Home Jendela Keluarga

 
Share |
Setetes Darah Istri Tercinta


 

Sabtu, 05 November 2011

oleh: Mohammad Fauzil Adhim  

SUBUH itu kami baru saja menikmati sahur pertama bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba istri saya mengeluh sakit perutnya. Sempat muncul tanda tanya apakah istri saya akan melahirkan, tetapi kami sempat ragu karena HPL-nya masih 11 hari lagi. Agar tak salah penanganan, kami segera memeriksakan diri ke bidan terdekat di Tambak¬beras, Jombang. Ternyata, bidan Sri Subijanto melarang pulang. “Sudah bukaan lima,” kata Bu Sri.

Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.

Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki.

Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.

Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa beri¬kutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).

Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala meng¬gunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa ta¬kut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.

Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, “Anak yang dilahirkan dengan darah dan air¬mata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinis¬takan.” Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.

Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.

Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terben¬tuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia men¬dampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian.

Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?

Muhammad Fauzil Adhim, penulis buku-buku parenting

 


Red: Cholis Akbar

Share |
 
KOMENTAR
   
  Sumaryanto , Sabtu, 05 November 2011
Semoga menjadi anak yang sholehah tadz.. pengalaman menunggui istri melahirkan mirip dengan saya, bingung mau apa, kalau itu barang mungkin kita bisa gantian ngangkatnya. jadi yang bisa kita lakukan memegang tangan dan mendoakannya. kira-kira para istri senang tidak ya dengan kehadiran suami disampingnya saat melahirkan...
  
   
  Anang Dwijo Suryanto , Ahad, 06 November 2011
Sungguh kebahagiaan yang tak pernah saya rasakan selama menjadi suami, ... mendampingi istri saat melahirkan ...
  
   
  Nafis , Ahad, 06 November 2011
Afwan Admin itu foto ilustrasinya apa tidak ada yang lebih sopan?? Syukran
  
   
  Anna , Ahad, 06 November 2011
Alhmdulillah,dua anak sy lahir dgn ddampingi suami.Suungguh beruntung dan betapa bahagianya sy bs ddampingi oleh suami dsaat2 brjuang melawan maut dengan rasa sakit yg tiada terkira. Semua istri pasti sama perasaannya dgn sy, sangat bahagia dan menambah semangatnya untuk melahirkan anak dgn selamat.Kiranya semua suami dapat menyaksikan istri yng sedang berjuang melahirkan anaknya.
  
   
  Arifah , Senin, 07 November 2011
mewakili para ibu yg melahirkan dg didampingi suami....ya, melahirkan memang benar terasa lebih mudah, semangat dan entah mengapa rasa sakit jauuuh berkurang ketika suami mengelus tangan, punggung, kening dan berdoa bersama kita....subhanallah
  
   
  Faizah , Senin, 07 November 2011
Subhanallah, setuju dg bu Anna dan bu Arifah,saya jg mengalaminya,bahagia,tenang,jika ada suami disamping kita ketika mlahirkan,wahai para suami usahakan dengan sekuat tenaga untuk bisa mendampingi istrimu dikala mlahirkan
  
   
  Melly , Selasa, 15 November 2011
subhanallah...seneng'a bagi ibu2 yg melahirkn didampingi o'swami'a,,,,tp sy blm prnh merasakan itu,krn mmg swami sy tdk berani,lbh tepat'a tdk tega meliht sy dlm keadaan menahan rasa skit itu. tp gpp, yg ptg swami sy ttp syg dan perhatian dgn klrg kecil\'a....
  
   
  Amalia , Rabu, 16 November 2011
saya beruntung punya suami yang sangat mengerti kebutuhan istri. 2 anak saya lahir dengan didampingi suami... Ia melihat bagaimana saya berusaha melahirkan secara normal... Dengan mendampingi istri saat kritis itu,para suami akan lebih menghargai wanita...
  
 
KIRIM KOMENTAR ANDA :
     
  Nama
  Email
  Komentar Anda
  Kode Keamanan
 
CAPTCHA Image
   
 
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Hidayatullah.com. Redaksi berhak menghapus/menutup komentar yang berbau pelecehan, kasar, intimidasi, bertendensi SARA.

 

Info Anda
 
Sentra Haji Onh Plus Dan Umroh

Travel Murah Jakarta, Haji ONH Plus. Umroh plus, liburan, ramadhan, idul fitri. Segera dapatkan layanan terbaik kami 021-70985599
www.sentrahaji.com

 
19 Video Debat Islam-kristen

Plus 4.000 artikel Islami, 6.000 kitab ulama, serta nasyid walimah dan jihad. Kunjungi sekarang!

www.digitalhuda.com

 
 
   Berita Jendela Keluarga Lainnya
  Biarkan Anak Kita Tumbuh dan Berkembang!
  Wanita-Wanita Terhormat Pilihan Islam [1...
  Kemuliaan Wanita; Antara Pandangan Femin...
  Kemuliaan Wanita; Antara Pandangan Femin...
  Faktanya, Kita Belum Bisa Melindungi Mus...
  Wahai Muslimah, Jadilah Pendukung Dakwah...
  Sepuluh Pesan Al Qarni untuk Muslimah
  Muslimah dan Jihad Wanita Masa Kini
  Nyatakan Cinta dengan Bicara
  Karena Anak Perlu Sentuhan Jiwa
Kontak Kami   |  Tentang Kami   |  Iklan   |  
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved