Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Mon, 18 Sep 2017 13:26:24 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.1 Qatar Setuju Beli 24 Jet Tempur dari Inggris http://www.hidayatullah.com/berita/internasional/read/2017/09/18/123787/qatar-setuju-beli-24-jet-tempur-dari-inggris.html Mon, 18 Sep 2017 13:26:24 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123787

Sebelumnya ini, Qatar mengumumkan telah sepakat mengenai pembelian jet-jet tempur F-15 dari Amerika Serikat senilai $12 miliar.

(Ama Farah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com—Qatar telah menandatangani kesepakatan untuk membeli 24 jet tempur Typhoon dari Inggris, kesepakatan pembelian alat pertahanan terbesar kedua yang ditadatangani Doha selama pertikaian diplomatik dengan negara-negara tetangganya.

Menteri Pertahanan Qatar Khalid bin Muhammad Al-Attiyah dan sejawatnya dari Inggris Michael Fallon menandatangani “statement of intent” dari Inggris untuk menjual pesawat-pesawatnya, menurut pernyataan yang dirilis London dan di media sosial seperti dilansir AFP Senin (18/9/2017).

“Ini akan menjadi kontrak pertahanan besar pertama dengan Qatar, salah satu mitra strategis Inggris,” kata Fallon.

“Ini merupakan momen penting dalam hubungan pertahanan kita dan menjadi dasar kerjasama yang lebih erat antara kedua negara,” imbuhnya.

Dubes Inggris untuk Doha Ajay Sharma lewat Twitter mengumumkan kesepakatan itu, yang disebutnya sebagai langkah besar dalam hubungan pertahanan antara kedua negara.

Belum ada komentar dari Qatar perihal itu.

Kesepakatan pembelian pesawat perang tersebut melewati negosiasi yang panjang. Menurut Fallon perundingannya dilakukan sejak Maret 2016.

Sebelumnya ini, Qatar mengumumkan telah sepakat mengenai pembelian jet-jet tempur F-15 dari Amerika Serikat senilai $12 miliar.

Tahun 2016, Qatar setuju untuk membeli 24 pesawat tempur Dassault Rafale dari Prancis, yang konon bernilai 6,7 miliar euro.

Pada 5 Juni, atau sepuluh hari sebelum kontrak dengan Amerika Serikat diumumkan, Arab Saudi, Barain, Uni Emirat Arab dan Mesir memutus hubungan dengan Qatar. Mereka menuding Doha mendukung terorisme dan bermesra-mesraan dengan negara Syiah Iran.

Qatar membantah tuduhan-tuduhan itu dan mengklaim perselisihan tersebut sebagai serangan terhadap kedaulatan negaranya.

Kesepakatan jual-beli jet tempur ini penting bagi Inggris, sebab negara itu harus mencari mitra bisnis di luar Eropa sejalan dengan keputusannya hengkang dari Uni Eropa.*

(Ama Farah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Tulisan “Suu Kyi dan Megawati” Dilaporkan, Dandhy: Konsen Saya Isu Kemanusiaan http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/18/123921/tulisan-suu-kyi-dan-megawati-dilaporkan-dandhy-konsen-saya-isu-kemanusiaan.html Mon, 18 Sep 2017 13:06:08 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123921

Ia menyesalkan langkah yang ditempuh pelapor dengan membawanya ke jalur hukum.

(Yahya G Nasrullah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Jurnalis Dandhy Dwi Laksono menyatakan, tulisannya soal “Suu Kyi dan Megawati” yang kini dilaporkan ke kepolisian oleh Dewan Pimpinan Daerah Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jawa Timur, konsen membahas persoalan kemanusiaan yang menimpa Myanmar dan dalam negeri Indonesia.

Ia menyebut, dengan adanya kasus Rohingya saat ini, membuat Indonesia perlu belajar dan mengingat kembali bahwa negeri ini mempunyai persoalan serupa seperti di Aceh dan Papua.

“Di situlah saya merasa perlu menulis masalah yang hampir elementer sama dengan Rohingya. Tentang kemanusiaan, pelanggaran HAM, pendekatan keamanan, tindak kekerasan dan militerisme, serta pemerintahan sipil yang melakukan penyelesaian masalah dengan menunggunakan kekerasan,” ujarnya di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Jakarta, kemarin.

Dalam tulisan yang membandingkan antara pimpinan de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, dan mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri, Dandhy mengatakan, ada persamaan keduanya sebagai ikon demokrasi di negara masing-masing. Yang mana sebelumnya keduanya pernah mengalami tindakan represif dari militer, namun ketika keduanya berkuasa dan memenangkan pemilu, mempunyai persoalan kekerasan sipil.

“Yang dianggap melindungi malah sebaliknya,” imbuhnya.

Baca: Tulisan Tentang “Suu Kyi dan Megawati”, AJI Nilai Bukan Ujaran Kebencian

“Karena mustahil kita bicara kemanusiaan di (wilayah keberadaan) Rohingya sementara kita di Indonesia punya masalah yang sama yang saya pikir perlu perhatian. Meskipun momennya tidak bersamaan tetapi di masa yang akan datang bisa belajar dari kasus itu,” lanjut Dandhy.

Penyebutan keduanya, dikatakan Dandhy, tidak terhindarkan karena merupakan fakta. Dan sebagai opini jurnalistik, ia menilai harus menyertakan kaidah 5W1H.

Hanya saja, ia menyesalkan langkah yang ditempuh pelapor dengan membawanya ke jalur hukum. Dandhy mengaku, beberapa karyanya menimbulkan reaksi balik, seperti halnya film Samin vs Semen yang ditanggapi dengan film yang sejenis.

Termasuk ketika tahun 2014, saat menjabat Ketua Divisi Penyiaran AJI, Dandhy melakukan kritik keras salah satu stasiun televisi swasta yang dinilai berpihak saat Pemilihan Presiden (Pilpres), yang kemudian ia ditantang debat oleh pimpinan redaksi TV tersebut.

“Bisa ditonton di Youtube bagaimana jalannya perdebatan selama hampir dua jam. Itu masih dalam koridor demokrasi,” ungkapnya.

Karenanya, Dandhy berharap Repdem serta pendukung Presiden Joko Widodo dan Megawati yang tidak setuju dengan tulisan “Suu Kyi dan Megawati” agar melakukan hal yang sama.

“Tapi ini tidak, langsung ke polisi,” tandasnya.

Baca: “Aroma Mitos dalam Pidato Megawati [1]

Dandhy merasa, bahwa banyak yang tidak setuju dengan karya-karyanya adalah suatu yang tidak masalah. Dikarenakan menurutnya ini merupakan ruang yang terbuka untuk pertukaran ide.

“Sejauh ini adalah respons paling tidak demokratik yang saya terima,” pungkasnya.

Sebelumnya, Dandhy dilaporkan dengan tuduhan menghina dan menebarkan kebencian pada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Jokowi.

“Kami menilai ada upaya penggiringan opini bahwa Megawati sama dengan Aung San Suu Kyi pada konteks lebih mengutamakan kekerasan dalam memerintah,” kata Ketua Repdem Jawa Timur Abdi Edison beberapa waktu lalu.

Abdi menganggap tulisan “Suu Kyi dan Megawati” itu sangat tendensius dan berupaya menggiring opini terhadap Ketua Umum PDIP. Repdem merupakan organisasi sayap PDIP.*

(Yahya G Nasrullah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Aksi Peduli Rohingya, Senator: Tak Selayaknya PSSI Belokkan Jadi Politis http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/18/123907/aksi-peduli-rohingya-senator-tak-selayaknya-pssi-belokkan-jadi-politis.html Mon, 18 Sep 2017 12:42:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123907

Ledia mengatakan, aksi Bobotoh menampilkan koreografi bertulisan "Save Rohingya" adalah bukti bahwa Bobotoh punya solidaritas kemanusiaan.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Terkait aksi kepedulian masyarakat atas krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) diminta tidak membelokkannya ke arah politis.

Hal ini terkait sanksi berupa denda sebesar Rp 50 juta yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kepada klub sepakbola Persib Bandung. Sanksi itu dikarenakan para suporter Persib, Bobotoh, menampilkan kepedulian atas Rohingya pada pertandingan Liga 1 di Bandung, Jawa Barat, belum lama ini.

Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, mengatakan, tidak selayaknya PSSI kemudian membelokkan solidaritas kemanusiaan yang dilakukan Bobotoh menjadi laksana aksi politik dan SARA.

Baca: Sanksi Persib karena “Save Rohingya”, Anggota DPR Berharap PSSI Revisi Keputusannya

Ledia merasa perlu mengingatkan PSSI soal apa sebenarnya inti dari olahraga.

