enam-prinsip-mendidik-anak.html Sun, 13 Aug 2017 10:03:33 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=121380

Bantulah anak-anak kalian untuk berbakti. Barang siapa yang menghendaki, dia dapat mengeluarkan sifat durhaka dari anaknya

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

KEMAJUAN teknologi yang menjadi fasililitas dan gaya hidup masyarakat modern, ternyata tidak selamanya memudahkan.

Terbukti tidak sedikit para orang tua yang justru merasa tidak berhasil mendidik anak-anaknya di zaman teknologi yang kian pesat ini.

Parahnya, ada sebagian orang tua yang menyerah dan pasrah. Urusan pendidikan pokoknya serahkan saja ke pihak sekolah.

Berdalih kesibukan kerja dan mengejar karir, tugas orang tua akhirnya beralih menjadi ATM berjalan dan pelunas biaya yang dibutuhkan. Selebihnya ia tidak tahu apa-apa tentang perkembangan pendidikan anaknya.

Acapkali disoal masalah pendidikan, maka orang tua demikian itu langsung menyahuti dengan menyodorkan deretan nama-nama sekolah elit dan bergengsi.

Seolah mereka bertanya, mau sekolah yang paling mahal di mana?

Bagi mereka, pendidikan itu dihitung dari gedung dan fasilitas fisik yang ditawarkan sekolah atau kampus tersebut. Semuanya serba diukur dengan materi dan kebendaan.

Padahal budaya ilmu yang diwariskan para ulama dahulu adalah dengan melihat kepada siapa anak tersebut menimba ilmu dan adab.

Inilah prinsip utama dalam mendidik anak. Ia lebih daripada sekadar mengukur pendidikan dengan bangunan fisik semata.

Tolak ukur keberhasilan sebuah pendidikan adalah ketika mendapati seorang anak dari jenjang satu ke jenjang berikutnya mengalami perubahan kedewasaan.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah, seperti dikutip oleh Muhammad Nur Abdul Hafidzh Suwaid dalam bukunya Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah li ath-Thifl berpesan kepada orang tua dan para pendidik,  barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anak-anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar.

Disebutkan, kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orang tua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama dan sunnah-sunnahnya.

Namun keadaan tersebut (meninggalkan anak) berbeda ketika meninggalkan atau menyerahkan kepada orang lain atau pihak lain untuk dididik dan dibina.

Seperti menitipkan anak kepada ulama atau kepada lembaga pendidikan yang teruji integritasnya dalam mendidik.

Karena kemampuan orang tua dalam mendidik sangat terbatas dalam keilmuan atau karena khawatir terkontaminasi oleh lingkungan.

Hal ini berbeda jika orang tua tersebut menyerahkan urusan pendidikan ke guru atau pihak sekolah karena ingin berlepas dari tanggung jawab mendidik anak.

Sebab idealnya orang tualah sebagai orang pertama yang bertanggung jawab atas pendidikan dan perilaku anak-anak yang dilahirkan dari rahim ibu mereka.

Betapa banyak orang tua yang meninggalkan anak sejak Subuh buta hingga malam pekat untuk memenuhi kebutuhan anak tetapi sejatinya telah menelantarkannya.

Di antara persoalan pokok pendidikan adalah mengarahkan fitrah dan potensi anak menuju satu tujuan kepada kebaikan (a good man).

Inilah silang sengkarut tersebut. Bagaimana orang tua bisa mengarahkan fitrah seorang anak ketika sepanjang hari tidak punya waktu membersamai anak-anaknya?

Bagaimana orang tua dapat menunjukkan teladan kebaikan kepada sang anak jika ada batas dan sekat antara anak dan orang tua?

Indikasi ini belum terbaca ketika anak masih berumur balita bahkan sampai 8 tahun. Tetapi tanda kekeliruan itu mulai tampak ketika anak beranjak baligh.

Dalam ajaran Islam, obat penawar atas kegalauan dari pendidikan tersebut sudah dihadiahkan sejak awal oleh sang panutan terbaik, Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw).

Dan seorang Muslim hendaknya tidak terjebak dengan metode-metode Barat yang terkesan menarik dan hebat namun asalnya justru bobrok dan menyesatkan.

Sebaliknya dia harus senantiasa mempelajari metode Nabi dalam mendidik anak, sebab segala petunjuk urusan kehidupan itu sudah ada dalam al-Quran dan sunnah-sunnah Nabi.

Beberapa tawaran solutif yang pernah diajarkan Rasululullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam perbaikan pendidikan khususnya perilaku sosial kepada anak-anak sebagai berikut;

Pertama: Menjadi Teladan

Cara yang paling efektif menularkan adab kepada anak adalah melalui pendidikan keteladanan.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata: Aku menginap di rumah bibiku Maimunah. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam biasa bangun kemudian berwudhu dengan wudhu yang ringan dari kendi yang digantung. Setelah itu, ia shalat. Akupun berwudhu sama seperti wudhu Nabi.

Kedua: Mencari waktu tepat dalam memberi pengarahan

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sangat memperhatikan waktu dan tempat untuk membangun pola pikir anak dan menumbuhkan akhlak yang baik.

Pertama, dalam perjalanan. Diceritakan oleh Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh At-tirmidzi, aku di belakang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pada suatu hari lalu Nabi bersabda: Hai anak kecil. Aku menjawab: Labbaik Ya Rasulallah. Nabi bersabda: Jagalah agama Allah niscaya Dia menjagamu.

Aecara psikologis, seorang anak dalam perjalanan biasanya siap menerima nasihat dan pengarahan karena dalam kondisi gembira didukung oleh suasana alam terbuka yang nyaman. >>> Klik>> (BERSAMBUNG)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Memilih Lembaga Pendidikan untuk ‘Menyelamatkan’ Buah Hati Kita http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/07/14/119820/memilih-lembaga-pendidikan-untuk-menyelamatkan-buah-hati-kita.html Fri, 14 Jul 2017 07:13:36 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119820

Memilihkan pendidikan kepada anak, seperti memilihkan makanan sebelum diberikan. Bukan saja halal, tapi harus thoyyiban. Alias enak dan bergizi

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

BULAN Mei hingga Juli adalah waktu dimana orang tua sibuk berjibaku memilihkan atau mendaftarkan anak ke sebuah lembaga pendidikan. Sekolah formal yang naik daun adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Sementara untuk pondok pesantren yang paling favorite adalah pesantren yang memiliki program bahasa asing dan Tahfidz Quran.

Memilihkan pendidikan kepada anak, seperti memilihkan makanan sebelum diberikan. Makanan yang diberikan bukan saja halal, tapi harus thoyyiban. Bukan saja enak tapi harus bergizi.

Begitu pula saat mencarikan tempat pendidikan anak. Bukan saja yang penting sekolah, atau harus di sekolah favorit, atau di sekolah terkenal. Tapi harus memperhatikan nasabiah ilmu dan ideologisnya.

Persoalan memilihkan tempat pendidikan, juga penulis alami sendiri. Pada mulanya saya membebaskan pilihan untuk melanjutkan belajar di mana saja.

Nampaknya kegelisahan sedang dialami anak saya. Untuk mengatasi kegelisahan tersebut saya sarankan anak sulung saya untuk mencoba mendaftar di beberapa tempat.

Baca: Antara “Sekolah Hati” dan “Sekolah Bergengsi”

Dia pun mengikutinya, dengan mendaftar di MTsN 1 Nganjuk diterima, juga mencoba mendaftar di SMPN 1 Nganjuk juga diterima. Bahkan saya berikan kesempatan mencoba mendaftar di sekolah atau madrasah dan pesantren luar kota. Akhirnya Pondok Modern Darul Ihsan Nganjuk yang menjadi pilihannya. Alasan dia mantap memilih di Darul Ihsan karena ingin mendalami bahasa, dimana di Pesantren ini terdapat ciri khas adalah penguatan bahasa Arab dan Inggris. Dia mengetahui karena saat mengikuti kegiatan ekstra bahasa di MI yang mengajar adalah alumni pesantren modern tersebut. Selain itu saya menyetujui lebih karena idiologis, yaitu walaupun pondok modern tapi bernafaskan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.

