frontpage hit counter

Sedalam Samudra Hati Mbak Ana

Kondisi serba kontradiktif sejatinya mampu menghalau banyak galau di hati saya

Sedalam Samudra Hati Mbak Ana

Terkait

TERUNTUK rasa syukur kita yang tipis dan kian terkikis, saya kisahkan sebuah penggal kehidupan sederhana yang dalam. Sedalam kita memantik hikmah di belakangnya, sedalam itu pula saya harap keberkahan mengalir pada sungai kebahagiaan mereka.

Sebut saja Mbak Ana, perempuan paruh baya berputri 1 kelas 6 SD ini sudah 3 bulan menjadi ART paruh waktu di rumah saya. Mbak Ana, begitu saya menyebut nama samarannya, adalah tetangga teman sekantor suami saya. Sehingga kami merasa sedikit ada garansi tentang ART baru kami. Sebab cemas akibat ulah ART sebelumnya yang tertangkap tangan mencuri sejumlah uang belumlah sempurna hilang. Inilah kisahnya yang saya tulisa dalam bentuk cerita.

****

Gesit. Itu kesan pertama saya terhadap Mbak Ana. Beliau membereskan pekerjaan yang tidak saya limpahkan padanya. Seperti halnya mencuci, saya hanya membutuhkan tenaga Mbak Ana untuk mencuci tangan popok bayi dan pakaian kantor suami. Selebihnya bisa saya giling dengan mesin. Namun dihari pertama bekerja, betapa saya takjub mendapati pakaian di dalam mesin sudah dibereskan semua dengan tangannya. “Nggak apa, Mbak,” katanya ikhlas.

Lantai rumah pun menjadi kesat sebab tehnik mengepel yang sungguh saya tak sanggup melakukannya. Di bulan Ramadhan, saya mengingatkan Mbak Ana untuk tidak memforsir tenaga. Namun ia melakukan semua pekerjaan seperti biasa.
Hari libur yang saya beri di awal Ramadhan pun tak diambilnya. Bahkan pada 2 syawal (versi pemerintah) Mbak Ana sudah masuk. Dan terpaksa pulang sebab saya sungguh tak ingin merobek jalinan silaturahimnya dengan sanak saudara.

“Saya tak punya saudara, Mbak,” ceritanya satu kesempatan setelah syawal. Sembari menyetrika, saya ajak ngobrol Mbak Ana yang perantauan asal Jawa Tengah.

“Suami punya saudara kandung 1 tapi sepertinya sudah tak ingin bersaudara dengan kami yang miskin ini,” lanjutnya menceritakan sang ipar yang punya jabatan pada institusi Negara di Batam ini. Pikir saya, sombong betul pejabat ini.

“Mbak dan suami punya salah apa dengan mereka?”

“Nggak tahu, Mbak. Dulunya kan rumah kami depan-belakang. Ya itupun nggak kayak saudara. Saya operasi melahirkan pun mereka nggak menjenguk. Saya tanya suami katanya dia gak pernah ada masalah dengan saudaranya itu. Tau lah, Mbak.Makanya kami mending menjauh saja. Eh, kami pergi, malahan rumah kami dicaplok. Gak ijin pula, cuma nyuruh orang aja bilang ke kami,” jawabnya dengan nada sungguh biasa. Barangkali, perasaan Mbak Ana ini sudah melompong.

Lalu saya yang outsider ini tak habis pikir, bagaimana mungkin si saudara yang mampu, mencaplok rumah hasil kerja Mbak Ana dan suaminya. Sehingga sudah 12 tahun ini Mbak Ana menjadi kontraktor. Ngontrak sana-ngontrak sini. Jika diperbolehkan, rasanya ingin sekali saya meninjunya!

“Lha, dulu suami Mbak katanya kerja di Hotel, kenapa keluar?” sengaja saya putar topik agar tak terlalu membuat Mbak Ana mengenang yang suram.

“Nah, dulu kan suami saya punya guru, orang pinter gitu Mbak. Orang pinter itu bilang, kamu kerja di Hotel kan tahu Hotel itu tempat apa. Banyak maksiat di sana. Sekarang kamu punya istri sudah punya anak juga, apa kamu mau ngasi makan anak istrimu dari tempat yang kayak gitu. Gitu katanya, Mbak….” Saya manggut-manggut mendengar cerita Mbak Ana.

“Jadi suami saya mikir-mikir. Memang betul katanya. Dia tahu kalau hotel tempatnya kerja sering didatangi Pak K (seorang pengusaha kelas kakap di Batam) berikut gadis-gadis yang kinyis-kinyis. Itu kan maksiat. Tapi suami saya gak berani bilang ke saya sampai 3 hari dia gak bisa tidur. Waktu saya tanya ada masalah apa baru dia bilang, “Bu, kalau aku keluar dari hotel trus gak dapet kerjaan, cuma ngojek aja, apa Ibuk masih mau sama aku”? tanyanya begitu.

So weet banget, yah? Saya pikir dialog ini cuma ada di sinetron-sinetron, lho…

“Wah sayang banget padahal, ya Mbak…” pancing saya untuk mengetahui respon Mbak Ana tentang alih profesi menjadi ojekr ini.

“Gak papa lah, Mbak. Walau ngojek yang penting rejeki halal.” Jawabnya mantap. Menohok saya yang masih suka galau soal rejeki. Padahal kalau belum rejekinya, mungkin Allah kira-kira mau bilang ke saya…periksa lagi jalan rejekimu, kalau lurus tak mungkin nyasar!

Berbilang 12 tahun, saat ini, suami Mbak Ana masih tetap ngojek. Pun mereka masih kontraktor. Tetapi kebahagiaan mereka nyata. Anak semata wayang sungguh manis berbakti pada orangtua. Sama sekali jauh dari kesan anak jaman sekarang yang banyak tuntutan. Bahkan ia selalu mendapat peringkat terbaik pada tiap-tiap pembagian rapor di sekolah.

Sebagai hamba yang diberi lebih banyak kenikmatan oleh Allah, saya nyaris miris. Kondisi serba kontradiktif dengan keluarga Mbak Ana yang sejatinya mampu menghalau banyak galau di hati saya.

Hari ini, saya coba selami dalamnya samudra hati dari keluarga Mbak Ana yang tak kunjung membawa saya hingga ke dasarnya; keikhlasan…*/Dwi, Batam, November 2011

Rep: Cholis Akbar

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !