Ikhtilaful Ummah – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Wed, 01 Nov 2017 15:28:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.3 Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/10/27/126577/teladan-empat-madzhab-dalam-toleransi.html Thu, 26 Oct 2017 20:10:24 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126577

ULAMA empat madzhab adalah para figur yang mengedepankan kesatuan pendapat, dan tidak egois dengan pendapatnya. Meski memiliki pandapat sendiri dalam […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

ULAMA empat madzhab adalah para figur yang mengedepankan kesatuan pendapat, dan tidak egois dengan pendapatnya. Meski memiliki pandapat sendiri dalam madzhab, namun masing-masing madzhab selalu melihat pendapat madzhab lain, dan melakukan upaya untuk  meminimalisir perbedaan, yang biasa disebut muru`atul khilaf, dimana masing-masing madzhab bersepakat bahwa keluar dari ranah khilaf merupakan perkara yang mustahab.

Demikian, beberapa contoh, upaya masing-masing madzhab untuk meminimalisir perbedaan dengan madzhab lain di beberapa masalah.

Madzhab Hanafi

Membaca surat Al Fatihah dalam madzhab Hanafi bukanlah bagian dari rukun yang harus dikerjakan, namun ulama madzhab Hanafi memotivasi agar pengikutnya membaca surat Al Fatihah saat shalat jenazah. Tertulis dalam kitab fiqih Al Hanafi ,Maraqi Al Falah,”….dan boleh membaca Al Fatihah dengan tujuan memberikan pujian, demikian hal ini telah dinashkan bagi madzhab kita, dan di Al Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa ia menshalatkan janazah lalu membaca Al Fatihah dan berkata,’Agar mereka mengetahui bahwa hal itu sunnah.’ Dan hadits itu dishahihkan oleh At Tirmidzi. Dan para imam kita berkata bahwa memperhatikan perkara khilaf mustahab, sedangkan hal itu (membaca Al Fatihah) fardhu menurut Asy Syafi’I Rahimahullah Ta’ala, maka tidak mengapa membacanya dengan tujuan membaca Al Qur`an untuk keluar dari khilaf.” (Maraqi Al Falah, hal. 227)

Dalam madzhab Hanafi tidak diwajibkan wudhu bagi siapa yang mengusung jenazah. Namun Imam Ahmad berpendapat wajib berwudhu bagi siapa yang telah mengusung jenazah, maka dalam hal ini Ath Thahthawi berkata,”Maka disunnahkan wudhu, untuk keluar dari khilaf, juga untuk mengamalkan hadits.” (Hasyiyah ATh Thahthawi, 1/55)

Madzhab Maliki

Bagi madzhab Maliki, membaca basmalah sebelum Al  Fatihah adalah perkara yang mubah, dan shalatnya sah, sedangkan bagi madzhab Asy Syafi’i, tidak sah shalat jika tidak membacanya, karena itu bagian dari Al Fatihah. An Nafrawi pun berkata,”Yang disepakati lebih baik daripada yang tidak disepakati, telah berkata Imam Al Qarrafi (Maliki), dan Ibnu Rusyd (Maliki) dan Al Ghazali bahwa bagian dari kehati-hatian keluar dari khilaf dengan membaca basmalah dalam shalat.” (Al Fawaqih Ad Dawani, hal. 409)

Madzhab Syafi’i

Dalam madzhab  Syafi’i tidak diperlukan niat bagi siapa yang memandikan jenazah. Namun, mustahab untuk meniatkannya, dalam rangka keluar dari khilaf, dikarenakan Imam Malik mewajibkan niat bagi yang memandikan jenazah. (lihat, Tuhfah Al Habib, 2/516)

Meski dalam madzhab Asy Syafi’i dinyatakan sah shalat sendiri di belakang shaf, namun disunnahkan menarik seseorang dari shaf depan untuk shalat bersamanya di belakang. Hal itu dikarenakan Imam Ahmad menilai bahwa shalat sendirian di belakang shaf tidak sah. (Hasyiyah Al Bujairimi, 1/322)

Dalam madzhab Asy Syafi’i i’tikaf sah dilakukan di masjid meski bukan masjid jami’, namun Imam Asy Syriazi berkata,”Dan lebih utama beri’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah beri’tikaf kecuali di masjid jami’, juga karena di masjid jami’ lebih banyak jama’ah shalatnya, juga dalam rangka keluar dari khilaf, dimana Az Zuhri menyatakan tidak boleh i’tikaf kecuali di masjid jami’.” (Al Majmu’, 6/504)

Meskipun dalam madzab Asy Syafi’i sah melakukan i’tikaf kurang dari satu hari, namun Imam Asy Syafi’i berkata,”Lebih utama, ia tidak kurang dari satu hari, karena tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shallallahu Alihi Wasallam dan para sahabatnya bahwasannya mereka beri’tikaf kurang dari satu hari dan dalam rangka keluar dari khilaf Abu Hanifah dan lainnya yang mensyarakan i’tikaf satu hari atau lebih.” (Al Majmu’, 6/513)

Madzhab Hanbali

Takbir dalam shalat jenazah diriwayatkan dari Imam Ahmad beberapa riwayat, yang menunjukkan jumlah takbir lebih dari empat takbir, namun Ibnu Qudamah mengatakan,”Lebih utama tidak lebih dari empat, karena hal itu keluar dari khilaf, dan mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa takbir empat kali.” Diantara ulama yang berpendapat takbir empat kali adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i (Asy Syarh Al Kabir, 2/352).

Apa yang disebutkan hanya merupakan beberapa contoh dari upaya keluar dari khilaf, dan masih ada ratusan masalah lainnya, yang tertulis dalam kitab-kitab fiqih empat madzhab. Tentu hal ini menjadi bukti bahwa madzhab empat, meski berbeda pendapat namun tetap toleransi terhadap madzhab lain. Jika demikian, klaim bahwa adanya madzhab merupakan sumber perpecahan juga tidak benar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Hadits Dhaif untuk Dzikir dan Doa dalam Praktik Madzhab Empat http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/10/11/125417/hadits-dhaif-untuk-dzikir-dan-doa-dalam-praktik-madzhab-empat.html Tue, 10 Oct 2017 17:53:59 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125417

SEBELUMNYA telah dibahas mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif untuk doa maupun dzikir, berdasarkan pernyataan para ulama, baik fuqaha dan muhadditsun. […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SEBELUMNYA telah dibahas mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif untuk doa maupun dzikir, berdasarkan pernyataan para ulama, baik fuqaha dan muhadditsun. Dalam tulisan kali ini, pambahasan masih seputar penggunaan hadits dhaif dalam dzikir dan doa dalam tatanan praktik empat madzhab.

Madzhab Hanafi
Dalam madzhab Hanafi penggunaan hadits dhaif yang berkenaan dengan dzikir dan doa merupakan hal yang dibolehkan. Contoh beberapa masalah dalam hal ini, yakni masalah doa ketika membasuh anggota wudhu. Al Hashkafi berkata,”Doa warid dalam hal itu, yakni dalam setiap membasuh anggota wudhu, telah diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya dari Nabi Shallahahu Alaihi Wasallam melalaui beberapa jalan. Telah berkata al muhaqqiq Ar Ramli Asy Syafi’i,’hadits itu diamalkan dalam fadha’il a’mal meski An Nawawi mengingkarinya’”. (Syarh Al Hashkafi, 1/127)

Demikian halnya dalam hal membaca surat Al Qadr setelah wudhu, Al Hafidz Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits mengenai hal itu tidak tsabit dari Nabi Shallalalhui Alaihi Wasallam, baik dari perkataannya maupun perbuatannya, namun para ulama mentoleransi dengan menyebutkan hadits dhaif dalam mengemalkannya dalam fadhail a’mal. (lihat, Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/131)

Demikian pula doa dan dzikir setelah iqamah shalat “aqamahallah wa adamaha” (semoga Allah menegakkan shalat dan mengekalkannya), dimana para ulama melafdzkan hal itu meski haditsnya diketahui dhaif. (lihat, Hasyiyah Ath Thahawi, 2/198)

Madzhab Maliki
Masalah shalawat di permulaan perkataan. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Setiap perkataan yang tidak disebutkan nama Allah di dalamnya , hingga diawali dengannya dan juga dengan shalawat kepadaku, maka ia terputus dari segala bentuk keberkahan.”

Hadits tersebut dihukumi dhaif isnadnya oleh Al Hafidz As Sakhawi. Namun Al Haththab berkata,”Meski ia dhaif, telah bersepakat ulama mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhaif dalam fadhail a`mal”. (Mawahib Al Jalil, 1/25)

Madzhab Syafi’i
Dalam madhab Asy Syafi’i, para ulamanya membolehkan pengamalan doa dan dzikir meski berasal dari hadits dhaif. Sebagai contoh dalam masalah ini, menjawab iqamah dengan “aqamaha Allah wa adamaha” (semoga Allah terus menjadikan malan shalat tegak dan mengekalkannya). Imam An Nawawi berkata mengenai hadits ini,”Walai bagaimana pun ia merupakan hadits dhaif, akan tetapi hadits dhaif diamalkan dalam fadhail a`mal berdasarkan kesepakatan ulama , dan hadits ini termasuk dalam hal ini”. (Al Majmu’, 3/226)

Demikian pula mengenai doa ketika membasuh anggota wudhu, diriwayatkan dari nabi melalaui beberapa jalan dalam Tarikh Ibnu Hibban dan lainnya. Kemudian Al Mahalli berkata bahwa meski hadits itu dhaif, ia tetap diamalkan dalam fadhail. (Syarh Al Mahalli Ala Al Minhaj, 1/64).

Dalam masalah doa ketika thawaf, Ibnu Hajar Al Haitami menyatakan bahwa untuk doa yang ma’tsur dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, tidak ada bedanya antara yang shahih sanadnya dengan yang tidak, karena hadits dhaif, mursal dan mungqathi’ diamalkan dalam fadhail al a’mal sesuai kesepakatan. (lihat, Fatawa Ibni Hajar, 2/54)

Mengenai hukum membaca bismilah sebelum berwudhu, Ibnu Al Mundzir menyatakan bahwa tidak ada khabar shahih yang menunjukkan bahwa wudhu batal jika tanpa tasmiyah. Namun Ibnu Mundzir berkata,”Namun lebih utama mengucapkan bismillah bagi siapa yang hendak wudhu dan mandi dalam rangka kehati-hatian, dan tidak mengapa bagi yang meniggalkannya. (Al Ausath, 1/368)

Madzhab Hanbali
Dalam madzhab Al Hanbali ada beberapa perkara yang sama dalam madzhab lainnya, seperti masalah doa ketika membasuh anggota wudhu, meski haditsnya dhaif, namun tetap dipakai karena berkanaan dengan fadhail a’mal. (lihat, Mathalib Uli An Nuha, 1/122)

Demikian pula dengan tasmiyah wudhu’, dimana Abdullah bertanya kepada ayahnya Imam Ahmad mengenai hadits Abu Sa’id,”Tidak berwudhu bagi siapa yang tidak menyebut nama Allah atasnya”. Maka Imam Ahmad pun menjawab,”Hadits itu tidak tsabit bagiku, namun aku lebih suka mengucapkannya.” (Masa’il Abdullah li Abihi, 1/89)

Dengan demikian, dalam praktik empat madzhab, doa dan dzikir meski berasal dari hadits dhaif, ia tidak diabaikan begitu saja, namun ia tetap dipakai, karena masih dalam koridor fadhail a’mal. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Doa Dengan Hadits Dhaif, Boleh? http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/08/12/121345/doa-dengan-hadits-dhaif-boleh.html Sat, 12 Aug 2017 13:44:59 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=121345

AMAT banyak  hadits-hadits yang dibukukan oleh para huffadz hadits yang di dalamnya berisi doa-doa dan dzikir, baik derajatnya shahih, hasan, maupun […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

AMAT banyak  hadits-hadits yang dibukukan oleh para huffadz hadits yang di dalamnya berisi doa-doa dan dzikir, baik derajatnya shahih, hasan, maupun dhaif. Memang tidak bisa dipungkiri ada sebagian dari saudara muslim menolak mengamalkan doa-doa dan dzikir yang derajatnya dhaif, bahkan menyeru untuk meninggalkannya

Tindakan demikian, tentu mengundang respon pihak lain dan mengundang polemik di tengah umat. Sehingga perlu dicari duduk permasalahannya dalam masalah ini, yakni apa hukumnya menggunakan dzikir dan doa dari hadits-hadits yang derajatnya dhaif, tentunya dari para ulama mu’tabar.

Pendapat Imam Al Baihaqi

Sebenarnya, jauh-jauh para ulama sudah membahas persoalan ini. Adalah Al Hafidz Al Mujtahid Al Imam Al Baihaqi telah menyampaikan Imam Al Baihaqi setelah menjelaskan tingkatan derajat hadits yang disepakati kedhaifannya oleh para ulama ahlul hadits, yakni dimana perawinya tidak termasuk yang dituduh sebagai pemalsu hadits, akan tetapi dikenal buruk hafalannya dan banyak kesalahan dalam periwayatannya, atau majhul yang tidak diketahui adalahnya serta syarat-syarat diterimannya khabar darinya, ia berkata,”Maka hadits dalam kategori ini tidak dipakai dalam hukum-hukum sebagimana kesaksiannya ditolak oleh pemerintah. Namun terkadang dipakai (haditsnya-pent) yang mengenai doa-doa, motifasi, ancaman, tafsir dan riwayat peperangan yang tidak berhubungan dengan hukum-hukum.”  (Lihat, Dalail An Nubuwwah, 1/32-37)

Pendapat Imam An Nawawi

Demikian juga Imam An Nawawi, setelah menyampaikan hadits Umamah Al Bahili, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam setelah meletakkan jenazah Ummu Kultsum dalam kubur, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengucapkan, yang artinya, ”Darinya Kami menciptakan kalian. Dan kepadanya Kami mengembalikan kalian. Dan darinya Kami mengeluarkan kalian kembali.”

Kemudian Imam An Nawawi berkata,”Telah meriwayatkannya Ahmad dari Ubaidullah bin Zahr dari Ali bin Zaid bi Jad`an dari Al Qasim, dan ketiganya merupakan para perawi dhaif. Akan tetapi hadits-hadits fadhail tidak ditinggalkan, meskipun isnadnya dhaif. Dan hadits ini adalah salah satunya. (Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/293,294)

Bisa diambil kesimpulan bahwa dzikir yang diucapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saat meletakkan jenazah Ummu Kultsum meski datang dengan sanad dhaif, namun tidak ditinggalkan, karena ia merupakan bagian  fadhail a`mal.

Pendapat Ibnu Rajab Al Hanbali

Al Hafidz Ibnu Rajab pengikut madzhab Imam Ahmad pun memiliki pendapat selaras. Setelah menyampaikan hadits dari Anas Radhiyallahu An’hu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam jika memasuki bulan Rajab berkata, yang artinya,” Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Al Hafidz memberi komentشr terhadap hadits ini,”Diriwayatkan dari Abu Isma’il Al Anshari bahwasannya ia berkata,’Tidak shahih keutamaan Rajab, kecuali hadits ini.’ Perkataannya perlu dikaji, karena isnad ini terdapat perawi dhaif.”

Kemudian Al Hafidz Ibnu Rajab berkata,”Dalam hadits ini dalil mengenai (istihbab) kesunnahan doa agar disampaikan pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan, agar bisa melakukan amalan-amalan shalih di dalamnya…” (Lathai’if Al Ma’arif, hal. 239)

Al Hafidz Ibnu Rajab meski telah menegaskan bahwa sanadnya dhaif, namun menyatakan terang-terangan bahwa hadits itu bisa dijadikan dalil mengenai doa-doa agar disampaikan kepada waktu-waktu yang memiliki keutamaan. Sehingga jika seorang berdoa dengan hadits tersebut tidak bermasalah meski dhaif, tidak masalah, ia mengandung permintaan untuk disampikan pada waktu-waktu yang mengandung keutamaan.

Pernyataan di atas adalah perkataan para ulama mu’tabar mengenai bolehnya pengamalan doa-doa dari hadits.

Doa Bagian dari Fadhail A’mal yang Boleh Gunakan Hadits Dhaif

Dan perlu diketahui bahwasannya doa adalah bagian dari fadhai’il al a’mal sebagaimana dipaparkan Imam An Nawawi sebelumnya, yang mana para ulama menyatahkan bolehnya menggunakan hadits dalam hal ini, meski dhaif.

Adalah Syeikh Abu Muhammad Al Maqdisi telah berkata,”Tidak mengapa dengan hal itu (yakni shalat tasbih), sesungguhnya dalam fadhail tidak disyaratkan shahihnya khabar.” (Al Ihtiyarat Al Ilmiyyah li Ibni Taimiyyah, hal. 100)

Demikian juga yang disampaikan Ibnu Qudamah, salah satu ulama besar dalam madzhab Hanbali,”Amalan-amalan nafilah dan fadhai’il tidak disyaratkan padanya keshahihan hadits.” (Al Mughni, 1/1044).

Imam An Nawawi menyatakan,”Dan telah bersepakat para ulama bahwa mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhaif dalam fadha’il al a’mal.” (Al Arba’un An Nawawiyah, hal. 3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki.  (lihat, Fathu Al Mubin, hal. 32)

Ijma’ bolehnya penggunaan hadits dhaif dalam fadha’il juga ikut ditegaskan oleh Al Allamah Ali Al Qari Al Hanafi, ”Hadits dhaif digunakan untuk fadhail a’mal sesuai kesepakatan.” (lihat, Al Maudhu’at,hal.73).

Demikian juga diikuti pendapat ini diikuti  oleh Imam Imam Al Laknawi Al Hanafi. (lihat, Ajwibah Al Fadhilah, hal. 37)

Sedangkan untuk ulama hadits mu’ashirin  Syeikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari berkata,”Para huffadz hadits sepakat mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif dalam fadha’il a’mal. (lihat, Al Qaul Al Muqni’, hal.2,3).

Adapun pendapat yang menyatakan bahwasannya Imam Al Bukhari, Yahya bin Ma’in, Muslim dan Ibnu Al Arabi menolak hadits dhaif secara mutlak adalah pendapat yang lemah setelah ditahqiq (silahkan baca Jangan Remehkan Hadits Dhaif).

Dengan demikian, doa dan dzikir menggunakan hadits dhaif adalah perkara yang dibolehkan menurut para ulama mu’tabar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

 

 

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Guna Hadits Dhaif Menurut Ulama Salaf dan Khalaf http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/07/14/119853/penggunaan-hadits-dhaif-oleh-ulama-salaf-dan-khalaf.html Fri, 14 Jul 2017 16:33:58 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119853

TIDAK bisa dipungkiri bahwa ada sebagian pihak dari umat Islam di masa kontemporer ini yang menolak hadits dhaif secara mutlak, […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

TIDAK bisa dipungkiri bahwa ada sebagian pihak dari umat Islam di masa kontemporer ini yang menolak hadits dhaif secara mutlak, dan menyeru untuk meninggalkannya sajauh-jauhnya. Namun kalau kita melihat pendapat para ulama mu’tabar baik salaf maupun khalaf, hadits dhaif tidak dibuang begitu saja, mereka tetap menggunakannya dalam banyak hal, baik dalam hukum maupun lainnya.

Berikut ini beberapa perkara, yang mana para ulama besar menggunakan hadits dhaif dan mereka pun mengerti bahwa hadits yang digunakan adalah hadits dhaif:

  1. Gunakan hadits dhaif, jika tidak ada hadits shahih dalam masalah.

Dalam hal ini, Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan metode Imam Abu Dawud dimana ia mengeluarkan dalam As Sunan beberapa tingkatan hadits, pertama shahih, kemudian hasan lidzatihi, kemudian hasan lighairihi serta dhaif, kemudian Ibnu Hajar berkata,”Dan setiap dari pembagian ini bisa digunakan sebagai hujjah menurutnya (Abu Dawud-pent). Sebagaimana dinukil Ibnu Mandah darinya, bahwa ia mengeluarkan hadits dhaif jika ia tidak menemui dalam bab selain darinya. Dan baginya itu lebih kuat daripada ra’yu rijal (pendapat qiyas manusia-pent).”

Dan kemudian Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa mengamalkan hadits dhaif adalah madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. (An Nukat `Ala Ibnu Shalah, 1/345)

  1. Amalkan hadits dhaif jika ahlul ilmi menerimanya.

Al Hafidz As Sakhawi berkata,”Demikian juga jika ummat menerima hadits dhaif, maka ia diamalkan menurut pendapat shahih. Hingga ia sederajat dengan hadits mutawatir yang menaskh (nash-pent) qath`i. Oleh karena itu Asy Syafi’i rahimahullah Ta’ala berkata mengenai hadits “la washiyah li warits”, bahwa para ahlul hadits tidak menshahihkannya, akan tetapi umat menerimanya, dan mereka mengamalkannya sampai mereka menjadikan hadits itu nasikh bagi ayat-ayat washiyat.” (Fath Al Mughits, hal. 120-121)

Demikian pula Ibnu Al Qayyim berkata mengenai hadits talqin mayyit,”Hadits ini, maski ia tidak tsabit maka terus-menerus pengamalannya di seluruh negeri dan setiap masa tanpa ada pengingkaran, cukup untuk manjadikannya sebagai pijakan amal.” (Ar Ruh, hal. 14)

  1. Hadits mursal diamalkan jika ia dikuatkan dengan pendapat sahabat.

Hadits mursal bagian dari hadits dhaif, dimana ia merupakan hadits yang sanadnya terputus, yakni tatkala tabi’in meriwayatkan hadits langsung dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tanpa menyebutkan sahabat dalam periwayatannya, padahal tabi’in tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Namun mursal diamalkan jika sejalan dengan pendapat sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Hal ini merupakan metode Imam Asy Syafi’i dalam menerima hadits mursal. Imam Al Bulqini berkata,”Sekelompok ulama menyampaikan dari Asy Syafi’i rahimahullah, bahwa ia berhujjah dengan mursal jika datang hadits musnad atau hadit yang diriwayatkan secara mursal dari jalan lain, atau ia dikuatkan oleh qiyas, atau perkataan sahabat atau perbuatan sahabat.” (Al Mahasin Al Ishthilah, hal. 138)

Namun bagi Imam Ahmad hadits mursal dijadikan hujjah secara mutlak, sebagaimana dinyatakan Ibnu Qayyim Al Jauziyah. (I’lam Al Muwaqqi’in, 1/25)

Demikian pula yang berlaku bagi Imam Maliki dan madzhabnya, bahwa hadits mursal merupakan hujjah secara mutlak.

  1. Hadits mursal diamalkan jika, para mayoritas ahlul ilmu berfatwa dengannya.

Metode ini merupakan metode Imam Asy Syafi’i dalam menerima hadits mursal. Mursal diterima jika mayoritas ahlul ilmi berfatwa dengannya. Hal ini disampaikan Imam Asy Syafi’i dalam Ar Risalah. (lihat, Ar Risalah, hal. 463)

  1. Mengamalkan hadits mursal jika dikuatkan oleh qiyas.

Hal ini sebagaimana disampaikan sebelumnya, bahwa Imam Asy Syafi’i menerima hadits mursal jika ia dikuatkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah jika ia dikuatkan oleh qiyas. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Al Bulqini sebelumnya.

  1. Menggunakan hadits dhaif dalam tafsir.

Imam Al Baihaqi setelah menjelaskan tingkatan derajat hadits yang disepakati kedhaifannya oleh para ulama ahlul hadits, yakni dimana perawinya tidak termasuk yang dituduh sebagai pemalsu hadits, akan tetapi dikenal buruk hafalannya dan banyak kesalahan dalam periwayatannya, atau majhul yang tidak diketahui adalahnya serta syarat-syarat diterimannya khabar darinya, ia berkata,”Maka hadits dalam kategori ini tidak dipakai dalam hukum-hukum sebagimana kesaksiannya ditolak oleh pemerintah. Namun terkadang dipakai (haditsnya-pent) yang mengenai doa-doa, motifasi, ancaman, tafsir dan riwayat peperangan yang tidak berhubungan dengan hukum-hukum.”

Imam Al Baihaqi juga menukil dari Yahya bin Sa’d bin Al Qaththan,”Mereka memperlonggar mengambil tafsir dari kaum yang mana mereka tidak menilai bahwa mereka itu tsiqah dalam hadits. (Lihat, Dalail An Nubuwwah, 1/32-37)

  1. Menggunakan hadits dhaif untuk fadhail a’mal

Bolehnya menggunakan hadits dhaif untuk fadhail a’mal mrupakan perkara yang disepakati ulama, sebagaimana disebut oleh Imam An Nawawi dalam muqaddimah Al Arbaun-nya, kemudian ditegaskan kembali oleh Ibnu Hajar Al Haitami, Ali Al Qari Al Hanafi, juga Imam Al Laknawi Al Hanafi serta Syeikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari. Adapun pernyataan bahwa Imam Al Bukhari, Imam Muslim, Yahya bin Ma`in serta Ibnu Al Arabi menolak hadits dhaif secara mutlak adalah pendapat lemah setelah ditahqiq, karena para ulama panutan di atas juga menggunakan hadits dhaif dalam hujjah. Lebih lengkapnya, baca Jangan Remehkan Hadits Dhaif.

  1. Menggunakan hadits dhaif untuk kehati-hatian (al akhtiyat)

Imam An Nawawi berkata,”Adapun hukum-hukum seperti halal dan haram, jula beli, nilah dan thalak dan selainnya, maka tidak diamalkan di dalamnya kecuali hadits shahih dan hasan, kecuali dalam rangka kehati-hatian dalam masalah itu, sebagaimana adanya hadits dhaif mengenai makruhnya sejumlah jual beli dan pernikahah, maka mustahab menghindarinya, akan tetapi hal itu tidak wajib.” (Al Adzkar, hal. 5,6)

  1. Menggunakan hadits dalam targhib wa tarhib

Hadits dhaif digunakan para ulama dalam masalah targhib wa tarhib, yakni memotifasi melakukan kebaikan dan menakut-nakuti dalam perbuatan maksiat. Al Khatib meriwayatkan dari Abu Bakr Al Anbari,”Khabar jika sampai kepada kita sedangkan  ia tidak mengharamkan yang halal, atau menghalalkan yang haram, dan tidak mewajibkan hukum namun ia memberi motifasi dan ancaman, atau mengetatkan atau melonggarkan wajib untuk membiarkannya dan mempermudah dalam periwayatannya.” (Al Kifayah, hal. 213)

Hal inilah yang dilakukan oleh Al Hafidz Zakiyuddin Abdul Adzim Al Mundziri, dimana beliau mencampurkan dalam At Targhib wa At Tarhib hadits shahih, hasan dan dhaif. Beliau tentu mampu menghindari hadits-hadits dhaif dalam kitabnya, kalau beliau mau, tapi hal itu tidak dilakukan, karena berjalan dengan metode yang telah digariskan.

  1. Menggunakan hadits dhaif dalam sirah

Penggunaan hadits dhaif dalam sirah adalah perkara yang dilakukan oleh para penulis sirah, termasuk para huffadz hadits, dimana Al Hafidz Al Iraqi menyatakan,”Perlu diketahui bagi penuntut ilmu bahwa sirah terkumpul di dalamnya riwayat yang shahih juga yang munkar.” (Alfiyah As Sirah, hal. 3)

Demikian juga pernyataan An Nur Al Halabi,”Bukan merupakan rahasia, bahwa sirah terkumpul di dalamnya shahih, saqim, dhaif, mursal, munqathi`, mu’dhal, munkar tanpa maudhu’.” (As Sirah Al Halabiyah, 1/2).

Demikianlah metode yang ditempuh para ulama salaf maupun khalaf dalam menyikapi hadits dhaif, mereka tidak membuangnya atau menyeru kepada hal itu, bahkan mereka tetap memakainya dalam berbagai hal. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

 

 

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Jangan Remehkan Hadits Dhaif http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/06/07/118164/jangan-remehkan-hadits-dhaif.html Wed, 07 Jun 2017 12:15:02 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=118164

Tidak sepatutnya bagi seseorang mendustakan hadits jika datang dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam walau ia mursal

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
SETELAH mengupas mengenai penggunaan hadits dhaif dalam hukum, menurut para ulama mujtahid madzhab empat, ada baiknya membahas mengenai penggunaan hadits dhaif di luar hukum, yakni dalam masalah fadha’il a’mal.

Sebagaimana dinyatakan oleh Imam An Nawawi, seorang hafidz hadits sekaligus faqih dari kalangan Asy Syafi’iyyah, bahwa penggunaan hadits dhaif dalam perkara fadha’il a’mal merupakan hal yang dibolehkan sesuai dengan kesepakatan ulama.

Imam An Nawawi menyatakan,”Dan telah bersepakat para ulama bahwa mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhaif dalam fadha’il al a’mal.” (Al Arba’un An Nawawiyah, hal. 3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki.  (lihat, Fathu Al Mubin, hal. 32)

Ijma’ bolehnya penggunaan hadits dhaif dalam fadha’il juga ikut ditegaskan oleh Al Allamah Ali Al Qari, ”Hadits dhaif digunakan untuk fadhail a’mal sesuai kesepakatan.” (lihat, Al Maudhu’at, hal.73).

Ali Al Qari juga menegaskan hal yang sama dalam Al Khatt Al Aufar, sebagaimana disebutakan oleh Imam Al Laknawi. (lihat, Ajwibah Al Fadhilah, hal. 37)

Sedangkan untuk ulama hadits mu’ashirin  Syeikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari berkata,”Para huffadz hadits sepakat mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif dalam fadha’il a’mal. (lihat, Al Qaul Al Muqni’, hal.2,3)

Namun, pernyataan Imam An Nawawi mengenai adanya kesepakatan ulama yang membolehkan penggunaan hadits dhaif dalam fadhail a’mal itu mendapatkan kiritikan oleh sejumlah pihak. Dimana mereka menyatakan bahwa pernyataan Imam An Nawawi mengenai adanya kesepakatan itu tidak benar, karena ada juga para huffadz hadits yang menolak penggunaan hadits dhaif.

Al Allamah Al Qasimi menyatakan bahwa ada beberapa ulama yang menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail a’mal, mereka adalah adalah Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi. (lihat, Al Qawaid At Tahdits, hal. 113)

Dengan demikian, pernyataan An Nawawi mengenai adanya kesepakatan ulama gugur, karena beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail, seperti yang disebutkan Al Qasimi.

Bagaimana duduk masalah sebenarnya? Apakah Imam Al Bukhari, Imam Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi menolak hadits dhaif dalam Al Fadhail? Tentu hal ini perlu dibahas, satu-persatu.

Imam Al Bukhari

Penyandaraan pendapat mengenai penolakan hadits dhaif dalam fadha’il al a’mal kepada Imam Al Bukhari  adalah kurang tepat, karena Imam Al Bukhari sendiri juga menjadikan hadits dhaif untuk hujjah. Ini bisa dilihat dari kitab beliau Al Adab Al Mufrad, yang bercampur antara hadits shahih dan dhaif. Dan beliau berhujjah dengan hadits itu, mengenai disyariatkannya amalan-amalan. Ini bisa dilihat dari judul bab yang beliau tulis.

Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah berpendapat bahwa Imam Al Bukhari dalam Adab Al Mufrad mencantumkan hadits-hadits yang sanadnya dhaif sebagaimana dihukumi oleh Syeikh Fadhlullah Al Haidar Al Abadi dalam Fadhullah Ash Shamad fi Taudhih Al Adab Al Mufrad dan Imam Al Bukhari menggunakannya sebagai hujjah. (lihat, komentar Syeikh Abdul Fattah Dhafar Al Amani, karya Imam Al Laknawi, hal. 182-186)

Tidak hanya dalam Al Adab Al Mufrad, dalam Shahihnya pun kasus hampir serupa terjadi. Saat Ibnu Hajar Al Asqalani menyebutkan  perawi bernama Muhammad bin Abdurrahman At Tufawi, yang oleh Abu Zur’ah dikatakan “mungkarul hadits”, Ibnu Hajar menyatakan bahwa dalam Shahih Al Bukhari ada 3 hadits yang diriwayatkan oleh perawi tersebut dan semuanya dalam masalah riqaq (hadits akhlak dan motifasi), dan ini tergolong gharaib dalam Shahih Al Bukhari, hingga Ibnu Hajar mengatakan,”Sepertinya Bukhari tidak memperketat, karena termasuk hadits targhib wa tarhib”. (lihat, Hadyu As Sari, 2/162)

Imam Muslim

Adapun perkataan Imam Muslim dalam muqadimah As Shahih, tidak bisa diartikan sebagai larangan mutlak atas penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Muslim mengatakan dalam muqadimah Shahih beliau,” Dan ketahuilah-wafaqakallah-bahwa wajib bagi siapa saja untuk membedakan antara shahih riwayat dan saqimnya, serta orang-orang tsiqah yang menukilnya daripada mereka yang tertuduh (memalsukan). Tidak meriwayatkan darinya (periwayatan), kecuali yang diketahui keshahihan outputnya dan yang terjaga para periwatnya, serta berhati-hati terhadap periwayatan mereka yang tertuduh, dan para ahli bid’ah yang fanatik.” (Muslim dengan Syarh An Nawawi (1/96)

Dari pernyataan itu, tidak bisa dihukumi bahwa Imam Muslim menolak hadits dhaif secara mutlak, dimana Imam Muslim sendiri memasukkan memasukkan perawi dhaif dan mutruk, yang menurut Muslim tergolong jenis khabar kelompok ketiga, ke dalam Shahih Muslim untuk mutaba’ah dan syawahid. Dengan demikian, pernyataan Muslim di atas tidak berlaku mutlak.

Imam An Nawawi sendiri amat memahami Imam Muslim dan Shahih Muslim, karena Imam An Nawawi telah berkhidmat terhadap kitab tersebut dengan mensyarah-nya. Namun Imam An Nawawi tetap berpendapat adanya ijma’ ulama mengenai kebolehan menggunakan hadits dhaif selain akidah dan ahkam. Ini menunjukkan bahwa Imam Muslim di pandangan Imam An Nawawi tidak melarang penggunaan hadits dhaif dalam hal tersebut. Kalaulah Imam Muslim berpendapat seperti itu, tentu Imam An Nawawi tidak berani menyatakan bahwa hal itu merupakan ijma’.

Yahya bin Ma’in

Mereka yang memandang bahwa Yahya bin Ma’in menolak hadits dhaif dalam fadha’il merujuk kepada Uyun Al Atsar (1/25). Dalam kitab tersebut Ibnu Sayidi Annas menyatakan bahwa Yahya bin Ma’in menyamakan khabar mengenai sejarah dan khabar ahkam, hingga kedua-duanya harus berlandaskan hadits shahih.

Akan tetapi, pernyataan ini bertentangan dengan pernyaataan beberapa huffadz. Al Khatib Al Baghdadi dalam Al Kifayah (hal. 213), serta As Sakhawi dalam Fath Al Mughits (1/223), menyatakan bahwa Ibnu Ma’in berpendapat bahwa hadits dhaif dalam hal selain halal dan haram bisa dipakai.

Syeikh Nur As Syaif pun mengomentari pernyataan Ibnu Sayidi Annas dalam muqadimah Tarikh Ibnu Ma’in (1/107), “Beliau telah menulis periwayatan tentang al maghazi (peperangan) dari Al Bakka’i, yang menyatakan bahwa di dalamnya ada perawi laisa bisyai’. Dan beliau mengatakan,”Tidak mengapa dalam maghazi, akan tetapi untuk yang lainnya tidak.”

Ibnu Adi dalam Al Kamil (1/366), menukil dari Abnu Abi Maryam,”Saya mendengar Yahya bin Ma’in mengatakan, Idris bin Sinan ditulis haditsnya dalam masalah ar riqaq (akhlak).”

Ibnu Al Arabi Al Ma’afiri

Ibnu Al Arabi, disamping muhadits, ia juga fuqaha’ madzhab Al Maliki, yang berjalan di atas madzhabnya yang menggunakan hadits mursal, yang merupakan kelompok hadits yang terputus sanadnya. Dan Ibnu Al Arabi  dalam penjelasannya terhadap Kitab Al Adab dalam Jami’ At Tirmidzi berkata, ”Diriwayatkatkan oleh Abu Isa sebuah hadits majhul,’ jika kamu ingin maka puasalah, jika tidak maka tidak perlu,’ walau ini majhul, akan tetapi mustahab beramal dengannya, karena menyeru kebaikan…” (lihat, Al Aridhah Al Ahwadzi (10/205)

Dengan demikian, pernyataan Syeikh Al Allamah Al Qasmi mengenai sejumlah huffadz yang menolak secara mutlak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail menjadi lemah, setelah ditahqiq.

Jangan Pernah Remehkan Hadits Dhaif

Hadits, meskipun ia dhaif, masih memiliki kemungkinan bahwa itu merupakan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, meski kemungkinannya kecil. Oleh karena itu para ulama tidak serta merta mencampakkannya, namun ia masih digunakan dalam perkara fadhai’l a’mal, bukan dalam perkara halal dan haram yang memang perlu menggunakan hadits hasan atau shahih, kecuali dalam kasus-kasus tertentu (baca, Imam Madzhab Empat dalam Menyikapi Hadits Dhaif)

Sebagai penutup pembahasan ini, seorang pembesar ahlul hadits, juga guru dari Al Imam Al Bukhari, yakni Al Hafidz Ali Ibnu Al Madini menyatakan, ”Tidak sepatutnya bagi seseorang mendustakan hadits jika datang dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam walau ia mursal. Sesungguhnya beberapa orang telah menolak hadits Zuhri, beliau berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,’Barang siapa berbekam pada hari Sabtu atau Rabu, maka ia terjangikit wadh (kusta)…’ Lalu mereka melakukannya dan mereka pun memperoleh bencana. Dari mereka adalah Utsman Al Batti yang terjangkiti kusta, dari mereka juga Abdul Warits yang terjangkiti kusta, dari mereka juga Abu Dawud yang terjangikit kusta, dan dari mereka juga Abdurrahman, maka ia memperoleh bala’ yang keras.” (Ma’rifah Ar Rijal li Ibni Mahraz, 2/628).*

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Imam Madzhab Empat Menyikapi Hadits Dhaif http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/05/20/117053/imam-madzhab-empat-menyikapi-hadits-dhaif.html Fri, 19 May 2017 20:37:21 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=117053

HADITS, penurut para ahlinya, dibagi menjadi shahih, hasan dan dhaif. Penggunaan hadits shahih dan hasan dalam berhujjah, tentu para ulama […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

HADITS, penurut para ahlinya, dibagi menjadi shahih, hasan dan dhaif. Penggunaan hadits shahih dan hasan dalam berhujjah, tentu para ulama sepakat dalam hal ini. Namun, bagaimana penggunaan hadits dhaif sebagai hujjah?

Hadits dhaif sendiri berbeda dengan maudhu`, yang mana untuk yang kedua ulama sepakat untuk melarangnya meski hanya meriwayatkannya, kecuali dengan menjelaskan statusnya, lebih-lebih menggunakannya sebagai hujjah.

Namun, bagaimana dengan hadits  dhaif? Para ulama, baik para huffadz hadits dan fuqaha berbicara mengenai hal ini. Namun untuk saat ini kita akan membahas mengenai pandangan para imam madzhab empat terhadap hadits dhaif.

Para Imam Utamakan Hadits Dhaif daripada Qiyas

Ibnu Qayyim Al Jauziyah ketika menyebutkan ushul (pijakan ) madzhab Imam Ahmad menyampaikan, ”Pijakan ke empat mengambil hadits mursal dan dhaif jika tidak ada dalil dalam sebuah persoalan, ia lebih diutamakan daripada qiyas. Dhaif bagi Ahmad adalah hasan bagi At Tirmidzi.”

Kemudian Ibnu Qayyim Al Jauziyah melanjutkan,”Dan tidak ada satu pun dari para imam kecuali sepakat terhadap pijakan ini secara umum. Sesungguhnya tidak ada satu pun dari mereka kecuali mengutamakan hadits dhaif daripada qiyas.” (lihat, I’lam Al Muwaqqi’in, 1/25)

Imam Abu Hanifah

Ibnu Hazm dalam hal ini menyatakan, bahwa Abu Hanifah berkata,”Khabar dhaif dari  Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Wasallam lebih utama dari qiyas, dan tidak dibenarkan qiyas dengan keberadaannya.” (Al Ihkam fi Ushul Al Ahkam, 7/54)

Bahkan Ibnu Qayyim menjelaskan penerapan metode Imam Abu Hanifah tersebut dalam beberapa kasus, seperti:

  1. Imam Abu Hanifah utamakan hadits al qahqahah dalam shalat daripada qiyas, sedangkan ijma ahlul hadits bahwa hadits itu dhaif.
  2. Imam Abu Hanifah utamakan hadits,”Paling banyak dari haidh sepuluh hari” daripada qiyas, dimana hadits itu dhaif menurut kesepakatan ahlul hadits.
  3. Imam Abu Hanifah utamakan hadits,”Tidak ada mahar yang lebih seikit dari 10 dirham” daripada qiyas, sedangkan hadits itu dhaif menurut kesepakatan ahlul hadits. (lihat, I’lam Al Muwaqqi’in, 1/25)

Imam Malik bin Anas

Sedangkan Imam Malik sendiri dalam lebih mengutamakan hadits-hadits mursal, munqathi` dan balaghat serta perkataan sahabat daripada qiyas. (lihat, I’lam Al Muwaqqi’in, 1/25)

Imam As Syafi’i

Imam Asy Syafi’i juga menggunakan hadits dhaif jika tidak ada dalil mengenai suatu perkara dan itu lebih utama daripada qiyas. Ibnu Qayyim Al Jauziyah memberikan beberapa contoh, antara lain:

  1. Imam Asy Syafi’i utamakan hadits pengharaman berburu di lembah Wajj, sedangkan khabar itu dhaif, Imam Asy Syafi’i mendahulukannya daripada qiyas.
  2. Imam Asy Syafi’i utamakan hadits mengenai bolehnya shalat di waktu-waktu larangan di Makkah, sedangkan ia dhaif, dan ini lebih diutamakan daripada qiyas.
  3. Di salah satu diantara dua pendapatnya, Imam Asy Syafi’i utamakan khabar mengenai wudhu karena muntah, daripada qiyas. (lihat, I’lam Al Muwaqqi’in, 1/25)

Imam Ahmad bin Hanbal

Dalam teori dan praktiknya Imam Ahmad mengutamakan hadits dhaif, daripada qiyas. Dimana Al Khalal berkata,”Madzhabnya- yakni Imam Ahmad-, bahwa hadits dhaif jika tidak ada yang bertentangan dengannya, maka ia berpendapat dengannya dan berkata -mengenai kafarah jima’ saat haidh-, madhzabnya sesuai dengan hadits-hadits itu, meski muththarib dan tidak ada yang menyelisihinya maka ia berkata dengannya. (Syarh Al Kaukab Al Munir, 2/573)

Dikatakan kepada Imam Ahmad,”Apakah Anda mengambil hadits ‘kullu annas akfa’, sedangkan Anda mendhoifkannya?” Maka Imam Ahmad menjawab,”Sesungguhnya kami mendhaifkan isnadnya, namun menggunakannya untuk pijakan beramal.” (An Nukat ‘ala Ibni Ash Shalah, 2/313)

Imam Ahmad Gunakan Hadits Dhaif atau Hasan?

Telah disampaikan oleh Ibnu Qayyim bahwa Imam Ahmad menggunakan hadits mursal, yang merupakan khabar yang sanadnya terputus, juga hadits dhaif. Namun timbul persoalan dari perkataan Ibnu Al Qayyim menyatakan,” Dhaif bagi Ahmad adalah hasan bagi At Tirmidzi.” Jika demikian, maka hakikatnya Imam Ahmad sejatinya tidak mengambil hadits dhaif, namun hadits hasan.

Nah, di sini nampak tidak selarasnya pernyataan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, karena setelah itu, ia menyebutkan ,”Dan tidak ada satu pun dari para Imam kecuali sepakat terhadap pijakan ini secara umum. Sesungguhnya tidak ada satu pun dari mereka kecuali mengutamakan hadits dhaif daripada qiyas.” (lihat, I’lam Al Muwaqqi’in, 1/25)

Artinya, ushul Imam Ahmad sejalan dengan para imam, yakni mengutamakan hadits dhaif daripada qiyas lalu Ibnu Al Qayyim memberikan contoh-contoh bahwa para imam menggunakan hadits dhaif dalam hukum, bukan hadits hasan!

Istilah Hasan Muncul Sebelum At Tirmidzi

Adanya ketidak selarasan pernyataan Ibnu Al Qayyim karena ia mengikut pendapat Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa dhaif menurut Ahmad, hasan menurut At Tirmidzi. Hal itu karena di masa Ahmad tidak ada istilah hasan dalam hadits, dan yang pertama memunculkan istilah ini adalah At Tirmidzi. (lihat, Al Qaidah fi At Tawassul wa Al Wasilah, hal. 82,83)

Jika demikian menurut Ibnu Taimiyah, para hufadz justru menyatakan bahwa istilah hasan bukanlah dari At Tirmidzi namun ada sejak ulama sebelumnya, termasuk dari Ahmad. Sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Shalah, bahwasannya istilah “hasan” didapati dari thabaqat sebelum At Tirmidzi seperti Al Bukhari dan Ahmad. (Al Muqaddimah, hal. 46)

Al Hafidz Al Iraqi juga menyatakan bahwa istilah hasan didapati dari para masyayikh di thabaqat sebelum At Tirmidzi, termasuk Asy Syafi’i. (At Taqyid wa Al Idhah, hal. 46)

Sedangkan Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Ali Ibnu Al Madini adalah ulama yang banyak menggunakan istilah “hasan” seakan-akan ia adalah ulama yang pertama kali memunculkannya. Dari Ali Ibnu Al Madini inilah Al Bukhari memperoleh istilah ini, dan dari Al Bukhari, At Tirmidzi memperoleh. (An Nukat, 1/ 428-430)

Dan dalam praktiknya sendiri, Imam Ahmad ketika menggunakan hadits sebagai hujjah yang dinilainya sebagai hadits dhaif, adalah hadits dhaif yang sesuai dengan istilah para huffadz lainnya, bukan hadits hasan. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

 

 

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Hukum Puasa Rajab Menurut Empat Madzhab http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2017/04/08/114604/hukum-puasa-rajab-menurut-empat-madzhab.html Sat, 08 Apr 2017 05:08:38 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=114604

Di bulan Rajab ini, bermunculan berbagai tulisan pembahasan mengenai hukum mengerjakan puasa Rajab yang tidak jarang memunculkan polemik. Dimana hal […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Di bulan Rajab ini, bermunculan berbagai tulisan pembahasan mengenai hukum mengerjakan puasa Rajab yang tidak jarang memunculkan polemik. Dimana hal ini selalu terulang-ulang setiap tahunnya, sedangkan para fuqaha di madzhab empat sendiri sudah membahas persoalan ini. Marilah kita lihat, bagaimana duduk permasalahannya sebenarnya menurut mereka.

Madzhab Hanafi

Yang disukai dari puasa-puasa ada beberapa macam, yang pertama adalah puasa Al Muharram, kedua puasa Rajab dan ke tiga adalah puasa Sya’ban dan puasa Asyura’ (Al Fatawa Al Hindiyah, 1/202)

Posisi madzhab Hanafi cukup jelas, bahwasannya mereka menyatakan bahwa puasa di bulan Rajab secara mutlak adalah perkara yang disukai.

Sebagaimana jika seorang bernadzar untuk berpuasa penuh di bulan Rajab, maka ia wajib berpuasa sebulan penuh dengan berpatokan pada hilalnya. (Syarh Fath Al Qadir, 2/391)

Madzhab Maliki

Al Lakhmi menyatakan bahwa bulan-bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah tiga, yakni Al Muharram, Rajab dan Sya’ban. (Al Mawahib Al Jalil, hal. 319)

Ad Dardir menyatatakan bahwasannya disunnahkan puasa bulan Al Muharram, Rajab dan Sya’ban, demikian juga di empat bulan haram yang dimana paling utama adalah Al Muharram kemudian Rajab lalu Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. (Syarh Ad Dardir ‘ala Khalil, 1/513)

Dengan demikian, Madzhab Al Maliki berndapat mengenai kesunnahan puasa di bulan Rajab secara mutlak, meski dengan sebulan penuh.

Madzhab Syafi`i

Ulama Madzhab Asy Syafi’i mensunnahkan puasa di bulan Rajab, dimana Imam An Nawawi berkata,”Telah berkata ashabuna: Dari puasa yang disunnahkan adalah puasa di bulan-bulan haram, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram dan Rajab.” (Al Majmu’, 6/438)

Hal serupa disampaikan di Imam An Nawawi dalam kitab yang lain (lihat, Raudhah Ath Thalibin, 2/254).

Ibnu Hajar Al Haitami juga menyatakan,”Dan disunnahkan (puasa) di bulan-bulan haram, bahkan ia adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa setelah Ramadhan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram dan Rajab.” (Minhaj Al Qawim dengan Hasyiyah At Tarmasi, 5/804,805)

Dengan demikian, bisa dismpulkan bahwa Madzhab Asy Syafi’i mensunnahkan puasa Rajab secara mutlak, tanpa memandang bahwa amalan itu dilakukan di sebagian bulan Rajab atau di seluruh hari-harinya.

Imam Asy Syafi’i dalam pendapat qadim menyatakan makruh menyempurnakan puasa satu bulan di selain bulan Ramadhan, agar tidak ada orang jahil yang meniru dan mengira bahwa puasa itu diwajibkan, karena yang diwajibkan hanyalah puasa Ramadhan. Namun ketika unsur itu hilang, Imam Asy Asyafi’i menyatakan,”jika ia mengerjakan maka hal itu baik.” (Fadhail Al Auqat, 28)

Madzhab Hanbali

Al Buhuti menyatakan bahwa mengkhususkan puasa di bulan Rajab hukumya makruh. Namun Al Buhuti melanjutkan,”Dan hilang kemakruhan dengan berbuka meskipun hanya sehari, atau berpuasa pada bulan lain di tahun itu.” (Kasyf Al Qina’, hal. 1003)

Hal yang sama disampaikan Ibnu Rajab Al Hanbali, bahwa kemakruhan puasa di bulan Rajab hilang dengan tidak berpuasa penuh di bulan Rajab atau berpuasa penuh dengan menambah puasa sebulan di bulan lainnya di tahun itu. Sedangkan Imam Ahmad menyatakan tidak berpuasa Rajab secara penuh kecuali bagi yang berpuasa terus-menerus. (Lathaif Al Ma’arif, hal. 230)

Dengan demikian, madzhab Hanbali hanya memandang makruh bagi yang mengkhususkan Rajab untuk berpuasa sebulan penuh, namun ketika hal itu dilakukan tidak penuh di bulan itu, atau berpuasa penuh namun dengan berpuasa sebulan di bulan lain maka hilanglah unsur kemakruhan.

Bisa disimpulkan bahwa semua madzhab di atas sepakat mengenai dibolehkannya puasa bulan Rajab secara tidak penuh. Khilaf yang terjadi adalah berpuasa penuh di bulan Rajab tanpa disertai dengan puasa lainnya. Dan khilaf yang terjadi berkisar antara hukum sunnah dengan makruh, bukan haram.

Setelah posisi para ulama madzhab empat jelas bagi kita, bahwa hal ini adalah masalah khilafiyah yang mu’tabar, dimana berlaku kaidah yang menyatakan bahwasannya masalah ikhfilaf tidak boleh diinkari. Dengan demikian, hubungan baik antara umat Islam akan terjaga.

Jika dalam tulisan kali ini dibahas mengenai pendapat para ulama madzhab empat, dalam tulisan selanjutnya akan dibahas mengenai dalil-dalil dari masing-masing pihak dalam masalah ini. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

 

 

 

 

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Tarjih Berlapis-lapis dalam Madzhab http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2016/09/04/100134/tarjih-berlapis-lapis-dalam-madzhab.html Sun, 04 Sep 2016 12:05:49 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=100134

YANG amat penting untuk diketahui sebelum membahas lebih jauh mengenai tarjih dalam madzhab, adalah makna madzhab itu sendiri. Imam Al Mahalli […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

YANG amat penting untuk diketahui sebelum membahas lebih jauh mengenai tarjih dalam madzhab, adalah makna madzhab itu sendiri. Imam Al Mahalli menyatakan  mengenai madzhab As Syafi’i, yakni apa-apa yang dipilih oleh Imam As Syafi’i dan para pengikutnya terhadap hukum dalam berbagai masalah. (lihat, Hasyiyata  Al Qalyubi wa Amirah, 1/7)

Dari keterangan di atas, maka madzhab sejatinya adalah hasil ijtihad kolektif antara imam madzhab dengan para ulama pengikutnya, yang jumlahnya ribuan dalam kurun waktu yang cukup lama. Dimulai dari sejak sang imam hidup hingga pada saat ini. Di masa yang amat panjang itu, pemikiran yang dihasilkan dalam madzhab “digodog”, ada sanggahan ada jawaban, ada tambahan ada pengurangan, ada penguatan ada pelemahan. Hingga sampai pemikiran madzhab itu sampai kepada kita di masa ini.

Baiklah, untuk melihat betapa panjangnya proses “penggodogan” pemikiran dalam madzhab fiqih ini, mari sama-sama mengikuti aliran panjang sebuah pimikiran madzhab, sebagai contohnya, dalam hal ini madzhab Asy Syafi’i.

Imam As Syafi’i, mujtahid yang telah menggabungkan pemikiran ahlul hadits dan ahlu ra’yi ini setelah melakukan perjalanan panjang dalam menuntut ilmu, di Makkah, Madinah, Yaman, dan Iraq. Imam Asy Syafi’i telah mengambil ilmu dari para ulama besar seperti Muslim bin Khalid, Imam Malik serta Muhammad bin Hasan murid Imam Abu Hanifah. Setelah menetap di Iraq, Imam As Syafi’i pun menulis hasil ijtihadnya yang dikenal dengan Al Hujjah, yang disebut madzhab qadim.

Namun, Imam Asy Syafi’i tidak berhenti dengan kitab Al Hujjah. Setelah melakukan pengembaraan di Mesir, Imam As Syafi’i banyak merubah pendapatnya. Bahkan sang Imam melarang menisbatkan pendapat madzhab qadim kepadanya. Pendapat Imam Asy Syafi’i di Mesir ini yang disebut madzhab jadid. Hingga akhirnya Imam As Syafi’i mengahasilkan empat kitab, yakni Al Imla’, Mukhtashar Al Buwaithi, Mukhtashar Al Muzani, dan Al Umm. Nah, di masa sang Imam masih hidup, proses penggalian tidak berhanti. Proses revisi terus berlanjut.

Setelah Imam Asy Syafi’i (204 H) wafat, ganti, para murid beliau meneruskan penyempurnaan. Mereka berijtihad terhadap persoalan yang belum dihukumi imam, juga melakukan ijtihad yang hasilnya berbeda dengan imam dalam satu masalah.

Kemudian datanglah Imam Al Haramain Al Juwaini (478 H) menulis Nihayah Al Mathlab fi Dirayah Al Madzhab, yang merangkum keempat kitab Imam As Syafi’i atau mensyarah Muktashar Al Muzani. Dikupas di dalamnya khilaf para ulama Syafi’iyah dan tarjih terhadap persoalan.

Nihayah Al Mathlab, dengan formatnya yang cukup besar tidak semua pihak bisa mengkajinya, akhirnya datanglah sang murid, Imam Al Ghazali (505 H) meringkas Nihayah Al Mathlab menjadi Al Basith dalam format ringkasan yang besar, kemudian diringkas lagi menjadi Al Wasith dalam format tanggung, kemudian diringkas lagi menjadi Al Wajiz dalam format yang lebih kecil, kemudian diringkas lagi menjadi Al Khulashah dalam format yang paling kecil.

Tarjih Ar Rafi’i dan An Nawawi

Setelah itu, datanglah Imam Ar Rafi’i (624 H), ulama tarjih dalam madzab As Syafi’i menulis Al Aziz atau Fath Al Aziz yang mensyarah Al Wajiz Imam Al Ghazali. Kemudian, Imam Ar Rafi’i juga menulis Al Muharrar, yang mana ada pihak yang berpendapat bahwa ia merupakan ringkasan dari Al Wajiz atau Al Khulashah Imam Al Ghazali, meski ada yang berpendapat bahwa ia karya yang independen tidak meringkas ke dua-duanya. Imam Ar Rafi’i dalam hal ini berperan mentarjih pendapat-pendapat dalam madzhab.

Kemudian datanglah Imam An Nawawi (676 H) menulis Raudhah Ath Thalibin yang merupakan ringkasan dari Al Aziz atau Fath Al Aziz karya Ar Rafi’i, juga meringkas Al Muharar menjadi Minhaj Ath Thalibin. Di sini, Imam An Nawawi tidak sekedar meringkas, namun terkadang mendukung tarjih Imam Ar Rafi’i atau kadang mengkritiknya.

Karena penguasaan Imam Ar Rafi’i dan Imam An Nawawi dalam madzhab As Syafi’i dan kajian terhadap madzhab sangat mumpuni, maka para muhaqiqin dalam madzhab Asy Syafi’i sepakat bahwa kitab-kitab yang ada sebelum Imam Ar Rafi’i dan An Nawawi, tidak bisa dijadikan pijakan, kecuali setelah melakukan pengkajian hingga akhirnya mengetahui pendapat paling rajih dalam madzhab, tentu bagi yang memiliki kemampuan tersebut. Hal ini dikarenakan banyak ikhtilaf dan banyak tarjih. Dan puluhan penulis telah menetapkan hukum namun pada kenyataannya hal itu merupakan pendapat yang syadz dan menyelisihi jumhur (lihat, Al Khazain As Saniyah, hal. 162).

Tarjih yang disepakati oleh Imam An Nawawi dan Imam Ar Rafi’i adalah tarjih yang paling kuat. Kecuali jika muta’akhirin bersepakat bahwa dalam sejumlah perkara keduanya melakukan kesalahan tidak disengaja. Jika berbeda antara tarjih antara Imam An  Nawawi dan Ar Rafi’i, maka kebanyakan didahulukan pendapat Imam An Nawawi. Hal ini dikerenakan Imam An Nawawi telah melakukan pengkajian secara maksimal dalam madzhab (lihat, Al Khazain As Saniyah, hal. 170).

Imam An Nawawi sendiri, semasa beliau hidup, telah menghidmatkan umurnya untuk melakukan kajian mendalam terhadap syariat, hingga tarjih masih terus dilakukan. Dimana kadang terjadi perbedaan hukum antara kitab karya ulama besar ini sendiri. Sebab itulah yang diutamakan adalah kitab yang paling terakhir ditulis, yakni At Tahqiq baru Al Majmuk, kemudian At Tanqih lalu Raudhah Ath Thalibin, lalu Minhaj Ath Thalibin lalu Syarh Shahih Muslim, lalu Al Fatawa, lalu Tashih At Tanbih lalu Nukat At Tanbih (lihat, Al Khazain As Saniyah, hal. 170).

Gerakan Tarjih Kurun ke 10

Berhenti? Belum. Gerakan penulisan madzhab dan tarjih masih terus beranjut. Di kurun ke 10 Hijriyah, muncullah deretan ulama Syafi’iyah melanjutkan gerakan ini. Ada Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari (926 H) yang meringkas karya Imam An Nawawi, Minhaj Ath Thalibin dengan nama Manhaj Ath Thullab yang kemudian disyarh kembali menjadi Fath Al Wahhab. Syeikh Zakariya juga mensyarah Raudh Ath Thalib karya Ibnu Muqri yang merupakan ringkasan Raudha Ath Thalibin karya An Nawawi dengan judul Asna Al Mathalib.

Syeikh Zakariya tidaklah sendirian. Di sana ada tiga muridnya yang memperkuat gerakan ini, ke tiga-tiganya mensyarh kitab Minhaj Ath Thalibin karya Imam An Nawawi. As Syarbini mensyarah Minhaj Ath Thalibin menjadi Mughni Al Muhtaj, Ar Ramli mensyarahnya menjadi Nihayah Al Muhtaj sedangkan Al Haitami mensyarahnya menjadi Tuhfah Al Muhtaj. Ketika 4 guru-murid ini sepakat dalam satu pendapat, maka itulah yang mu’tamad dalam madzhab (Al Khaza`in As Saniyyah, hal. 170).

Tarjih Ar Ramli dan Al Haitami

Meski peran ke empat ulama cukup besar, namun akhirnya semua kembali kepada dua, Ar Ramli dan Al Haitami. Jika keduanya sepakat dalam satu masalah, maka itulah yang mu’tamad dalam madzhab, kecuali jika ada keroksi dari ulama setelahnya bahwa telah terjadi kekeliruan yang tidak disengaja (Al Haza`in As Saniyyah, hal. 174).

Namun, jika terjadi perbedaan antara keduanya, maka bagi ulama Mesir, mereka lebih mendahulukan Ar Ramli, karena Nihayah Al Muhtaj secara lengkap telah dibaca oleh 400 ulama di hadapan penulisnya, dan mereka telah melakukan koreksi dan kritikan. Sedangkan untuk ulama Hijaz dan Yaman. Namun, setelah para ulama, baik Mesir maupun Hijaz berinteraksi, maka dalam fatwa bisa memilih salah satu dari keduanya, atau memilih berdasarkan ijtihad jika memiliki kemampuan untuk itu.

Karena terus dilakukan kajian, proses tarjih kedua ulama ini pun terus berjalan. Hingga tidak heran ada perbedaan tarjih. Sebab itulah untuk Ibnu Hajar Al Haitami, tarjih yang paling diutamakan adalah yang diambil dari Tuhfah Al Muhtaj, baru Fath Al Jawwad, lalu Al I’ab kemudian Al Fatawa. Sedangkan untuk Ar Ramli jika ada perbedaan antara Nihayah Al Muhtaj dengan Syarh Al Idhah, maka didahulukan An Nihayah (Al Khaza`in As Saniyyah, hal. 177).

Gerakan Pasca Ibnu Hajar dan Ar Ramli

Fiqih dalam madzhab As Syafi’i terus menerus mengalir, penyempurnaan dan penghukuman terhadap masalah-masalah baru terus berjalan. Tatkala terdapat persoalan yang belum dihukumi oleh Ibnu Hajar dan Ar Ramli, maka fatwa diambil dari pendapat Syeikh Zakariya dan Khatib Asy Syarbini lalu para Ashab Al Khawasi, yakni mereka yang mencatat pendapatnya dalam mengomentari karya-karya ke empat ulama ini.

Ashab Al Khawasi yang banyak dirujuk dalam fatwa diantaranya adalah Az Ziyadi, Ibnu Qasim, Amirah, Asy Syubramulusi, Al Halabi, Asy Syubari, dan Al Inani.

Demikianlah jalan panjang pemikiran madzhab yang terus menyempurnakan diri dalam kurun lebih dari 10 abad. Diarsiteki oleh mereka yang memiliki otoritas, ribuan ulama dari mujtahid dengan metode yang konsisten yang telah digariskan oleh imam madzhab, didukung oleh mufasir, muhaddits, lughawi dan lainnya. Tentu, hal ini tidak akan didapati dari fiqih hasil pemikiran yang  baru menjalani proses perjalanan di masa kontemporer ini, baik yang digagas oleh kelompok, lebih-lebih perorangan.

Dengan menelusuri perjalanan yang teramat panjang ini, kita akhirnya mengetahui bahwa madzhab fiqih bukanlah bentuk kejumudan, namun penuh dengan dinamika, ijtihad dan tarjih dilakukan terus-menerus secara berkesinambungan. Meski demikian, tetap berpegang kepada otoritas dan kemampuan para pelakunya.

Dengan menelusiri perjalanan yang teramat panjang ini, kita akhirnya juga mengetahui bahwa tidak semua kitab karya penganut madzhab bisa diambil. Ada kitab-kitab yang mu’tabar. Ada kitab-kitab telah menempuh proses tarjih secara maksimal dan ada yang belum. Dan yang diajarkan di pesantran As Syafi’iyah di negeri ini adalah kitab-kitab muta’akhirin yang telah melalui proses tarjih berlapis-lapis seperti di atas. Kitab mutaqadimin dipelajari ketika seseorang sudah mengetahui pendapat rajih dalam madzhab. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

 

 

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mengenal Hujjah Madzhab Asy Syafi’i http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2016/07/30/98582/mengenal-hujjah-madzhab-asy-syafii.html Sat, 30 Jul 2016 15:54:38 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=98582

SELURUH madzhab-madzhab fiqih dalam Islam sepakat bahwa Al Qur`an dan Sunnah merupakan rujukan dalam pengambilan istimbath atau kesimpulan hukum, disamping ada […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SELURUH madzhab-madzhab fiqih dalam Islam sepakat bahwa Al Qur`an dan Sunnah merupakan rujukan dalam pengambilan istimbath atau kesimpulan hukum, disamping ada ijma’ dan qiyas yang digunaan oleh madzhab empat yang mu’tabar.

Dalam madzhab pula tidak hanya fuqaha’, mufassir dan muhaddits pun ikut serta dalam memberikan kontribusi dalam membangun madzhab. Dan dalam faktanya, para ulama mufassir dan muhaddits juga bermadzhab (baca, Ahlul Hadits “Ahlul Madzhab”)

Dengan demikian, dalil, baik Al Qur`an dan As Sunnah sudah menjadi kajian ulama madzhab sejak lama dan berkesinambungan sedangkan mereka adalah orang-orang yang memiliki otoritas di bidangnya hingga madzhab akhirnya terbangun kokoh di atas dalil-dalilnya.

Dan hasilnya, masing-masing madzhab memiliki produk yang berupa kitab-kitab yang menunjukkan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah yang menjadi pijakan  dalam madzhab.

Jika sebelumnya sudah dibahas mengenai kitab-kitab yang memuat dalil-dalil madzhab Hanafi (baca, Kenali Saudara-saudarmu Madzhab Hanafi) serta madzhab Maliki (baca, Tak Disebut Dalil, bukan berarti Madzhab Maliki Tak Berdalil), saat ini kita bahas hujjah madzhab Asy Syafi’i.

Al Umm, Kitab Hadits

Sejak mulai dari imam madzhab, kitab fiqih yang ditulis menyertakan dalilnya. Dalam hal ini, Al Umm karya Imam Asy Syafi’i, meski merupakan hasil ijtihad fiqih, namun disertakan di dalamnya dalil-dalil, baik Al Qur`an maupun Hadits serta dalil-dalil lainnya. Sedangkan hadits-hadits dan atsar yang tercantum merupakan periwayatan langsung Imam As Syafi’i yang bersambung hingga sahabat dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, hingga Syeikh Muhammad bin Jakfar Al Kattani menyebutnya dalam jajaran kitab-kitab hadits dalam Ar Risalah Al Mustatharrifah.

Ma`rifah As Sunan wa Al Atsar

Sedangkan Imam Al Baihaqi sendiri telah membukukan hujah-hujjah Sunnah dalam madzhab Asy Syafi`i dalam karya yang cukup besar yang berjudul Ma’rifah As Sunan wa Al Atsar yang kini dicetak dalam 15 jilid. Untuk kitab ini, Imam As Subki menjelaskan bahwa makna dari judul itu adalah Ma’rifah Asy Syafi’i bi As Sunan wa Al Atsar (pengetahuan Asy Syafi’i terhadap Sunah-sunah dan Atsar-atsar).

Mengenal Takhrij Dalil Madzhab As Syafi’i

Madzhab Asy Syafi’i sendiri memiliki banyak kitab fiqih yang menyertakan dalil, bahkan takhrij terhadap dalil-dalil Sunnah dalam kitab-kitab fiqihnya.

Dalam kitab-kitab tersebut, para penulisnya menjelaskan kedudukan asal hadits dan kedudukan derajatnya serta jawaban-jawaban terhadap kritikan madzhab lain terhadap hadits-hadits yang digunakan dalam pijakan madzhab. Diantara kitab-kitab takhrij dalam madzhab As Syafi’i adalah:

  1. Takhrij Syarh Al Kabir

Badr Al Munir, adalah kitab takhrij hadits-hadits Syarh Al Kabir karya Imam  Ar Rafi’i oleh Al Hafidz Ibnu Al Mulaqqin yang kini dicetak sepuluh jilid yang kemudian diringkas menjadi Khulashah Badr Al Munir, yang kemudian diringkas lagi menjadi Muntaqa Khulashah Badr Al Munir yang juga ditulis oleh Ibnu Al Mulaqqin.

Sang murid, Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani juga melakukan takhrij terhadap hadits-hadits Syarh Al Kabir yang bernama Talhis Al Habir.

Imam As Suyuthi juga memiliki karya yang berjudul Nasyr Al Abir yang juga merupakan takhrij terhadap hadits-hadits Syarh Al Kabir.

Dalam kitab-kitab tersebut, para penulisnya menjelaskan kedudukan hadits serta jawaban-jawaban terhadap kritikan madzhab lain terhadap hadits-hadits yang digunakan dalam pijakan madzhab.

Selain tiga nama di atas, sejumlah ulama Syafi’iyah juga menulis karya dalam takhrij hadits-hadits di Syarh Al Kabir, diantara mereka adalah Qadhi Al Qudhat Abu Umar bin Abdil Aziz Al Hamawi Asy Syafi’i, Badruddin Ibni Jam’ah Al Kinani Asy Syafi’i serta Badruddin Az Zarkasyi.

  1. Takhrij Al Wasith

Al Hafidz Ibnu Al Mulaqqin juga menulis karya mengenai takhrij hadits-hadits dalam kitab Al Wasith karya Imam Al Ghazali yang bernama Tadzkirah Al Ahyar.

  1. Takhrij Al Muhadzdzab

Dalam hal ini, Ibnu Al Mulaqqin juga memiliki karya takhrij hadits-hadits Al Muhadzdzab karya Imam Asy Syirazi.

  1. Takhrij Al Minhaj

Ibnu Al Mulaqqin juga melakukan takhrij terhadap-hadits-hadits dalam kitab Minhaj Ath Thalibin yang merupakan rujukan madzhab Asy Syafi’i muta’akhirin yang berjudul Tuhfah Al Muhtaj.

  1. Takhrij Al Ihya

Dalam madzhab Asy Syafi’i, Ihya Ulumiddin karya Al Ghazali juga menjadi rujukan penting, dan Al Hafidz Al Iraqi sendiri telah melakukan takhrij terhadap hadits-haditsnya. Sebagai tambahan, selain Al Iraqi, Al Hafidz Murtadha Az Zabidi juga melakukan takhrij terhadap Al Ihya, bahkan berhasil menunjukkan hadits-hadits yang Al Iraqi tidak mengetahui asalnya, meskipun Az Zabidi sendiri bermadzhab Hanafi.

