Gaya Hidup Muslim – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Siap dan Bahagia Sambut Ramadhan http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/05/01/141584/siap-dan-bahagia-sambut-ramadhan.html Tue, 01 May 2018 11:39:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=141584

Persipakan diri dari sekarang untuk menyambut Ramadhan. Mulailah latihan beribadah, seperti puasa, membaca Al-Qur'an, dan segala macam amalan ketaqwaan

The post Siap dan Bahagia Sambut Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

MEMASUKI pertengahan Bulan Sya’ban, seorang anak kelas dua sekolah dasar terlihat sangat bahagia. Kepada kedua orang tuanya berulang kali ia bertanya, “Sebentar lagi puasa, ya, Ma?”

Ramadhan memang memiliki daya tarik tersendiri, tidak saja bagi orang beriman, tetapi juga anak-anak yang menuju baligh. Hal ini tidak lain karena  kemuliaan dan keagungannya sungguh sangat luar biasa.

Maka, sungguh mengherankan bila orang mengerti hakikat Ramadhan kemudian merasa biasa-biasa saja. Padahal, Ramadhan 1439 H tinggal dua pekan atau bahkan lebih dekat lagi.

Dalam sejarah kita akan temukan bahwa para ulama terdahulu saling mengingatkan bila Ramadhan akan tiba. Selanjutnya mereka mempersiapkan diri untuk memperbanyak amal sholeh.

Riwayat menyebutkan bahwa Imam Mu’la bin Fadhal pernah berkata, “Mereka (ulama terdahulu, salafus sholeh) berdoa selama enam bulan agar disampaikan kepada Ramadhan.”

Fakta tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan tidak bisa disikapi, melainkan dengan kesungguhan, totalitas, dan komitmen tinggi untuk meraih ketaqwaan.

Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menerangkan, “Nilai puasa Ramadhan adalah seperempat keimanan.” Hal itu beliau sandarkan dari hadtis Nabi, “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi).

Kemudian, Al-Ghazali mengutip hadits qudsi, “Setiap perbuatan baik yang dilakukan manusia akan mendapatkan pahala sepuluh hingga tujuh ratus kalilipat, kecuali puasa. Sebab, sesungguhnya puasa itu hanya bagi-Ku, dan Aku-lah yang akan menentukan balasannya.”

Baca:  Amalan-amalan Sya’ban “Pemanasan” Menuju Bulan Ramadhan

Jadi, sangat pantas jika setiap insan beriman memantaskan diri menyambut Ramadhan.

Terlebih puasa di dalam sabda Rasulullah termasuk dari pilar tegaknya agama.

Islam dibangun di atas lima perkara, 1) Syahadat, 2) sholat, 3) zakat, 4) haji, 5) puasa Ramadhan, demikian dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Ramadhan dalam bahasa Buya Hamka pada bukunya “Dari Lembah Cita-Cita menyatakan bahwa puasa adalah media pemerdeka jiwa atas kekangan hawa nafsu.

Buya Hamka menjelaskan, “Kita telah terbiasa makan di siang hari. Payah melepaskan, membiasakan, memerdekakan diri dari kebiasaan itu. Payah menghentikan merokok, payah makan di luar waktu yang telah ditentukan, sampai timbul pepatah terkenal, ‘Manusia budak dari kebiasaannya.’ Oleh karena itu, puasa adalah alat yang utama untuk memerdekakan jiwa dari kebiasaannya setiap hari, yang kelak menjadi tangga untuk melawan kebiasaan-kebiasaan yang besar sehingga terbuktilah pepatah yang asyhur, ‘Bukan untuk makan saja kita hidup.”

Penjelasan Hamka boleh jadi merupakan penjelasan dari hadits Nabi, “Sesungguhnya setan itu masuk ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya. Oleh karenanya, sempitkanlah jalan setan itu dengan cara berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim).

Dengan demikian, penting bagi setiap insan memahami Ramadhan dengan sebaik-baiknya kemudian diikuti dengan langkah-langkah persiapan yang dimana pada saat Ramadhan amalan itu bisa semakin digalakkan. Karena Ramadhan juga dikenal dengan nama Syahrul Ibadah (bulan ibadah).

Kita bisa bayangkan, begitu hebatnya kemuliaan yang Allah sediakan bagi orang yang berpuasa lagi beribadah, pahala umroh di bulan Ramadhan sebanding dengan pahala ibadah haji. Di sini kita penting benar-benar menyiapkan diri dengan beragam amalan sholeh di dalam Ramadhan.

Bagi kaum hawa, jika masih ada hutang puasa Ramadhan tahun sebelumnya, maka bersegeralah membayarnya.

Dari Abu Salamah berkata, Aku mendengar Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Aku berhutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali pada Bulan Sya’ban.”

Yahya berkata, “Karena dia sibuk dengan (mengurus) Nabi atau sibuk karena senantiasa bersama (mengiringi kesibukan) Nabi shallallahu alayhi wasallam.” (HR. Bukhari).

Nah, ini kesempatan bagus bagi para suami agar mendorong istrinya segera membayar puasa. Terlebih, pada Bulan Sya’ban Rasulullah banak mengerjakan puasa sunnah.

Rasulullah shallallahu alayhi wasallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di Bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim).

Meski demikian penting dicatat, tidak dibolehkan berpuasa sehari atau dua hari sebelum masuk Ramadhan. Kita dilarang berpuasa pada akhir Bulan Sya’ban.

“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Muslim).

Sekarang baru masuk pertengahan, maka bersegeralah melakukan puasa sunnah sebagai wujud kesiapan sekaligus kebahagiaan menyambut Ramadhan.

Baca: Sya’ban Bulan yang Dilalaikan Manusia

Selanjutnya memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini sangat penting terutama bagi mereka yang memiliki kesibukan luar biasa di siang hari, pulang larut malam dari bekerja. Sebab, sangat sayang jika diri berpuasa, tetapi interaksi dengan Al-Qur’an rendah.

Jika memang ada kesanggupan menjalankan tanggungjawab lahiriah keluarga dengan baik selama Ramadhan tanpa bekerja, maka memfokuskan diri beribadah bukanlah hal yang buruk.

Amru bin Qois Al-Malai apabila memasuki Bulan Sya’ban beliau menutup tokonya, lalu memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur’an. Sekalipun langkah seperti ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh kebanyakan kaum Muslimin. Ini hanya bagi yang mampu dan memang menyiapkan diri.

Terakhir, perkuatlah keimanan kepada Allah. Karena Ramadhan mesti menjadikan diri kita semakin beriman dan bertaqwa kepada-Nya.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR. Bukhari Muslim).

Jadi, mari persipakan diri dari sekarang untuk menyambut Ramadhan. Mulailah latihan beribadah, seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan segala macam amalan yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. Jadilah Muslim yang siap dan bahagia menyambut Ramadhan.

Semoga Allah berikan kemampuan untuk kita semua menyiapkan diri dan mengisi Ramadhan 1439 H dengan sebaik-baiknya. Aamiin.*

 

The post Siap dan Bahagia Sambut Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
141584
Beginilah Seharusnya Seorang Muslim http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/04/14/140498/beginilah-seharusnya-seorang-muslim.html Sat, 14 Apr 2018 08:53:24 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140498

Seorang Muslim, hanya mencari apa yang Allah ridhai, baik dengan melakukan perintah-Nya atau pun menjauhi segala larangan-Nya

The post Beginilah Seharusnya Seorang Muslim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

TIDAK sedikit di antara banyak orang yang menghalkan segara cara dalam hidup. Demi uang, karir dan jabatan, orang rela menukar akidahnya.

Secara etimologis Islam   اْلإِسْلاَم   berasal dari  bahasa Arab

aslama – yuslimu – islāman. Dalam kamus Lisān al-‘Arab disebutkan, Islām mempunyai arti semantik sebagai berikut: tunduk dan patuh (khadha‘a – khudhū‘ wa istaslama – istislām), berserah diri, menyerahkan, memasrahkan (sallama – taslīm), mengikuti (atba‘a – itbā‘), salima yang artinya selamat.

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya .

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Bahkan, barangsiapa  menyerahkan diri (aslama) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati.” (QS: al-Baqarah [2]:112).

Idealnya, seorang Muslim totalitas dalam ber-Islam. Semua pikiran, hati bahkan praktik hidupnya ‘diserahkan’ (sesuai yang diinginkan pemilik langit dan bumi). Itulah namanya menyerahkan diri.

Baca: Bangga Sebagai Seorang Muslim

‘”Sekarang saya telah menyerah kepada-Nya. Menyerah dengan sepenuh hati. Artinya, segala perintah dan hukum-Nya aku taati; suruhan-Nya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan, dengan segenap kerelaan. Inilah Islam!” tulis Buya Hamka dalam bukunya Kesepaduan Iman dan Amal Saleh.

Buya Hamka pun menambahkan, “Iman dan Islam, percaya dan menyerah, adalah dua kalimat yang tidak tercerai selama-lamanya. Tidaklah cukup percaya saja padahal tidak menyerah. Tidaklah sempurna menyerah kalau tidak percaya.” (halaman: 1-2).

Suatu hari ada seorang pemuda menemui Nabi, lantas berkata, “Wahai Rasulullah izinkan aku berzina,” demikian kalimat pemuda itu yang membuat para sahabat marah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab. “Mendekatlah.”

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada ibumu?” tanya Rasulullah.

“Tidak, demi Allah wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu”

“Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa ibu-ibu mereka.”

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada putrimu?” Rasulullah melanjutkan sabdanya.

“Tidak, demi Allah wahai Rasulullah”

“Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa putri-putri mereka.”

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada bibi-bibimu, saudari ayahmu?”

“Tidak, demi Allah wahai Rasulullah”

“Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa bibi-bibi mereka.”

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada bibi-bibimu, saudari ibumu?”

“Tidak, demi Allah wahai Rasulullah”

Baca: Dua Komitmen Menjadi Muslim

“Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa bibi-bibi mereka.”

Setelah pemuda tersebut menyadari bahwa tak ada seorang pun yang rela ibu, putri dan kerabatnya dizinai sebagaimana dirinya sendiri juga tidak rela jika hal itu terjadi pada ibu, putri dan kerabatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas meletakkan tangan beliau kepada pemuda itu sambil mendoakannya:

“Ya Allah… ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

“Setelah itu,” kata Abu Umamah yang menceritakan kisah pemuda tersebut, “Pemuda tersebut tidak pernah melirik apapun.” Perbuatan zina menjadi hal yang paling dibencinya.

Demikianlah sikap seorang Muslim, hanya mencari apa yang Allah ridhai, baik dengan melakukan perintah-Nya atau pun menjauhi segala larangan-Nya.

Sungguh sebuah kemunafikan jika lisan mengatakan iman kepada Allah namun perilaku jauh dari nilai-nilai Islam bahkan tidak peduli dengan permasalahan yang menimpa umat Islam.

Baca: Menjadi Muslim Visioner

Buya Hamka menambahkan, “Mengaku diri seorang Islam padahal tidak mengerjakan sholat lima waktu. Cobalah pikirkan, benarkah pengakuan itu? Mengaku seorang Islam padahal enggan mengeluarkan zakat? Apa sebab? Apakah lantaran merasa bahwa harta itu bukan pemberian Allah? Mengaku diri seorang Islam padahal enggan melakukan puasa bulan Ramadhan. Apakah sebabnya? Bukankah ini lantaran pengakuan itu belum bulat? Lain di mulut, lain di hati?”

Padahal dengan menjadi Muslim yang sejati atau dalam kata yang lain benar-benar menjadi Islam, pertolongan Allah akan selalu datang menyertai setiap usaha kehidupannya.

إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: [22] :40-41).

Semoga Allah berikan kekuatan kepada kita untuk benar-benar menjadi Muslim yang sejati, yang dalam perkara apapun selalu mengingat penilaian Allah, jika halal kita kerjakan, jika haram kita jauhi. Karena tidak akan pernah ada kebahagiaan dengan memilih jalan yang menyalahi aturan-Nya.

Terhadap perintah-Nya, seperti sholat, zakat, puasa, haji dan beragam amal kebajian lainnya, kita upayakan dengan semampu diri. Dan, terhadap larangan-Nya, kita jauhi sejauh-jauhnya. Insya Allah kebahagiaan akan menyapa hidup kita, tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Allahu a’lam.*

The post Beginilah Seharusnya Seorang Muslim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
140498
Menuntut Ilmu Ciri Muslim Sejati http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/03/19/138247/menuntut-ilmu-ciri-muslim-sejati.html Mon, 19 Mar 2018 07:59:54 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=138247

Imam Ahmad hampir 40 tahun pengumpulan hadits, pikirannya tidak akan tenang sebelum pekerjaannya itu diselesaikan

The post Menuntut Ilmu Ciri Muslim Sejati appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SANGAT menakjubkan kala Allah menyebut umat Islam sebagai sebaik-baik umat, sebab umat Islam memang seharusnya melekat dalam dirinya perkara-perkara mulia, seperti berdab, santun, berakhlak mulia, berperilaku baik serta bersikap sholeh dan sangat gemar menuntut ilmu.

Bagaimana tidak gemar menuntut ilmu, sedangkan aktivitas meningkatkan ilmu dan amal itu termasuk dari bagian manivestasi ibadah. Sebagian ulama sampai berkata, “Ilmu adalah sholat secara rahasia dan ibadah hati.”

Demikian agungnya menuntut ilmu, Allah pun menempatkan orang yang gemar menuntut ilmu dengan para mujahid yang berangkat perang di jalan Allah.

{وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122) }

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Menapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang yang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah [8]: 122).

Baca: Ulama Besar yang Menuntut Ilmu Saat Berumur 70 Tahun

Imam Ahmad berkata, “Ilmu itu sesuatu yang tiada bandingnya bagi orang yang niatnya benar.”

Seseorang lantas bertanya, “Bagaimanakah benarnya niati itu wahai Abu Abdillah?”

Beliau menjawab, “Yaitu berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.”

Dengan demikian, Muslim yang benar berpikirnya, jauh visinya, dan peduli terhadap agamanya akan menjadikan aktivitas menuntut ilmu sebagai tuntutan dalam dirinya. Sesibuk apapun, ia akan tetap menambah, memperbaiki dan mempertajam ilmu, terutama yang mengantarkannya untuk semakin paham dengan agama (tafaqquh fiddin).

Di zaman Rasulullah, semangat itu sangat nyata. Umar bin Khathab sampai membuat kesepakatan dengan tetangga-tetangganya, bahwa kalau dirinya sibuk dalam satu kesempatan ia berpesan kepada tetangganya yang bisa hadir dalam majelis Rasulullah untuk menyampaikan kepadanya. Pun demikian, jika tetangganya yang sibuk, maka Umar akan menyampaikan apa yang diperoleh dari majelis Rasulullah.

Semua itu sangat didorong oleh hadits Nabi;

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya niscaya Allah akan memberinya pemahaman yang mendalam di dalam agama.” (HR. Bukhari).

Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada dalam kitabnya Al-Adab Al-Islamiyah menegaskan bahwa “ilmu adalah petunjuk amal, maka tidak akan baik suatu amal kecuali dengan ilmu.”

Maka sangat wajar jika menuntut ilmu di dalam Islam, wajib bagi seluruh umatnya, mulai dari kandungan hingga masuk ke dalam liang lahat. Demikianlah Islam memandang ilmu.

Adalah sungguh aneh jika diri mengaku Muslim, namun terhadap ilmu ogah-ogahan. Padahal dalam Al-Qur’an kita diajarkan untuk berdoa;

رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha [20]: 114).

Oleh karena itu, sudah saatnya setiap Muslim menjadwalkan dalam dirinya untuk menuntut ilmu, bersungguh-sungguh mendapatkannya.

Ilmu itu diperoleh melalui belajar.” (HR. Bukhari).

Baca: Sakit Kepala Ulama Hilang dengan Ilmu

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah dalam Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi  I/348  berkata;  “Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh).”

Lihatlah sejarah, bagaimana Muslim terdahulu memberikan keteladanan dalam hal menuntut ilmu.

Sa’id Ibnul Musayyib berkata, “Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, sungguh aku dulu pergi berhari-hari demi mendapatkan satu buah hadits.”

Seorang sahabat bernama Jabir bin Abdullah ra pergi selama sebulan ke Kota ‘Arisy di Mesir untuk mendapatka sebuah hadits dari Abdullah bin Unais.

Imam Ahmad pergi selama dua bulan penuh dari Baghdad menuju Shan’a di Yaman untuk menimba sepuluh hadits.

Lebih jauh Imam Ahmad tidak kurang dari 40 tahun menggeluti pengmpulan hadits, pikirannya tidak akan tenang sebelum pekerjaannya itu diselesaikan. Dia pergi ke Mesir, Iraq, Syam, Khurasan, Hijaz, dan Shan’a di Yaman.

Bahkan di dalam Al-Qur’an Allah mengisahkan bagaimana seorang Nabi Musa alayhissalam mesri rela meninggalkan negeri dan bangsanya menuju perjalanan panjang menuntut ilmu kepada Nabi Khidhir alayhissalam.

Dahulu para ulama membaca di bawah terik mentari, di tengah dinginnya udara dan dengan sedikit makanan dan minuman. Imam Ibnul Jauzi pergi ke pinggir Sungai Dajlah membawa sepotong roti kering. Dia tidak mungkin memakannya begitu saja tanpa air, sebab roti kering itu bisa melukai kerongkongannya.

Baca: Teladani Ulama dalam Menuntut Ilmu

Shahih Bin Kaisan al Ayamani memulai menuntut ilmu pada usia tua, ada yang menyatakan di usia 70 tahun. Namun Allah memberikan keberkahan umur dan memberikan usia panjang hingga beliau wafat pada usia di atas 140 tahun.

Dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu, beliau akhirnya menjadi hafidz hadits yang termasuk periwayat dari hadits-hadits di Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Termasuk murid-murid beliau adalah ulama besar semisal Imam Malik dan Ibnu Iyainah. (Tahdzib At Tahdzib, 4/350).

Nah, bagaimanakah dengan 24 jam yang kita lalui setiap hari selama sepekan, sebulan dan sepanjang satu tahun di tengah fasilitas yang Allah sediakan di zaman ini begitu sangat mudah?

Adakah dari sekian jam yang telah tersedot untuk tanggungjawab bekerja, sebagian disisihkan untuk menuntut ilmu?

Adakah kerinduan dalam hati untuk bertemu dengan ulama guna bersilaturrahim dan mendapatkan ilmu dari mereka?

Atau justru tidak lagi kita pedulikan, sehingga seluruh waktu habis untuk perkara-perkara yang tidak menambah ilmu, tidak menguatkan iman dan karena itu terus menggerus semangat amal diri, sehingga jiwa menjadi beku dan mata hati menjadi buta, sedangkan diri masih berharap keindahan Surga! Na’udzubillah.*

The post Menuntut Ilmu Ciri Muslim Sejati appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
138247
Kepada Binatangpun, Muslim Berkasih Sayang http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/03/07/137328/kepada-binatangpun-muslim-berkasih-sayang.html Wed, 07 Mar 2018 05:44:26 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=137328

Kemuliaan hidup, keagungan akhlak seseorang, tidak semata-mata diperoleh dengan cara berakhlak kepada sesama manusia semata, tetapi juga kasih sayang kepada binatang

The post Kepada Binatangpun, Muslim Berkasih Sayang appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SUATU hari seorang anak mendapati seekor kucing masuk ke dapur dan mencuri ikan bakar kesukaannya, tidak lama kemudian anak itu mengambil tongkat dan memukul sekeras-kerasnya kucing tersebut, beruntung kucing itu dapat menghindar sehingga anak itu pun semakin kesal dan kecewa.

Sikap anak yang demikian mungkin wajar mengingat masih terbatas pengetahuannya terutama tentang bagaimana bersikap atau tepatnya beradab terhadap makhluk hidup dalam hal ini adalah binatang.

Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk mengenalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Islam tidak saja mengatur tentang bagaimana hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga memberikan aturan tentang bagaimana hubungan manusia dengan binatang.

Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqih Sunnah menukil sebuah hadits tentang sedekah kepada hewan atau binatang.

“Suatu ketika seseorang berjalan di suatu jalan ia merasakan kehausan kemudian ia menemukan sebuah sumur. Ia turun di dalamnya minum dan keluar, tiba-tiba ada seekor anjing yang menjilat tanah karena kehausan. Orang tersebut berkata di dalam hatinya, sungguh anjing ini merasakan kehausan seperti aku merasakan sebelumnya. Ia turun lagi ke dalam sumur, setelah sampai di dalam, ia memenuhi sepatunya dengan air lalu menggigitnya dan membawanya naik ke atas. Air tersebut ia minumkan kepada anjing, karena itu Allah berterima kasih kepada-nya dan mengampuni dosa-dosanya.

Baca: Sayangilah Sesama, Bahkan Termasuk Hewan

Para sahabat bertanya, wahai Rasulullah apakah dalam berbuat baik kepada binatang ada pahala untuk kami? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, “Dalam berbuat baik kepada setiap yang memiliki hati yang masih basah ada pahalanya,” hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Mengacu pada hadis tersebut, kemuliaan hidup, keagungan akhlak seseorang, tidak semata-mata diperoleh dengan cara berakhlak kepada sesama manusia semata, tetapi juga kasih sayang kepada binatang.

Oleh karena itu sikap keras, kasar, dan tidak peduli, merupakan satu sikap yang setiap orang harus menjauhkan dalam diri dan kehidupannya. Sebab ketika seseorang mampu berbuat baik kepada binatang ada jaminan pahala yang luar biasa dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalam konteks hadis di atas disebutkan bahwa Allah berterima kasih kepada-nya dan mengampuni dosa-dosanya. Hal ini menunjukkan betapa mengasihi binatang atau bersedekah kepada binatang merupakan amal yang tidak kecil nilai dan derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jadi penting bagi kita mengingatkan anak, anggota keluarga, bahkan mungkin kita sendiri untuk tidak kasar terhadap binatang, sekalipun seekor kucing mencuri ikan di dapur. Sebab perilaku kucing yang demikian itu tidak akan membuat kita kesulitan mendapatkan makanan yang lain. Lebih jauh kalau kita mau merenung, mengapa kucing sampai mencuri, sebenarnya menunjukkan bahwa hampir-hampir tidak ada manusia yang peduli kepadanya.

Jika kita pernah mengalami atau bahkan melakukan seperti anak kecil yang bersikap kasar terhadap seekor kucing, maka kini saatnya kita sadar bahwa tanggung jawab kita bukan semata berbuat baik kepada manusia tetapi juga kepada binatang yang ada di sekeliling kita, di mana kita bisa memberi makan untuk binatang-binatang itu, sehingga mereka tidak perlu mencuri lagi dan kepedulian kita kepada binatang ini boleh jadi menjadi sebab Allah Ridho kepada kita, insya Allah.

Baca: Ulama Dua Madzhab yang Sayangi Fuqara dan Hewan

Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Suatu ketika seekor anjing terus berputar-putar di sekitar sumur, tiba-tiba seorang pelacur Bani Israil melihatnya, ia segera melepas sepatunya untuk mengambilkan air lalu meminumkannya, wanita itu pun mendapat ampunan dari Allah atas perbuatannya tersebut.” (HR. Bukhari).

Mari kita perhatikan sekali lagi dua hadis di atas yang dinukil oleh Sayyid Sabiq di dalam Fiqih Sunnah.

Pertama, yang ditolong adalah seekor anjing. Kita sama-sama mengerti bahwa anjing bagi umat Islam adalah binatang yang begitu jarang berinteraksi di dalam kehidupannya. Tetapi siapapun yang menolong anjing Allah berikan ampunan bahkan Allah berterima kasih kepadanya. Apalagi kalau bukan anjing, katakanlah menolong kucing, ayam, burung ataupun binatang lainnya, berarti Allah memberikan kemuliaan yang lebih baik untuk siapapun yang menolongnya.

Kedua,  disebutkan bahwa yang menolong seekor anjing yang berputar-putar di sumur itu ternyata adalah seorang pelacur. Atas sikapnya yang bersegera menolong anjing yang kehausan itu juga menjadikan sebab Allah memberikan ampunan kepadanya.

Dengan kata lain Allah seakan-akan tidak peduli dengan apa yang selama ini menjadi perbuatan maksiat pelacur tersebut. Allah langsung mengampuninya. Hal ini menunjukkan bahwa betapa kasih sayang, atau tepatnya bersedekah atau mungkin berakhlak kepada binatang juga merupakan amalan yang tidak boleh kita tinggalkan. Wallahu a’lam.*

Baca juga: Cinta Ulama Al Azhar terhadap Kucing “Mahiyah”

The post Kepada Binatangpun, Muslim Berkasih Sayang appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
137328
Merasakan Manisnya Iman itu dengan Amal http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/03/01/136788/merasakan-manisnya-iman-itu-dengan-amal.html Thu, 01 Mar 2018 08:50:26 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=136788

Jika benar-benar ingin merasakan manisnya Iman, maka tidak ada cara lain kecuali menguatkan niat, memantapkan tekad untuk terjun langsung melakukan

The post Merasakan Manisnya Iman itu dengan Amal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

IMAN bukanlah sesuatu yang dapat dirasakan kehadirannya, peningkatannya, hanya dengan memahami ilmu agama secara teoritis semata. Tanpa amal tanpa pengorbanan.

Iman di dalam Islam sebagaimana juga dibuktikan dalam sejarah adalah perkara yang manisnya bisa dirasakan ketika jiwa raga seseorang menceburkan dirinya di dalam segala bentuk aktivitas ataupun pekerjaan yang menyangkut hajat hidup umat Islam dan demi tegaknya peradaban Islam.

Mengapa dahulu para sahabat Nabi sangat antusias dalam jihad? Karena dalam jihad ada manisnya iman yang tak bisa dirasakan melainkan dengan mencicipi dan lebih jauh menikmatinya. Sebagian ulama larut dengan aktivitas mengajarkan ilmu dan bersedekah setiap hari. Mengapa mereka terus melakukannya? Karena manisnya iman nyata mereka rasakan.

Oleh karena itu penting dipahami, bahwa untuk meningkatkan iman dan taqwa adalah dengan langsung menjalankan segala macam bentuk amalan bahkan perjuangan dan pengorbanan bagi tegaknya iman dan peradaban Islam.

Ustadz Abdullah Said di dalam bukunya Kuliah Syahadat mengatakan bahwa mencari pengalaman melalui keterlibatan langsunglah satu-satunya cara paling efektif untuk merasakan sendiri halawatul Iman (manisnya iman) atau kenikmatan beriman. Bagaimana mungkin umat bisa menikmati kalau belum pernah mengalami, akan sangat berbeda bobot keyakinan yang diperoleh lewat berita dibandingkan dengan yang dirasakan secara langsung.” (halaman: 144).

Baca: Antara Ilmu dan Iman

Beliau melanjutkan “Selama hal tersebut hanya berupa teori yang tak beda dengan berita, selama bentuknya sekadar informasi dan indoktrinasi semata, tidak dengan menunjukan langsung di lapangan agar mereka dapat mengalami sendiri pahit getirnya mempertahankan syahadat, suka dukanya mengembangkan syahadat, sampai-sampai kepada titik klimaksnya sebagai fase-fase penentuan uji cobanya, terlalu sulit kita harapkan kualitas (iman) yang baik itu.”

Itulah mengapa di dalam Islam banyak sekali perintah yang mesti dilakukan oleh umat Islam di mana sebagian besar di antaranya hanya dapat dilakukan oleh mereka yang benar-benar meyakini ajaran Islam, sehingga mereka inilah orang yang dapat merasakan keindahan sekaligus mampu merepresentasikan keindahan ajaran Islam.

Sebagai contoh, bukti empirik yang paling dekat dengan kehidupan kita hari ini adalah Aksi Bela Islam III 212 yang dilakukan oleh jutaan kaum muslimin di ibukota Jakarta.

Mereka yang merasakan guyuran hujan saat sholat Jumat,dan semangat mendengarkan khutbah, beserta saling terima dan lempar senyum kepada sesama kaum Muslimin akan merasakan sebuah getaran iman yang luar biasa, yang tak mudah untuk dipaparkan secara lisan apalagi tulisan, dan tidak mungkin bisa dirasakan secara utuh manisnya perasaan kala itu, sejuk dan damainya jiwa saat itu, kecuali oleh mereka yang hadir merasakan secara langsung betapa hebatnya Aksi 212 itu.

Baca: Selamatkan Imanmu, Jauhi Sifat Tamak

Lebih jauh bisa kita lihat dalam kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dari berbagai sisi.

Dari sisi ibadah beliau mampu menghidupkan malam-malam dengan sholat, dari sisi kepedulian beliau menjadi orang yang sangat gelisah apabila di dalam rumah masih ada harta yang belum disedekahkan. Dari sisi kepemimpinan beliau adalah orang yang paling mengkhawatirkan nasib umatnya sampai-sampai menjelang wafatnya beliau masih mengatakan, “ummati, ummati, ummati.”

Di sisi lain kita juga dapat menemukan heroisme para sahabat dalam mencari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, mereka yang memiliki harta dengan mengorbankan untuk agama, mereka yang memiliki tekad belajar rela melakukan apapun demi mendapatkan ilmu dari sisi Rasulullah, dan mereka yang memiliki keterampilan memimpin pasukan, senantiasa menghabiskan umur dan tenaganya untuk memenangkan agama Allah.

Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa jika benar-benar ingin merasakan manisnya Iman di dalam hati, maka tidak ada cara lain kecuali menguatkan niat, memantapkan tekad untuk terjun langsung melakukan hal-hal yang strategis lagi dibutuhkan untuk kemaslahatan umat Islam.

Tanpa itu maka boleh jadi kita hanya akan menjadi seorang Muslim yang belum pernah benar-benar merasakan manisnya iman dan pada saat yang sama kita hanya menjadi pribadi yang merasa puas dan cukup menjadi Muslim yang hanya menjalankan ibadah-ibadah ritual, namun abai dalam menjalankan fungsi diri sebagai pemimpin, khalifah Allah di muka bumi ini.

Seperti ditegaskan oleh Iqbal dalam bukunya “Rekonstruksi Pemikiran Religius di dalam Islam” bahwa Al-Quran adalah sebuah kitab yang menekankan ‘perbuatan’ daripada ‘pemikiran,’ ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang keindahannya hanya bisa ditampilkan manakah umatnya benar-benar siap untuk menjadi garda yang terdepan dalam mengamalkan ajaran Islam.*

The post Merasakan Manisnya Iman itu dengan Amal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
136788
Muslim Itu Tidak Akan Pernah Mau Diperbudak Harta http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/02/14/135544/muslim-itu-tidak-akan-pernah-mau-diperbudak-harta.html Wed, 14 Feb 2018 08:27:17 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=135544

Sekiranya harta itu datang untuk menguatkan iman, maka ia semakin giat dalam menebar rahmat

The post Muslim Itu Tidak Akan Pernah Mau Diperbudak Harta appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

JUDUL di atas mungkin agak aneh, sebab di era modern ini tidak lagi dikenal istilah perbudakan. Terlebih dengan massifnya propaganda soal Hak Asasi Manusia.

Akan tetapi, sesungguhnya perbudakan itu tetap ada. Imam Ghazali kala membahas makna fakir dalam Ihya Ulumuddin berkata, “Hati yang terikat dengan kesenangan terhadap harta itu laksana budak. Dan, orang yang merasa kaya dari harta itu laksana orang merdeka.”

Lihatlah keseharian umat manusia. Ada yang mati-matian, siang dan malam banting pulang demi harta.

Jika cara yang wajar tak menjanjikan, ia pun menerobos (melanggar) syariat dengan menanggalkan sifat amanah yang mesti ia pegang teguh. Korupsi, riba, dan menipu menjadi jalan yang dianggap rasional di zaman seperti sekarang.

Bahkan tekad manusia untuk mengumpulkan harta sangat luar biasa. Ada yang berani menantang regulasi demi bisa bekerja meski harus ke luar negeri. Ada yang rela menyogok demi tercapai keinginan hati, baik masuk fakultas favorit di universitas atau pun diterima sebagai pegawai atau pun aparat di institusi negara.

Bahkan orang yang terdidik pun, sekolah hingga ke luar negeri, kala menjadi seorang pejabat, tiba-tiba berubah, seolah tak pernah sekolah. Ilmunya tak lagi diarahkan untuk mensejahterakan rakyat, tetapi menjilat siapa yang telah mengangkatnya menjadi pejabat.

Sikap demikian adalah bukti bahwa tidak sedikit manusia yang menghamba pada harta, sehingga ia rela diperbudak oleh harta. Akal sehat, ilmu, dan kecemerlangan berpikir menjadi tumpul. Semua ucapan dan tindakan sesuai dengan titah yang menjanjikan harta kepadanya.

Baca: Gila Harta, Sumber Malapetaka

Padahal, Nabi, istri-istrinya dan para sahabat sangat merdeka, meski harta dalam genggaman mereka.

Suatu waktu Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha diberi seratus ribu dirham. Maka ia pun mengambilnya, dan segera membagi-bagikan pada hari itu juga. Lalu pembantu Aisyah bertanya, “Apakah engkau tidak mampu pada yang engkau bagi-bagikan hari ini seandainya engkau membeli untuk kita dengan satu dirham saja daging yang bisa kami gunakan berbuka puasa?”

Dengan spontan, istri Nabi itu menjawab, “Seandainya engkau mengingatkanku, niscaya akan aku lakukan.”

Demikianlah idealnya sikap seorang Muslim. Senantiasa menjadikan harta sebagai jalan mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Bukan malah mengutamakan angan-angan, kesenangan-kesenangan yang justru akan semakin menjauhkannya dari keimanan.

Tetapi, faktanya tidak demikian. Lihat saja fakta berupa belum terealisasinya potensi zakat di Indonesia yang mencapai ratusan triliun. Mengapa itu terjadi? Bukan tidak ada umat Islam yang kaya, tetapi belum banyak yang benar-benar kaya, sehingga kekayaan berupa harta terus membelenggunya untuk tidak meningkat iman dan taqwanya.

Belumlah sifat seperti sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf radhiyalluh anhu.

Kepada para sahabatnya ia berkata, “Aku sangat khawatir kalau-kalau aku ini termasuk orang yang dicepatkan mendapat kebaikan di dunia, tapi tertahan dan tak dapat menyusul teman-temanku (di akhirat), di sebabkan kekayaanku yang berlimpah-limpah ini.”

Oleh karena itu, Allah menjelaskan bahwa orang yang mau menginfakkan hartanya, meminjamkan hartanya di jalan Allah, sebagai orang-orang yang bertaqwa dan kelak akan mendapatkan Surga.

Baca: Kuasailah Harta, Jangan Dikuasai!

Terlebih mereka yang mau berinfak di kala lapang maupun sempit.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3]: 133-134).

Agar jiwa tidak diperbudak harta, Allah pun memerintahkan umat Islam untuk peduli dengan memperhatikan kebutuhan makan anak-anak yatim dan yatim piatu. Memperhatikan kebutuhan makan orang-orang miskin. Bahkan, jika ada seorang Muslim memiliki harta melimpah, ibadah luar biasa, namun tetangganya dibiarkan kelaparan, sungguh Allah sangat murka kepada perangai yang demikian.

Lantas, bagaimana sikap ideal kita sebagai Muslim, menjauhi harta, mencarinya atau seperti apa?

Baca: Jangan Mengejar Sukses Dunia, Lupa Akhirat

Imam Ghazali memberikan contoh konkret terkait ini.

“Dan sesungguhnya telah dibawa kunci-kunci bumi kepada Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam, dan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khathab radhiyallahu anhu, maka mereka itu mengambilnya dan meletakkannya pada tempatnya.

Mereka tidak lari dari harta itu. Karena bagi mereka berdua itu sama makna antara harta, air, emas dan batu. Dan tidak diriwayatkan dari mereka bahwa mereka itu menolak harta-harta dimaksud.”

Makna tersiratnya adalah hendaknya kita sebagai Muslim dalam kondisi apapun jangan sampai diperbudak oleh harta. Apa arti negara merdeka jika jiwa manusianya terjajah? Seorang Muslim yang sejati memandang harta sebagai alat, senjata, atau pun sarana untuk mendapatkan keridhaan Allah.

Untuk itu, sekiranya datang kepadanya harta yang menawar harga imannya, ia pun menolak. Sebab iman tak ternilai, tak terharga berapapun juga. Demikian itu membuatnya semakin merdeka dari perbudakan dimana banyak manusia justru lengah.

Dan, sekiranya harta itu datang untuk menguatkan iman dan keluarganya, maka ia pun semakin giat dalam menebar rahmat ke seluruh muka bumi.

Harta yang dimilikinya menjadikan ia semakin bersemangat untuk menjangkau tempat-tempat yang penduduk suatu negeri jarang atau bahkan tak pernah dikunjungi pemimpin lain di muka bumi. Ia bangun sekolah, rumah sakit, dan ia sejahterakan penduduknya.

Andai ia seorang pengusaha, setiap hari ia akan mencari dimana anak-anak yang bisa dibiayai untuk belajar, dibangunkan fasilitas umumnya, dan disejahterakan masyarakatnya. Dimana semua itu dilakukan atas dasar iman demi tegaknya peradaban Islam.

Adakah kita menghendaki yang demikian? Semoga. Wallahu a’lam.*

The post Muslim Itu Tidak Akan Pernah Mau Diperbudak Harta appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
135544
Selamatkan Imanmu, Jauhi Sifat Tamak http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/01/25/133912/selamatkan-imanmu-jauhi-sifat-tamak.html Thu, 25 Jan 2018 03:43:56 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133912

Siapa yang suka menjadi manusia paling mulia, maka bertaqwalah kepada Allah

The post Selamatkan Imanmu, Jauhi Sifat Tamak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SEBUAH riwayat mengenaskan tentang anak manusia yang sangat tamak terhadap dunia disampaikan oleh Jarir bin Laits dalam buku Al-Ilajul Qur’ani karya Dr. Muslih Muhammad.

Suatu waktu seorang pria menemani Nabi Isa Alayhissalam. Mereka pun berdua pergi dan berhenti di tepi sungai. Keduanya duduk dan makan. Kala itu ada tiga roti. Mereka pun makan dua roti, sehingga tersisa satu roti.

Karena suatu keperluan, Nabi Isa menuju sungai lalu minum. Dan, ketika kembali beliau melihat roti yang tersisa tidak ada. Beliau pun bertanya, “Siapa yang mengambil roti itu?” Lelaki itu dengan wajah tanpa dosa menjawab, “Tidak tahu.”

Keduanya pun pergi. Kala melihat seekor betina rusa dengan dua ekor anaknya. Nabi Isa memanggil salah satunya lalu disembelih dan memanggangnya. Kemudian makanlah mereka berdua. Selanjutnya Nabi Isa berkata kepada rusa yang telah dipanggannya tadi. “Bangkitlah dengan izin Allah.”

Kemudian rusa itu bangkit dan berkata kkepada lelaki itu. “Aku bertanya kepadamu demi Dzat yang memperlihatkan ayat ini kepadamu, siapa yang mengambil roti itu?” Lelaki itu kembali menjawab, “Tidak tahu.”

Keduanya pun beranjak pergi dan berhenti di sebuah danau. Nabi Isa menggandeng tangan lelaki itu dan mereka berdua berjalan di atas air. Setiba di seberang danau, Nabi Isa bertanya, “Aku bertanya kepadamu demi Dzat yang memperlihatkan ayat ini kepadamu, siapa yang mengambil roti itu?” Ia tetap menjawab, “Tidak tahu.”

Keduanya kembali pergi dan berhenti di suatu dataran. Nabi Isa lalu mengumpulkan tanah debu kemudian berata, “Jadilah emas dengan izin Allah.”

Baca: Jadilah Lebih Mulia Tanpa Bersifat Tamak! –

Maka tanah dan debu itu berubah menjadi emas. Nabi Isa pun membaginya tiga bagian. “Sepertiga untukku, sepertiga untukmu, dan sepertiga lagi untuk yang mengambil roti.” Lelalki itu sontak berkata, “Akulah orang yang mengambil roti itu.” Mengetahui itu, Nabi Isa berkata, “Semuanya untukmu.”

Nabi Isa dan lelaki itu pun berpisah. Lelaki itu pergi sendirian dan berhenti pada dua orang pria di sebuah padang passir. Melihat emas yang cukup banyak dua lelaki itu bermaksud merampasnya. Namun cerdik lelaki yang membawa emas. “Kita bagi tiga saja. Sekarang satu orang ke pasar membeli makanan.”

Satu orang pun bergegas ke pasar. Tidak lama lelaki yang membawa emas itu berkata kepada lelaki yang menungguinya, untuk apa membagi emasnya dengan dia, lebih baik untuk kita berdua saja, nanti datang kita bunuh saja orang yang beli makanan ke pasar itu. Sementara yang ke pasar berpikir, buat apa dibagi. Lebih baik kuracuni saja makanan ini lalu kubunuh mereka berdua.

Setelah bertemu, kedua lelaki itu langsung membunuh lelaki yang membawa makanan dari pasar. Kemudian keduanya memakan makanan yang telah diracun, sehingga semua mati. Tinggallah emas itu tergeletak di padang pasir.

Kemudian Nabi Isa melintas di tempat itu dan berkata kepada para sahabatnya, “Inilah dunia, maka waspadalah kalian terhadapnya.”

Tamak adalah lawan dari qanaah (menerima, puas diri). Orang yang tamak memang tidak pernah kenal puas dengan yang namanya harta. Bak seekor kera yang mendapati pisang berhamburan, kala kedua tangannya telah penuh, maka digunakannya pula kedua kaki dan mulutnya untuk menggenggam kuat makanan favoritnya itu.

