frontpage hit counter

Mengintip Kebun Wakaf Produktif Indonesia Berdaya di Subang

Dengan bimbingan teknis yang diberikan, sarana permodalan, hingga bagian penerimaan hasil produk, Ade merasa ada harapan bagi para petani nanas, khususnya mereka yang ada di desa ini.

Mengintip Kebun Wakaf Produktif Indonesia Berdaya di Subang
yahya g nasrullah/hidayatullah.com
Ade Suherlan, salah seorang petani di perkebunan, dan buah hasil panen perkebunan wakaf produktri Indonesia Berdaya di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kota Subang, Jawa Barat, Rabu (25/10/2017).

Terkait

BERBICARA wakaf, seringkali hanya identik dengan yang sifatnya berdimensi agama semata, seperti terkait masjid, pemakaman, pesantren dan sebagainya. Tapi berbeda dengan wakaf satu ini.

Adalah kebun seluas 8 hektar yang berada di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kota Subang, Jawa Barat. Di area perbukitan ini, lahan yang sebelumnya tidak menghasilkan, dibeli oleh sebuah lembaga amil zakat dengan dana wakaf dan dirintis menjadi kebun produktif. Program ini dinamakan Indonesia Berdaya.

Pendamping program Indonesia Berdaya, Agung Karisma menceritakan, dari total 8 hektar, sebanyak 5 hektar ditanami berbagai macam buah. Komoditas utamanya nanas dan buah naga. Ada juga pepaya, pisang, serta jambu kristal.

Ia mengatakan, awalnya lahan tersebut adalah kebun yang lama tidak terawat sejak sebuah perusahaan yang memproduksi buah nanas kalengan pada tahun 1993 bangkrut. Yang juga membuat petani seperti kehilangan bapak angkatnya untuk menjual hasil panen.

Kini, setelah lahan itu dibeli oleh Laznas tersebut, dan para petaninya yang notabene merupakan warga sekitar diajak mengelola bersama-sama, nasib mereka mulai menemui harapan perbaikan.

Agung menyebut, dengan dibantu permodalan pembibitan, pemupukan, hingga perawatan. Hasil panen yang diperoleh mengalami peningkatan.

“Sekarang baru satu tahun intervensi program, sudah kelihatan hasilnya bisa lebih banyak,” ujarnya kepada hidayatullah.com saat kunjungan langsung ke perkebunan itu, Rabu (25/10/2017).

Baca juga: Kesadaran Wakaf Produktif Masih Minim Dinilai karena Pola Pikir

Apalagi, tambah Agung, saat ini nanas bisa dipanen tidak kenal musim karena menggunakan teknik forsing untuk mengatur tumbuh bunga. Sejak diberi perlakuan forsing, jelasnya, bunga keluar dua bulan kemudian. Dan setelah lima bulan maka akan matang. Jadi, total 7 bulan untuk waktu untuk panen.

“Dalam sekali panen mampu menghasilkan 1 hingga 1,5 kg nanas perbuahnya. 1 hektar bisa 40 ribu buah. Kalau ditotal bisa 40 ton per hektare,” ungkapnya.

Sedangkan untuk buah naga, sambung Agung, 1 hektare terdapat seribu pohon. Satu pohon bisa menghasilkan sampai 10 kg. Berarti ada 10 ton buah naga tiap hektarnya sekali panen.

“Kalau buah naga masa panennya selama November hingga April. Sebulan sekali keluar bunganya, mekar, dari mekar sampai panen butuh 33 hari,” katanya.

Kebun Wakaf Produktif garapan Indonesia Berdaya di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kota Subang, Jawa Barat, Rabu (25/10/2017).

Baca: Mengembalikan Eksistensi Wakaf sebagai Solusi Kesejahteraan Umat

Akan Bangun Pabrik

Sementara itu, Bobby Manullang, Senior Manager Penghimpunan Direktorat Wakaf Dompet Dhuafa -Laznas tersebut, menyatakan, pihaknya ingin membangun pabrik selai dan ekstrak buah dari olahan nanas. Menurutnya, segmen tersebut merupakan sektor industri yang strategis.

Sebabnya, terang Bobby, karena ekstrak nanas merupakan bahan baku dari berbagai macam cita rasa jus buah kemasan. Dimana nanas juga merupakan mother of fruits atau induknya buah.

Apalagi, tambahnya, selama ini minuman jus dalam kemasan yang dijual di Indonesia ekstrak buahnya berasal dari Brazil.

“Indonesia belum punya pabrik ekstrak buah yang berskala industri besar,” ungkapnya kepada hidayatullah.com.

Sehingga, papar Bobby, pihaknya ingin hasil dari kebun wakaf produktif Indonesia Berdaya tersebut bisa terserap seluruhnya, tidak hanya menyuplai buah secara utuh ke pasar-pasar tradisional dan modern seperti yang selama ini telah berjalan.

Salah seorang petani yang terlibat sejak awal dalam proyek kebun wakaf produktif, Ade Seherlan, mengaku saat ini kembali semangat. Meskipun sempat merasa putus asa dengan nasibnya sebagai petani nanas.

Baca: Resmi Sebagai Nazhir Wakaf Uang, BMH Buka Program Wakaf Pendirian Rumah Sakit, Minimarket, dan Sekolah Unggulan

Bukan hanya karena ada bantuan berupa program wakaf produktif, namun, kata Ade, pola pikir semangat yang ditawarkan Laznas itu ada dasarnya. Yakni mereka dijelaskan dan dibimbing mengenai prospek industri nanas.

Ade mengatakan, proyek wakaf produktif yang melibatkan petani sangat jelas dan terasa hasilnya.

“Dulu petani enggak berdaya sama harga pasar. Tapi dengan kehadiran Dompet Dhuafa kita diberikan informasi yang luas, enggak bodoh-bodohi petani,” ucapnya.

Dengan bimbingan teknis yang diberikan, sarana permodalan, hingga bagian penerimaan hasil produk, Ade merasa ada harapan bagi para petani nanas, khususnya mereka yang ada di Desa Cirangkong ini.*

Rep: Yahya G Nasrullah

Editor:

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !