Wawancara – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 “Muhammadiyah Ingin Lebih banyak Memberi, bukan Meminta” [2] http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/08/14/148566/muhammadiyah-ingin-lebih-banyak-memberi-bukan-meminta-2.html Tue, 14 Aug 2018 10:37:36 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=148566

Muhammadiyah tak mempunya penilaian pada Jokowi, juga Muhammadiyah tidak hendak meminta jabatan apapun termasuk menteri dalam kabinet

The post “Muhammadiyah Ingin Lebih banyak Memberi, bukan Meminta” [2] appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Sambungan wawancara Pertama

Apakah harus dengan masuk ke partai politik dan menjadi pejabat negara?

Sekali lagi Muhammadiyah tidak hendak merubah dirinya menjadi partai politik, berafiliasi formal, atau menjadi subordinat partai politik. Muhammadiyah akan senantiasa berusaha bersikap netral dan menjadikan dirinya sebagai rumah besar yang mengayomi semua kader yang berbeda-beda partai politik.

Muhammadiyah lebih menekankan politik nilai dan high politic yaitu politik yang menekankan makna, substansi, dan keadaban.

Tanpa harus berkuasa, Muhammadiyah berusaha menjalin komunikasi dan kerjasama dengan siapapun yang diberikan amanah dan kesempatan memegang kekuasaan. Dengan kekuatan jaringan dan sumberdaya, Muhammadiyah berusaha menyampaikan gagasan kemajuan dan cita-cita bangsa melalui lembaga ekalsekutif, legislatif, dan lembaga negara yang syah dalam negara Republik Indonesia.

Pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bersilaturahim ke Gedung Dakwah Muhammadiyah di Menteng, Jakarta, Senin (13/08/2018) malam. Tampak Sandi didamping Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan jajaran PP Muhammadiyah sebelum Prabowo tiba di lokasi

Dalam Pilpres 2019, Muhammadiyah mendukung Prabowo-Sandi atau Jokowi-KH Ma’ruf?

Secara kelembagaan, Muhammadiyah tidak terlibat dan tidak hendak melibatkan diri dalam dukung mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden yang manapun. Muhammadiyah memberikan kebebasan kepada para anggotanya untuk menentukan pilihan yang terbaik dengan  pertimbangan rasional dan sesuai dengan hati nurani.

Muhammadiyah juga tidak memberikan penggiringan baik secara langsung atau tidak langsung untuk mendukung pasangan calon tertentu. Kalau terdapat anggota Muhammadiyah yang terlibat, hal itu merupakan sikap pribadi sebagai warga negara Indonesia.

Baca: Muhammadiyah-NU: Perbedaan Politik Jangan jadi Sumber Perpecahan

Karena itu fasilitas Muhammadiyah dan amal usahanya tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan kampanye partai politik maupun pilihan presiden dan wakil presiden.

Akan tetapi, Muhammadiyah memberikan panduan agar dalam menentukan mempergunakan pertimbangan ideologis dan strategis dengan menjauhi pertimbangan pragmatis dan berbagai bentuk politik  transaksional. Warga Muhammadiyah hendaknya menjaga ketertiban, keamanan, dan sikap toleransi dan saling menghormati diantara mereka yang berbeda pilihan.

Bagaimana penilaian Muhammadiyah terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi?

Muhammadiyah tidak memiliki penilaian resmi terhadap kepemimpinan Pak Jokowi. Semua warga Muhammadiyah memiliki penilaian subyektif masing-masing.

Yang paling berhak memberikan penilaian adalah partai politik dan lembaga-lembaga politik, terutama partai pengusung. Banyak penilaian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei. Silakan itu dikaji oleh masyarakat.

Bagaimana penilaian Muhammdiyah terhadap sosok Prabowo?

Muhammadiyah juga tidak memiliki penilaian khusus terhadap Pak Prabowo. Sangat subyektif. Sebagai manusia dan pemimpin tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada yang sempurna.

Baca: Enam Masukan Muhammadiyah untuk Prabowo-Sandi 

Walau demikian, sebaiknya kita menilai seseorang dari sisi kelebihannya bukan kekurangan. Kita harus belajar saling menghormati dan memuliakan.

Apa jatah yang diminta Muhammadiyah pada pasangan capres/cawapres yang terpilih nanti?

Muhammadiyah tidak hendak meminta jabatan apapun termasuk menteri-menteri dalam kabinet.  Sebagian masyarakat berpendapat karena banyaknya jumlah sekolah, perguruan tinggi, dan rumah sakit maka sangatlah tepat apabila jabatan menteri terkait dipercayakan kepada kader Muhammadiyah.

Sejak dahulu, Muhammadiyah konsisten mendukung reformasi birokrasi dan meritokrasi. Muhammadiyah mendorong agar pemerintahan dan pemerintah berlaku adil dan obyektif tidak sektarian dan komunal. Alan tetapi, apabila terdapat kader Muhammadiyah yang dipercaya menjadi menteri, semuanya merupakan hak prerogratif presiden. Muhammadiyah memberi kesempatan kepada warganya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara serta bekerja secara profesional.

Apa imbauan Muhammadiyah kepada umat dalam tahun politik ini?

Muhammadiyah mengharapkan agar umat Islam dan masyarakat pada umumnya dapat menyukseskan Pemilu 2019, baik pemilihan anggota legislatif. Dalam menentukan hendaknya menghindari dan meninggalkan semua bentuk politik uang, SARA, dan berbagai bentuk politik identitas. Hendaknya saling menghormati dan menjaga ketertiban serta keamanan dan kerukunan.*/Andi

The post “Muhammadiyah Ingin Lebih banyak Memberi, bukan Meminta” [2] appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
148566
“Muhammadiyah Ingin Lebih banyak Memberi, bukan Meminta” [1] http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/08/14/148564/muhammadiyah-ingin-lebih-banyak-memberi-bukan-meminta-1.html Tue, 14 Aug 2018 10:25:47 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=148564

Muhammadiyah memilih pendekatan high politic yang mengedepankan nilai, norma,  substansi, dan keadaban

The post “Muhammadiyah Ingin Lebih banyak Memberi, bukan Meminta” [1] appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hingga hari ini, usia organisasi Muhammadiyah melebih usia Bangsa Indonesia, berusia 106 tahun. Bahkan ketika banyak lembaga berebut kue politik di arena Pilpres 2019, Muhammadiyah salah satu organisasi yang tetap tenang, tidak ikut menujukkan kegaduhan. Apakah ini tanda-tanda organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini sudah mulai alergi politik?

hidayatullah.com secara khusus mewawancari Sekretaris Umum Muhamamdiyah, Dr Abdul Mu’ti, Senin (13/08/2018). Inilah petikannya.

Muhammadiyah kelihatannya diam-diam saja di Pemilu kali ini, mengapa?

Sesuai dengan khittah dan kepribadian, Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam yang bergerak dalam bidang sosial, keagamaan, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Muhammadiyah tidak bergerak dalam wilayah politik kepartaian yang berorientasi jabatan dan kekuasaan.

Muhammadiyah memahami bahwa sesuai UUD 1945, pencalonan presiden dan wakil presiden merupakan wewenang partai politik. Muhammadiyah tidak hendak memasuki wilayah yang bukan bidang dan kewenangannya.

Diamnya Muhammadiyah bisa tidak dapat peran?

Dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan terdapat berbagai bidang yang merupakan wilayah Pemerintah, Masyarakat, dan Lembaga-lembaga Negara. Semuanya diatur sesuai Undang-undang dan norma-norma.

Sejak awal Muhammadiyah memilih mengambil peran kebangsaan melalui pelayanan sosial dan pemberdayaan. Peran tersebut tidak kalah penting dan sangat bermakna dibandingkan dengan kekuasaan dan jabatan politik.

Baca: Sekum Muhammadiyah: Politik untuk Kepentingan Agama itu Penting 

Slogan Muhammadiyah adalah sedikit bicara, banyak bekerja. Muhammadiyah ingin lebih banyak memberi, bukan meminta. Memang tidak selalu mudah. Tetapi dengan visi yang kuat dan kemandirian, Muhammadiyah tetap memiliki peran dan pengaruh di masyarakat tanpa harus berkuasa.

Muhammadiyah tidak berebut peran dalam politik praktis, apa anti politik?

Politik merupakan salah satu sarana dakwah yang penting. Muhammadiyah memilih pendekatan high politic yang mengedepankan nilai, norma,  substansi, dan keadaban. Politik praktis dan politik kepartaian bukan bidang garap dan amal usaha Muhammadiyah.

Muhammadiyah tidak anti partai politik. Tapi warga Muhammadiyah yang memiliki kemampuan berpolitik diberikan kesempatan bahkan didorong untuk bisa berkiprah dan berdakwah melalui partai politik. Dalam hubungan dengan partai politik, Muhammadiyah membangun hubungan yang proporsional berdasarkan kesamaan visi untuk kepentingan dan kemajuan umat dan bangsa. Hubungan tersebut tidak bersifat formal, tetapi lebih merupakan sinergi sesuai kedudukan dan  kewenangan masing-masing. Muhammadiyah tidak akan melakukan langkah politik  melampaui kewenangan partai politik.

Baca: Muhammadiyah: Kontestasi Politik Tak Perlu Ciptakan Permusuhan

Muhammadiyah memiliki jamaah besar dan punya andil dalam sejarah. Bagaimana cara Muhammadiyah agar tak merasa ditinggal?

Muhammadiyah senantiasa berusaha menjaga khittah, kepribadian, dan persatuan. Muhammadiyah senantiasa menjaga soliditas gerakan dan solidaritas kemanusiaan.

Dalam kaitan dengan politik, Muhammadiyah memberikan kesempatan dan kebebasan kepada anggotanya untuk aktif dalam berbagai partai politik dan berbagai lembaga profesi.  Muhammadiyah sebagai Organisasi tidak kemana-mana, tetapi bisa berada dimana-mana. Peran politik Muhammadiyah dilakukan melalui para kadernya.

Bagaimana Muhammadiyah memandang politik?

Dalam pandangan Muhammadiyah, politik baik sebagai institusi, proses, maupun perilaku merupakan sesuatu yang mulia. Politik merupakan lembaga yang sangat penting dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan.

Jika dilandasi oleh akhlak dan niat yang tulus untuk melayani masyarakat, politik merupakan sarana utama dalam membangun peradaban bangsa. Politik terkesan kotor dan jahat karena motivasi dan pelaksanaannya sangat berorientasi pada kekuasaan. Politik identik dengan kecurangan dan keculasan.

Bagi Muhammadiyah politik adalah bagian dari dakwah dalam ranah kenegaraan. Di dalam berpolitik hendaknya senantiasa dilandasi oleh akhlak al karimah. Para politisi hendaknya menjaga amanah dan menjadikan politik sebagai sarana meraih kemuliaan.* >>> Bersambung

Muhammadiyah tak punya penilaian terhadap Jokowi….

The post “Muhammadiyah Ingin Lebih banyak Memberi, bukan Meminta” [1] appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
148564
Wawancara Rabi David Rosen dengan Yahya C Staquf http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/06/12/144086/wawancara-rabi-david-rosen-dengan-yahya-c-staquf.html Tue, 12 Jun 2018 06:41:18 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144086

Yahya C Staquf memandang penjajahan ‘Israel’ di Bumi Palestina sebagai ‘konflik’. Ia menawarkan konsep ‘rahmah’ kepada Zionis-Israel

The post Wawancara Rabi David Rosen dengan Yahya C Staquf appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com–Konferensi tahunan Forum Global AJC (Komite Yahudi Amerika) yang dihadiri Katib Aam Suriyyah  (Sekjen) PBNU Yahya C Staquf digelar di Yerusalem (Baitul Maqdis) selama hari Ahad –  Rabu (10-13 Juni 2018).  Namun kehadiran Yahya adalah acara tahunan penting organisasi Yahudi yang  dihadiri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu banyak mendapat kecaman masyarakat Indonesia, juga organisasi pembebasan Baitul Maqdis di Palestina.

Benarkah apa yang disampaikan Yahya akan berdampak pada bebasnya Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha? Ataukah sebaliknya, kehadirannya justru menjadi legitimasi atas penjajah Zionis-‘Israel’? Inilah petikan Yahya C Staquf (Yahya) yang diwawancarai Direktur Forum Global AJC Rabi David Rosen (David). Inilah petikan pikiran Yahya C Staquf yang menawarkan “rahmah” pada ‘Israel’, yang diterjemahkan secara bebas oleh Nashirul Haq AR.

David: Selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik dari salah satu guru terbaik yang pernah ada, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dan AJC sudah berhubungan dengan Gus Dur sejak 20 tahun lalu. Gus Dur juga bicara di acara seperti ini, 16 tahun lalu. Ia juga pernah mengunjungi ‘Israel’ sebanyak 3 kali. Lalu Anda sekarang mengikuti jejaknya. Bagaimana perasaan Anda? 

Yahya: Terima kasih atas kesempatan ini. Adalah sebuah keberuntungan bagi NU bahwa Gus Dur meninggal dunia dengan meninggalkan murid-murid yang kemudian tumbuh dan mengikuti jejaknya. Apa yang selama ini saya saya dan rekan2 saya lakukan hanyalah sebatas melanjutkan pekerjaan dari Gus Dur.

David: Tapi ini bukan sekedar ketersambungan. Kehadiran Anda di sini memiliki signifikasi tersendiri di mata dunia. Bagaimana Anda memaknai hal ini?

Baca: Inilah Acara Organisasi Yahudi Dihadiri Benyamin Netanyahu dan Yahya C Staquf

Yahya: idealisme dan visi yang dimiliki oleh Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dan oleh karenanya tidak bisa dicapai secara instan. Gus Dur telah menjalankan perannya dalam mewujudkan visi tersebut, dan kini adalah giliran murid-murid beliau di generasi ini untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kami merasa beruntung, sebab berkat Gus Dur, kami telah mencapai titik tertentu di mana kami bisa melihat arah yang lebih jelas di depan kami.

DAVID: Dalam pidatonya di Forum AJC di Washington, Gus Dur bicara tentang hubungan yang istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Bagaimana Anda memandang hubungan ini? 

Yahya:  Hubungan antar Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri. Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama, baik Islam maupun Yahudi perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata, dan kedua menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain.

DAVID: Jadi, Anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Quran dan Hadis—sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi—adalah sesuatu yang mungkin dilakukan? 

YAHYA: Bukan hanya “mungkin”, tapi ini sesuatu yang “harus” dilakukan. Karena setiap ayat dari Quran diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Quran dan Hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula.

Baca: BDS Sebut Kunjungan Yahya Cholil Staquf Memalukan

 

DAVID: Lalu, Anda dan Gus Dur selalu menekankan pentingnya memerangi ekstremisme dan mempromosikan pendekatan yang lebih humanis. Apakah menurut Anda Indonesia memiliki sesuatu yang bisa diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal ini? 

YAHYA: Ini bukan tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Karena Indonesia sendiri bukannya sudah terbebas dari masalah. Kami memiliki masalah kami sendiri. Kami memang memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogan, tapi kami masih punya banyak masalah terkait agama, termasuk Islam.

Apa yang kita hadapi saat ini, apa yang seluruh dunia hadapi saat ini adalah sebuah situasi di mana konflik terjadi di seluruh dunia, dan di dalam konflik-konflik ini, agama hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik. Sekarang saatnya kita bertanya, “Apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?” Jika kita ingin hal ini berlanjut, konsekuensinya jelas: tidak ada yang bisa bertahan hidup di dalam kondisi seperti ini. Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus merubah cara kita mengatasi persoalan.

Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kita, kaum beragama, mesti bertanya pada diri kita sendiri, apakah ini benar-benar fungsi yang sebenarnya dari agama? Atau apakah ada cara lain yang memungkinkan agama berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk menemukan solusi dari semua konflik ini?

Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah. Saya akan menggunakan metafora “obat macam apa pun tidak akan bisa menyembuhkan pasien diabetes atau jantung, selama si pasien tidak mau merubah gaya hidupnya”.

Baca:  Gerakan Perlawanan Islam Palestina Kecam Kehadiran Yahya C Staquf ke Israel

Salah satu ayat dalam Quran juga menyebutkan “innallaha laa yughayyiru maa bi qaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim” yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Selama ini kita selalu terlibat dalam konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekuasaan, apapun itu, dengan tujuan untuk mengalahkan pihak lain. Dan pada akhirnya, kita bahkan tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula, dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan.

Bagi saya, yang tersisa saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan mendasar yang bisa memberi kita solusi nyata. Pilihan itu adalah apa yang kita sebut dalam Islam sebagai “Rahmah”. Rahmah berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Kita “harus” memilih Rahmah, karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan.

Jika kita memilih Rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan. Karena keadilan bukan hanya merupakan sesuatu yang kita inginkan, tapi juga tentang kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain. Jika seseorang tidak memiliki Rahmah, tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, orang ini tidak akan pernah mau memberi keadilan untuk orang lain. Jadi, jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia; “Mari memilih Rahmah”. 

DAVID: Konsep Rahman dan Rahim memiliki kemiripan dalam Yahudi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dan Yahudi sejatinya memiliki kedekatan dalam spirit dan tradisi keagamaan. Pak Yahya, kami berterimakasih banyak atas seruan Anda untuk memilih Rahmah, dan kami harap Anda mampu menjadi inspirasi bagi muslim di seluruh dunia, dan kita harap kita bisa mencapai rekonsiliasi dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Dan AJC akan selalu berusaha menjalani peran untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian sejati.*

The post Wawancara Rabi David Rosen dengan Yahya C Staquf appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144086
Ulama Kita Tidak Pluralis dan Tidak Liberal http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/04/30/141522/ulama-kita-tidak-pluralis-dan-tidak-liberal.html Mon, 30 Apr 2018 07:11:57 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=141522

Posisi Imam ar-Razi dalam dialog antaragama jelas: Islamlah agama yang benar

The post Ulama Kita Tidak Pluralis dan Tidak Liberal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BELUM lama ini, peneliti senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr Syamsuddin Arif melakukan riset ilmiah di Universitas Oxford, sebuah universitas tertua dan terbaik di Inggris, tentang pola hubungan Islam Kristen zaman dahulu dalam bentuk dialog dan debat sebagaimana diperlihatkan Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Munâzarah fi ar-Radd ala al-Nashâra.

Hasilnya mengejutkan, menurut penyabet gelar doktoral dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) dan mantan Profesor Madya di Universitas Teknologi Malaysia ini, para ulama muktabar bukankan memiliki pandangan yang pluralis, relativis dan tidak pula liberal.

Di bawah ini petikan wawancara dengan alumnus Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur dengan wartawan hidayatullah.com, Andi R.

Baru-baru ini Anda telah melakukan riset di University of Oxford, berapa lama dan apa bentuk nya?

Berdasarkan surat tawaran, saya diminta berada di sana selama tiga musim belajar, yakni selama Michaelmas Term, Hilary Term dan Trinity Term. Maka izin tinggal pun diberikan mulai Oktober 2017 hingga Agustus 2018. Namun karena satu dan lain hal saya persingkat menjadi dua musim saja. Alhamdulillah, riset tersebut selesai di pekan kedua Maret kemarin.

Mengapa jauh-jauh ke Oxford?

Oxford merupakan universitas tertua dan terbaik di Inggris, khususnya dalam bidang teologi, filsafat dan studi ketimuran. Dengan fasilitas yang melimpah dan mudah di-akses, jaringan perpustakaan Bodleian adalah sorga bagi para peneliti. Segala macam bahan rujukan dalam berbagai bentuk, bermacam-macam bahasa, terutama jurnal-jurnal ilmiah langka dan buku-buku kuno semua tersedia. Atmosfer akademik yang terbuka, serius tapi nyaman juga menjadi daya tarik kuat bagi para peneliti yang perlu penyegaran intelektual dan pengisian ulang — refreshing dan recharging.

Baca:  Dr Syamsuddin Arief: “Tak Mungkin Belajar Islam pada Orang Junub

Anda mengerjakan riset ini sendiri atau bersama tim?

Kebetulan itu penelitian sendiri. Dananya sebagian dari pribadi dan sebagian lagi dari Oxford Centre for Islamic Studies yang bertindak sebagai lembaga tuan rumah (host institution). Ada sekitar 10 orang peneliti (research fellows) dari berbagai negara dengan bidang ilmu berbeda-beda yang mendapat kesempatan riset setiap tahunnya di sana. Ada yang meneliti sistem keuangan Islam, fiqih Hanafi, demokrasi pasca-Sovyet, hingga seni Islam dalam arsitektur dan keramik China. Para peneliti memperoleh akses ke semua fasilitas kampus termasuk ruang kerja lengkap dengan komputer dan sebagainya.

Apa yang Anda riset?

Penelitian saya tentang pola hubungan Islam Kristen zaman dahulu dalam bentuk dialog dan debat sebagaimana diperlihatkan Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Kitab Munâzarah fi ar-Radd ala al-Nashâra.

Yang saya teliti adalah naskah kitab tersebut, isi kandungan dan konteks intelektualnya. Dengan pendekatan filologis, komparatif dan filosofis. Saya telusuri sejarahnya dan saya ungkap kaitan antara teks dan konteks. Namun fokus saya terutama adalah berbagai argumentasi yang beliau kemukakan dalam kitab tersebut untuk membantah keyakinan orang-orang Kristen mengenai trinitas, ketuhanan dan penyaliban Yesus.

Untuk mengetahui otentisitas kitab tersebut saya menempuh dua cara. Pertama, melalui koroborasi internal, mencari apakah kitab itu disebutkan ataukah tidak di dalam karya beliau yang lain. Kedua, dengan cara koroborasi eksternal, mencari apakah karya itu disebut atau dikutip oleh penulis lain pada masanya atau zaman sesudahnya. Terungkap secara internal memang disebutkan oleh Ar-Razi dalam Kitab Tafsir Kabir-nya dan secara eksternal disebut oleh Abu Ali al-Sakuni pada abad kedelapan Hijriah. Dengan demikian, keaslian buku ini terkonfirmasi.

Apa yang menarik dari hubungan Islam dan Kristen?

Masalah hubungan Islam dan Kristen telah, masih dan akan terus dibicarakan orang. Sejak tahun 90-an, semakin sering kita dengar seruan agar umat Islam bersikap inklusif, menerima pluralisme agama dan mengikuti dialog antaragama. Lembaga-lembaga pemerintah maupun ormas-ormas Islam banyak yang setuju dan terbawa arus pluralisasi ini.

“Kita mesti bersikap baik, benar dan adil kepada umat agama lain, tanpa perlu menjadi inklusif pluralis atau relativis!,” ujar Syamsuddin Arif

Nah, riset saya itu merupakan upaya kecil untuk melawan arus sekaligus mengingatkan masyarakat akan pedoman dan teladan para ulama dan generasi salaf kita dalam hubungan antaragama. Bahwa kita mesti bersikap baik, benar dan adil kepada umat agama lain, tanpa perlu menjadi inklusif pluralis atau relativis!

Apa hubungannya dengan masalah yang ada di Indonesia saat ini?

Jelas ada. Indonesia kan sudah lama menjadi target misionaris. Berbagai modus Kristenisasi melalui pendidikan (sekolah dan universitas, seminari dan kolese), ekonomi maupun budaya berlangsung aktif dan masif di seantero negeri mayoritas muslim ini.

Baca: Adab Murid terhadap Guru dari Imam Fakhruddin Ar Razi

Sementara itu, para cendekiawan dan tokoh-tokoh masyarakatnya dibuat tak nyaman di negeri sendiri. Banyak yang malu dan minder mengaku Islam. Tidak “pede” dengan identitas keislaman. Akhirnya menjadi pluralis dan relativis, menganggap semua agama benar. Dan cenderung sekuler liberal dalam soal agama. Harapan saya, melalui riset tersebut, umat Islam akan paham bagaimana cara bersikap dan bertindak yang benar dengan umat agama lain.

Studi yang dilakukan oleh Ar-Razi patut kita jadikan model khususnya di perguruan tinggi. Pendekatannya komparatif dan filosofis. Artinya, disamping ada usaha perbandingan, Imam ar-Razi juga menganalisa dan meneliti obyek risetnya secara logis dengan mengkritisi doktrin-doktrin dan konsep-konsep dalam agama Kristen.

Walaupun sekilas tampak apologetis, isinya dengan jelas menayangkan keterbukaan untuk dialog dan kejujuran untuk menguji kebenaran secara logis.

Apa kendala dalam riset ini?

Ibarat jalan, riset merupakan lorong yang sepi. Ini karena ketika riset kita harus menempuh perjalanan intelektual yang panjang berliku bahkan mendaki. Banyak orang yang tidak kuat menanggung derita riset, apalagi jika tidak ada sponsor, mesti pakai uang sendiri, tinggal sendiri berbulan-bulan di negeri orang, jauh dari keluarga, istri dan anak-anak, belum lagi persoalan imigrasi, urusan sewa rumah, dan sebagainya yang cukup menyita waktu dan pikiran. Bahasa juga bisa menjadi kendala, di samping bahan rujukan yang kadang susah didapat.

Hubungan Islam – Kristen sudah banyak diteliti, apakah ada temuan baru dalam riset Anda?

Penelitian saya berusaha mengangkat bukti tekstual dan fakta historis pola hubungan antaragama yang terjadi di kalangan cendekiawan pada Abad Pertengahan.

Ternyata hipotesis saya benar, bahwa para ulama kita itu tidak pluralis, tidak relativis, dan tidak liberal, meskipun mereka sangat humanis, filosofis, dan rasional. Berbeda dengan cendekiawan muslim kita “jaman now” yang gampang terbius oleh jargon-jargon kosong, hanyut dalam arus wacana Barat yang mengelirukan dan menyesatkan. Analisis kitab ar-Razi yang saya teliti itu menunjukkan bagaimana dialog antaragama seharusnya dilakukan. Yakni dengan niat berdakwah dan bermujadalah secara santun. Bahkan posisi ar-Razi dalam dialog antaragama jelas: Islamlah agama yang benar.

Baca: Muslim Tak Perlu Radikal dan Liberal

Bagaimana tanggapan orang Barat melihat hasil ini?

Dari sejumlah pertanyaan ada tiga penting yang saya anggap penting. Pertama, soal ketulusan Imam ar-Razi. Saya percaya ulama sekaliber beliau bukan seorang pembohong yang pengecut. Meski bukan hasil transkripsi, kitab tersebut merekam poin-poin perdebatan apa adanya. Sebaliknya, kalau kita meragukannya, maka kecurigaan kita itu mencerminkan ketidakjujuran diri kita sendiri.

