Ikhtilaful Ummah – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Argumen Madzhab Asy Syafi’i tentang Hadits Qunut Shubuh http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2018/05/23/142953/argumen-madzhab-asy-syafii-tentang-hadits-qunut-shubuh.html Wed, 23 May 2018 06:22:50 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=142953

SEJUMLAH pihak melakukan kritikan terhadap hujjah Madzhab Asy Syafi’i mengenai qunut shubuh. Salah satunya adalah hadits yang dijadikan sandaran dalam […]

The post Argumen Madzhab Asy Syafi’i tentang Hadits Qunut Shubuh appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SEJUMLAH pihak melakukan kritikan terhadap hujjah Madzhab Asy Syafi’i mengenai qunut shubuh. Salah satunya adalah hadits yang dijadikan sandaran dalam amalan qunut shubuh yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik. Berikut ini pemaparan para Huffadz Hadits yang menganut pendapat bahwa qunut shubuh disyari’atkan.

  عَن أنس أَن النَّبِي – صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلم – قنت شهرا يَدْعُو عَلَى قاتلي أَصْحَابه ببئر مَعُونَة (ثمَّ) ترك ، فَأَما فِي الصُّبْح فَلم يزل يقنت حَتَّى فَارق الدُّنْيَا.

Dari Anas Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasalam melakukan qunut selama satu bulan, berdoa (untuk keburukan) kepada para pembunuh para sahabat beliau di Bi’r Ma’unah, lalu beliau meninggalkannya, akan tetapi qunut waktu shubuh, maka beliau masih melakukan hingga wafat”

Hadits ini berada dalam Syarh Al Kabir (1/151). Hadits diriwayatkan Ad Daraquthni (2/39). Ahmad dalam Musnad (3/162), Hafidz Abu Bakar Khatib, dalam At Tahqiq Ibnu Al Jauzi (1/463), Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra (2/201).

Para Huffadz yang menshahihkan

Al Hafidz Ibnu Shalah:”Hadits ini telah dihukumi shahih oleh lebih dari seorang huffadz hadits, diantaranya: Abu Abdullah bin Ali Al Balkhi, dari para imam hadits, Abu Abdullah Al Hakim, dan Abu Bakar Al Baihaqi. (Lihat, Badr Al Munir, 3/624).

Al Hafidz Imam Nawawi mengatakan:”Hadits ini diriwayatkan oleh jama’ah huffadz dan mereka menshahihkannya”. Lalu menyebutkan para ulama yang disebutkan Ibnu Shalah, dan mengatakan,”Dan diriwayatkan Daraquthni melalui beberapa jalan dengan sanad shahih”. (Al Khulashah, 1/450-451).

Al Qurthubi dalam Al Mufhim :”Yang kuat diperintahkan oleh Rasulullah shalallhualaihi wasalam dalam qunut, diriwayatkan Daraquthni dengan isnad shahih” (Badr Al Munir, 3/624).

Hafidz Al Hazimi dalam An Nashih wa Al Mansukh:”Hadits ini shahih, dan Abu Ja`far tsiqah”. (Al I’tibar, 255)

Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani : Setelah menyebutkan penilaian para ulama terhadap Abu Jakfar, beliau mengatakan, “haditsnya memiliki syahid (penguat)” lalu menyebutkan hadits qunut shubuh yang diriwayatkan dari Al Hasan bin Sufyan. (Talhis Khabir, 1/443)

Pernyataan Al Hafidz Ibnu Hajar bahwa “haditsnya memiliki syahid” menunjukkan bahwa haditsnya hasan. Sehingga penulis Ithaf fi Takhrij Ahadits Al Ishraf menyatakan,”Ibnu Hajar menghasankan dalam Talhisnya”.

Di halaman yang sama Ibnu Hajar mengatakan,”Hadist riwayat Al Baihaqi…dan dishahihkan Hakim dalam Kitab Al Qunut”. (Talhis Khabir, 1/443).

Hafidz Al Iraqi:”Telah menshahihkan hadits ini Al Hafidz Abu Abdullah Muhammad bin Ali Al Bajili, Abu Abdullah Al Hakim dan Ad Daraquthni” (Tharh Tatsrib,3/289).

Perawi yang Disoroti dalam Hadits ini adalah Abu Ja`far Ar Razi

Pendapat Imam Ahmad

Bicara mengenai Abu Jakfar Ar Razi. Pendapat Imam Ahmad tentang Abu Jakfar, ada dua riwayat. Pertama. Diriwayatkan Hanbal dari Ahmad bin Hanbal,”Shalih hadits” (haditsnya layak). Kedua, dari Abdullah, anaknya,”Laisa bi qawi (tidak kuat). Al Hazimi dalam Nashih wa Manshuh mengatakan, “Riwayat pertama lebih utama (Al I’tibar, 256).

Pendapat Yahya bin Ma`in

Adapun penilaian Yahya bin Ma’in, ada beberapa riwayat:1, dari Isa bin Manshur, “Tsiqah”. 2, dari Ibnu Abi Maryam , “hadistnya ditulis, tapi ia sering salah”. 3, diriwayatkan Ibnu Abi Khaitsamah,”shalih”. 4, diriwayatkan oleh Mughirah,”tsiqah” dan ia salah ketika meriwayatkan dari Mughirah. Daruquthni mengatakan,”Dan hadits ini tidak diriwayatkan dari Mughirah”. 5, diriwayatkan As Saji “Shoduq wa laisa bimutqin ( hafalanya tidak valid)”

Periwayatan dari Yahya bin Ma’in lebih banyak ta’dilnya daripada tajrih.

Pendapat Ali bin Al Madini

Ali bin Al Madini: Ada dua riwayat darinya tentang Abu Jakfar. Salah satu riwayat mengatakan,”Ia seperti Musa bin Ubaidah, haditsnya bercampur, ketika meriwayatkan dari Mughirah dan yang semisalnya. Dalam riwayat yang berasal dari anak Ibnu Al Madini, Muhammad bin Utsman bin Ibnu Syaibah,”Bagi kami ia tsiqah”. Ibnu Al Mulaqqin mengatakan,”lebih utama riwayat dari anaknya (anak Ibnu Al Madini).

Pendapat Para Huffadz

Muhammad Bin Abdullah Al Mushili mengatakan,”Tsiqah”. Bin Ali Al Falash mengatakan,”Shoduq, dan dia termasuk orang-orang yang jujur, tapi hafalannya kurang baik”. Abu Zur’ah mengatakan,”Syeikh yahummu katisran (banyak wahm). Abu Hatim mengatakan,”Tsiqah, shoduq, sholih hadits”. Abnu Harash,”Hafalannya tidak bagus, shoduq (jujur)”. Ibnu ‘Adi,”Dia mimiliki hadits-hadits layak, dan orang-orang meriwayatkan darinya. Kebanyakan haditsanya mustaqim (lurus), dan aku mengharap ia la ba’sa bih (tidak masalah). Muhammad bin Sa’ad:”Dia tsiqah”, ketika di Baghdad para ulama mendengar darinya”. Hakim dalam Al Mustadrak,”Bukhari dan Muslim menghindarinya, dan posisinya di hadapan seluruh imam, adalah sebaik-baik keadaan”, di tempat lain ia mengatakan:”tsiqah”. Ibnu Abdi Al Barr dalam Al Istighna,”Ia (Abu Ja`far) bagi mereka (para ulama) tsiqah, alim dalam masalah tafsir Al Qur’an.. Ibnu Sahin menyebutnya dalam “Tsiqat”. Al Hazimi dalam Nasikh dan Mansukh,”Ini hadist Shahih, dan Abu Jakfar tsiqah”. Taqiyuddin Ibnu Daqiq Al Ied dalam Al Ilmam, setelah menyebutkan hadits, ia mengatakan,”Dalam isnadnya Abu Jakfar Ar Razi. Dan ia ditsiqahkan, lebih dari satu ulama. Nasai mengatakan,”Laisa bil Qawi” (ia tidak kuat hafalannya).

Demikianlah paparan Al Hafidz Ibnu Al Mulaqqin mengenai perkataan ulama jarh wa ta’dil mengenai Abu Ja’far Ar Razi. (lihat, Badr Al Munir, 3/623)

Kritik untuk Ibnu Al Jauzi 
Al Hafidz Ibnu Mulaqqin mengatakan, “Adapun Ibnu Al Jauzi menilai bahwa hadits ini mengandung `ilal dalam Al Ilal Al Mutanahiyah dan At Tahqiq mengenai Abu Ja’far ini untuk membela madzhabnya hanya menukil riwayat yang menjarh saja dan ini adalah bukanlah perbuatan yang baik. Ia hanya mencukupkan kepada riwayat siapa yang meriwayatkan dari pendhaifan dari Ahmad, Ibnu Al Madini Dan Yahya bin Ma’in. Dan ini bukanlah perbuatan orang yang obyektif”. (Badr Al Munir, 3/624)

Walhasil, meski status hadits qunut diperselisihkan keshahihannya dan pihak yang mendhaifkan hadits qunut memiliki argumen, namun pihak Asy Syafi’iyah juga memiliki argumen yang menunjukkan bahwa hadits qunut bukan hadits dhaif. Tentu dalam hal ini yang dibutuhkan umat adalah kedewasaan untuk saling menghargai satu sama lain tanpa memaksakan kehendak, dengan demikian ukhuwwah Islamiyah akan senantiasa terjaga. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam….

 

 

The post Argumen Madzhab Asy Syafi’i tentang Hadits Qunut Shubuh appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
142953
Sufi Menurut Penilaian Imam Asy Syafi’i http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2018/03/20/138309/sufi-menurut-penilaian-imam-asy-syafii.html Tue, 20 Mar 2018 02:14:44 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=138309

DI beberapa tempat, Imam As Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi. Yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi […]

The post Sufi Menurut Penilaian Imam Asy Syafi’i appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DI beberapa tempat, Imam As Syafi’i telah memberi penilaian terhadap para sufi. Yang sering dinukil dari perkataan beliau mengenai sufi bersumber dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi.

Di dalam kitab itu, Imam As Syafi’i menyatakan, “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal).” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Beliau juga menyatakan,”Aku tidak mengetahui seorang sufi yang berakal, kecuali ia seorang Muslim yang khawwas.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Beberapa pihak secara tergesa-gesa menyimpulkan dari perkataan di atas bahwa Imam As Syafi’i mencela seluruh penganut sufi. Padahal tidaklah demikian, Imam As Syafi’i hanya mencela mereka yang menisbatkan kepada tashawuf namun tidak benar-benar menjalankan ajarannya tersebut.

Imam Asy Syafi’i Bedakan Antara Sufi Yang Benar dengan Sufi Klaim

Dalam hal ini, Imam Al Baihaqi menjelaskan,”Dan sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)

Imam Al Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut,”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka. (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Imam Asy Syaf’i Mengambil Manfaah dari Sufi

Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua kalimat ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

Jelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena prilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauziyah menilai bahwa pernyataan Imam As Syafi’i yang menyebutkan behwa beliau mengambil dari para sufi dua hal atau tiga hal dalam periwayatan yang lain, sebagai bentuk pujian beliau terhadap kaum ini,”Wahai, bagi dua kalimat yang betapa lebih bermanfaat dan lebih menyeluruh. Kedua hal itu menunjukkan tingginya himmah dan kesadaran siapa yang mengatakannya. Cukup di sini pujian As Syafi’i untuk kelompok tersebut sesuai dengan bobot perkataan mereka.” (lihat, Madarij As Salikin, 3/129)

Imam As Syafi’i Memuji Ulama Sufi

Bahkan di satu kesempatan, Imam As Syafi’i memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan,”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut ciri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)

Walhasil, Imam As Syafi’i disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya dengan sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini. Sedangkan Ibnu Qayyim menilai bahwa Imam As Syafi’i juga memberikan pujian kepada para sufi.

Demikianlah perkataan Imam Asy Syafi’i mengenai sufi, yang dipahami oleh para ulama besar, yakni Al Imam Al Baihaqi dan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Kedua ulama besar itu lebih layak untuk diambil dalam memahami perkataan Imam Asy Syafi’i dibanding para individu yang tergesa-gesa menyimpulkan. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

The post Sufi Menurut Penilaian Imam Asy Syafi’i appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
138309
Dalam Madzhab Asy Syafi’i Pelihara Jenggot, Wajib atau Sunnah? http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2018/02/11/135278/dalam-madzhab-asy-syafii-pelihara-jenggot-wajib-atau-sunnah.html Sun, 11 Feb 2018 11:37:03 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=135278

TERDAPAT perbedaan pendapat dalam madzhab Asy Syafi’i mengenai hukum memelihara jenggot. Ada dari kalangan ulama Asy Syafi’iyyah yang menghukumi bahwa […]

The post Dalam Madzhab Asy Syafi’i Pelihara Jenggot, Wajib atau Sunnah? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

TERDAPAT perbedaan pendapat dalam madzhab Asy Syafi’i mengenai hukum memelihara jenggot. Ada dari kalangan ulama Asy Syafi’iyyah yang menghukumi bahwa memelihara jenggot hukumnya wajib, sehingga memangkasnya diharamkan, kecuali jika tumbuhnya melebihi kebiasaan boleh dipangkas dan dari mereka ada yang menyatakan bahwa hukum memelihara jenggot sunnah.

Para Ulama yang Mewajibkan Memelihara Jenggot

Para ulama Asy Syafi’iyyah yang berpendapat bahwa hukum memelihara jenggot wajib adalah Ibnu Rif’ah, Al Halimi, Al Qaffal Asy Syasyi, Al Adzra’I, Az Zarkasyi, Ibnu Hajar dalam Al I’ab, Ibnu Ziyad, serta Al Malibari . (lihat, Hasyiyah Asy Syarwani ala At Tuhfah, 9/376)

Para Ulama yang Menyatakan Sunnah Memelihara Jenggot

Diantara para ulama yang menyatakan bahwa mememilhara jenggot adalah sunnah adalah Imam Ar Rafi’i, Imam An Nawawi, Imam Al Ghazali, Syeikh Al Islam Zakariyah Al Anshari, Khatib Asy Syarbini, Ibnu Hajar dala At Tuhfah, Ar Ramli dalam An Nihayah dan lainnya seperti Al Bujairmi, Abu Bakr Satha Ad Dimyathi serta lainnya. (lihat, Hasyiyah Asy Syarwani ala At Tuhfah, 9/376, Hasyiyah Al Bujarmi ala Al Khatib, 5/ 261, Hasyiyah Bughyatul Mustarsyidin, 1/286, Hasyiyah I’anatuth Thalibin, 2/386)

Sebab Perbedaan

Sebab perbedaan adalah memahami pernyataan dari Imam Asy Syafi’i. Sebagaimana dinashkan oleh Imam Asy Syafi’i, bahwasannya beliau menggunakan lafal la yahillu (tidak dihalalkan) menurut Al Halimi. Bagi yang yang mengharamkan, manafsiri lafal la yahillu sbagai perkara yang diharamkan. Namun, para ulama lainnya menafsiri la yahillu bukan hal yang haram, namun dimakruhkan, karena la yahillu bisa bermakan haram bisa bermakna makruh. Dan para ulama yang memilih penafsiran bahwa memotong dan mencabut jenggot makruh (bukan haram), karena penfasiran itu sejalan dengan yang mu’tammad dalam madzhab yakni makruh.  (lihat, Hasyiyah Asy Syarwani ala At Tuhfah, 9/376, Hasyiyah I’anatuth Thalibin, 2/386)

Siapa Rujukan Pendapat Mu’tamad dalam Madzhab Asy Syafi’i?

Dalam banyak persoalan, banyak ikhtilaf di kalangan ulama madzhab Asy Syafi’i, meski dalam dalam satu madzhab. Namun, ikhtilaf itu tidak dibiarkan cair, ada pendapat mu’tamad yang merupakan pendapat rajih dalam madzhab.

Untuk mengetahui pendapat mu’tamad dalam madzhab, para ulama Asy Syafi’iyah telah memberikan penduan. Dalam hal ini, jika sebuah perkara telah disepakatai oleh Asy Syaikhani, yakni Imam An Nawawi dan Imam Ar Rafi’i, maka pendapat yang diambil adalah pendapat dari keduanya, karena kedua-duanya telah mencurahkan segala kemampuan dalam melakukan tarjih dalam pendapat madzhab. Hal inilah yang disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Haitami dan Ar Ramli (lihat, Al Fawaid Al Madaniyah, hal. 39)

Bahkan, jika ada mutaakhrin yang menyelisihi kesepakatan Asy Syaikhani maka pendapat itu tidak dianggap, kecuali para mutaakhirin sepakat bahwa perkara itu merupakan kesalahan dan kelalaian. (lihat, Al Fawaid Al Madaniyah, hal. 51)

Setelah Imam An Nawawi dan Ar Rafi’i, maka tarjih dilakukan oleh ulama setelahnya, dimana jika Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari, Ibnu Hajar Al Haitami, Ar Ramli dan Asy Syarbini sepakat, maka hal itu merupakan perkara yang mu’tamad. (lihat, Al Fawaid Al Madaniyah, hal. 56)

Mu’tamad dalam Madzhab Memelihara Jenggot Sunnah

Jika merujuk apa yang disampaikan sebelumnya mengenai patokan dalam tarjih, maka pendapat mu’tamad dalam madzab Asy Syafi’i adalah pendapat yang menyatakan bahwa memelihara jenggot sunnah. Karena hal itu merupakan kesepakatan Imam An Nawawi dan Ar Rafi’i, sebagai mujtahid tarjih dalam madzhab. Demikian juga para ulama tarjih setelah keduanya juga sepakat mengenai kesunnahan memelihara jenggot, yakni Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshar, Ibnu Hajar Al Haitami, Ar Ramli, serta Asy Syarbini.

Dalam hal ini Ibnu Hajar berkata,”Syaikhani (Ar Rafi’i dan An Nawawi) telah berkata, dimakruhkan memotong jenggot merupakan perkara yang mu’tamad.” (Hasyiyah Asy Syarwani ala At Tuhfah, 9/376)

Abu Bakr Syatha Ad Dimyathi juga menyatakan bahwa pendapat yang mengharamkan menyelisihi mu’tamad. (Hasyiyah I’anatuth Thalibin, 2/386)

Dalam Hasyiyah Bughyatul Mustarsyidin dinyatakan,”Dan mu’tamad menurut Al Ghazali, Syeikh Al Islam, Ibnu Hajar, Ar Ramli dan Al Khatib (Asy Syarbini) makruh.” (Hasyiyah Bughyatul Mustarsyidin, 1/286)

Al Bujairmi berkata,”Sesungguhnya memotong jenggot makruh, bukan haram.” (Hasyiyah Al Bujairimi ‘ala Al Khatib.

Walhasil, meski dalam madzhab Asy Syafi’i terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum memelihara jenggot, satu pihak menyatakan wajib dan pihak lainnya menyatakan sunnah namun pendapat mu’tamad dalam madzhab Asy Syafi’i, bahwa memelihara jenggot sunnah, bukan merupakan perkara yang wajib. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

 

 

 

The post Dalam Madzhab Asy Syafi’i Pelihara Jenggot, Wajib atau Sunnah? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
135278
Hukum Mengkonsumsi Air Seni Onta Menurut Ulama Berbagai Madzhab http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2018/01/15/133004/hukum-mengkonsumsi-air-seni-onta-menurut-ulama-berbagai-madzhab.html Sun, 14 Jan 2018 17:59:11 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133004

UNTUK mengetahui hukum berobat dengan air seni onta oleh para ulama, ada baiknya perlu melihat pembahasan para ulama mengenai status […]

The post Hukum Mengkonsumsi Air Seni Onta Menurut Ulama Berbagai Madzhab appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

UNTUK mengetahui hukum berobat dengan air seni onta oleh para ulama, ada baiknya perlu melihat pembahasan para ulama mengenai status kesucian air seni onta terlebih dahulu, karena dua masalah tersebut memiliki hubungan erat.

Para ulama sepakat mengenai najisnya air seni menusia, adapun mengenai status air seni onta, apakah ia suci atau najis, para ulama berselisih pendapat mengenai hal itu.

Pendapat 1: Air Seni Onta Suci

Sejumlah ulama berpendapat bahwa air seni onta suci. Diantara mereka adalah Atha’, Az Zuhri, Yahya Al Anshari, An Nakhai, Al Karkhi, Ats Tsauri, Imam Malik, Zufar, Imam Ahmad, Muhammad bin Hasan. Beberapa ulama Syafi’iyah berpendapat serupa semisal Ibnu Huzaimah, Ibnu Mundzir, Ar Ruyani (Lihat, Badai’ Ash Shanai’(1/61), Bidayah Al Mujtahid (1/80), Al Hawi Al Kabir (2/250), Fath Al Bari (1/339).

Pendapat 2: Air Seni Onta Najis

Sedangkan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa air seni onta najis. Diantara para ulama ini adalah Ibnu Umar dari kalangan sahabat, Hasan Al Bashri dari kalangan tabi’in, Abu Tsaur, Jabir bin Zaid, Imam Asy Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Ahmad dalam salah satu periwayatan menyatakan najis sebagaimana Imam Asy Syafi’i (lihat, Al Hawi Al Kabir (2/250), Masail Imam Ahmad (3/167), Asy Syarh Al Kabir li Ibni Qudamah (1/307)).

Sebab Munculnya Perbedaan

Perbedaan di atas merupakan dampak dari perbedaan cara pandang para ulama mengenai air seni dan kotoran selain manusia. Ada pihak yang menyatakan bahwa seluruh air seni dan kotoran selain manusia (hewan) najis. Ada pula pihak yang menyatakan bahwa air seni dan kotoran selain manusia suci. Adapula yang melihat dari hukum dagingnya, jika dagingnya halal maka air seni dan kotorannya suci, jika dagingnya haram maka air seni dan kotorannya najis.

Dan adanya perbedaan pandangan fiqih mengenai najis tidaknya air seni dan kotoran hewan di atas, disebabkan adanya perbedaan dalam mengambil istimbath (kesimpulan) hukum dari beberapa hadits, salah satunya mengenai izin Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada kaum Uraniyun untuk meminum air seni onta. (lihat, Bidayah Al Mujtahid (1/80,81)).

Pendangan Para Ulama Mengenai Hadits Al Uraniyun

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ : قَدِمَ نَاسٌ مِنْ عُكْلٍ – أَوْ عُرَيْنَةَ – فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ , فَأَمَرَ لَهُمْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِلِقَاحٍ , وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا. فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ

Artinya: Dari Anas Bin Malik Radhiyallahu `anhu, ia berkata,”Telah datang sekelompok orang dari Ukl atau Urainah, kemudian mereka enggan bermukim di Madinah, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun memerintahkan untuk menyediakan onta-onta yang memiliki susu dan menyuruh mereka untuk meminum air kencing dan susunya, kemudian mereka pun bertolak. Dan ketika mereka sehat, mereka membunuh penggembala Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam… (Riwayat Al Bukhari)

Pihak pertama menyatakan bahwa Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk meminum air seni onta untuk berobat. Ini menunjukkan bahwa air seni onta suci.

Namun, argumen itu disanggah oleh pihak kedua, dimana hadits itu tidak menunjukkan sucinya air seni onta, namun menunjukkan bolehnya berobat menggunakan benda najis dalam keadaan darurat.

Kemudian sanggahan itu dijawab pihak pertama, bahwa berobat tidak termasuk perkara darurat, karena berobat tidaklah wajib, bagaimana perkara yang haram dibolehkan demi perkara yang tidak diwajibkan?

Sanggahan itu pun dijawab pihak kedua, bahwa berobat secara mutlak memang bukan perkara darurat, namun ia merupakan perkara darurat, jika ada informasi dari pihak yang bisa dijadikan pijakan informasinya menyatakan bahwa hal itu sudah termasuk darurat. Dan apa yang dibolehkan karena darurat maka seseorang tidak dikatakan mengkonsumsi barang haram ketika ia mengkonsumsinya, berpijak dengan firman Allah yang artinya,”Allah telah memperinci apa-apa yang haram atas kalian kecuali perkara-perkara yang kalian konsumsi secara terpaksa.” (Al An’am: 119)

Sanggahan yang juga mengatakan bahwa perkara haram tidak bisa dilakukan kecuali demi perkara wajib tidak bisa diterima, karena ada perkara haram yang boleh dilakukan demi perkara mubah, seperti bolehnya meninggalkan puasa Ramadhan dimana hal itu adalah perbuatan haram, demi melakukan safar yang hukumnya mubah.

Pihak pertama pun menyampaikan sanggahan lagi, bahwasannya kalau sekiranya air seni onta najis, maka tidak boleh berobat dengannya, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak menciptakan kesembuhan bagi umatku dari apa-apa yang haram atas mereka.” (Riwayat Abu Dawud)

Benda najis haram untuk dikonsumi, maka tidak boleh berobat dengannya, karena di dalamnya tidak terkandung kesembuhan.

Pihak kedua menjawab bahwa sesungguhnya hadits tersebut berlaku kepada siapa saja yang secara suka rela mengkonsumsinya, adapun untuk keadaan darurat, maka hal itu bukanlah perkara haram, sebagaimana bangkai.

Pihak pertama menyampaikan sanggahan, dimana berobat dengan barang najis dilarang, sebagaimana berobat dengan khamr yang najis, dimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda mengenai khamr, bahwa seusungguhnya ia bukanlah obat, melainkan penyakit. (Riwayat Muslim)

Pihak kedua menjawab, bahwasannya hadits di atas berlaku khusus bagi khamr, mengqiyaskan khamar dengan barang najis yang lain merupakan qiyas ma’a al fariq. Karena ada perbedaan hukum antara khamr dan barang najis yang lain, dimana mengkonsumsi khamar secara sengaja dikenakan hukuman hadd, berbeda dengan mengkunsumsi barang najis lainnya, mengkunsumsi khamr menimbulkan berbagai kerusakan, berbeda dengan mengkonsumsi barang najis lainnya, sedangkan syariat menafikan adanya kesembuhan dalam khamar, namun syariat mengakui adanya kesembuhan dalam air seni onta. (Lihat, Fath Al Bari (1/339))

Hukum Berobat dengan Air Seni Onta

Setelah melihat bagaimana para ulama berargumen mengenai hadits Al Uraniyun di atas, serta kesimpulan mereka terhadap hadits tersebut, kita bisa beranjak ke hukum mengkonsumsi air seni onta dalam rangka dijadikan sebagai obat.

Dari paparan di atas, diketahui bahwasannya pihak yang menyatakan bahwa air seni onta najis, membolehkan berobat dengan air seni onta dengan syarat bahwa itu dilakukan dalam kondisi darurat. Adapun di luar itu tidak dibolehkan, karena air seni onta najis.

Adapun pihak lain yang menyatakan bahwa air seni onta adalah suci, tidak serta-merta membolehkan untuk mengkonsumsi air seni onta secara mutlak. Ibnu Taimiyah berkata,”Dan pihak yang berpendapat bahwa air seni onta suci berselisih mengenai hukum mengkonsumsinya tidak dalam keadaaan darurat. Dalam hal ini adalah dua riwayat (dari Imam Ahmad, yang membolehkan dan melarang), juga dikarenakan ia mengandung kotoran, sebagaimana ludah, ingus, mani dan selainnya”. (Mukhtashar Al Fatawa Al Mishriyyah, hal. 25)

Jika Tidak Darurat, Mayoritas  Ulama Larang Konsumsi Air Seni Onta 

Dari paparan di atas, bahwasannya mengkonsumsi air seni onta untuk berobat dalam kondisi darurat, tidak ada obat lain selain mengkonsumsinya, maka hal itu dibolehkan menurut seluruh pihak, baik yang berpendapat air seni onta najis atau suci.

Sedangkan mengkonsumsinya dalam kondisi di luar darurat, mereka yang berpendapat bahwa air seni onta najis mengharamkan. Adapun mereka yang berpendapat bahwa air seni onta suci berselisih, satu pihak melarang karena mengandung hal-hal yang kotor meski suci, satu pihak membolehkan. Walhasil, mayoritas ulama melarang mengkonsumsi air seni onta dalam kondisi tidak dalam keadaan darurat. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam…

The post Hukum Mengkonsumsi Air Seni Onta Menurut Ulama Berbagai Madzhab appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
133004
Menyikapi Hadits Dhaif dan Maudhu’ Ihya Ulumiddin Secara Proporsional http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/12/01/129414/menyikapi-hadits-dhaif-dan-maudhu-ihya-ulumiddin-secara-proporsional.html Fri, 01 Dec 2017 12:21:47 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=129414

TIDAK bisa dipungkiri bahwa beberapa ulama mengkritik kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghazali, salah satunya adalah kritik seputar hadits-hadits […]

The post Menyikapi Hadits Dhaif dan Maudhu’ Ihya Ulumiddin Secara Proporsional appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

TIDAK bisa dipungkiri bahwa beberapa ulama mengkritik kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghazali, salah satunya adalah kritik seputar hadits-hadits yang termaktub dalam kitab masyhur tersebut. Diantara para pengkritik adalah adalah Al Hafidz Ibnu Al Jauzi yang menyatakan dalam kitab Al Ihya’ penuh dengan hadits-hadits maudhu’. (lihat, Talbis Iblis, hal. 160)

Selain Ibnu Al Jauzi, ada Abu Walid Ath Thurthusi menyatakan bahwa Imam Al Ghazali memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits maudhu’at. Hal yang hampir sama dikatakan oleh Al Maziri (Lihat, Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra, 6/241, 243).

Jika menurut dua ulama di atas, bisa disimpulkan bahwa kitab Al Ihya dipenuhi dengan hadits-hadits maudhu’.

Takhrij As Subki

Namun selain para ulama di atas, ada pula para ulama yang melakukan kajian mendalam terhadap hadits-hadits Al Ihya, seperti At Taj As Subki. As Subki mengumpulkan ada lebih dari 900 hadits yang ia belum menemukan sanadnya (lihat, Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra 6/287-389)

Jumlah hadits yang terdapat dalam Al Ihya cukup banyak, yakni 4848 hadits berdasarkan Tartib Ahadits Al Ihya, karya Syeikh Mahmud Said Mamduh. Jika demikian hadits yang belum ditemukan isnadnya oleh Imam At Taj As Subki hanya seperlima dari jumlah keseluruhan hadits di Al Ihya. Dan hadits-hadits yang belum ditemukan isnadnya oleh As Subki tidak otomatis bahwa hadits-hadits itu tidak bersanad, hanya saja As Subki belum menemukannya. Hal ini menunjukkan bahwa takhrij yang dilakukan As Subki belumlah final, karena takhrij setelahnya menunjuukan bahwa hadits-hadits itu memiliki sanad.

Takhrij Al Iraqi

Selain As Subki Ulama yang juga telah melakukan kajuan khusus terhadap hadits-hadits Al Ihya’ adalah Al Hafidz Al Iraqi. Dalam muqadimahnya takhrijnya, Al Iraqi menyatakan bahwa ia sengaja mengakhirkan penyelesaian kitab takhrijnya tahun 751 H, dikarenakan banyak hadits-hadits yang belum ia temukanan sanadnya. Namun setelah itu ia banyak menemukan isnad bagi hadits-hadits yang sebelumnya belum ia temukan isnadnya. Maka pada tahun 760 H ia pun menyelesaikannya. (lihat, muqaddimah Mughfi An Haml Al Asfar fi Takhrij Ma fi Al Ihya Min Al Akhbar, 1/3)

Mengenai takhrij Al Iraqi, Syeikh Abdul Qadir Al Aidrus Ba’alwi ketika menjawab kritikan mengenai adanya hadits maudhu dan dhaif dalam Al Ihya menyatakan,”Walhasil, jawaban untuk hal itu baik dari Imam Al Ghazali maupun salah satu pengagumnya Al Hafidz Al Iraqi, bahwa sebagain besar yang disebutkan Al Ghazali bukan hadits maudhu’, hal itu terbukti dari takhrijnya. Dan ia bukan sebagian besar, dan sangat sedikit.” (Ta’rif Al Ahya’ fi Fadhail Al Ihya’ disertakan dalam jilid awal Ihya Ulumiddin, 1/365)

Takhrij Az Zabidi

Kemudian datanglah Al Hafidz Al Murtadha Az Zabidi yang mensyarah Ihya’ Ulumiddin dengan nama Ithaf As Sadah Al Muttaqin fi Syarh Ihya Ulumiddin. Al Murtadha Az Zabidi dalam mensyarh Al Ihya’ juga melakukan melakukan takhrij hadits-haditsnya dan ia pun mengomentari takhrij yang telah dilakukan Al Hafidz Al Iraqi.

Az Zabidi berkata,”Sesungguhnya (Hadits-hadits) yang telah disebutkan oleh penulis (Al Ghazali), derajatnya seputar muttafaq alaihi, juga termasuk  yang shahih dan hasan serta pembagian dari keduanya dan di dalamnya terdapat dhaif, syadz, munkar, serta maudhu dengan jumlah yang sedikit, sebagaimana engkau akan menemuinya insyaallah.” (Ithaf As Sadah Al Muttaqin, 20/1)

Mengenai takhrij Az Zabidi ini, Dr. Usamah Sayyid Al Azhari, seorang ulama hadits Al Azhar menyampaikan,”Dan ia tidak meninggalkan satu hadits pun dalam Al Ihya’, kecuali ia jabarkan takhrijnya, dia adalah dia, ia adalah ayat Allah yang agung dalam masalah ilal, thuruq, dan pengetahuan mengenai sumber hadits dan ia seorang penghafal dalam sanad-sanad. Sampai Syeikh Al Islam Al Hafidz At Taj As Subki membuat pembahasan khusus dalam thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra sebuah pasal yang menyatakan,’Ini adalah pasal mengenai hadits-hadits Al Ihya’ yang aku belum menemukan sanadnya.’ Maka Anda mendapati bahwa Al Imam Al Murtadha Az Zabidi telah menemukan hadits-hadits itu memiliki sanad dan memiliki asal dan ia menghukuminya dan menunjukkan takhrijnya.” (Al Hadits wa Al Muhadditsun fi Al Azhar Asy Syarif, hal. 37)

Jika demikian, perkataan yang diambil mengenai status hadits-hadits dalam Al Ihya, adalah para ulama yang telah melakukan kajian takhrij secara khusus terhadap hadits-hadits Al Ihya, yakni As Subki, Al Iraqi dan Al Murtadah Az Zabidi, dan hasilnya Al Iraqi dan Al Murtadha Az Zabidi membuktikan bahwa hadits maudhu’ dalam Al Ihya sangatlah sedikit.

Hadits Dhaif dalam Al Ihya

Adapun mengenai hadits dhaif dalam Al Ihya, Al Murtadha Az Zabidi berkata,”Adapun mengenai hadits-hadits yang tidak shahih, maka tidak boleh diingkari dalam penyebutannya, dikeranakan hal itu dibolehkan dalam masalah tarhib wa targhib (ancaman dan motivasi).” (Ithaf As Sadah Al Muttaqin, 20/1)

Demikian juga jawaban yang disampaikan oleh Syeikh Abdul Qadir Al Aidrus Ba’alwi,”Adapun yang dikritik terhadapnya, bahwasannya Imam Al Ghazali menyebut banyak hadits dhaif, maka kritikan itu gugur karena telah ditetapkan bahwa dhaif dipakai dalam fadhail dan kitabnya berkenaan dengan raqa`iq (masalah adab dan akhlak) yang merupakan bagian dari fadhail.” (Ta’rif Al Ahya fi Fadhail Al Ihya’, 1/ 363)

Walhasil, sangat tidak proporsional mencacati kitab yang dipuji oleh banyak ulama ini dan menyeru manusia untuk meninggalkannya karena terdapat hadits maudhu di dalamnya. Hal itu tidak bisa diterima kerena jumlah hadits maudhu’ sangat sedikit, dan itu telah diperingatkan oleh para ulama pentakhrij hadits Al Ihya’.

Hadits Maudhu’ di Luar Al Ihya`

Sebenarnya tidak hanya kitab Al Ihya yang mengandung hadits-hadits maudhu’, bahkan kitab para huffadz juga terdapat hadits maudhu’, diantaranya adalah kitab-kitab Ibnu Al Jauzi sendiri, semisal Dzam Al Hawa dan Tablis Iblis. Dimana dalam hal ini Al Hafidz As Sakhawi berkata,”Dan banyak dilakukan oleh Ibnu Al Jauzi dalam karya-karyanya yang bersifat nasihat dan sejenisnya dengan menyebutkan hadits-hadits maudhu’ dan sejenisnya.” (Syarh Al Alfiyah, hal. 107)

Demikian pula yang terjadi kepada Al Hafidz Adz Dzahabi dalam kitabnya Al Kabair yang juga menyebut hadits-hadits maudhu’, sebagaimana disebutkan Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam komentarnya terhadap Al Ajwibah Al Fadhilah. (Al Ajwibah Al Fadhalah, hal. 119, 120)

Bahkan dalam kitab-kitab Ibnu Qayyim Al Jauziyah sendiri terdapat hadits-hadits dhaif dan munkar seperti yang terdapat dalam Madarij As Salikin dan Zad Al Ma’ad, sebagaimana disampaikan oleh Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam komentarnya terhadap Al Ajwibah Al Fadhulilah (Al Ajwibah Al Fadhilah, hal. 130-132)

Tentu, sangat tidak bijak jika harus meninggalkan kitab-kitab para ulama tersebut, dikarenakan terdapat hadits dhaif dan madhu’, lebih-lebih jika para ulama sudah menyampaikan perihal hadits-hadits maudhu dalam kitab-kitab tersebut. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam

 

 

 

 

The post Menyikapi Hadits Dhaif dan Maudhu’ Ihya Ulumiddin Secara Proporsional appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
129414
Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/10/27/126577/teladan-empat-madzhab-dalam-toleransi.html Thu, 26 Oct 2017 20:10:24 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126577

ULAMA empat madzhab adalah para figur yang mengedepankan kesatuan pendapat, dan tidak egois dengan pendapatnya. Meski memiliki pandapat sendiri dalam […]

The post Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

ULAMA empat madzhab adalah para figur yang mengedepankan kesatuan pendapat, dan tidak egois dengan pendapatnya. Meski memiliki pandapat sendiri dalam madzhab, namun masing-masing madzhab selalu melihat pendapat madzhab lain, dan melakukan upaya untuk  meminimalisir perbedaan, yang biasa disebut muru`atul khilaf, dimana masing-masing madzhab bersepakat bahwa keluar dari ranah khilaf merupakan perkara yang mustahab.

Demikian, beberapa contoh, upaya masing-masing madzhab untuk meminimalisir perbedaan dengan madzhab lain di beberapa masalah.

Madzhab Hanafi

Membaca surat Al Fatihah dalam madzhab Hanafi bukanlah bagian dari rukun yang harus dikerjakan, namun ulama madzhab Hanafi memotivasi agar pengikutnya membaca surat Al Fatihah saat shalat jenazah. Tertulis dalam kitab fiqih Al Hanafi ,Maraqi Al Falah,”….dan boleh membaca Al Fatihah dengan tujuan memberikan pujian, demikian hal ini telah dinashkan bagi madzhab kita, dan di Al Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa ia menshalatkan janazah lalu membaca Al Fatihah dan berkata,’Agar mereka mengetahui bahwa hal itu sunnah.’ Dan hadits itu dishahihkan oleh At Tirmidzi. Dan para imam kita berkata bahwa memperhatikan perkara khilaf mustahab, sedangkan hal itu (membaca Al Fatihah) fardhu menurut Asy Syafi’I Rahimahullah Ta’ala, maka tidak mengapa membacanya dengan tujuan membaca Al Qur`an untuk keluar dari khilaf.” (Maraqi Al Falah, hal. 227)

Dalam madzhab Hanafi tidak diwajibkan wudhu bagi siapa yang mengusung jenazah. Namun Imam Ahmad berpendapat wajib berwudhu bagi siapa yang telah mengusung jenazah, maka dalam hal ini Ath Thahthawi berkata,”Maka disunnahkan wudhu, untuk keluar dari khilaf, juga untuk mengamalkan hadits.” (Hasyiyah ATh Thahthawi, 1/55)

Madzhab Maliki

Bagi madzhab Maliki, membaca basmalah sebelum Al  Fatihah adalah perkara yang mubah, dan shalatnya sah, sedangkan bagi madzhab Asy Syafi’i, tidak sah shalat jika tidak membacanya, karena itu bagian dari Al Fatihah. An Nafrawi pun berkata,”Yang disepakati lebih baik daripada yang tidak disepakati, telah berkata Imam Al Qarrafi (Maliki), dan Ibnu Rusyd (Maliki) dan Al Ghazali bahwa bagian dari kehati-hatian keluar dari khilaf dengan membaca basmalah dalam shalat.” (Al Fawaqih Ad Dawani, hal. 409)

Madzhab Syafi’i

Dalam madzhab  Syafi’i tidak diperlukan niat bagi siapa yang memandikan jenazah. Namun, mustahab untuk meniatkannya, dalam rangka keluar dari khilaf, dikarenakan Imam Malik mewajibkan niat bagi yang memandikan jenazah. (lihat, Tuhfah Al Habib, 2/516)

Meski dalam madzhab Asy Syafi’i dinyatakan sah shalat sendiri di belakang shaf, namun disunnahkan menarik seseorang dari shaf depan untuk shalat bersamanya di belakang. Hal itu dikarenakan Imam Ahmad menilai bahwa shalat sendirian di belakang shaf tidak sah. (Hasyiyah Al Bujairimi, 1/322)

Dalam madzhab Asy Syafi’i i’tikaf sah dilakukan di masjid meski bukan masjid jami’, namun Imam Asy Syriazi berkata,”Dan lebih utama beri’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah beri’tikaf kecuali di masjid jami’, juga karena di masjid jami’ lebih banyak jama’ah shalatnya, juga dalam rangka keluar dari khilaf, dimana Az Zuhri menyatakan tidak boleh i’tikaf kecuali di masjid jami’.” (Al Majmu’, 6/504)

Meskipun dalam madzab Asy Syafi’i sah melakukan i’tikaf kurang dari satu hari, namun Imam Asy Syafi’i berkata,”Lebih utama, ia tidak kurang dari satu hari, karena tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shallallahu Alihi Wasallam dan para sahabatnya bahwasannya mereka beri’tikaf kurang dari satu hari dan dalam rangka keluar dari khilaf Abu Hanifah dan lainnya yang mensyarakan i’tikaf satu hari atau lebih.” (Al Majmu’, 6/513)

Madzhab Hanbali

Takbir dalam shalat jenazah diriwayatkan dari Imam Ahmad beberapa riwayat, yang menunjukkan jumlah takbir lebih dari empat takbir, namun Ibnu Qudamah mengatakan,”Lebih utama tidak lebih dari empat, karena hal itu keluar dari khilaf, dan mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa takbir empat kali.” Diantara ulama yang berpendapat takbir empat kali adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i (Asy Syarh Al Kabir, 2/352).

Apa yang disebutkan hanya merupakan beberapa contoh dari upaya keluar dari khilaf, dan masih ada ratusan masalah lainnya, yang tertulis dalam kitab-kitab fiqih empat madzhab. Tentu hal ini menjadi bukti bahwa madzhab empat, meski berbeda pendapat namun tetap toleransi terhadap madzhab lain. Jika demikian, klaim bahwa adanya madzhab merupakan sumber perpecahan juga tidak benar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

The post Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
126577
Hadits Dhaif untuk Dzikir dan Doa dalam Praktik Madzhab Empat http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/10/11/125417/hadits-dhaif-untuk-dzikir-dan-doa-dalam-praktik-madzhab-empat.html Tue, 10 Oct 2017 17:53:59 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125417

SEBELUMNYA telah dibahas mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif untuk doa maupun dzikir, berdasarkan pernyataan para ulama, baik fuqaha dan muhadditsun. […]

The post Hadits Dhaif untuk Dzikir dan Doa dalam Praktik Madzhab Empat appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SEBELUMNYA telah dibahas mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif untuk doa maupun dzikir, berdasarkan pernyataan para ulama, baik fuqaha dan muhadditsun. Dalam tulisan kali ini, pambahasan masih seputar penggunaan hadits dhaif dalam dzikir dan doa dalam tatanan praktik empat madzhab.

Madzhab Hanafi
Dalam madzhab Hanafi penggunaan hadits dhaif yang berkenaan dengan dzikir dan doa merupakan hal yang dibolehkan. Contoh beberapa masalah dalam hal ini, yakni masalah doa ketika membasuh anggota wudhu. Al Hashkafi berkata,”Doa warid dalam hal itu, yakni dalam setiap membasuh anggota wudhu, telah diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya dari Nabi Shallahahu Alaihi Wasallam melalaui beberapa jalan. Telah berkata al muhaqqiq Ar Ramli Asy Syafi’i,’hadits itu diamalkan dalam fadha’il a’mal meski An Nawawi mengingkarinya’”. (Syarh Al Hashkafi, 1/127)

Demikian halnya dalam hal membaca surat Al Qadr setelah wudhu, Al Hafidz Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits mengenai hal itu tidak tsabit dari Nabi Shallalalhui Alaihi Wasallam, baik dari perkataannya maupun perbuatannya, namun para ulama mentoleransi dengan menyebutkan hadits dhaif dalam mengemalkannya dalam fadhail a’mal. (lihat, Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/131)

Demikian pula doa dan dzikir setelah iqamah shalat “aqamahallah wa adamaha” (semoga Allah menegakkan shalat dan mengekalkannya), dimana para ulama melafdzkan hal itu meski haditsnya diketahui dhaif. (lihat, Hasyiyah Ath Thahawi, 2/198)

Madzhab Maliki
Masalah shalawat di permulaan perkataan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Setiap perkataan yang tidak disebutkan nama Allah di dalamnya , hingga diawali dengannya dan juga dengan shalawat kepadaku, maka ia terputus dari segala bentuk keberkahan.”

Hadits tersebut dihukumi dhaif isnadnya oleh Al Hafidz As Sakhawi. Namun Al Haththab berkata,”Meski ia dhaif, telah bersepakat ulama mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhaif dalam fadhail a`mal”. (Mawahib Al Jalil, 1/25)

Madzhab Syafi’i
Dalam madhab Asy Syafi’i, para ulamanya membolehkan pengamalan doa dan dzikir meski berasal dari hadits dhaif. Sebagai contoh dalam masalah ini, menjawab iqamah dengan “aqamaha Allah wa adamaha” (semoga Allah terus menjadikan malan shalat tegak dan mengekalkannya). Imam An Nawawi berkata mengenai hadits ini,”Walai bagaimana pun ia merupakan hadits dhaif, akan tetapi hadits dhaif diamalkan dalam fadhail a`mal berdasarkan kesepakatan ulama , dan hadits ini termasuk dalam hal ini”. (Al Majmu’, 3/226)

Demikian pula mengenai doa ketika membasuh anggota wudhu, diriwayatkan dari nabi melalaui beberapa jalan dalam Tarikh Ibnu Hibban dan lainnya. Kemudian Al Mahalli berkata bahwa meski hadits itu dhaif, ia tetap diamalkan dalam fadhail. (Syarh Al Mahalli Ala Al Minhaj, 1/64).

Dalam masalah doa ketika thawaf, Ibnu Hajar Al Haitami menyatakan bahwa untuk doa yang ma’tsur dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, tidak ada bedanya antara yang shahih sanadnya dengan yang tidak, karena hadits dhaif, mursal dan mungqathi’ diamalkan dalam fadhail al a’mal sesuai kesepakatan. (lihat, Fatawa Ibni Hajar, 2/54)

Mengenai hukum membaca bismilah sebelum berwudhu, Ibnu Al Mundzir menyatakan bahwa tidak ada khabar shahih yang menunjukkan bahwa wudhu batal jika tanpa tasmiyah. Namun Ibnu Mundzir berkata,”Namun lebih utama mengucapkan bismillah bagi siapa yang hendak wudhu dan mandi dalam rangka kehati-hatian, dan tidak mengapa bagi yang meniggalkannya. (Al Ausath, 1/368)

Madzhab Hanbali
Dalam madzhab Al Hanbali ada beberapa perkara yang sama dalam madzhab lainnya, seperti masalah doa ketika membasuh anggota wudhu, meski haditsnya dhaif, namun tetap dipakai karena berkanaan dengan fadhail a’mal. (lihat, Mathalib Uli An Nuha, 1/122)

Demikian pula dengan tasmiyah wudhu’, dimana Abdullah bertanya kepada ayahnya Imam Ahmad mengenai hadits Abu Sa’id,”Tidak berwudhu bagi siapa yang tidak menyebut nama Allah atasnya”. Maka Imam Ahmad pun menjawab,”Hadits itu tidak tsabit bagiku, namun aku lebih suka mengucapkannya.” (Masa’il Abdullah li Abihi, 1/89)

Dengan demikian, dalam praktik empat madzhab, doa dan dzikir meski berasal dari hadits dhaif, ia tidak diabaikan begitu saja, namun ia tetap dipakai, karena masih dalam koridor fadhail a’mal. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

The post Hadits Dhaif untuk Dzikir dan Doa dalam Praktik Madzhab Empat appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
125417
Doa Dengan Hadits Dhaif, Boleh? http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/08/12/121345/doa-dengan-hadits-dhaif-boleh.html Sat, 12 Aug 2017 13:44:59 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=121345

AMAT banyak  hadits-hadits yang dibukukan oleh para huffadz hadits yang di dalamnya berisi doa-doa dan dzikir, baik derajatnya shahih, hasan, maupun […]

The post Doa Dengan Hadits Dhaif, Boleh? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

AMAT banyak  hadits-hadits yang dibukukan oleh para huffadz hadits yang di dalamnya berisi doa-doa dan dzikir, baik derajatnya shahih, hasan, maupun dhaif. Memang tidak bisa dipungkiri ada sebagian dari saudara muslim menolak mengamalkan doa-doa dan dzikir yang derajatnya dhaif, bahkan menyeru untuk meninggalkannya

Tindakan demikian, tentu mengundang respon pihak lain dan mengundang polemik di tengah umat. Sehingga perlu dicari duduk permasalahannya dalam masalah ini, yakni apa hukumnya menggunakan dzikir dan doa dari hadits-hadits yang derajatnya dhaif, tentunya dari para ulama mu’tabar.

Pendapat Imam Al Baihaqi

Sebenarnya, jauh-jauh para ulama sudah membahas persoalan ini. Adalah Al Hafidz Al Mujtahid Al Imam Al Baihaqi telah menyampaikan Imam Al Baihaqi setelah menjelaskan tingkatan derajat hadits yang disepakati kedhaifannya oleh para ulama ahlul hadits, yakni dimana perawinya tidak termasuk yang dituduh sebagai pemalsu hadits, akan tetapi dikenal buruk hafalannya dan banyak kesalahan dalam periwayatannya, atau majhul yang tidak diketahui adalahnya serta syarat-syarat diterimannya khabar darinya, ia berkata,”Maka hadits dalam kategori ini tidak dipakai dalam hukum-hukum sebagimana kesaksiannya ditolak oleh pemerintah. Namun terkadang dipakai (haditsnya-pent) yang mengenai doa-doa, motifasi, ancaman, tafsir dan riwayat peperangan yang tidak berhubungan dengan hukum-hukum.”  (Lihat, Dalail An Nubuwwah, 1/32-37)

Pendapat Imam An Nawawi

Demikian juga Imam An Nawawi, setelah menyampaikan hadits Umamah Al Bahili, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam setelah meletakkan jenazah Ummu Kultsum dalam kubur, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengucapkan, yang artinya, ”Darinya Kami menciptakan kalian. Dan kepadanya Kami mengembalikan kalian. Dan darinya Kami mengeluarkan kalian kembali.”

Kemudian Imam An Nawawi berkata,”Telah meriwayatkannya Ahmad dari Ubaidullah bin Zahr dari Ali bin Zaid bi Jad`an dari Al Qasim, dan ketiganya merupakan para perawi dhaif. Akan tetapi hadits-hadits fadhail tidak ditinggalkan, meskipun isnadnya dhaif. Dan hadits ini adalah salah satunya. (Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/293,294)

Bisa diambil kesimpulan bahwa dzikir yang diucapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saat meletakkan jenazah Ummu Kultsum meski datang dengan sanad dhaif, namun tidak ditinggalkan, karena ia merupakan bagian  fadhail a`mal.

Pendapat Ibnu Rajab Al Hanbali

Al Hafidz Ibnu Rajab pengikut madzhab Imam Ahmad pun memiliki pendapat selaras. Setelah menyampaikan hadits dari Anas Radhiyallahu An’hu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam jika memasuki bulan Rajab berkata, yang artinya,” Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Al Hafidz memberi komentشr terhadap hadits ini,”Diriwayatkan dari Abu Isma’il Al Anshari bahwasannya ia berkata,’Tidak shahih keutamaan Rajab, kecuali hadits ini.’ Perkataannya perlu dikaji, karena isnad ini terdapat perawi dhaif.”

Kemudian Al Hafidz Ibnu Rajab berkata,”Dalam hadits ini dalil mengenai (istihbab) kesunnahan doa agar disampaikan pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan, agar bisa melakukan amalan-amalan shalih di dalamnya…” (Lathai’if Al Ma’arif, hal. 239)

Al Hafidz Ibnu Rajab meski telah menegaskan bahwa sanadnya dhaif, namun menyatakan terang-terangan bahwa hadits itu bisa dijadikan dalil mengenai doa-doa agar disampaikan kepada waktu-waktu yang memiliki keutamaan. Sehingga jika seorang berdoa dengan hadits tersebut tidak bermasalah meski dhaif, tidak masalah, ia mengandung permintaan untuk disampikan pada waktu-waktu yang mengandung keutamaan.

Pernyataan di atas adalah perkataan para ulama mu’tabar mengenai bolehnya pengamalan doa-doa dari hadits.

Doa Bagian dari Fadhail A’mal yang Boleh Gunakan Hadits Dhaif

Dan perlu diketahui bahwasannya doa adalah bagian dari fadhai’il al a’mal sebagaimana dipaparkan Imam An Nawawi sebelumnya, yang mana para ulama menyatahkan bolehnya menggunakan hadits dalam hal ini, meski dhaif.

Adalah Syeikh Abu Muhammad Al Maqdisi telah berkata,”Tidak mengapa dengan hal itu (yakni shalat tasbih), sesungguhnya dalam fadhail tidak disyaratkan shahihnya khabar.” (Al Ihtiyarat Al Ilmiyyah li Ibni Taimiyyah, hal. 100)

Demikian juga yang disampaikan Ibnu Qudamah, salah satu ulama besar dalam madzhab Hanbali,”Amalan-amalan nafilah dan fadhai’il tidak disyaratkan padanya keshahihan hadits.” (Al Mughni, 1/1044).

Imam An Nawawi menyatakan,”Dan telah bersepakat para ulama bahwa mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhaif dalam fadha’il al a’mal.” (Al Arba’un An Nawawiyah, hal. 3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki.  (lihat, Fathu Al Mubin, hal. 32)

Ijma’ bolehnya penggunaan hadits dhaif dalam fadha’il juga ikut ditegaskan oleh Al Allamah Ali Al Qari Al Hanafi, ”Hadits dhaif digunakan untuk fadhail a’mal sesuai kesepakatan.” (lihat, Al Maudhu’at,hal.73).

Demikian juga diikuti pendapat ini diikuti  oleh Imam Imam Al Laknawi Al Hanafi. (lihat, Ajwibah Al Fadhilah, hal. 37)

Sedangkan untuk ulama hadits mu’ashirin  Syeikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari berkata,”Para huffadz hadits sepakat mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif dalam fadha’il a’mal. (lihat, Al Qaul Al Muqni’, hal.2,3).

Adapun pendapat yang menyatakan bahwasannya Imam Al Bukhari, Yahya bin Ma’in, Muslim dan Ibnu Al Arabi menolak hadits dhaif secara mutlak adalah pendapat yang lemah setelah ditahqiq (silahkan baca Jangan Remehkan Hadits Dhaif).

Dengan demikian, doa dan dzikir menggunakan hadits dhaif adalah perkara yang dibolehkan menurut para ulama mu’tabar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

 

 

The post Doa Dengan Hadits Dhaif, Boleh? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
121345
Guna Hadits Dhaif Menurut Ulama Salaf dan Khalaf http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/07/14/119853/penggunaan-hadits-dhaif-oleh-ulama-salaf-dan-khalaf.html Fri, 14 Jul 2017 16:33:58 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119853

TIDAK bisa dipungkiri bahwa ada sebagian pihak dari umat Islam di masa kontemporer ini yang menolak hadits dhaif secara mutlak, […]

The post Guna Hadits Dhaif Menurut Ulama Salaf dan Khalaf appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

TIDAK bisa dipungkiri bahwa ada sebagian pihak dari umat Islam di masa kontemporer ini yang menolak hadits dhaif secara mutlak, dan menyeru untuk meninggalkannya sajauh-jauhnya. Namun kalau kita melihat pendapat para ulama mu’tabar baik salaf maupun khalaf, hadits dhaif tidak dibuang begitu saja, mereka tetap menggunakannya dalam banyak hal, baik dalam hukum maupun lainnya.

Berikut ini beberapa perkara, yang mana para ulama besar menggunakan hadits dhaif dan mereka pun mengerti bahwa hadits yang digunakan adalah hadits dhaif:

  1. Gunakan hadits dhaif, jika tidak ada hadits shahih dalam masalah.

Dalam hal ini, Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan metode Imam Abu Dawud dimana ia mengeluarkan dalam As Sunan beberapa tingkatan hadits, pertama shahih, kemudian hasan lidzatihi, kemudian hasan lighairihi serta dhaif, kemudian Ibnu Hajar berkata,”Dan setiap dari pembagian ini bisa digunakan sebagai hujjah menurutnya (Abu Dawud-pent). Sebagaimana dinukil Ibnu Mandah darinya, bahwa ia mengeluarkan hadits dhaif jika ia tidak menemui dalam bab selain darinya. Dan baginya itu lebih kuat daripada ra’yu rijal (pendapat qiyas manusia-pent).”

Dan kemudian Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa mengamalkan hadits dhaif adalah madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. (An Nukat `Ala Ibnu Shalah, 1/345)

  1. Amalkan hadits dhaif jika ahlul ilmi menerimanya.

Al Hafidz As Sakhawi berkata,”Demikian juga jika ummat menerima hadits dhaif, maka ia diamalkan menurut pendapat shahih. Hingga ia sederajat dengan hadits mutawatir yang menaskh (nash-pent) qath`i. Oleh karena itu Asy Syafi’i rahimahullah Ta’ala berkata mengenai hadits “la washiyah li warits”, bahwa para ahlul hadits tidak menshahihkannya, akan tetapi umat menerimanya, dan mereka mengamalkannya sampai mereka menjadikan hadits itu nasikh bagi ayat-ayat washiyat.” (Fath Al Mughits, hal. 120-121)

Demikian pula Ibnu Al Qayyim berkata mengenai hadits talqin mayyit,”Hadits ini, maski ia tidak tsabit maka terus-menerus pengamalannya di seluruh negeri dan setiap masa tanpa ada pengingkaran, cukup untuk manjadikannya sebagai pijakan amal.” (Ar Ruh, hal. 14)

  1. Hadits mursal diamalkan jika ia dikuatkan dengan pendapat sahabat.

Hadits mursal bagian dari hadits dhaif, dimana ia merupakan hadits yang sanadnya terputus, yakni tatkala tabi’in meriwayatkan hadits langsung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tanpa menyebutkan sahabat dalam periwayatannya, padahal tabi’in tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Namun mursal diamalkan jika sejalan dengan pendapat sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Hal ini merupakan metode Imam Asy Syafi’i dalam menerima hadits mursal. Imam Al Bulqini berkata,”Sekelompok ulama menyampaikan dari Asy Syafi’i rahimahullah, bahwa ia berhujjah dengan mursal jika datang hadits musnad atau hadit yang diriwayatkan secara mursal dari jalan lain, atau ia dikuatkan oleh qiyas, atau perkataan sahabat atau perbuatan sahabat.” (Al Mahasin Al Ishthilah, hal. 138)

Namun bagi Imam Ahmad hadits mursal dijadikan hujjah secara mutlak, sebagaimana dinyatakan Ibnu Qayyim Al Jauziyah. (I’lam Al Muwaqqi’in, 1/25)

Demikian pula yang berlaku bagi Imam Maliki dan madzhabnya, bahwa hadits mursal merupakan hujjah secara mutlak.

  1. Hadits mursal diamalkan jika, para mayoritas ahlul ilmu berfatwa dengannya.

Metode ini merupakan metode Imam Asy Syafi’i dalam menerima hadits mursal. Mursal diterima jika mayoritas ahlul ilmi berfatwa dengannya. Hal ini disampaikan Imam Asy Syafi’i dalam Ar Risalah. (lihat, Ar Risalah, hal. 463)

  1. Mengamalkan hadits mursal jika dikuatkan oleh qiyas.

Hal ini sebagaimana disampaikan sebelumnya, bahwa Imam Asy Syafi’i menerima hadits mursal jika ia dikuatkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah jika ia dikuatkan oleh qiyas. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Al Bulqini sebelumnya.

  1. Menggunakan hadits dhaif dalam tafsir.

Imam Al Baihaqi setelah menjelaskan tingkatan derajat hadits yang disepakati kedhaifannya oleh para ulama ahlul hadits, yakni dimana perawinya tidak termasuk yang dituduh sebagai pemalsu hadits, akan tetapi dikenal buruk hafalannya dan banyak kesalahan dalam periwayatannya, atau majhul yang tidak diketahui adalahnya serta syarat-syarat diterimannya khabar darinya, ia berkata,”Maka hadits dalam kategori ini tidak dipakai dalam hukum-hukum sebagimana kesaksiannya ditolak oleh pemerintah. Namun terkadang dipakai (haditsnya-pent) yang mengenai doa-doa, motifasi, ancaman, tafsir dan riwayat peperangan yang tidak berhubungan dengan hukum-hukum.”

Imam Al Baihaqi juga menukil dari Yahya bin Sa’d bin Al Qaththan,”Mereka memperlonggar mengambil tafsir dari kaum yang mana mereka tidak menilai bahwa mereka itu tsiqah dalam hadits. (Lihat, Dalail An Nubuwwah, 1/32-37)

  1. Menggunakan hadits dhaif untuk fadhail a’mal

Bolehnya menggunakan hadits dhaif untuk fadhail a’mal mrupakan perkara yang disepakati ulama, sebagaimana disebut oleh Imam An Nawawi dalam muqaddimah Al Arbaun-nya, kemudian ditegaskan kembali oleh Ibnu Hajar Al Haitami, Ali Al Qari Al Hanafi, juga Imam Al Laknawi Al Hanafi serta Syeikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari. Adapun pernyataan bahwa Imam Al Bukhari, Imam Muslim, Yahya bin Ma`in serta Ibnu Al Arabi menolak hadits dhaif secara mutlak adalah pendapat lemah setelah ditahqiq, karena para ulama panutan di atas juga menggunakan hadits dhaif dalam hujjah. Lebih lengkapnya, baca Jangan Remehkan Hadits Dhaif.

  1. Menggunakan hadits dhaif untuk kehati-hatian (al akhtiyat)

Imam An Nawawi berkata,”Adapun hukum-hukum seperti halal dan haram, jula beli, nilah dan thalak dan selainnya, maka tidak diamalkan di dalamnya kecuali hadits shahih dan hasan, kecuali dalam rangka kehati-hatian dalam masalah itu, sebagaimana adanya hadits dhaif mengenai makruhnya sejumlah jual beli dan pernikahah, maka mustahab menghindarinya, akan tetapi hal itu tidak wajib.” (Al Adzkar, hal. 5,6)

  1. Menggunakan hadits dalam targhib wa tarhib

Hadits dhaif digunakan para ulama dalam masalah targhib wa tarhib, yakni memotifasi melakukan kebaikan dan menakut-nakuti dalam perbuatan maksiat. Al Khatib meriwayatkan dari Abu Bakr Al Anbari,”Khabar jika sampai kepada kita sedangkan  ia tidak mengharamkan yang halal, atau menghalalkan yang haram, dan tidak mewajibkan hukum namun ia memberi motifasi dan ancaman, atau mengetatkan atau melonggarkan wajib untuk membiarkannya dan mempermudah dalam periwayatannya.” (Al Kifayah, hal. 213)

Hal inilah yang dilakukan oleh Al Hafidz Zakiyuddin Abdul Adzim Al Mundziri, dimana beliau mencampurkan dalam At Targhib wa At Tarhib hadits shahih, hasan dan dhaif. Beliau tentu mampu menghindari hadits-hadits dhaif dalam kitabnya, kalau beliau mau, tapi hal itu tidak dilakukan, karena berjalan dengan metode yang telah digariskan.

  1. Menggunakan hadits dhaif dalam sirah

Penggunaan hadits dhaif dalam sirah adalah perkara yang dilakukan oleh para penulis sirah, termasuk para huffadz hadits, dimana Al Hafidz Al Iraqi menyatakan,”Perlu diketahui bagi penuntut ilmu bahwa sirah terkumpul di dalamnya riwayat yang shahih juga yang munkar.” (Alfiyah As Sirah, hal. 3)

Demikian juga pernyataan An Nur Al Halabi,”Bukan merupakan rahasia, bahwa sirah terkumpul di dalamnya shahih, saqim, dhaif, mursal, munqathi`, mu’dhal, munkar tanpa maudhu’.” (As Sirah Al Halabiyah, 1/2).

Demikianlah metode yang ditempuh para ulama salaf maupun khalaf dalam menyikapi hadits dhaif, mereka tidak membuangnya atau menyeru kepada hal itu, bahkan mereka tetap memakainya dalam berbagai hal. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

 

 

The post Guna Hadits Dhaif Menurut Ulama Salaf dan Khalaf appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
119853
Jangan Remehkan Hadits Dhaif http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/06/07/118164/jangan-remehkan-hadits-dhaif.html Wed, 07 Jun 2017 12:15:02 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=118164

Tidak sepatutnya bagi seseorang mendustakan hadits jika datang dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam walau ia mursal

The post Jangan Remehkan Hadits Dhaif appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
SETELAH mengupas mengenai penggunaan hadits dhaif dalam hukum, menurut para ulama mujtahid madzhab empat, ada baiknya membahas mengenai penggunaan hadits dhaif di luar hukum, yakni dalam masalah fadha’il a’mal.

Sebagaimana dinyatakan oleh Imam An Nawawi, seorang hafidz hadits sekaligus faqih dari kalangan Asy Syafi’iyyah, bahwa penggunaan hadits dhaif dalam perkara fadha’il a’mal merupakan hal yang dibolehkan sesuai dengan kesepakatan ulama.

Imam An Nawawi menyatakan,”Dan telah bersepakat para ulama bahwa mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhaif dalam fadha’il al a’mal.” (Al Arba’un An Nawawiyah, hal. 3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki.  (lihat, Fathu Al Mubin, hal. 32)

Ijma’ bolehnya penggunaan hadits dhaif dalam fadha’il juga ikut ditegaskan oleh Al Allamah Ali Al Qari, ”Hadits dhaif digunakan untuk fadhail a’mal sesuai kesepakatan.” (lihat, Al Maudhu’at, hal.73).

Ali Al Qari juga menegaskan hal yang sama dalam Al Khatt Al Aufar, sebagaimana disebutakan oleh Imam Al Laknawi. (lihat, Ajwibah Al Fadhilah, hal. 37)

Sedangkan untuk ulama hadits mu’ashirin  Syeikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari berkata,”Para huffadz hadits sepakat mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif dalam fadha’il a’mal. (lihat, Al Qaul Al Muqni’, hal.2,3)

Namun, pernyataan Imam An Nawawi mengenai adanya kesepakatan ulama yang membolehkan penggunaan hadits dhaif dalam fadhail a’mal itu mendapatkan kiritikan oleh sejumlah pihak. Dimana mereka menyatakan bahwa pernyataan Imam An Nawawi mengenai adanya kesepakatan itu tidak benar, karena ada juga para huffadz hadits yang menolak penggunaan hadits dhaif.

Al Allamah Al Qasimi menyatakan bahwa ada beberapa ulama yang menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail a’mal, mereka adalah adalah Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi. (lihat, Al Qawaid At Tahdits, hal. 113)

Dengan demikian, pernyataan An Nawawi mengenai adanya kesepakatan ulama gugur, karena beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail, seperti yang disebutkan Al Qasimi.

Bagaimana duduk masalah sebenarnya? Apakah Imam Al Bukhari, Imam Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi menolak hadits dhaif dalam Al Fadhail? Tentu hal ini perlu dibahas, satu-persatu.

Imam Al Bukhari

Penyandaraan pendapat mengenai penolakan hadits dhaif dalam fadha’il al a’mal kepada Imam Al Bukhari  adalah kurang tepat, karena Imam Al Bukhari sendiri juga menjadikan hadits dhaif untuk hujjah. Ini bisa dilihat dari kitab beliau Al Adab Al Mufrad, yang bercampur antara hadits shahih dan dhaif. Dan beliau berhujjah dengan hadits itu, mengenai disyariatkannya amalan-amalan. Ini bisa dilihat dari judul bab yang beliau tulis.

Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah berpendapat bahwa Imam Al Bukhari dalam Adab Al Mufrad mencantumkan hadits-hadits yang sanadnya dhaif sebagaimana dihukumi oleh Syeikh Fadhlullah Al Haidar Al Abadi dalam Fadhullah Ash Shamad fi Taudhih Al Adab Al Mufrad dan Imam Al Bukhari menggunakannya sebagai hujjah. (lihat, komentar Syeikh Abdul Fattah Dhafar Al Amani, karya Imam Al Laknawi, hal. 182-186)

Tidak hanya dalam Al Adab Al Mufrad, dalam Shahihnya pun kasus hampir serupa terjadi. Saat Ibnu Hajar Al Asqalani menyebutkan  perawi bernama Muhammad bin Abdurrahman At Tufawi, yang oleh Abu Zur’ah dikatakan “mungkarul hadits”, Ibnu Hajar menyatakan bahwa dalam Shahih Al Bukhari ada 3 hadits yang diriwayatkan oleh perawi tersebut dan semuanya dalam masalah riqaq (hadits akhlak dan motifasi), dan ini tergolong gharaib dalam Shahih Al Bukhari, hingga Ibnu Hajar mengatakan,”Sepertinya Bukhari tidak memperketat, karena termasuk hadits targhib wa tarhib”. (lihat, Hadyu As Sari, 2/162)

Imam Muslim

Adapun perkataan Imam Muslim dalam muqadimah As Shahih, tidak bisa diartikan sebagai larangan mutlak atas penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Muslim mengatakan dalam muqadimah Shahih beliau,” Dan ketahuilah-wafaqakallah-bahwa wajib bagi siapa saja untuk membedakan antara shahih riwayat dan saqimnya, serta orang-orang tsiqah yang menukilnya daripada mereka yang tertuduh (memalsukan). Tidak meriwayatkan darinya (periwayatan), kecuali yang diketahui keshahihan outputnya dan yang terjaga para periwatnya, serta berhati-hati terhadap periwayatan mereka yang tertuduh, dan para ahli bid’ah yang fanatik.” (Muslim dengan Syarh An Nawawi (1/96)

Dari pernyataan itu, tidak bisa dihukumi bahwa Imam Muslim menolak hadits dhaif secara mutlak, dimana Imam Muslim sendiri memasukkan memasukkan perawi dhaif dan mutruk, yang menurut Muslim tergolong jenis khabar kelompok ketiga, ke dalam Shahih Muslim untuk mutaba’ah dan syawahid. Dengan demikian, pernyataan Muslim di atas tidak berlaku mutlak.

Imam An Nawawi sendiri amat memahami Imam Muslim dan Shahih Muslim, karena Imam An Nawawi telah berkhidmat terhadap kitab tersebut dengan mensyarah-nya. Namun Imam An Nawawi tetap berpendapat adanya ijma’ ulama mengenai kebolehan menggunakan hadits dhaif selain akidah dan ahkam. Ini menunjukkan bahwa Imam Muslim di pandangan Imam An Nawawi tidak melarang penggunaan hadits dhaif dalam hal tersebut. Kalaulah Imam Muslim berpendapat seperti itu, tentu Imam An Nawawi tidak berani menyatakan bahwa hal itu merupakan ijma’.

Yahya bin Ma’in

Mereka yang memandang bahwa Yahya bin Ma’in menolak hadits dhaif dalam fadha’il merujuk kepada Uyun Al Atsar (1/25). Dalam kitab tersebut Ibnu Sayidi Annas menyatakan bahwa Yahya bin Ma’in menyamakan khabar mengenai sejarah dan khabar ahkam, hingga kedua-duanya harus berlandaskan hadits shahih.

Akan tetapi, pernyataan ini bertentangan dengan pernyaataan beberapa huffadz. Al Khatib Al Baghdadi dalam Al Kifayah (hal. 213), serta As Sakhawi dalam Fath Al Mughits (1/223), menyatakan bahwa Ibnu Ma’in berpendapat bahwa hadits dhaif dalam hal selain halal dan haram bisa dipakai.

Syeikh Nur As Syaif pun mengomentari pernyataan Ibnu Sayidi Annas dalam muqadimah Tarikh Ibnu Ma’in (1/107), “Beliau telah menulis periwayatan tentang al maghazi (peperangan) dari Al Bakka’i, yang menyatakan bahwa di dalamnya ada perawi laisa bisyai’. Dan beliau mengatakan,”Tidak mengapa dalam maghazi, akan tetapi untuk yang lainnya tidak.”

Ibnu Adi dalam Al Kamil (1/366), menukil dari Abnu Abi Maryam,”Saya mendengar Yahya bin Ma’in mengatakan, Idris bin Sinan ditulis haditsnya dalam masalah ar riqaq (akhlak).”

Ibnu Al Arabi Al Ma’afiri

Ibnu Al Arabi, disamping muhadits, ia juga fuqaha’ madzhab Al Maliki, yang berjalan di atas madzhabnya yang menggunakan hadits mursal, yang merupakan kelompok hadits yang terputus sanadnya. Dan Ibnu Al Arabi  dalam penjelasannya terhadap Kitab Al Adab dalam Jami’ At Tirmidzi berkata, ”Diriwayatkatkan oleh Abu Isa sebuah hadits majhul,’ jika kamu ingin maka puasalah, jika tidak maka tidak perlu,’ walau ini majhul, akan tetapi mustahab beramal dengannya, karena menyeru kebaikan…” (lihat, Al Aridhah Al Ahwadzi (10/205)

Dengan demikian, pernyataan Syeikh Al Allamah Al Qasmi mengenai sejumlah huffadz yang menolak secara mutlak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail menjadi lemah, setelah ditahqiq.

Jangan Pernah Remehkan Hadits Dhaif

Hadits, meskipun ia dhaif, masih memiliki kemungkinan bahwa itu merupakan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, meski kemungkinannya kecil. Oleh karena itu para ulama tidak serta merta mencampakkannya, namun ia masih digunakan dalam perkara fadhai’l a’mal, bukan dalam perkara halal dan haram yang memang perlu menggunakan hadits hasan atau shahih, kecuali dalam kasus-kasus tertentu (baca, Imam Madzhab Empat dalam Menyikapi Hadits Dhaif)

Sebagai penutup pembahasan ini, seorang pembesar ahlul hadits, juga guru dari Al Imam Al Bukhari, yakni Al Hafidz Ali Ibnu Al Madini menyatakan, ”Tidak sepatutnya bagi seseorang mendustakan hadits jika datang dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam walau ia mursal. Sesungguhnya beberapa orang telah menolak hadits Zuhri, beliau berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,’Barang siapa berbekam pada hari Sabtu atau Rabu, maka ia terjangikit wadh (kusta)…’ Lalu mereka melakukannya dan mereka pun memperoleh bencana. Dari mereka adalah Utsman Al Batti yang terjangkiti kusta, dari mereka juga Abdul Warits yang terjangkiti kusta, dari mereka juga Abu Dawud yang terjangikit kusta, dan dari mereka juga Abdurrahman, maka ia memperoleh bala’ yang keras.” (Ma’rifah Ar Rijal li Ibni Mahraz, 2/628).*

The post Jangan Remehkan Hadits Dhaif appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
118164