Walhasil, ulama-ulama madzhab sudah lama mengkaji dalil-dalil mereka sedangkan mereka sendiri adalah para huffadz hadits, dan telah mengabadikan hal itu dalam kitab-kitab mereka. Tentu merupakan hal yang amat menyedihkan jika ada penuntut ilmu di zaman modern ini begitu tergesa-gesa menghakimi pendapat madzhab di saat belum memiliki pengetahuan tentang madzhab dan dalil-dalilnya secara maksimal. Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan tersebut. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.*

 

 

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mengikuti Madzhab Tertentu, Haruskah? http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2016/03/20/91422/mengikuti-madzhab-tertentu-haruskah.html Sun, 20 Mar 2016 09:37:48 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=91422

MENGIKUTI madzhab fiqih tertentu, haruskah? Sebelum menjawab pertanyaaan tersebut perlu kita mengetahui sejatinya apa sebenarnya makna madzhab itu. Imam Al […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

MENGIKUTI madzhab fiqih tertentu, haruskah? Sebelum menjawab pertanyaaan tersebut perlu kita mengetahui sejatinya apa sebenarnya makna madzhab itu. Imam Al Mahalli menyatakan, bahwa madzhab adalah apa-apa yang dipilih oleh Imam As Syafi’i dan para pengikutnya terhadap hukum dalam berbagai masalah, sebagaimana disebutkan Imam Al Mahalli dalam Syarh beliau terhadap Al Minhaj. (lihat, Hasyiyatani Qalyubi wa Umairah, 1/7)

Dengan definisi di atas, jika disebut misalnya, “madzhab As Syafi’i”, maka yang dimaksud tidak hanya mencakup pendapat Imam As Syafi’i, namun juga pendapat para ulama mu’tabar pengikutnya.

Jika madzhab adalah produk berupa pendapat-pendapat hukum, tentu madzhab juga memiliki ushul (pijakan) atau dalil serta metodologi. Dimana dengan keduanya, maka terciptalah produk berupa pendapat-pendapat fiqih. Dan seluruh madzhab sepakat bahwa ushul adalah Al Qur`an, As Sunnah, ijma dan qiyas dan ada perbedaan pendapat mengenai penggunaan perkataan shahabat, amal ahli madinah, istihsan, mashalih mursalah dan istishab. Demikian pula dalam hal metodologi “pengolahan” dalil, masing-masing madzhab memiliki ciri khas satu sama lain. Jika diandaikan bahwa madzhab adalah menu yang siap dikonsumsi yang berupa pandangan fiqih yang sudah matang, maka perlu adanya bahan untuk menu itu yang disebut ushul atau dalil, juga metodologi memasaknya. Seperti itulah gambar singkat mengenai apa itu madzhab fiqih.

Dengan gambaran tersebut, sejatinya mengikuti salah satu madzhab fiqih merupakan bentuk konsistensi terhadap ushul atau dalil juga terhadap metodologi, meski terkadang menghasilkan produk berbeda karena perbedaan tingkatan kemampuan yang menyebabkan terjadinya khilaf pendapat dalam satu madzhab.

Jika demikian, maka pertanyaan apakah seseorang itu harus mengikuti madzhab tertentu, sama dengan pertanyaan apakah seseorang itu harus konsisten mengikuti dalil atau ushul serta metodologi terntentu dalam mengambil kesimpulan dari dalil itu. Jadi haruskah seseorang itu konsisten? Dengan menjawab ini maka kita temukan jawaban pertanyaan “haruskah mengikuti madzhab tertentu dalam fiqih?”

Varian dalam Bermadzhab

Dalam realita, sejak masa salaf (madzhab-madzhab fiqih di masa salaf akan dibahas di kesempatan lain) hingga kini ulama mu’tabar hanya terbagi menjadi dua, yakni ulama mujtahid muthlak pengasas madzhab kemudian ulama  mengikuti madzhab mujtahid.

Mujtahid Muthlaq

Mereka yang memperoleh tingkatan paling tinggi dalam dunia keilmuan, khususnya berkenaan dengan syariat disebut sebagai mujtahid mutlak, atau mufti mustaqil (independen) Artinya, tidak terikat dengan madzhab. Bahkan mujtahid inilah perintis madzhab.  Mereka tidak hanya memiliki produk pemikiran yang berupa fiqih, tapi mereka juga menciptakan metode dalam menggali hukum-hukum syariat dari dalilnya. Orang-orang khusus ini semisal Imam Madzhab 4 serta ulama mujtahid mutlak lainnya, semisal Al Auza’i, At Tsauri, Al Laits juga 4 al Khulafa’ ar Rasyidun.

Mujtahid Madzhab

Selanjutnya tingkatan di bawah mujathid mutlak adalah mujtahid madzhab atau mujtahid mutlak ghairu mustaqil (tidak independen), yakni ulama yang tidak taqlid kepada imamnya, baik dalam pendapat atau dalilnya namun tetap menisbatkan kepada imam karena masih mengikuti metode ijithad imam. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72)

Dalam tingkatan ini, mulailah ulama itu bermadzhab pada madzhab mujtahid tertentu, hanya saja dengan cara konsisten kepada ushul dan metodologi yang ditetapkan imam madzhab, namun untuk masalah hasil, kadang bisa berbeda dengan imam. Merekalah yang dilarang taklid terhadap hasil ijtihad imam. Pada ulama derajat inilah diterapkan perkataan imam madzhab “hadits shahih adalah madzhabku” (baca, “Hadits Shahih Madzhabku”, Ditujukan kepada Mujtahid, juga :Hadits Shahih Madzhabku, Bukan untuk yang Belajar dari Terjemahan)

Ulama Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah Imam Al Muzani dan Al Buwaithi. Di kalangan muta’akhirin Imam As Suyuthi juga mengaku sampai pada derajat ini (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

Dalam madzhab Hanafi, ulama yang sampai dalam tingkatan ini adalah Imam Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang merupakan murid Imam Abu Hanifah. (lihat,  Syarh ‘Ala Jami’ As Shaghir Al Laknawi, 1/7)

Dalam madzhab Maliki ulama yang sampai pada derajat ini adalah Imam Ibnu Qasim dan Asyhab. (lihat, Nail Ibtihaj, hal. 441)

Dalam Madzhab Hanbali yang menyatakan sampai pada derajat ini adalah Qadhi Abu Ali Al Hasyimi juga Qadhi Abu Ya’la. (lihat, Sifat Al Fatwa, Ibnu Hamdan, hal. 17)

Ashab Al Wujuh

Di bawah para ulama mujtahid madzhab ada ulama ashab al wujuh, yakni mereka yang taqlid kepada imam dalam masalah syara’, baik dalam dalil maupun ushul Imam. Namun, mereka masih memiliki kemampuan untuk menentukan hukum yang belum disimpulkan imam dengan menyimpulkan dan menkiyaskan (takhrij) dari pendapat Imam, sebagaimana para mujtahid menentukannya dengan dalil. Biasanya mereka mencukupkan diri dengan dalil imam. (lihat Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

Dari para ulama yang mencapai derajat ini adalah Imam Al Qaffal dan Imam Abu Hamid atau Ahmad bin Bisyr bin Amir, mufti Syafi’iyyah di Bashrah. (lihat, Mukhtashar Al Fawaid Al Makiyyah, hal.53)

Dalam madzhab Hanafi, Abu Bakr Al Jashas digolongkan dalam kelompok ini. (lihat, Syarh Al Laknawi li Al Jami’ As Shaghir, 8/1)

Mujtahid Tarjih

Golongan ini juga disebut sebagai mujtahid fatwa, termasuk para ulama yang tidak sampai pada derajat ashab al wujuh, namun menguasai madzhab imam dan dalilnya serta melakukan tarjih terhadap pendapat-pendapat dalam madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

Perlu diketahui, dengan adanya mufti-mufti yang berada di atas tingkatan ini, dalam madzhab sudah banyak terjadi khilaf, baik antara imam dengan mujtahid madzhab juga disebabkan perbedaan kesimpulan para ashab al wujuh terhadap pendapat imam. Disinilah ulama pada tingkatan ini berperan untuk mentarjih. Namun tarjih masih dilakukan dalam ruang lingkup ulama dalam madzhab yang dianut, karena terikat dengan metodologi madzhab yang dipegang

Dalam madzhab As Syafi’i, mereka yang berada dalam tingkatan ini Imam Ar Rafi’i dan Imam An Nawawi (lihat, An Nihayah, hal. 7 dan Al Bughyah, hal. 7)

Mufti Muqallid

Tingkatan mufti dalam madzhab yang paling akhir adalah mereka yang menguasa madzhab baik untuk masalah yang sederhana maupun yang rumit. Namun tidak memiliki kemampuan seperti mufti-mufti di atasnya. Maka fatwa mufti yang demikian bisa dijadikan pijakan penukilannya tentang madzhab dari pendapat imam dan cabang-cabangnya yang berasal dari para mujtahid madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74)

Ibnu Hajar Al Haitami,  Imam Ar Ramli  dalam madzhab As Syafi’i termasuk kelompok mufti muqallid, walau sebagian berpendapat bahwa mereka juga melakukan tarjih dalam beberapa masalah. (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

Manusia Awam

Di atas adalah tingkatan kemampuan ulama yang memiliki otoritas dalam keilmuwan berkenaan dengan syariat, adapun untuk manusia awam, apakah harus terikat dengan madzhab tertentu? Pendapat yang shahih menurut An Nawawi dan Az Zarkasyi adalah tidak terikat dengan madzhab karena para sahabat tidak mengingkari kaum awam taklid siapa saja. (Bahr Muhith, 8/374)

Kita telah mengetahui tingkatan kemampuan para ulama mu’tabar seperti di atas dimana seluruhnya, kecuali mujtahid muthlaq mengikuti madzhab ulama mujtahid tertentu, dengan keistimewaan sesaui dengan kemampuannya.

Di Mana Posisi Kita?

Nah, ketika kita menilai bahwa kita harus konsisten terhadap dalil dan metodologi tertentu sebagaimana sikap para ulama mu’tabar, kita kemudian bisa mulai mengukur di mana posisi kita. Apakah kita sedang berada di posisi mujtahid muthlaq semisal Imam Abu Hanifah yang tidak terikat dengan madzhab mujtahid lain dan menyimpulkan nash-nash secara mandiri dengan metodologi sendiri? Atau mujtahid madzhab seperti Imam Al Buwaithi yang berijtihad dengan metode imamnya? Atau melakukan tarjih untuk pendapat dalam satu madzhab setingkat dengan Imam An Nawawi? Atau menguasai pendapat madzhab baik yang pelik maupun yang mudah namun dengan cara taklid seperti Imam Ar Ramli? Ataukah awam, yang memperoleh kemudahan untuk taklid siapa saja? Tentu, awam tidak memiliki otoritas dalam keilmuan, hanya menerima dari para ulama.*

 

 

 

 

 

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>