Kedua, tergolong jenis apakah kitab tersebut, akademis atau apologetis, ilmiah atau polemik? Pertanyaan ini dilemma palsu yang saya tidak ingin jatuh ke dalam perangkapnya. Bagi saya, kitab tersebut bersifat akademis dan apologetis sekaligus, tergolong polemik tetapi juga ilmiah. Mengapa tidak?

Ketiga, soal intensi pengarang. Apakah motivasinya untuk mencerahkan atau mengalahkan, menjelaskan atau menjatuhkan. Dan apakah kita sebagai pembaca karya ini sekarang dapat memahami maksudnya dengan benar dan tepat.

Apakah hasil kongkrit dari riset Anda ini?

Insya Allah akan saya terbitkan dalam bentuk buku (monograf) supaya bisa diketahui dan dinikmati oleh khalayak yang lebih luas.*

The post Ulama Kita Tidak Pluralis dan Tidak Liberal appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
141522
Wawancara Yvonne Ridley: Korban-korban Perkosaan Gerombolan Assad Bicara http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/03/19/138218/wawancara-yvonne-ridley-korban-korban-perkosaan-gerombolan-assad-bicara.html Mon, 19 Mar 2018 04:45:52 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=138218

40 tahun sebagai wartawan, ia mewawancarai banyak tawanan tapi tak pernah menemukan bukti kebejatan dalam skala besar seperti di penjara Assad

The post Wawancara Yvonne Ridley: Korban-korban Perkosaan Gerombolan Assad Bicara appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com–Wartawan Inggris, seorang Muslimah terkemuka, Yvonne Ridley menyiarkan hasil wawancaranya dengan beberapa perempuan Suriah korban perkosaan yang dilakukan gerombolan bersenjata Bashar al Assad lewat kantor berita Middle East Monitor.

Berikut ini sepenuhnya tulisan Yvonne Ridley yang diterjemahkan oleh redaksi Sahabat Al-Aqsha.

Korban penyiksaan berdiri di depan penyiksanya, bertanya-tanya dalam hati penyiksaan apa yang akan dilakukan (oleh si penyiksa) kali ini di Branch 215 yang terkenal kejam –dikenal pula dengan sebutan Raid Brigade– yang dikelola oleh intelijen militer di Damaskus. Apakah itu pemukulan tanpa ampun ataukah serangan seks lainnya yang telah menghancurkan tubuhnya?

Penyelidikan tiba-tiba terhenti oleh bunyi telepon. Ia menyaksikan dan mendengarkan dengan rasa tidak percaya ketika suara tertawa dan cekikikan (lawan bicara di telepon) menyebabkan si penyiksa berubah tersenyum hangat. Hampir otomatis, ia melembutkan nada suaranya. Itulah pengaruh kebanyakan anak perempuan terhadap ayah mereka.

Dalam hitungan detik ia memalingkan wajah dari korban penyiksaannya. Dia telah berubah dari monster brutal menjadi ayah yang hangat dan penuh perhatian. Ini merupakan salah satu aspek paling mengerikan yang muncul dari kisah-kisah yang saya dengar dari para wanita Suriah yang terhempas pada sebuah skala industri dan dijebloskan ke dalam penjara-penjara Bashar Al-Assad sejak awal perang 2011.

Realita yang menyakitkan adalah bahwa pemerkosaan massal, serangan seksual, hukuman pemukulan dan penyiksaan mental dilakukan secara rutin terhadap wanita oleh ayah, suami dan bahkan kakek seseorang.

Pada akhir giliran jam kerja, pria-pria ini harus kembali ke rumah-rumah keluarga mereka dan keadaan normal, setelah benar-benar menghancurkan hidup dan jiwa wanita-wanita dan gadis-gadis muda yang berada dalam cengkraman mereka. Kenyataan yang kejam adalah jika suami Anda bekerja di Branch 215 kemudian dia mungkin seorang pemerkosa berantai atau bertindak sebagai penonton yang menyaksikan kejahatan paling keji dan tak terbayangkan terhadap tawanan-tawanan wanita dan gadis Suriah.

Baca: Yang Perlu Diketahui: Apa Perang Suriah, Rezim Bashar dan Keteribatan Syiah

Saya bertanya-tanya bagaimana monster ini menjawab ketika ia sampai di rumah dan ditanya, “Apa yang kau lakukan hari ini, Ayah?” Tentu saja dia tidak akan memberitahu putrinya tentang gigi yang ia hancurkan, tulang-tulang yang ia patahkan atau seks yang ia paksakan pada korbannya.

Gambar Assad di Kaus Pemerkosa

Ketika berusaha untuk mengupas sisi kelam rezim Assad yang tersembunyi ini, saya bertemu sejumlah wanita yang berakhir di Branch 215 atau penjara-penjara yang sama-sama mengerikan lainnya, serta penjara-penjara hantu yang dikelola oleh rezim Suriah. Dalam setiap pertemuan, gambaran Bashar Al-Assad tampak besar, entah pada foto-foto yang digantungkan di dinding-dinding atau di kaus yang dipakai oleh pria-pria yang bertanggung jawab atas pemerkosaan-pemerkosaan brutal itu.

Ya, Anda tidak salah baca. Wajah penguasa Suriah itu menghiasi kaus-kaus yang digunakan oleh para pemerkosa di tempat kerjanya, seakan-akan ia menodai wanita-wanita Suriah lewat orang yang diberi kuasa untuk melakukannya. Tak heran banyak yang berhasil keluar dari penjara tidak bisa tahan melihat wajah pemimpin Suriah itu. Bibir kecil, tipis dan tatapan tajam menusuk itu membuat tulang punggung mereka gemetaran setiap kali melihat gambarnya.

 

Bashar al Asad bersama Khamenei

“Beberapa hari saya berhasil melupakan apa yang terjadi pada saya,” kata Noor pada saya, “dan kemudian tiba-tiba saya melihat seseorang menyeringai atau menggulung bibir mereka dengan cara tertentu dan itu seakan menjadi pemicu; saya kembali ke dalam Branch 215 menderita akibat kilas balik, merasakan teror dan kecemasan.” Tiga tahun sejak cobaan berat yang menimpa dirinya, ia nampak baik-baik saja terlihat dari luar. Akan tetapi, Anda tahu, dalam momen-momen gelapnya, ia jatuh kembali ke mimpi-mimpi buruk.

Disiksa Karena Akan Shalat

Badria tidak seberuntung itu; baginya, mimpi buruk terus menghantuinya selama lima tahun setelah ia dan 40 wanita di Homs ditangkap dan dibawa ke sebuah apartemen di ibukota yang jatuh pada revolusi Suriah. Ketika ditangkap ia berpakaian hitam dan mengenakan cadar, yang membuat ia semakin menjadi target para penculik yang merupakan Syiah Nusairiyah-Alawiyah itu. Mereka mengejek, menghina dan melecehkannya karena ketakwaannya.

Baca:  Saksi Hidup Berbicara: Pembantaian Bashar al Assad Abad ke-21 [1]

Suatu ketika si penculik meninggalkan ruangan tempat Badria ditawan, lalu ia mulai melakukan tayammum menggunakan debu yang ada di lantai batu karena mustahil untuk berwudhu. Tanpa sepengetahuannya, kamera-kamera CCTV menangkap aksinya itu dan segera ketika ia bersiap untuk shalat, pria itu kembali dan memukulinya dengan tongkat.

Kaki dan pergelangan tangannya diikat, serta dibiarkan menggantung dari sebuah kait langit-langit dengan tali di sekeliling tangannya. Setiap kali ia menyebutkan nama Allah atau zikir lainnya ia dipukuli. Tangannya gemetar, ia melihat ke arah saya dan membuka mulutnya perlahan sebelum melepaskan gigi palsunya. Gigi-giginya, atas dan bawah, telah dihancurkan oleh tongkat yang dipukulkan dengan keras dan sengaja tepat di seluruh wajahnya. Tulang-tulang pipinya patah.

“Dulu payudara saya besar,” katanya sambil mengangkat kausnya, “tapi lihat sekarang.” Para dokter mengatakan padanya bahwa pukulan di payudaranya sangat parah sehingga jaringannya hancur dan mungkin tidak akan pernah pulih. Untuk ukuran baju, ia mungkin memakai ukuran 14 untuk standar Inggris, M hingga L ketika ia ditangkap. Akan tetapi, ketika ia duduk di depan saya, ia terlihat hanya berukuran 6, ia terlihat seperti tulang terbungkus kulit yang akan menanggung bekas luka penahanan seumur hidup.

