Hidayatullah.com- Jelang ketok palu keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), sebagian masyarakat menyambutnya dengan sikap anarkis. Sejumlah demonstrasi di berbagai tempat berakhir ricuh. Bentrok massa versus aparat keamanan hampir selalu menjadi ending dari aksi.
Unjuk rasa, sebagai wadah mengekspresikan perasaan bukan untuk unjuk gigi dan unjuk kekuatan. Sayangnya, oknum yang mengatasnamakan masyarakat seringkali berekspresi berlebihan. Sayangnya pula, oknum polisi seringkali bertindak keras di luar batas kemanusiaan. Lemparan batu melawan tembakan gas air mata seakan menjadi ritual wajib di tiap aksi “perlawanan rakyat”.
Massa seharusnya bersikap lebih dewasa dan lebih santun. Aparat keamanan pun diharapkan bisa lebih luwes dan menahan diri.
Kalau masing-masing sudah tak lagi mampu bersabar, pantaskah layanan publik menjadi sasaran?
Di saat masyarakat umum jadi korban, siapa yang harus diminta pertanggung jawaban?
Rakyat Indonesia pastinya berharap negeri ini tetap damai. Pemerintah pun diharapkan mampu menjaga kedamaian nusantara. Terlepas dari batalnya harga BBM naik per 1 April 2012, masyarakat terlanjur kecewa dengan rencana pemerintah.
Salahkah rakyat yang marah, atau patutkah Presiden SBY dan “bala tentara” di kabinetnya menanggung dosa anarkisme massa? Apapun itu, negeri ini harus tetap damai. Sah-sah berunjuk rasa, unjuk rasa yang (seharusnya) tidak berujung kekerasan.
Dalam galeri ini, Hidayatullah.com menampilkan sejumlah aksi demonstrasi yang belakangan digelar di sejumlah titik di Jakarta. Di antaranya, aksi Hizbut Tahrir Indonesia menolak kenaikan harga BBM di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara (29/3/2012), berbarengan dengan unjuk rasa puluhan guru-guru honorer dari Komite Guru Bekasi dan Forum Honorer Indonesia yang menuntut diperhatikan lebih oleh pemerintah.
Juga aksi demonstrasi sekitar 15 ribu buruh dan mahasiswa serta masyarakat di depan gedung DPR dan di jalanan yang berakhir ricuh (30/3). Dan di saat bersamaan aksi “Indonesia Tanpa Maksiat” digelar oleh ribuan umat Islam, dengan longmarch dari Bundaran Hotel Indonesia menuju silang barat laut Monumen Nasional.*
Foto dan teks:
Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com