frontpage hit counter

Libatkan Diri dan Bersemangatlah dalam Pekerjaan Bermanfaat

Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah

Libatkan Diri dan Bersemangatlah dalam Pekerjaan Bermanfaat
ilustrasi

Terkait

MUNGKIN di antara kita pernah terbesit suatu pertanyaan, kenapa anak muda sekarang lebih suka kongkow-kongkow tidak karuan ketimbang antusias dalam menuntut ilmu, mengaji dan memakmurkan masjid.

Sebagian menyalahkan pihak eksternal dengan perkembangan berbagai macam media dan program yang menstimulasi anak-anak muda saat ini kan jauh dari ajaran agamanya. Sementara, dari sebagian umat Islam sendiri upaya untuk benar-benar menyeru generasi muda pada ajaran Islam tidak segetol pihak eksternal yang begitu luar biasa dalam mengemas program yang memancing minat anak muda.

Dalam ha ini patut bagi kita semua memperhatikan apa yang disampaikan oleh penulis buku La Tahzan, Aid Al-Qarni.

Beliau menulis, “Saya sendiri telah mencermati catatan perjalanan sejarah dan saya mendapatkan kesimpulan bahwa rata-rata musuh-musuh Allah itu memiliki kesungguhan, keras, tekad dan ambisi. Aneh bin ajaib, memang. Ironisnya, kaum Muslimin sendiri bermalas-malasan, loyo, bergantung kepada yang lain, dan tidak semangat.”

Kemudian Al-Qarni memberikan bukti, “Walid bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf dan Al’’Ash bin Wail telah membelanjakan hartanya untuk memerangi risalah dan melawan kebenaran.”

“Namun, kebanyakan kaum Muslimin justru kikr dengan harta mereka, sehingga tidak terbangun menara keutamaan dan tugu keimanan,” urainya lebih lanjut.

Semangat Umar bin Khaththab

Melihat situasi dan kondisi yang demikian, Al-Qarni pun memberikan contoh Umar bin Khathab, sosok Muslim tangguh yang mesti ditauladani umat Islam.

Umar adalah sosok Muslim yang sangat semangat, cekatan dan penuh gairah dalam berbagai macam pekerjaan bermanfaat.

Sampai-sampai karena demikian kuat tekad dan semangatnya Umar tidak tidur melainkan sangat sebentar, hingga ditegur keluarganya. “Engkau tidak tidur?”

Umar menjawab, “Jika aku tidur di malam hari, maka sia-sialh diriku. Dan, jika aku tidur di siang hari maka sia-sialah rakyatku.”

Pantas jika Umar terkenal sebagai panglima yang sangat getol memerangi kemalasan, pengangguran dan ketidakmanfaatan.

“Kemalasan dan ketidakmanfaatan hanya akan melahiran pikiran-pkiran negatif, kesengsaraan, penyakit kejiwaan, kerapuhan jaringan syaraf, keresahan dan kegundahan. Sedangkan kerja dan semangat dalam pekerjaan bermanfaat akan mendatangkan kegembiraan, suka cita dan kebahagiaan,” demikian urai Al-Qarni dalam buku La Tahzan.

Bahkan terhadap pemuda yang hanya duduk-duduk di masjid, Umar berkata, “Keluar kalian, cari rizki! Langit tidak akan menurunkan emas dan perak.”

Ambillah Peran

Dengan demikian, tidak sepatutnya seorang Muslim hidup tanpa mengambil peran dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan bermanfaat. Satu kata bijak mengatakan, “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah hidup 1000 tahun. Dan, bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah besok akan mati.”

Jadi, jangan sampai ada hari yang terlewati tanpa pekerjaan bermanfaat yang dilakukan, baik itu untuk dunia maupun akhirat. Lebih-lebih Allah Ta’ala tidak memandang amal (pekerjaan) manusia berdasarkan bentuk dan ukurannya, melainkan keikhlasannya.

Suatu riwayat menyebutkan bahwa ada seorang perempuan kulit hitam yang pekerjaannya selalu menyapu Masjid Nabawi. Dan, subhanallah, peran yang diambilnya sebagai tukang sapu masjid mengantarkannya ke dalam surga-Nya.

Bahkan, lebih jauh kalau kita melihat kesungguhan atau kalau boleh dikatakan ‘ambisi’ generasi Muslim terdahulu dalam mengambil peran sungguh sangat mengagumkan. Ada Zaid bin Tsabit yang mampu menguasai bahasa Yahudi dalam tempo dua pekan. Ada Usamah bin Zaid yang pada usia 17 tahun sudah mumpuni menjadi panglima militer.

Manusia Terbaik

Semua itu terjadi karena memang ada niat, semangat, kesungguhan dan konsistensi dalam menempa diri untuk terus mengisi hari-harinya dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan penuh manfaat. Mereka tidak mau melewati hari tanpa manfaat sedikitpun. Karena manusia terbaik menurut Rasul adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya.

”Rasulullah bersabda, ’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Dengan demikian, maka jangan ragu, segeralah libatkan diri kita dalam setiap pekerjaan bermanfaat dalam setiap waktu yang kita miliki. Bisa dengan membantu sesama, peduli lingkungan, memakmurkan masjid, dan lain sebagainya. Sungguh, sesibuk apapun, kita masih bisa melakukan banyak pekerjaan bermanfaat, tinggal kemauan dan kesungguhan kita sendiri.
Dan, Allah telah berjanji bahwa siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh (memberi manfaat) di jalan Allah, pasti akan Allah bukakan pintu-pintu-Nya untuk kita benar-benar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama dan kehidupan.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69).*

 

Rep: Imam Nawawi

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !