frontpage hit counter

Virus Flu Burung Bisa Jadi Senjata Biologis

NIS meminta Ron Fouchier, profesor virologi molekuler dari Universitas Erasmus, Rotterdam, untuk meneliti apakah virus flu burung H5N1 dapat mengakibatkan pandemi.

Virus Flu Burung Bisa Jadi Senjata Biologis

Terkait

Hidayatullah.com–Amerika Serikat menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap varian virus flu burung yang sangat mematikan “ciptaan” seorang profesor Belanda dan menunda penerbitan hasil penelitiannya, menunggu penyelidikan yang sedang dilakukan.

Para peneliti, lapor Radio Nederland yang mengutip koran de Volkskrant Jum’at (25/11/2011), takut kelompok teroris berhasil mendapatkan informasi tentang virus tersebut, lalu menggunakannya sebagai senjata biologis.

Ironisnya, penelitian yang dilakoni ilmuwan Belanda tersebut, justru prakarsai dan dibiayai oleh NIS, lembaga penelitian medis Amerika Serikat.

NIS meminta Ron Fouchier, profesor virologi molekuler dari Universitas Erasmus, Rotterdam, untuk meneliti apakah virus flu burung H5N1 dapat mengakibatkan pandemi.

Fouchier mematahkan skeptisisme para ilmuwan. Ia berhasil “menciptakan” virus flu burung yang mematikan, hanya dengan mengubah sedikit DNA virus H5N1.

Selama ini, virus flu burung jarang menular dari hewan kepada manusia. Namun, bila hal itu terjadi, maka akibatnya sangat fatal.

Dengan mengubah sedikit gen virus, Fouchier berhasil menularkan virus flu burung kepada musang, binatang yang biasa dipakai untuk meneliti transmisi virus flu antar manusia, karena kesamaan sistem imunnya dengan manusia.

Fouchier memasukkan artikel berisi penjelasan hasil penelitiannya ke jurnal ilmiah Amerika Serikat, Science. Tapi, sebelum mempublikasikan artikel itu, pihak redaksi menghubungi lembaga pemerintah Amerika yang mengurusi masalah bioterorisme, untuk meminta persetujuan.

Saat ini, The National Science Advisory Board for Biosecurity sedang menyelidiki apakah informasi tentang virus yang dimodifikasi itu berbahya jika disebarluaskan ke publik.

Menurut de Volkskrant, Fouchier menolak untuk memberikan komentar, sampai penyelidikan atas hasil peneltiannya selesai.

Penundaan publikasi hasil penelitian tersebut mendapat kecaman dari sejumlah ilmuwan dan menimbulkan perdebatan tentang kebebasan saintifik di kalangan peneliti.

Hasil penelitian serupa atas H5N1 oleh peneliti Jepang, juga sedang diselidiki.*

Rep: Dija

Editor: Cholis Akbar

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !