Kajian – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Tue, 17 Jul 2018 17:08:16 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Merasa Cukup http://www.hidayatullah.com/kajian/hadits-harian/read/2018/07/13/145963/merasa-cukup.html Fri, 13 Jul 2018 09:43:04 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=145963

Kayanya hati adalah selalu merasa cukup. Sedangkan fakirnya hati adalah hati yang selalu merasa tidak puas

The post Merasa Cukup appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Baca:  Merasa Cukup dan Qana’ah

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata;

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban).*

The post Merasa Cukup appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
145963
Rahasia Agar Bisa Berpegang Teguh Pada Tali Agama Allah http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/07/12/145879/rahasia-agar-bisa-berpegang-teguh-pada-tali-agama-allah.html Thu, 12 Jul 2018 07:32:53 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=145879

“Ar-Rahiim” adalah nikmat Allah yang terus bersambung hingga di akhirat, dan itu hanya diberikan kepada orang-orang beriman

The post Rahasia Agar Bisa Berpegang Teguh Pada Tali Agama Allah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DALAM kuliah Subuh (03/07/2018), Syekh Muhammad Ali Asy-Syinqithi (Ulama Besar Ahli Tadabbur berkebangsaan Saudi) menekankan pentingnya berpegang teguh kepada tali agama Allah. Sedangkan surat yang mengandung banyak rahasia tentang hal itu adalah Surah Al-Fatihah. Pada kesempatan fajar penuh berkah, di hotel Grand Cempaka Jakarta Pusat, beliau menyampaikan rahasia-rahasia itu.

Sebelum menjelaskan rahasia-rahasia i’tisham di dalamnya, beliau katakan bahwa surah Al-Fatihah mengandung seluruh komponen Al-Qur`an. Meski surah ini pendek (terdiri dari 7 ayat), namun mencakup isi inti Al-Qur`an. Di dalamnya ada akidah, hukum, kenabian, akhlak, janji dan ancaman, kisah dan janji. Maka tidak mengherankan jika surah ini begitu agung sebagaimana yang terdapat dalam hadits nabi. Suatu hari sahabat yang bernama Abu Sa’id bin Mu’alla diberitahu surah paling agung di dalam Al-Qur`an yaitu Al-Fatihah (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Nasa’i)

Bahkan –masih terkait keagungan surah ini-, dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Allah berfirman, “Aku membagi shalat antara Aku dengan hamba-Ku, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta.” Ini menunjukkan betapa agungnya surah pembuka ini.

Sebelum membaca surah ini, ada anjuran untuk meminta perlindungan kepada Allah dengan membaca ‘taawwudz’ (a’uudzubillahi minasy-syaithaanir rajiim). Ini sangat beralasan karena, untuk membaca kitab yang agung ini, perlu dengan jiwa, akal dan pikiran yang bersih agar tidak menyimpang dalam memahaminya akibat pengaruh setan. Dan itu hanya bisa dicapai ketika meminta perlindungan langsung dari Allah Subhanahu wata’ala.

Selanjutnya, di antara yang beliau sampaikan bahwa “bismillahir rahmaanir rahiim” mengandung pengertian mendalam. Syekh menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Ar-Rahmaan” adalah nikmat Allah yang luas kepada seluruh makhluknya, tidak peduli apakah itu untuk orang kafir maupun mukmin. Namun, untuk orang kafir terbatas hanya untuk di dunia. Adapaun kata “Ar-Rahiim” adalah nikmat Allah yang terus bersambung hingga di akhirat, dan itu hanya diberikan kepada orang-orang beriman.

Baca: Tali Terakhir Bernama Shalat

Dengan bismillah, orang beriman mengawali segenap aktivitasnya dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Sedangkan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala sebaik-baik faktor untuk mewujudkan ‘i’tishaam’ (berpegang teguh kepada tali agama Allah).

Ayat-ayat selanjutnya adalah menunjukkan sifat-sifat Allah. Selain itu, beliau sempat menjelaskan perbedaan antara “maalik” dengan mim yang panjang (dalam Surah Al-Fatihah)  dan “malik” dengan mim yang pendek (dalam Surah An-Naas) bahwa maalik adalah raja diraja yang bukan saja menguasai dunia tapi juga akhirat. Sedangkan malik, adalah terkait kerajaan (kekuaasaan) di dunia.

Keterangan lain yang bisa menjelaskan terkait berpegang teguh pada tali Allah adalah ayat: “Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’iin” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan). Rahasia mengapa kata “iyyaaka” di dahulukan pada kata “na’bud” adalah karena jika “na’bud” yang didahulukan maka ada kemungkinan menyembah selain Allah, sedangkan dengan mendahulukan “iyyaka” maka tidak ada ruang kemungkinan lagi selain bahwa yang disembah hanyalah Allah Subhanahu wata’ala.

Baca: Sebuah Kebersamaan Menuju Surga Allah 

Didahulukannya ibadah atas memohon pertolongan ini juga sangat menarik. Seolah-olah ingin memberi pelajaran bahwa, sebelum meminta hak kepada Allah berupa pertolongan, seharusnya hamba beribadah kepada-Nya dengan penuh ketulusan. Terkait dengan berpegang teguh dan persatuan, pada ayat ini digunakan dhamir (kata ganti) ‘nahnu’ (kami) yang menunjukkan bahwa aktivitas ibadah dan memohon pertolongan dilakukan secara berjamaah bukan sendiri-sendiri.

Selain itu, pada ayat selanjutnya, ada permintaan untuk meminta bimbingan dan petunjuk secara kolektif agar ditunjuki pada jalan yang mustaqim dan ditunjukkan secara jelas maknanya. Jalan yang sering diartikan lurus ini adalah jalannya orang yang diberi nikmat oleh Allah, yang dalam surah An-Nisa [4], ayat 69 adalah jalannya para nabi, para shiddiqqin, syuhada dan orang-orang saleh. Jalan-jalan orang ini memang patut dijadikan teladan dalam berpegang teguh pada tali agama Allah dan persatuan.

Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai (seperti Yahudi) yang mengerti ilmu tapi tidak mengamalkannya atau jalan orang-orang yang sesat (seperti Nashrani) yang mengamalkan sesuatu tanpa landasan ilmu. Di sini dengan sangat jelas ditunjukkan oleh Allah siapa yang patut diteladani dan ditinggalkan    dalam menempuh jalan yang lurus.

Dengan kandungan Al-Fatihah yang mengandung unsur komplit isi Al-Qur`an, maka –sekali lagi- tidak berlebihan jika surah ini –bagi orang yang mau memahami dan metadabburinya- mendangung komponen-komponen yang bisa membuat orang-orang mukmin berpegang teguh pada tali agama Allah dan mempererat persatuan dan kesatuan.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Rahasia Agar Bisa Berpegang Teguh Pada Tali Agama Allah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
145879
Sahabat Terakhir Rasulullah Muhammad http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2018/07/10/145684/sahabat-terakhir-rasulullah-muhammad.html Tue, 10 Jul 2018 08:53:06 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=145684

Kesibukan Anas bin Malik dalam menekuni Hadits Nabi tidak menjadi penghalang baginya untuk berpantisipasi di medan jihad

The post Sahabat Terakhir Rasulullah Muhammad appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

ANAS bin Malik RA masuk Islam saat usiannya belum genap 10 tahun. Dia terus bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan mengabdi kepada beliau menghadap ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala. Saat itu usia Anas bin Malik RA 21 tahun.

Bernama lengkap Abu Hamzah atau Abu Tsumamah Anas bin Malik bin Nadlar Al-Khazraji Al-Anshari, berasal dari Bani Najjar. Ibunya ialah Ummu Salma Sahlah binti Malik bin Khalid, istri Malik bin Nadlar. Malik pergi ke Negeri Syam dan meninggal dunia disana. Setelah itu Ummu Salma dipinang oleh Abu Thalhah Zaid bin Sahal. Dia mau menikah dengan Abu Thalhah dengan syarat  ia mau masuk Islam.

Ummu Salma menjadikan keislaman Abu Thalhah sebagai mas kawinnya. Pernikahan itu terjadi antara Bai’at Aqabah pertama dan kedua. Dan Abu Thalhah turut serta dalam Bai’at Aqabah kedua.

Saudara kandungnya, Al-Bara’ bin Malik adalah salah satu pahlawan Islam yang gagah berani dan gugur dalam Perang Tustur. Anas bin Malik RA lahir pada tahun ke-3 kenabian atau 10 tahun sebelum hijrah. Dia masuk Islam melalui ibunya menjelang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam hijrah ke Madinah. Jadi, Anas bin Malik RA termasuk Sahabat Nabi yang sangat belia. Kemudian Anas bin Malik RA dikaruniai anak-anak dan keturunan yang banyak. Hal itu dia peroleh berkat do’a Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam untuknya.

“Yaa Allah, berikanlah dia harta dan anak yang banyak dan berikanlah keberkahan kepadanya.”  Maka Anas bin Malik RA pun dikaruniai harta yang banyak dan melimpah.

Dia juga dikaruniai anak-anak dan cucu-cucu yang banyak. Jumlahnya hampir 100 orang. Anak-anaknya anatara lain bernama Abu Bakar, Ubaidillah, Nadlar dan Musa.

Baca: Positive Thinking pada Para Sahabat Nabi 

Berguru kepada rasulullah

Setelah masuk Islam Anas bin Malik RA terus menantikan hijrah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam ke Madinah. Maka tatkala beliau tiba di Madinah kedua orang tuanya langsung membawa Anas bin Malik ke hadapan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam agar diterima sebagai pelayan beliau. Ternyata gayung tersabut.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menerima kehadiran Anas bin Malik RA sebagai pelayannya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengasuh Anas bin Malik RA secara langsung dan memeperlakukannya dengan baik. Beliau bahkan sering memanggilnya:  “Nak !” sebagaimana diriwayatkan oleh At- Tirmidzi dari Anas bin Malik RA bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pernah bersabda kepadannya: “Nak! Kalau kamu bias memasuki waktu pagi dan sore dengan hati yang bersih dari rasa curang kepada seseorang, lakukanlah.” Kemudian beliau bersabda “Nak! Itu adalah bagian dari Sunnahku. Barangsiapa yang menghidupkan Sunnahku berarti dia mencintaiku. Dan barangsiapa yang mencintaiku dia pasti akan bersamaku di Surga.”

Dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam memperlakukan Anas bin Malik RA dengan perlakuan yang sangat lembut. Bahkan Anas bin Malik RA pernah mengatakan: “Aku melayani Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam selama 10 tahun. Demi Allah , beliau sama sekali tidak pernah mengatakan: ‘Ah! Kepadaku. Beliau juga tidak pernah bertanya kepadaku: “Mengapa kamu berbuat begitu? Atau mengapa kamu berbuat begitu? ”

Anas bin Malik RA mendpatkan anugerah yang sangat besar dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Yaitu bahwa beliau berjanji akan memberikan syafa’at kepadannya. Anas bin Malik Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengatakan: “Aku pernah meminta kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam agar beliau berkenan memberiku syafa’at pada Hari Kiamat kelak. Lalu beliau bersabda: “Ya aku akan melakukannya”. Kemudian aku bertanya: ‘Ya Rasulullah, di mana aku harus mencarimu? Beliau menjawab: ‘Pertama-tama carilah aku di atas shirath (jembatan )’. ‘Jikalau aku tidak menemukanmu di atas shirath?’. Beliau menjawab: ‘Carilah aku di mizan (timbangan amal)’. Jikalau aku tidak menemukanmu  di mizan? Tanyaku lagi. Beliau menjawab: ‘Carilah aku di haudl (telaga). Karena aku tidak luput dari tiga tempat itu.”

Baca: Kunci Sukses dan Bahagia Para Sahabat Nabi

Meriwayatkan  hadits

Kedekatan  Anas bin Malik RA dengan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam semenjak beliau hijrah ke Madinah sampai menghadap ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala memberinya kesempatan yang luas untuk meriwayatkan hadits sebanyak-banyaknya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Jumlah Hadits yang diriwayatkan oleh para perawi dari Anas bin Malik RA mencapai 2286 buah Hadits. Dan tidak ada sahabat lain yang jumlah periwayatkan Haditsnya melebihi Anas bin Malik RA selain Abu Hurairah RA dan Abdullah bin Umar RA.

Anas bin Malik RA menjaga amanah ini dengan baik dan menyampaikannya seperti apa yang didengarnya. Dan sepeninggal Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, Anas bin Malik RA pun menjadi guru besar bagi imam-imam besar, seperti Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Said bin Jubair, Qatadah, Az-Zuhri dan Umar bin Abdul Aziz. Namun apa yang diriwayatkan oleh para perawi itu tidak semuanya di dengar langsung oleh Anas bin Malik RA dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Dengan kata lain sebagian besar berasal dari mulut Nabi SAW ke telinga Anas bin Malik RA , dan sisanya dia dengar dari Abu Bakar , Umar bin Khattab, Ubadah bin Shamit, Muadz bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud atau Abu Hurairah RA yang mendengar langsung dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Al-Hakim menceritakan bahwa Anas bin Malik RA pernah menyampaikan Hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Kemudian ada yang bertanya: “Engkau mendengarnya (langsung) dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam? ” Anas bin Malik RA menjawab : Demi Allah , tidak semua hadits yang kami sampaikan kepada kalian itu kami dengar langsung dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam satu sama lain, dan kami tidak saling curiga-mencurigai. Kendati jumlah hadits yang dihafalnya tidaklah sedikit, dia sangat berhati-hati dan tidak boros dalam menyampaikan riwayat untuk menghindari kesalahan. Dengan kata lain dia tidak menceritakan sesuatu yang dia yakini kebenarannya dan hafalannya. Anas bin Malik RA pernah berkata: “ Sekiranya aku pernah kudengar dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Akan tetapi beliau pernah bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di Neraka”.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pernah melarang para sahabat mencatat Hadits beliau agar tidak tercampur dengan Al-Qur’an . Tetapi setelah penulisan Al-Qur’an sempurna dan wahyu telah berhenti sepeninggal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, maka tidak ada lagi alas an untuk melarang penulisan Hadits. Dan Anas bin Malik RA adalah salah satu orang yang mencatat hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Dia pernah berkata : “Ikatlah ilmu dengan tulisan ”.

Baca: Sahabat Nabi 

Sekelumit kisah Anas

Keistimewaan terpenting yang dimiliki oleh sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam ini ialah ketekunannya dalam menyampaikan hadits-hadits Nabi kepada umat. Itulah kesibukan utamanya sampai akhir hayatnya. Abu Bakar RA pernah menugaskan Anas bin Malik memungut Zakat di Bahrain atas usulan Umar bin Khathab . Karena Umar bin Khathab RA pernah berkata: “Kirimilah dia (Anas bin Malik) karena dia benar-benar pandai menulis.” Dan tatkala Abu Musa Al-Asy’ari menjabat sebagai Gubernur Bashrah, Anas bin Malik dijadikan sebagai orang dekatnya. Abu Musa bahkan menyuruh Anas bin Malik untuk mewakilinya menghadap kepada Umar bin Khathab RA . Dan dia juga menugaskan Anas bin Malik RA memimpin kawasan Persia. Kemudian tatkala Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi Khalifah, Anas bin Malik RA ditunjuknya menjadi Gubernur Bashrah selama beberapa waktu.

Kesibukan Anas bin Malik dalam menekuni Hadits Nabi tidak menjadi penghalang baginya untuk berpantisipasi di medan jihad. Anas bin Malik terlibat dalam Perang Badar dan Perang Uhud.

Ketika itu Anas bin Malik bertugas melayani keperluan Nabi Shalallau ‘Alaihi Wassallam . Anas bin Malik terlibat dalam Perang Khandaq sebagai seorang pejuang yang mampu mematahkan leher orang-orang musyrik dan menjatuhkan mereka.

Setelah Nabi wafat Anas bin Malik ikut serta dalam perang dalam perang melawan orang-orang murtad dan mendapatkan kemenangan yang gemilang . Anas bin Malik juga terjun ke medan Perang Qadisiyah . Kebetulan Anas bin Malik mahir mahir memanah. Setelah Perang Tustur yang berakhir dengan kemenangan gemilang . Abu Musa Al-Asy’ari, panglima perang tersebut menugaskan Anas bin Malik membawa para tawanan dan rampasan perang kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khathab.

Anas bin Malik datang kepada Umar bin Khathab dengan membawa pimpinan Tustur, Hurmuzan.

Di masa akhir hidupnya,  Anas bin Malik  tinggal di salah satu sudut kota Bashsrah hingga usianya lebih dari 100 tahun. Di sana Anas bin Malik jatuh sakit dan terus berkata kepada orang-orang yang ada disekitarnya: “Tuntunlah aku membaca Laa ilaha illallah.” Anas bin Malik tidak berhenti membaca kalimat tauhid itu sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 93 Hijriyah. Ada yang menyatakan bahwa Anas bin Malik adalah Sahabat Nabi yang paling akhir meninggal dunia. Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa setelah Anas bin Malik masih ada satu orang sahabat Nabi yang hidup, yaitu Abu Thufail Amir bin Watsilah Al-Laitasi yang wafat pada tahun 100 Hijriyah.*

The post Sahabat Terakhir Rasulullah Muhammad appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
145684
Indahnya Persatuan dan Tercelanya Perpecahan http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/07/09/145616/indahnya-persatuan-dan-tercelanya-perpecahan.html Mon, 09 Jul 2018 06:36:36 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=145616

Persatuan umat mengandung manfaat yang sangat besar, di antaranya: menyatukan kekuatan agama Islam sehingga mereka mendapat kemuliaan dan amanah kekuasaan

The post Indahnya Persatuan dan Tercelanya Perpecahan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DALAM Pertemuan Ulama dan Dai Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke-V (3-6 Juli 2018), ada satu buku menarik yang dibagikan secara gratis untuk setiap peserta. Judulnya: “Risâlah fî al-Hatstsi ‘ala Jam’i Kalimah al-Muslimîn wa Dzammu al-Tafarruq wa al-Ikhtilâf” karya Syeikh Abdurrahman bin Nashir bin Sa’di. Yang memiliki subtansi pesan penting terkait indahnya persatuan dan tercelanya perpecahan dan perbedaan (yang merenggut persatuan).

Risalah kecil ini sesuai dengan judul besar Pertemuan Tahunan antar ulama dan dai ini yang mengangkat tema “Wa’tashimû” yang mengandung pesan perintah untuk berpegang teguh pada “tali Allah” dan larangan berpecah belah antar sesama umat Islam. Ini terinspirasi dari Surah Ali Imran [3], ayat 103. Sebuah judul brilian di tengah kondisi umat yang rawan terpecah belah di tengah perbedaan yang acap kali merenggut persatuan.

Poin-poin besar yang dibahas dalam buku ini adalah: Pertama, berpegang teguh pada tali Allah adalah termasuk pesan besar yang diperintahkan Allah. Kedua, nasihat persatuan dan peringatan atas bahaya perpecahan untuk orang Islam. Ketiga, contoh konkret nabi dalam sirah nabawiyah terkait hal ini. Keempat, bahaya perpecahan. Kelima, faedah persatuan umat Islam serta usaha untuk mewujudkannya. Keenam, tak menjadikan perpecahan dalam masalah keagamaan sebagai pemicu perpecahan.

Perintah berpegang teguh dan persatuan ini tercermin di antaranya dalam Surah Ali Imran [3], ayat 103 dan 104. Setelah Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa dan mati dalam keadaan Islam, pesan yang disampaikan berikutnya adalah berpegang teguh kepada Allah dan larangan perpecahan. Nabi pun dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, melarang dengan keras perpecahan ini;

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم – لا تحاسدوا ، و لا تناجشوا ، و لا تباغضوا و لا تدابروا ، و لا يبع بعضكم على بيع بعض ، و كونوا عباد الله إخوانا ، السلم أخو المسلم لا يظلمه و لا يخذله ، و لا يكذبه و لا يحقره ، التقوى ها هنا – و يشير إلى صدره ثلاث مرات – بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه و ماله و عرضه – رواه مسلم

Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu saling dengki mendengki, tipu menipu, benci membenci, belakang membelakangi antara satu sama lain. Janganlah sebahagian kamu menjual barangan atas jualan orang lain. Hendaklah kamu menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim; dia tidak boleh menzaliminya, membiarkannya (dalam kehinaan), membohonginya.” [HR: Muslim]

Baca: Damaikan Pertikaian Antara Saudara Muslim mu 

Sehubungan dengan itu, maka pesan dan nasihat paling besar yang ditujukan pada umat Islam adalah selalu berusaha sekuat tenaga untuk menyatukan hati umat, berkumpul dengan mereka dan menanggulangi perpecahan umat. Dalam hadits shahih riwayat Bukhari, pesan nabi kepada kaum Anshar penting untuk dicermati, “Wahai sekalian kaum Anshar! Bukankan aku dapati kalian dalam keadaan sesat lalu Allah berikan kalian hidayah dengan sebab aku? Dahulu kalian berpecah belah lalu Allah menyatukan hati kalian dengan sebab aku ?” Pesan ini disampaikan pasca Perang Hunain, yang hampir menyulut perpecahan akibat pembagian harta rampasan perang. Di sini, terlihat jelas betapa besarnya nikmat persatuan.

Pesan itu juga bisa terlihat jelas berdasarkan kacamata sejarah, bahwa nabi begitu menekankan persatuan ini. Ketika sebagian sahabat ada yang menyarankan beliau untuk membunuh orang-orang munafik, pesan penting yang disampaikan adalah, “Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ini menunjukkan betapa nabi sangat menjaga umat dari perpecahan.

Di samping itu, tidak membuat orang yang belum masuk Islam takut masuk ke dalamnya.

Kemudian, persatuan umat Islam mengandung manfaat yang sangat besar, di antaranya: menyatukan kekuatan agama Islam sehingga mereka mendapat kemuliaan dan amanah kekuasaan untuk mengatur dunia. Selain itu, islam dan iman akan semakin bertambah. Yang tak kalah penting, usaha untuk mewujudkannya adalah bagian dari ketaatan yang paling besar.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad nabi menjelaskan bahwa yang lebih besar dari derajat puasa, shalat malam dan sedekah adalah mendamaikan orang yang berselisih karena itu bisa menghancurkan agama.

Baca: Multaqo Ulama dan Dai Internasional V Hasilkan 10 Rekomendasi

Dengan demikian, usaha untuk menyatukan umat dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang bisa menimbulkan perpecahan harus senantiasa diusahakan karena ini sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Wujudnya dengan suka memaafkan, memiliki hati yang lapang dan bersih, tidak membalas kejelakan orang dengan kejelekan dan lain sebagainya. Nabi sendiri suka memaafkan, bahkan kepada orang non-Islam sekalipun. Ketika beliau dilempari batu oleh penduduk Thaif, lalu malaikat menawarkan untuk menghancurkan mereka, nabi malah berdoa;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَومي، فَإِنَّهُمْ لا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu.” (HR. Bukhari)

Yang tidak kalah penting –sebagai pesan dari buku ini- adalah ketika terjadi perbedaan dalam masalah agama yang masuk dalam ranah ijtihad, maka jangan sampai menimbulkan perpecahan. Para sahabat, tabiin dan orang-orang sesudahnya ada perbedaan dalam masalah ijtihadi, namun itu tak membuat mereka memaksa yang tak sepaham untuk mengikutinya atau bahkan menyesatkannya.

Pesan-pesan dalam buku ini sangat relevan dan penting utamanya untuk umat Islam yang rentan terpecah akibat perbedaan-perbedaan yang tak prinsipil. Melalui buku ini dan pertemuan ulama dan dai yang mengangkat spirit persatuan, semoga kekuatan umat bisa disatukan dan umat Islam menjadi semakin kuat dan bermartabat.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Indahnya Persatuan dan Tercelanya Perpecahan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
145616
Shalat, Obat Hati dan Bekal Rohani http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/07/06/145429/shalat-obat-hati-dan-bekal-rohani.html Fri, 06 Jul 2018 04:46:46 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=145429

Dengan shalat itu, ia mampu merasakan wujud dari kesatuan umat di kalangan kaum muslimin diseluruh penjuru dunia

The post Shalat, Obat Hati dan Bekal Rohani appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

SHALAT yang khusyu’  mewujudkan ubudiah yang benar-benar karena Allah, ikhlas, pasrah, rendah diri terhadap Zat Yang Mahasuci. Di dalam shalat, mereka meminta segala sesuatu kepada Allah dan meminta dari Nya hidayah untuk menuju jalan yang lurus, dan Allah Mahakaya lagi mulia. Kepada-Nyalah, seseorang berkenan memohon ijabah dan mencurahkan segala sesuatu, baik dalam hal cahaya hidayah, limpahan rahmat, maupun ketenangan.

Shalat pada hakikatnya merupakan sarana terbaik untuk mendidik jiwa dan memperbarui semangat dan sekaligus sebagai peyucian akhlak. Bagi pelakunya sendiri, shalat merupakan tali penguat yang dapat mengendalikan diri. Ia adalah pelipur lara dan pengaman dari rasa takut dan cemas, juga memperkuat kelemahan dan senjata bagi yang merasa terasing.

Dengan shalat, kita dapat memohon pertolongan atas ujian zaman, tekanan-tekanan orang lain, dan kekejaman pada durjana. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang beriman, jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS: Al- Baqarah: 153 )

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam ketika menghadapi persoalan genting, beliau berlindung melalui shalat. Ruku dan sujud dalam shalatnya dilakukan secara khusyu’  , membawa rasa dekat kepada Allah. Bersama Allah pula, beliau merasa berada di suatu tempat atau sandaran yang kokoh, sehingga merasakan aman tenteram, percaya diri, dan penuh keyakinan, dan memperoleh perasaan damai, sabar terhadap segala bentuk ujian dan cobaan, serta rela terhadap takdir Allah atas dasar kesetiaan sejati dan kejujuran, dan memperkokoh cita-cita yang besar dalam kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya bagi hamba-Nya yang beriman dan bekerja secara jujur tanpa pamrih.

Baca: Shalat Bekal Menaklukkan Ujian Dunia

Shalat itu membersihkan jiwa dan menyucikan dari sifat-sifat buruk, khususnya sifat-sifat yang dapat mengalahkan cara hidup materialis, seperti: menjadikan dunia itu lebih penting daripada segala-galanya, mengomersialkan ilmu, dan mencampakkan rohaninya. Kasus semacam ini dicontohkan Allah Subhanahu Wata’ala dalam ayat,

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً

وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً

إِلَّا الْمُصَلِّينَ

الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” ( QS:Al–Ma’aarij :19-23)

Baca: Inilah Kerugian Muslim yang Meninggalkan Shalat

Dalam ayat lain,

 “… Sesunguhnya shalat itu mencegah dari [ perbuatan-perbuatan ] keji dan mungkar…”  ( Al-Ankabuut : 45 )

Orang yang benar-benar melaksanakan shalat, dari shalat yang satu ke shalat lain, merasakan sempitnya waktu di dalam bersimpuh di bawah kekuasaan Allah. Ia memohon kepada-Nya untuk ditunjukkan jalan yang lurus dalam keadaan pasrah dan khusyu’  . Begitulah seterusnya dalam menyambut shalat berikutnya, sehingga terasa taka da putus-putusnya hubungan dengan-Nya, dan tidak putus-putusnya pula mengingat Allah, diantara shalat yang satu dengan yang lain, sehingga tak sempat lagi melakukan maksiat. Demikianlah Allah menaungi hamba-Nya yang memelihara shalatnya karena merindukan perjumpaan dengan-Nya dan sama sekali tidak mungkin menjauhkan-Nya.

Bagi siapa saja yang memelihara waktu-waktu shalat dan tujuan shalatnya benar-benar karena Allah, melatih dirinya menentang dan mengalahkan arus kesibukan hidup, tidak mendahulukan kepentingan materi, dengan demikian jiwanya mampu menaklukkan ujian dunia beserta kesenangannya, begitu pula dalam menumpuk-numpuk harta.

Allah berfirman,

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak [pula] oleh jual beli dari mengingat Allah, dan [dari] mendirikan shalat, dan [dari] membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang [di hari itu] hati dan penglihatan menjadi gonjang.”  (QS: An-Nuur : 37 )

Dalam shalat terdapat bekas dan kesan pendidikan lainnya. Misalnya, mendidik jiwa seseorang, yang dengan shalat itu, ia mampu merasakan wujud dari kesatuan umat di kalangan kaum muslimin diseluruh penjuru dunia yang mengarahkan sasaran shalat mereka ke satu tempat yang sama, yaitu Baitullah al-Haram. Perasaan persatuan ini juga menimbulkan saling pengertian dan saling melengkapi sesame kaum muslimin dalam kehidupan atau tanah air yang satu, yang terhimpun di dalam masjid setiap shalat.

Baca: Pencuri Shalat 

Setiap shalat, mereka selalu memperhatikan tibanya waktu shalat dan menjaga atau berusaha keras untuk menunaikan secara tepat pada waktunya, sesuai dengan ketentuan syara. Mereka juga menaklukkan nafsunya untuk tidak tenggelam dalam kesibukan-kesibukan demi terlaksananya kewajiban-kewajiban terhadap Rabb-Nya.

Juga menyangkut tertibnya shalat berjamaah yang barisnya lurus di belakang imam tanpa adanya celah kosong ( antara makmum yang satu dan makmum lainnya, di kanan dan di kirinya ), hal ini berarti mengembalikan kaum muslimim pada perlunya Nizham  ( tertib organisasi ).

Adapun yang berkaitan dengan disiplin terhadap imam yaitu tidak mendahuluinya, menunjukkan adanya ketaatan mutlak dan komitmen atau loyal, serta meniadakan penolakan terhadap perintah-perintahnya.

Kemudian berkaitan dengan imam yang lalai ( dalam bacaan, misalnya ) diharuskan bagi makmum untuk mengingatkannya (dengan membaca subhanallah) ini menunjukkan keharusan  makmum menegur atau mengingatkan pemimpinnya jika lalai atau melakukan kesalahan.

Demikian juga pada shalat berjamaah, agar diperhatikan dalam pengisian shaf , yaitu agar tidak didasarkan atas status social jamaah, juga tidak memandang  kekayaan atau pangkat walaupun dalam shaf  terdepan sekalipun. Gambaran ini menunjukkan adanya persamaan hak ( al-musaawah) tanpa mempedulikan tingginya kedudukan maupun tuanya umur.

Shalat pun memberikan kesan kesehatan, yang terwujud dalam gerakan-gerakan pada setiap rakaatnya, yaitu pada shalat fardhu, lima kali sehari (17 Rakaat) secara seimbang. Hal ini menunjukkan suatu olahraga fisik pada waktu yang teratur, dengan cara yang sangat sederhana dan mudah dalam gerakan-gerakannya.*/Ziyad Makareem, dari buku Berjumpa Allah lewat Shalat karya Syekh Mustafa

The post Shalat, Obat Hati dan Bekal Rohani appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
145429
Pimpinan Teladan; Suka Blusukan Tanpa Pencitraan http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/07/02/145192/pimpinan-teladan-suka-blusukan-tanpa-pencitraan.html Mon, 02 Jul 2018 16:41:40 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=145192

Apa yang dilakukan Abu Bakar adalah blusukan  untuk membantu rakyat di malam hari. Itu jalan sunyi, dan tidak semua orang mau dan tertarik melakukannya

The post Pimpinan Teladan; Suka Blusukan Tanpa Pencitraan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BLUSUKAN  –yang dalam bahasa Jawa berarti masuk ke tempat tertentu untuk mengetahui sesuatu- seringkali dijadikan sebagai komoditi tertentu bagi sebagian pejabat politik. Aktivitas ini kadang dilakukan tidak lebih untuk mendongkrak citranya sebagai tokoh publik yang membutuhkan popularitas tinggi untuk melanggengkan kekuasaan.

Apa blusukan  itu selalu negatif? Ternyata tidak. Beberapa cerita yang diambil dari dua pemimpin agung Islam legendaris sebagaiamana Abu Bakar dan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhuma berikut menunjukkan bahwa aktivitas tersebut sangat baik untuk memantau dan meninjau secara langsung kondisi rakyatnya. Uniknya, blusukan  yang dilakukan tanpa pencitraan dan seringkali dilakukan pada malam hari.

Blusukan  Ala Abu Bakar Ash-Shiddiq

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Dulu aku setiap bakda shalat Fajar selalu mengamati Abu Bakar yang setiap pulang dari masjid, ia pergi ke suatu daerah di kawasan Madinah.”

“Suatu hari aku membuntutinya. Ternyata ia masuk ke dalam suatu kemah (rumah kecil) dan singgah selama satu jam di dalamnya lalu keluar.”

Baca: Lima Gaya Umar Bin Khattab dalam Memimpin

Setelah ia keluar, Umar pun masuk ke dalam kemah itu. Rupanya di dalamnya ada orang tua renta bersama anak-anaknya. Kepada nenek itu Umar bertanya, “Wahai hamba Allah! Siapa sebenarnya dirimu?”

Nenek itu menjawab, “Aku adalah nenek yang lemah dan buta. Bapak kami meninggal sejak beberapa tahun lalu.” Umar melanjutkan pertanyaan, “Lalu siapa syekh (orang tua) tadi yang masuk ke dalam rumah kalian?” Ia menjawab, “Aku tidak mengenalnya!!” Umar menimpali, “Anda tidak tahu Abu Bakar….Tapi Allah mengenal Abu Bakar.”

“Apa yang dilakukannya di sini?” tanya Umar melanjutkan. “Yang dilakukannya,” kata nenek tersebut, “menyapu rumah kami, memerah susu dari domba-domba kamu, membuat makanan untuk kami lalu ia keluar (pergi).”

Baca: Belajar “Blusukan” Dari Umar Bin Khattab

Jawaban itu membuat Umar terenyuh sembari menepuk kepalanya sendiri seraya menangis dan berkomentar, “Wahai Abu Bakar, engkau telah melelahkan (membuat payah) khalifah-khalifah setelahmu.” (Aidh Al-Qarni, 2000: 63)

Memang benar, Abu Bakar dengan teladan demikian akan membuat pemimpin-pemimpin setelahnya kesusahan untuk meneladani contoh yang sama. Apa yang dilakukan Abu Bakar adalah blusukan  untuk membantu rakyat di malam hari. Itu jalan sunyi, dan tidak semua orang mau dan tertarik melakukannya.

Terlebih di era melenial dan digital seperti saat ini, yang mana kecanggihan teknologi begitu memfasilitasi pencitraan dan eksistensi diri di media sosial, maka apa yang dilakukan Abu Bakar akan terasa sangat asing, padahal itu adalah contoh konkret dari pemimpin teladan.

Blusukan  Gaya Umar bin Khattab

Pada suatu malam, Umar bin Khattab pergi melihat kondisi rakyat di wilayah Madinah. Bertemulah keduanya suatu gubuk. Setelah diperiksa, rupanya di dalamnya ada wanita menangis karena merasakan sakit menjelang kelahiran. Ketika perempuan itu ditanya mengenai keadaannya, lantas dijawab, “Saya adalah perempuan asing dan tidak memiliki apa-apa.”

Seketika Umar lekas pergi ke rumahnya memanggil istrinya (Ummi Kaltsum binti Ali) untuk membantu persalinan. Pada kesempatan itu, Umar juga membawa bahan makanan (tepung dan lemak). Tanpa berpikir panjang, sang istri mengiyakan sembari membawa perlengkapan persalinan.

Baca: Izzah Islam; Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan

Sesampainya di lokasi, Ummi Kaltsum segera menanganinya. Sedangkan Umar berbincang dengan suami wanita asing itu (sampai detik itu orang asing itu tidak tahu bahwa itu adalah Umar sang khalifah agung). Setelah proses berjalan lancar dan lahir anak laki-laki, secara reflek Ummu Kaltsum berkata, “Wahai Amirul Mukminin berilah kabar gembira kepada sahabatmu, ia dikaruniai anak lelaki!”

Setelah laki-laki asing itu mendengarnya, ia begitu kaget ternyata yang membantunya adalah langsung orang nomer umat Islam. Ia pun memohon maaf kepada Umar (karena mungkin merasa tidak bersikap hormat sebagai rakyat). Umar pun berkata kepadanya, “Tak masalah!” Kemudian Umar memberikan apa yang diperlukannya lantas pergi.

Di malam yang lain, Umar pernah mendengar bayi yang berusia beberapa bulan menangis. Kemudian didatangilah sang ibu dan dinasihati sampai beberapa kali. Ternyata, anak itu tetap nangis semalaman. Akhirnya Umar bertanya mengenai kondisi sebenarnya. Rupanya sang ibu sedang menyapih anaknya. Ia pun menanggapi ketika ditanya Umar mengenai alasannya, “Karena Umar tidak mewajibkan memberi tunjangan kepada anak-anak melainkan yang sudah disapih.”

Setelah ditanya secara detail, ternyaya anaknya belum waktunya disapih. Akhirnya Umar mengintruksikan jangan disapih sebelum waktunya. Pada waktu shalat Shubuh usai, ia pergi ke orang-orang –dengan mata berlinang- sembari mengintruksikan, “Jangan cepat-cepat menyapih anak-anak kalian. Aku akan memberi tunjangan kepada setiap bayi dalam Islam.” Intruksi itu ditetapkan di berbagai penjuru negeri Islam.

Kisah lain yang juga populer adalah ketika suatu malam Umar mendapati seorang ibu di tungku masakan yang dikelilingi anaknya yang sedang melilit kelaparan. Ketika ditanya, ternyata itu hanya untuk mengelabui anaknya supaya tidur, karena sebenarnya tidak punya bahan makanan sama sekali. Mendengar jawabannya, Umar terenyuh lantas pergi ke gudang tepung. Bahan makanan tersebut diangkat sendiri dan diberikan kepada wanita yang sedang butuh itu. Bahkan, ia sendiri yang memasaknya. Ketika sudah matang, mereka dibangunkan, mereka pun kenyang dan tertidur lelap. Kemudian sang khalaifah pergi –tanpa diketahui identitasnya oleh wanita tersebut- dan ia berujar, “Ternyata, yang membuat mereka tak bisa tidur malam dan menangis adalah kelaparan!” (Husain Haikal, 1972: 195, 196)

Dari kedua contoh blusukan  dua pemimpin Islam agung ini, ada banyak pelajaran yang bisa diteladani oleh para pemimpin: blusukan  itu bagus, tapi tujuannya bukan sekadar untuk pencitraan. Abu Bakar dan Umar menginspeksi kondisi rakyatnya benar-benar tulus. Pergi di malam hari di saat kebanyakan orang tidur dan sama sekali tidak menunjukkan identitas pribadinya sebagai khalifah. Bagi mereka berdua, kemaslahatan rakyat jauh lebih penting daripada pencitraan diri; karena tanggung jawab di akhirat begitu besar.*/Mahmud Budi Setiawan

*

The post Pimpinan Teladan; Suka Blusukan Tanpa Pencitraan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
145192
Memperebutkan “Piala Akhirat” http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/06/28/144962/memperebutkan-piala-akhirat.html Thu, 28 Jun 2018 07:02:52 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144962

Untuk urusan Piala Dunia yang masuk dalam ranah duniawi yang hukumnya halal, maka biasa saja, sekadarnya, dan tak perlu menggebu-gebu sampai melupakan akhirat

The post Memperebutkan “Piala Akhirat” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

GEGAP-GEMPITA Piala Dunia di Rusia 2018 begitu menggema resonansinya di berbagai penjuru negeri. Piala yang diperebutkan setiap lima tahun sekali ini begitu diminati oleh berbagai negara di dunia. Negara-negara yang notabene berpenduduk muslim mayoritas pun juga begitu antusias untuk mengikutinya. Kehadiran Mesir, Arab Saudi, Tunisia dan Maroko dalam turnamen paleng bergengsi ini, juga turut menyemarakkan kemeriahannya.

Sebagai sebuah permainan –selama tidak melanggar ketentuan syariat-, sah-sah saja umat Islam ikut bergembira dan mengikuti setiap perkembangan pertandingannya. Bahkan –karena ini adalah masalah keduniaan- hukum asalnya adalah mubah selagi tidak ada nas yang melarangnya. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan kemudian: antusiasisme dan semangat dalam mengikuti berbagai hal terkait Piala Dunia apa berbanding lurus –minimal- dengan kepedulian mereka pada “Piala Akhirat” (masalah Akhirat)?

Di dalam Al-Qur`an –jika ditadabburi dengan saksama- ada diksi-diksi menarik yang penting untuk diperhatikan bagaimana seharusnya orang beriman memperlakukan hal-hal yang berkaitan dengan dunia dan akhirat (dan yang berkaitan dengannya).

Dalam mencari rezeki (yang merupakan urusan duniawi), yang diperintahkan dalam Al-Qur`an adalah:

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا

“Maka berjalanlah di segala penjurunya.” (QS. Al-Mulk [67]: 15) Di sini dengan sangat jelas, anjuran untuk mencari rezeki tidak harus ngoyo, ambisius dan mati-matian, tapi cukup dengan berjalan.

Baca: Menjadi Manusia Senang di Dunia dan Akhirat

Bandingkan ketika Allah menyuruh orang-orang beriman untuk shalat (yang merupakan urusan ukhrawi):

فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah,” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 9)

Urusan shalat, di sini harus disegerakan. Dalam bahasa Arab, kata “sa’yu” artinya adalah berjalan dengan lekas atau cepat.

Perbandingan selanjutnya juga bisa dilihat pada ayat berikut:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi,” (QS. Al-Qashash [28]: 77).

Di sini, kalau untuk urusan akhirat, umat Islam disuruh mencari dan mengharapkannya, sedangkan dalam urusan dunia diksi yang digunakan hanya “jangan lupa bagian duniamu!”

Kalaupun dunia harus dicari atau perlu berkeliling dunia untuk mencari rezeki maka itu setelah yakin bahwa prioritas akhirat sudah dijalankan; sebagaimana ayat berikut:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. AL-Jumu’ah [62]: 10).

Dalam ayat ini juga ditekankan bahwa, dalam aktivitas mencari karunia Allah di dunia pun tidak lepas dari bingkai akhirat (mengingat Allah) agar menjadi orang-orang beruntung. Dengan demikian, aktivitas di dunia itu sejatinya untuk kepentingan akhirat, bukan semata dunia.

Bahkan untuk urusan memohon ampunan dan Surga –yang berkaitan erat dengan akhirat- ada dua diksi yang digunakan di dalamnya:

Pertama

وَسَارِعُواْ

“Dan bersegeralah kalian.” (QS. Ali Imran [3]: 133).

Kata “Saari’u” juga bisa diartikan berlekas atau cepat-cepatlah.

Kedua

سَابِقُوا

“Berlomba-lombalah kalian!” (QS. Al-Hadid [57]: 21)

Baca: Ramadhan, Rebut Piala Akhirat bukan Piala Dunia

Di sini sangat menarik, untuk urusan ampunan dan surga (akhirat) orang mukmin disuruh bersegera, cepat-cepat dan berlomba-lomba. Kalau dunia dianjurkan slow, santai tapi kalau akhirat adalah laksana orang yang sedang berlomba-lomba.

Puncak dari akhirat adalah ketika orang beriman mendapat rida Allah Subhanahu wata’ala. Berkaitan dengan Allah, diksi yang digunakan untuk menuju-Nya adalah:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 50)

Kata “Fafirru” asal artinya adalah: maka berlarilah kalian. Menuju kepada Allah tidak dengan sambil lalu, harus bersemangat laksana orang yang sedang lari.

Dari diksi-diksi yang digunakan Al-Qur`an tersebut, seyogianya umat Islam bisa mengambil pelajaran. Untuk urusan Piala Dunia yang masuk dalam ranah duniawi yang hukumnya halal, maka biasa saja, sekadarnya, dan tak perlu menggebu-gebu sampai melupakan akhirat. Sebaliknya, untuk masalah akhirat, harus cepat, lekas, berlomba-lomba, berlari seolah-olah sedang di arena pacu merebutkan “Piala Akhirat” yang paling bergengsi di sisi Allah.

Maka, dalam momentum Piala Dunia yang sedang hit-hitnya sekarang ini, bagaimana sikap umat Islam pada umumnya: lebih antusias pada Piala Dunia atau “Piala Akhirat”? Di situ –berdasarkan Qur`an- keimanan seseorang bisa diuji kualitasnya.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Memperebutkan “Piala Akhirat” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144962
”Kelangkaan Ulama; Problem Akhir Zaman http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/06/26/144815/kelangkaan-ulama-problem-akhir-zaman.html Tue, 26 Jun 2018 08:41:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144815

Kalian berada pada zaman di mana ulama kian sedikit sedang orator menjadi banyak

The post ”Kelangkaan Ulama; Problem Akhir Zaman appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

“Bapak! Ananda mau tanya sesuatu boleh?” tanya Azka kepada orangtua laki-lakinya yang merupakan kiai terkemuka dikampungnya. “Boleh. Silakan, dengan senang hati bapak akan menjawabnya selagi mampu,” sembari menyunggingkan senyum khasnya.

“Saat ini, teknologi `kan semakin canggih. Kita sudah memasuki era digital, di mana percepatan-percepatan teknologi-informasi sedemikian tinggi. Dengan mudahnya kita mengakses informasi dan data apa saja bisa didapat hanya dengan sambang ‘Mbah Google’ atau buku-buku dalam format digital kita bisa mendapatkan informasi dengan secepat kilat,” papar Azka memberi pendahuluan sambil menghela nafas.

“Tapi,” ia mulai menyampaikan problem, “kenapa ya, kecanggihan teknologi dan informasi ini tidak berbanding lurus dengan jumlah ulama (yang dakwah dengan lisan dan tulisan) sebagaimana yang ada di zaman generasi emas terdahulu. Padahal, dengan fasilitas ala kadarnya dan manual, zaman mereka mampu melahirkan ulama-ulama berkaliber dunia?”

Dengan jawaban bijak Bapak Azka yang bernama Asli Muhammad Fatih Aqsha ini menanggapi, “Nak! Kita sekarang berada di gerbong akhir zaman.” “Maksudnya apa pak? Kiamat ya?” tanya Azka penasaran.

“Kurang lebih demikian. Salah satu tanda akhir zaman, sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim misalnya, di akhir zaman ilmu akan dicabut oleh Allah secara bertahap dengan dicabutnya nyawa ulama. Konsekuwensinya, umat akan menjadikan orang yang sejatinya bodoh menjadi ulama, sehingga malah sesat dan menyesatkan.”

Baca: Istiqamah pada Jalan Agama di Zaman Fitnah

“Ananda bisa membuat penelitian kecil-kecilan baik skala nasional maupun internasional, ulama-ulama yang mumpuni satu persatu diwafatkan oleh Allah, sementara penggantinya belum tentu ada.”

“Kecanggihan teknologi seperti saat ini, cukup susah mencari ulama sejati. Yang terkenal di media masa belum tentu adalah ulama sejati. Cukup bermodalkan kefasihan lisan, beberapa dalil al-Qur`an-Hadits serta kepiawaian retorika, secara kasat mata bisa dipermak menjadi ulama. Maka jangan heran ketika banyak ‘ulama gadungan merebak’ di akhir zaman.”

“Ayah jadi ingat kata-kata Ibnu Mas’ud dalam kitab ‘al-Adabu al-Mufrad’ (Bukhari, 1989: 275), ‘Saat ini kalian berada pada zaman yang ulamanya banyak dan oratornya sedikit. Kelak –sesudahnya- ada zaman di mana ulama kian sedikit sedang orator menjadi banyak’.”

“Memang dulu sarana dan prasarana untuk mencari ilmu tidak secanggih zaman now. Serba manual dan menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Namun ananda, perlu kamu tahu bahwa di balik sarana terbatas itu, hidup dan perjuangan mereka tertempa dengan baik sehingga melahirga teknologi internal yang jarang dimiliki secara kolektif oleh orang-orang kekinian.”

“Contoh teknologi internal itu apa Pak?” tanya Azka dengan nada ingin tahu. “Contohnya keimanan, keikhlasan, kesabaran, keuletan, kegigihan, tak gampang menyerah dan tidak pernah berhenti hingga berjumpa mati. Bayangkan, Baqi bin Makhlad Rahimahullah misalnya, rela berjalan ribuan kilo meter dari Andalusia ke Baghdad untuk berguru kepada Imam Ahmad bin Hanbal; ada yang dari Madinah ke Syam hanya mencari satu hadits dan lain sebagainya. Kalau mereka tidak memiliki teknologi internal tersebut, maka susah kiranya menghadapi kondisi yang cukup sulit.”

“Ilmu-ilmu mereka tersimpan dalam hati, pikiran dan karya tulis. Sedangkan sekarang, kebanyakan ilmu berada di lur diri manusia dikemas dalam bentuk buku standar atau didigitalisasi. Perlu kamu tahu  nak, semakin canggih teknologi –kalau tidak cermat dalam menggunakannya- malah melahirkan budaya instan. Pada gilirinnya akan muncul generasi yang malas mencari ilmu, gampang melempem, masuk angin dan tidak tangguh dalam berjuang.”

Baca: Akhir Zaman, Ditandai Memburu Dunia dan Menujual Akherat

“Makanya jangan heran ketika berbagai fasilitas sekarang begitu melimpah, namun tidak berbanding lurus dengan jumlah ulama.” “Azka sudah mulai paham Yah. Azka juga pernah membaca hadit Bukhari bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu semakin sedikit dan kebodohan merajalela. Yang tidak kalah penting, ada merajalelanya fenomena penyerahan sesuatu kepada yang bukan ahlinya di berbagai bidang kehidupan yang turut menjadi faktor kerusakan sosial.”

“Sebagai tambahan nak, teknologi yang begitu mentereng dan luar biasa di zaman ini, di akhir zaman kelak akan rusak dan tak berfungsi akibat jatuhnya meteor –bisa dibaca dalam riwayat Ibnu Abbas yang dinyatakan Jayyid sanadnya oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari- yang kemudian mengeluarkan Dukhan (asap tebal) 40 hari 40 malam. Semua yang tercipta dari besi akan terinduksi dan rusak.”

“Alhamdulillah,” tanggapan Azka, “saya pernah membacanya dalam buku ‘Dzikir Akhir Zaman’ (Abu Fatiah, 2017: 263) mengenai hadits dan analisis ilmuan mengenai kejatuhan meteor yang akan bisa mengakibatkan kerusakan luar biasa hingga teknologi rusak sebagaimana yang dinyatakan oleh Michael Pine. Perang pun di akhir zaman dan transaksi jual-beli akan kembali manual.”

“Tepat sekali. Makanya, kalau kita di zaman ini terlalu bergantung dengan teknologi tanpa mempersiapkan keilmuan –dan berbagai persiapan menghadapi akhir zaman- secara mandiri, maka bagaimana nasib kita kalau menjumpai zaman itu. Ulama langka, yang dijadikan rujukan bertanya kebanyakan orang bodoh yang bersolek laiknya orang alim, maka kita akan menjadi rusak sebagaimana mereka.”

“Terus apa yang perlu kita siapkan yah?” “Mumpung masih diberi kesempatan hidup, belajarlah ilmu yang sungguh-sungguh, bangun komunitas yang fokus dalam bidang keilmuan, jangan lupa mengamalkannyam, cari guru ulama yang mumpuni, jangan terlalu bergantung pada teknologi (pergunakan sesuai dengan kadar kebutuhan saja), teruslah berjuang, serahkan sesuatu kepada ahlinya dan terus berupaya dan berusaha keraslah untuk menjadi ulama. Semoga, kamu akan menjadi ulama rujukan di kala ulama semakin langka di akhir zaman.” */Mahmud Budi Setiawan

The post ”Kelangkaan Ulama; Problem Akhir Zaman appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144815
Hikmah Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawal http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/06/23/144521/hikmah-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawal.html Sat, 23 Jun 2018 01:29:33 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144521

Tanda amalnya diterima ketika amal dan ketaannya disambung dengan ketaatan yang lain

The post Hikmah Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

AMALAN yang identik dengan bulan Syawal salah satunya adalah puasa sunnah 6 hari. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa (di bulan) Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa 6 (enam) hari bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa satu tahun penuh.” (HR. Muslim)

Penyariatan puasa Syawal ini memiliki banyak hikmah. Setidaknya ada lima hikmah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam buku “Lathaa`ifu al-Ma’aarif fiima li al-Mawaasim min Lathaa`if” (1999 : 393):

Pertama, puasa 6 hari di bulan Syawal pasca Ramadhan bisa menyempurnakan pahala puasa menjadi setahun penuh. Ini sesuai dengan hadits yang disebut di awal.

Kedua, puasa di bulan Syawal dan Sya’ban laksana sunnah Rawatib dalam shalat wajib yang berfungsi menyempurnakan kekurangan dan kekeliruan yang terjadi dalam shalat wajib. Tidak berlebihan jika Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah pernah berkata, “Barangsiapa yang tidak bisa mengeluarkan zakat fitrah di akhir Ramadhan, maka hendaknya ia puasa (sunnah setelahnya)!”  Karena puasa -dalam hal menebus kejelekan – menempati posisi memberi makan (zakat fitrah).

Baca: Enam Hari Puasa Syawal seperti Puasa Setahun

Ketiga, membiasakan puasa setelah Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan.  Jika Allah Subhanahu Wata’ala hendak menerima amalah seorang hamba, maka dia diberi taufik untuk melakukan amal saleh setelahnya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, “Pahala kebaikan adalah kebaikan (yang dilakukan) setelahnya.” Maka kalau ada yang berbuat kebaikan lalu berkesinambungan, maka itu sebagai tanda diterimanya kebaikan yang pertama. Demikian juga sebaliknya jika melakukan keburukan (itu sebagai tanda bahwa amalan pertama tidak diterima).

Keempat, membiasakan puasa setelah Ramadhan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah yang menganugerahkan ampunan di bulan Ramadhan; karena tidak ada nikmat yang lebih besar daripada ampunan-Nya. Suatu saat nabi shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya, beliau menjawab bahwa itu sebagai rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ini salah satu contoh rasa syukur yang dicontohkan nabi.

Ketika Ibnu Al-Warad ditanya orang mengenai pahala beberapa amal seperti thawaf dan semacamnya, beliau menjawab, “Jangan bertanya tentang pahalanya, tapi tanyalah kepada dirimu sudahkan kamu bersyukur kepada Allah yang telah memberi taufik dan pertolongan untuk melakukan kebaikan tersebut!”

Kelima, amalan yang dilakukan seseorang di bulan Ramadhan sejatinya tidak berhenti hanya di bulan Ramadhan;tapi terus berlangsung selama dia masih hidup. Ada riwayat, “Orang yang berpuasa setelah Ramadhan itu seperti orang baru selesai dari gelanggang pertempuran di jalan Allah kemudian kembali lagi bertempur.”

Dalam hadits disebutkan, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah adalah yang ‘al-Haal al-Murtahil’ (tiap kali singgah, dia berangkat lagi)  sebagaimana orang yang mengkatamkan al-Qur`an dari awal sampai akhir, kemudian dilanjut bacaannya secara berkesinambungan sampai khatam lagi.” (HR. Tirmidzi). Dengan demikian, amalnya terus berkesinambungan tidak tergantung pada mood dan moment tertentu.

Bisyr -salah seorang salaf- saat ditanya mengenai kaum yang hanya beribadah dan bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan, beliau menjawab, “sejelek-jelek kaum adalah yang tidak mengenal hak-hak allah melainkan pada bulan ramadhan saja. Orang saleh adalah yang beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun.”

Baca: Akankan Syawal Menjadi Bulan Kekalahan?