“(Yaitu) untuk menjunjung tinggi sportivitas dan solidaritas bukan?!” ungkap senator dari PKS ini dalam keterangan tertulis diterima hidayatullah.com di Jakarta, kemarin.

Ledia mengatakan, aksi Bobotoh menampilkan koreografi bertulisan “Save Rohingya” adalah bukti bahwa Bobotoh punya solidaritas kemanusiaan.

“Solidaritas pada sebuah aksi kekerasan yang melanggar hak asasi manusia,” tegasnya.

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan hidayatullah.com, PSSI menilai aksi peduli Rohingya oleh Bobotoh itu sebagai pelanggaran dalam kompetisi.

Baca: PSSI Sebut Aksi Bobotoh “Save Rohingya” sebagai “Jenis Pelanggaran”

Ketua Komdis PSSI Asep Edwin diwarta media menganggap, aksi Bobotoh menampilkan koreografi tulisan “Save Rohingya” pada pertandingan Liga 1 itu terkait Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).* Ali Muhtadin

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Prihatin Penangkapan Aktivis, ACTA Gugat UU ITE http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/18/123914/prihatin-penangkapan-aktivis-acta-gugat-uu-ite.html Mon, 18 Sep 2017 10:16:27 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123914

“Kami tidak menuntut Pasal 28 ayat (2) UU ITE dihapuskan seluruhnya, namun kami hanya meminta istilah ‘antargolongan’ (dalam pasal itu) dihilangkan."

(Yahya G Nasrullah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) mengajukan gugatan terhadap Pasal 28 ayat 2 dan Pasal 45A ayat 2 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) ke Mahkamah Konstitusi.

Anggota tim advokasi ACTA, Nurhayati mengatakan, gugatan itu didasari atas sikap prihatin dengan nasib sejumlah aktivis yang menyampaikan kritik tetapi justru dilaporkan menyebarkan ujaran kebencian di media sosial.

Ia mencontohkan, dalam kasus Dandhy Dwi Laksono, misalnya, dimana statusnya di Facebook yang sama sekali tidak menimbulkan kebencian berdasarkan suku, agama, dan ras, namun dianggap menimbulkan kebencian kepada golongan penguasa atau golongan partai tertentu, serta dilaporkan ke kepolisian.

Baca: Tulisan Tentang “Suu Kyi dan Megawati”, AJI Nilai Bukan Ujaran Kebencian

“Kami tidak menuntut Pasal 28 ayat (2) UU ITE dihapuskan seluruhnya, namun kami hanya meminta istilah ‘antargolongan’ (dalam pasal itu. Red) dihilangkan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima hidayatullah.com, Senin (18/09/2017).

Nurhayati menilai, istilah tersebut sangat luas dan tidak jelas batasannya secara ilmiah. Serta tidak terdapat juga definisi antargolongan dalam UU ITE.

Karena ketidakjelasan definisi ‘antargolongan’ tersebut, Nurhayati menjelaskan, setiap bentuk penyebaran informasi yang dianggap menyerang pihak lain bisa dianggap melanggar Pasal 28 ayat (2) UU ITE.

“Kebencian berdasarkan golongan yang tidak jelas batasnya itu berbeda derajat merusaknya dengan kebencian terhadap suku dan ras yang merupakan identitas kodrati setiap orang, atau identitas agama yang merupakan keyakinan dasar setiap orang,” ungkapnya.

Baca: Komisi I DPR: UU ITE Perlu Direvisi Lagi

Karenanya, dikatakan Nurhayati, pasal yang mengatur timbulnya kebencian berdasarkan golongan tidak dapat disatukan dengan pasal yang mengatur timbulnya kebencian berdasarkan suku, agama, dan ras yang ancamannya di atas 5 tahun.

“Kebencian berdasar golongan cukup diatur di pasal fitnah dan pencemaran nama baik biasa yaitu 310 KUHP yang ancaman hukumannya hanya 9 bulan,” tandasnya.*

(Yahya G Nasrullah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Tulisan Tentang “Suu Kyi dan Megawati”, AJI Nilai Bukan Ujaran Kebencian http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/18/123909/tulisan-tentang-suu-kyi-dan-megawati-aji-nilai-bukan-ujaran-kebencian.html Mon, 18 Sep 2017 09:16:01 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123909

Dandhy menyebut Myanmar dan Indonesia mempunyai masalah yang sama perihal kemanusiaan. Dengan subjek kasus yakni Aung San Suu Kyi yang dihadapkan dengan persoalan Rohingya, serta Megawati yang dihadapkan persoalan Aceh dan Papua.

(Yahya G Nasrullah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menilai tulisan Dandhy Dwi Laksono yang dilaporkan oleh Dewan Pimpinan Daerah Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jawa Timur bukan merupakan ujaran kebencian (hatespeech).

Ketua AJI, Suwarjono mengatakan, pihaknya telah melakukan analisa terhadap tulisan Dandhy. Menurutnya, apa yang dikemukakan dalam tulisan tersebut adalah fakta.

Ia menambahkan, dalam pandangan AJI, tulisan Dandhy merupakan bentuk produk jurnalistik berupa opini. Hal itu, dikatakan Suwarjono, karena tulisan tersebut telah dimuat di media-media portal berita online.

“Sehingga sudah menjadi produk pers yang bisa diuji di Dewan Pers kalau ada laporan mengenai produk pers tersebut. Kalau hanya dimuat di media sosial tentu Dewan Pers tidak bisa terlibat,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor AJI, Kwitang, Jakarta, Ahad (17/09/2017).

Baca: Aliansi Advokat Muslim: Suu Kyi Layak Diadili Mahkamah Pidana Internasional

Meski demikian, Suwarjono mengungkapkan, pihaknya menghargai semua langkah hukum, dan akan melakukan pendampingan total terhadap Dandhy yang juga Majelis Pertimbangan AJI tersebut.

Hanya saja, ia menyesalkan sikap kepolisian yang dianggap menghalangi sikap kritis masyarakat. Terlebih kepolisian dinilai lebih cepat merespons laporan yang mempersoalkan dengan kritis kebijakan pemerintah.

Hal senada disampaikan Ketua Bidang Advokasi AJI Iman Nugroho. Menurutnya, yang paling penting dari kasus Dandhy apakah polisi masih bisa membedakan tulisan yang mengandung hatespeech atau tidak.

“Itu yang harus kita garisbawahi. AJI sudah melakukan fact checking (pengecekan fakta. Red). Tapi kalau polisi tetap meneruskan proses hukum, ya kita siap hadapi,” ungkapnya.

Baca: Ajak Kadernya Bela Megawati, Sekjen DPP PDIP: Kami Tidak Takut Habib Rizieq

Sebelumnya, Dandhy dilaporkan oleh Repdem Jawa Timur -organisasi sayap PDIP- dengan tuduhan menghina dan menebarkan kebencian pada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo. Laporan itu didasari tulisan Dandhy tersebut.

Dalam tulisan itu, Dandhy menyebut Myanmar dan Indonesia mempunyai masalah yang sama perihal kemanusiaan. Dengan subjek kasus yakni Aung San Suu Kyi -pemimpin Myanmar- yang dihadapkan dengan persoalan Rohingya, serta Megawati -Presiden RI kelima- yang dihadapkan persoalan Aceh dan Papua.

Dandhy menilai kedua sosok itu punya kesamaan karena sebelumnya berada dalam kondisi represif militer dan kemudian menjadi pemimpin negara.*

(Yahya G Nasrullah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sanksi Persib karena “Save Rohingya”, Anggota DPR Berharap PSSI Revisi Keputusannya http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/18/123906/sanksi-persib-karena-save-rohingya-anggota-dpr-berharap-pssi-revisi-keputusannya.html Mon, 18 Sep 2017 07:29:57 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123906

"Tidak usah malu. Justru kalau PSSI bersikeras dengan keputusannya akan membuat orang bertanya: sebenarnya PSSI mau menunjukkan keberpihakan pada apa dengan mengganggap aksi koreografi 'Save Rohingya' sebagai kesalahan?" tegas

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, mempertanyakan keputusan Komisi Disiplin Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Komdis PSSI) yang mendenda klub sepakbola Persib Bandung karena aksi koreografi “Save Rohingya” yang ditampilkan suporternya, Bobotoh.

“Saya perlu mengingatkan PSSI, apa sih inti sebenarnya dari event olahraga? Untuk menjunjung tinggi sportivitas dan solidaritas bukan?” ungkap Ledia dalam keterangan tertulis diterima hidayatullah.com di Jakarta, Ahad (17/09/2017).