Kembali ke persoalan nasabiah ilmu, harus kita cari tempat pendidikan yang memiliki silsilah ilmu. Ilmu yang akan digali memiliki pertalian rangkaian perjalanan sampai pada sumber ilmu, melalui wasilah/perantara para guru yang urut dan runtut. Bahkan jika perlu bersambung dengan ulama salaf dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Begitu pula dengan ideologisnya. Harus kita lihat secara jelas. Jika ideologisnya tidak jelas atau menyimpang, maka produknya juga akan bermuara kearah yang tidak jelas tujuannya.

Baca: “Ibu Madrasah bagi Anak, Ayah Kepala Sekolahnya”

Menurut saya ideologis harus jelas, yaitu ideologis keagamaan dan kebangsaannya. Karena kita hidup di bumi Indonesia.

Dalam mencari ilmu bukan saja kita ingin sekedar pandai, cerdas, mapan dalam satu pekerjaan, tapi harus memperhatikan manfaat dan barokahnya dari suatu ilmu.

Ilmu tersebut akan membawa kebaikan dan keselamatan kehidupan di dunia dan akhirat atau tidak. Karena yang kita tuju bukan sekedar sukses di dunia, tapi juga harus sukses di akhirat kelak.

Ilmu yang manfaat dan barakah adalah ilmu yang dapat memberikan kegunaan dan melahirkan kebaikan-kebaikan bagi dirinya , keluarganya, dan orang di sekitarnya, serta lingkungan yang lebih luas. Tidak melahirkan gangguan-gangguan kepada siapapun. Atau melahirkan kejelekan dan kerusakan bagi dirinya dan lingkungannya.

Supaya menghasilkan ilmu yang demikian, membawa spirit kemanfaatan menuju kebaikan bersama, harus lahir dari ilmu yang nasabnya jelas. Berantai sampai pada sumber ilmu melalui wasilah guru, kiai, maupun gejala alamiah lainnya yang tersambung secara runtut dan mutawatir.

Baca: Orang Tua Muslim Harus Pahami Fase Penting Perkembangan Anak

Tempat yang pas untuk memberikan pendidikan kepada anak, menurut saya adalah pondok pesantren. Lembaga pendidikan yang didirikan oleh orang-orang yang telah memberikan kontribusi besar terhadap tegaknya NKRI.

Yang dalam perkembangannya pesantren memiliki lembaga formal tanpa meninggalkan kekhasannya, baik lembaga formal reguler maupun berbentuk lembaga modern dengan keunggulan baru yang ada di dalamnya. Ibarat makanan, yang baik, bergizi, yang insya Allah akan memberikan kemanfaatan dan keberkahan, sebagaimana bukti dan uji lulusan pesantren selama ini. Karena selalu dikawal oleh para pengasuhnya yang terjaga baik fisik terutama hatinya selama 24 jam.

Hal demikian, sangat tepat mengingat lingkungan yang saat sekarang kurang mendukung, penuh dengan virus negatif yang bebas bertebaran. Pagi hari anak dididik kebaikan terkadang ketika sorenya bertemu dengan hal-hal yang kurang baik.

Orang tua pun sudah tidak mampu mengontrol secara penuh. Jadilah anak tersebut terwarnai lingkungannya. Sekali lagi saya tegaskan, menurut saya pesantren menjadi solusi pendidikan umat di masa kini. Wallahu allam.*/Muhammad Ali Anwar, penulis adalah dosen Institut Agama Islam (IAI) Pangeran Diponegoro Nganjuk

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mengidolakan Pahlawan Muslim http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/07/11/119653/mengidolakan-pahlawan-muslim.html Tue, 11 Jul 2017 08:26:17 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119653

Kami berharap usaha maksimal menghadirkan karya-karya berkualitas sebagai materi pengajaran generasi muda kita

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SAAT ini, kecenderungan untuk mengidolakan sesuatu telah menjadi sisi kehidupan mansyarakat yang nyata. Pengidola atau fans  bahkan sampai membentuk sebuah komunitas tertentu untuk menunjukkan identitas kecintaannya kepada sang idola.

Sebagai contohnya komunitas pendukung klub sepak bola, dan komunitas pencinta merk mobil (motor) tertentu telah menjamur di mana-mana. Sebagai seorang fans tentu akan menunjukkan “pembelaanya” terhadap idolanya itu.

Sebagai contohnya, seorang fans sebuah klub sepak bola tidak akan pernah melewatkan pertandingan yang dimainkan klubnya. Ia merasakan kesenangan yang meluap-luap ketika klub idolanya memenangkan sebuah pertandingan atau kejuaraan. Jersey timnya pun enggan ia tanggalkan sebagai wujud kebanggan. Ia bercerita kesana-kemari tentang peristiwa dan aktor-aktor yang mengiringi kemenangan idolanya.  Sebaliknya, ia amat sedih jika kekalahan yang terjadi, meskipun tetap akan mendukungnya sampai mati.

Pada komunitas lain, yaitu anak-anak sampai remaja juga terjangkit sindrom ini. Mereka mengidolakan pemeran-pemeran film semisal: Frozen, Supermen, Spiderman, Sponge Bob, dll.

Mereka mengenalinya sebagai pahlawan yang musti ditiru. Banyak anak-anak kita yang menirukan tingkah laku, gerak-gerik, gaya berpakaian dan perkataan idolanya. Pakaian, tas, sepatu dan aksesoris anak-anak yang bergambar para tokoh kartun yang sengaja diproduksi itupun laris terjual di pasaran.

Baca: Ini Idolaku, Mana Idolamu?

Sungguh sangat ironi memang, ketika anak-anak muslim kita fasih menirukan berbagai karakter idola mereka, namun buta terhadap para pahlawan agama kita. Sulit sekali membayangkan keluar dari mulut anak-anak kita nama-nama para sahabat Nabi, ketika mereka ditanya siapa idolamu?

Bisa kita tebak, meraka akan mengatakan aku ingin seperti Superman, atau aku ingin menjadi Batman atau Power Rangers dan seterusnya.

Selain dari pada itu, anak-anak kita dikenalkan dengan tokoh-tokoh fiktif yang berperangai tidak terpuji seperi Ali Baba yaitu sang perampok atau Putri Yasmin yang mengumbar aurat dll.

‘Kenal’ nampaknya menjadi masalah mendasar di sini. Ada dua kemungkinan.

Pertama, mereka sama sekali tidak kenal

Mereka tidak tahu dan belum pernah mendengar sama sekali baik dari orang tua meraka ataupun guru-guru mereka nama-nama pahlawan muslim kita, misalnya; Khairuddin A’ruj, Fatahillah, Kiai Mojo, Sultan Salim, Muhamad al Fatih dll.

Kedua, salah kenal

Mereka mengenali sebuah nama yang mempunyai karakter sangat berbeda dengan kenyataannya. Misalnya adalah Barbarosa yang biasa dikenal di kalangan anak-anak sebagai seorang bajak laut yang jahat dan menyeramkan, berjenggot merah lebat, matanya tinggal sebelah, satu tangannya putus, dan satu kakinya dari kayu. Sedangkan Barbarosa atau Baba A’ruj yang sebenarnya adalah panglima armada laut tertinggi pada Zaman Turki Usmani. Ia berakhlak mulia, menyelamatkan hidup ribuan manusia, baik Muslim maupun Yahudi dari pembunuhan Raja Spanyol.

Akibatnya, umat ini akan mengenal agamanya sebagai pecundang, tukang teror dan berperadaban mundur.

Baca:  Tintin dan Stereotipe Islam dalam Animasi

Nampak memang usaha menutupi fakta sejarah di dunia pendidikanpun masih banyak terjadi. Misalnya bangsa Arab sebelum datangnya Islam seperti tergambar di berbagai buku pelajaran kita sebagai bangsa yang amat bobrok dan tidak ada kebaikannya. Padahal sebenarnya mereka sangat menjunjung tinggi kejujuran dan martabat kehormatan kaumnya.

Oleh karena itu penulis ingin memberikan pendapatnya tentang hal ini. Pertama, umat Islam perlu menyadari arti pentingnya pengenalan terhadap sejarah kebesaran peradaban Islam, guna menanamkan di dada generasi muda Islam kita kebanggaan dan idola-isasi terhadap pahlawan Muslim yang mulia; seraya menghalau propaganda Barat tentang kepahlawanan yang keliru.

Bukankah Presiden Soekarno pernah berkata “JASMERA”, Jangan Lupakan Sejarah!

Kedua, bagi para cerdik pandai, kami berharap usaha maksimal untuk menghadirkan karya-karya yang berkualitas dengan perspektif Islam sebagai materi pengajaran generasi muda kita. Wallahu a’lam bis Shawab.*/Usmanul Hakim

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Ada Surga pada Kedua Orang Tuamu [2] http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/05/02/115861/ada-surga-pada-kedua-orang-tuamu-2.html Tue, 02 May 2017 05:42:19 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=115861

Sahabat, makalangkah yang tepat yang dapat kita lakukan yaitu mulailah mendo’akan dan berbuat baik kepada mereka, bila mereka masih hidup, marilah kita menyayangi dan membahagiakan mereka

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Sambungan artikel PERTAMA

Maka, akan ada balasan bagi orang-orang yang menyakiti kedua orang tuanya yaitu:

  1. Diharamkan masuk Surga

Mereka juga diharamkan mencium aroma Surga ataupun masuk kedalamnya. Sebagaimana hadis yang berbunyi: “Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk Surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua orang tua, dan seorang dayyuts (merelakan kejahatan berlaku dalam keluargannya, merelakan istri dan anak perempuan selingkuh)”. (H.R. Nasa’idan Ahmad)

2.  Dibenci oleh Allah Subhanahu Wata’ala

Jika kamu ingin dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, maka cintailah kedua orang tuamu. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist: “Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua, danmurka Allah pun tergantung pada murka kedua orang tua.” (HR. al-Hakim)

3. Shalatnya tidak diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala

Sia-sia saja shalatnya orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya. Walaupun sekhusyuk apapun, tetap saja Allah Subhanahu Wata’ala menolaknya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist: “Allah tidak akan menerima shalat orang dibenci kedua orang tuannya yang tidak menganiaya kepadannya.” (H.R.  Abu al-Hasan bin Makruf).

4. Ditimpa azab di dunia

Orang yang durhaka kepada bapak ibunya tidak hanya memperoleh dosa. Mereka juga akan diazab oleh Allah Subhanahu Wata’ala selagi mereka hidup di dunia. Al-hakim dan al-Ashbahani, dari abubakrah r.a.dari Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wassallam, beliau bersauba, “Setiapdosaakandiakhirkanoleh Allah sekehendak-Nya sampai hari kiamat, kecuali dosa mendurhakai kedua orang tua. Sesungguhnya Allah akan menyegerakan (balasan) kepada pelakunnya di dalam hidupnya sebelum mati.”

5. Segala amal perbuatannya dihapuskan

Meskipun kamu berbuat baik terhadap semua umat manusia di dunia, tapi kalau  durhaka pada orang tua, sungguh kebaikan itu sia-sias aja di sisi Allah. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Thabrani: “Ada tiga hal yang menyebabkan terhapusnya seluruh amal, yaitu syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, seorang alim yang dipermainkan oleh orang dungu dan jahil.”

Sahabat, makalangkah yang tepat yang dapat kita lakukan yaitu mulailah mendo’akan dan berbuat baik kepada mereka, bila mereka masih hidup, marilah kita menyayangi dan membahagiakan mereka, bila mereka telah tiada, jangan pernah lupa untuk mendoakan agar mereka memperoleh kebahagiaan di sisi Allah Subhanahu Wata’ala sehingga kita terhindar dari azab Allah Subhanahu Wata’ala yang sangatpedih.

Setelah kita mengetahui adanya larangan untuk bertindak kasar kepada kedua orang tua kita, Apakah kita masih mau menyakiti hati mereka kembali?*/Rita Puspasari

 

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Ada Surga pada Kedua Orang Tuamu [1] http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/05/02/115853/ada-surga-pada-kedua-orang-tuamu-1.html Tue, 02 May 2017 02:09:07 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=115853

Jika kamu ingin dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, maka cintailah kedua orang tuamu

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

PERNAHKAH kita ucapkan terima kasih kepada ayah dan ibu tercinta? Mengapa? Untuk apa?

Dulu sewaktu kecil atau saat beranjak dewasa atau mungkin belum pernah sama sekali mengucapkannya.

Sahabat. Sosok ayah mungkin teralu keras, cuek, dan tidak sehangat seperti ibu. Tetapi dari semua ungkapan itu sosok ayahlah yang paling mengerti. Mengapa?

Karena dia yang akan diam-diam membela kamu untuk memenuhi keinginanmu. Ingatkah kita meminta sesuatu kepada ibu dengan merengek? Saat itu ibu hanya bilang iya, tapi tidak sekarang ya. Setelah itu kamu kembali merengek. Lalu diam-diam ayah mengetahuinya dan dia mulai bekerja keras pulang hingga larut malam. Dia berbisik kepada ibu ini untuk anak kita.

Kian hari kita melihatnya semakin renta dengan uban yang memenuhi kepalanya.Tenaga perkasanya semakin melemah, hanya tersisa keriput yang menandai bahwa ia semakin renta. Lalu kita membiarkannya untuk terus bekerja keras dan menikmati hasilnya. Dia tidak pernah menuntut balasan  atas apa usaha yang dialakukan untuk kita.

Berbeda dengan ayah, sosok ibu yang hangat memberikan pengertian dan kenyamanan.Dia selalu memberikan masukan dan motivasi, khawatir terhadap keadaan kita dan mendengarkan segala keluh kesah kita.

Di usianya yang semakin senja, sifat ibu tidak berubah untuk lebih mementingkan anaknya ketimbang dirinya sendiri yang semakin renta.

Di setiap malam dia berdo’a agar anaknya bisa mewujudkan mimpi-mimpi besarnya yang dia selalu utarakan.

Baca:  Hancurnya Generasi, Bisa karena Orang Tua

Pernahkah kita berkata dan berlaku kasar kepadanya?Berteriak, memaki, bahkan mengancamnya.

Memang mereka tidak menunjukkan sikap kekecewanya, mereka menyembunyikannya dengan sangat rapat.Tetapi Sahabat, sadarlah bahwa kita melukai perasaannya.

Sahabat, memang di dalam Islam kedudukan orang tua, terutama Ibu sangatlah mulia.

Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Sosok ayahpun mempunyai peran penting bagi kita.Sering kali kita tidak menyadari peran penting seorang ayah, ya, sosok ayahlah sebagai alasan atau perantara kita terlahir dan menikmati dunia ini, dan ayahlah yang melindungi keluarganya dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga.

Sahabat, masih ingatkah saat kita berlatih sepeda? Siapakah yang mengajari kita dengan penuh semangat? Siapa yang menolong kita saat terjatuh menaiki sepeda? Siapa pula yang mengajari kita untuk terus berusaha menaiki sepeda kembali? Ya jawabannya itu semua adalah Ayah.

Baca:  4 Tuntunan Quran Menjadi Orang Tua Idaman

Yuk. simak bagaimana keutamaan-keutamaan ayah dan ibu di dalam Al-Qur’an:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”(QS: Al Isra’: 23)

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.Dan berbuatbaiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS:  AnNisa’: 36)

قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuatbaiklah terhadap kedua orang ibu bapa.” (QS. Al An’am: 151)

Larangan durhaka kepada orang tua

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

أكبرُ الكبائرِ : الإشراكُ بالله ، وقتلُ النفسِ ، وعقوقُ الوالدَيْنِ ، وقولُ الزورِ . أو قال : وشهادةُ الزورِ

“Dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu.” (HR. Bukhari-Muslim dari sahabat Anas bin Malik).

Baca: Pentingnya Orang Tua Ajarkan Adab pada Anak

Taukah Sahabat, sikap-sikap kita dapat dikategorikan durhaka apabila kita melakukan:

  1. Mengucapkan perkataan yang menunjukkan tidak suka, seperti “ah” atau semacamnya, dan demikian juga membentak dan bersuara keras kepada orang tua

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

 Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.“ (QS: Al-Isra’ : 23)

  1. Mengucapkan perkataan atau melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua bersedih hati, apalagi sampai menangis

‘Umar berkata: “Tangisan kedua orang tua termasuk kedurhakaan yang besar.” (HR. Bukhari)

  1. Mencela orang tua, baik secara langsung maupun tidak langsung

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ ؟ قَالَ : نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

Dari Abdullâh bin ‘Amr bin al-‘Ash, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar, (yaitu) seseorang mencela dua orang tuanya,” mereka bertanya, “Wahai Rasûlullâh, adakah orang yang mencela dua orang tuanya ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, seseorang mencela bapak orang lain, lalu orang lain itu mencela bapaknya. Seseorang mencela ibu orang lain, lalu orang lain itu mencela ibunya.” [HR al-Bukhâri, no. 5 628; Muslim, no. 90).*/Rita Puspasari (Bersambung)

 

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
“90 Persen Kesalahan Mendidik Anak karena Komunikasi” http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/04/29/115711/90-persen-kesalahan-mendidik-anak-karena-komunikasi.html Fri, 28 Apr 2017 23:15:28 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=115711

Kalau anak melakukan kesalahan, lalu ekspresi kita menyeramkan maka anak kita makin tidak baik perilakunya.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

MENURUT Praktisi Parenting, Ida S Widayanti, 90 persen kesalahan mendidik anak oleh orangtua karena kesalahan komunikasi atau cara penyampaian nilai baik pada anak.

“Antara orangtua dan anak ternyata 90 persen masalah anak disebabkan oleh kesalahan atau cara berkomunikasi dan penyampaian nilai baik terhadap anak,” ungkapnya.

Oleh karenanya, penulis buku best seller Bahagia Mendidik Mendidik Bahagia ini memberikan tips pengasuhan dari Luqmanul Hakim, termasuk cara berkomunikasi.

“Saya singkat saja hanya memberi satu tips dari al-Qur’an dari Luqmanul Hakim. Beliau mengatakan, janganlah engkau memalingkan wajah artinya jangan mengekspresikan yang tidak menyenangkan,” ungkap alumni Institut Teknologi Bandung ini.

Kalau anak melakukan kesalahan, lalu ekspresi kita menyeramkan maka anak kita makin tidak baik perilakunya.

Kemudian yang kedua janganlah berjalan angkuh. “Gestur tubuh perhatikan kepada anak ketika menyampaikan nilai-nilai baik,” terangnya.

Dan yang ketiga janganlah meneriakkan suara seperti suara keledai.

“Karena seburuk-buruknya suara adalah suara keledai,” pungkasnya dalam acara Grand Seminar Parenting, rangkaian dari ESQ Great Family di Menara 165, Jakarta, beberapa waktu lalu.* SLS

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>