Ketika Asy-Syibli Rahimahullah ditanya, “Manakah yang lebih utama antara Sya’ban dan Ramadhan?” Beliau menjawab, “Jadilah hamba rabbani dan jangan jadi hamba sya’bani.” Jadi, di dalam maupun luar Ramadhan tidak dibeda-bedakan karena yang menjadi acuan adalah Allah Subhanahu wata’ala. Selama itu diperintahkan Allah, maka akan dijaga secara kontinu.

Nabi sendiri amalannya selalu istikamah dan kontinu. Ketika Aisyah ditanya apakah nabi mengkhususkan hari tertentu untuk beramal, beliau menjawab, “Amalan beliau itu berkesinambungan (kontinu)” (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan ketika nabi pernah dalam satu Ramadhan tak bisa menjalankan iktikaf di sepuluh hari terakhir, maka beliau ganti di bulan Syawal.

Lebih dari itu, Hasan Bashri berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membuat ajal untuk amalan mukmin, melainkan kematian.”  Artinya, kapanpun dan dimanapun selama masih hidup, maka amalan harus tetap kontinu.

Jadi, hikmah disyariatkannya puasa Syawwal –wallahu a’lam- adalah: untuk menyempurnakan pahala puasa, menyempurnakan kekurangan puasa, sebagai tanda diterimanya puasa, sebagai rasa syukur, supaya terus berkesinambungan di bulan-bulan lainnya.

Sebagai penutup, pernyataan Ibnu Rajab Rahimahullah berikut patut untuk dijadikan bahan renungan, “Barangsiapa mengamalkan ketaatan kemudian selesai menjalankannya, maka tanda amalnya diterima adalah dengan menyambungnya dengan ketaatan yang lain, sedangkan tanda tertolaknya adalah ketika ketaatan disambung dengan kemaksiatan yang lain.” */Mahmud Budi Setiawan

The post Hikmah Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144521
Hari Raya Pererat Silaturrahim http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/06/22/144500/hari-raya-pererat-silaturrahim.html Fri, 22 Jun 2018 04:22:56 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144500

Mari maknai hari raya sebagai media penyambung silaturrahim, media penguat ikatan persaudaraan

The post Hari Raya Pererat Silaturrahim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

HARI Raya Idul Fitri merupakan momen istimewa bagi seluruh keluarga Muslim. Suasana yang secara kolektif telah menjadi kesadaran maysarakat untuk saling memaafkan ini hendaknya benar-benar difungsikan untuk mempererat silaturrahim.

Jika hal ini benar-benar dilakukan, maka sungguh keutamaan Ramadhan akan sempurna kita raih, dimana secara vertikal Allah ampuni dosa-dosa kita dan secara horizontal semakin baik ikatan persaudaraan di antara kita. Terlebih silaturrahim adalah bagian amalan penting dalam Islam.

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ قَالَ مَا لَهُ مَا لَهُ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَبٌ مَا لَهُ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ ” .رواه البخاري .

Dari Abu Ayyub Al-Anshori r.a bahwa ada seorang berkata kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassallam, “Beritahukanlah kepadaku tentang satu amalan yang memasukkan aku ke surga. Seseorang berkata, “Ada apa dia? Ada apa dia?” Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam Berkata, “Apakah dia ada keperluan? Beribadahlah kamu kepada Allah jangan kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tegakkan shalat, tunaikan zakat, dan ber-silaturahimlah.” (Bukhari).

Baca: Beginilah Berhari Raya yang Islami

Satu pendapat menyatakan bahwa silaturahim adalah kita berbuat baik kepada kerabat sesuai dengan keadaan kita dan keadaan mereka baik berupa infak, menyebarkan salam, berziarah atau membantu kebutuhan mereka. Makna secara keseluruhan silaturahim adalah memberikan yang baik kepada orang lain dan menolak sedapat mungkin hal-hal yang buruk terhadap mereka sesuai kemampuan.

Hadits di atas memberikan tuntunan kepada kita perihal perkara penting yang mesti diperhatikan.

Jadi, sangat sayang jika kemudian, setahun lamanya bekerja untuk bisa mudik, sesampai di kampung halaman justru silaturrahim terabaikan karena agenda padat ke tempat hiburan. Bukan tidak boleh ke tempat rekreasi, tetapi apa makna mudik, lebaran di kampung halaman, jika ternyata sanak saudara tak sempat dikunjungi karena kalah dengan senarai ke pusat keramaian.

Padahal, esensi pulang kampung sejatinya adalah bertemu sanak saudara. Maka sepatutnyalah acara terpenting selama mudik bertemu sanak saudara. Jika telah tuntas seluruhnya, maka bolehlah melepas kelelahan dengan berkunjung ke tempat-tempat keramaian, sekalipun untuk hal ini tidak bersifat wajib.

Berkorban untuk Bisa Silaturrahim

Sebagai ajaran yang sempurna, Islam tak menghendaki tali kekeluargaan, persaudaraan putus begitu saja. Bahkan siapa yang sengaja memutus silaturrahim, ancaman yang Allah berikan sangat tidak main-main.

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ إِنَّ جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

رَحْمٍ. رواه البخاري ، ومسلم ، وأبو داود ، الترمذي .

Dari Jubair bin Muth’im ra. dari Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak masuk surga pemutus silaturrahim.” (Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan At-Turmuzi).

Jika mudik dimaknai atau diorientasikan untuk mempererat silaturrahim, maka betapa mulianya agenda mudik seseorang. Dan, betapa ruginya jika tidak dalam rangka silaturrahim. Padahal telah dilakukan banyak pengorbanan, demi bisa mudik.

Lantas bagaimana kala mudik sudah bukan hal berat bagi seseorang? Maka perhatikanlah saudara kandung yang masih hidup dalam kesulitan. Terlebih kala bertahun-tahun lamanya tak datang menjenguk orang tua di halaman. Betapa indah jika saudra yang mampu membantu agar saudara yang kesulitan itu bisa silaturrahim dengan orang tuanya. Dan, sekalipun tidak wajib, jika niatnya adalah mempererat silaturrahim, betapa indahnya balasan yang Allah berikan.

Sehingga pada saat hari raya, semua keluarga bisa berjumpa, melepas rindu, menguatkan persaudaraan, mengenalkan anak-anak dengan sepupu-sepupunya dan mereka dapat bercanda ria dan mendapatkan momen berharga bersama kakek dan neneknya.

Sungguh luar biasa Muslim yang dalam hidupnya, mau bersilaturrahim dan mau berkorban dari rezeki yang dimiliki untuk membuat saudaranya bisa bersilaturrahim.

Baca: ‘Heningnya’ Idul Fitri di Negeri Kincir Angin

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” (Bukhari dan Muslim).

Sebuah penjelasan menguraikan, bahwa kala kita menyambung silaturahim pada kerabat dengan bijak, entah dengan harta ataupun dengan pelayanan dan dengan berbagai bentuk silaturahim yang mengantarkannya untuk taat dan terhindar dari perbuatan maksiat, maka hal itu akan dikenang nilai kebaikannya setelah meninggal dunia. Dan, tahukah kita, orang yang dikenang kebaikannya oleh manusia setelah meninggal dunia, maka itu adalah umur kedua setelah kematiannya.

Dan, yang sangat berat kita lakukan adalah menyambung silaturrahim terhadap saudara yang tak telah memutus silaturrahim. Sekalipun tak butuh pengorbanan materi, jelas perkara ini sangat-sangat besar tantangannya.

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash-ra, dari Nabi Muhammad saw yang bersabda: “Bukanlah orang yang menyambung (silaturrahim) itu adalah orang yang membalas (kebaikan orang lain), akan tetapi penyambung itu adalah orang yang jika ada yang memutuskan hubungan ia menyambungnya.” HR. Ahmad, Bukhariy, Abu Daud, Tirmidziy dan An Nasa’i).

Oleh karena itu, mari maknai hari raya sebagai media penyambung silaturrahim, media penguat ikatan persaudaraan. Seperti Nabi Yusuf yang memaafkan saudara-saudara yang pernah menganiayanya. Berkumpul bersama, berdoa dan beramal sholih kepada semua kerabat, sehingga semua bahagia dalam iman dan taqwa. Allahu a’lam.*

The post Hari Raya Pererat Silaturrahim appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144500