frontpage hit counter

A Riawan Amin

“Jangan Sampai yang Masuk Bank Muamalat Membelokkan Nilai-nilai Islam”

Apakah Bank Muamalat sekarang tepat dianggap milik umat? "Secara formal masih," jawab Riawan Amin, mantan Dirut Utama Bank Muamalat.

“Jangan Sampai yang Masuk Bank Muamalat Membelokkan Nilai-nilai Islam”
muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
Mantan Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia (BMI), A Riawan Amin, dalam rapat terbatas terkait Bank Muamalat di Polonia, Jakarta Timur, Senin (16/10/2017).

Terkait

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BMI) menjadi perhatian nasional setelah Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) akan mengakuisisi saham mayoritas Bank Muamalat.

Akan masuknya PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk sebagai investor utama membuat banyak pihak cemas, ada yang masih bingung, tapi ada juga yang gembira.

Hidayatullah.com menemui mantan Direktur Utama Bank Muamalat periode 1999-2009 A Riawan Amin di Restoran Al-Jazeera, Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur, Senin, 16 Oktober 2017 untuk membahas masalah ini. Inilah petikannya.

Apakah Bank Muamalat akan tetap jadi kebanggaan umat Islam?

Ya sebetulnya yang paling basic (dasar), kita tuh, kan, senang bahwa Islam itu menjadi nilai yang dipakai oleh siapapun. Basic-nya itu dulu. Islam bukan hanya untuk orang Islam, Islam untuk dunia. Tetapi juga kita harus berhati-hati jangan sampai yang masuk (ke Bank Muamalat) itu malah membelokkan nilai-nilai Islamnya gitu.

Jadi, kalau umat ini khawatir, yaitu saya pikir suatu yang wajar saja. Hanya bukti cinta saja kepada bank syariah.

Apakah mungkin ada perubahan di Bank Muamalat saat Minna Padi masuk? Perubahaan seperti apa?

Makanya itu yang gelap. Yang bikin umat resah karena gelapnya itu. Kita enggak tahu, umat mungkin enggak tahu. Sebagai arranger (mengatur) ini sudah punya buyer (pembeli saham, Red) atau belum, dan kalau misalnya sudah punya buyer, buyer-nya siapa saja?

Kan, itu yang sebetulnya membuat masyarakat, umat Islam agak resah. Karena tidak tahu siapa nantinya akhirnya yang akan memiliki Bank Muamalat.

Baca juga: Inilah Calon Investor Pembeli Bank Muamalat

Dengan mayoritas saham PADI jika itu terjadi, apakah Bank Muamalat sekarang tepat dianggap milik umat?

Secara formal masih. Kalau kita menyatakan bahwa… Saya ingat sekali waktu IDB pertama kali masuk, kita ini sudah sepakat semua, bahwa IDB itu yang sekarang juga pemegang saham utama Bank Muamalat, tidak diklasifikasikan sebagai asing.

Kenapa?

Karena Islamic Development Bank pemegang sahamnya adalah negara-negara Islam. Jadi seperti OKI (Organisasi Kerjasama Islam, Red) gitu. Ini Islamic Development Bank (IDB).

IDB dimiliki oleh negara-negara OKI termasuk Indonesia. Menteri Keuangan RI adalah (salah satu) Gubernur IDB (Disampaikan Riawan pada rapat terbatas di tempat yang sama. Indonesia merupakan salah satu negara pendiri IDB dengan kepemilikan saham sebesar 2,25 persen, Red).

Nah, saat ini yang masih mayoritas adalah IDB, Islamic Development Bank. Yang dua lagi dari Timur Tengah mayoritas, tapi ya itu swasta.

Bagaimana seharusnya umat menghadapi isu-isu sekarang ini terkait Bank Muamalat, seperti isu LIPPO, isu China, dan pribumisasi sebagainya?

Saya mohon maaf kalau pernyataan saya enggak enak. Umat ini, kan, kerjanya dari tercengang menjadi terperanjat, kemudian tercengang lagi, dan terperanjat lagi.

Jadi memang, kita harus introspeksi dirilah. Kita ini sebagai umat itu bagaimana. Kita semua. Kalau enggak yah, semakin lama semakin tergerus.

Contohnya, siapa yang merepresentasikan umat? Secara demografis 85 persen memang adalah umat Islam. Tapi siapa yang kepalanya benar-benar isinya Islam? Kita enggak tahu.

Baca juga: Mantan Dirut BMI Optimistis, Bank Muamalat akan Bertahan

Ada yang berwacana, biarkan Bank Muamalat mati, kita buat lagi yang baru lebih syar’i? Bagaimana ini?

Makanya, itu yang saya pesankan. Semua orang bertanya, apa yang terjadi? Kalau saya enggak akan terlalu penting apa yang terjadi. (Tapi) kenapa yang terjadi? Kenapa terjadi? Supaya ke depannya kita tidak mengulangi problem-problem yang sama.

Karena saya memulai kepemimpinan saya tahun 99, dalam kondisi sekarat. Sekarat pertama, tapi sekarat pertama itu penjelasannya mudah. Krisis moneter. Nah, kalau udah naik, udah bagus, tiba-tiba sekarat lagi, harus ada penjelasan. Kenapa sekarat jilid kedua?

Kalau enggak kita pelajari kenapa, ya nanti ada menyusul sekarat nomor tiga.

Dengan pertolongan Allah, insya Allah (Bank Muamalat) selamat. Tapi setiap penyelamatan ini, kan, menghabiskan resale system-nya yang mestinya bisa mengembangkan tempat lain, bisa ke sana, bisa ke sini, cuman ngurusin beginian aja.

Bagaimana menghadapi umat saat ini, kabarnya ada yang gamang, bahkan ada yang ingin menarik depositonya dari Bank Muamalat?

Jangan! Jangan! Yang paling bisa kita lakukan saat ini…. Karena gini, bank ini tidak akan, insya Allah menurut saya, tidak akan runtuh, cuma risikonya berdampak kurang berkembang, gitu aja. Tapi dia tidak akan bangkrut, insya Allah.

Paling sedikit kalau kita tidak beli sahamnya nanti, setidak-tidaknya jangan mencabut depositonya-lah, karena nanti runtuhnya karena likuiditas, karena deposito ilang. Bukan karena masalah-masalah lain.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !