Kajian – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Mon, 22 Jan 2018 01:40:09 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.2 Bahaya Kemiskinan, Mohonlah Perlindungan pada Allah http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/01/18/133342/bahaya-kemiskinan-mohonlah-perlindungan-pada-allah.html Thu, 18 Jan 2018 09:16:42 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133342

Jika kemiskinan makin meraja, maka akan menjadi kemiskinan yang mampu membuatnya lupa akan Allah dan juga kemanusiaannya, sebagaimana seorang kaya yang apabila terlalu meraja.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

ISLAM memandang kemiskinan merupakan satu hal yang mampu membahayakan akidah, akhlak, kelogisan berpikir, keluarga, dan juga masyarakat. Islam pun menganggapnya sebagai musibah dan bencana yang harus segera ditanggulangi.

Seorang muslim harus segera memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kejahatan yang tersembunyi di dalamnya. Terlebih, jika kemiskinan ini makin meraja, maka ia akan menjadi kemiskinan yang mansiyyan (mampu membuatnya lupa akan Allah dan juga kemanusiaannya), sebagaimana seorang kaya yang apabila terlalu meraja, maka ia akan menjadi kekayaan yang mathgiyyan (mampu membuat orang zalim; baik kepada Allah maupun kepada manusia lainnya).

Banyak sahabat Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam yang meriwayatkan bahwa Rasulullah sendiri pernah ber-taawudz (memohon lindungan Allah) dari kemiskinan. Apabila memang kemiskinan tidak berbahaya, maka tentunya Rasulullah tidak perlu ber-taawudz atasnya.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam ber-taawudz:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari fitnah api neraka, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kekayaan dan juga berlindung pada-Mu atas fitnah kemiskinan.” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bertaawudz:

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kemiskinan, kekurangan dan juga dari kehinaan. Aku berlindung padamu dari perbuatanku untuk menzalimi ataupun untuk terzalimi.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Tampak dari hadits ini sesungguhnya Rasulullah berlindung kepada Allah dari semua hal yang melemahkan, baik secara materi ataupun secara maknawi; baik kelemahan itu karena tidak mempunyai uang (kemiskinan), atau tidak mempunyai harga diri, dan juga karena hawa nafsu (kehinaan).

Poin penting dari semua ini adalah adanya keterkaitan taawudz dan kekafiran. Sesungguhnya kekafiran inilah yang menjadi landasan dasar dari adanya taawudz itu sendiri, yang semuanya ini akhirnya menjadi bukti akan bahaya kemiskinan.

Diriwayatkan dari Abu Bakar langsung kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur. Sesungguhnya tiada Tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Dawud).

Imam Manawy dalam kitabnya Faidhul Qadir menyebutkan bahwa ada keterkaitan kuat antara kekafiran dan kefakiran, karena kefakiran merupakan satu langkah menuju kekafiran. Seorang yang fakir miskin, pada umumnya akan menyimpan kedengkian kepada orang yang mampu dan kaya. Sedang iri dengki mampu melenyapkan semua kebaikan. Mereka pun mulai menumbuhkan kehinaan di dalam hati mereka, di saat mereka mulai melancarkan segala daya upayanya demi mencapai tujuan kedengkian mereka tersebut.

Kesemuanya ini mampu menodai agamanya dan juga menimbulkan adanya ketidak-ridhaan atas takdir yang telah ditetapkan. Akhirnya tanpa sadar akan membuatnya mencela rezeki yang telah datang padanya. Walaupun ini semua belum termasuk ke dalam kekafiran, namun sudah merupakan langkah untuk mencapai kekafiran itu sendiri.

Sufyan At-Tsauri berkata: “Apabila diberikan padaku empat puluh dinar hingga aku mati dengannya, maka sesungguhnya hal ini lebih aku sukai daripada kefakiranku di suatu hari, dan daripada aku harus merendahkan diriku dengan mengemis kepada orang lain.”

Lalu ia berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku apabila aku ditimpa bencana kemiskinan ataupun ditimpa suatu penyakit. Mungkin pada saat itu aku akan kafir ataupun tidak merasakan apa pun.*/Sudirman STAIL

Sumber buku: Spektrum Zakat Dalam Membangun Ekonomi Kerakyatan. Penulis: Dr. Yusuf Qaradhawi.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mengukuhkan Kekuatan Kepribadian Muslim (2) http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/01/17/133259/mengukuhkan-kekuatan-kepribadian-muslim-2.html Wed, 17 Jan 2018 09:46:54 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133259

Segala sesuatu di dunia ini tidak bisa dibandingkan dengan iman. Iman lebih tinggi, dan apa pun selainnya lebih rendah.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

IMAN adalah sumber kekuatan. Seseorang yang beriman tidak bersandar kepada siapa pun kecuali Tuhannya. Kekuatan itu tak berasal dari mana pun selain dari-Nya. Manakala seorang manusia bertawakal kepada Allah, maka cukup Dia yang menjadi wakilnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun menerangkan,

Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (al-Thalaq: 3).

Allah pula penolongnya, dan dia tidak akan dikalahkan oleh seorang pun.

Jika Allah menolong kalian, maka kalian tak terkalahkan, dan tak terhina. Siapa lagi yang menolong kalian setelah Dia? Dan hanya kepada Allah orang-orang beriman bertawakal.” (Ali Imran: 160).

Seorang peneliti yang mengamati kesatuan dan kebersamaan umat Islam, niscaya akan melihat betapa kekuatan kepribadian mereka sangat kokoh, sampai segala bentuk kebatilan tak kuasa melumpuhkannya. Ada seorang pemberani yang dapat dijadikan contoh, yaitu Rub’i bin ‘Amir, utusan Sa’ad bin Abi Waqash dalam perang Qadisiah. Dengan kekuatan imannya, ia begitu berani menemui panglima perang Persia, Rustam, yang disegani banyak orang. Namun Rub’i tak takut sedikit pun, sampai ia ditanyai Rustam, “Siapa kamu? Dan siapa kalian?”

Jawabnya, “Kami adalah suatu kelompok yang diutus Allah untuk menghentikan siapa pun yang menyembah manusia agar ia menyembah Allah semata; mengubah kehidupan dunia yang sempit menjadi lapang leluasa serta mengganti agama-agama yang penuh aniaya dengan agama Islam yang berkeadilan.”

Kekuatan iman akan mempunyai makna sempurna manakala seorang Muslim telah mampu mencintai Allah serta Rasul-Nya; kemudian kecintaan tersebut meluas kepada selain keduanya. Berdasarkan iman, ia mempunyai hubungan kemanusiaan yang baik, sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agamanya. Dengan demikian, maka ia telah mencapai tingkatan iman yang kuat. Ia telah bisa merasakan manisnya iman yang menyinari jalan kehidupannya.

Segala sesuatu di dunia ini tidak bisa dibandingkan dengan iman. Iman lebih tinggi, dan apa pun selainnya lebih rendah. Sebuah hadist Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan Anas menjelaskan,

“Ada tiga perkara di mana barangsiapa memiliki ketiganya maka ia akan dapat merasakan manisnya iman. Yaitu hendaklah ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada selain keduanya; hendaklah ia mencintai seseorang, tidak lain hanya semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia tak suka dilemparkan ke neraka.” (Muslim).

Sebagai contoh, kekuatan iman itu mempunyai pengaruh begitu besar terhadap orang-orang salaf, karena mereka senantiasa menjaga hubungan dengan Allah serta berpegang teguh kepada akidah. Bilal, misalnya, adalah orang yang pernah merasakan kepedihan berbagai siksaan karena tak mau meninggalkan akidah dan imannya.

Pribadinya teguh, imannya kuat, sehingga ia tetap bertahan dalam akidahnya, kendati siksaan amat mengerikan dirasakan sekujur tubuhnya. Semakin besar rasa sakit dan pedih menimpa tubuhnya, iman dan ketetapan hatinya bertambah kuat. Ia tetap tak mau menyerah kepada orang-orang yang menyekutukan-Nya. Mulutnya tetap mengatakan, dari hatinya terdalam, “Ahad….! Ahad!

Selain mengutamakan kebersihan kepribadian, kesucian ruh, serta iman yang kuat, Islam pun mengutamakan kekuatan fisik. Kemudian, Islam mengajarkan kebersihan, kesucian, baik pada pakaian, tubuh serta tempat tinggal. Allah menyatakan,

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, dan mereka yang suci.” (al-Baqarah: 222).

Kemudian, rezeki yang didapatkan dengan cara yang sah, dihalalkan-Nya, agar digunakan sebaik mungkin untuk kemaslahatan manusia, sehingga fisik mereka menjadi kuat. Allah menjelaskan,

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah oleh kalian makanan-makanan yang baik dari yang telah Kami rezekikan kepada kalian.” (al-Baqarah: 172).

Selain itu, Islam pun menganjurkan olah raga, serta belajar memanah. Dalam sebuah hadist disebutkan, “Barangsiapa meninggalkan memanah setelah mengetahuinya karena tak suka, maka hal itu adalah nikmat yang ditinggalkannya.” Atau beliau bersabda, “yang dikufurinya.” (Abu Dawud).

Salmah bin al-Akwa’ menyatakan: Nabi pernah melewati suatu kelompok orang yang pandai memanah. Maka beliau mengatakan,

“Panahlah hai Bani Isma’il, karena sesungguhnya leluhur kalian adalah pemanah ulung. Panahlah, dan aku bersama Bani Fulan.” Kemudian salah satu dari kedua kelompok menahan tangan mereka. Rasulullah mengatakan kepada mereka, ‘Kenapa kalian tidak memanah?’ Mereka menyahut, ‘Bagaimana mungkin kami memanah sementara engkau bersama mereka?’ Sahut Nabi kemudian, ‘Panahlah! Aku bersama kalian semua!” (Bukhari).

Beliau bersabda berkait dengan firman Allah, “Dan hadapilah mereka dengan segenap kemampuan dan kekuatan kalian.” (Al-Anfal: 60).

“Sesungguhnya kekuatan itu dengan memanah.” (Ahmad).

Dalam bentuk serta jenis apa pun, kekuatan pribadi itu harus bersumber dari akidah yang benar, keberadaannya untuk mencari keridhaan Allah. Itulah kekuatan dalam agama, bersumber dari dasar-dasar cahaya ilmu, nurani serta petunjuk. Bertolak dari situ, Al-Qur’an mengisyaratkan adanya kekuatan tersebut pada para nabi, yaitu,

Dan ingatlah hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan dan banyak bertobat.” (Shad: 17)

Firman Allah, al-ayyad, maksudnya adalah ‘mempunyai kekuatan’. Dalam firman lain, Allah menyatakan,

Dan ingatlah hamba Kami, Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, yang lebih dulu mempunyai kekuatan serta pengetahuan agama.” (Shad: 45)

Kekuatan di sini maknanya adalah kekuatan untuk taat serta peka dalam beragama. Betapa banyak kezaliman manusia pada pribadi yang islami, manakala mereka hanya menonjolkan ciri kekuatan semata. Di antara mereka ada yang membatasi kekuatan pribadi itu, sehingga ada yang berlaku keras terhadap saudara-saudara sendiri dan orang-orang yang lemah, daripada terhadap musuh. Karena itulah, Al-Qur’an mengetengahkan konsep ‘kekuatan dan kasih sayang.’ Yaitu, “Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya berlaku keras terhadap orang-orang kafir, namun penuh kasih sayang terhadap sesama mereka.” (al-Fath: 29).

Seorang Abu Bakar ash-Shidiq, semoga Allah meridhainya, sejak awal kekhilafahan, telah menyadari dasar-dasar kepribadian tersebut, sampai dia ucapkan, “Kekuatan pada kalian adalah kelemahan bagiku, sampai kebenaran terambil darinya. Dan kelemahan pada kalian adalah kekuatan bagiku, sampai kebenaran hilang darinya.”*/DR. Ahmad Umar Hasyim, dari bukunya Menjadi Muslim Kaffah

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mengukuhkan Kekuatan Kepribadian Muslim (1) http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/01/17/133256/mengukuhkan-kekuatan-kepribadian-muslim-1.html Wed, 17 Jan 2018 09:36:26 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133256

Kepribadian Muslim mampu mengarungi badai kehidupan, menyingkirkan segala kesulitan dengan nyali yang tak pernah melemah dan semangat pantang menyerah.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

KEPRIBADIAN Muslim mempunyai ciri yang begitu menonjol, yang membedakannya dari kepribadian lain. Ciri itulah kekuatan yang mendorong serta memerintahkannya untuk menempuh cara-cara yang baik, makruf, serta menjadikannya manusia perkasa, tidak lari dari perjuangan.

Berada di pihak yang benar, ia tak takut sedikit pun, serta tidak meremehkan untuk memerintahkan kepada kebajikan dan melarang kemungkaran. Sebab di dalam jiwanya tak ada sifat pengecut. Itulah sosok yang kuat nyalinya. Jika menghadap kepada Penciptanya untuk beribadah, semua anggota tubuhnya senantiasa bersemangat. Dan manakala menghadapi kesulitan dan penderitaan, ia bersabar, ridha, serta memohon pertolongan kepada-Nya.

Selain itu, ia adalah sosok yang tidak mudah terpedaya oleh angan-angan dan ilusi-ilusi dusta. Perkara-perkara yang telah berlalu, juga tidak menjadikannya terpedaya. Semua itu karena ia selalu optimis menatap masa depannya, tulus, penuh keyakinan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika demikian, kekuatan apakah itu? Sebuah kekuatan yang menjadikan kepribadian Muslim mampu mengarungi badai kehidupan, menyingkirkan segala kesulitan dengan nyali yang tak pernah melemah dan semangat pantang menyerah. Tak lain, kekuatan itu adalah kekuatan iman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta ketulusan hubungan dengan-Nya. Itulah kekuatan yang pernah diisyaratkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, dan nyali seorang Muslim diharapkan bisa bangkit karenanya. Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda,

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai daripada orang mukmin yang lemah. Tamaklah dalam setiap kebaikan yang bermanfaat bagimu, dan mohon pertolonganlah kepada Allah. Dan janganlah lemah. Jika ditimpa sesuatu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan begini, tentu kejadiannya begini dan begitu’. Namun katakanlah, ‘Inilah ketentuan Allah. Jika Dia berkehendak, niscaya melakukannya.’ Sebab jika ia mengatakan seperti ‘Seandainya…’, hal itu membuka pintu bagi setan.” (Muslim).

Orang mukmin yang kuat mempunyai dua unsur penting dari berbagai unsur penting dalam pembentukan kepribadian yang teguh. Pertama, unsur iman. Kedua, unsur kekuatan. Sehingga, selain beriman, ia pun mempunyai kekuatan. Jika ia hanya beriman tanpa kekuatan, tak pelak lagi imannya itu adalah iman yang lemah. Namun jika ia kuat saja, tidak disertai iman, maka kekuatannya tak berbeda dengan binatang.

Orang mukmin yang berkepribadian kuat, sesekali tak akan melemah, apalagi lesu tanpa daya. Ia tak menjadi tawanan bagi dorongan-dorongan biologisnya. Ia tak sekadar mengikuti hawa nafsu. Jiwanya tegar, bertingkah laku dan bertindak layaknya orang-orang berakal, yang beramal demi keberuntungan setelah kematian. Syadad bin Aus ra. menuturkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda,

“Orang yang berakal adalah orang yang menguasai nafsunya serta beramal untuk kehidupan setelah mati. Sementara orang yang lemah adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsu lantas kepada Allah menaruh impian dan angan-angan.” (Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim).

Rasulullah berlindung kepada Allah dari ketakberdayaan serta beberapa unsur kerendahan dan kehinaan yang melemahkan iman. Anas bin Malik ra menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ketakberdayaan, malas, takut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta fitnah kehidupan dan kematian.” (Muslim).*/DR. Ahmad Umar Hasyim, dari bukunya Menjadi Muslim Kaffah

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Saling Membantu untuk Memudahkan Pernikahan http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2018/01/16/133149/saling-membantu-untuk-memudahkan-pernikahan.html Tue, 16 Jan 2018 06:35:12 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133149

Pernikahan adalah suatu cara yang disyariatkan oleh agama dan dapat mencegah kecenderungan-kecenderungan nafsu alamiah, dan merupakan batas akhir dari kecenderungan yang suci tersebut.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

INI adalah peringatan Allah kepada kita tentang ajaran-Nya. Barangsiapa mengamalkannya secara ikhlas akan bahagia, dan yang mencampakkannya akan menyesal karenanya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan bagi orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah mampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32-33).

Pernikahan adalah suatu cara yang disyariatkan oleh agama dan dapat mencegah kecenderungan-kecenderungan nafsu alamiah, dan merupakan batas akhir dari kecenderungan yang suci tersebut.

Karenanya, segala kendala yang menghalangi pernikahan harus dihilangkan agar kehidupan berjalan normal seiring dengan tabiat dan sunnahnya. Kesulitan finansial merupakan rintangan pertama dalam membina sebuah rumah tangga.

Islam adalah suatu sistem konstitusi yang sempurna dan tidak menetapkan (mewajibkan) suatu perintah kecuali telah tersedia fasilitasnya untuk memudahkan individu yang menerapkannya. Maka barangsiapa yang konsisten dalam Islam, tidak akan berakhir pada suatu keburukan (zina), kecuali ia sengaja berputar dari jalan yang bersih dan mudah.

Karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengajarkan kepada umat Islam agar membantu sesamanya yang tidak mampu memikul seluruh biaya pernikahan yang halal. Jika mereka miskin, Allah akan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya.

Perintah tersebut langsung turun dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada umat Islam untuk menikahkan mereka. Jumhur ulama berpendapat bahwa perintah dalam ayat tersebut bersifat sunnah. Namun kita memandangnya bahwa perintah itu sebagai suatu kewajiban.

Berkenaan dengan masalah ini lantas bukan berarti seorang imam (pemimpin) akan memaksa orang yang masih sendirian agar segera menikah. Tetapi penekanannya di sini adalah, ia wajib membantu mereka yang ada keinginan menikah, agar segera merealisasikannya demi memelihara kesucian diri dan masyarakat. Upaya ini untuk mempersempit peluang praktik-praktik yang tidak etis dalam masyarakat Islam.

Apabila memang belum siap dan belum mampu untuk menikah, maka wajib baginya menjaga dan memelihara kesuciannya, hingga Allah mencukupnnya. Allah Maha Mengetahui niat dan kebaikan yang diinginkan setiap hamba-Nya. Demikianlah Islam menengarai suatu kemusykilan dengan suatu metode penanggulangan yang praktis dan ringan.

Allah menjamin rezeki bagi orang yang membina rumah tangga dan keluarga yang sakinah. Karenanya, umat Islam tidak harus sempit wawasannya berkaitan dengan minimnya dana yang seringkali membawa problem rumit untuk menjalankan syariat agama.

Di antara sarana guna mencegah terjadinya perzinaan dan pelacuran di dalam masyarakat Islam yang suci dan bersih ini adalah kewajiban saling menolong dan memiliki solidaritas tinggi. Dengan adanya rasa persaudaraan yang hakiki ini diharapkan dapat mencegah kemaksiatan, seperti zina atau hidup bersama di luar nikah.

Upaya ini minimal dapat menutup peluang fitnah. Perbuatan yang terpuji ini senada dengan perintah Allah dalam kitab-nya (Al-Qur’an), “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di anatara kamu sekalian.” (QS. An-Nur: 32).*/Sudirman STAIL

Sumber buku: Seberkas Catatan Bagi Keluarga Muslim, penulis : Dr. Nadzmi Kholil Abul Atho’

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Bersikap Sabar Saat Menghadapi Ujian (2) http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/01/15/133048/bersikap-sabar-saat-menghadapi-ujian-2.html Mon, 15 Jan 2018 07:19:07 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133048

Apabila salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam. Diam pada saat marah untuk menghindari keluarnya kata-kata celaan kepada orang lain.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SAHABATKU, betapa pentingnya kesabaran dalam hidup kita. Sampai-sampai seorang sahabat pernah bertanya, “Ya Rasulullah, amal apakah yang paling utama?” Maka beliau menjawab, “Jangan marah!” Dan jawaban itu beliau ulangi hingga tiga kali.

Iblis berkata, “Tiga perempat yang paling membantu usahaku ialah sifat marah. Sebab apabila orang sudah marah, ia dapat aku bolak-balikkan, sebagaimana anak-anak membolak- balikkan bola.”

Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Apakah yang kamu anggap sebagai orang yang kuat bergulat?” Para sahabat menjawab, “Yaitu orang yang tidak dikalahkan oleh orang lain dalam pergulatan.” Rasulullah kemudian bersabda, “Bukan itu, yang disebut orang yang kuat bergulat ialah orang yang dapat menahan hatinya di waktu marah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Suatu peristiwa ada seorang muda pergi mengendarai mobil. Di tengah jalan ternyata ban mobilnya kempes. Kemudian dengan marah-marah, ia mencari tukang tambal ban. Setelah ban selesai ditambal, ujian belum berhenti sampai di situ. Di perempatan jalan, ia hampir menabrak sebuah gerobak sayur. Lantas saja mulutnya berkomat-kamit membaca mantra, mengeluarkan kata-kata cacian kepada si pendorong gerobak tersebut.

Ujian lainnya datang menghadang. Kali ini mobilnya terjebak macet. Lagi-lagi, kemarahan meledak pada diri orang muda ini. Setiap yang dilihatnya dicaci, setiap yang menghalangi dimaki. Baru setelah kurang lebih satu jam lamanya, mobilnya terlepas dari jebakan macet.

Sahabatku, betapa sesungguhnya orang muda tadi telah mengalami banyak kerugian. Pada saat ban kempes, tidak perlu disikapi dengan kemarahan. Sebab, kemarahannya tidak akan mengubah keadaan, tidak akan membuat bannya batal menjadi kempes. Tetapi, berbeda dengan orang yang sabar. Dia akan menyikapi kempesnya ban dengan hal yang sama, yaitu mencari tukang tambal ban. Hanya bedanya, yang satu mencari dengan kemarahan, yang satu lagi mencari dengan kesabaran. Ban boleh kempes, tapi hati jangan ikut-ikutan kempes.

Ketika hampir menabrak gerobak sayur juga bisa disikapi dengan sabar. Toh tabrakan tersebut tidak terjadi, untuk apa kita menyiksa diri dengan kemarahan? Kalau pun tabrakan itu terjadi, juga tidak perlu disikapi dengan kemarahan. Ketika marah menabrak dan ketika tidak marah pun menabrak. Maka, lebih baik tidak marah dan nabrak, daripada marah dan nabrak. Tetapi lebih baik lagi adalah tidak nabrak dan tidak marah.

Terakhir, cara menyikapi kemacetan dengan kesabaran pun sama ilmunya. Jalan tidak akan jadi lancar, ketika kita mencaci maki orang lain, dan tidak akan membuat mobil kita terbebas dari kemacetan. Jalanan boleh macet, tapi hati kita harus tetap lancar menjalankan kesabaran.

Ada pepatah yang sangat bagus,

“Barangsiapa yang tidak bisa marah, dia adalah orang yang bodoh. Tapi barangsiapa yang tidak mau marah, dia adalah orang yang bijaksana.”

Marah itu perlu, agar kita bisa membela diri kita dari perbuatan orang lain yang menyulitkan kita. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah dengan kita marah itu menjadi solusi, menjadi menyelesaikan masalah, ataukah malahan semakin membuat masalah bertambah rumit?

Rasul, manusia yang mulia, tidak pernah marah. Tetapi sekali marah, marahnya menjadi solusi bagi para sahabatnya. Ketika Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam membagikan harta rampasan perang (ghanimah) kepada kaum Muslimin, ada sebagian sahabat yang mengeluh dan kecewa dengan keputusan ini. Maka, Rasulullah menyampaikan kemarahan yang menjadi solusi, “Kalau bukan Allah dan Rasul-Nya yang kamu anggap adil, lalu siapa lagi yang adil?” Ternyata marahnya Rasul lewat kata-kata yang demikian tidak menimbulkan masalah baru, melainkan menimbulkan kesadaran di antara para sahabatnya bahwa hanya Allah dan Rasul-Nya yang adil.

Bahkan mengenai marah, Rasululah bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam.” Diam pada saat marah ini adalah untuk menghindari keluarnya kata-kata celaan kepada orang lain. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam!” (HR Bukhari dan Muslim).

Demikianlah ujian itu senantiasa menghiasi perjalanan kehidupan kita, senantiasa hadir untuk mencobai iman kita.

Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya bagi tiap umat ada ujian, dan ujian untuk umatku adalah harta. Aku tidak meninggalkan cobaan (ujian) setelahku yang lebih berbahaya bagi pria daripada godaan wanita. Barangsiapa dikehendaki oleb Allah untuk mendapat kebaikan, maka dia akan diuji. Barangsiapa diberi nikmat oleh Allah lalu ia bersyukur, diuji dengan cobaan lalu dia bersabar, dan berbuat salah lalu ia memohon ampun, maka dia akan masuk surga dari pintu manapun yang dia kehendaki.”

Sahabatku, orang berakal memiliki tiga ciri, yaitu memanfaatkan dunia untuk akhirat, tabah menghadapi kebencian, dan sabar menghadapi cobaan.

Jadi sabar itu ada tiga bagiannya, pertama, sabar dalam kegembiraan. Kedua, sabar dalam kesedihan, dan ketiga, sabar dalam ketaatan kepada Allah. Barangsiapa yang bersabar dalam menghadapi cobaan, maka ia akan merasakan manisnya iman.*/H.M Komarudin Chalil, dari bukunya Beranda Bahagia.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Bersikap Sabar Saat Menghadapi Ujian (1) http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/01/15/133045/bersikap-sabar-saat-menghadapi-ujian-1.html Mon, 15 Jan 2018 07:13:42 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133045

Betapa banyak orang yang jatuh ke dalam dosa ketika ia diuji dengan kebahagiaan dan kesedihan. Saat bahagia larut dalam kegembiraan duniawi hingga lupa bersyukur.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SESEORANG yang cinta kepada pasangannya belumlah sempurna apabila belum melewati ujian. Sebuah cinta yang tulus adalah cinta yang telah teruji; di kala senang berdua, di kala susah berdua, di kala sedih pun senantiasa berdua.

Begitu juga dengan iman yang kita miliki, seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya. Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-Ankabut [29]: 2-3).

Ada dua macam ujian bagi iman kita. Pertama, adalah Allah menguji kita dengan memberikan kebahagiaan dalam hidup kita. Mendapatkan promosi jabatan di kantor, memperoleh rezeki yang berlimpah, menerima keuntungan bisnis yang berlipat-lipat, menemukan jodoh yang kita harapkan, dan berbagai macam kebahagiaan lainnya, adalah merupakan ujian dari Allah.

Betapa banyak orang yang jatuh ke dalam dosa ketika ia diuji dengan kebahagiaan. Larut dalam kegembiraan duniawi hingga lupa mensyukurinya. Tidak ingat untuk sujud kepada Allah yang telah memberikannya rezeki, yang telah memberikannya kelapangan dalam hidup ini. Inilah golongan orang-orang yang tidak sabar dalam ujian kebahagiaan. Ia menjadi sombong atas keberhasilannya, menganggap dirinyalah yang telah menjadikannya sukses dengan mendapatkan keberhasilan.

Ujian yang kedua adalah, Allah menguji kita dengan memberikan kesedihan dan ketakutan dalam hidup kita. Kematian orang yang kita cintai, musnahnya harta oleh karena bencana, kegagalan dalam usaha, dan berbagai macam cobaan lainnya, adalah ujian dari Allah. Tidak sedikit pula orang yang jatuh ke dalam dosa ketika ia diuji dengan kesedihan, diuji dengan kesusahan. Menjadi putus asa dan kehilangan semangat, lebih-lebih lagi berprasangka yang buruk kepada Allah, padahal Allah berfirman, “Aku, sesuai dengan prasangka hamba-Ku dan Aku bersama dengannya ketika ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku di dalam hatinya, Aku pun ingat kepadanya di dalam hati-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam lingkungan khalayak ramai, niscaya Aku pun ingat kepadanya dalam lingkungan khalayak ramai yang lebih baik. Jika ia mendekati-Ku sejengkal, Aku mendekatinya pula sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, niscaya Aku mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku mendekatinya sambil berlari.” (HR Syaikhani dan Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Betapa kita sering tidak dapat bersabar melewati ujian. Padahal ujian adalah salah satu cara untuk meningkatkan derajat seseorang. Seorang murid SD (Sekolah Dasar) kelas 5 mau naik ke kelas 6 harus melewati ujian. Dan ternyata, ujian itu dibuat sesuai dengan kemampuannya, sesuai dengan apa yang telah ia pelajari, dan sesuai dengan apa yang ia ketahui. Tidak pernah ada anak SD kelas 5 yang mau naik ke kelas 6, diberi ujian anak kelas 1 SMA (Sekolah Menengah Atas). Apabila si anak dengan tekun dan sabar mau belajar hingga siap dalam menghadapi ujian, derajatnya naik satu tingkat, menjadi kelas 6 SD.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dan kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS al-Baqarah [2]: 286).

Kalau ujian yang dibuat oleh manusia saja bisa sesuai dengan kemampuan yang akan diuji, bagaimana mungkin Allah Yang Maha Mengukur kemampuan kita memberikan ujian yang kita sendiri tidak sanggup untuk menghadapinya. Namun ternyata, banyak sekali orang yang gagal dalam ujiannya karena kurang memiliki kesabaran dan kurang memiliki keyakinan kepada Allah.

Begitulah kebanyakan sifat manusia, seperti yang difirmankan Allah di dalam al-Quran, “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, ‘Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku’. Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang hesar.” (QS Hud [11]: 9-11).

Kurangnya kesabaran dan kurangnya keyakinan kepada Allah ini menunjukkan kurangnya iman kepada Yang Telah Menciptakannya. Padahal Allah telah menjamin kehidupan setiap makhluk-Nya. Bayangkan, burung-burung yang terbang di udara saja diberi rezeki oleh Allah, maka bagaimana mungkin kita makhluk yang lebih mulia dari burung tidak diberikan rezeki. Namun, yang menjadi kesalahan kita ternyata adalah sikap kita dalam menghadapi ujian dari Allah.

Fatah al-Mausili ketika tengah sakit dan lapar berdoa, “Ya Tuhanku! Engkau telah menguji aku dengan sakit dan lapar dan Engkau berbuat yang demikian itu pula terhadap para wali kasih-Mu; maka dengan amalan apa aku dapat mensyukuri nikmat-Mu kepadaku?” (Imam al-Ghazali dalam Manajemen Qolbu).*/H.M Komarudin Chalil, dari bukunya Beranda Bahagia.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Hukum Mengkonsumsi Air Seni Onta Menurut Ulama Berbagai Madzhab http://www.hidayatullah.com/kajian/ikhtilaful-ummah/read/2018/01/15/133004/hukum-mengkonsumsi-air-seni-onta-menurut-ulama-berbagai-madzhab.html Sun, 14 Jan 2018 17:59:11 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133004

UNTUK mengetahui hukum berobat dengan air seni onta oleh para ulama, ada baiknya perlu melihat pembahasan para ulama mengenai status […]

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

UNTUK mengetahui hukum berobat dengan air seni onta oleh para ulama, ada baiknya perlu melihat pembahasan para ulama mengenai status kesucian air seni onta terlebih dahulu, karena dua masalah tersebut memiliki hubungan erat.

Para ulama sepakat mengenai najisnya air seni menusia, adapun mengenai status air seni onta, apakah ia suci atau najis, para ulama berselisih pendapat mengenai hal itu.

Pendapat 1: Air Seni Onta Suci

Sejumlah ulama berpendapat bahwa air seni onta suci. Diantara mereka adalah Atha’, Az Zuhri, Yahya Al Anshari, An Nakhai, Al Karkhi, Ats Tsauri, Imam Malik, Zufar, Imam Ahmad, Muhammad bin Hasan. Beberapa ulama Syafi’iyah berpendapat serupa semisal Ibnu Huzaimah, Ibnu Mundzir, Ar Ruyani (Lihat, Badai’ Ash Shanai’(1/61), Bidayah Al Mujtahid (1/80), Al Hawi Al Kabir (2/250), Fath Al Bari (1/339).

Pendapat 2: Air Seni Onta Najis

Sedangkan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa air seni onta najis. Diantara para ulama ini adalah Ibnu Umar dari kalangan sahabat, Hasan Al Bashri dari kalangan tabi’in, Abu Tsaur, Jabir bin Zaid, Imam Asy Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Ahmad dalam salah satu periwayatan menyatakan najis sebagaimana Imam Asy Syafi’i (lihat, Al Hawi Al Kabir (2/250), Masail Imam Ahmad (3/167), Asy Syarh Al Kabir li Ibni Qudamah (1/307)).

Sebab Munculnya Perbedaan

Perbedaan di atas merupakan dampak dari perbedaan cara pandang para ulama mengenai air seni dan kotoran selain manusia. Ada pihak yang menyatakan bahwa seluruh air seni dan kotoran selain manusia (hewan) najis. Ada pula pihak yang menyatakan bahwa air seni dan kotoran selain manusia suci. Adapula yang melihat dari hukum dagingnya, jika dagingnya halal maka air seni dan kotorannya suci, jika dagingnya haram maka air seni dan kotorannya najis.

Dan adanya perbedaan pandangan fiqih mengenai najis tidaknya air seni dan kotoran hewan di atas, disebabkan adanya perbedaan dalam mengambil istimbath (kesimpulan) hukum dari beberapa hadits, salah satunya mengenai izin Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada kaum Uraniyun untuk meminum air seni onta. (lihat, Bidayah Al Mujtahid (1/80,81)).

Pendangan Para Ulama Mengenai Hadits Al Uraniyun

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ : قَدِمَ نَاسٌ مِنْ عُكْلٍ – أَوْ عُرَيْنَةَ – فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ , فَأَمَرَ لَهُمْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِلِقَاحٍ , وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا. فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ

Artinya: Dari Anas Bin Malik Radhiyallahu `anhu, ia berkata,”Telah datang sekelompok orang dari Ukl atau Urainah, kemudian mereka enggan bermukim di Madinah, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun memerintahkan untuk menyediakan onta-onta yang memiliki susu dan menyuruh mereka untuk meminum air kencing dan susunya, kemudian mereka pun bertolak. Dan ketika mereka sehat, mereka membunuh penggembala Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam… (Riwayat Al Bukhari)

Pihak pertama menyatakan bahwa Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan untuk meminum air seni onta untuk berobat. Ini menunjukkan bahwa air seni onta suci.

Namun, argumen itu disanggah oleh pihak kedua, dimana hadits itu tidak menunjukkan sucinya air seni onta, namun menunjukkan bolehnya berobat menggunakan benda najis dalam keadaan darurat.

Kemudian sanggahan itu dijawab pihak pertama, bahwa berobat tidak termasuk perkara darurat, karena berobat tidaklah wajib, bagaimana perkara yang haram dibolehkan demi perkara yang tidak diwajibkan?

Sanggahan itu pun dijawab pihak kedua, bahwa berobat secara mutlak memang bukan perkara darurat, namun ia merupakan perkara darurat, jika ada informasi dari pihak yang bisa dijadikan pijakan informasinya menyatakan bahwa hal itu sudah termasuk darurat. Dan apa yang dibolehkan karena darurat maka seseorang tidak dikatakan mengkonsumsi barang haram ketika ia mengkonsumsinya, berpijak dengan firman Allah yang artinya,”Allah telah memperinci apa-apa yang haram atas kalian kecuali perkara-perkara yang kalian konsumsi secara terpaksa.” (Al An’am: 119)

Sanggahan yang juga mengatakan bahwa perkara haram tidak bisa dilakukan kecuali demi perkara wajib tidak bisa diterima, karena ada perkara haram yang boleh dilakukan demi perkara mubah, seperti bolehnya meninggalkan puasa Ramadhan dimana hal itu adalah perbuatan haram, demi melakukan safar yang hukumnya mubah.

Pihak pertama pun menyampaikan sanggahan lagi, bahwasannya kalau sekiranya air seni onta najis, maka tidak boleh berobat dengannya, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak menciptakan kesembuhan bagi umatku dari apa-apa yang haram atas mereka.” (Riwayat Abu Dawud)

Benda najis haram untuk dikonsumi, maka tidak boleh berobat dengannya, karena di dalamnya tidak terkandung kesembuhan.

Pihak kedua menjawab bahwa sesungguhnya hadits tersebut berlaku kepada siapa saja yang secara suka rela mengkonsumsinya, adapun untuk keadaan darurat, maka hal itu bukanlah perkara haram, sebagaimana bangkai.

Pihak pertama menyampaikan sanggahan, dimana berobat dengan barang najis dilarang, sebagaimana berobat dengan khamr yang najis, dimana Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda mengenai khamr, bahwa seusungguhnya ia bukanlah obat, melainkan penyakit. (Riwayat Muslim)

Pihak kedua menjawab, bahwasannya hadits di atas berlaku khusus bagi khamr, mengqiyaskan khamar dengan barang najis yang lain merupakan qiyas ma’a al fariq. Karena ada perbedaan hukum antara khamr dan barang najis yang lain, dimana mengkonsumsi khamar secara sengaja dikenakan hukuman hadd, berbeda dengan mengkunsumsi barang najis lainnya, mengkunsumsi khamr menimbulkan berbagai kerusakan, berbeda dengan mengkonsumsi barang najis lainnya, sedangkan syariat menafikan adanya kesembuhan dalam khamar, namun syariat mengakui adanya kesembuhan dalam air seni onta. (Lihat, Fath Al Bari (1/339))

Hukum Berobat dengan Air Seni Onta

Setelah melihat bagaimana para ulama berargumen mengenai hadits Al Uraniyun di atas, serta kesimpulan mereka terhadap hadits tersebut, kita bisa beranjak ke hukum mengkonsumsi air seni onta dalam rangka dijadikan sebagai obat.

Dari paparan di atas, diketahui bahwasannya pihak yang menyatakan bahwa air seni onta najis, membolehkan berobat dengan air seni onta dengan syarat bahwa itu dilakukan dalam kondisi darurat. Adapun di luar itu tidak dibolehkan, karena air seni onta najis.

Adapun pihak lain yang menyatakan bahwa air seni onta adalah suci, tidak serta-merta membolehkan untuk mengkonsumsi air seni onta secara mutlak. Ibnu Taimiyah berkata,”Dan pihak yang berpendapat bahwa air seni onta suci berselisih mengenai hukum mengkonsumsinya tidak dalam keadaaan darurat. Dalam hal ini adalah dua riwayat (dari Imam Ahmad, yang membolehkan dan melarang), juga dikarenakan ia mengandung kotoran, sebagaimana ludah, ingus, mani dan selainnya”. (Mukhtashar Al Fatawa Al Mishriyyah, hal. 25)

Jika Tidak Darurat, Mayoritas  Ulama Larang Konsumsi Air Seni Onta 

Dari paparan di atas, bahwasannya mengkonsumsi air seni onta untuk berobat dalam kondisi darurat, tidak ada obat lain selain mengkonsumsinya, maka hal itu dibolehkan menurut seluruh pihak, baik yang berpendapat air seni onta najis atau suci.

Sedangkan mengkonsumsinya dalam kondisi di luar darurat, mereka yang berpendapat bahwa air seni onta najis mengharamkan. Adapun mereka yang berpendapat bahwa air seni onta suci berselisih, satu pihak melarang karena mengandung hal-hal yang kotor meski suci, satu pihak membolehkan. Walhasil, mayoritas ulama melarang mengkonsumsi air seni onta dalam kondisi tidak dalam keadaan darurat. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam…

(Sholah Salim,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Memelihara Dua Rakaat Shalat Dhuha http://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2018/01/14/132995/memelihara-dua-rakaat-shalat-dhuha.html Sun, 14 Jan 2018 04:05:02 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=132995

Pada manusia terdapat 360 ruas persendian. Maka, ia harus melakukan sedekah untuk setiap ruas persendiannya.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SEORANG muslim tiap harinya dituntut melaksanakan 360 sedekah. Barangsiapa melakukannya lalu meninggal dunia pada hari itu, berarti ia telah menjamin dirinya dijauhkan dan terjaga dari api neraka jahannam ketika ia menyeberanginya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‘Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya, setiap anak cucu Adam diciptakan di atas 360 ruas persendian. Barangsiapa bertakbir kepada Allah, bertahmid kepada Allah, bertahlil kepada Allah, bertasbih kepada Allah, beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah, menyingkirkan sebuah batu dari jalan (yang dilalui) manusia, atau duri, atau juga tulang dari jalan (yang dilalui) manusia, amar makruf, atau nahi munkar (mencegah sesuatu yang mungkar) dengan jumlah 360 ruas persendian itu, sesungguhnya ia berjalan dalam sebuah riwayat: memasuki waktu sore pada hari itu dengan menjauhkan (menghindarkan) dirinya dari api neraka.”

Sementara sejumlah sedekah itu dapat digantikan dengan melaksanakan dua rakaat shalat Dhuha. Abu Dzarr r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Setiap memasuki pagi hari ada sedekah yang harus ditunaikan bagi setiap ruas persendian setiap orang dari kalian. Maka setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (La ilaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu akbar) adalah sedekah, menyuruh kepada yang makruf adalah sedekah dan mencegah kemungkaran juga sedekah. Hal itu dapat digantikan dengan dua rakaat yang dilakukannya pada shalat Dhuha.”

Abu Buraidah r.a. meriwayatkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Pada manusia terdapat 360 ruas persendian. Maka, ia harus melakukan sedekah untuk setiap ruas persendiannya. Para sahabat bertanya, ‘Siapa yang sanggup demikian wahai Nabi Allah?’ Beliau bersabda, ‘Ludah di masjid yang engkau timbun dan sesuatu (bahaya) yang engkau singkirkan dari jalan. Lalu, jika engkau tidak menemukannya maka dengan dua rakaat shalat Dhuha, niscaya dapat mencukupkanmu.”

Karena itu, selayaknya kita tidak lalai terhadap dua rakaat ini. Jika kita tak bisa mengerjakan hal itu disebabkan kondisi pekerjaan atau sebagainya, maka paling tidak kita menyibukkan lisan kita dengan membiasakan amal-amal saleh lainnya, seperti tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil sebanyak sejumlah sedekah tersebut. Sebab, yang demikian tidak sampai menyita lima menit dari waktu kita.*/Sudirman STAIL

Sumber buku: Di Atas Titian Jahannam, penulis: Dr. Muhammad An-Nuaim.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Kunci Kemenangan Kaum Muslimin http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/01/11/132817/kunci-kemenangan-kaum-muslimin.html Thu, 11 Jan 2018 13:34:17 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=132817

Dalam dirinya hanya ada satu kalimat, asalkan agama Allah yang menang, jadi apapun diriku tidaklah begitu penting

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

SESAAT setelah kabar kekalahan tentara Romawi dari pasukan kaum Muslimin di bawah komando Khalid bin Walid, Raja Romawi Heraklius berdiri di singgasananya lalu berkata.

“Katakan kepadaku siapa mereka (yang telah mengalahkan Romawi)? Bukankah mereka orang-orang seperti kalian?”

Di antara para pembesar Romawi itu ada yang menjawab, “Ya, benar. Mereka manusia seperti kita.”

Heraklius kian tak sabar, ia segera mengejar dengan pertanyaan berikutnya, “Jumlah kalian yang lebih banyak atau mereka?”

“Jumlah kami lebih banyak dan berlipat ganda dari jumlah mereka,” ucap salah satu komandan pasukan Romawi.

Baca: Ketika Umat Islam Mengadopsi Sistem Persi dan Romawi .

Dengan sedih bercampur marah dan kesal, Heraklius berkata, “Mengapa kalian bisa kalah?”

Heraklius dan semua pembesar seperti ditimpa kegelapan dan beban tak tertanggungkan. Frustasi, marah dan kecewa menyeruak ke seluruh rongga dada mereka. Suasana hening, hanya deru nafas mereka masing-masing yang terdengar begitu kuat, naik dan turun.

Hingga akhirnya, salah seorang yang paling senior di antara mereka mengangkat tangan dan memberikan penjelasan perihal mengapa Romawi bisa kalah.

“Karena mereka (pasukan Khalid bin Walid) bangun malam hari untuk beribadah kepada Tuhannya dan pada siang hari mereka berpuasa. Mereka menepati janji yang mereka sepakati, memerintahkan untuk berbuat baik, mencegah dari perbuatan keji dan saling memberi nasihat di antara mereka sendiri. Karena itu wajar Allah menolong dan memenangkan mereka.

Sedangkan kita dan pasukan kita, wahai Raja kami, kita meminum minuman keras. Kita mengingkari janji yang telah kita buat. Kita berbuat zalim dan melakukan kejahatan. Semua ini telah menjauhkan datangnya pertolongan Allah. Bagaimana Dia akan menolong kita, jika kita tidak menolong-Nya?”

Demikian dialog penuh hikmah yang terjadi di dalam kubu Kerajaan Romawi pasca kekalahan mereka dari pasukan umat Islam di bawah komando Khalid bin Walid yang ditulis oleh Dr. Abdurrahman ‘Umairah dalam bukunya “Fursan Min Madrasatin Nubuwwah.”

Fakta tersebut semestinya menjadi penggerak jiwa kita sebagai Muslim dalam keseharian. Bahwa kunci kemenangan umat Islam akan terjadi jika dan hanya jika umat Islam sendiri benar-benar mengamalkan ajaran Islam itu sendiri.

Baca: Beberapa Alasan Turunnya Nubuwah di Hijaz

Perhatikan kaliman, mereka bangun di malam hari dan berpuasa di siang hari. Artinya kunci kemenangan itu adalah amal dan amal.

Betapa pentingnya ketaatan yang dimanivestasikan dalam bentuk amal, Aid Al-Qarni dalam bukunya “Beginilah Zaman Mengajari Kita” menulis, “Ada orang yang mengisi lembaran hidupnya dengan kajian, produktivitas, dan penghimpunan pengetahuan, tapi dia lupa terhadap amal shalih. Bagi yang mencermati Al-Qur’an, dia akan mendapati bahwa Al-Qur’an memuji ilmu yang bermanfaat dan disertai dengan amal. Di dalamnya juga disebutkan tentang ketaatan seperti sholat, puasa, zakat, jihad, dan takwa, lebih banyak dari pada penyebutan ilmu. Hendaknya hal yang sedemikian mendapat perhatian secara khusus.”

Tentu saja semua amal yang bisa dilakukan tidak harus diumumkan baik melalui lisan kepada teman dekat. Apalagi melalui status di media sosial.

Al-Qarni menekankan bahwa para sahabat Nabi dalam beramal sangatlah luar biasa antusiasnya. Meski mereka sholat, puasa, melakukan amalan yang bisa dilihat, akan tetapi amal-amal yang tersembunyi jauh lebih banyak mereka amalkan dan itu hanya sedikit yang bisa diselidiki.

Selain amal ibadah tentu saja, kunci kemenangan dan kebahagiaan hidup umat Islam ada pada komitmen untuk saling memberikan nasehat, menepati janji dan saling mendoakan, berjiwa besar dan tetap mau mendengar.

Hal demikian pernah dilakukan Pendiri PP Hidayatullah, KH Abdullah Said, “Kalau ada orang yang memberi teguran terhadap apa yang kamu ceramahkan, mungkin karena kesalahan membaca ayat dan hadits aau kekeliruan embawakan suatu kisah, dan lain-lain, janganlah merasa dipermalukan, kendatipun teguran itu disampaikan di depan umum. Ucapkanlah terimakasih dan jadikanlah sebagai gurumu, niscaya engakau akan dijadikan sahabat. Peganglah prinsip ‘satu musuh itu sudah banyak sekali tapi seribu kawan itu masih sangat kurang.” (Mencetak Kader: 130).

Sikap demikian lebih dahulu diteladankan oleh Khalid bin Walid kala dirinya ditetapkan untuk tidak lagi menjadi panglima pasukan kaum Muslimin.

Baca: Ibrah Tiga Jenderal Besar dan Ksatria dalam Tiga Peradaban

Kala itu banyak yang mendesak Khalid agar memprotes keputusan Umar bin Khathab, namun dengan jiwa besar, Khalid menjawab tuntutan sahabat-sahabatnya.

“Tidak saudaraku yang seiman, saudara semedan pertempuran. Kita telah menghancurkan kota-kota di Persia. Kita juga telah enghancurkan benteng Romawi. Apakah ada kekuatan lain yang mengancam penduduk Muslim yang membutuhkan kepada pedangnya Khalid?”

Khalid lalu melanjutkan, “Jadi, pada saat ini negara lebih butuh kepada akal Umar bin Khathab daripada pedangnya Khalid. Fitnah tidak akan terjadi selama Umar bin Khathab masih hidup.”

Demikianlah sikap Khalid, wujud manivestasi keimanannya sebagai seorang jenderal besar yang tak pernah kalah dalam pertempuran menolong agama Allah.

Sikapnya penuh ketangguhan moral dan kecerdasan spiritual. Inilah kunci-kunci kemenangan umat yang kini harus kita hidupkan dan segar-segarkan kembali.

Dalam dirinya hanya ada satu kalimat, asalkan agama Allah yang menang, jadi apapun diriku tidaklah begitu penting. Sebab tugas utamaku adalah mengamalkan ajaran Islam dengan baik sepanjang hayat. Wallahu a’lam.*

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mencintai Fakir Miskin dan Dekat Dengannya http://www.hidayatullah.com/kajian/hadits-harian/read/2018/01/10/132724/mencintai-fakir-miskin-dan-dekat-dengannya.html Wed, 10 Jan 2018 09:39:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=132724

Lihatlah orang yang berada di bawahm jangan melihat kepada orang yang berada di atas kita

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan  lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya (V/159).

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>