Baca: Dukung Bobotoh Peduli Rohingya, Dahnil Kritisi PSSI Beri Sanksi Persib

Ia mengatakan, aksi Bobotoh dalam membuat koreografi “Save Rohingya” itu adalah bukti bahwa Bobotoh punya solidaritas kemanusiaan.

“Solidaritas pada sebuah aksi kekerasan yang melanggar hak asasi manusia (etnis Rohingya. Red),” tegasnya.

Ledia pun meminta PSSI agar tidak gegabah dalam menjatuhkan sanksi.

“Gegabah sekali kalau aksi solidaritas pada kemanusiaan dianggap salah. Kesalahan itu justru saya lihat ada pada gampangnya PSSI mengkaitkan aksi koreografi ini sebagai tindakan politis bahkan SARA,” tandasnya.

Baca: Bobotoh Peduli Rohingya, Persib Disanksi Rp 50 Juta, #KoinUntukPSSI Digalang

Krisis Rohingya, menurutnya, sudah menjadi isu internasional yang berbagai negara sudah menunjukkan kecaman resmi.

Sehingga, katanya, tidak selayaknya PSSI kemudian membelokkan solidaritas kemanusiaan yang dilakukan bobotoh menjadi laksana aksi politik dan SARA.

Ledia berharap agar PSSI segera merevisi keputusannya dalam mendenda Persib tersebut.

“Tidak usah malu. Justru kalau PSSI bersikeras dengan keputusannya akan membuat orang bertanya: sebenarnya PSSI mau menunjukkan keberpihakan pada apa dengan mengganggap aksi koreografi ‘Save Rohingya’ sebagai kesalahan?” tegasnya.* Ali Muhtadin

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Perjuangkan Hak Warga Rohingya, PKS Mengaku akan Tempuh ‘Langkah Nyata Terukur’ http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/18/123819/perjuangkan-hak-warga-rohingya-pks-mengaku-akan-tempuh-langkah-nyata-terukur.html Mon, 18 Sep 2017 06:00:14 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123819

“Tidak harus seorang itu ahli agama atau ahli ibadah asalkan seorang itu adalah manusia, pasti hatinya akan tersentuh oleh anak yatim piatu ini,” papar Sohibul.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman mengaku, pihaknya akan melakukan langkah-langkah nyata dan terukur dalam memperjuangkan hak-hak warga Rohingya yang terusir.

Ia mengaku akan terus memperjuangkan kewarganegaraan etnis Rohingya hingga mendapat pengakuan pemerintah Myanmar.

“Jika ada kesempatan kita akan mengadakan diplomasi dan upaya untuk kewarganegaraan mereka. Kita akan mendesak dunia internasional untuk menyeret mereka pelaku genosida ke ranah hukum,” kata dia di Jakarta, pekan kemarin, dalam orasinya pada Aksi Bela Rohingya, Sabtu (16/09/2017).

Baca: Sebelum Aksi, PKS Mengaku Sudah Galang Dana untuk Rohingya Rp 3,8 M

Sohibul mengingatkan, agar penyelesaian krisis Rohingya tidak memunculkan masalah baru di Indonesia. PKS, papar dia, tidak menoleransi tindakan-tindakan radikal yang mengancam kesatuan NKRI.

Korban tewas dalam pembantaian etnis Rohingya oleh militer Myanmar meninggalkan duka bagi anak-anak Rohingya. Kehilangan ibu dan bapak saat berusia dini, menjadi pukulan telak bagi anak-anak Rohingya. Ditambah lagi tidak adanya tempat tinggal dan status kewarganegaraan yang jelas bagi mereka, ungkapnya.

“Tidak harus seorang itu ahli agama atau ahli ibadah asalkan seorang itu adalah manusia, pasti hatinya akan tersentuh oleh anak yatim piatu ini,” papar Sohibul. Dalam aksi itu, turut hadir sejumlah bocah Rohingya yang mengungsi dari Myanmar.

Baca: “Tolong Selamatkan, Saudara Kami Dibunuh, Dibakar, Dipotong, Ditembak, dan Diperkosa Tentara Myanmar”

Sementara itu, politisi PKS, Ahmad Syaikhu mengatakan, aksi bela Rohingya digelar untuk menggugah hati nurani dunia.

“Agar peristiwa kedzaliman yang terjadi di (wilayah tempat tinggal) Rohingya dan juga penjuru dunia lainnya tidak terjadi lagi,” ujar Syaikhu dalam orasinya.

Wakil Walikota Bekasi yang juga calon Wakil Gubernur Jawa Barat ini mengatakan, kedzaliman yang dilakukan militer Myanmar terhadap etnis Rohingya merupakan keironian di era modern saat ini.

“Di zaman modern seperti ini masih ada pembantaian. Ini tidak sesuai konstitusi kita yang mendorong perdamaian abadi dan keadilan sosial,” tegasnya.

Karena itulah, lanjut Syaikhu, rakyat Indonesia menggelar aksi dan menuntut perhatian dunia internasional agar kedzaliman terhadap etnis Rohingya dihentikan.* Zulkarnain

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Peduli Rohingya, KH Abdur Rasyid Syafi’i Ingatkan Umat Pesan Nabi soal Persaudaraan http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/18/123822/peduli-rohingya-kh-abdur-rasyid-syafii-ingatkan-umat-pesan-nabi-soal-persaudaraan.html Mon, 18 Sep 2017 03:30:36 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123822

Ia kemudian berharap, agar tragedi kemanusiaan Rohingya menjadi perhatian khusus bagi umat Islam di seluruh dunia, terutama di Indonesia.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Maraknya aksi kepedulian atas Rohingya, yang ditunjukkan berbagai elemen masyarakat dalam beragam cara, merupakan salah satu bentuk empati dan keprihatinan sebagai sesama manusia.

Tokoh dan ulama kharismatik Betawi, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, mengatakan, berkumpulnya masyarakat dalam suatu aksi, “menunjukkan keprihatinan kita atas nasib saudara kita di Rohingya,” tegasnya dalam aksi bela Rohingya di Jakarta Pusat, pekan kemarin.

“Telah puluhan tahun bahkan lebih, saudara kita seiman, seagama, dikejar, dianiaya, dibunuh, dan sebagainya,” tegas pengasuh pertama Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyah ini.

Pada kesempatan itu, ia memimpin doa terkait kondisi etnis Rohingya yang semoga diselamatkan.

“Doa kita semoga diijabah oleh Allah dan teriring dengan ampunan atas dosa kita,” ujar ulama yang telah beranjak usia ke-75 tahun ini, diaminkan oleh ribuan massa yang hadir pada Sabtu (16/09/2017) itu.

Sebelumnya, ia menyatakan apresiasinya kepada massa yang hadir karena telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menunjukkan empati dan kepedulian itu.

Ia kemudian berharap, agar tragedi kemanusiaan Rohingya menjadi perhatian khusus bagi umat Islam di seluruh dunia, terutama di Indonesia.

Ia kemudian mengutip perkataan Nabi Muhammad bahwa mereka yang tidak menaruh perhatian kepada urusan saudara Muslim, bukan menjadi bagian sebagai umat Islam.* Zulkarnain

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
“Tolong Selamatkan, Saudara Kami Dibunuh, Dibakar, Dipotong, Ditembak, dan Diperkosa Tentara Myanmar” http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/18/123861/tolong-selamatkan-saudara-kami-dibunuh-dibakar-dipotong-ditembak-dan-diperkosa-tentara-myanmar.html Mon, 18 Sep 2017 03:05:37 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123861

Kesaksian bocah etnis Rohingya asal Arakan yang selamat mengungsi di Indonesia.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Ini cerita dari Aksi Bela Rohingya yang digelar pada pekan kemarin di kawasan silang Monas, dekat Patung Kuda, Jakarta Pusat.

Ada yang berbeda saat aksi peduli kemanusiaan gelaran Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan banyak elemen lainnya itu.

Sesaat setelah orasi dari berbagai ormas, aksi ini diselingi pembacaan puisi dan pernyataan kesaksian dari dua orang bocah yang tampak anggun dengan jilbab yang mereka kenakan.

Kedunya merupakan bocah etnis Rohingya yang mengungsi ke Indonesia.

Saifan Karimullah (8 tahun) dan Nur Hasna, dua bocah malang yang berasal dari Arakan alias Rakhine, Myanmar, itu, termasuk pencari suaka di Indonesia.

Baca: 1100 Anak Rohingya Kehilangan Orang Tua, Puluhan Pengungsi lainnya Mati lemas

Pantauan hidayatullah.com, tampak keduanya berdiri dengan orangtua yang mendampinginya. Saifan dan Nur masing-masing memegang selembar kertas bertulisan.

Keduanya pun, Sabtu (16/09/2017) itu, di atas panggung orasi mulai membacakan bait demi bait tulisan pada kertas tersebut.

Inilah isi ungkapan Nur:

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Nama saya Nur Hasna umur 7 tahun, saya Rohingya yang ada di Indonesia.

Saya minta tolong kepada pemerintah dan rakyat Indonesia. Tolong selamatkan saudara-saudara kami yang dibunuh, dibakar, dipotong, ditembak, dan diperkosa oleh para tentara Myanmar yang kejam dan biadab.

Maka kami minta tolong selamatkan-damaikan saudara-saudara kami yang ada di Arakan.

Takbir-Takbir. Terima kasih.

Wassalam warahmatullahi wabarakatu.”

Baca: Kesaksian Wartawan BBC Melihat Desa-desa yang Dibakar di Rakhine

Sedangkan pada kertas yang dibawa Saifan, pesannya disampaikan secara poin per poin:

“1. STOP Genosida.

2. Adil untuk Rohingya.

3. Jangan potong keluarga kami Rohingya.

4. Jangan bakar rumah-rumah dan masjid.

5. Jangan keluarkan dari Arakan, Myanmar.

6. Kami asli dari Arakan.

7. Jangan bakar keluarga kami.

8. Pemerintah Myanmar potong anak-anak, bakar anak-anak, balita, dan ibu.”

Tepat di belakang keduanya, tampak Presiden PKS Sohibul Iman tak henti-hentinya menghapus air matanya yang sembab, sesekali ia menatap anak itu dengan wajah sedih.

Baca: Catatan Kekerasan Militer Myanmar terhadap Etnis Rohingya Hari ke 4

Sementara itu, pantauan hidayatullah.com, para peserta aksi mulai larut dalam linangan air mata.

“Apa yang terjadi di Myanmar tidak perlu terulang di Indonesia, pernyataan anak ini sudah bisa menggambarkan penderitaan mereka. Mereka berdua adalah anak yang beruntung, diselamatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan aman di negeri Indonesia yang menjunjung kedamaian. Negeri yang selalu memiliki spirit gotong royong, memiliki semangat Pancasila.

Dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan anak-anak di sana yang sebaya mereka,” ungkap Sohibul Iman dalam orasinya di depan ribuan massa.* Zulkarnain

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
KH Nonop Hanafi Berharap, Indonesia Bisa Merdekakan Muslimin Rohingya http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/18/123824/kh-nonop-hanafi-berharap-indonesia-bisa-merdekakan-muslimin-rohingya.html Mon, 18 Sep 2017 00:45:49 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123824

Kiai Nonop, yang merupakan penggerak santri jalan kaki Ciamis-Jakarta pada Aksi 212 lalu, menyampaikan memprotes atas tindakan pembersihan etnis di Rakhine oleh junta militer Myanmar.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Pimpinan Pesantren Miftahul Huda 2 Ciamis, KH Nonop Hanafi, berharap Indonesia mampu membantu terciptanya kemerdekaan sebagai manusia bagi etnis Muslim Rohingya yang terus tertindas di Myanmar.

Sebagaimana bangsa Indonesia yang telah meraih kemerdekaan sebagai hasil perjuangan para pahlawan, kata Kiai Nonop.

“Indonesia adalah kakak terbesar di ASEAN dan harus bisa membebaskan Rohingya. Karena negeri ini merdeka berkat perjuangan para syuhada, pahlawan bangsa,” serunya pekan kemarin.

Sabtu (16/09/2017) itu, Kiai Nonop dan para santrinya ikut meramaikan Aksi Bela Rohingya yang digelar di kawasan silang Monas, Jakarta Pusat, bersama ribuan massa lain.

Baca: Bantu Rohingya, Umat Islam Diajak Tingkatkan Tiga Hal ini

Dalam orasinya pada aksi itu, Kiai Nonop, yang merupakan penggerak santri jalan kaki Ciamis-Jakarta pada Aksi Bela Islam III (Aksi 212) lalu, menyampaikan protes atas tindakan pembersihan etnis di Rakhine oleh junta militer Myanmar.

Ia pun menyatakan bahwa kepedulian terhadap Rohingya adalah kepedulian terhadap kemanusiaan.

“Kita bertemu di sini atas nama kemanusiaan. Karena tidak perlu menjadi Muslim untuk membela Rohingya,” tegasnya.* Zulkarnain

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>