Baca: Membangun Pilar Akhlak Mulia

Dalam logika manusia secara umum, semakin banyak yang didapat tentu semakin baik. Tetapi tidak dalam Islam. Sifat tamak justru menjatuhkan seorang manusia pada kehinaan hakiki.

Umar bin Khathab berkata, “Tamak adalah kemiskinan dan putus asa darinya adalah kekayaan. Karena siapa yang berputus asa terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, niscaya dia tidak akan membutuhkannya.”

Dengan kata lain, orang yang tamak akan melemah, membeo dan menghujamkan dirinya pada kehinaan jika bertemu dengan apa yang diharap-harapkannya selama hidupnya, entah itu berupa harta kekayaan, jabatan dan lain sebagainya.

Disaat yang sama, dirinya merasa tidak keberatan mesti harus diinjak-injak harga dirinya, meski harus menjilat ludah sendiri, asalkan harta, tahta dan fasilitas yang diharapkannya dapat dimiliki.

Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika seseorang tamak pada sesuatu, niscaya dia akan memintanya (pada orang lain), maka lenyaplah agamanya. Sedangkan rakus akan membuat jiwa buas, sehingga kamu tidak suka kehilangan sesuatu. Ia akan memenuhi berbagai kebutuhan untukmu. Jika ia telah memuhi berbagai kebutuhan untukmu, maka dia akan menggiringmu kemanapun yang dia inginkan. Dia akan menguasaimu, maka kamu akan tunduk padanya.”

Masih menurut Fudhail bin Iyadh, “Di antara cintamu kepada dunia adalah kamu memberi salam kepadanya (kepada orang yang memberi) jika kamu lewat padanya, dan kamu akan menjenguknya jika dia sakit. Tapi kamu tidak pernah memberi salam kepadanya ikhlas karena Allah dan tidak pernah menjenguknya ikhlas karena Allah. Seandainya kamu tidak punya kebutuhan, maka itu lebih baik bagimu.”

Hal ini terjadi karena memang dalam tamak tidak ada ruang bagi hati untuk qanaah, ridha. Sebaliknya tumbuh subur angan-angan, hawa nafsu dan beragam hasrat yang tak terkendali terhadap dunia.

Baca: Sehatkan Jiwa Raga Kita dengan Akhlak Mulia

Lantas apa yang mesti dilakukan agar terhindar dari sifat tamak?

Pertama, fokus dan komitmen meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. Orang yang akan selamat dari sifat tamak adalah yang fokus mengejar keridhoan Allah Ta’ala. Dirinya sadar dunia hanyalah tempat ujian dan setiap manusia akan bertemu ajal. Dalam situasi seperti itu jiwa tidak akan memedulikan apa yang ada dalam genggaman, selain menggunakan waktu dan tenaga yang ada untuk terus taqarrub kepada-Nya.

Kedua, memahami hakikat dunia dengan sebaik-baiknya.

“Hamba Allah selalu mengatakan, ‘Hartaku, hartaku’, padahal hanya dalam tiga soal saja yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai habis, apa yang dipakai hingga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang sebagai kebajikan. Selain itu harus dianggap kekayaan hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan orang lain.” (HR. Muslim).

Ketiga, tundukkanlah dunia dengan mencari akhirat.

Dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah bersabda, “Siapa yang niatnya akhirat, maka Allah akan menggabungkan keduanya, dan menjadikan kekayaan di dalam hatinya. Dunia akan datang kepadanya dengan merendah. Namun siapa yang niatnya dunia, maka Allah akan memecah urusannya dan menjadikan kemiskinan di depan matanya. Dunia tidak akan datang kepadanya selain apa yang telah ditentutkan oleh Allah untuknya.” (HR. Ahmad).

Keempat, yakin dengan kekuatan Allah.

Dari Ibn Abbas, Nabi bersabda, “Siapa yang suka menjadi manusia yang paling kuat, maka bertawakkallah kepada Allah. Siapa yang suka menjadi manusia paling mulia, maka bertaqwalah kepada Allah. Siapa yang suka menjadi manusia paling kaya, maka jadikanlah apa yang ada pada Allah lebih ia percayai dari yang ada di tangannya.” (HR. Ahmad).

Kelima, yakin dengan pengaturan Allah tentang rezeki.

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud [11]: 6).

Dengan demikian untuk apa tamak harus ada di dalam hidup kita? Bukankah semua telah Allah atur dengan sebaik-baik pengaturan. Dan, kehidupan dunia ini tiadalah melainkan senda gurau yang sementara, maka mengapa tidak kita bersusah payah menuju akhirat daripada menggenggam dunia yang akan sirna. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi

The post Selamatkan Imanmu, Jauhi Sifat Tamak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
133912
Kunci Kemenangan Kaum Muslimin http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/01/11/132817/kunci-kemenangan-kaum-muslimin.html Thu, 11 Jan 2018 13:34:17 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=132817

Dalam dirinya hanya ada satu kalimat, asalkan agama Allah yang menang, jadi apapun diriku tidaklah begitu penting

The post Kunci Kemenangan Kaum Muslimin appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SESAAT setelah kabar kekalahan tentara Romawi dari pasukan kaum Muslimin di bawah komando Khalid bin Walid, Raja Romawi Heraklius berdiri di singgasananya lalu berkata.

“Katakan kepadaku siapa mereka (yang telah mengalahkan Romawi)? Bukankah mereka orang-orang seperti kalian?”

Di antara para pembesar Romawi itu ada yang menjawab, “Ya, benar. Mereka manusia seperti kita.”

Heraklius kian tak sabar, ia segera mengejar dengan pertanyaan berikutnya, “Jumlah kalian yang lebih banyak atau mereka?”

“Jumlah kami lebih banyak dan berlipat ganda dari jumlah mereka,” ucap salah satu komandan pasukan Romawi.

Baca: Ketika Umat Islam Mengadopsi Sistem Persi dan Romawi .

Dengan sedih bercampur marah dan kesal, Heraklius berkata, “Mengapa kalian bisa kalah?”

Heraklius dan semua pembesar seperti ditimpa kegelapan dan beban tak tertanggungkan. Frustasi, marah dan kecewa menyeruak ke seluruh rongga dada mereka. Suasana hening, hanya deru nafas mereka masing-masing yang terdengar begitu kuat, naik dan turun.

Hingga akhirnya, salah seorang yang paling senior di antara mereka mengangkat tangan dan memberikan penjelasan perihal mengapa Romawi bisa kalah.

“Karena mereka (pasukan Khalid bin Walid) bangun malam hari untuk beribadah kepada Tuhannya dan pada siang hari mereka berpuasa. Mereka menepati janji yang mereka sepakati, memerintahkan untuk berbuat baik, mencegah dari perbuatan keji dan saling memberi nasihat di antara mereka sendiri. Karena itu wajar Allah menolong dan memenangkan mereka.

Sedangkan kita dan pasukan kita, wahai Raja kami, kita meminum minuman keras. Kita mengingkari janji yang telah kita buat. Kita berbuat zalim dan melakukan kejahatan. Semua ini telah menjauhkan datangnya pertolongan Allah. Bagaimana Dia akan menolong kita, jika kita tidak menolong-Nya?”

Demikian dialog penuh hikmah yang terjadi di dalam kubu Kerajaan Romawi pasca kekalahan mereka dari pasukan umat Islam di bawah komando Khalid bin Walid yang ditulis oleh Dr. Abdurrahman ‘Umairah dalam bukunya “Fursan Min Madrasatin Nubuwwah.”

Fakta tersebut semestinya menjadi penggerak jiwa kita sebagai Muslim dalam keseharian. Bahwa kunci kemenangan umat Islam akan terjadi jika dan hanya jika umat Islam sendiri benar-benar mengamalkan ajaran Islam itu sendiri.

Baca: Beberapa Alasan Turunnya Nubuwah di Hijaz

Perhatikan kaliman, mereka bangun di malam hari dan berpuasa di siang hari. Artinya kunci kemenangan itu adalah amal dan amal.

Betapa pentingnya ketaatan yang dimanivestasikan dalam bentuk amal, Aid Al-Qarni dalam bukunya “Beginilah Zaman Mengajari Kita” menulis, “Ada orang yang mengisi lembaran hidupnya dengan kajian, produktivitas, dan penghimpunan pengetahuan, tapi dia lupa terhadap amal shalih. Bagi yang mencermati Al-Qur’an, dia akan mendapati bahwa Al-Qur’an memuji ilmu yang bermanfaat dan disertai dengan amal. Di dalamnya juga disebutkan tentang ketaatan seperti sholat, puasa, zakat, jihad, dan takwa, lebih banyak dari pada penyebutan ilmu. Hendaknya hal yang sedemikian mendapat perhatian secara khusus.”

Tentu saja semua amal yang bisa dilakukan tidak harus diumumkan baik melalui lisan kepada teman dekat. Apalagi melalui status di media sosial.

Al-Qarni menekankan bahwa para sahabat Nabi dalam beramal sangatlah luar biasa antusiasnya. Meski mereka sholat, puasa, melakukan amalan yang bisa dilihat, akan tetapi amal-amal yang tersembunyi jauh lebih banyak mereka amalkan dan itu hanya sedikit yang bisa diselidiki.

Selain amal ibadah tentu saja, kunci kemenangan dan kebahagiaan hidup umat Islam ada pada komitmen untuk saling memberikan nasehat, menepati janji dan saling mendoakan, berjiwa besar dan tetap mau mendengar.

Hal demikian pernah dilakukan Pendiri PP Hidayatullah, KH Abdullah Said, “Kalau ada orang yang memberi teguran terhadap apa yang kamu ceramahkan, mungkin karena kesalahan membaca ayat dan hadits aau kekeliruan embawakan suatu kisah, dan lain-lain, janganlah merasa dipermalukan, kendatipun teguran itu disampaikan di depan umum. Ucapkanlah terimakasih dan jadikanlah sebagai gurumu, niscaya engakau akan dijadikan sahabat. Peganglah prinsip ‘satu musuh itu sudah banyak sekali tapi seribu kawan itu masih sangat kurang.” (Mencetak Kader: 130).

Sikap demikian lebih dahulu diteladankan oleh Khalid bin Walid kala dirinya ditetapkan untuk tidak lagi menjadi panglima pasukan kaum Muslimin.

Baca: Ibrah Tiga Jenderal Besar dan Ksatria dalam Tiga Peradaban

Kala itu banyak yang mendesak Khalid agar memprotes keputusan Umar bin Khathab, namun dengan jiwa besar, Khalid menjawab tuntutan sahabat-sahabatnya.

“Tidak saudaraku yang seiman, saudara semedan pertempuran. Kita telah menghancurkan kota-kota di Persia. Kita juga telah enghancurkan benteng Romawi. Apakah ada kekuatan lain yang mengancam penduduk Muslim yang membutuhkan kepada pedangnya Khalid?”

Khalid lalu melanjutkan, “Jadi, pada saat ini negara lebih butuh kepada akal Umar bin Khathab daripada pedangnya Khalid. Fitnah tidak akan terjadi selama Umar bin Khathab masih hidup.”

Demikianlah sikap Khalid, wujud manivestasi keimanannya sebagai seorang jenderal besar yang tak pernah kalah dalam pertempuran menolong agama Allah.

Sikapnya penuh ketangguhan moral dan kecerdasan spiritual. Inilah kunci-kunci kemenangan umat yang kini harus kita hidupkan dan segar-segarkan kembali.

Dalam dirinya hanya ada satu kalimat, asalkan agama Allah yang menang, jadi apapun diriku tidaklah begitu penting. Sebab tugas utamaku adalah mengamalkan ajaran Islam dengan baik sepanjang hayat. Wallahu a’lam.*

The post Kunci Kemenangan Kaum Muslimin appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
132817
Dunia untuk Akhirat http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/01/03/132085/dunia-untuk-akhirat.html Wed, 03 Jan 2018 05:48:25 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=132085

Abdullah bin Amr misalnya, sejak awal menjadi Muslim, ia telah memusatkan perhatiannya terhadap Al-Qur'an

The post Dunia untuk Akhirat appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SEJATINYA setiap manusia menyadari bahwa hidupnya di dunia akan bertemu titik akhir berupa kematian. Saat kematian itu tiba, sirnalah segala kenikmatan hidup. Tinggallah manusia sebatang kara, terbujur kaku di dalam kubur.

Namun, rasio manusia tidak kehilangan cahaya kala berbicara kematian. Sebab, ternyata kematian adalah satu jalan untuk manusia dapat terangkat semua hijab pandangan mata hatinya terhadap hakikat dari kebenaran dan kehidupan itu sendiri.

Oleh karena itu, Islam memberikan penjelasan bahwa kehidupan di dunia ini laksana pertanian menuju akhirat. Siapa yang menanam kebaikan ia akan memperoleh kebaikan dan sebaliknya.
Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin berkata, “Tidaklah mungkin untuk menghasilkan bibit (tanaman) ini kecuali di dunia, tidak ditanam, kecuali pada kalbu dan tidak dipanen kecuali di akhirat.”

Kemudian Al-Ghazali mengutip hadits Nabi, “Kebahagiaan yang paling utama adalah panjang umur di dalam taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dalam kata yang lain, jika ditanya, siapa manusia yang beruntung dan bahagia, adalah yang menjadikan dunia sebagai ladang beramal, “bercocok tanam” untuk kebaikan akhiratnya. Dalam hal ini, ayat Al-Qur’an sangat eskplisit menjelaskan.

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ
فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ
فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.” (QS. Al Qari’ah [101]: 6-9).

Baca:  Pergunakan Usia Panjangmu dengan Amal Shalih (1)

Dengan demikian sebenarnya cukup sederhana memahami tentang bagaimana semestinya kaum Muslimin memandang kehidupan dunia, yakni bagaimana amal kebaikannya lebih unggul daripada amal keburukannya.

Terlebih secara gamblang Allah juga telah menyebutkan bahwa diciptakannya kehidupan dan kematian ini hanyalah untuk menguji kehidupan umat manusia, dan mengetahui siapa yang terbaik amalnya.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS: Hud [11]: 7).

Memahami hal tersebut, hati kita akan semakin terang kala melihat sosok para sahabat menjadikan dunia sebagai bekal untuk akhirat.

Sebut saja pebisnis ulung masa Nabi, Abdurrahman bin Auf, seluruh hasil dari perniagaannya ia salurkan untuk menyantuni para veteran perang Badar, para janda Rasulullah, dan memberi makan anak yatim dan fakir miskin di Madinah.

Tidak saja mereka yang diberi Allah rezeki berupa harta, yang memiliki potensi pada sisi lainnya dan dengan kekuatan apapun yang mereka miliki, mereka tidak pernah lemah, loyo, apalagi letoy dalam mengisi kehidupan dunia dengan kebaikan demi kebaikan.

Abdullah bin Amr misalnya, sejak awal menjadi Muslim, ia telah memusatkan perhatiannya terhadap Al-Qur’an. Setiap turun ayat, ia langsung menghafalkan dan berusaha keras untuk memahaminya, hingga setelah semuanya selesai dan sempurna, ia pun telah hafal seluruhnya.
Kemudian dari sisi kecerdasan intelektual, lihatlah Muadz bin Jabal. Kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat dikenal oleh seluruh penduduk Madinah. Sampai-sampai dikatakan Mu’adz hampir sama dengan Umar bin Khathab.

Namun kecerdasannya bukan untuk merengkuh keuntungan pribadi dan menghimpun kekayaan dunia. Tetapi membela agama Allah. Hal ini terbukti kala Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam hendak mengirimnya ke Yaman. Beliau bertanya, “Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?”

“Kitabullah,” jawab Mu’adz.

“Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah pula.

“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul.”

“Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”

“Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.
Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda beliau.

Kemudian, perhatikanlah sosok Nabi yang membuat Abdullah bin Amr terkagum-kagum dengan amalannya yang nampaknya sederhana, sepele, ternyata Nabi menyebutnya malah membuat lelaki itu tercatat sebagai ahli Surga.

Abdullah bin Amr adalah sosok yang penasaran dengan amalan lelaki itu. Setelah bermalam di rumah lelaki itu dan meneliti amalan yang dikerjakan, nihil, Abdullah tak menemukan amalan khusus apapun.

Maka pada saat hari terakhir, dimana ia akan berpamitan, kepada pria itu Abdullah berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuanku menginap di rumahmu adalah karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Aku bermaksud dengan melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Tapi, ternyata kau tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai sesuatu yang dikatakan Rasulullah sebagai penghuni surga?” ucapnya penuh penasaran.

Laki-laki itu pun tersenyum dan menjawab ringan, “Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat selama tiga hari ini.” Jawabannya itu tak memuaskan hati Abdullah ibn Amr.

Baca: Pergunakan Usia Panjangmu dengan Amal Shalih (2)

Namun, ketika Abdullah melangkah keluar dari rumah, laki-laki tersebut memanggilnya. Ia berkata kepada Abdullah, “Benar, amalanku hanya yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada Muslimin ataupun selainnya. Aku juga tidak pernah iri ataupun hasad kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.”

Mendengarnya perkataan tersebut, takjublah Abdullah bin Amr bin Ash. Ia yakin sifat tak pernah iri, dengki, dan hasad membuat pria itu masuk Surga.

Subhanalloh, demikianlah orang-orang terdahulu mengisi kehidupannya di dunia. Mereka fokus, bersungguh-sungguh beramal dengan apa yang mereka mampu lakukan dengan niat hanya ingin mendapat ridha Allah, sehingga perangai, perilaku dan orientasi hidup mereka di dunia adalah Allah.

Semoga Allah bimbing kita semua menjadi hamba-Nya yang mampu menjadikan dunia sebagai tempat berladang untuk kebaikan dan kebahagiaan kita di akhirat kelak. Sungguh, hanya Islam yang bisa menjelaskan apa yang terjadi setelah kematian menimpa umat manusia. Maka janganlah ada keraguan untuk menyiapkan diri pada kebaikan akhirat yang pasti akan datang. Wallahu a’lam.*

The post Dunia untuk Akhirat appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
132085
Cerdas dan Bahagia Bersama Ulama http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2017/12/25/131446/cerdas-dan-bahagia-bersama-ulama.html Mon, 25 Dec 2017 05:42:39 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=131446

Beruntunglah umat Islam Indonesia, karena zaman now masih ada ulama yang konsisten menjadikan dakwah-dakwah mereka mudah diakses di dunia maya

The post Cerdas dan Bahagia Bersama Ulama appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

ULAMA kehidupan umat Islam seperti rembulan di tengah gelap gulita. Sosoknya yang merupakan pewaris Nabi memiliki kedudukan istimewa di tengah-tengah hati kaum Muslimin.

Natsir dalam Capita Selecta menulis, “Bagi mereka, fatwa seorang alim yang mereka percayai berarti satu “kata-keputusan” yang tak dapaat dan tak perlu dibanding lagi. Seringkali telah terbukti, bagaimana susahnya bagi pemerintah negeri menjalankan satu urusan, bilamana tidak disetujui oleh ali-ulama di daerah yang bersangkutan” (halaman: 187).

Demikianlah sikap ideal yang telah berabad-abad lamanya dijaga dan dipelihara oleh kaum Muslimin, termasuk di era kekinian alias zaman now, umat Islam tetap setia, membela dan mencintai ulama-ulama mereka.

Di dalam al-Qur’an kata ulama setidaknya disebut dua kali.

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاء بَنِي إِسْرَائِيلَ

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 197).

Al-Qurtubi berpendapat bahwa yang dimaksud ulama pada ayat tersebut adalah orang-orang berilmu dari kalangan mereka yang paling tahu dan paham isis kitab-kitab suci.

Baca: Pengkritik Fatwa Ulama Biasanya Kurang Tahu Kedudukan Ulama

Kemudian pada Surah Al-Fathir ayat ke 38. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”

Makna dan maksudnya jelas, bahwa yang takut kepada Allah itu hanyalah para ulama, karena merekalah yang kenal Allah dan benar-benar mengesakan-Nya. Dalam kata yang lain, sebanyak apapun ilmu seseoerang jika tidak takut kepada Allah, maka jelas, bukan ulama.

Imam Ghazali berkata, “tidak semua orang berilmu layak menyandang gelar ulama. Hal ini karena, keulamaan bukan semata-mata soal pengetahuan atau kepakaran, akan tetapi soal ketakwaan dan kedekatan kepada Tuhan. Ulama sejati adalah mereka yang tidak hanya dalam dan luas ilmunya akan tetapi tinggi rasa takutnya kepada Allah dan bersih dari bayangan palsu (igthirar alias ghurur) mengenai dirinya” (Islam dan Diabolisme Intelektual, halaman: 23).

Takut kepada Allah maksudnya apa? Menurut Sa’id ibn Jubayr sebagaimana dikutip dalam buku Islam dan Diabolisme intelektual, takut dalam ayat tersebut berarti sesuatu yang menghalangi kita dari perbuatan dosa, maksiat atau durhaka kepada Allah.

Maka, terang di sini tidak ada sumber kebahagiaan dan kedamaian hidup ini selain dekat dan patuh kepada ulama. Di samping hidup dan membersamai ulama akan menjadikan kapasitas intelektual kita (kecerdasan) terus meningkat.

Bagaimana tidak akan meningkat kecerdasan, sedangkan para ulama selalu mampu menghubungkan makna dengan tantangan hidup keumatan yang sedang dan akan terjadi. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan, karena kata Nabi, ulama adalah pewaris para Nabi.

Baca: Jangan Biadab dengan Ulama

Di sinilah kedudukan ulama tidak bisa dipandang laksana jabatan pada umumnya. M. Natsir menegaskan hal ini dalam bukunya Capita Selecta yang juga menjawab mengapa seorang ulama tiba-tiba begitu dicintai oleh umat Islam.

“Ulama bukanlah pemimpin yang dipilih dengn “suara terbanyak” bukan yang diangkat oleh “persidangan kongres.” Akan tetapi kedudukan mereka dalam hati rakyat yang mereka pimpin, jauh lebih teguh dan suci dari pemimpin pergerakan yang berorganisasi atau pegawai pemerintah yang manapun juga” (halaman: 188).

Selain itu, dalam konteks kesejaharahan, jauh sebelum Indonesia ini mewujud, peran strategis para ulama sangatlah tak terbantahkan kontribusinya.

Siapa yang dapat mengobarkan semangat jihad melawan penjajah Portugis, Belanda dan Jepang, jika bukan para ulama. Dari Aceh hingga Papua, berderet kesultanan-kesultanan Islam yang raja-raja itu tidak mengambil keputusan melainkan setelah mendapatkan saran dan nasehat dari para ulama.

Oleh karena itu penting dan sangat menarik generasi Muslim hari ini mengenal siapa ulama sesungguhnya.

Natsir memberikan rekomendasi dalam hal ini, “Berkenalanlah dengan kiai-kiai dan berhubunganlah dengan mereka. Mereka itu berikhtiar menujukan fikiran rakyat ke arah alam ruhani; suatu bangsa tak kan hidup, bila kehidupan ruhaninya tidak terpimpin. Mereka menyuruh mengerjakan yang baik dan menjauhi barang ang mungkar. Dan bukankah yang demikian itu pekerjaan tuan-tuan juga adanya?” (halaman: 193).

Baca:  Otoritas Ulama dalam Prespektif Islam

Dalam konteks zaman now, untuk bisa dekat dengan ulama tidak terlalu sulit, media internet memberikan kemudahan untuk kita semakin cerdas dan bahagia bersama ulama.

Jika telah memiliki smartphone lengkap dengan kuota internet, maka gunakanlah sebagian besar kuota yang ada itu untuk membaca, memperhatikan ceramah atau taushiyah-taushiyah para ulama kita.

Sekalipun tentu jangan puas dan merasa cukup dengan mendekat kepada ulama melalui internet. Tetapi juga harus hadir ke masjid, majelis-majelis mereka, sebab bersialturrahim di dalam masjid atau dimana ada ulama kita melakukan taushiyah atau tabligh sangat berbeda dengan sebatas menyaksikan di dunia maya.

Beruntunglah umat Islam Indonesia, karena zaman now masih ada ulama yang konsisten menjadikan dakwah-dakwah mereka mudah diakses di dunia maya, sehingga syiar kebenaran dapat dengan mudah kita dapatkan.

Dengan demikian, dekatlah dengan ulama dengan cara yang bisa kita lakukan dan teruslah untuk selalu bersama para ulama. Karena sedetik meninggalkan mereka, jutaan hikmah dan kebaikan kita lewatkan dalam kehidupan kita.

Terlebih seorang ulama, kata Dr. Syamsuddin Arif, bukan semata orang yang berkualitas spiritual, mental dan intelektualnya, tetapi juga sosok yang paling terdepan memikirkan nasib bangsa dan negara. “Para ulama sadar betul akan tugas mereka sebagai penuntun dan pembela umat.”

Jadi, mari terus bersama cintai dan bela ulama kita. Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi memang demi keutuhan NKRI dan terawatnya nalar sehat kita semua sebagai umat Islam, penduduk mayoritas negeri ini. Wallahu a’lam.*

The post Cerdas dan Bahagia Bersama Ulama appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
131446