Kajian – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Tue, 24 Apr 2018 14:57:48 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.4 Enam Bulan Berdoa Agar Sampai kepada Ramadhan http://www.hidayatullah.com/kajian/hikmah/read/2018/04/18/140768/enam-bulan-berdoa-agar-sampai-kepada-ramadhan.html Wed, 18 Apr 2018 01:44:46 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140768

BETAPA perhatian umat terdahulu cukup besar, hingga mereka memulai “start” untuk menuju Ramadhan di masa-masa yang cukup lama. Sejak enam […]

The post Enam Bulan Berdoa Agar Sampai kepada Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BETAPA perhatian umat terdahulu cukup besar, hingga mereka memulai “start” untuk menuju Ramadhan di masa-masa yang cukup lama. Sejak enam bulan sebelum Ramadhan, para ulama sudah berdoa agar disampaikan kepada Ramadhan. Sebagaimana disampaikan Al Hafidz Ibnu Rajab Al Hanbali,”Sebagian salaf berkata, bahwa mereka berdoa selama enam bulan agar sampai pada bulan Ramadhan.” (Latha`if Al Ma’arif, hal. 376)

The post Enam Bulan Berdoa Agar Sampai kepada Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
Amalan-amalan Sya’ban “Pemanasan” Menuju Ramadhan http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/04/18/140759/amalan-amalan-syaban-pemanasan-menuju-ramadhan.html Wed, 18 Apr 2018 00:19:14 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140759

DIRIWAYATKAN dari Anas bin Malik bahwasannya umat Islam di masa beliau jika memasuki bulan Sya’ban, maka mereka sibuk dengan mushaf-mushaf […]

The post Amalan-amalan Sya’ban “Pemanasan” Menuju Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DIRIWAYATKAN dari Anas bin Malik bahwasannya umat Islam di masa beliau jika memasuki bulan Sya’ban, maka mereka sibuk dengan mushaf-mushaf dan mereka membacanya, mereka juga mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk memperkuat orang-orang yang lemah dan miskin dalam menghadapi puasa Ramadhan. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 258)

Dari apa yang disampaikan Al Hafidz Ibnu Rajab tersebut nampaklah bahwasannya amalan-amalan bulan Ramadhan sudah mulai dikerjakan di bulan Sya’aban. Hal itu diperkuat dengan amalan para ulama.

Memperbanyak Membaca Al Quran

Di bulan Rajab, para salaf shalih semakin memfokuskan diri untuk membaca Al Qur`an meski Ramadhan belum tiba. Sebagaimana dilakukan oleh Amru bin Qais Al Mula`i jika telah memasuki bulan Sya’ban, maka ia menutup kedainya dan menyibukkan diri dengan membaca Al Qur`an. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 258)

Puasa Sya’ban

Puasa di bulan Sya’ban merupakan perkara yang disunnahkan. Aisyah Radhiyallahu’anhu menyampaikan,”Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyempurnakan puasa kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak mengetahui dalam suatu bulan lebih banyak puasa dibanding Sya’ban.” (Riwayat Al Bukhari)

Mengqadha’ Puasa

Karena kedekatannya dengan Ramadhan, maka disunnahkan untuk mengqadha’ puasa sunnah di bulan Sya’ban. Namun bagi siapa yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan, maka dilarang untuk menangguhkan untuk menqadha’nya setelah Ramadhan ke dua tanpa udzur. Jika mengakhirkan qadha’ sampai Ramadhan ke dua tanpa udzur, maka wajib baginya disamping mengadha’ puasa memberi makan kepada orang miskin menurut madzhab Al Maliki, Asy Syafi’i dan Al Hanbali. Sedangkan untuk madzhab Al hanafi, cukup mengqadha’ saja. (lihat, Latha’if Al Ma’arif, hal. 258)

Persiapkan Fisik Hadapi Ramadhan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasannya Rasulullah Shallahu Alihi Wasallam bersabda,”Janganlah kalian mendahului Ramadhan (dengan berpuasa) sehari atau dua hari. Kecuali bagi siapa yang berpuasa, maka ia hendaklah berpuasa.” (Riwayat Al Bukhari)

Al Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan beberapa pandangan mengenai sebab dimakruhkannya melaksanakan puasa sunnah mutlak sehari atau dua hari menjelang Ramadhan, salah satunya adalah agar dikuatkan dalam menghadapi puasa Ramadhan. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 273-276)

Tidak Mengumbar Nafsu Makan-Minum Sebelum Ramadhan

Meski ada dorongan untuk memperkuat fisik dalam menghadapi bulan Ramadhan, namun bukan berarti seseorang didorong untuk melampiaskan makan dan minumnya sepuas-puasnya sebelum memasuki Ramadhan, karena ketika mereka berada di bulan Ramadhan tidak bisa melakukannya. Tradisi buruk ini disebut dengan tanhis, yakni hari-hari untuk melakukan perpisahan dengan makan dan minum sebelum bulan Ramadhan. (Latha`if Al Ma’arif, hal. 273-276).*

 

 

 

 

The post Amalan-amalan Sya’ban “Pemanasan” Menuju Ramadhan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
Bertawakal Setelah Berdoa, Jangan Tergesa Pengabulan-Nya http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/16/140553/bertawakal-setelah-berdoa-jangan-tergesa-pengabulan-nya.html Sun, 15 Apr 2018 23:11:12 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140553

Seorang hamba tidak boleh tergesa-gesa untuk meminta agar doanya segera dikabulkan. Allah lebih mengetahui kebaikan untuk hamba-Nya

The post Bertawakal Setelah Berdoa, Jangan Tergesa Pengabulan-Nya appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

APABILA kita sudah mengetahui bahwasanya doa adalah inti dari ibadah, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, hendaklah kita juga mengetahui bahwa doa adalah inti dari isti’anah (permintaan tolong kepada Allah).

Tidak masuk akal jika kita meminta pertolongan kepada seseorang untuk mengerjakan sesuatu, tetapi dengan tidak mengucapkan satu kalimat permintaan sedikit pun. Namun, antara permintaan kepada manusia dan permohonan kepada Allah terdapat perbedaan yang sangat jauh.

Terkadang manusia menolak satu permintaan, terkadang pula ia mau memberi suatu permintaan. Akan tetapi, ketika kita memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ia akan senantiasa memenuhi permintaan Anda, dan memberikan apa yang diinginkan melebihi apa yang diminta.

Sungguh benar perkataan seorang penyair:

Jangan sekali-kali Anda meminta dari anak Adam untuk satu keperluan

Mintalah kepada Dzat yang pintu-Nya senantiasa terbuka

Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan marah jika Anda tidak meminta kepada-Nya

Sementara anak Adam akan marah ketika diminta

Di berbagai tempat dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, di antaranya firman Allah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (Al-Mu’min [40]: 60)

Baca: Doa “Ampuh” Imam Ahmad

Firman Allah yang lain:

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf [7]: 55)

Berdoa tidak hanya dilakukan di saat genting saja. Karena hal tersebut adalah sesuatu yang wajib bagi setiap muslim, baik dalam keadaan senang maupun susah. Rasulullah pernah bersabda:

“Kenalilah Allah Subhanahu Wa Ta’ala di kala senang, niscaya Dia pasti akan mengetahuimu ketika susah.” (HR Ahmad).

Seorang hamba hendaknya banyak berdoa kepada Allah dan selalu mengulang-ulang (baca; mendesak) doanya, karena Allah menyukai hamba-Nya yang mengulang-ulang dalam doanya sebagaimana firman-Nya:

فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“…Maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (Al-Baqarah[2]: 186).

Lafazh ‘idza’ (diterjemahkan dengan apabila-edt) berfungsi sebagai tahqiq (benar-benar melakukannya) dan katsrah (sering mengulang-ulang). Berbeda dengan lafazh `in‘ yang berfungsi mewakili perasaan syak (keraguan) dan menunjukkan bahwa tindakan tersebut jarang dilakukan.

Dengan demikian, Allah menyeru hamba-Nya untuk ilhah (mengulang-ulang/mendesak) ketika berdoa dan Dia menjanjikan mereka jawaban yang baik. Hendaklah setiap hamba mengetahui bahwa doanya tidak akan pernah sia-sia.

Rasulullah bersabda:

“Tidak ada seorang muslim pun di bumi ini yang berdoa kepada Allah  kecuali Allah akan memenuhi permohonannya, atau Dia akan memalingkannya dari kejelekan yang setimpal dengan doanya, selama dia tidak berdoa untuk kesalahan (dosa) atau memutuskan silaturrahim.” Seorang laki-laki berkata, ‘Kalau begitu, kami akan banyak melakukannya (berdoa).’ Beliau bersabda, ‘Allah akan lebih banyak lagi (mengabulkannya)’.” (HR At-Tirmidzi).

Oleh sebab itu, jika seorang muslim berputus asa dari dikabulkannya doanya, niscaya doanya juga tidak akan dikabulkan. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, (yaitu) ia berkata, Aku telah berdoa kepada Rabb-ku, namun doaku belum juga dikabulkan’.”

Allah tidak tergesa-gesa sebagaimana ketergesaan anak Adam, namun setiap keputusan (takdir) yang ada di sisi-Nya mempunyai waktu tertentu. Alangkah indahnya perkataan Imam Syafi’i:

Apakah engkau menyepelekan dan meremehkan doa

Sementara engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh doa

Panah di waktu malam tidak akan salah sasaran

Namun dia memiliki jarak, dan ia mesti ditempuh

Telah disebutkan dalam sebuah atsar bahwa Nabi Musa alaihis salam ketika berdoa untuk kecelakaan pengikut Fir’aun, beliau berdoa:

رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُواْ حَتَّى يَرَوُاْ الْعَذَابَ الأَلِيمَ

“… Wahai Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka. Maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus [10]: 88)

Kemudian Allah berfirman kepada beliau:

قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا

“…Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua…” (Yunus [10]: 89)

Allah baru mewujudkan doa beliau setelah empat puluh tahun kemudian, dengan ditenggelamkannya pengikut Fir’aun dan diberikannya kekuasaan kepada Bani Israil.

Apakah Nabi Allah, Musa, menganggap doanya terlambat dikabulkan? Tidak, beliau mengetahui bahwa keputusan Allah mempunyai waktu tertentu. Dengan itu, beliau memberikan kabar gembira kepada kaumnya:

رَبُّكُمْ أَن يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“…Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya). Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.” (Al-A’ raf [7]: 129)

Sesungguhnya hakikat isti’anah (meminta pertolongan kepada Allah) tampak pada sikap hamba ketika meminta kepada Rabbnya. Dia meyakini bahwa semua kebaikan berada di tangan Allah,  Dia Maha Pemurah yang memberi tanpa menghitung.

Baca: Mengikis Iman, Amalan Tertolak, Doa Tak Terkabul

Dengan meminta kepada Allah, ia tidak perlu lagi meminta kepada sesama manusia. Dia menjadi mulia karena Rabbnya dan bertawakal kepada-Nya. Para shahabat –semoga Allah meridhai mereka semua–memohon semua keperluan mereka kepada Allah sampai pada urusan tentang makanan ternaknya.

Apa yang menarik dari hal ini? Benar, di dalam jiwa mereka telah tertanam kuat hakikat yang besar bahwasanya Allah adalah Raja Yang Maha Pemurah, Dia tidak pernah menolak orang yang meminta kepada-Nya. Tidak pernah seorang hamba mengangkat kedua tangannya ke langit untuk meminta kepada Rabb-nya, kecuali Dia akan memberikannya.

Allah  Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah [2]: 186)

Rasulullah telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghadap (meminta) kepada Allah dalam segala hajat yang kita perlukan, baik keperluan itu datangnya dari Allah atau dari seorang makhluk-Nya, baik untuk kepentingan dunia atau akhirat.

Namun, seorang hamba tidak boleh tergesa-gesa untuk meminta agar doanya segera dikabulkan. Allah lebih mengetahui kebaikan untuk hamba-Nya. Dia mengetahui kapan memberinya dan kapan menahannya. Hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah:

“Barang siapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya kemudian dia shalat dua rakaat dengan sempurna, Allah akan memberikan apa yang dia minta, baik dengan segera atau ditunda.” (Al-Bukhari, Ahmad, dan Ath-Thabrani dari Abu Darda’).*/Dr. Hani Kisyik, dari bukunya Kunci Sukses Hidup Bahagia

The post Bertawakal Setelah Berdoa, Jangan Tergesa Pengabulan-Nya appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
Beginilah Seharusnya Seorang Muslim http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/04/14/140498/beginilah-seharusnya-seorang-muslim.html Sat, 14 Apr 2018 08:53:24 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140498

Seorang Muslim, hanya mencari apa yang Allah ridhai, baik dengan melakukan perintah-Nya atau pun menjauhi segala larangan-Nya

The post Beginilah Seharusnya Seorang Muslim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

TIDAK sedikit di antara banyak orang yang menghalkan segara cara dalam hidup. Demi uang, karir dan jabatan, orang rela menukar akidahnya.

Secara etimologis Islam   اْلإِسْلاَم   berasal dari  bahasa Arab

aslama – yuslimu – islāman. Dalam kamus Lisān al-‘Arab disebutkan, Islām mempunyai arti semantik sebagai berikut: tunduk dan patuh (khadha‘a – khudhū‘ wa istaslama – istislām), berserah diri, menyerahkan, memasrahkan (sallama – taslīm), mengikuti (atba‘a – itbā‘), salima yang artinya selamat.

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya .

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Bahkan, barangsiapa  menyerahkan diri (aslama) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati.” (QS: al-Baqarah [2]:112).

Idealnya, seorang Muslim totalitas dalam ber-Islam. Semua pikiran, hati bahkan praktik hidupnya ‘diserahkan’ (sesuai yang diinginkan pemilik langit dan bumi). Itulah namanya menyerahkan diri.

Baca: Bangga Sebagai Seorang Muslim

‘”Sekarang saya telah menyerah kepada-Nya. Menyerah dengan sepenuh hati. Artinya, segala perintah dan hukum-Nya aku taati; suruhan-Nya aku kerjakan, larangan-Nya aku hentikan, dengan segenap kerelaan. Inilah Islam!” tulis Buya Hamka dalam bukunya Kesepaduan Iman dan Amal Saleh.

Buya Hamka pun menambahkan, “Iman dan Islam, percaya dan menyerah, adalah dua kalimat yang tidak tercerai selama-lamanya. Tidaklah cukup percaya saja padahal tidak menyerah. Tidaklah sempurna menyerah kalau tidak percaya.” (halaman: 1-2).

Suatu hari ada seorang pemuda menemui Nabi, lantas berkata, “Wahai Rasulullah izinkan aku berzina,” demikian kalimat pemuda itu yang membuat para sahabat marah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab. “Mendekatlah.”

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada ibumu?” tanya Rasulullah.

“Tidak, demi Allah wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu”

“Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa ibu-ibu mereka.”

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada putrimu?” Rasulullah melanjutkan sabdanya.

“Tidak, demi Allah wahai Rasulullah”

“Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa putri-putri mereka.”

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada bibi-bibimu, saudari ayahmu?”

“Tidak, demi Allah wahai Rasulullah”

“Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa bibi-bibi mereka.”

“Apakah engkau suka jika hal itu dilakukan kepada bibi-bibimu, saudari ibumu?”

“Tidak, demi Allah wahai Rasulullah”

Baca: Dua Komitmen Menjadi Muslim

“Demikian juga orang lain, mereka tidak ingin hal itu menimpa bibi-bibi mereka.”

Setelah pemuda tersebut menyadari bahwa tak ada seorang pun yang rela ibu, putri dan kerabatnya dizinai sebagaimana dirinya sendiri juga tidak rela jika hal itu terjadi pada ibu, putri dan kerabatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas meletakkan tangan beliau kepada pemuda itu sambil mendoakannya:

“Ya Allah… ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

“Setelah itu,” kata Abu Umamah yang menceritakan kisah pemuda tersebut, “Pemuda tersebut tidak pernah melirik apapun.” Perbuatan zina menjadi hal yang paling dibencinya.

Demikianlah sikap seorang Muslim, hanya mencari apa yang Allah ridhai, baik dengan melakukan perintah-Nya atau pun menjauhi segala larangan-Nya.

Sungguh sebuah kemunafikan jika lisan mengatakan iman kepada Allah namun perilaku jauh dari nilai-nilai Islam bahkan tidak peduli dengan permasalahan yang menimpa umat Islam.

Baca: Menjadi Muslim Visioner

Buya Hamka menambahkan, “Mengaku diri seorang Islam padahal tidak mengerjakan sholat lima waktu. Cobalah pikirkan, benarkah pengakuan itu? Mengaku seorang Islam padahal enggan mengeluarkan zakat? Apa sebab? Apakah lantaran merasa bahwa harta itu bukan pemberian Allah? Mengaku diri seorang Islam padahal enggan melakukan puasa bulan Ramadhan. Apakah sebabnya? Bukankah ini lantaran pengakuan itu belum bulat? Lain di mulut, lain di hati?”

Padahal dengan menjadi Muslim yang sejati atau dalam kata yang lain benar-benar menjadi Islam, pertolongan Allah akan selalu datang menyertai setiap usaha kehidupannya.

إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: [22] :40-41).

Semoga Allah berikan kekuatan kepada kita untuk benar-benar menjadi Muslim yang sejati, yang dalam perkara apapun selalu mengingat penilaian Allah, jika halal kita kerjakan, jika haram kita jauhi. Karena tidak akan pernah ada kebahagiaan dengan memilih jalan yang menyalahi aturan-Nya.

Terhadap perintah-Nya, seperti sholat, zakat, puasa, haji dan beragam amal kebajian lainnya, kita upayakan dengan semampu diri. Dan, terhadap larangan-Nya, kita jauhi sejauh-jauhnya. Insya Allah kebahagiaan akan menyapa hidup kita, tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Allahu a’lam.*

The post Beginilah Seharusnya Seorang Muslim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
Lakukanlah Kebaikan Sesuai dengan Kemampuan http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/04/11/140270/lakukanlah-kebaikan-sesuai-dengan-kemampuan.html Wed, 11 Apr 2018 09:55:25 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140270

Yang kecil akan menarik yang besar ke arahnya, yang sedikit mengundang yang lebih banyak, seperti yang sering dikatakan, "Kebaikan merupakan kebiasaan"

The post Lakukanlah Kebaikan Sesuai dengan Kemampuan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BARANG siapa tidak mampu atau tidak memiliki cukup gairah untuk mengerjakan kebaikan seluruhnya, tidaklah sepatutnya ia meninggalkannya seluruhnya. Tetapi, hendaknya ia mengerjakan sekadar kemampuan dan kecakapannya. Sebab, sesuatu kebaikan akan bergabung dengan kebaikan lainnya.

Yang kecil akan menarik yang besar ke arahnya, yang sedikit akan mengundang yang lebih banyak, dan seperti yang sering dikatakan, “Kebaikan merupakan kebiasaan.”

Demikian pula orang yang tidak dapat meninggalkan kejahatan seluruhnya. Ia harus berusaha meninggalkan sejauh yang dapat ditinggalkannya. Kebaikan yang bercampur dengan kejahatan lebih baik dan lebih ringan daripada kejahatan yang murni. Perbuatan-perbuatan baik dapat menghapus perbuatan-perbuatan buruk (Al-Quran).

Abu Dzar meriwayatkan, Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Ikutilah keburukan yang telah kau lakukan dengan perbuatan kebaikan sehingga menghapus (akibatnya)-nya.”

Baca: Lakukan Kebaikan, Berbuah Kebaikan

Nabi juga bersabda:

“Jika engkau telah telanjur berbuat keburukan, ikutilah dengan berbuat kebaikan sehingga dengan demikian engkau menghapusnya. Yang rahasia diikuti dengan yang rahasia, yang terang-terangan diikuti dengan yang terang-terangan.” (Imam Ahmad)

Apabila seseorang ditimpa bala’ (bencana) dengan sesuatu kejahatan atau maksiat yang diperbuatnya, janganlah sekali-kali ia serta-merta berpaling dari Allah serta meninggalkan perbuatan kebaikan dan ketaatan secara keseluruhan sehingga tidak ada lagi jalan antara dia dan Tuhannya untuk “berdamai” dan kembali kepada-Nya. Hendaknya ia mengambil pelajaran dari kisah seorang penjahat yang kerjanya menyamun, membunuh, dan merampok harta benda milik kaum Muslim, lalu suatu ketika seorang saleh melihatnya melakukan kejahatan-kejahatan itu sedangkan ia (si penjahat) dalam keadaan berpuasa.

Baca: 25 Wasiat Kebaikan Syeikh Hamid Bukhari

Orang saleh tadi berkata kepadanya, “Hai, bagaimana engkau mengerjakan semua kejahatan ini, sedangkan engkau sedang dalam keadaan berpuasa?”

Penjahat itu menjawab, “Benar, aku ingin tetap menyediakan tempat untuk ‘perdamaian’ kembali dengan Tuhanku dan tidak menutup semua jalan antaraku dengan Dia.”

Orang saleh tersebut kemudian berkata, “Tidak lama setelah itu, aku menyaksikannya sedang bertawaf keliling Ka’bah setelah bertobat, dan ketika ia melihat diriku, segera ia berkata, ‘Alhamdulillah, puasaku pada waktu itu telah membuatku ‘berdamai’ kembali dengan Tuhanku.”

Jelaslah bahwa seorang hamba Allah hendaknya selalu dalam keadaan kebaikan yang murni dan ketaatan yang penuh. Namun, apabila ia tak mampu melakukannya disebabkan dorongan nafsunya yang menghalanginya atau bahkan menjerumuskannya ke dalam suatu kejahatan dan kemaksiatan, hendaknya ia tetap bergantung dan berpegang erat-erat dengan apa saja ketaatan kepada Allah yang dapat dikerjakannya, sejauh kemampuannya. Sungguh Allah adalah sebaik-baik Penolong Yang Maha Terpuji.*/Al-‘Allamah ‘Abdullah Al-Haddad, dari bukunya Meraih Kebahagiaan Sejati-Jalan Hidup Para Nabi dan Orang Suci

The post Lakukanlah Kebaikan Sesuai dengan Kemampuan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
Bercita-cita Tinggi seperti Shalahuddin Al-Ayyubi http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/04/10/140185/bercita-cita-tinggi-seperti-shalahuddin-al-ayyubi.html Tue, 10 Apr 2018 10:18:18 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140185

Umat Islam di masa ini membutuhkan pemimpin besar seperti Shalahuddin yang memiliki cita-cita besar

The post Bercita-cita Tinggi seperti Shalahuddin Al-Ayyubi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DI BALIK kesuksesan-kesuksesan besar, ada pribadi-pribadi yang sama besar kapasitasnya dengan tujuan yang hendak dicapai. Keberhasilan umat Islam (Aslus Sunnah) menaklukkan Mesir dari Daulah Syi’ah Fathimiyah serta mampu membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman Pasukan Salib misalnya, ada sosok yang besar pula kapasitasnya, misalnya: Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi (532-589 H/1138-1193 M).

Walaupun keberhasilan tersebut tidak murni hasil karya Shalahuddin sendiri, namun kalau dilihat dari karakter Shalahuddin yang begitu luhur dan kuat, maka tidak berlebihan jika keberhasilan ini semakin menemukan momentum kesuksesannya berkat tangan dingin Shalahuddin. Salah satu karakter tangguh yang dimiliki Shalahuddin adalah ‘uluwwul-himmah (cita-cita atau semangat tinggi).

Dalam buku “Uluww al-Himmah” (Hal: 316) karya Muhammad Ahmad Ismail Muqaddam, Al-Qadhi bin Syaddad menggambarkan dengan sangat baik cita-cita agung Shalahuddin, “Bagi  Shalahuddin, masalah Al-Aqsha adalah perkara amat besar yang tak kan mampu ditanggung gunung sekalipun.

Kehilangan Al-Aqsha bagi beliau laksana seorang ibu yang kehilangan anak yang berkeliling  sendiri untuk mencari anaknya. Beliau memotivasi umat Islam untuk berjihad (merebut kembali Masjidil Al-Aqsha), seraya berkeliling melibatkan diri secara langsung untuk menemukannya, seraya berujar, ‘Wahai umat Islam!’ pada waktu bersamaan, kedua matanya basah dengan air mata.”

Pada kesempatan lain, ada cerita cukup heroik yang menggambarkan secara jelas bagaimana kapasitas Shalahuddin dalam bercita-cita tinggi. Saat beliau melihat gelombang laut dari tepi pantai, ia menoleh kepada Al-Qadhi bin Syaddad seraya bertanya, “Maukah kamu aku beri tahu apa yang sedang terpikir dalam benakku?”

Baca: Shalahuddin al-Ayubi Pulihkan Ajaran Sunni

Al-Qadhi belum sempat menjawab, Shalahuddin langsung melanjutkan pernyataanya dengan narasi yang kuat, “Saat Allah nanti mengaunegerahiku kemampuan untuk membebaskan pantai-pantai yang tersisa,” tegasnya, “maka negeri-negeri itu akan aku bagikan (kepada umat Islam), dan aku tinggalkan kemudian aku naik kapal menuju pulau-pulau lainnya, aku ikuti mereka (pasukan Salib) sampai tidak tersisa lagi orang yang kafir kepada Allah atau aku mati.”

Dari diksi-diksi yang dipakai, terasa jelas betapa tingginya cita-cita Shalahuddin: gunung saja tak mampu menanggung beban problem Al-Aqsha, antusiasnya dalam membebaskannya bagai ibu yang kehilandan anaknya, bahkan cita-cita tingginya adalah jangan sampai tersisa orang kafir di muka bumi dan beliau siap kehilangan nyawa untuk memperjuangkannya.

Meski cita-cita untuk tidak membiarkan ada orang kafir tak mungkin direalisasikan –karena memang Allah menjadikan orang berbeda- tapi paling tidak dari sini bisa dirasakan getaran semangat Shalahuddin untuk misi pembebasan ini. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa beliau pada akhirnya sukses merebut kembali Baitul Maqdis (Yerusalem).

Selain atas izin Allah, tentu saja di antara hal yang  membuat Shalahuddin sukses adalah semangat dan cita-citanya yang tinggi. Cita-cita yang malampaui kepentingan pribadi; gelora semangat yang tumbuh karena ingin menggapai rida Allah; untuk menggapainya ia bersedia meregang nyawa.

Baca: Muslim Harus Miliki Cita-Cita Tinggi –

Perjuangannya pun tidak sia-sia, dan akhirnya Baitul Maqdis bisa dibebaskan. Umat Islam di masa ini membutuhkan pemimpin besar seperti Shalahuddin yang memiliki cita-cita besar bagi kepentingan Islam dan umatnya.

Sebagai penutup, ide tentang cita-cita tinggi juga ada dalam hadits nabi:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Dalam Surga ada seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai Surga.” (HR. Bukhari)

Di sini, yang dianjurkan Rasulullah bukan sekadar mendapatkan yang baik (masuk Surga), tapi menggapai yang terbaik (masuk Surga yang tertinggi). Dan ini adalah ‘uluwwul-himmah yang dianjurkan beliau.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Bercita-cita Tinggi seperti Shalahuddin Al-Ayyubi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
Rezeki Mesti Dicari, Bukan Hanya Duduk Bertawakal http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/06/139820/rezeki-mesti-dicari-bukan-hanya-duduk-bertawakal.html Fri, 06 Apr 2018 01:00:43 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139820

Allah Subhanahu Wa Ta'ala menakdirkan rezeki berkaitan dengan sebabnya. Karena sebab dan akibatnya juga telah ditakdirkan

The post Rezeki Mesti Dicari, Bukan Hanya Duduk Bertawakal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

ADA satu hal dalam masalah takdir yang membuat orang sering keliru dalam memahami. Ia adalah masalah yang berkaitan dengan rezeki.

Yang dimaksud dengan rezeki adalah suatu keberuntungan yang diperoleh manusia dalam hidupnya, baik itu berupa nikmat makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, harta, istri, anak, dan berbagai kenikmatan lain yang biasa diharapkan oleh manusia pada umumnya. Itu semua masuk dalam terminologi rezeki.

Rezeki ini ditakdirkan dan dibagikan Allah Ta’ala kepada manusia. Di antara mereka ada yang ditakdirkan lapang dalam rezekinya, ada yang rezekinya ditakdirkan sempit, dan ada pula yang rezekinya ditakdirkan berada di tengah-tengah. Semuanya, yang memberi rezeki adalah Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan,

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ (٥٨)

“Sesungguhnya Allah, Dia adalah Maha Pemberi Rezeki yang memiliki kekuatan amat kokoh.” (QS: Adz-Dzariyat: 58).

Allah jugalah yang mengatur pembagian rezeki ini kepada seluruh makhluk. Dikatakan dalam firman-Nya;

وَمَا مِن دَآبَّةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا

“Dan tidak ada seekor binatang melata pun di muka bumi, melainkan Allah yang memberikan rezeki kepadanya.” (QS: Hud: 6).

وَڪَأَيِّن مِّن دَآبَّةٍ۬ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa (mencari) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberikan rezeki kepadanya juga kepada kalian. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: Al-Ankabut: 60).

Baca: Carilah Keberkahan dalam Hidup

Mayoritas orang memahami perkataan, “Bahwa rezeki ditakdirkan dan dibagikan oleh Allah Ta’ala,” sebagai tidak adanya faedah dalam berusaha mencari rezeki. Mereka. menganggap bahwa orang yang telah ditakdirkan kaya oleh Allah, maka dia pun akan kaya kendati dia hanya duduk-duduk saja di rumah. Dan orang yang ditakdirkan miskin oleh Allah, maka dia pun akan miskin sekalipun dia orang yang cerdas, rajin bekerja dan ulet berusaha.

Yang benar, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menakdirkan rezeki berkaitan dengan sebabnya. Karena sebab-sebabnya pasti juga telah ditakdirkan, sebagaimana akibat-akibatnya. Sekiranya Allah menakdirkan si Fulan menggunakan akal dan kecerdasannya, serta sungguh-sungguh bekerja dan berusaha dalam rangka mencari penghidupan, maka Allah pasti akan meluaskan rezeki kepadanya. Adapun orang lain yang senantiasa hidup dalam kemalasan, pasrah dalam ketidakpunyaan, dan lebih memilih hidup dalam kehinaan, maka Allah pun akan menyempitkan rezekinya.

Itulah makanya Allah berfirman;

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولاً۬ فَٱمۡشُواْ فِى مَنَاكِبِہَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦ‌ۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ (١٥)

“Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah kalian dari rezeki-Nya.” (QS: Al-Mulk: 15).

Makna ayat di atas bahwa orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berusaha serta menyusuri pelosok bumi demi mencari rezeki di kisi-kisinya, maka dia akan makan dari rezeki Allah. Sedangkan orang yang malas-malasan dan enggan menyisir muka bumi untuk mencari rezeki, maka dia tidak berhak makan dari rezeki Allah.

Yang dimaksud jaminan Allah Ta’ala untuk memberikan rezeki kepada orang-orang yang hidup, termasuk jaminan rezeki-Nya terhadap seluruh binatang melata di muka bumi, adalah bahwa Allah menyediakan sebab-sebab dan sarana-sarana untuk mengais rezeki di bumi, baik di darat ataupun di lautan. Karena ketika Allah menciptakan bumi, Dia “Memberikan berkah di dalamnya dan telah menentukan makanan-makanannya.” (Fushshilat: 10).

Sebelum menciptakan manusia dan menempatkan mereka di bumi, Allah telah memberikan penghidupan terlebih dahulu untuk mereka di sana. Seperti firman-Nya, “Dan sungguh Kami telah menempatkan kalian di bumi dan membuat penghidupan di dalamnya untuk kalian, (namun) sedikit sekali kalian bersyukur.” (Al-A’raf: 10).

Baca:   Beginilah Sikap Mukmin dalam Melihat Persoalan Hidup

Selanjutnya Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian, kemudian Kami bentuk kalian (menjadi manusia), lalu Kami berkata kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam’.” (Al-A’raf: 11). Artinya, Al-Qur’an menunjukkan bahwa penghidupan dan rezeki untuk manusia di bumi telah disediakn sebelumnya oleh Allah sebelum Dia menciptakan mereka.

Akan tetapi, sudah menjadi sunnah Allah bahwa rezeki tidak akan dapat diraih kecuali oleh orang yang bekerja dan berusaha. Dan, syariat juga memerintahkan yang seperti ini. Sebab, sunnah-sunnah Allah yang berlaku pada makhluk-Nya serta tata aturan-Nya dalam syariat, mengharuskan manusia agar dia bekerja untuk mencari sendiri rezekinya. Barangsiapa yang cuma duduk-duduk saja tidak mau bekerja, berarti dia menyalahi hukum alam dan hukum syariat secara bersama-sama.

Manakala Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhu melihat sekelompok orang duduk-duduk di masjid selepas shalat Jumat, sementara orang-orang sudah pada pulang, dia bertanya kepada mereka, “Siapa kalian?”

Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal!” Kata Umar lagi, “Justru kalian adalah orang-orang yang sok bertawakal! Jangan sampai salah seorang dari kalian cuma duduk-duduk saja tidak mau mencari rezeki, lalu berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku,’ padahal dia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak! Sesungguhnya Allah Ta’ala mengaruniakan rezeki kepada mereka yang berusaha dan bekerja. Apa kalian tidak membaca firman Allah, ‘Apabila shalat (Jumat) telah selesai dilaksanakan, maka menyebarlah kalian di muka bumi dan carilah kemurahan (rezeki) dari Allah’.” (Al-Jumu’ah: 10).

Inilah logika sahabat dalam memahami makna rezeki; berusaha, menyebar ke bumi, dan mencari kemurahan Allah. Bukan cuma duduk-duduk dan pasrah saja dengan alasan tawakal, kemudian hanya diam mengandalkan rezeki yang sudah dibagi oleh Allah. Padahal, rezeki tidak akan datang dengan cara seperti ini.**/Dr. Yusuf Al Qaradhawi, dikutip dari bukunya Takdir

The post Rezeki Mesti Dicari, Bukan Hanya Duduk Bertawakal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
Meraih Kehormatan Muslim dengan Menjauhi Cinta Platonis http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/05/139780/meraih-kehormatan-muslim-dengan-menjauhi-cinta-platonis.html Thu, 05 Apr 2018 14:45:03 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139780

Termasuk contoh dari kerealistisan Islam adalah bahwa Islam tidak memposisikan masalah perasaan suka terhadap lawan jenis pada posisi pandangan yang serba menekan atau memusuhi.

The post Meraih Kehormatan Muslim dengan Menjauhi Cinta Platonis appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com– Seorang Muslim adalah seorang yang selalu istiqamah dengan petunjuk Allah, baik dalam ucapan maupun tingkah laku dan orang yang selalu mengambil hikmah yang Islami.

Prinsip Islam dalam meraih kehormatan adalah dengan membersihkan diri dari fitnah wanita, yaitu dengan mengarahkan diri sepenuhnya kepada Sang Khalik dan bukan kepada makhluk, sehingga tidak dihanyutkan oleh keindahan wanita cantik, apalagi sampai dapat merenggut hati dan akalnya.

Sementara para pecinta suci (platonic love) tidak lepas dari hal-hal yang dilarang. Mereka benar-benar telah terfitnah dan terpikat dengan perempuan serta telah hanyut seluruhnya kepada makhluk, bukan kepada Sang Khalik. Mereka dikendalikan di belakang kecantikan dan keayuan. Wanita benar-benar telah merenggut akal dan hatinya.

Baca: Merawat Amanah Cinta

Mereka kasmaran dengan kekasih-kekasihnya tanpa rasa malu dan rikuh sedikit pun. Mereka berdua-duaan dengan wanita yang bukan muhrimnya tanpa tameng dari agama atau peredam yang berupa ketakwaan.

Memang benar kalau dikatakan bahwa dari para pencinta sejati ada yang dapat menjaga diri mereka dari kenistaan dengan tameng keimanan dan terhindar dari keharaman karena sekat ketakwaan. Mereka benar-benar berwatak shiddiq dan ikhlas yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, baik dalam keadaan sunyi maupun ketika di muka umum, serta senantiasa khawatir akan masalah hati yang senantiasa bergejolak dan niat buruk yang kadang terpendam dalam hati. Hal-hal seperti inilah yang merupakan hal paling mulia yang dapat meningkatkan derajat mereka pada tingkat yang paling suci dan mulia.

Seorang Muslim yang benar-benar Muslim adalah seorang yang selalu istiqamah dengan petunjuk Allah, baik dalam ucapan maupun tingkah laku dan orang yang selalu mengambil hikmah yang Islami; baik secara global maupun terperinci. Juga orang yang berjalan sesuai dengan syariah Islam; baik secara metodologis maupun hukum, teori dan juga praktik.

Baca: Bahaya Mencintai Kehormatan dan Harta (1)

Sama halnya apakah seorang Mukmin itu berprofesi sebagai pekerja, pegawai, sastrawan, pengacara, atau hakim; baik yang kampungan maupun yang berbudaya, mereka semua adalah orang yang paling bertakwa selama dia tetap dalam petunjuk Allah dan di jalan yang benar.

Sedang para pengikut cinta platonis yang ceritanya banyak tersebar dalam berbagai kumpulan syair dan novel sastra; seperti kisah Qais dan Laila, Jamil dan Butsainah, Kutsayyir dan Izzah, serta yang lainnya, mereka semua dalam pandangan saya telah terjerumus –entah mereka sengaja atau tidak– dalam berbagai larangan syariah, khususnya pada cara mereka berhubungan dengan kekasihnya dan pada cara mereka berhubungan dengan wanita lain sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Dari mereka telah diterbitkan karya-karya yang muncul dari kelainan perasaan (sense) dan hilangnya keseimbangan dalam diri mereka. Mereka semua telah menderita penyakit kurus. Mereka telah mengambil jalan melawan kematian dan berbagai ancaman siksa dan penganiayaan.

Baca: Kehormatan Jangan Dijatuhkan, Kesalahan Jangan Dicari-cari

Mereka telah melepas kesatriaan dan kehormatannya sebagai anak Adam. Mereka telah berpaling dari cinta luhur yang tercermin dalam cinta kepada Allah, Rasul, dan jihad, untuk menuju kepada cinta murahan yang tercermin dalam kecantikan wanita yang tidak halal baginya.

Mereka telah mencampakkan potensi kemanusiaannya sehingga tidak mungkin sama sekali bagi mereka untuk merambah jalan menuju kehormatan yang berharga, keunggulan yang kokoh, dan peradaban yang gilang gemilang. Saat mereka berada dalam keadaan seperti ini syaraf-syarafnya kendur, jiwanya terserang penyakit, dan keberadaan dirinya menguap.

Padahal sesungguhnya Islam adalah agama yang realistis dan merupakan syariah kehidupan (way of life) sampai Allah mengguncangkan bumi dan seisinya (kiamat).

Termasuk contoh dari kerealistisan Islam adalah bahwa Islam tidak memposisikan masalah perasaan suka terhadap lawan jenis pada posisi pandangan yang serba menekan atau memusuhi. Bahkan disyariatkannya pernikahan bertujuan untuk merespons watak tersebut dan agar dapat sejalan dengan kecenderungan hasrat biologis yang telah dibentuk oleh Allah dalam diri manusia.

Baca: Inilah Empat Profil Pemuda Muslim Unggulan [1]

Untuk hal ini telah disampaikan beberapa hadits, di antaranya Al Baihaqi telah meriwayatkan Hadits dari Sa’ad bin Abi Waqash Radiyallahu Anhu bahwa Rasulullah berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengganti kita kerahiban dengan kerahiban yang halus dan toleran.”

Demikian juga Ath-Thabari dan Al Baihaqi meriwayatkan Hadits dari Rasulullah, sabdanya, “Barangsiapa yang menjadi kaya karena agar bisa menikah, kemudian (setelah kaya) tidak mau menikah, maka dia bukan termasuk golonganku.”

Rasulullah juga berkata kepada tiga orang yang datang bertanya tentang bagaimana ibadah Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Kalian semua yang telah bilang begini…dan begitu. Sungguh demi Allah, aku adalah orang yang paling takut terhadap Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, meskipun begitu aku berpuasa dan juga makan (berbuka), aku shalat juga tidur dan menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku (perbuatanku), ia bukanlah golonganku.”*/ Muhammad Ibrahim Mabrouk, dalam bukunya Cinta dalam Perspektif Islam

The post Meraih Kehormatan Muslim dengan Menjauhi Cinta Platonis appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
Berzikir Mengingat Allah untuk Meredakan Marah http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/03/139557/berzikir-mengingat-allah-untuk-meredakan-marah.html Tue, 03 Apr 2018 11:22:33 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139557

Dan jika kamu mendapat godaan dari setan, maka berlindunglah kepada Allah

The post Berzikir Mengingat Allah untuk Meredakan Marah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DI SAMPING bersikap sabar, terdapat berapa hal yang bisa dilakukan untuk meredakan marah. Di antaranya adalah berzikir mengingat Allah. Hal itu bisa memberikan rasa takut kepada-Nya.

Rasa takut tadi membuat kita menjadi taat sehingga kembali kepada adab yang diajarkan-Nya. Ketika itulah, amarah tersebut akan hilang. Allah berfirman; وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ “Ingatlah kepada Tuhanmu ketika engkau lupa.” (QS: al-Kahfi: 24).

Menurut Ikrimah, maksudnya adalah ketika engkau marah.

Allah berfirman;

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ

“Dan jika kamu mendapat godaan dari setan, maka berlindunglah kepada Allah.” (QS: al-A’raf: 200).

Baca: Mudah Memaafkan dan Cepat Reda Ketika Marah

Makna dari mendapat godaan di atas adalah membuatmu marah. Maka, ketika itu hendaknya meminta perlindungan kepada Allah. Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Artinya, Dia mendengar ucapan bodoh orang yang bertindak bodoh, serta mengetahui apa yang bisa melenyapkan amarahmu.

Diceritakan bahwa Raja Persia menulis sebuah catatan lalu memberikan kepada menterinya seraya berkata, “Jika aku marah berikan catatan tersebut kepadaku!” Isi catatan itu adalah: “mengapa harus marah? Engkau hanya seorang manusia. Sayangi yang dibumi, pasti yang di langit menyayangi-Mu.”

Ahli hikmah berkata, “Siapa yang mengingat kekuasaan Allah tentu tidak akan mempergunakan kekuasaannya dalam berbuat zalim kepada hamba.” Abdullah bin Muslim bin Muharib berkata kepada Harun ar-Rasyid, “Wahai Amirul Mukminin, aku memohon kepadamu agar memaafkanku berkat Zat yang di hadapan-Nya engkau lebih hina daripada diriku di hadapanmu. Serta berkat Zat yang lebih kuasa menghukummu daripada dirimu dalam menghukumku.” Maka Harun ar-Rasyid memaafkannya saat diingatkan kepada kekuasaan Allah.

Baca: Marah Tak Hilang, Berbaringlah di Tempat Asalmu

Cara lain untuk meredakan marah adalah mengingat mati. Diceritakan bahwa seseorang mengadukan kekesatan hatinya kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam. Maka, beliau bersabda: “Lihatlah kubur dan ambil pelajaran dengan pengumpulan makhluk di hari akhir.” (HR Baihaqi)

Ada penguasa kabilah yang apabila marah diberi kunci kubur para raja. Dengan begitu, marahnya hilang. Karena itu, Umar bin Khaththab radiyallahu anhu berkata, “Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan ridha dengan dunia yang sedikit.”

Di antara cara lainnya adalah dengan berpindah dari kondisi saat marah kepada kondisi lain hingga amarah tersebut hilang. Ini adalah cara Khalifah Ma’mun saat marah.

Orang Persia berkata, “Jika orang yang sedang berdiri marah, hendaknya ia duduk. Jika orang yang sedang duduk, hendaknya ia berdiri.”*/dikutip Dr. Aidh al-Qarni, dari bukunya Laa Taghdhab-Jangan Marah.*

The post Berzikir Mengingat Allah untuk Meredakan Marah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
Cinta Kasih Ibu Dapat Tumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/04/02/139444/cinta-kasih-ibu-dapat-tumbuhkan-kecerdasan-emosional-anak.html Mon, 02 Apr 2018 08:00:02 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139444

Pendidikan anak yang baik dan benar adalah pendidikan yang dapat membentuk kecerdasan dan keSholehan pada diri anak

The post Cinta Kasih Ibu Dapat Tumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

PENDIDIKAN yang baik dan benar adalah pendidikan yang mampu membentuk kepribadian anak dengan ciri-ciri, di antaranya, sebagai berikut:

  • Pemberani
  • Penyabar
  • Penyantun
  • Hormat, tunduk, dan patuh kepada kebenaran
  • Menjauhi kezaliman dan mengembangkan keadilan
  • Berbakti kepada orang tua
  • Tunduk dan patuh kepada perintah Allah Subhanalah Wa Ta’ala
  • Mencintai sesama makhluk Allah Subhanalah Wa Ta’ala

Pendeknya, pendidikan anak yang baik dan benar adalah pendidikan yang dapat membentuk kecerdasan dan kesholehan pada diri anak. Pertanyaan yang muncul dari sini adalah: pendidikan yang berlandaskan apakah pendidikan yang dapat membentuk kecerdasan dan keSholehan pada diri anak?

Saya tidak memiliki jawaban yang lain untuk menjawab pertanyaan di atas, kecuali jawaban Islam. Hanya paradigma. Islamlah yang akan mampu membentuk pribadi anak menjadi cerdas dan sholeh. Saya tidak menemukan konsep lain, ideologi lain, isme lain, atau teologi lain yang dapat membentuk kepribadian anak itu menjadi cerdas dan sholeh. Sebaliknya, konsep, ideologi, isme, atau teologi lain justru seringkali membentuk kepribadian anak yang timpang:

  • Anak menjadi cerdas tetapi sekaligus rusak akhlaknya.
  • Atau anak menjadi sholeh tetapi bodoh.
  • Atau anak menjadi tidak sholeh sekaligus menjadi tidak

Pendidikan model Barat, misalnya, adalah pendidikan yang menghasilkan anak cerdas tetapi rusak akhlak atau moralitasnya sehingga Anda jangan heran apabila melihat anak-anak Barat demikian brilian otaknya, tetapi sekaligus demikian ‘brilian’ dalam mengumbar nafsu syahwat. Model yang seperti ini tidak akan pernah terjadi apabila orang tua menerapkan pendidikan berparadigma Islam sebab tujuan pendidikan Islam adalah membentuk anak menjadi cerdas sekaligus sholeh.

Pertanyaannya, bagaimana wujud pendidikan yang demikian itu pada anak, khususnya yang harus dilakukan oleh seorang ibu? Di sini, saya hanya akan memfokuskan pembahasan pada tanggung jawab dan kewajiban seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Islam mengajarkan bahwa tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak itu terbagi menjadi empat, yakni:

  • merawat
  • mengasuh
  • mendidik
  • membelajarkan

Karena ibu adalah perempuan, sedangkan perempuan memiliki kecenderungan yang amat besar dalam cinta, kasih, dan sayang, dan kecenderungan yang demikian ini sudah sepantasnya diberikan kepada anak-anaknya, maka tugas pendidikan yang paling penting dan pokok dilakukan oleh ibu adalah merawat dan mengasuh anak-anaknya. Tugas ini paling sesuai dengan eksistensi ibu sebagai seorang perempuan. Tugas ini pula yang paling sesuai dengan unsur kedekatan kepada anak-anaknya.

Lihatlah hubungan seorang ibu dan anaknya. Ibu memiliki rahim. Dalam rahim tersebut ibu mengandung anaknya selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari. Selama itu, si ibu tidak pernah berpisah sedikit pun dengan anak yang dikandungnya. Lalu si ibu ini melahirkan dan menyusui. Semua ini telah membawa hubungan dan ikatan eimosional, spiritual, dan intelektual yang amat dekat dengan anaknya. Oleh karena itu, dalam masa-masa seperti ini, si ibu haruslah memberikan perawatan dan pengasuhan kepada anak-anaknya.

Saya mengatakan kepada Anda bahwa hanya ibu yang mampu memberikan perawatan dan pengasuhan yang baik kepada anak-anaknya. Seorang ayah pun sesungguhnya bisa melakukan hal ini. Namun, seorang ayah terlalu lemah dalam masalah-masalah yang seperti ini jika dibandingkan dengan seorang ibu. Dengan kata lain, kelebihan yang dimiliki oleh semua ibu jika dibandingkan dengan kelebihan yang dimiliki oleh seorang ayah adalah dalam memberikan perawatan dan pengasuhan terhadap anak-anaknya.

Sebagai seorang ibu, Anda haruslah memberikan rawatan dan asuhan yang sebaik-baiknya kepada putra dan putri Anda. Perhatikanlah pertumbuhan dan perkembangan anak Anda. Jaga kesehatan fisiknya. Jaga pula kesehatan mental dan spiritualnya.

Dalam masa-masa melaksanakan tanggung jawab pendidikan ini, Anda harus terus mengembangkan sifat-sifat khas Anda sebagai seorang perempuan:

  • sabar
  • lembut
  • penyayang
  • santun
  • cinta kasih

Anda harus mengembangkan sifat-sifat ini, sebab sifat-sifat ini akan membuahkan kecerdasan emosional pada anak Anda sebagai ladang yang akan ditanami oleh nilai-nilai spiritual. Anda tidak usah mencontoh ibu-ibu yang bersikap keras, kasar dan tidak sabar yang seringkali banyak kita jumpai.*/Muhammad Muhyidin, dikutip dari bukunya Bangga Menjadi Muslimah

The post Cinta Kasih Ibu Dapat Tumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak appeared first on Hidayatullah.com.

]]>