Berbicara dengan bantuan seorang penerjemah, ia mengatakan pada saya bagaimana para wanita di kelompoknya dibawa ke sebuah ruangan yang lebih kecil dimana mereka diperkosa dan dipermalukan oleh dua atau lebih petugas intelijen militer. Di sana, di atas ranjang, menatap lama, potret Assad dan saudara lelakinya Maher. Di samping ranjang ada meja kecil dengan berbagai macam botol alkohol untuk diminum para lelaki itu.

Untuk melawan kondisi mabuk mereka, jelas Badria, mereka mengambil pil-pil biru sebelum memangsa korban. Badria juga menggambarkan bagaimana beberapa pria meletakkan pil oranye di bawah lidah mereka. Setelah melakukan sejumlah penelitian saya menyimpulkan bahwa obat-obatan yang Badria gambarkan adalah Viagra berbentuk berlian biru dan pil oranye itu adalah Levitra, yang bekerja empat kali lebih cepat untuk beberapa pria dan efeknya langsung bisa dirasakan hanya dalam 15 menit.

Tak perlu bertanya pada Badria apakah ia telah diserang secara seksual. Rincian yang ia berikan tentang apa yang terjadi di dalam ruang pemerkosaan, pil-pil dan alkohol, serta potret-potret Assad bersaudara telah memberitahu saya semua yang perlu saya tahu. Ia dipaksa masuk ke ruangan itu dalam banyak kesempatan dimana kamera-kamera juga dipasang dan para wanita diarahkan untuk percaya bahwa para monster itu telah merekam dan memotret mereka.

Ia menceritakan pada saya mengenai salah seorang wanita yang “diperkosa beramai-ramai/berkelompok (gang rape) hingga tewas”, sementara yang lainnya telah benar-benar kehilangan akalnya. Kebebasan bagi Badria senilai; $17,000 yang merupakan uang tebusan yang harus dibayarkan keluarganya untuk membebaskannya dari penjara. Jika ia berpikir mimpi buruk akan berakhir setelah bebas, sungguh, ia salah. Suaminya tidak selamat dari penjara militer di Homs tempat ia ditawan; para saksi mata mengatakan padanya bahwa suaminya mati setelah matanya dicungkil oleh para penawannya.

Baca: Mengenal 15 Milisi Syiah Yang Dukung Bashar di Suriah [1]

Ayahnya dan salah seorang saudara lelakinya syahid saat berjuang dengan Free Syrian Army dan adik lelaki yang meminjam begitu banyak uang untuk membebaskannya kini dipenjara, karena tidak mampu membayar utang. Sementara itu, saudara perempuannya ditangkap dan disekap, serta mereka yang tersisa di keluarga berusaha mati-matian untuk mengumpulkan $1,000 yang diminta demi pembebasannya. Jadi, rezim Assad tak hanya melecehkan para wanita dalam skala industri, tapi juga menghasilkan uang dari kesengsaraan mereka dan menjalankan sesuatu yang sama dengan perdagangan budak yang menjijikkan.

Anak lelaki Badria, yang berusia sekitar tujuh, duduk diam ketika ibunya menceritakan kisahnya; sesekali, ketika rinciannya menjadi terlalu jelas/vulgar, ia menyuruh anaknya pergi membeli sesuatu. Anak lelakinya itu nampak hampir setrauma ibunya yang hilang di depan matanya dengan perawakan tinggi dan sehat. Badria terlihat sangat rapuh ketika saya bangun untuk pergi, sangat sulit memberinya pelukan erat; sejujurnya saya merasa bahwa ia mungkin akan patah.

 

Anak Usia Tujuh Hingga Wanita Tua Diperkosa

Di rumah lainnya saya bertemu seorang ibu lima anak yang dipanggil Aishah – yang ditangkap di masa-masa awal perang karena ia berpartisipasi dalam demonstrasi di jalan. Ia dibawa ke Branch 215 dimana ia dipukuli “dengan cara yang memalukan”. Ia berpindah-pindah di sekitar sistem intelijen dan dibawa ke tiga cabang lainnya, termasuk satu di Adra.

Selama meringkuk di penjara ia melihat anak-anak perempuan berusia tujuh, wanita tua dan setiap umur di antara yang ditawan, diperkosa dan dilecehkan. Ia menyatakan lima petugas militer memakai kaus bergambar Assad sebelum melakukan pemerkosaan berkelompok (gang rape) terhadap seorang wanita. “Mereka menyatakan Assad sebagai tuhan mereka,” katanya.

Kini hidup dengan aman di perbatasan Turki dekat Hatay dengan lima anak perempuannya usia tiga hingga 17, Aishah adalah seorang janda. Suaminya, yang juga ditawan dan dianiaya, selamat dari cobaan berat di penjara hanya untuk dibunuh dalam serangan udara di Ghouta timur tiga tahun lalu, tepat setelah kelahiran anak kelimanya.

Assad Tak Bisa Jadi Bagian dari Solusi

Wanita-wanita yang saya temui semuanya menginginkan keadilan. Mereka ingin melihat pria-pria yang menyiksa, memerkosa dan melecehkan mereka disidang atas kejahatan perang yang tidak diragukan lagi telah mereka semua lakukan. Saya ingin bisa memberitahu bahwa mereka kini selamat dan aman, tapi saya tidak yakin bahwa mereka akan pernah bisa untuk pulih sepenuhnya. Seseorang mengatakan pada saya bahwa saat ia menutup matanya ia kembali ke dalam penjara yang seperti neraka itu, takut bahwa pria-pria Assad akan menerkam mereka.

Yang membuat semua ini sangat buruk adalah diyakini sekitar 7.000 wanita dan 400 anak-anak masih berada di dalam penjara-penjara rezim Assad. Saya tidak peduli jika itu membutuhkan uang untuk mengeluarkan mereka dari cengkeraman monster-monster itu, tapi setelah berbicara dengan para korban, saya tahu dengan pasti bahwa Assad tidak akan pernah menjadi bagian dari solusi di Suriah.

Selama lebih dari 40 tahun sebagai wartawan, saya mewawancarai para tawanan mulai dari Abu Ghraib di Iraq, Bagram di Afganistan, Guantanamo, Abu Saleem di Tripoli dan Penjara Toulal 2 di Meknes, Maroko, tapi saya tidak pernah menemukan bukti tentang sedemikian banyak kebejatan dan perilaku tidak manusiawi dalam skala besar seperti apa yang terungkap saat ini –bahkan ketika Anda membaca ini– di penjara-penjara Assad.

Ada rezim brutal di Damaskus, yang dijalankan oleh monster-monster yang menyamar sebagai suami yang sangat penyayang dan cinta keluarga di rumah-rumah di sekitar Suriah sambil melakukan kejahatan yang paling mengerikan. “Apa yang Ayah lakukan di tempat kerja hari ini?” Percayalah, kamu tidak mau mengetahuinya, habibi (sayangku-pent); Ayah dan rekan-rekannya yang mengerikan harus dihentikan.*

The post Wawancara Yvonne Ridley: Korban-korban Perkosaan Gerombolan Assad Bicara appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
138218
“Karena Tak ada Organisasi Khusus, Semua Bisa Ngaku MCA” http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/03/09/137468/karena-tak-ada-organisasi-khusus-semua-bisa-ngaku-mca.html Fri, 09 Mar 2018 02:32:10 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=137468

Hoax pihak yang pro pemerintah juga banyak, harusnya sama-sama  ditangkap

The post “Karena Tak ada Organisasi Khusus, Semua Bisa Ngaku MCA” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com—Setelah aparat keamanan mengumumkan  penangkapan anggota “Sindikat Saracen”, bulan lalu polisi mengumumkan penangkapan anggota “MCA”,  dengan tuduhan “pembuatan dan penyebaran hoax”,  khususnya kasus maraknya ‘orang gila’ yang meneror ulama”.

Banyak pihak menilai, penangkapan ini bagian dari ‘shock therapy’ atau juga usaha melemahkan MCA yang asli.

Baru-baru ini, pakar informatika dan analis media sosial Ismail Fahmi  membuat analisis berjudul “The War On MCA’  Periode: 1 Mei 2016 – 4 Maret 2018. Doktor sains informatika lulusan Universitas Groningen, Belanda yang dikenal dengan  teknologi buatannya “Drone Emprit” –merujuk nama burung lambang Twitter, sebuah peranti lunak ini berfungsi memonitor dan menganalisis percakapan di media online dan media sosial,  mengungkap panjang lebar isu-isu terkait MCA.

Siapakan sesungguhnya MCA itu? Mana yang asli dan mana yang abal-abal? Kapan seungguhnya aksi MCA mulai mulai muncul? Apakah ada indikasi kekuatan MCA bakal melemah setelah gempuran ini? Bagaimana peta pertempuran “War on MCA” di media social?

Anda menulis analisis soal MCA. Apa yang sebenarnya ingin Anda tunjukkan?

