Home Wawancara


Dr. Anis Malik Thoha
 
Share |
"Menghubungkan NU Dengan Syiah Seperti Othak-Athik Gathuk"


 
Hadhratus Syaikh Hasyim Asy'ari sendiri tegas-tegas menolak Syi'ah
 

Kamis, 20 September 2012

SELASA kemarin (18/09/2012), bertempat di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Syiah telah meluncurkan buku putihnya yang berjudul “Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama yang Muktabar” dan mengadakan seminar “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam”. Dalam acara yang digagas oleh organisasi Syiah, Ahlulbait Indonesia (ABI), Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan. [baca:Mengaku Ada Kemiripan dengan NU, Syiah Ajak Waspadai Al Bayyinat]

Namun pendapat Muhsin ini dibantah mantan Khatib Aam Syuriah NU Cabang Istimewa Malaysia, Dr Anis Malik Thoha. Menurut kemenakan Kiai Sahal Mahfudz, ini, mengatakan NU sama dengan Syiah adalah sebuah pernyataan “Othak-Athik Gathuk” (dikait-kaitkan, red).
Seperti diketahui, Anis Malik Toha dikenal sebagai pakar masalah pluralisme agama dan sehari-hari  sebagai dosen Ilmu Perbandingan Agama pada International Islamic University, Malaysia (IIUM).

“Tidak bisa serta-merta menjadi justifikasi bahwa NU itu asalnya adalah Syi'ah,” ujar Anis yang juga penulis “Tren Pluralisme Agama” ini. Apa maksudnya? Berikut wawancara hidayatullah.com dengan Dr. Anis, Kamis (20/09/2012).

Benarkah klaim bahwa Islam Syafi'i adalah mazhab yang paling dekat dengan esoterisme dan Syiah, juga bahwa NU esoterismenya berwajah Syiah dan eksoteriknya berwajah Sunni. Juga dikatakan NU adalah proses untuk menggabungkan keduanya?

Sepanjang itu teori, ya saya rasa siapa saja boleh berteori. Tapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana teori itu dibangun, dan atas dasar apa?

Menurut Muhsin Labib, perkataan itu diambil dari ucapan Gus Dur?

Muhsin Labib itu siapa? dan Gus Dur itu siapa? Apakah ulama dan para kiai besar NU bisa membenarkan pendapat mereka?

Hidayatullah kemudian menjelaskan bahwa Muhsin Labib lulusan Qom, Iran dan Direktur Moderat Institute

Ya iya lah... karuan saja, wong dia digembleng di Qom, Iran. Logika dangkalnya, dia pasti cari-cari mana justifikasinya untuk mengatakan bahwa NU adalah Syi'ah. Kalau boleh saya katakan dalam istilah Jawanya, itu disebut  “Othak-athik gathuk” (ilmu  mengkait-kaitkan, red).

Kembali pada model “othak-athik gathuk” tadi, jelas itu tidak ilmiah. Saya sepenuhnya tidak bisa menerimanya. Di kalangan NU sendiri memang ada kecenderungan seperti itu. Khususnya orang-orang yang "ditokohkan" akhir-akhir ini. Gus Dur, adalah satu contoh model kalangan ini. Beliau tanpa tedeng aling-aling (terang-terangan, red) mengatakan bahwa banyak amalan-amalan ibadah NU itu berbau Syi'ah.

Saya sendiri bisa membenarkan adanya unsur-unsur Syi'ah dalam beberapa praktik ibadah (rites and rituals) NU. Tapi hal ini tidak bisa serta-merta menjadi justifikasi bahwa NU itu asalnya adalah Syi'ah. Banyak hal yang mesti diurai.

Contohnya seperti dalam syi’ir ini  لي خمسة أطفي بها حر الوباء إلخ  Pertama, dalam syi'ir ini tidak secara tegas (dalam tradisi NU, tentu) dinyatakan keyakinan akidah Syi'ah. Syi'ir ini hanya menurut saya hanya menegaskan keutamaan/posisi Ahlulbait Rasulullah. Tidak lebih dan tidak kurang. Dan setiap Muslim harus menghormati dan mencintai mereka. Jadi, ini tidak cukup untuk membuat kesimpulan bahwa NU itu Syi'ah atau bagian dari Syi'ah.

Kedua, sepengetahuan saya (bisa jadi saya salah), syi'ir ini mulai popular dilantunkan di masjid-masjid, langgar-langgar, mushalla-mushalla, pengajian-pengajian baru di kemudian hari (sekitar 70-an). Artinya sebelumnya "kurang" popular.

Ketiga, sejak berdirinya tahun 1926 garis panduan dasar (AD/ART) NU sangat-sangat jelas tidak ada sedikit pun kata-kata atau redaksi yang bisa ditafsirkan menyerupai kepercayaan Syi'ah. Bahkan Hadhratus Syaikh Hasyim Asy'ari sendiri tegas-tegas menolak Syi'ah.

Jadi, kalau kemudian hari cucunya, dan sebagian dari pengikutnya mencoba menarik-narik NU untuk diakurkan dengan Syi'ah tentu perlu dipertanyakan. Itulah yang saya  maksud "othak-athik gathuk" yang ternyata ndak gathuk juga (tidak nyambung, red).

Istilahnya  untuk mencari pembenaran ya pak?

Maksudnya ya itu tadi, mengotak-atik, mencari-cari sesuatu, pemikiran yang sebetulnya ndak ada saling keterkaitan antara satu dan lainnya, untuk kemudian bisa dipadukan dan menjadi sesuai.

Hanya saja perlu ditegaskan bahwa pendapat saya di atas bukan berarti menolak keberadaan mereka. Saya tetap berpendapat seperti yang selalu saya tekankan di dalam buku dan tulisan-tulisan saya dalam menyikapi perbedaan, pluralitas atau keragaman.*

Rep: Sarah Chairunisa
Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  N. Jamil , Kamis, 20 September 2012
setuju gus anis, memang tidak pernah gathuk NU dan Syi'ah, secara prinsip memang tidak sama, kok dipakasain mau sama, tapi soal furu'iyah dalam ibadah ada kemiripan itu mah gak masalah, NU juga mengenal ajaran sufi .. tapi sufi yang memuji dan menghargai seluruh sahabat Nabi, bukan menghujat ...
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

 
Info Anda
 
Busana Muslimah Syar'i

Pusat belanja online busana syar'i. Murah,berkualitas dan terpercaya.

http://www.deblishop.com/

https://www.facebook.com/DebliShop

 
Grosir Kaos Kaki

Kaos Kaki Muslimah, Kaos Kaki Wudhu dan banyak pilihan kaos kaki dengan HARGA GROSIR. Menerima pesanan Kaos Kaki Logo Sekolah.
http://grosirkaoskakionline.com, http://kaoskakisekolah.com

 
Mushaf Pena : Harga Obral

Al-Quran Elektronik, teknologi terbaru membantu Anda belajar membaca dan tadarus Al-Quran. Diskon Besar!

www.mushafpena.com

 
 
   Berita Wawancara Lainnya
  “Sebelum Konflik Tahun 2000, Umat Islam ...
  Mengapa Tuduhan Terorisme Tak Habis-habi...
  Apakah Karena Label “Teroris” Seseorang ...
  Tindakan Kurang Manusiawi, Tak Hanya di...
  Istilah “Teroris” jadi Kedok Proposal Pr...
  “Yang Membesarkan Al Mukmin Ngruki ya Me...
  Masalah Gaza dan Suriah adalah Perang Ak...
  Awasi RUU Jaminan Halal, Agar Rahmat All...
  “Kami Tidak Pernah Lari dari Kewajiban d...
  "Pemerintah Hendak Mengunci Langkah Orma...
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved