01 April 2012 11:02:52 WIB

Kala Muslimah Berunjuk Rasa


 

Hidayatullah.com- Selayaknya, aksi-aksi “kelelakian” di lapangan seperti demonstrasi kebanyakan dilakukan oleh kaum pria. Tapi, kaum hawa sepertinya tak tinggal diam untuk turut menyampaikan aspirasi di muka publik.

 

Bagi kaum wanita secara umum, hal itu mungkin lumrah. Tapi sepertinya bukan hal yang aneh pula jika para muslimah turun tangan melakukan aksi demonstrasi, setidaknya untuk saat ini.

Dari beberapa aksi unjuk rasa, Hidayatullah.com memotret sejumlah demonstran muslimah yang turun ke lapangan menyuarakan aspirasi mereka. Seperti saat sejumlah karyawati berjilbab menuntut kebijakan yang adil atas sebuah perusahaan asing di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta (8/3/2012).

Juga keikusertaan muslimah pada aksi Indonesia Tanpa Liberal saat longmarch dari Bundaran HI menuju depan Istana Negara (9/3).

Seorang muslimah cilik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nimbrung unjuk rasa BBM di tepi Kolam Air Mancur Patung Selamat Datang, Jakarta (22/3).

Aksi unjuk rasa guru-guru honor menuntut peningkatan kesejahteraan diikuti oleh mayoritas wanita berjilbab di depan Istana Negara Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat (29/3).

Muslimah bercadar juga terlihat menyemarakkan aksi damai Indonesia Tanpa Maksiat yang digelar di silang barat laut Monumen Nasional (30/3).

Pada demo tolak kenaikan harga BBM di depan Gedung DPR/MPR, Jumat (30/3) lalu, puluhan mahasiswi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) terlihat padu menyuarakan aspirasi rakyat.

Meskipun para muslimah tersebut terlihat “perkasa” di lapangan, namun bukan berarti mereka bermaksud menyuarakan kesetaraan gender yang selama ini didengung-dengungkan oleh aktivis liberal. Seperti pada aksi Indonesia Tanpa Maksiat, walaupun unjuk rasa ribuan massa itu juga diikuti ratusan muslimah, namun massa justru menginginkan agar Rancangan Undang-Undang Kesetaraan Gender (RUU KG) tidak lolos sebagai undang-undang.

Kesetaraan gender adalah sebuah kejahatan,” koar seorang orator pada aksi itu.

Dalam Islam, wanita sudah memiliki tempat yang istimewa sesuai kodratnya sebagai kaum hawa. Islam telah menempatkan wanita selayaknya wanita, bukan sebagai pria. Sejarah juga telah mencatat banyak sahabat wanita yang turut membantu kaum Muslimin dalam menghadapi peperangan melawan musuh Allah.

Di sisi lain, Islam juga telah mengatur bahwa antara muslim dan muslimah yang bukan muhrim harus memiliki hijab (pembatas) yang syar’i. Hal itu pula yang selama ini masih menjadi sorotan dari berbagai aksi demonstrasi.*

 

 

Foto dan teks:

Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com

 

 
Share |
 
 
   Berita Terkini
  Israel Berusaha Bunuh Pasien Gaza Dengan...
  Sesungguhnya, Ilmu Agama Sangat Dibutuhk...
  Ibu Hamil Harus Perbanyak “Vitamin Qur’a...
  Calon Komisioner KPAI Tidak Boleh Meroko...
  Menakertrans: Pekerja Anak Dikembalikan ...
  KPAI Minta Pelajar Tidak Merayakan Kelul...
  Bantu Mereka Agar Sembuh
  Iran Tak Akui Drone yang Ditemukan di Ba...
  Bugil ala Femen, Gadis Tunisia Ditangkap
  Amerika Akui Sengaja Bunuh Anwar Al-Awla...
  Pemkot Balikpapan: Solusi Sudah ada, yan...
  PTAIN Wilayah Barat Keluhkan Kesenjangan...
  Penghuni Lokalisasi KM 17 Mengaku Belum ...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved