Jendela Keluarga – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Kelahiran Caesar Maupun Normal, Sama-Sama Meniti Perjuangan http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2018/08/28/149581/kelahiran-caesar-maupun-normal-sama-sama-meniti-perjuangan.html Tue, 28 Aug 2018 04:55:03 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=149581

Seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid

The post Kelahiran Caesar Maupun Normal, Sama-Sama Meniti Perjuangan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BAGI ibu hamil, menunggu kelahiran itu merindu ke-syahid-an, seperti kematian yang tiada tahu kapan datang menjemput. Proses menuju kelahiran buah hati adalah keniscayaan yang harus dijalani dengan ketaatan.

Persalinan normal atau Operasi Caesar (OP), selama dia berusaha normal namun pada akhirnya tak bisa,  keduanya penuh perjuangan yang bisa mempertaruhkan nyawa,  merobek jiwa dan penuh derai air mata.

Tidak seharusnya salah satu pihak mengklaim bahwa yang dikatakan ibu sesungguhnya adalah yang melahirkan buah hatinya melalui persalinan normal sedangkan yang melahirkan OP direndahkan kodratnya sebagai perempuan.

Pada dasarnya tentu setiap perempuan ingin melalui proses sebagaimana mestinya,  lewat jalannya.  Akan tetapi kadangkala memang kenginan tidak sesuai dengan yang diharapkan.  Sebagaimana peribahasa: “Asing maksud, asing sampai” (tidak sesuai dengan yang diharapkan).

Baca: Kisah Perjuangan Pasutri Hindari Operasi Caesar 

Sebagai contoh rill: perempuan muda yang sedari awal penuh tekad berkeinginan kuat melahirkan normal, sejak kehamilan muda melakukan banyak hal mulai dari mengatur  pola makanan sedemikin rupa,  menjaga ‘kewarasan’ agar senantiasa bahagia disaat mual, ngidam mendera dan hormon yang tak menentu membuat mood seringkali berubah-ubah: kadang marah tanpa sebab,  menangis merasa kurang perhatian sang calon papa dan sebagainya.

Sampai diujung trisemeter ketiga melakukan senam hamil dan teknik pernafasan.  Dan ketika waktunya tiba,    pintu mulai terbuka,  gelombang cinta telah datang dan kian tinggi menerjang, sampai dipembukaan 7-8 calon ibu itu kehabisan daya dan upaya,  tubuhnya menjadi lemah tak berdaya sedangkan air ketuban telah pecah dari beberapa jam sebelumnya.  Lalu,  disinilah takdir bercerita bahwa semuanya memang telah tertulis (harus menjalani OP).

Mari sejenak membayangkan, meski ini bukan perkara melahirkan, bagaimana Maryam yang merupakan gadis taat dan pandai menjaga kehormatan diri harus hamil –atas takdir Allah— tanpa hubungan suami istri.

Padahal, sebagaimana gadis lain, bisa jadi ia ingin melahirkan anak dari hubungan keluarga yang normal. Bagi yang membaca ceritanya dalam al-Qur`an, puteri Imran ini merasa aneh dan sanksi dengan hal itu. Namun, itu adalah keniOPayaan yang harus dijalani dengan penuh ketaatan. Kemudian lahirlah, nabi Isa ‘Alahissalam. Anak saleh luar biasa yang belum tentu bisa dilahirkan dengan hamil secara normal. Lagi-lagi itu sudah ketentuan-Nya.

OP,  menjadi momok menakutankan bagi sebagian perempuan namun disisi lain juga menjadi celaan atas dasar pembelaan yang tidak berprikemanusiaan.

OP,  memang seringkali menjadi pilihan bagi sebagian lainnya dengan alasan kenyamanan tertentu tapi tetap tidak bisa dilepaskan dari suatu keadaan medis yang mempengaruhi kesehatannya atau bayi dalam kandungan.

Lain lagi dengan seorang perempuan yang harus menelaan pil pahit dari dokter bahwa dirinya dikatakan sulit melakukan persalinan normal karena kesehatannya yang tidak memungkinkan dan keadaan bayi di dalam kandungan yang tengah terancam.  Pada hari itu juga saat kontrol di RS.  Setelah uji laboratorium dan sebagainya,  dokter mewajibkan rawat inap dan melakukan tindakan medis berupa OP.

Air mata sudah bercucuran,  perasaan sudah tak karuan,  tidak ada jalan pilihan,  maka dijalaninya dengan ketaatan di usia kandungannya yang baru memasuki 36 minggu.  Segala persiapan telah dilakukan,  masuk ke ruang operasi calon ibu ini merasa berkeinginan kuat untuk mengejan dan sekuat yang ia mampi dilakukan.  Qadarullah (atas takdir Allah),  bayi itu lahir normal di ruang operasi.

Baca: Doaku Akhirnya Mengalahkan Vonis Dokter

Mari kita renungi bersama bahwa proses kelahiran itu,  OP vs normal keduanya adalah jalan perjuangan seorang perempuan demi melahirkan makhluk  Allah swt ke dunia,  tentu sebuah kemuliaan yang luar biasa.  Tidak ada pengecualian.  Tetaplah berpikir positif dan berilah dukungan kepada para perempuan-perempuan yang tengah hamil dan bersiap melahirkan,  apapun jalannya,  perempuan tetaplah ibu atau calon ibu hebat untuk putra-putrinya.

Keduanya –baik OP maupun normal—jika pada akhirnya merenggut nyawa sang ibu, maka insyaallah akan menjumpai kemuliaan syahid di jalan Allah. Bukankah nabi pernah bersabda:

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ وَالَّذِى يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ‘azza wa jalla itu ada tujuh orang, yaitu korban wabah adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Abu Daud).*/ Ummah Kaffah

The post Kelahiran Caesar Maupun Normal, Sama-Sama Meniti Perjuangan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
149581
Ada Penyakit ‘Ain di Media Sosial http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2018/08/27/149534/ada-penyakit-ain-di-media-sosial.html Mon, 27 Aug 2018 09:37:32 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=149534

Di zaman yang sangat maju ini, tanpa keluar rumah pun wanita bisa memperlihatkan dirinya kepada dunia

The post Ada Penyakit ‘Ain di Media Sosial appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DI ERA yang sangat modern ini, dunia terasa di genggaman kita. Ya, dunia memang sudah di genggaman kita.

Kita bisa tau tentang dunia, dan dunia pun bisa tau tentang kita. Semua hanya karena satu alat, yaitu smartphone.

Sebagai seorang muslim yang mengaku bertauhid, sudah seharusnya kita menggunakan smartphone kita dengan bijak. Salah satunya penggunaan media sosial.

Jadilah orang yang bijak dalam memposting hal apapun ke media sosial, terutama foto dan video.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابِقُ الْقَدْرَ لَسَبَقَتْهُ الْعَيْنُ … ( رواه مسلم وأحمد والترمذي وصححه )

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya …” (HR. Muslim, Ahmad & Tirmidzi)

Baca: Lima Pesan bagi Para Pengguna Medsos

Sungguh, foto dan video itu dapat menyebabkan ‘ain.

Wa bil khusus untuk para wanita, Allah ‘azza wa jalla berfirman:

… وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ … ( الأحزاب: ٥٣ )

“… Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…” (QS: Al Ahzab:53)

Jika Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kaum muslimin untuk meminta sesuatu kepada istri-istri Rasulullah dari balik tabir, lalu kenapa dengan mudahnya kita dengan sengaja memperlihatkan diri kita?

Walaupun sudah berhijab syar’i, tak nampak dari diri kecuali kedua mata, bukan suatu alasan kita boleh memperlihatkan diri di medsos.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ … ( رواه الترمذي )

“wanita itu aurat maka bila dia keluar rumah maka setan mengikutinya …” (HR: At-Tirmidzi)

Baca: Janda Medsos 2017 

Dikatakan pada hadits itu “wanita”, maka apapun keadaannya wanita itu tetaplah aurat.

Di zaman yang sangat maju ini, tanpa keluar rumah pun wanita bisa memperlihatkan dirinya kepada dunia.

Ingatlah, setan juga ada di setiap gambar diri yang bertebaran di media sosial.

Wahai kaum hawa, bantulah kaum Adam untuk menundukkan pandangannya, bantulah mereka untuk tidak melihat apa yang tidak seharusnya mereka lihat.

Mari kita sama-sama belajar untuk menjalankan agama ini secara kaffah, sebagaimana yang Allah ‘azza wa jalla perintahkan, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan.

Mari kita belajar untuk bertauhid secara total, tak hanya sekedar slogan belaka. Karena sungguh pelaksanaan tauhid itu tak sesingkat katanya.*

The post Ada Penyakit ‘Ain di Media Sosial appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
149534
Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2018/07/19/146403/anak-anak-mendengar-dengan-mata-tidak-dengan-telinga-mereka.html Thu, 19 Jul 2018 14:58:56 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=146403

Jangan mengeluh tentang anak, pasangan, murid, atau karyawan Anda ketika solusinya tidak ditemukan melalui tindakan Anda sendiri

The post Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SALAH satu pelajaran paling mendalam yang Saya ajarkan ialah: “Anak-anak mendengar dengan mata mereka, tidak dengan telinga mereka.”

Jika Anda menasihati anak Anda mengenai bahaya merokok, sementara Anda memegang rokok di tangan Anda, ucapan Anda tidak akan berpengaruh apa-apa, terlepas dari seberapa benarnya. Anak Anda akan melihat apa yang ada di tangan Anda dan mengambil pelajaran dari itu, mengabaikan apapun yang Anda katakan.

Dengan cara yang sama, alasan mengapa anak Anda mungkin tidak peduli tentang al-Quran meskipun Anda membawa mereka ke 5 sekolah Islam berbeda ialah karena Anda sendiri tidak tahu cara membacanya, tidak pula Anda melakukan upaya aktif untuk melakukannya. Kemunafikan tidak akan hilang dari anak-anak. Tidak akan pernah.

Baca: Jangan Takut Punya Banyak Anak!

Bahkan jika mereka belajar bagaimana secara fisik membaca, menulis, dan menghafalkan, itu tidak menembus hati mereka.

Di sisi lain, Saya mengenal beberapa orang tua yang membaca dan menghafalkan Quran setiap hari sebagai bagian dari gaya hidup mereka, dan anak-anak mereka (yang baru saja belajar berjalan) berupaya membaca Quran tanpa pernah disuruh. Anak-anak mereka di bawah umur 10 tahun telah menghafal sebagian besar Quran tanpa pernah dipaksa.

Apakah Anda suka atau tidak, Anda adalah role model terbesar mereka dalam setiap hal yang Anda lakukan, secara sadar dan tidak sadar.

Ini tidak hanya berlaku pada anak-anak. Beginilah cara kerja manusia. Anda melihat beberapa orang –baik bos, ayah, atau orang tua– berteriak dan menjerit demi penghormataan yang akhirnya tidak mereka dapatkan, sementara Anda juga melihat orang lain mendapatkan rasa hormat tanpa pernah mereka meminta atau menuntut. Itu karena mereka mempraktekkan apa yang mereka nasihatkan.

Sulit mengeluh pada atasan Anda tentang datang ke kantor pada jam 9 pagi ketika Anda melihat dia datang pada jam 8 pagi. Sulit memberitahu ayah Anda mengapa membaca 1 jus sehari terlalu banyak ketika dia membaca 2 jus sehari.

Bahkan, semakin Anda membuktikan nasihat Anda melalui tindakan, Anda tidak akan banyak bicara. Ketika teman Anda melihat bagaimana Anda memaafkan seseorang yang tidak pantas dimaafkan, itu adalah pelajaran hidup mereka, tanpa satu patah katapun dikeluarkan. Ketika mereka menjadi seseorang yang lebih besar, mereka tidak perlu datang ke Anda untuk meminta nasihat; Anda telah menasihati mereka lebih dalam dari pada kata-kata Anda.

Baca: Kisah Kesabaran Ibu Dianugerahi Tiga Anak Tunanetra

Aisyah (semoga Allah merahmatinya) menggambarkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai al-Quran berjalan. Itulah mengapa para sahabat memujanya. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam shalat dengan sangat lama hingga kakinya membengkak, Aisyah bertanya mengapa dia melakukannya padahal dosanya di masa lampau dan masa depan telah dimaafkan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab, “bukankah seharusnya Aku menjadi budak yang bersyukur?

Ketika para sahabat membangun parit dan memberitahu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam betapa laparnya mereka, menunjukkan padanya batu yang mereka ikat di perut mereka untuk menahan lapar, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengangkat bajunya dan memperlihatkan pada mereka dua batu yang dia ikat di perutnya. Para sahabat kemudian kembali bekerja.

Dialah adalah pria yang tidur di kasur keras yang bahkan meninggalkan bekas luka di punggungnya. Ketika dia mengatakan pada para sahabat untuk beribadah pada malam dan tidur sedikit, tidak ada satupun pertanyaan ditanyakan.

Jangan mengeluh tentang anak, pasangan, murid, atau karyawan Anda ketika solusinya tidak ditemukan melalui tindakan Anda sendiri.*

Artikel ditulis oleh Salah Sharief dari Ilmfeed, diterjemahkan Nashirul Haq AR

The post Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
146403
Ibu, Arsitek Peradaban http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2018/03/15/137989/ibu-arsitek-peradaban.html Thu, 15 Mar 2018 07:21:38 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=137989

Arsitek peradaban harus punya visi jauh ke depan, karena menyadari anak sebagai aset generasi mendatang

The post Ibu, Arsitek Peradaban appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Ari Susanti

 

PERAN keibuan adalah peran Muslimah yang agung dan mulia, yang tidak tergantikan oleh laki-laki hebat sekalipun. Penghargaan terhadap peran ini diberikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang menempatkan bakti anak kepada ibu lebih didahulukan daripada kepada bapak.

Seseorang pernah datang dan bertanya kepada Rasulullah saw, “ siapa yang lebih diutamakan (untuk menerima) perbuatan baikku ?” Nabi menjawab “Ibumu” “setelah itu siapa lagi?” “Ibumu” “setelah itu siapa lagi?” “ibumu” “setelah itu siapa lagi, Bapakmu.(HR mutafaq ‘alaih).

Sungguh agung peran seorang Ibu. Ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui anak-anaknya.Ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Peran agung inilah yang diberikan Allah kepada perempuan.

Islam telah menempatkan perempuan pada dua peran penting dan strategis. Pertama sebagai ibu bagi generasi masa depan. Dan kedua sebagai pengelola rumah tangga suaminya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda “ Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya” (HR. Muslim).

Perempuan yang menyadari aktivitas ini, akan memantaskan diri untuk menjadi seorang ibu yang hebat. Karena dipundaknya ada tanggungjawab menjadi seorang arsitek, yaitu arsitek peradaban. Dari rahimnya kelak melahirkan generasi masa depan yang gemilang, memberikan peran terbaik bagi peradaban.

Bagaimana memantaskan diri menjadi arsitek peradaban?

Pertama, menjadi Muslimah yang bertaqwa, melaksanakan apa yang menjadi perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan menjauhi larangan-Nya. Ia menyadari betul bahwa kemuliaan seseorang disisi Allah dilihat dari ketaqwaannya. Maka ia akan terikat dengan hukum-hukum Allah dalam setiap aspek kehidupannya. “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (TQS Al Hujurat:13). Ia akan berusaha menjadi Muslimah yang berkepribadian Islam yang tangguh. Untuk itulah sekalipun menjadi ibu, ia tidak akan meninggalkan aktivitas tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu) dalam rangka melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan menjauhi larangan-Nya.

Baca: Kehormatan Perempuan, Ujung Tombak Peradaban

Tentu kita ingat ketaqwaan nenek dari Khalifah terbaik di masa Bani Umayyah yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau adalah perempuan penjual susu yang tinggi ketaqwaannya, ketika diminta oleh ibunya mencampur susu dengan air maka jawaban gadis penjual susu “ sekalipun Amrul Mukminin tidak melihat kita mencampur susu tetapi Rabb nya Amirul Mukminin pasti mengetahuinya”.

Ketaqwaan gadis inilah yang membuat Umar bin Khattab menikahkan dengan ‘Ashim pueranya, maka lahirlah dari pasangan ini seorang anak perempuan yang kelak menjadi ibu dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Anak tersebut bernama Laila binti ‘Ashim bin Umar bin Khattab ra , atau yang dikenal dengan nama ummu ‘Ashim. Dari ibu hebat inilah lahir pemimpin hebat Khalifah Umar bin Abdul aziz yang sudah termashur kezuhudannya, ketaqwaannya dan keadilan dalam memimpin sehingga mencapai masa gemilang.

Kedua, seorang ibu arsitek peradaban harus punya visi jauh ke depan, karena menyadari anak sebagai aset generasi mendatang. Visi yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan. Jangkauannya tidak hanya dunia namun untuk akherat.Maka dengan tantangan zaman , ia senantiasa berprasangkabaik kepada Allah dalam mendidik anak. Karena ia seorang ibu, yang punya cita-cita besar.

Baca: Wasiat Bersikap Baik Terhadap Ibu

Seperti  ibunda Muhammad Al Fatih yang meyakinkan putranya kelak sebagai penakluk Konstantinopel, Setiap hari ibunda Muhammad al Fatih membacakan hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Ketika Muhammad Al Fatih kecil bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai Ibu?” “Dengan Al Qur’an, kekuatan persenjataan dan mencintai manusia,” jawab sang ibu.

Kisah lain,ibunda dari ulama Sufyan ats-Tsauri dengan pesannya yang dahsyat “Wahai puteraku, tuntutlah ilmu dan aku siap membiayai dari pintalanku, wahai puteraku jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat, maka perhatikan, apakah engkau bertambah takut, sabar, dan sopan ? jika engkau tidak demikian maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu

Ketiga, menguasai ilmu mendidik anak dan kerumahtanggaan, memahami arah dan tujuan memdidik anak serta mengetahui teknis praktis dalam mendidik anak seperti komunikasi efektif kepada anak dan pasangan, memahami fase perkembangan usia anak, manajemen waktu dan manajemen kerumatanggaan.

Keempat, menjadi ibu yang peduli umat. Karena seorang ibu arsitek peradaban paham betul bahwa mendidik tidak hanya untuk keluarganya saja namun mendidik masyarakat. Ia menyadari bahwa ia juga bagian dari masyarakat. Ia sadar  bahwa lingkungan juga berpengaruh terhadap pendidikan anak-anaknya, maka ia pun peduli untuk menjadikan lingkungan di sekitarnya menjadi lingkungan yang baik. Apalagi peran ini adalah bagian dari dakwah yang merupakan kewajiban dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Amar ma’ruf nahi munkar menjadi bagian dari kewajibannya, nasehat menasehati dalam kebaikan menjadi kesehariannya. Ibu yang peduli terhadap masa depan generasi, maka ia pun berkiprah sesuai dengan keahliannya dalam membangun peradaban.

Menjadi Ibu arsitek peradaban adalah cita-cita yang mulia. Semoga arsitek inilah yang akan melahirkan generasi peradaban mulia, generasi khoiru ummah. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah….. (TQS Ali Imran:110).*

Penulis founder @taklim4kids Tulungagung, aktif di Komunitas Ibu Hebat Tulungagung

The post Ibu, Arsitek Peradaban appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
137989
Saling Membantu untuk Memudahkan Pernikahan http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2018/01/16/133149/saling-membantu-untuk-memudahkan-pernikahan.html Tue, 16 Jan 2018 06:35:12 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133149

Pernikahan adalah suatu cara yang disyariatkan oleh agama dan dapat mencegah kecenderungan-kecenderungan nafsu alamiah, dan merupakan batas akhir dari kecenderungan yang suci tersebut.

The post Saling Membantu untuk Memudahkan Pernikahan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

INI adalah peringatan Allah kepada kita tentang ajaran-Nya. Barangsiapa mengamalkannya secara ikhlas akan bahagia, dan yang mencampakkannya akan menyesal karenanya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan bagi orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah mampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32-33).

Pernikahan adalah suatu cara yang disyariatkan oleh agama dan dapat mencegah kecenderungan-kecenderungan nafsu alamiah, dan merupakan batas akhir dari kecenderungan yang suci tersebut.

Karenanya, segala kendala yang menghalangi pernikahan harus dihilangkan agar kehidupan berjalan normal seiring dengan tabiat dan sunnahnya. Kesulitan finansial merupakan rintangan pertama dalam membina sebuah rumah tangga.

Islam adalah suatu sistem konstitusi yang sempurna dan tidak menetapkan (mewajibkan) suatu perintah kecuali telah tersedia fasilitasnya untuk memudahkan individu yang menerapkannya. Maka barangsiapa yang konsisten dalam Islam, tidak akan berakhir pada suatu keburukan (zina), kecuali ia sengaja berputar dari jalan yang bersih dan mudah.

Karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengajarkan kepada umat Islam agar membantu sesamanya yang tidak mampu memikul seluruh biaya pernikahan yang halal. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya.

Perintah tersebut langsung turun dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada umat Islam untuk menikahkan mereka. Jumhur ulama berpendapat bahwa perintah dalam ayat tersebut bersifat sunnah. Namun kita memandangnya bahwa perintah itu sebagai suatu kewajiban.

Berkenaan dengan masalah ini lantas bukan berarti seorang imam (pemimpin) akan memaksa orang yang masih sendirian agar segera menikah. Tetapi penekanannya di sini adalah, ia wajib membantu mereka yang ada keinginan menikah, agar segera merealisasikannya demi memelihara kesucian diri dan masyarakat. Upaya ini untuk mempersempit peluang praktik-praktik yang tidak etis dalam masyarakat Islam.

Apabila memang belum siap dan belum mampu untuk menikah, maka wajib baginya menjaga dan memelihara kesuciannya, hingga Allah mencukupnnya. Allah Maha Mengetahui niat dan kebaikan yang diinginkan setiap hamba-Nya. Demikianlah Islam menengarai suatu kemusykilan dengan suatu metode penanggulangan yang praktis dan ringan.

Allah menjamin rezeki bagi orang yang membina rumah tangga dan keluarga yang sakinah. Karenanya, umat Islam tidak harus sempit wawasannya berkaitan dengan minimnya dana yang seringkali membawa problem rumit untuk menjalankan syariat agama.

Di antara sarana guna mencegah terjadinya perzinaan dan pelacuran di dalam masyarakat Islam yang suci dan bersih ini adalah kewajiban saling menolong dan memiliki solidaritas tinggi. Dengan adanya rasa persaudaraan yang hakiki ini diharapkan dapat mencegah kemaksiatan, seperti zina atau hidup bersama di luar nikah.

Upaya ini minimal dapat menutup peluang fitnah. Perbuatan yang terpuji ini senada dengan perintah Allah dalam kitab-nya (Al-Qur’an), “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di anatara kamu sekalian.” (QS. An-Nur: 32).*/Sudirman STAIL

Sumber buku: Seberkas Catatan Bagi Keluarga Muslim, penulis : Dr. Nadzmi Kholil Abul Atho’

The post Saling Membantu untuk Memudahkan Pernikahan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
133149
Kembalikan ‘Surga’ Itu ke Rumahku http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2018/01/05/132232/kembalikan-surga-itu-ke-rumahku.html Thu, 04 Jan 2018 23:45:40 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=132232

“(Wahai Rabbku), jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala-berhala.”

The post Kembalikan ‘Surga’ Itu ke Rumahku appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

AYAH bunda please keep watching… Awasi terus anak-anak kita sedang dimana dan sedang apa. Jangan sampai lengah. Ambil handphone dari tangannya. Jauhkan TV dari rumah kalau tak ada pengawasan, sebelum datang penyesalan tiada akhir.

Antara sedih, marah, khawatir, takut dan emosi bercampur jadi satu macam makan gado-gado yang sudah bau. Bikin mual Ya… itu saat saya baca sebuah postingan di Facebook seorang ibu curhat kalau putranya usia 11 tahun berhubungan seks dengan sepupunya sendiri yang masih duduk di kelas satu SD saat ditinggal orangtuanya umrah 10 hari.

Kesulitan demi kesulitan yang mesti dihadapi emak-emak millennia makin parah. Makin terpojok. Apalagi saat penguasa menyatakan bahwa perbuatan zina dan LGBT bukanlah perbuatan kriminal.

Semakin sering saya dengar, saya baca postingan-postingan kasus pelecehan seksual terutama pada anak-anak.

Baca: Mendidik ‘Generasi Gadget”

Di sebuah sekolah di kota saya, seorang ibu mendapati anaknya yang masih duduk di kelas 1 SD sedang melakukan ma*t*rbasi. Shock! Itulah yang dirasakan Si Ibu. Tapi ia masih bisa berfikir jernih. Pelan-pelan didekatinya putra tercinta. Ditanyakan apa yang terjadi, siapa yg mengajarkan. Butuh waktu sehari hingga anak yang masih ingusan itu mengatakan pada ibunya kalau ia diajarkan oleh teman sekelasnya. Ya Allah, Ya Rabb!

Tidak berlama-lama beliau menghadap guru kelas putranya untuk menyampaikan apa yang terjadi. Tak berbeda dengan apa yang dilakukan walimuridnya, Bu Guru menanyakan pada muridnya satu persatu. Dan hasilnya, Astaghfirullah. Double shock! Hampir semua anak laki-laki sudah diajarkan ma*t*rbasi oleh siswa itu. Seorang anak yang ayah ibunya sibuk, anak diberikan handphone plus wifi di rumah yang tentunya tanpa pengawasan.

Ayah, Bunda, Yuk kembali kerumah…

Didik anak-anak kita sebagaimana Muhammad Al Fatih sang Penakluk Konstantinopel,

Didik mereka dengan Al Qur’an Dan As Sunnah,

Lindungilah mereka ditengah carutmarutnya sistem,

Kembalikan fungsi ibu sebagai al umm warobatul baits, ayah sebagai qowam dan pencari nafkah.

Baca: 9 Tips untuk Anak yang Gemar Gunakan Media Sosial

Berikan pada anak-anak semua yang halal dan thoyyib. Mari do’akan mereka di sepertiga malammu.

Ya Allah.. lindungilah anak-anak kami..

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

(Rabbi habli minash shalihin)

“Wahai Rabbku, berilah aku keturanan yang shalih.”

رَبّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

(Rabbi) Inni u’idzuha bika wa dzurriyyataha minasy syaithanir rajim)

 “Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.”

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

(Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama)

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

رَبِّ) اجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

(Rabbi) ujnubni wa baniyya an na’budal ashnam)

“(Wahai Rabbku), jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala-berhala.”

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

(Rabbij ‘alni muqimash shalah wa min dzurriyyati wa taqabbal du’a)

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

(A’udzu bikalimatillahit tammah wa min kulli syaithanin wa hammah wa min kulli ‘ain lammah)

“Aku melindungkan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan penyakit yang beracun dan dari setiap mata yang menyakiti.”

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ  dan اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

(Allahumma faqqihhu fid din) (Allahumma faqqihhu fid din wa ‘allimhut ta’wil)

“Wahai Allah, Fahamkanlah dia perkara agama”

“Wahai Allah, fahamkanlah dia perkara agama dan ajarkanlah tafsir Al Quran.”

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

(Allahumma Aktsir malahu wa waladahu wa barik lahu fima a’thaitahu)

“Wahai Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah selalu baginya apa yang telah Engkau berikan kepadanya.” Amin ya Rabbal alamin.*/Eny PurwantiKumala Timur – Graha Bunder Asri Kebomas Gresik

The post Kembalikan ‘Surga’ Itu ke Rumahku appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
132232
Bersikap Lembut Ketika Mendidik Anak http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/12/17/130759/bersikap-lembut-ketika-mendidik-anak.html Sun, 17 Dec 2017 03:22:13 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=130759

Para orang tua masih banyak yang bersikap keras dan membuat anak-anak merasa takut kepadanya, sehingga anak-anak merasa bagaikan di neraka.

The post Bersikap Lembut Ketika Mendidik Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

RASULULLAH Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengajarkan bagaimana cara mendidik seorang anak yang masih kecil melalui sabda beliau,

“Wahai anak, apabila engkau makan, maka ucapkanlah ‘Bismillah‘ dan makanlah dengan menggunakann tangan kanan, serta ambillah hidangan yang terdekat darimu.“ (HR. Thabrani dengan sanad sahih).

Abu Hafsh, anak angkat Rasulullah, pernah bercerita, “Tanganku secara terburu-buru memegang shafhah (tempat makan), maka Rasululllah menegur dengan berkata, ‘Wahai anakku, ucapkanlah Bismillah sebelum engkau makan’.“ Hadist ini menunjukkan bahwa doa ketika hendak makan adalah Bismillah saja, sebagaimana dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah,

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaklah mengucapkan Bismillah. Jika ia lupa, kemudian teringat di tengah-tengah ia sedang makan, maka ucapkanlah dengan lafazh ‘Bismillahi Awwaluhu wa Akhiruhu (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya).” (HR. Tirmidzi dengan sanad sahih).

Ada sebuah riwayat yang menyatakan, “Ketika Rasulullah hendak menyuapkan makanan kepada Hasan bin Ali (cucu beliau), kemudian beliau melihat seorang anak kecil yang mulutnya dibuka lebar dan lidahnya dijulurkan keluar, maka beliau bergegas menuju kepada anak tersebut dan menyuapkan makanan kepadanya.“ (Hadits hasan).

Pernah suatu ketika Rasulullah sedang melakukan shalat, ketika saat sujud, Hasan dan Husein naik ke punggung beliau dan para sahabat hendak mencegahnya. Akan tetapi, beliau mengisyaratkan untuk membiarkan mereka berdua. Peristiwa itu terjadi di dalam masjid. Setelah pelaksanaan shalat berjamaah selesai dilakukan, beliau meletakkan kedua cucunya itu di atas batu.

Pada riwayat yang lain diceritakan,

“Ada seorang badui mendatangi Rasulullah dan bertanya, ‘Apakah engkau mencium anak-anak kecil, sungguh kami tidak mencium?’ Maka beliau menjawab, ‘Apakah harus aku biarkan engkau agar Allah menghilangkan rasa kasih dan sayang dari hatimu?” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah r.a., ia menceritakan,

“Nabi saw mencium Hasan bin Ali, dan di sisi beliau ada Al ‘Aqra bin Habits At-Tamimi. Lalu Al ’Aqra berkata kepada beliau, ‘Aku memiliki sepuluh orang anak dan aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Maka Rasulullah berkata, ‘Barangsiapa yang tidak penyayang, maka ia tidak akan disayang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Para orang tua masih banyak yang menganggap remeh sikap jenaka (bercanda) dengan anak-anaknya atau bersikap lembut kepada mereka. Bahkan cenderung bersikap keras dan membuat anak-anak merasa takut kepadanya, sehingga untuk bergerak atau bermain pun dilarang dan juga mengekang kebebasan anak. Sampai-sampai kehidupan anak-anak terasa bagaikan di neraka. Anak-anak tumbuh dengan berhati keras, membenci orang tua dan mungkin ada niatnya untuk berusaha lari dari rumah.

Rasulullah telah memberi contoh dalam kehidupannya, di mana beliau juga bercanda dan bersikap lembut kepada anak-anak. Oleh sebab itu sudah selayaknya kita mempelajari dan mencontoh biografi beliau serta berusaha untuk berbuat adil kepada anak-anak dengan membentuk kehidupan yang penuh kegembiraan lagi bahagia bagi anak-anak. Namun demikian, sikap seperti itu juga memiliki batasan yang tentunya tidak melalaikan pendidikan mereka.

Contoh yang diberikan oleh Rasulullah ini banyak diabaikan oleh mereka yang selalu bertindak kasar terhadap anak-anak yang tengah bermain di masjid, yaitu, pada saat mereka bermain-main di dalam atau di sekitarnya. Bahkan, terkadang mereka memarahi anak-anak tersebut dan mengusirnya dari Baitullah. Ingatlah, bahwa tindakan seperti itu merupakan suatu kerugian yang merusak.

Setelah kejadian itu, lalu para sahabat menggantungkan dahan pohon kurma yang sudah berbuah dengan tujuan agar anak-anak senang berada di sekitar masjid dan memakannya.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Kado Perkawinan, penulis: Mahmud Mahdi Al-Istanbuli)

The post Bersikap Lembut Ketika Mendidik Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
130759
Pembiasaan Bagian Penting Pendidikan Anak http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/12/05/129681/pembiasaan-bagian-penting-pendidikan-anak.html Tue, 05 Dec 2017 05:46:14 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=129681

Tak mungkin anak akan membatasi diri dari melihat tontonan televisi, jika kedua orang tuanya justru sangat hobi nonton sinetron

The post Pembiasaan Bagian Penting Pendidikan Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Repetition is mother of knowledge, demikian ungkapan Barat menyebutkan. Artinya, pengulangan atau pembiasaan adalah induk dari ilmu atau pun pengetahuan dan ketrampilan.

Lebih operasional disampaikan oleh Zig Ziglar, “Repetition is the mother of learning, the father of action, which makes it the architect of accomplishment.”

Maka tidak heran jika dalam dunia pendidikan di kenal istilah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bahkan, di dalam Islam, pendidikan bermula sejak seorang ibu positif mengandung.

Anak yang sejak dalam kandungan terbiasa dengan perilaku baik ibu dan ayahnya, cenderung akan mudah memahami apa yang baik dan mengerjakannya. Termasuk ketika dibiasakan mendengarkan bacaan al-Qur’an, akan cenderung mudah menghafal Qur’an di setiap fase pertumbuhannya.

Untuk itu, penting bagi setiap orang tua mengkondisikan buah hati mereka dalam pendidikan yang berdimensi pembiasaan secara konsisten.

Anak-anak perempuan misalnya, sudah harus dibiasakan dididik dari kecil menggunakan jilbab. Pembiasaan yang demikian akan memudahkan anak perempuan itu sendiri kelak memahami dan mengamalkan syariat menutup aurat.

Termasuk soal kesehatan mata. Anak yang sejak kecil terbiasa melihat gadget orang tuanya bahkan dalam waktu berjam-jam setiap harinya, tidak lama sebelum masuk SD, anak tersebut sudah butuh terhadap yang namanya kacamata. Mengapa, kebiasaan, jawabnya.

Tidak heran jika ada ungkapan bahwa manusia itu akan menuai apa yang menjadi kebiasaannya.

Baca: Menjaga Fitrah Anak dalam Keluarga

Anak yang terbiasa mendengarkan al-Qur’an akan terdorong untuk melantunkan ayat-ayat al-Qur’an. Anak yang terbiasa mendengar lagu, ia akan mudah untuk bisa menyanyi, dan anak yang terbiasa menonton adegan kekerasan di dalam film juga potensial menjadi sangat agresif memukul teman-temannya.

Sekarang, ketika kita melihat seorang wanita dengan begitu mudahnya meninggalkan rumah tanpa jilbab, hampir bisa dipastikan karena masa kecilnya tidak terbiasa menggunakan jilbab, ditambah kala dewasa, masih tidak memahami konsep wajibnya memakai jilbab.

Dengan demikian maka, kebiasaan positif harus diupayakan. Ingat, kebiasaan bisa membangun dan menentukan masa depan. Orang sukses dan orang gagal, ditentukan oleh kebiasaan.

Oleh karena itu penting kita memahami mengapa sholat harus lima kali dalam 24 jam sepanjang hayat, dan mengapa dzikir harus diamalkan sebanyak-banyaknya. Membaca al-Qur’an mesti berulang-ulang, bahkan dihafal dan dibaca diberbagai tempat dan aktivitas. Maknanya adalah pembiasaan.

Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin berkata, “Seseorang yang membiasakan berbuat baik dan mengajarkannya, niscaya jika berkembang akan membawa ksesenangan di dunia dan di akhirat. jika ia membiasakan berbuat buruk, dan ia merendahkan diri seperti perilaku binatang, maka ia akan enderita dan hancur.”

Dan, karena anak adalah peniru paling ahli dalam kehidupan, maka pembiasaan baik yang ditanamkan kepada buah hati mesti dibarengi dengan pembiasaan berupa keteladanan dari kedua orang tua. Tidak mungkin anak akan rajin membaca al-Qur’an, jika orang tuanya tidak memberikan keteladanan membaca al-Qur’an secara ajeg.

Demikian pula, tidak mungkin anak akan membatasi diri dari melihat tontonan televisi, jika kedua orang tuanya justru sangat hobi nonton sinetron.

Seperti dalam hal sholat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika mereka meninggalkan sholat ketika usianya sudah mencapai sepuluh tahun” (HR. Bukhari Muslim).

Baca: Didik Mereka Jadi Pemberani!

Hadits di atas memberikan sebuah petunjuk bahwa masa paling lama dalam hal pembiasaan anak melakukan kebaikan adalah tiga tahun. Konkretnya dalam hal mendirikan sholat.

Jika anak telah dibiasakan dari umum 7 tahun sholat dengan baik dan berjalan lancar, maka umur 10 tahun akan terbiasa alias otomatis mengerjakannya. Tetapi jika masih belum otomatis, maka ada yang salah dan karena itu perlu dievaluasi, tidak kemudian serta-merta anak dihajar karena memahami teks hadits secara parsial.

Boleh jadi kondisi itu sudah mengindikasikan bahwa orang tua, perlu memahami apakah buah hati sudah bisa diajak berpikir atau belum.

Jika sudah saatnya, maka sudah waktunya mereka mendapatkan pendidikan tahap berikutnya, yakni tentang makna, motivasi, alasan, fungsi dan manfaat dari sebuah ibadah atau kebiasaan baik, sehingga menjadi paham buah hati kemudian tergerak dengan sendirinya untuk mengamalkan atau membiasakan segala kebaikan-kebaikan di dalam Islam dan kehidupan. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi

The post Pembiasaan Bagian Penting Pendidikan Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
129681
10 Cara Mudah Agar Anak Lancar Bicara http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/11/05/127245/10-cara-mudah-agar-anak-lancar-bicara.html Sun, 05 Nov 2017 09:54:42 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=127245

Jangan menekan anak Anda jika ternyata tidak sesuai apa yang Anda harapkan. Setiap anak berkembang pada tingkatan yang berbeda-beda

The post 10 Cara Mudah Agar Anak Lancar Bicara appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com–Sebagaimana yang kita ketahui, anak-anak berkembang dengan cara yang berbeda pada tingkat yang berbeda pula. Namun bagaimana cara kita mendidik mereka, akan berdampak besar terhadap tumbuh kembang anak.

Saya akan berbagi tips bagaimana caranya membantu meningkatkan kemampuan anak dalam berbicara, in syaa Allah. Saya bukan seorang ahli terapi bicara; namun yang saya sampaikan adalah berdasarkan pengalaman yang sudah terbukti terhadap anak saya sendiri, alhamdulillah.

Sebelumnya, izinkan saya untuk mengingatkan Anda, sebelum ingin merencanakan sesuatu, jadikan niat yang ikhlas dan do’a sebagai langkah pertama Anda. Tidak ada satupun yang terjadi kecuali atas izin Allah. Oleh karena itu, kita hatus dengan tulus meminta kepadaNya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah:186)

  1. Membaca buku bersama

Mulailah membacakan buku untuk anak Anda sejak buaian atau bahkan sebelum anak lahir. Bayi senang mendengarkan suara orang tuanya, jadi gunakan kesempatan ini untuk banyak-banyak membaca. Dan tentu saja, bacaan terbaik adalah al-Qur’an, yang tidak hanya menguntungkan kemampuannya berbicara kelak, namun si kecil juga akan mendapatkan keberkahan karena mendengarkan al-Qur’an dan kita yang membacakannya juga mendapatkan pahala.

Baca: Tiga Bekal Mengasuh Anak

Kita semua mengharapkan ampunan dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, jadi tak ada yang lebih baik untuk memulainya selain dengan al-Qur’an.

Bentuk lainnya, bisa dengan membacakannya buku-buku untuk anak yang berisi cerita pendek atau buku bertema “kata pertama” yang dihiasi dengan gambar menarik untuk mengajarkan anak mengenal benda-benda di dalam rumah, di luar ruangan, dan sebagainya.

Semakin bertambah usia anak, kenalkan buku cerita yang isinya lebih panjang. Jangan khawatir jika mereka tidak paham. Nanti Anda akan terkejut sendiri seberapa banyak kata yang anak serap, meski kita pikir si anak belum tentu mengerti.

Jadikan kegiatan membaca menyenangkan, dan jelaskan kalimat yang terdengar sulit dipahami bagi mereka. Buat mereka tertantang tanpa merasa putus asa. Saya mulai membacakan buku-buku non-fiksi kepada anak saya sejak usia dini. Namun karena saya membuatnya menjadi seru dan menarik, dia menyukainya.

Berikan pertanyaan sederhana, permainan terkait buku yang dibaca, dan bila perlu sambil melucu. Tahu-tahu, Anda akan melihat si anak mulai membolak-balik buku, pura-pura sedang membaca.

  1. Bicara dengan normal

Hanya karena anak belum bisa bicara, bukan berarti Anda harus berbicara dengan bahasa bayi ketika bicara dengan mereka. Jika ingin mengajari mereka bicara, gunakan kata-kata yang jelas. Bicaralah seperti biasa. Ingat, anak Anda belajar berbicara dengan cara mendengarkan Anda, jadi berikan contoh yang baik sejak awal.

Baca: Bahagia Merawat Anak dengan Tangan Sendiri

  1. Pandang matanya saat berbicara

Ketika bicara dengan anak Anda, usahakan selalu melakukan kontak mata. Biarkan anak mendengarkan Anda dengan jelas dan mereka tahu kalau Anda memperhatikan.

  1. Dengarkan dengan penuh perhatian

Saat anak mulai mengucapkan kata pertama mereka, penting bagi mereka untuk mengetahui bahwa apa yang mereka ucapkan bermakna. Dengarkan dan berikan perhatian khusus kepada mereka meski jika apa yang mereka ucapkan tidak jelas.

  1. Tunjukkan Ketertarikan dan Perhatian

Kontak mata saja tidak cukup kalau Anda tidak terlihat tertarik terhadap apa yang anak bicarakan. Saya yakin anak bisa merasakan kalau mereka tidak diperhatikan. Berikan senyuman, buat ekspresi wajah yang berbeda, isyarat tangan, atau apa saja yang Anda yakini akan menunjukkan bahwa Anda tertarik dan peduli.**>>> (BERSAMBUNG)

The post 10 Cara Mudah Agar Anak Lancar Bicara appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
127245
Shalat Malam, Kunci Mendidik Anak http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/11/01/126959/shalat-malam-kunci-mendidik-anak.html Wed, 01 Nov 2017 06:52:25 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126959

Bisa dibedakan, antara anak yang dibimbing orangtua tanpa doa dan anak yang dibimbing orangtua dengan doa

The post Shalat Malam, Kunci Mendidik Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com–“Wah, kalau soal pendidikan anak jangan saya orangnya. Saya ini tak pernah mendidik anak-anak.” Begitu kata Ustadz Anwari Hambali (53) ketika media ini minta waktu untuk wawancara. Ustad Anwari, begitu biasa dipanggil, adalah seorang dai senior di Hidayatullah.

Pernyataan Anwari itu bisa dibaca sebagai ungkapan rendah hati. Nyatanya, ia dikaruniai 9 anak. Sebagai orangtua yang mempunyai anak sebanyak itu, mana mungkin tak pernah mendidik putra-putrinya. Hanya,  dai kelahiran Probalingga, Jawa Tengah ini  memang punya cara tersendiri yang mungkin berbeda dengan orangtua lainnya.

Dan cara itu, sejauh ini lumayan berhasil. “Cukup menyejukan hati,” begitu ujar anggota Dewan Syura Hidayatullah ini.

Anwari menikah pada l985 dengan Umi Latifah, teman sepengajian di Probalinggo. Dari 9 anah buah pernikahan mereka, kini tinggal 5. Empat anaknya sudah dipanggil pulang ke rahmatullah. Lima anak tersisa itu adalah Faiz Ghufron Muhammad (24), Nafis Mahfudz Muthohar (20), Iffah Nurfathi (17), Luthfia Nur Rokhani (16), dan Tsabit Amin Fuadi (14).

Baca: Kisah Fajar, Inspirator Penghafal Al-Qur’an

Dari lima anak Anwari yang tersisa, 4 di antaranya kini sedang menghafal al-Qur`an di beberapa pesantren di Jawa. Bahkan Nafis sudah khatam 30 Juz.      Sedangkan Faiz memilih  menjadi guru di sebuah pesantren di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Terhadap anak-anaknya yang menghafal al-Qur`an, Anwari mengaku bukan hasil arahannya. “Itu kemauan anak-anak sendiri,” tambah pria yang rajin olahraga bulutangkis dan tenis meja ini. “Saya hanya mendoakan saja.”

Bagaimana resep Anwari mendidik putra-putrinya, mengapa ia menaruh anak-anak di pesantren dan bagaimana pula sejarah berhidayatullahnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, hidayatullah.com menemui  Anwari di rumahnya yang sederhana di pinggir danau Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Baca: Ikuti Kebiasaan Sahabat Menghafal Al-Qur’an

Rumah itu berdinding dan berlantai kayu, sama dengan rumah lain di Kampus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Kami diterima di ruang tamu yang benar-benar minimalis. Tak ada sehelai pun barang berharga di situ, selain beberapa buku.

Ditemani sepiring pisang goreng, kami ngobrol dengan pria yang pernah kuliah tafsir di IAIN Sunan Kalijaja, Yogyakarta ini. Ikkuti hasil wawancara dengan Anwari pada artikel berikutnya. >>>> (BERSAMBUNG)

The post Shalat Malam, Kunci Mendidik Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
126959