Hikmah – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Seburuk-buruk Kaum, Hanya Beribadah di Bulan Ramadhan Saja http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2018/06/19/144404/seburuk-buruk-kaum-hanya-beribadah-di-bulan-ramadhan-saja.html Tue, 19 Jun 2018 11:55:37 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144404

BISYR AL HAFI, seorang ulama shalih suatu saat ditanya,”Ada kaum yang hanya beribadah di bulan Ramadhan saja.” Bisyr pun menjawab,”Seburuk-buruk […]

The post Seburuk-buruk Kaum, Hanya Beribadah di Bulan Ramadhan Saja appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BISYR AL HAFI, seorang ulama shalih suatu saat ditanya,”Ada kaum yang hanya beribadah di bulan Ramadhan saja.”

Bisyr pun menjawab,”Seburuk-buruk kaum adalah kaum yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya di bulan  Ramadhan saja. Sesungguhnya seorang disbut shalih ketika ia beribadah dan bermujahadah selama setahun penuh.”

Asy Syibli pernah dintanya,”Mana yang paling utama, Rajab atau Sya’ban?” Maka ia pun menjawab,”Jadilah seorang Rabbani, bukan Sya’bani.”

Maknanya, handaklah seorang Muslim melakukan ibadah secara terus-menerus di setiap waktu. (Latha’if Al Ma’arif, hal. 396).

 

The post Seburuk-buruk Kaum, Hanya Beribadah di Bulan Ramadhan Saja appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144404
Tahnis, Memuaskan Nafsu Makan-Minum Sebelum Ramadhan http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2018/05/11/142100/tahnis-memuaskan-nafsu-makan-minum-sebelum-ramadhan.html Fri, 11 May 2018 05:47:11 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=142100

PARA ulama memandang bahwa puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan adalah perkara yang dimakruhkan. Al Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan […]

The post Tahnis, Memuaskan Nafsu Makan-Minum Sebelum Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

PARA ulama memandang bahwa puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan adalah perkara yang dimakruhkan. Al Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan beberapa pandangan mengenai sebab dimakruhkannya hal itu, salah satunya adalah agar dikuatkan dalam menghadapi puasa Ramadhan, karena berkesinambungan puasa di bulan Sya’ban dengan Ramadhan terkadang bisa membuat fisik lemah ketika menjalankan puasa fardhu. Meski pandangan ini lemah, namun berbuka dengan niat agar kuat dalam menghadapai puasa di bulan Ramadhan adalah perkara baik bagi seseorang yang merasa lemah jika melaksanakan puasa sebelumnya.

Namun berbuka sebelum di akhir bulan Sya’ban bukan berarti merupakan kesempatan untuk memuasan hawa nafsu sebelum bulan Ramadhan tiba, sebagaimana dipahami oleh orang-orang jahil. Hal ini disebut dengan tanhis, yakni hari-hari untuk melakukan perpisahan dengan makan dan minum dengan menikmati aneka macam makanan dan minuman. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 273-276)

Tradisi untuk makan sepuas-puasnya menjelang Ramadhan merupakan tradisi yang pernah hidup, dimana dikisahkan bahwasannya suatu saat seorang yang shalih dari para salaf menjual budaknya kepada suatu kaum. Suatu saat si budak wanita ini menyaksikan mereka menyibukkan diri dengan mempersiapkan makanan menjelang Ramadhan tiba. Budak wanita itu pun bertanya akan hal itu, dan mereka pun menjawab,”Kita bersiap menghadapi puasa Ramadhan,” Budak itu pun berkata,”Apakah kalian hanya puasa di bulan Ramadhan saja? Sedangkan sebelumnya aku berada di suatu kaum yang seluruh masanya adalah Ramadhan, kembalikan aku kepada mereka!” (Latha`if Al Ma’arif, hal. 278)

The post Tahnis, Memuaskan Nafsu Makan-Minum Sebelum Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
142100
Enam Bulan Berdoa Agar Sampai kepada Ramadhan http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2018/04/18/140768/enam-bulan-berdoa-agar-sampai-kepada-ramadhan.html Wed, 18 Apr 2018 01:44:46 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140768

BETAPA perhatian umat terdahulu cukup besar, hingga mereka memulai “start” untuk menuju Ramadhan di masa-masa yang cukup lama. Sejak enam […]

The post Enam Bulan Berdoa Agar Sampai kepada Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BETAPA perhatian umat terdahulu cukup besar, hingga mereka memulai “start” untuk menuju Ramadhan di masa-masa yang cukup lama. Sejak enam bulan sebelum Ramadhan, para ulama sudah berdoa agar disampaikan kepada Ramadhan. Sebagaimana disampaikan Al Hafidz Ibnu Rajab Al Hanbali,”Sebagian salaf berkata, bahwa mereka berdoa selama enam bulan agar sampai pada bulan Ramadhan.” (Latha`if Al Ma’arif, hal. 376)

The post Enam Bulan Berdoa Agar Sampai kepada Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
140768
Ketika Nuruddin Zanki Menyebut Dirinya “Anjing” http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2018/02/23/136353/ketika-nuruddin-zanki-menyebut-dirinya-anjing.html Fri, 23 Feb 2018 15:11:34 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=136353

SULTHAN NURUDDIN MAHMUD ZANKI kala itu berada di Damaskus, ia amat merisaukan keadaan umat Islam di Mesir, dimana pasukan Frank […]

The post Ketika Nuruddin Zanki Menyebut Dirinya “Anjing” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SULTHAN NURUDDIN MAHMUD ZANKI kala itu berada di Damaskus, ia amat merisaukan keadaan umat Islam di Mesir, dimana pasukan Frank (pasukan Salib) mencoba melakukan pengepungan atas kota Dimyath dari arah laut.

Suatu saat imam shalat Nuruddin Zanki di malam hari saat pasukan Frank mengakhri pengepungan dan meninggalkan Dimyath, ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, dimana beliau menyampaikan,”Sampaikan kepada Nuruddin, sesungguhnya Frank telah meninggalkan Dimyath malam ini.”

Sang imam pun berkata,”Wahai Rasulullah, bisa jadi ia tidak mempercayaiku, baginda sebutkan tanda dimana ia bisa mempercayainya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyampaikan,”Katakan kepadanya, يengan bukti mengenai sujudmu di Tal Harim, dimana engkau berdoa,”Ya Rabb, tolonglah dien-Mu, jangan Engkau menolong seorang Mahmud. Siapakah dia Mahmud Anjing ini, sehingga layak Engkau tolong!”

Setelah itu, sang imam pun terbangun, kemudian ia pun bergegas ke masjid. Sedangkan Nuruddin Mahmud Zanki memiliki kebiasaan datang di masjid sebelum fajar, dan ia melaksanakan shalat hingga datang waktu shalat shubuh.

Setelah itu sang imam pun mengabarkan mengenai mimpinya, dia ia menyebutkan tanda sebagai bukti bahwa mimpi ia benar. Namun sang imam waktu itu tidak menyebutkan kata “anjing”.

Kemudian Nuruddin pun membalas,”Sebutkan tandanya secara keseluruhan.” Akhirnya sang imam pun menyebutkan kembali tanda yang diperoleh dari mimpinya, hingga ia menyebutkan kata “anjing”.

Setelah itu, Nuruddin Mahmud Zanki pun menangis, dan membenarkan mimpi itu. Setelah malam itu, datanglah kabar berita bahwa pasukan Frank telah meninggalkan Dimyath (lihat, Iqdul Juman fi Tarikh Ahliz Zaman, 1/36,37).*

The post Ketika Nuruddin Zanki Menyebut Dirinya “Anjing” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
136353
Nuruddin Zanki Mendapat Keluhan dari Yahudi http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2018/02/20/135923/nuruddin-zanki-mendapat-keluhan-dari-yahudi.html Tue, 20 Feb 2018 08:25:33 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=135923

NURUDDIN ZANKI bersama pasukannya suatu saat datang di wilayah Al Jazirah. Ia memasuki benteng, sedangkan pasukannya mendirikan tenda. Salah satu […]

The post Nuruddin Zanki Mendapat Keluhan dari Yahudi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

NURUDDIN ZANKI bersama pasukannya suatu saat datang di wilayah Al Jazirah. Ia memasuki benteng, sedangkan pasukannya mendirikan tenda.

