Gaya Hidup Muslim – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Wed, 01 Nov 2017 15:28:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.3 Jangan Lelahkan Hidupmu untuk Dunia http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/11/01/126950/jangan-lelahkan-hidupmu-untuk-dunia.html Wed, 01 Nov 2017 04:30:07 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126950

Hidupnya menjadi sibuk hanya untuk mewujudkan kesuksesan dan keuntungan bagi pemilik perusahaan dan urusan dunia, lupa bekalnya menuju akhirat

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

MANUSIA satu sisi adalah makhluk yang sempurna karena kemampuannya berpikir yang digunakan untuk istiqomah di jalan yang lurus.

Namun, satu sisi, manusia adalah makhluk yang paling susah bahagia, karena besarnya angan-angan dunia, yang membuat hidupnya sibuk hingga lupa menjalankan tugas-tugas penting sebagai hamba Allah dan Khalifah Allah.

Tidak sedikit orang yang karena pekerjaannya, mendapatkan income besar setiap bulannya, tapi sholat menjadi tidak sempat, mendidik anak apalagi.

Ada banyak orang yang bisa wisata ke berbagai penjuru bumi, namun menyantuni anak yatim tidak pernah, peduli terhadap Muslim yang teraniaya apalagi.

Dan, dibalik itu semua, ternyata mereka adalah orang yang hidup dalam ketidaktenangan, ketidakbahagiaan, dan karena itu, semakin hari hidup mereka dikendalikan oleh obsesi demi obsesi tentang materi.

Dr. Muslih Muhammad dalam bukunya Emotional Intelligence of Al-Qur’an mengisahkan kehidupan keluarga di Kairo Mesir.

Dia adalah seorang pria berusia 35 tahun dengan dua anak yang masih kecil. Ia dan istrinya sama-sama sebagai pegawai pemerintah. Keduanya memulai rumah tangga dengan keuangan yang pas-pasan.

Meski demikian, kehidupan mereka terus berjalan dalam cinta dan kasih sayang. Kehidupan mereka hanya ditopang oleh pengaturan belanja dari penghasilan tetap dari pekerjaan mereka berdua. Namun kemudian ada hasrat mendesak untuk memiliki berbagai perkakas rumah tangga modern dan kasur yang lebih baik.

Baca: Perumpamaan Dunia dan Akhirat seperti Air Laut

Akhirnya, keduanya tergelinir pada hutan untuk keperluan berbagai barang yang harus mereka beli, hingga mereka berdua mengalami kehidupan yang sangat sempit.

Karena keduanya masih menjaga imannya, korupsi bukan jadi pilihannya. Mereka memilih bekerja paruh waktu. Alhasil terpenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, termasuk untuk mencicil hutang.

Akan tetapi, betapa banyak kebahagiaan yang terenggut dari kehidupan rumah tangganya. Mereka berdua terjebak rutinitas yang luar biasa sibuk untuk mendapatkan gaji pokok dan gaji tambahan.

Hidupnya menjadi sibuk hanya untuk mewujudkan kesuksesan dan keuntungan bagi pemilik perusahaan, serta untuk membenahi berbagai problematika sosialnya yang tidak ada habisnya. Semua itu banyak menita waktu istirahat pekanannya. Ia juga merasa asing terhadap kedua anaknya, karena ia selalu pulang malam. Ketika itu mereka berdua langsung tertidur lelap.

Bahkan, ia dan isterinya merasa seolah-olah terpisah dari masyarakatnya. Mereka tidak pernah mengunjungi seorang pun, yang akibatnya tak seorang pun mengunjungi mereka. Karena mereka berangkat Shubuh, pulang larut malam.

Mereka menghabiskan siang untuk bekerja keras, lalau malam menyantap makanan-makanan hambar di berbagai restoran, belum lagi dengan kesusahan dan kesedihan yang menipa mereka akibat tingkah laku pemilik perusahaan dan tipu dayanya.

Sampai muncul pertanyaan di dalam hatinya.

“Jika aku berhenti dari kerja sambilan ini, apakah aku akan mati kelaparan? Tidak akan!”

Karena belum pernah terjadi kami mengalami bahaya kelaparan, meski dalam kondisi kesulitan materi.

“Lalu apakah rumah kami akan kehilangan sesuatu yang dapat membuat kami tidak dapat melangsungkan kehidupan normal? Tidak akan!”

“Karena semua faktor kehidupan normal telah terpenuhi oleh penghasilan yang kami dapatkan. Meskipun sebagian perabot sudah kuno, tapi kami sudah terbiasa. Bahkan kami siap untuk memulai hidup lebih prihatin dari kehidupan normal yang telah kami jalani.”

Bukan Soal Gengsi

Jika demikian apa yang harus ditakutkan, dan untuk apa harus takut, tidak ada sama sekali yang perlu ditakutkan. Ya harus dilakukan adalah berhenti dari berlomba menumpuk kekayaan, mengutamakan penampilan dan gengsi-gengsi dalam kehidupan sosial.

Padahal sejatinya hidup bukanlah soal gengsi, tetapi kemanfaatan diri bagi agama, manusia dan kehidupan.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita, pada suatu hari Rasulullah keluar dan memegang tangan Abu Dzar.

Beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, di hadapanmu ada jalan mendaki yang sukar. Tidak ada yang mampu mendakinya, selain orang-orang yang ringan.”

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku termasuk orang yang ringan atau orang yang berat?”

Beliau menjawab dengan bertanya, “Apakah kamu punya makanan untuk hari ini?

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya lagi, “Dan makanan untuk esok hari?”

Ia menjawab, “Ya.”

Beliau bertanya lagi, “Dan makanan untuk esok lusa?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Beliau bersabda, “Jika kamu punya makanan untuk tiga hari, maka kamu termasuk orang-orang yang berat.” (HR. Thabrani).

Kemudian lebih lanjut Dr Muslih Muhammad menulis, “Penulis yakin akan adanya berbagai masalah yang akan kita temukan. Semua orang berambisi mendapatkan limpahan materi. yang semua itu mengharuskannya untuk sibuk, yang mengakibatkan matinya hubungan sosial, shalat yang terputus, nilai-nilai yang menurun, hilangnya keamanan, serta kasih sayang dan cinta yang menguap dari kehidupan kita. Ditambah dengan berbagai racun yang melekat pada jiwa, yaitu; dengki, cemburu, tamak, pembangkangan, dan ambisi terhadap dunia dan tak menganggap akhirat.”

Baca: Bahagia di Dunia, Mulia di Akhirat

Pepatah Arab mengatakan, “Siapa yang berakal, niscaya ia akan ridha terhadap dunia yang hanya secukupnya. Ia tidak sibuk mengumpulkannya. Namun ia sibuk mengerjakan pekerjaan akhirat, karena akhirat adalah negeri yang pasti dan negeri kenikmatan. Sedangkan dunia adalah negeri yang fana (akan hancur). Dunia adalah penipu dan pembuat bencana.”

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shalllallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Akan menimpa umatku racun umat-umat lain. Para sahabat bertanya, “Apa itu racun umat-umat lain?”

Rasulullah Shalllallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Bersenang-senang tanpa batas, sombong, memperbanyak harta, perlombaan di dunia, saling menjauh, saling mendengki, hingga terjadi pembangkangan, kemudian kekacauan.” (HR. Thabrani).

Lantas apa yang mesti kita jalani agar hidup tak terhimpit dunia, dan itu adalah kunci kebahagiaan hidup dunia-akhirat?

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاء اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“Sungguh berbahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mukminun (23):24). Inilah jalan kebahagian hakiki yang semestinya kita jalani, agar hidup tak “disiksa” dunia. Wallahu a’lam.*

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Cara Nabi Memanfaatkan Waktu Muda http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/10/30/126790/cara-nabi-memanfaatkan-waktu-muda.html Mon, 30 Oct 2017 08:41:20 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126790

Nabi memanfaatkan masa mudanya menggembala, berbisnis, pengalaman militer dan diplomatik, peduli sosial, dan selalu mendekat pada Sang Khaliq

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

PADA saat pemuda Mekah pada umumnya tenggelam dalam gaya hidup foya-foya, bersenda gurau, bermalas-malasan, menghabiskan waktu mudanya dengan sia-sia, taklid buta kepada nenek moyang menyembah berhala, lantas apa yang dilakukan oleh Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam di usia yang sangat potensial tersebut?

Sebelum menjelaskan lebih jauh, standar usia muda yang digunakan di sini adalah standar syabâb dalam Bahasa Arab. Dari usia baligh hingga empat puluh tahun, masih dalam kategori pemuda (Ats-Tsaalibi, Fiqh al-Lughah, 77). Dengan standar ini, akan dieksplorasi lebih dalam masa muda nabi agar bisa diteladani oleh pemuda muslim di era digital ini.

Paling tidak, ada beberapa hal yang dilakukan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pada usia mudanya.

Pertama, etos kerja yang tinggi. Berbeda dengan pemuda pada umumnya yang kebanyakan bergantung dengan kemapanan orangtuanya, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam memilih untuk memanfaatkan masa mudanya untuk bekerja.

Baca: Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”

Setidaknya, ada dua pekerjaan yang dijalaninya sampai beliau menikah dengan Khadijah, yaitu: menggembala kambing dan berniaga. Mengenai penggembalaan kambing ini, Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda nabi:

«مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الغَنَمَ» ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ»

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan (sebelumnya berprofesi) sebagai penggembala kambing.” Mendengar jawaban nabi, sahabat merespon, “Apa Anda juga?” “Ya. Dulu aku menggembala kambing penduduk mekah dengan upah sejumlah uang.” (HR. Bukhari)

Dari profesi ini, di samping memiliki mata pencaharian pribadi dan belajar mandiri sejak dini, beliau juga mendapat pengalam luar biasa dalam bidang leadership (kepemimpinan).

Tidak mengherankan jika Al-Hafidz Ibnu Hajar al-`Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan: Hikmah diilhaminya para nabi menggembala kambing sebelum diutus menjadi nabi karena (supaya mereka pengalaman sebelum mengurus umat), (Fath al-Bâri, 7/99).

Adapun profesi bisnis, sudah dijalani beliau sejak usia 12 tahun. Dalam catatan sejarah, beliau pernah diajak pamannya safari dagang internasional ke Negeri Syam (Khudhari, Ain al-Yaqîn, 12). Di samping itu, pada usia 25 tahun, beliau menjalankan bisnis internasional milik Khadijah ke Negeri Syam yang kemudian membuat majikannya ini jatuh hati kepada beliau.

Pengalaman berdagang di luar negeri ini, bukan saja menghasilkan materi, tapi juga pengalaman lain yang sangat berarti. Safari niaga ini memberi pengalaman geografis bagi beliau. Di samping itu, mengetahui karakter, adat istiadat masyarakat internasional. Ketika menjadi nabi, pengalaman ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan dakwah Islam.

Kedua, tidak terbawa arus tren negatif pemuda . Sebagai pemuda, sebenarnya Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pun juga menginginkan seperti pemuda-pemuda pada umumnya. Hanya saja, setiap kali ingin mengikuti tren, oleh Allah Subhanahu Wata’ala dijaga sehingga urung melakukannya.

Baca: Lima Prinsip Generasi Muda Merebut Dunia

Suatu hari, pasca menggembala kambing, beliau sudah berjanji dengan teman sesama penggembala untuk menyaksikan hiburan. Namun, rupanya Allah Subhanahu Wata’ala menidurkannya sehingga baru bangun pada keesokan hari. Setiap kali hendak melakukannya, kejadian itu terulang, sehingga beliau tidak mengulanginya lagi.

Ketiga dan keempat, pengalaman militer dan diplomatik. Pada usia dua puluh tahun, kalau sekarang masa-masa anak kuliahan, beliau sudah mendapatkan pengalaman militer dan diplomatik.

Ahmad As-Suhaili dalam Raudhah al-Anfi (1421: II/149) menyebutkan bahwa ketika meletus Perang Fijar antara Suku Kinanah bersama Qurays melawan Qais, beliau membantu paman-pamannya menyiapkan anak panah untuk melawan Suku Qais.

Perang ini kemudian berakhir dengan kesepakatan damai yang kemudian dalam sejarah diabadikan dengan istilah Hilf al-Fudhul (Perjanjian Fudhul). Rumah Abdullah bin Jadan menjadi saksi bisu perdamaian luhur ini.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengalami pengalam diplomatik yang luar biasa ketika menghadiri perjanjian ini, sampai-sampai beliau berkomentar saat mengenang kembali peristiwa ini:

لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا لَوْ دُعِيتُ بِهِ فِي الْإِسْلَامِ لَأَجَبْتُ

“Sesungguhnya aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jad’an satu perjanjian; seandainya aku diajak melakukannya dalam Islam, tentu aku kabulkan. (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, II/355)

Baca: Wasiat dan Pesan Penting Nabi Untuk Pemuda

Kelima, memiliki kepedulian sosial yang tinggi sekaligus rajin bertafakkur instospeksi diri. Beliau yang terlahir sebagai anak yatim, dan terbiasa hidup mandiri sejak mudanya, membuat kepekaan sosialnya tertanam dengan baik. Sebagai bukti riil, saat terjadi polemik mengenai peletakan Hajar Aswad pasca renovasi Ka’bah, diusianya yang baru 35 tahun, beliau mampu menjadi problem solver (pemecah solusi) bagi permasalahan yang hampir menimbulkan konflik berdarah ini. Tak mengherankan jika kesuksesannya ini membuat beliau dijuluki al-amin (yang tepercaya).

Pada usia 38-40, saat Ramadhan beliau terbiasa menyendiri bertafakkur di Gua Hira. Menariknya, saat beliau diangkat jadi nabi (di usia 40), dan pulang dalam kondisi ketakutan, Khadijah menenangkannya, Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tak ada, menjamu tamu dan  sentiasa membela faktor-faktor kebenaran. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya orang yang sejak mudanya memiliki etos kerja tinggi, banyak pengalaman, dan peduli sosial, tidak akan dicampakkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Dari pembahasan ini, ada beberapa hal yang dilakukan nabi dalam memanfaatkan masa mudanya: memiliki etos kerja tinggi (misalnya: dengan menggembala kambing dan berbisnis); tidak terbawa arus pemuda pada umumnya; memperbanyak pengalaman berharga (seperti: militer dan diplomatik); serta peduli sosial, rajin instrospeksi diri dan selalu mendekat pada Sang Khaliq. Wallahu a’lam. */Mahmud Budi Setiawan

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Gaya Hidup Halal Prioritasku http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/10/10/125377/gaya-hidup-halal-prioritasku.html Tue, 10 Oct 2017 01:02:40 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125377

Daging impor, secara peraturan semua daging yang masuk ke Indonesia harus halal dan disertai dokumen yang menandai adanya sertifikat halal

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com—Indonesia mempunyai bisnis produk daging halal yang cukup besar, karena menjadi negara muslim terbesar di dunia. Namun, sebagian besar masyarakat muslim Indonesia masih belum memahami dari sisi syariah tentang perintah dan larangan terkait halal dan haram.

Artikel berikut ini akan mengupas tentang memilih daging yang berkualitas dan halal.

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS: Al-Baqarah : 173)

Baca: 4 Sehat 5 Sempurna, Plus Halal

Dari arti QS.Al-Baqarah ayat 173 di atas jelas bahwa makanan yang diharamkan pada intinya ada empat yaitu:

Pertama, bangkai. Adalah hewan yang mati dengan tidak disembelih, termasuk hewan yang matinya tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk dan diterkam oleh hewan buas. Kecuali bangkai Ikan dan Belalang.

Dua, darah. Yaitu darah yang mengalir atau sudah membeku. Kecuali dua darah yang menggumpal yaitu Hati dan Limpa.

Tiga, daging babi. Ulama sepakat bahwa semua babi dan turunannya yang dapat dimakan adalah Haram.

Empat, binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah. Ini berarti binatang yang disembelih ditujukan kepada selain Allah (syirik).

Keempat kelompok makanan yang diharamkan tersebut,terdapat pula kelompok makanan yang diharamkan karena sifatnya yang buruk seperti binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang mempunyai cakar.

Baca: Yahudi Peduli Kosher, Kok Kita Tidak Taat Halal?

Setelah mengetahui kriteria di atas, kita dapat menentukan daging yang berkualitas:

  • Daging Ayam, perhatikan lehernya untuk memastikan apakah penyembelihan dilakukan secara sempurna atau tidak. Hindari ayam yang terdapat memar pada kulitnya.
  • Daging Sapi, memiliki ciri-cirimengkilap, berwarna cerah, tidak berbau asam/busuk, basah tetapi tidak lengket di tangan, elastis dan tidak lembek.
  • Daging Kambing, memiliki warna merah muda, serat yang lembut dan halus, lemak keras dan kenyal serta berwarna putih kekuningan.
  • Daging Kerbau, berwarna merah tua, seratnya lebih kasar dan lemaknya kuning serta keras.

Selain itu, seharusnya kita dapat mengetahui cara memilih daging yang halal. Adapun cara memilihnya yaitu:

  • Pilihlah tempat membeli daging yang hanya menjual daging halal.
  • Jika membeli daging di supermarket atau toko daging, pastikan bahwa daging yang dijual adalah daging yang diperoleh dari rumah pemotongan hewan yang telah mendapatkan sertifikat halal atau melihat daftar produk halal di buku Jurnal Halal terbitan LPPOM MUI atau dapat di lihat di http://www.halalmui.com
  • Jika membeli daging di pasar tradisional atau pedagang keliling. Pastikan dan yakinkan bahwa daging yang kita beli adalah daging yang berasal dari hasil pemotongan dengan cara yang islami, tinggalkan jika ragu-ragu membelinya.
  • Untuk daging kaleng pastikan label produk memuat nomor MD atau ML dan label halal, produk pangan hasil industri kecil, biasaya bernomor pendaftaran PIRT.
  • Daging impor, secara peraturan semua daging yang masuk ke Indonesia harus halal dan disertai dokumen yang menandai adanya sertifikat halal yang diakui oleh pemerintah dan MUI.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca sehingga kita lebih selektif dalam membeli serta mengonsumsi daging, dan menjadikan kehalalan sebagai prioritas,serta bisa menerapkan gaya hidup halal “Halal is My Life”.*/Siti Rodia, berbagai sumber

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sehat dengan Olahraga, Hebat dalam Membela Agama http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/10/07/125089/sehat-dengan-olahraga-hebat-dalam-membela-agama.html Sat, 07 Oct 2017 02:37:05 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125089

Tujuan olahraga agar raga bugar dan ibadah lancar. Jikapun sampai ahli, keahlian itu bisa untuk membela agama Allah

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SETIAP usai foto dalam keadaan sedang berolahraga, kemudian di upload ke media sosial, seringkali banyak orang menghubungkannya dengan kesehatan.

Hal tersebut memang tidak sepenuhnya salah, meski tidak sepenuhnya benar. Sebab kesehatan seseorang tidak mutlak ditentukan oleh kedisiplinannya dalam berolahraga, tetapi juga dipengaruhi oleh pola pikir, dan kejernihan hati.

Apatahlagi, olahraga yang dilakukan tidak memperhatikan dosis yang mesti dipatuhi, aktivitas fisik itu semata-mata dilakukan karena hobi tanpa kenal waktu dan dengan tidak memperhatikan kondisi badan.

Baca: Panjang Umur dengan Olah Raga Lari

Bukannya kebugaran yang didapat, malah banyak pekerjaan justru tersendat karena tubuh malah sering drop karena kelelahan, mengalami cedera, atau pun efek negatif lainnya. Jadi, olahraga pun jangan dengan hawa nafsu.

Olahraga di masa Nabi

Sebagai ajaran yang sempurna, Islam juga memberikan perhatian pada aspek fisik ini.

Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri dalam kitabnya Minhajul Muslim menerangkan bawa olahraga pada masa awal Islam dikenal dengan istilah furusiyah yang meliputi cabang kepandaian menunggang kuda sebagai skill untuk dapat memelihara hak, mempertahankan dan membela diri.

Selain itu, furusiyah juga dimaksudkan untuk menguatkan tubuh dan meningkatkan kemampuan jihad di jalan Allah.

Baca: Olahraga Tingkatkan Daya Ingat 10 Persen

Karena mukmin yang kuat lebih Allah cintai dari yang lemah.

Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).

Fusuiyah” dalam Islam merupakan manivestasi dari perintah Allah untuk umat Islam mempersiapkan diri dari sisi kekuatan fisik.

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٍ۬ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّڪُمۡ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعۡلَمُهُمۡ‌ۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىۡءٍ۬ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ (٦٠)

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal [8]: 60).

Dengan kata lain, olahraga di zaman Nabi dimaksudkan tidak semata-mata sebagai kegemaran, tetapi persiapan diri untuk bisa terlibat dalam upaya membela agama-Nya. Dan, olahraga termasuk bagian dari perintah yang penting untuk diamalkan.

Rasulullah Sahalallahu ‘Alaihi Wassallam saja tetap berolahraga di tengah kesibukan luar biasa. Beliau pernah adu lari dengan Aisyah radhiyallahu anha.

Rasul juga pernah menggelar adu ketangkasan berkuda dan menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penanggung jawab, sementara Suraqah bin Malik sebagai juri garis.

Bahkan, Imam Ghazali pernah berkata, “Setelah belajar, anak diberi izin untuk berolahraga agar tidak bosan. Melarang berolahraga dan memaksakan terus belajar hanya akan mematikan hati dan mengikis kecerdasan.”

Olahraga Kita

Lantas bagaimana dengan olahraga kita?

Untuk seideal atau sama persis dengan masa Nabi jelas bukan perkara mudah, terlebih saat ini kuda tidak lagi menjadi sarana berkendara yang utama. Namun demikian, umat Islam baiknya terus berolahraga untuk menjaga kebugaran fisiknya.

Hanya saja, penting diperhatikan adalah sisi waktu, sehingga jangan sampai karena alasan olahraga, sholat malah terabaikan.

Jika hal tersebut sampai terjadi, apalah arti badan bugar kalau jiwa merana, karena setiapkali olahraga, sholat hampir pasti diabaikan.

Baca: Tersenyumlah agar Sehat dan Dapat Sedekah

Oleh karena itu, perhatikanlah waktu terbaik untuk olahraga. Jika diri termasuk orang yang punya waktu untuk olahraga saat weekend, maka berolahraga di pagi atau sore hari sangat baik. Sebab kalau malam, bisa mengganggu ibadah qiyamul lail, shalat Tajahud  bahkan memperlambat sholat tepat waktu di Shubuh hari.

Sebisa mungkin, hindari olahraga di malam hari. Sebab logikanya sederhana, malam Allah sediakan bagi manusia untuk istirahat. Kalaupun ingin begadang, silakan untuk qiyamul lail. Bahkan dalam dunia perang, kala matahari terbenam, perang diistirahatkan.

Ingat, tujuan utama olahraga adalah agar raga bugar, sehingga ibadah bisa lancar. Syukur-syukur bisa ahli, sehingga kala harus turun membela agama Allah, seperti menolong pengungsi dari bencana alam atau lainnya, diri kita termasuk yang bisa terlibat di dalamnya, memberikan manfaat dan pertolongan kepada sesama.*

Ingat, tujuan utama olahraga adalah agar raga bugar, sehingga ibadah bisa lancar. Jikapun sampai ahli, keahlian itu bisa untuk membela agama Allah Subhanahu Wata’ala.*

 

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mari Hidupkan Cahaya di Rumah Kita http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/10/02/124748/mari-hidupkan-cahaya-di-rumah-kita.html Mon, 02 Oct 2017 05:25:15 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124748

Hati yang diberikan cahaya oleh Allah akan mudah untuk menghindarkan tempat tinggalnya dari kegelapan dan segala aktivitasnya selali dalam ridha Allah Ta’ala

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

CAHAYA yang paling populer dalam hidup ini adalah matahari. Namun, bagi manusia yang beriman, cahaya tak sebatas penerang seperti matahari, rembulan atau lampu, tetapi juga amal perbuatan.

Sebaliknya, kegelapan dalam Islam tak semata berupa malam, tetapi kondisi hati yang jauh dari cahaya tauhid. Dimana kala cahaya tauhid sirna, maka hati dan akal manusia seketika diselimuti oleh kegelapan yang pekat.

Dan, sumber utama cahaya dalam kehidupan ini tiada lain adalah Allah Subhanahu Wata’ala.

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٍ۬ فِيہَا مِصۡبَاحٌ‌ۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ‌ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّہَا كَوۡكَبٌ۬ دُرِّىٌّ۬ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ۬ مُّبَـٰرَڪَةٍ۬ زَيۡتُونَةٍ۬ لَّا شَرۡقِيَّةٍ۬ وَلَا غَرۡبِيَّةٍ۬ يَكَادُ زَيۡتُہَا يُضِىٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٌ۬‌ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ۬‌ۗ يَہۡدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَـٰلَ لِلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬ (٣٥)

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur [24]: 35).

Baca: Cara Islam Mewujudkan 8 Fungsi Keluarga

Dengan demikian, untuk menjadi pribadi yang selamat dari pekatnya kegelapan, seorang Muslim harus memperhatikan iman dan takwanya.

Seperti pengendara mobil, tanpa lampu di malam hari tidak mungkin dirinya bisa menyusuri jalanan yang gelap gulita. Demikian pun hidup manusia, akan mengalami banyak kecelakaan jika iman dan taqwa tidak benar-benar diperhatikan.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَءَامِنُواْ بِرَسُولِهِۦ يُؤۡتِكُمۡ كِفۡلَيۡنِ مِن رَّحۡمَتِهِۦ وَيَجۡعَل لَّڪُمۡ نُورً۬ا تَمۡشُونَ بِهِۦ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ‌ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (٢٨)

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hadid [57]: 28).

Sebagai Muslim yang hidup di dalam rumah, tentu saja cahaya diri akan terpelihara dan semakin kuat jika di dalam rumah sendiri energi atau sumber cahaya itu senantiasa kita usahakan untuk terus eksis.

Pertama dengan dzikrullah

“Permisalan rumah yang terdapat di dalamnya penyebutan Allah dengan yang tidak, seperti permisalan seseorang yang hidup dan yang mati.” (HR. Bukhari).

Setiap orang mungkin punya hobi, mulai dari menonton, mendengarkan musik, tapi jangan sampai rumah diri sebatas pada kegemaran, sementara lupa untuk melakukan aktivitas dzikrullah, mulai dari memperbanyak istighfar, membaca Alquran atau pun bersholawat kepada Nabi.

Baca: Beri “Asupan Gizi” untuk Hati Anda dengan Dzikrullah!

Tanpa dzikrullah, boleh jadi kesenangan di dalam rumah tetap ada, tapi apalah arti semua itu jika rumah yang kita huni terkategori rumah yang gelap dalam pandangan-Nya, sehingga kita tidak termasuk orang yang mendapatkan petunjuk dari-Nya.

“Wahai Anak Adam, sempatkanlah untuk menyembah-Ku, maka Aku akan membuat hatimu Kaya dan menutup kefakiranmu. Jika tidak melakukannya maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan Aku tidak menutupi kefakiranmu.” (HR. Ahmad).

Dari sini cukuplah diri memahami bahwa sekaya apapun manusia, kala rumahnya gelap, hatinya kelam, pada akhirnya akan terpuruk pada kesengsaraan. Semakin kaya, dirinya semakin haus akan kekayaan. Semakin berkuasa, dirinya semakin lapar akan kejahatan.

Kedua, sholat

“Barangsiapa yang menjaga sholat, maka aginya cahaya, petunjuk dan keselamatn pada hari kiamat. Dan barang siapa yang tidak menjaga sholat tersebut maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan. Dan, nanti di hari kiamat akan dikumpulkan bersama Qarun, Firaun, Haman dan Ubay bin Khalf.” (HR. Ahmad).

Jadi, jangan sekali-kali meremehkan apalagi meninggalkan sholat. Terangilah rumah kita dengan sholat, terutama sholat-sholat sunnah, sebab bagi kaum Adam, sholat lima waktu wajib dilaksanakan secara berjama’ah di masjid, kecuali udzur.

Ketiga, berdoa

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةً‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ (٨)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat dari sisi-Mu kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali Imran [3]:8).

Baca: Menjaga Diri dan Keluarga Bersama Al-Quran

Doa di atas, sebisa mungkin selalu dilantunkan, baik selepas sholat atau pun dalam kondisi dimana hati gelisah, tenang atau apapun. Sebab, nilai manusia secara hakikat dalam pandangan Allah hanyalah pada kondisi hatinya. Bukan rupa, apalagi harta.

 “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kamu sekalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu yang ikhlas.” (HR. Muslim).

Dalam kata lain, hati yang diberikan cahaya oleh Allah akan mudah untuk menghindarkan tempat tinggalnya dari kegelapan yang menjadikan awal dari segenap aktivitas kehidupan jauh dari ridha Allah Ta’ala.

Seperti kehidupan yang pasti gelap dan mati tanpa cahaya matahari, seperti itulah hati manusia kala tempat tinggalnya jauh dari cahaya Ilahi. Wallahu a’lam.*

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Melihat Kekurangan Diri Sendiri http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/09/19/123962/melihat-kekurangan-diri-sendiri.html Tue, 19 Sep 2017 03:13:45 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123962

Sesungguhnya telah dibuka untukmu tali-temali kebahagiaan melalui perantaraan mendengarnya kamu atas celaan orang

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

ISLAM sebagai jalan hidup tidak pernah memberi ruang seorang pun untuk menepuk dada, membanggakan diri atas Muslim lainnya.

Hal ini tidak lepas dari fakta kehidupan, dimana memang no body perfect (tak ada manusia sempurna). Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk terus-menerus memperbaiki diri, sebaliknya sangat melarang mencela, mengupas aib sesama, dan bersikap sombong.

Ibn Hazm sebagaimana dikutip oleh Buya Hamka dalam bukunya Lembaga Budi menekankan bahwa seorang Muslim harus pandai melihat kekurangan diri agar terhindar dari sikap suka membanggakan diri sendiri.

“Orang yang diuji jiwanya dengan rasa bangga hendaklah mengambil kesempatan memikirkan aib dan cela yang ada pada dirinya. Orang yang merasa bangga dengan perangainya yang terpuji, hendaklah menyelidiki bahwa telah bersih dari segala macam celaan, hendaklah dia insaf bahwa dia telah rusak untuk selama-lamanya. Itulah tanda bahwa orang itu telah sangat sempurna kurangnya, dan sangat besar aibnya dan sangat lemah tenaga pikirannya buat mencuri kekurangan dirinya.” (Lembaga Budi, halaman: 32).

Buya Hamka pun melanjutkan dengan menegaskan bahwa sikap membangga-banggakan diri adalah tanda akal yang lemah, jahil dan bodoh. “Tidak ada cacat lebih rendah lagi dari itu,” tulisnya.

Orang yang berakal menurut Hamka adalah orang yang tahu kekurangan dirinya, lalu memperbaikinya. Jika tidak, orang tersebut disebut ahmak, yakni orang yang tidak tahu cacat diri.

“Baik karena kurang ilmu atau lemah berpikir. Atau karena menyangka bahwa yang buruk itu adalah baik, sehingga berlainan dengan pandangan sekalian orang yang sehat pikirannya. Kalau sudah sampai begini, adalah tanda bahwa “sakitnya” sudah parah,” urai Hamka lebih lanjut.

Baca: Muslim Sejati Gemar Muhasabah Diri

Terkait hal memperbaiki diri ini, Sayyidina Umar berpesan kepada umat Islam agar pandai mengevaluasi diri sebelum nanti dihisab oleh Allah Ta’ala, “Hasibuu qobla ‘an tuhasabuu.”

Uraian di atas hadir tidak lepas dari kebiasaan kebanyakan orang yang seringkali menghabiskan waktu hidupnya sekedar membahas kekurangan, kesalahan dan kelemahan orang lain.

Terlebih jika kekurangan orang yang dibahas dihubungkan dengan kepandaian diri sendiri, kesungguhan diri sendiri dalam melakukan banyak hal, sehingga merasalah diri sendiri lebih baik dari siapapun, sehingga orang akan cenderung membanggakan diri sendiri dan merasa tidak perlu mendengar apapun dari orang lain.

Orang yang terkena ahmaq akan lupa untuk melihat kekurangan diri dan memperbaikinya. Sebaliknya, kemana-mana dan dimana-mana akan terus menyampaikan kebaikan-kebaikan dirinya, sementara orang di sekelilingnya tidak melihat apa yang disampaikan sebagai sebuah kebangaan adalah hal yang benar-benar patut dibanggakan.

Sayyidina Ali berpesan, “Dengarkanlah, niscaya kamu akan mengetahui dan diamlah, niscaya kamu akan selamat.”

Artinya dalam hidup ini harus ada niat dan kesungguhan untuk benar-benar memperbaiki diri dengan tidak banyak bicara – apalagi terus membanggakan diri sendiri padahal tidak ada juga hal-hal besar yang dilakukan secara konkret dan konsisten – dan terus berpikir bagaimana kekurangan diri bisa diketahui dan diperbaiki.

Bahkan, andai pun diri kita dicela, dihina oleh orang lain, tetaplah didengar, ambil yang relevan dengan kekurangan diri lalu perbaiki. Jadi tidak perlu terprovokasi lalu membalas ucapan-ucapan kotor orang lain, sehingga menjadi tidak ada bedanya diri kita dengan mereka yang suka mencela, suka menghina.

Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bagaimana sikap terbaik kita kala dihina orang lain.

“Adapun susahmu dengan sebab perkataannya, bencinya kamu kepadanya, dan cacianmu kepadanya, adalah sangat bodoh.”

Jika saja maksud tujuannya menyusahkanmu, kamu dapat mengambil manfaat dari ucapannya. Karena ia telah menunjukkan kekuranganmu, kalau kamu tiada mengetahuinya. Atau ia telah mengingatkan kekurangamu, yang mungkin kamu lengah dari kekurangan itu.

Atau ia memang sengaja menjelek-jelekkanmu, supaya kesungguhanmu tergerak untuk menghilangkannya, jika saja kamu memandang baik pada kekurangamu itu. Semuanya demi sebab-sebab kebahagiaanmu.

Baca: Bermuhasabah, Sebelum Hari Penghisaban

Dan kamu dapat mengambil manfaat daripadanya. Maka bekerjalah untuk mencari kebahagiaan. Sebab sesungguhnya telah dibuka untukmu tali-temali kebahagiaan itu melalui perantaraan mendengarnya kamu atas celaan orang.”

Imam Ghazali pun menghadirkan sikap Ibrahim bin Adham terhadap orang yang melukai kepalanya.

“Ibrahim bin Adham mendoakan orang yang melukai kepalana dengan permintaan ampun keada Allah Ta’ala. Kemudian orang bertanya kepadanya tentang perilakunya yang demikian. Maka Ibrahim menjawab, “Saya mengerti, bahwa saya mendapatkan pahala dari sebabnya. Dan saya tidak memperoleh daripadanya, kecuali kebaikan. Maka saya tidak senang, bahwa ia mendapat sikasaan dengan sebab saya.”

Subhanalloh, demikianlah sikap ulama terdahulu dalam memandang dirinya.

Padahal, sangat bisa seorang Ibrahim bin Adham mengutuk, menuntut balik, dan menyebarluaskan kejahatan orang yang telah melukai kepalanya. Tetapi beliau ingin apapun menjadi kebaikan dalam hidup dunia-akhiratnya, maka orang yang melukai kepalanya pun dinilai sebagai orang yang telah mendatangkan kebaikan bagi dirinya, bahkan lebih jauh, beliau memohonkan ampunan untuk sang pelaku kejahatan itu.

Demikianlah contoh konkret bagaimana seharusnya setiap Muslim terus memperbaiki diri. Tidak mudah untuk terpancing melakukan hal-hal buruk, tetapi sebaliknya senantiasa memikirkan kelemahan diri dan bagaimana mendapatkan keuntungan hakiki dunia-akhirat dari setiap peristiwa yang dialaminya dalam kehidupan ini.

Andai sikap demikian mendarah daging dalam diri kita, tentu saja kebahagiaan sejati itu telah lama bersarang di dalam dada kita. Wallahu a’lam.*

 

 

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Produktif Tak Semata Urusan Dunia http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/09/12/123480/produktif-tak-semata-urusan-dunia.html Tue, 12 Sep 2017 09:23:58 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123480

Jangan sampai kita sibuk melakukan banyak hal namun terlepas dari produktivitas dua sisi, dunia dan akhirat

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

MENJADI Muslim itu anugerah tiada tara, dari bacaan Al-Qur’an saja sudah bisa mengambil manfaat dan mendorong diri lebih giat dalam amal dan ibadah.

Satu contoh misalnya kala ingin menjadi pribadi yang produktif, dari jenis-jenis ayat Al-Qur’an kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran.

Katakanlah soal taqwa. Di dalam ayat tertentu Allah menyebutnya dengan “Agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.” Tetapi pada ayat yang lain, Allah Ta’ala merinci apa saja yang dilakukan oleh orang bertaqwa.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡڪَـٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ (١٣٤)

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3]: 134).

Baca: Imam Masjid Istiqlal: Syeikh Wahbah Ulama Produktif, Menulis 16 Jam Sehari

Kadangkala dalam diri muncul kesadaran untuk menjadi lebih baik dengan bisa melakukan banyak hal, seperti membaca, membersihkan rumah, menulis, dan bersilaturrahim. Tetapi, yang menghambat kadang bukan tipisnya niat, melainkan tidak konkret dan tidak spesifiknya yang ingin dikerjakan.

Kalau misalnya dalam daftar yang dibuat ditulis, bahwa ingin menyeterika, merapikan kamar tidur, membaca sekian buku sebelum menulis, maka boleh jadi akan lebih mudah diri melakukannya. Sebab konkret dan spesifik aktivitas yang akan dilakukan.

Sama halnya dengan ungkapan, “Semoga ke depan bisa lebih baik lagi.” Ungkapan tersebut sudah baik, namun belum ada rinciannya, sehingga kata-kata yang baik itu tidak mendatangkan kondisi lebih baik dikemudian hari.

Menariknya, dalam Islam, amal atau ibadah yang Allah cintai dari seorang Muslim adalah yang konsisten, meski sedikit.

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim).

Jadi, mulailah hari-hari kita dengan amalan yang konkret, spesifik dengan segera. Dalam membaca Al-Qur’an misalnya, jika diri termasuk orang yang  waktu membacanya sangat terbatas, maka tetaplah membaca meski satu ayat lengkap dengan maknanya.

Baca: Jangan Mengejar Sukses Dunia, Lupa Akhirat

Jika amalan kecil itu dilakukan sejak umur 20 tahun, kemudian konsisten selama 20 tahun kemudian, tentu akan melekat makna-makna ayat yang pernah dibaca. Inilah manfaat dari produktif, dimana yang kecil tak terhitung menjadi sangat berfaedah di masa selanjutnya.

Langkah selanjutnya jangan kalah dengan orang yang memburu dunia, terutama mereka yang profesional di sebuah pekerjaan.

Dalam konteks produktivitas sebagai Muslim tidak salah jika melakukan apa yang orang lakukan untuk pekerjaannya dalam urusan dunia.

Misalnya, memulai membangun rutinitas hidup selain daripada ibadah wajib (mahdhah) yang telah Allah tentukan. Kemudian terus berlatih lebih disiplin, tertib dan terorganisir dalam seluruh aktivitas hidup. Membuat deadline, terus meningkatkan pemahaman ke-Islaman dan tidak pernah lelah untuk beramal sholeh dengan peduli terhadap sesama.

Hasan Al Bashri berpesan, ”Wahai kaum Muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya.”

Bahkan lebih dari itu, kalau seorang Muslim produktif melakukan suatu amalan dalam hidupnya, maka disaat tertentu, dimana amalan itu dengan sangat terpaksa tidak bisa dilakukan, Allah tetap mencatat dirinya tetap mengamalkannya.

“Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari).

Jadi, mulai sekarang, jangan semata urusan pekerjaan yang dirutinkan, amalan ibadah pun harus dimulai, agar Allah mencintai kita dan terus mencatat kita mengamalkannya, meski dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan yang karena itu tidak bisa mengamalkannya seperti biasa. Bukankah ini suatu balasan yang sangat indah dari-Nya?

Baca: Tujuh Kunci Penjuru Kebahagiaan

Jangan sampai kita sibuk melakukan banyak hal namun terlepas dari produktivitas dua sisi, dunia dan akhirat. Dimana diri merasa telah berbuat dan karena itu sangat lelah, namun sejatinya tidak ada kebaikan yang kita dapat dari sisi-Nya, termasuk cinta dan keridhoan-Nya.

Oleh karena itu ada perintah tafakkur (merenung) dan muhasabah (evaluasi diri) di dalam Islam.

Kata bijak mengatakan, “Duduk diam berpikir untuk sebuah rencana dan kreatifitas, jauh lebih produktif daripada sibuk beraktifitas tidak jelas, yang biasanya akan sulit mendapatkan hasil yang berkelas.

Selagi Allah berikan kesempatan hidup, mari benahi dan jadilah Muslim yang produktif dunia-akhirat. Insya Allah.*

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Inilah Sasaran Investasi Muslim Masa Depan http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/08/24/122121/inilah-sasaran-investasi-muslim-masa-depan.html Thu, 24 Aug 2017 04:37:42 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=122121

Membelanjakan harta agar melahirkan generasi mulia melalui pembangunan pesantren, sekolah dan PT akan mendatangkan kemuliaan

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SEBAGIAN orang  memikirkan pentingnya investasi. Dengan anggapan investasi sangat diperlukan untuk masa depan.

Sebagian beranggapan, berinvestasi sejak usia muda bakal menyelamatkan kondisi keuangan dan dinilai cara jitu untuk mengamankan kondisi keuangan.

Tidak heran ada orang yang sudah memiliki satu rumah namun masih terus berupaya menambah propertinya, alasannya ya investasi. Tanah, rumah, atau apapun yang dinilai dapat meningkatkan nilai uang di masa depan akan banyak diburu.

Secara empiris, teori materialis seperti ini memang memberikan keuntungan langsung, selama kehidupan di dunia. Tetapi, benarkah itu sebuah investasi hakiki? Atau ada investasi lain yang absolut yang dapat menjamin kebaikan hidup kita, tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat?

Buya Hamka pernah menuliskan hal ini dalam bukunya Falsafah Hidup, “Dapat makan dua kali sehari, pakaian dua persalinan, rumah yang cukup udaranya untuk tempat diam, dapat menghisap udara dan bergerak, kita sudah dapat hidup. Cuma nafsu jugalah yang meminta lebih dari itu, sehingga di dalam memenuhi keperluan hidup, kerapkali manusia lupa akan kesederhanaan.” (Falsafah Hidup, halaman 189).

Baca: Pengelolaan Keuangan; Sebelum atau Sesudah

Lebih jauh adalah penting memperhatikan dengan penuh kesadaran bahwa setiap harta yang diperoleh dan dibelanjakan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga Allah akan menanyakan tentang (4 perkara:) (Pertama,) tentang umurnya dihabiskan untuk apa. (Kedua,) tentang ilmunya diamalkan atau tidak. (Ketiga,) Tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan. (Keempat,) tentang tubuhnya, capek / lelahnya untuk apa.” (HR Tirmidzi dan Tirmidzi)

Artinya, jangan pernah merasa diri bebas membelanjakan amanah harta yang Allah berikan, terutama mereka yang dititipin kekayaan dalam jumlah besar bahkan sangat besar, sehingga hidup dipenuhi agenda belanja dunia sampai lupa untuk bersegera belanja akhirat dan menyesal di dalam kubur.

وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ قَرِيبٍ۬ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٠)

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang sholeh.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 10).

Baca: Wakaf Keluarga, Solusi Kewarisan Urang Minang

Dengan demikian adalah sebuah kerugian jika umat Islam yang hidupnya dimudahkan jalan mendapatkan kekayaan terperosok pada pandangan materialisme, sehingga lupa pada investasi akhirat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Lantas bagaimana berinvestasi Muslim yang sesungguhnya?

Pertama, amal jariyah. Amal jariyah secara khusus adalah membelanjakan harta untuk kepentingan umat Islam. Misalnya bersedekah untuk pembangunan masjid, rumah sakit atau pun fasilitas umat lainnya.

Dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan, ” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu) : Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal.” (HR. Al-Bazzar).

Jadi, harta yang berlebih, silakan digunakan untuk memenuhi kepentingan diri dan keluarga, tapi jangan lupa untuk membelanjakannya bagi kebahagiaan diri dan keluarga di akhirat, yakni dengan banyak beramal jariyah.

Kedua, wakaf. Wakaf adalah bentuk kecerdasan finansial tingkat tinggi yang berdimensi spiritual dan menjanjikan keuntungan tak terbatas waktu dan jumlahnya.

Hal ini tidak lain karena wakaf menjamin harta terus mengalirkan pahala, karena harta wakaf tidak boleh berpindah kepemilikan. Kalaupun berpindah kepemilikian karena ditukar (ruilslaag), ada penggantinya dan biasanya lebih baik.

Kemudian, jika wakaf dikelola secara produktif, profesional, dan amanah; nilai nominal harta wakaf akan bertambah, penerima manfaatnya semakin banyak dan luas, dan pahala bagi wakif (orang yang menyerahkan wakaf) diyakini akan semakin besar. (Buletin Al-Awqaf, Badan Wakaf Indonesia, edisi No. 1 Tahun 2015)

Lebih dari itu, wakif akan mendapatkan berkah doa dari orang-orang yang mendapatkan manfaat dari harta wakaf. Dan, orang yang menyerahkan wakaf akan meninggalkan nama baik meski sudah meninggal dan anak cucunya akan bangga dengan wakaf yang diserahkan oleh kedua orangtuanya.

Baca: Mengembalikan Eksistensi Wakaf sebagai Solusi Kesejahteraan

Sederhananya, wakaf itu investasi sekali, untungnya tiada henti, tak terbatas ruang dan waktu, terus mengalirkan kebaikan dari dunia hingga akhirat. Muslim sejati yang dianugerahi kekayaan, tidak mungkin akan meninggalkan investasi bernama wakaf ini.

Dengan demikian, seorang Muslim investasinya tidak saja berdimensi material, tetapi juga spiritual. Sebuah investasi yang secara substansial sangat berbeda dengan manajemen dan investasi kekayaan secara konvensional, yang mengedepankan individualisme.

Terlebih hari ini tantangan terbesar umat Islam adalah bagaimana melahirkan sumber daya manusia yang unggul secara intelektual dan akhlak, maka membelanjakan harta sebagai wujud investasi untuk melahirkan generasi yang cerdas keilmuan dan mulia dari sisi akhlak melalui pembangunan pesantren, sekolah dan perguruan tinggi kader Muslim benar-benar akan mendatangkan kemuliaan tiada henti dari Allah Ta’ala di dunia dan akhirat, insya Allah.*

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Kunci Amalan yang Membuat Hidup Lebih “Hidup” http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/08/14/121453/kunci-amalan-yang-membuat-hidup-lebih-hidup.html Mon, 14 Aug 2017 10:25:39 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=121453

Jika hidup suka melampiaskan kemarahan dan enggan memaafkan, maka dia memastikan diri terperosok dalam ketidakbahagiaan

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

MENJADI Muslim itu mudah, murah dan tentu saja berkah. Sebab semua dimensi empiris dan material yang dijalani diliputi oleh dimensi spiritual yang meneguhkan sekaligus menenangkan.

Oleh karena itu, Islam selalu menganjurkan doa dalam setiap aktivitas yang umat Islam lakukan, mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi, banyak aktivitas yang harus diawali dan ditutup dengan doa. Makan, minum, tidur, berkendara, memakai baju, mandi, dan lain sebagainya.

Tetapi, mengapa masih ada sebagian dari kita yang hidupnya galau, penuh amarah dan karena itu tidak bahagia? Boleh jadi karena tidak memahami Islam atau belum benar-benar meresapi dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan konsisten.

Tetapi, amalan di dalam Islam kan banyak sekali. Benar, dan karena itu mari kita lihat tiga di antaranya yang merupakan amalan harian yang harus dilakukan oleh umat Islam.

Pertama, Shalat

Shalat sebagai tiang agama mencakup semua dimensi kehidupan, mulai dari gerak fisik, rasa, pikir dan hati, dan yang paling menarik adalah sisi waktunya.

Baca: 3 Langkah Bahagia Hidup Sepanjang Hari

Orang yang Shalatnya tertib akan memiliki kedisiplinan tinggi di dalam kehidupannya. Misalnya soal disiplin waktu. Mereka yang istiqomah Shalat Shubuh apalagi tahajjud, hampir kecil peluangnya untuk terlambat dalam aktivitas kerjanya. Lebih dari itu, wajahnya berseri-seri, karena bangun di waktu yang tepat, yakni di waktu sahur atau sebelumnya.

‘The mind must be fully made up that to rise early is a duty” (Pikiran harus sepenuhnya diarahkan untuk memahami bahwa bangun lebih awal adalah tugas), demikian kata Benjamin Franklin memberikan motivasi.

Tetapi, bagi kita, bangun lebih awal sebenarnya keuntungan besar, karena bisa menghadap Allah melalui beberapa jenis Shalat. Mulai Shalat tahajjud, Shalat witir, Shalat sunnah fajar, sampai Shalat Shubuh.

Katakanlah jika kita tinggal di Jabodebek, bangun jam 4 dini hari, maka sampai tiba waktu shubuh ada empat jenis Shalat yang dilakukan secara berurutan. Artinya, gerak fisik untuk kesehatan tubuh telah ditunaikan.

Dalam teori kesehatan “physical activity” merupakan salah satu hal penting untuk menunjang kesehatan dan tentu saja kebahagiaan seseorang.

Baca: 11 Ciri Orang Bahagia Menurut Rasulullah [1]

Katherine Zeratsky mengatakan, “Aktivitas fisik tidak saja baik bagi kita, tetapi juga memberikan jalan (terbaik) untuk memanfaatkan waktu.”

Dengan bangun lebih awal, kita tidak saja mendapatkan keesempatan menghirup oksigen dengan baik, tetapi juga mendirikan Shalat yang memenuhi kriteria aktivitas fisik yang pada saat itu pula juga bermunajat kepada Allah.

Jika ini diamalkan, apakah mungkin hati seorang hamba diliputi selain dari pada ketentraman dan keyakinan kepada Allah Ta’ala? Apakah mungkin masih ada kemalasan yang ingin dilampiaskan?

Artinya, orang yang melakukannya benar-benar akan bahagia dalam hidupnya.

Kedua, memafkan

Dalam hidup, manusia tidak bisa lepas dari yang namanya interaksi dengan sesama. Dan, dalam interaksi itu tentu saja ada hal-hal yang membutuhkan kebesaran jiwa.

Ketika sedang berkendara misalnya, tiba-tiba ada pengendara lain yang secara mendadak memotong jalan dan berbelok, yang kalau Allah tidak jadikan reflek diri segera melakukan pengereman, insiden tidak bisa dihindarkan. Dalam situasi seperti itu, kebanyakan orang spontan berkata kasar atau tidak patut. Tetapi, kalau bisa memaafkan maka itu lebih baik.>> klik >> (BERSAMBUNG)

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sikap Muslimah Hadapi Gelombang Fitnah http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/08/05/121016/sikap-muslimah-hadapi-gelombang-fitnah.html Sat, 05 Aug 2017 09:38:34 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=121016

Di Indonesia bukan sekali dua kali media massa menayangkan berita akan larangan menggunakan atribut muslimah di beberapa daerah/instansi, baik itu pemerintah ataupun swasta.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Khairul Hibri
Pengasuh di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim –STAIL- Surabaya.

STIGMATISASI negatif terhadap syariah Islam oleh kekuatan global, benar-benar telah mempersempit gerak kaum muslimin, khususnya muslimah, yang hendak menjalankan syariah secara kafah (totalitas) di belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Jangankan ‘berteriak’ hendak menegakkan hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, ‘sekedar’ menunaikan kewajiban pribadi sebagai pemeluk agama, umpama dengan menggunakan jilbab penutup aurat (khususnya cadar dan niqab), mengalami kesulitan.

Bahkan di beberapa negara Eropa, semisal Prancis, Belanda, Belgia, dan lain-lain, telah menerapkan hal itu. Di Indonesia bukan sekali dua kali media massa menayangkan berita akan larangan menggunakan atribut muslimah di beberapa daerah/instansi, baik itu pemerintah ataupun swasta.

Bersamaan dengan itu, budaya gaya hidup Barat (west life) yang berpijak pada kebebasan tanpa batas, menghantam secara membabi buta. Mulai dari tata cara berbusana yang super minimalis, hingga pergaulan antar-lawan jenis yang begitu bebas, bahkan mengarah kepada seks bebas.

Stigmatisasi negatif juga dibangun untuk mereka yang enggan ‘menyicipi’ dunia bebas ini; sebagai muslimah kolot, tidak gaul, ketinggalan zaman, gagap pergaulan, dan sebutan negatif lainnya. Bagi mereka yang tidak kuat, jelas akan terbawa arus. Lebih-lebih, deruan gelombang ini sangat kuat dengan ditopang oleh kecanggihan teknologi dan informasi yang ada.

Inilah kondisi yang tengah berkembang di masyarakat saat ini. Allah yang merupakan Penentu dari segala kebijakan di muka bumi ini (al-Qadir), telah menetapkan bagi muslimah yang hidup di era milenium ini, menghadapi fitnah nan demikian.

Tentu menjadi pantangan besar bagi mereka menghendaki kesuksesan dalam ujian, mengikuti arus yang ada. Memang terasa perih, sakit, terkucil, bahkan keselamatan jiwa menjadi resiko yang harus diterima. Tapi itulah mahar yang harus dihadapi sebagai tebusan yang harus dibayar demi menggapai ridha-Nya.

Perhatikan pesan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam berikut ini, tentang bagaimana kondisi akhir zaman. Sabda beliau; “Akan datang pada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Lazimnya bara memiliki sifat membakar bagi barang yang tersentuh olehnya. Apa lagi kulit manusia yang tipis. Mudah sekali dilahap. Artinya, kesukaran hidup bagi mereka yang berpegang pada ajaran agama ini telah menjadi keniscayaan.

Bagi mereka yang tak sabar, sehingga memilih ‘membuang’ bara itu, maka ia akan kehilangan untuk selama-lamanya. Resikonya sangat besar. Di dunia tak dihargai kepribadiannya, meski bergelimang harta. Dan di akhirat neraka sebagai tempat kembali. Na’udzubillahi min dzalik.

Teladan Ibunda

Jauh sebelum memutuskan untuk menikah dengan Nabi Muhammad SAW, Khadijah telah masyhur di masyarakat Arab, khususnya Qurasyi, sebagai wanita mulia. Ia pun diliputi kemewahan harta, karena bisnis yang dijalankannya. Singkatnya, kesenangan duniawi, baik berupa harta benda maupun kedudukan, telah berada di genggamannya.

Hidayah Allah pun menyelinap di relung hatinya, ketika cahaya Islam menyinari bumi Arab. Ia tercatat sebagai perempuan pertama yang bersyahadat (assabiqun awwalun). Bersamaan dengan itu, lambat laun, ujian demi ujian menerpa keluarganya. Mulai dari fitnah-fitnah yang tak berdasar, hingga pada pemboikotan, kurang lebih sampai 3 tahun lamanya.

Sangat berat ujian saat itu. Hingga orang-orang beriman harus mengonsumsi daun-daun atau akar-akar yang bisa dimakan. Mereka pun terputus hubungannya dengan sanak keluarga. Meski demikian, sama sekali tidak mengendurkan kesetiaan Khadijah pada suami, khususnya pada Islam.

Harta yang dimiliki justru diserahkan demi menopang dakwah Islam. Lenyaplah segala kemewahan duniawi itu, demi memperoleh kebahagiaan yang hakiki di akhirat; surga-Nya. Beliau pun meninggal dalam keimanan. Ridha Allah dan Rasul-Nya mampu direngguh.

Terkait dengan besarnya kesetiaan beliau terhadap agama ini, simak kesaksian Rasulullah SAW, yang beliau ungkapkan kepada Aisyah yang saat itu tengah dikuasai api cemburu;

Allah tidak pernah memberiku pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia beriman padaku ketika orang lain kufur. Ia percaya padaku ketika orang-orang mendustakanku. Ia memberikan hartanya kepadaku ketika tidak ada orang yang mau membantuku…” (HR. Bukhari)

Disabdanya yang lain, Rasulullah SAW bersabda; “Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid.” (HR. Bukhari)

Sudah tentu para muslimah sejati merindu predikat serupa; diridhai kehidupannya oleh Allah dan Rasul-Nya, sehingga diperkenankan memasuki surga-Nya, yang memang hanya disediakan untuk mereka yang berpegang teguh atas agama hanif ini, dalam suka maupun duka.

Rekomendasi Penyelamatan

Dalam upaya menggapai itu semua, dalam konteks upaya kongkrit menyelamatkan diri dari jerat fitnah yang begitu masif ini, berikut direkomendasikan beberapa saran yang bisa ditempuh oleh para muslimah;

Pertama, temukan komunitas/jamaah yang sevisi. Hal ini penting untuk menjaga daya tahan diri. Ada pihak lain yang akan mengingatkan bila diri lalai (watawaa shaubil haq watawa shaubish shabri). Tanpa adanya jamaah, peluang untuk terpeleset pada fitnah akan sangat besar, laksana mudahnya seekor binatang buas memangsa domba yang terpisah dari gerombolan.

Kedua, aktif di majelis ilmu. Posisi ilmu (agama) bagi manusia laksana kompas. Ia akan menjadi menuntun arah. Banyak pengetahuan yang akan didapat, sehingga menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan. Dan yang pasti, janji Allah bagi mereka yang dikehendaki kebaikan, akan difahamkan pada urusan agama. Dan tidak lain cara mencapainya, kecuali dengan berakrab-akrab di majelis ilmu.

Dan rekomendasi terakhir sekaligus sebagai penutup dari ulasan singkat ini; perbanyaklah ibadah, dzikir, serta doa agar diselamatkan dari segala fitnah yang tengah berhembus, dan diberi keteguhan untuk tetap istikamah dalam mempertahankan keimanan. “Ya Allah, berikanlah keselamatan bagi para muslimah dari segenap fitnah kehidupan.” Amiin. Wallahu ‘alamu Bish-Shawab.*

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>