Salah satu pejabatanya, Amir Izuddin Abu Bakr Ad Dubisi menggunakan rumah seorang Yahudi untuk singgah dan memerintahkan pemiliknya keluar.

Penganut Yahudi pun datang mengadu kepada Nuruddin Zanki yang saat itu berada di atas pelana kuda, sedanglan Ad Dubisi berdiri di bawah Nuruddin Zanki. Setelah mendengar keluhan penganut Yahudi itu, Nuruddin Zanki melihat Ad Dubisi dengan pandangan penuh kemarahan, tanpa berbicara kepadanya.

Setelah itu, Nuruddin Zanki pun memerintahkan pasukannya untuk mencabut tenda-tenda mereka. Saat itu, tanah wilayah itu berlumpur hingga tidak layak untuk didirikan tenda di atasnya. (Ar Raudhatain, 1/184)

The post Nuruddin Zanki Mendapat Keluhan dari Yahudi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
135923
Menjaga Manisan Sebelum Menjaga Benteng http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2018/02/19/135919/menjaga-manisan-sebelum-menjaga-benteng.html Mon, 19 Feb 2018 08:24:53 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=135919

NURUDDIN ZANKI biasa menguji para pejabatnya sebelum memberikan tanggung jawab yang lebih besar. Suatu saat ia menyerahkan manisan kepada pejabatnya,”Jagalah […]

The post Menjaga Manisan Sebelum Menjaga Benteng appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

NURUDDIN ZANKI biasa menguji para pejabatnya sebelum memberikan tanggung jawab yang lebih besar. Suatu saat ia menyerahkan manisan kepada pejabatnya,”Jagalah khusykanakah ini!”

Pejabatnya pun menyimpan manisan itu baik-baik di rumahnya, meski lebih satu tahun.

Setelah itu Nuruddin Mahmud Zanki datang kepada si pejabat dan berkata,”Mana khusukanakah?”

Penjabat itu pun membuka sapu tangan dan menyerahkan manisan itu kepada Nuruddin Zanki.

Setelah itu, Nuruddin Zanki pun berkata,”Orang sepertimu layak untuk bertanggung jawab atas benteng.”

Akhirnya Nuruddin Zanki memberikan amanah kepada pejabat itu atas benteng Kwasy di Dzurdariyah, hingga Nuruddin Zanki wafat. (Ar Raudhtain, 1/185)

The post Menjaga Manisan Sebelum Menjaga Benteng appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
135919
Mulazamah Guru Selama Dua Puluh Tahun! http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2018/01/04/132154/mulazamah-guru-selama-dua-puluh-tahun.html Wed, 03 Jan 2018 21:46:06 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=132154

SYEIKH ABDUL WAHHAB ASY SYA’RANI bermulazamah kepada gurunya Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari selama dua puluh tahun. Selama ia […]

The post Mulazamah Guru Selama Dua Puluh Tahun! appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SYEIKH ABDUL WAHHAB ASY SYA’RANI bermulazamah kepada gurunya Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari selama dua puluh tahun. Selama ia bermulazah, ia tidak pernah menyaksikan gurunya dalam keadaan lalai, baik siang maupun malam. Syeikh Zakariya selalau melaksanakan shalat sunnah rawatib dengan berdiri meski sudah tua.

Ketika Syeikh Abdul Wahhab Asy Sya’rani membaca kitab di hadapan sang guru, sang guru selalu mengucap,” Allah…Allah…” dengan suara lirih, hingga pelajaran selesai.Syeikh Zakariya pun tidak pernah makan kecuali dari roti jatah dari khanqah Said Su’ada, yang mana pewakafnya adalah penguasa shalih.* (Thabaqat Al Kubra, 2/222)

The post Mulazamah Guru Selama Dua Puluh Tahun! appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
132154
Menghafal Kitab Hingga Tenggorokan Berdarah http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2018/01/01/131903/menghafal-kitab-hingga-tenggorokan-berdarah.html Sun, 31 Dec 2017 22:31:52 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=131903

SYEIKH ABDUL WAHHAB ASY SYA’RANI suatu saat disarankan oleh sang guru, yakni Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari untuk manghafal […]

The post Menghafal Kitab Hingga Tenggorokan Berdarah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SYEIKH ABDUL WAHHAB ASY SYA’RANI suatu saat disarankan oleh sang guru, yakni Syeikh Al Islam Zakariya Al Anshari untuk manghafal Raudh Ath Thalib, sedangkan sebelumnya Syeikh Asy Sya’rani telah hafal Minahaj Ath Thalibin. “Ia adalah kitab tebal”, jawab Syeikh Asy Sya’rani.

Syeikh Zakariya Al Anshari pun menjawab,”Bersegeralah dan bertawakallah, sesungguhnya setiap orang yang bersungguh-sungguhakan memperoleh bagiannya.”

Syeikh Asy Sya’rani pun mengahafal kitab tersebut, sampai di Bab Al Qadha, dan ia pun menggeluarkan darah karena kehabisan suara karena menghafal, sehingga sang guru pun menyarankan untuk berhenti. (Thabaqat Al Kubra, 2/223).*

The post Menghafal Kitab Hingga Tenggorokan Berdarah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
131903
Jaga Pandangan, Ulama Terdahulu Pakai Kain Selendang di Kepala kalau ke Pasar http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2017/12/21/131076/jaga-pandangan-ulama-terdahulu-pakai-kain-selendang-di-kepala-kalau-ke-pasar.html Wed, 20 Dec 2017 18:14:47 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=131076

PARA Salaf memiliki tradsis meletakkan thayalis (kain berwarna hujau yang biasa ditaruh di atas pundak) di atas kepala mereka ketika […]

The post Jaga Pandangan, Ulama Terdahulu Pakai Kain Selendang di Kepala kalau ke Pasar appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

PARA Salaf memiliki tradsis meletakkan thayalis (kain berwarna hujau yang biasa ditaruh di atas pundak) di atas kepala mereka ketika bepergian ke laur rumah termasuk ke pasar, karena hal itu menjaga pandangan mereka. Dengan meletakkan kain di atas kepala, maka mereka terbantu untuk menundukkan pandangan, dan perlu berpayah-payah untuk melihat ke atas, karena tertutup oleh kain.

Tradisi itu ditiru oleh para sufi, dimana mereka tidak keluar ke pasar kecuali dengan memakai thayalis di atas kepala  mereka dan tidak melepasnya kecuali setelah sampai di rumah. Imam As Suyuthi sendiri memiliki karya khusus mengenai hal ini dengan nama Al Ahadits Al Hisan fi Ma Warada fi Ath Thailasan.

Syeikh Madyan pernah memiliki murid yang keluar ke pasar dengan tanpa memakai thailasan, dia pun melihat kendi khmar lalu memecahkanya. Setelah itu, Syeikh Madyan pun memutuskan hubungan dengan sang murid tersebut, dan ketika ditanya Syeikh Madyan mengatakan,”Aku menjauhkannya bukan karena ia memecahkan kendi khamr namun karena ia keluar dengan tanpa memakai thaisalan…” (Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyah, hal. 323-324)

The post Jaga Pandangan, Ulama Terdahulu Pakai Kain Selendang di Kepala kalau ke Pasar appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
131076
Pedagang Shalih, Enggan Barang Dagangan Dibeli Lebih Mahal http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2017/12/19/130906/pedagang-shalih-enggan-barang-dagangan-dibeli-lebih-mahal.html Mon, 18 Dec 2017 18:26:42 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=130906

SYEIKH ALI AL KHAWWAS seorang ulama shalih yang menjual besek (wadah yang terbuat dari anyaman tumbuhan). Jika pembeli membeli barang […]

The post Pedagang Shalih, Enggan Barang Dagangan Dibeli Lebih Mahal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SYEIKH ALI AL KHAWWAS seorang ulama shalih yang menjual besek (wadah yang terbuat dari anyaman tumbuhan). Jika pembeli membeli barang dagangannya dengan harga yang lebih tinggi, Syeikh Ali Al Khawwas mengembalikan kelebihan itu.

Jika si pembeli menyampaikan alasannya dalam melakukan hal itu dengan mangatakan,”Menurut perasaanku besek yang Anda jual itu bagus”, Syeikh Ali Khawwas pun menjawab,”Menurutku berang itu tidak bagus.” (Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyyah, hal. 306).*

The post Pedagang Shalih, Enggan Barang Dagangan Dibeli Lebih Mahal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
130906