Di closing-nya itu. Tentang polisi. Ini sebetulnya waktu yang tepat untuk memerangi hoax (berita palsu). Tetapi yang tampak di sini justru memerangi Muslim Cyber Army (MCA). Ini malah tidak terlalu efektif untuk memerangi hoax yang sesungguhnya. Jadi akan bangkit lagi karena adanya rasa ketidakadilan. Karena hoax yang di sebelah (yang di pro pemerintah),  enggak diapa-apain ibaratnya. Padahal kalau seandainya kita mau perang terhadap hoax, di sini ada yang ditangkap, di sana juga harus ada yang diproses juga. Kan sudah banyak juga yang dilaporkan kan.

Harusnya  semangat melawan hoax seperti itu. Kalau mau melawan hoax itu kan harus di dua pihak. Harusnya perang itu dilakukan terhadap dua kelompok dan pak polisi berada di tengah-tengah.  Hoax yang ada di mereka (pihak yang pro pemerintah) kan juga banyak, itu juga “diserang”. Kalau perlu ditangkap. Sama-sama. Tapi kan ini enggak dilakukan. Jadi kesannya, ini perang terhadap MCA.

Soal berita ada ‘MCA’ ditangkap, apa pendapat Anda?

Tentang MCA sendiri. Selama ini kan MCA dianggap tak berbentuk. Tapi dalam percakapan ada MCA. Ini akan lebih bagus jika pihak MCA lebih mensolidkan diri,  menjelaskan memang ada  MCA. Faktanya  kan ada MCA yang benar (asli) dan yang tidak benar (palsu).  Selama ini karena MCA tidak berbentuk, dan MCA tidak melakukan apapun ketika ada hoax yang dilakukan oleh orang yang mengaku-ngaku MCA, maka ketika ada hoax yang viral di mana-mana dibiarkan sama sekali. Ini menjadi target polisi. Karena bukan lagi penyebaran informasi, tapi sudah mengganggu. Kalau MCA lebih terkoordinir dengan bagus, maka itu bisa membantu menunjukan mana hoax mana yang tidak kepada publik. Jadi publik akhirnya bisa ngikutin, “oh ketika ada berita masuk di mereka, ngakunya dari MCA, itu bisa dibilang oh ini hoax ternyata.”

Mungkin bisa dijelakan lebih mudah?

Kita harus tahu, yang mengaku MCA bisa siapapun. Bisa jadi lawan. Lawan sebelah bikin berita dan gambar-gambar. Di gambar itu Pak Jokowi kemudian digambarkan babi segala macam yang kira-kira bernada kebencian, orang-orang yang enggak ngerti ini langsung ngambil dan nge-share  karena mereka banyak yang nggak puas sama kinerja pemerintah. Ketidakpuasan itu sudah sampai –kadang-kadang– pada level benci. Jadi sudah nggak mikir-mikir lagi mereka, material yang dibuat oleh lawan ini langsung di-share.

Apa targetnya?

Tujuannya agar umat kita jadi sibuk dengan urusan benci-bencian, artinya enggak membangun diri. Yang rugi kita sendiri. Makanya MCA ini pertanyaannya, mau menjadi aset atau menjadi problem? Kalau saya menawarkan MCA jadi aset. Bisa menjadi aset artinya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. MCA nggak bisa dihilangkan. Nah yang dilakukan polisi itu menganggap MCA ini seperti pabrik hoax. Dan yang pro pemerintah pun juga memberi label MCA sebagai pabrik hoax. Padahal saya kira nggak seluruhnya benar.  Ada yang sebagian yang bikin pabrik hoax, tapi sebagian lain bener. Nah yang benar inilah kemudian kita rapikan,  dan MCA bersihkan diri menjadi aset buat bangsa dan umat. Supaya umat dan bangsa ini lebih maju.

Bagaimana ide Anda soal MCA yang asli dan bisa jadi aset?

Kalau mau mencalonkan, ini kan kekuatan bagus buat program, usulan segala macam yang lebih cerdas. Ketika akan mencalonkan seseorang jadi presiden atau tokoh di Pilkada semua dengan cara yang cerdas. Karena (MCA) ini aset. Jaringannya sudah ada, follower-nya ada, kemampuan sosial medianya sudah bagus. Ini yang harus diarahkan ke sana. Itu yang mau saya fokuskan sebetulnya.

Yang terakhir buat publik. Mereka jadinya bisa hati-hati sekarang. Karena informasi yang mereka terima dan share itu tidak selamanya valid. Bahkan sengaja diciptakan untuk membuat mereka jadi makin benci atau mungkin menjadikan mereka bisa terjerat hukum.

Anda menggunakan ‘Drone Emprit’ dalam menganalisis MCA. Sejauh mana akurasi?

Drone Emprit itu menangkap percakapan yang berdasarkan kata kunci di twitter. Jadi akan masuk semuanya. Untuk MCA, sejak 2013, kita sudah collect (mengumpulkan) data. Berbagai macam isu. Ada isu PKI, Pilkada, Pilpres. Dari situ, kita punya data yang sangat besar. Dan kalau memang ada penyebutan  Muslim Cyber Army (MCA), mesti akan muncul di situ.

Anda tadi menyebut ada lawan yang mengaku-aku jadi MCA, Anda punya datanya?

Ada. Contohnya  ketika ada Facebook page-nya AA Gym. Di situ ada tulisan tentang “Tiga ibadah yang kalau Anda lakukan, diampuni Allah meskipun Anda berzina” misalnya. Kira-kira masuk akan gak, AA Gym bikin kayak gitu?

Orang cinta sama AA GYM, nge-follow itu, langsung nge-share, langsung percaya karena dikira dari AA GYM. Saya enggak yakin itu dari MCA. Karena MCA nggak mungkin memalsukan ustadnya dengan cara seperti itu. Dan hal seperti itu banyak. Saya punya datanya. Akun Facebook page AA GYM yang nggak official ada 170.000 follower. Itu besar sekali. Sindikat ini punya 50 kayak gitu (akun-akun tidak official).

Seperti akun Ustad Yusuf Mansur, Mamah Dedeh, ditipuin semua itu.  Isinya nggak mungkin ditulis ole ustad-ustad atau ustadzah itu. Saya kira inilah lawan-lawan.

Akhirnya identitas MCA menjadi tidak jelas ya?

MCA ini kan gerakan, networking. Banyak yang mengaku MCA di sana. Karena tidak ada organisasi khusus, semua bisa mengaku sebagai MCA. Dan karena sifatnya informasi, semua bisa mungkin nge-share juga. Bisa MCA  atau mungkin piha lawan yang mengaku jadi MCA. Jadi memang nggak jelasnya di situ.

Ini bisa jadi jebakan ya?

Jebakan bisa, ekonomi juga bisa. Contoh, dia buat artikel di blogspot, lalu link blogspotnya dituliskan di status. Orang-orang dari Facebook page-nya nge-link ke artikel itu, kemudian dari artikel yang di blogspot, ada iklan-iklannya.*>>> klik [Bersambung] “MCA Harus Bikin Akun Official”

The post “Karena Tak ada Organisasi Khusus, Semua Bisa Ngaku MCA” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
137468
“Penangkapan MCA Palsu Besar Kemungkinan karena Kecewa Kekalahan Politik” http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/03/02/136853/penangkapan-mca-palsu-besar-kemungkinan-karena-kecewa-kekalahan-politik.html Fri, 02 Mar 2018 14:29:41 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=136853

Nanti, jika 2019 terpilih Presiden Baru, mudah-mudahan MCA asli bisa istirahat.

The post “Penangkapan MCA Palsu Besar Kemungkinan karena Kecewa Kekalahan Politik” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

NAMA Muslim Cyber Army (MCA) kembali mencuat belakangan ini, setelah kepolisian dengan gencarnya melakukan aksi penangkapan terhadap sejumlah orang yang disebut-sebut sebagai “anggota MCA”.

Berita penangkapan “anggota MCA” itu pun digiring sedimikian rupa secara masif melibatkan berbagai media mainstream. Isunya pun seakan-akan digiring untuk menyudutkan kelompok siber yang turut berjasa besar memenangkan umat Islam dalam perang opini pada kasus penistaan agama oleh terpidana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), 2016 lalu.

Lantas, apa hubungannya MCA di era Aksi Bela Islam tersebut dengan “MCA” yang ditangkap saat ini? Siapa sebenarnya MCA itu? Mengapa penangkapan tersebut gencar dilakukan di tahun politik 2018 ini? Apa hubungannya dengan Pilkada DKI Jakarta 2017 dimana Ahok tumbang?

Menjawab itu, aktivis senior di bidang media sosial yang juga Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Mustofa B Nahrawardaya, mengungkapkan panjang lebar penjelasannya kepada hidayatullah.com di Jakarta, Kamis (01/03/2018), usai pengguna Twitter dengan akun @NetizenTofa ini menghadiri acara di sebuah tempat. Berikut petikannya!

Baca: Lima Pesan bagi Para Pengguna Medsos Menghindari Jebakan

Bagaimana awal mula munculnya MCA?

Kalau nama MCA (Muslim Cyber Army), baru muncul setelah Ahok’s Case (kasus Ahok) muncul ke permukaan. Jadi sekitar pertengahan Oktober 2016, ketika Aksi Bela Islam I pada tanggal 14 Oktober 2016 digelar, nama MCA baru muncul.

Kemudian ketika Aksi Bela Islam II dilakukan pada 4 November 2016, nama MCA mulai melambung dan mendapatkan tempat di media sosial, meskipun pada awalnya sempat dicemooh oleh kelompok netizen lain yang mendukung Ahok.

Jika semula pasukan cyber pendukung Ahok menguasai jagad maya dengan banyak propaganda jahat dan penyebaran info sesat dan hoax, maka kemunculan MCA menjadi penyeimbang informasi yang ada.

Saya yakin, banyak sekali rakyat Jakarta khususnya, yang menjadi korban dari beroperasinya kelompok Cyber Army pendukung Ahok. Saya mensinyalir, praktik penyesatan informasi dan pengaburan fakta demi memenangkan jagoannya, sudah dilakukan kelompok liar tersebut, sejak 2012. Lalu makin sukses membodohi masyarakat pada 2014, dan mungkin akan dilanjutkan 2018 dan 2019.

Tapi, pergerakan MCA, berhasil mematahkan “perjuangan” tanpa etika yang dilakukan mereka.

Walhasil, pada Aksi Bela Islam III, yakni yang dikenal sebagai gerakan ABI 212 di Monas (Jakarta), nama MCA sudah jadi momok kelompok lain yang mencoba membangun citra Ahok setinggi langit.

Yang membuat MCA semakin besar barangkali karena kelompok Cyber Army lain, tidak saja mencitrakan Ahok sebagai manusia sempurna tanpa cacat, namun juga disebabkan oleh sentimen publik terhadap respons Pemerintah yang seperti memaksakan diri mengait-ngaitkan aksi-aksi umat Islam atau ABI, sebagai aksi yang dilandasi motif makar.

Jadi, saat itulah MCA seperti punya tantangan yang harus dilawan.

Persoalannya lagi-lagi karena Cyber pendukung Ahok dan Cyber pendukung Jokowi bersatu mencitrakan aksi umat Islam tersebut dengan tidak selayaknya. Jangan tanya lagi, apa saja bentuk ketidaklayakan itu. Intinya, jika tidak dilawan dengan MCA, maka akan banyak lagi masyarakat menjadi korban kesesatan dan kedzaliman informasi, akibat ulah kelompok lawan MCA yang brutal.

Baca: Akun Bajakan Tebar Fitnah Organisasi Jurnalis Muslim

MCA muncul saat Aksi Bela Islam I,  2016. Sementara, salah seorang “anggota MCA” yang ditangkap disebut oleh polisi sudah 5 tahun jadi anggota “The Family MCA” berdasarkan gadget “pelaku”, ini bagaimana?

Ngawur itu (kemudian tertawa).

Lucunya dimana?

MCA baru ada 2016, kok mereka dah 5 tahun. Dari gadget siapa itu?

Apa sih alasan anggota MCA ini mau bergerak bersama?

Pergerakan MCA, unik. Mereka tidak pernah ketemu muka, tidak bertatap mata, tidak bersapa selain melalui dunia maya. Mereka, ribuan akun media sosial yang bergerak dalam MCA, bisa bersama-sama melakukan kontra opini melawan gerakan jahat kelompok lain, tidak lain tidak bukan karena digerakkan oleh ghirrah yang sama, yakni menjaga kesucian Islam dari serangan tangan kotor kelompok lain.

Kenapa, karena sejak para ulama bergerak membawa umat ke jalanan meminta keadilan dalam kasus penistaan (oleh) Ahok, ternyata gerakan menghina, menista, memaki, dan membenci Islam, bertambah besar. Sangat masif, gerakan tersebut di dunia maya. MCA akhirnya juga bersepakat menjaga marwah ulama yang mereka cintai.

Dalam hal ini, karena Aksi Bela Islam dipimpin oleh Habib Rizieq Shihab (HRS) dan ulama-ulama lain dari berbagai ormas Islam lain, maka MCA pun membela dan melindungi mereka dari serangan jahat dunia maya. Apalagi ketika HRS banyak mendapatkan serangan, baik fisik maupun psikis hingga HRS memilih sementara memimpin pergerakan dari Saudi Arabia, MCA pun tidak surut berjuang sampai sekarang.

Yang menarik adalah, sekalipun HRS jadi sentral, namun MCA berkomitmen menjaga apapun dan siapapun yang dianggap sebagai ikon-ikon Muslim di Indonesia. Karena, sejak awal memang MCA seperti ada komando tanpa komando, bahwa MCA hanya bisa bekerja karena semata-mata terikat oleh keyakinan yang sama, yakni Islam.

Jadi, hanya agama Islam lah yang sanggup mempersatukan MCA dalam gerakan yang rapi dan sama.

Lalu cara kerja mereka seperti apa?

MCA senantiasa bergerak tanpa bisa diendus bentuk dan jaringannya. Karena memang cara bergerak MCA mirip OTB, Organisasi Tanpa Bentuk. Meski OTB, MCA beda. Gerakan mereka sangat rapi dan saling memahami. Mereka tahu, harus berbuat apa. Tanpa dikoordinasi sekalipun, MCA bisa menempatkan diri masing-masing saat berjihad informasi.

Saat diserang musuh, MCA benar-benar bisa melawan tanpa panglima. Saat bertahan, MCA bisa bertindak tanpa ada yang membayar, memberi pulsa, dan tanpa keluhan. Bagi MCA, membela Islam dan ulama di dunia maya, menjadi kebanggaan tersendiri yang sulit diceritakan.

Padahal, mereka tidak pernah bertemu dan tak pernah bertatap muka. Uniknya, ketika ada MCA palsu, maka MCA yang asli, bisa dengan sendirinya melakukan hukuman maya spontan tanpa menunggu.

Baca juga: Aktivis: Jika Ada Kelompok Ngaku Pimpinan MCA Pasti Itu Palsu

Tanggapan dan saran Anda atas polisi yang merilis “pelaku anggota MCA”?

Saya sangat berterima kasih kepada polisi karena bisa menangkap MCA yang tidak asli. Karena dari merekalah, citra MCA yang asli jadi buruk. Karena ulah merekalah, MCA yang berdakwah dengan landasan al-Qur’an dan Hadits, serta keadaban, kini menjadi kotor oleh ulah segelintir penumpang gelap.

Jika perlu, nama akun mereka juga diumumkan ke publik. Saya meminta polisi memburu jaringannya, pendananya, serta sutradaranya. Jangan sampai ada yang lolos. Jika perlu, nanti saya sowan dan bersilaturahim ke Mabes Polri untuk memberikan kenang-kenangan sebagai tanda penghargaan.

Yang ditangkap itu mengaku-ngaku sebagai anggota MCA, apa iya MCA asli akan mengaku demikian?

MCA tidak melakukan ujaran kebencian. Polisi tentu tidak mudah mengorek para pelaku. Polisi bekerja bukan berdasarkan pengakuan, namun berdasar bukti. Jadi, memang terbukti para pelaku itu melakukan hatespeech dan menamai grup WA-nya menggunakan nama MCA.

Namun jika pelaku mengaku sebagai MCA dan sengaja melanggar ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik), tentu malah aneh. Karena publik juga sudah tahu, MCA tidak punya keberanian melawan hukum ITE. Jangankan melawan hukum ITE. Untuk meluruskan informasi saja, masih kurang tenaga. Intinya, tidak ada waktu dan kesempatan untuk menghina dan menista pihak lain. Hal itu, hanya akan menguras tenaga dan pikiran.

Baca: ‘MCA Asli Membela Islam tanpa Ujaran Kebencian’

Sebelumnya ramai isu “Saracen”. Sekarang isu “MCA”. Analisis Anda?

Di pengadilan, Asma Dewi (ibu rumah tangga yang awalnya diduga terkait “Saracen”, Red) terbukti tidak terlibat. Setidaknya ini yang saya dengar dari media massa. Isu Saracen menyeret banyak nama, termasuk saya juga disebut-sebut. Tapi itu semua hanya omong kosong.

Pelaku-pelakunya hanyalah kelompok iseng yang tidak jelas motivasinya. Tidak jelas arahnya. dan tidak jelas ideologinya. Mengaku membela Islam, tetapi sepak terjangnya atau jejak digitalnya tidak dapat diendus oleh netizen lain yang lebih senior.

Intinya, Saracen adalah kelompok misterius yang tampak sekali, hanya bekerja untuk kepentingan yang tidak jelas. Ulah mereka lebih banyak merugikan umat Islam ketimbang manfaatnya. Saracen hanya segelintir orang tidak jelas yang bekerja karena urusan perut, bukan motif membela agama.

Mungkinkah penangkapan ini pengalihan isu tertentu atau terkait Pilkada 2018 dan Pilpres 2019?

Dugaan ke arah itu sangat kuat. Besar kemungkinan, ini hanya isu jangka pendek karena kekecewaan kekalahan-kekalahan dalam urusan politik. Juga hanya akan berlangsung hingga Pilkada 2018 atau Pemilu 2019 mendatang.

Nanti, jika 2019 terpilih Presiden Baru, mudah-mudahan MCA bisa istirahat. Karena saya pikir, pasukan Cyber liar lawan MCA, otomatis berhenti beroperasi sementara, begitu yang mengkoordinir mereka tidak ada yang melindungi atau membiayai. Namun jika tidak ada pergantian Presiden 2019, kemungkinan musuh MCA akan terus ada.*

Baca: Mustofa Nahrawardaya: Waspadai Jebakan Operasi Intelijen di Dunia Maya dan FB

The post “Penangkapan MCA Palsu Besar Kemungkinan karena Kecewa Kekalahan Politik” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
136853
Politik di Mata Tuan Guru Bajang M. Zainul Majdi http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/02/23/136304/politik-di-mata-tuan-guru-bajang-m-zainul-majdi.html Fri, 23 Feb 2018 10:43:02 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=136304

Yang mengatakan politik itu kotor adalah warisan pandangan Belanda yang sengaja ditanamkan kepada umat Islam

The post Politik di Mata Tuan Guru Bajang M. Zainul Majdi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

JANGAN bicara politik di masjid, ulama jangan berpolitik!  Jangan campur agama dengan politik!  Demikian sebagian orang berpendapat. Menjadi menarik, di saat kata-kata seperti itu sering terdengar, kita menyaksikan sosok Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. H. M. Zainul Majdi, seorang ulama alumni Universitas Al-Azhar Mesir sekarang menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB).

Penasaran dengan pandangannya tentang politik, hidayatullah.com menemuinya usai acara pembentukan Aliansi Strategis antara Sarikat Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan alumni Universitas Al-Azhar Mesir di Sofyan Hotel Betawi, pada Rabu lalu. Sambil menyantap sayur sop, ia menjawab satu per satu pertanyaan kami. Berikut petikannya:

Bagaimana politik di mata Anda?

Politik itu bagi saya adalah ranah perkhidmatan. Jadi ruang untuk kita mengabdi dan berdakwah. Bagaimana dakwah dalam politik itu? Pertama, merumuskan kebijakan-kebijakan yang memenuhi kaidah-kaidah kemaslahatan, nilai-nilai universal Islam seperti keadilan, kesetaraan, dan spiritualitas. Islam itu dalam kepemimpinan mengajarkan innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan. Pemimpin itu harus mampu menelurkan kebijakan yang adil dan mampu memfasilitasi kelompok-kelompok yang lemah. Bisa memberikan keberpihakan lebih pada mustadh ‘afin (orang yang dilemahkan). Wayanha anil fahsya iwal munkar (mencegah daripada perbuatan keji dan mungkar). Pemimpin itu tidak boleh memfasilitasi kekejian atau membuat regulasi-regulasi yang semakin tersebarnya kemunkaran.

Kedua, menghadirkan keteladanan yang baik kepada masyarakat.

Ketiga, memfasilitasi inisiatif kebaikan-kebaikan masyarakat. Banyak inisiatif dari masyarakat yang lahir, tumbuh dan berkembang, tapi kalau itu tidak dirajut, dia hanya menjadi inisiatif pribadi atau kelompok.

Tuan Guru Bajang (TGB) M. Zainul Majdi menggandeng tangan Ustad Abdullah Somad (UAS)

Tapi begitu dirajut dalam satu sistem dan alur yang baik, maka kebermanfaatannya pasti akan berlipat ganda. Nah, fungsi pemimpin menjadi fasilitator untuk merajut inisiatif-inisiatif kebaikan itu.

Baca: TGB Maju Pilpres 2019? Ini Jawaban Dia

Jadi politik itu adalah ranah untuk memberikan nilai dakwah. Seluruh Muslim, siapapun dia, harus berdakwah, mengajak pada kebaikan. Dalam ruang apapun. Guru berdakwah dengan profesinya, pedagang berdakwah, politisi juga berdakwah.

Jadi politik itu sebagai alat dakwah ya?

Ya. Politik adalah salah satu instrumen dakwah yang sangat penting. Karena di dalam politik ada perumusan kebijakan. Kita tahu bahwa di dalam negara hukum, kebijakan atau peraturan/ rule of law itu menjadi sesuatu yang sangat penting. Kalau keluar kebijakan yang salah karena pemegang otoritas kebijakan itu tidak mengerti untuk apa dia memimpin, tidak punya visi mengarahkan masyarakat, tidak punya tata nilai yang bisa menjadi pondasi bagaimana dia berpikir dan bertindak, maka kebijakan akan keluar enggak karu-karuan. Mungkin dia hanya memperhitungkan untung jangka pendek. Mungkin juga hanya mempertimbangkan bagaimana mendapatkan sebesar-besarnya PAD (Pendapatan Asli Daerah), walaupun sumbernya tidak jelas. Jadi penting sekali visi yang jelas bagi pemimpin kemana dia hendak berjalan dan nilai apa yang melandasainya dalam memimpin.

Politik masih dianggap kotor dan busuk oleh sebagian orang?

Menurut saya itu warisan dari pandangan yang sengaja ditanamkan oleh para penjajah yang tahu betul kalau umat Islam itu punya visi politik yang baik, punya literasi politik yang kuat, dia melek politik, maka akan merepotkan kekuasaan mereka.

Sebelum kemerdekaan kan kalau membangun masjid, silakan, kalau membangun pasar, diawasi, tapi kalau menghimpun diri dalam satu gerakan politik dihabisi. Kan begitu dari penjajahan dulu. Jadi ada pewarisan itu. Sehingga sebagian dari kita mungkin secara tidak sadar mengadopsi pandangan kolonial itu.

Baca: TGB untuk Indonesia

Namun kita perlu introspeksi juga. Ketika misalnya ada tokoh agama atau tokoh umat masuk ke ranah politik, lalu ternyata dia tidak menghadirkan sesuatu yang baik, justru dia menghadirkan kemudharatan, dan menjadi contoh kepemimpinan yang tidak punya integritas sehingga akhirnya masyarakat melihat dan  mengeneralisir itu. Oh dia kan berlatar belakang dari partai Islam atau dia ustadz, lalu kok dia begini, berarti ustadz tidak boleh masuk politik. Jadi mengeneralisir kasus-kasus yang terjadi. Dan masyarakat tidak bisa disalahkan. Bagaimana menyelesaikan itu? Mari kita bangun integritas dalam berpolitik supaya masyarakat tidak mendapat contoh yang buruk-buruk. Otomatis menurut saya kalau kita membangun politik yang baik, maka kepercayaan masyarakat akan semakin kuat dan tidak lagi ada ungkapan politik kotor. Karena pada akhirnya politik itu wadah. Bersih kotornya tergantung air yang mengisi wadah itu.

Hubungan ulama dan umara (pemerintah) baiknya seperti apa?

Ulama dan umara itu adalah dua kelompok yang sangat penting untuk kemajuan atau kemunduran suatu masyarakat atau bangsa. Kalau kedua kelompok ini baik, maka masyarakat atau bangsa akan baik. Kalau keduanya bersinergi, maka masyarakat atau bangsa bukan hanya baik, tapi melejit, maju luar biasa. Jadi saling mengisi dan dalam posisi masing-masing bisa berperan katakanlah sebagai triger mechanism. Jadi dia bisa memicu.

Misalnya ulama berdiri di mimbar meniupkan semangat bahwa Islam itu membawa pada kemajuan. Sebelum bicara hasanah fil akhirah (kebaikan di akherat), hasanah fiddunya (kebaikan di dunia) dulu. 9 dari 10 pintu rezeki itu ada di bisnis. Maka mari kita bangun enterpreneurship. Pada saat ulama ngomong begitu, pada saat yang sama umara menyiapkan regulasi. Supaya apa yang diomongin ulama itu bisa terwujud.

Tapi kalau ulama bicara tentang keadilan, regulasinya tidak menghadirkan keadilan, masyarakat pusing. Begitu pulang dari masjid, dia berhusnuzhan, tapi begitu lihat suasana yang ril, dia jadi suuzhan lagi. Terjadilah paradok, terjadi keputusasaan masyarakat. Kalau kita ingin masyarakat kondusif, nyaman, bisa mengembangkan diri dengan baik, maka ujaran-ujaran yang dia dengar di rumah ibadah, mimbar-mimbar khutbah, di youtube-youtube tentang pelajaran agama itu bisa dia lihat dalam kebijakan-kebijakan publik yang hadir.

Kalau misalnya dia dengar bahwa rezeki yang halal itu berkah, tidak boleh mencuri dan lain-lain, tapi kemudian ternyata regulasi yang ada tidak sesuai dengan itu, justru hal-hal yang sifatnya destruktif dibiarkan begitu saja, kan jadi tidak nyambung. Jadi tidak baik. Dan itu bisa menimbulkan kelemahan kolektif. Orang jadi malas bicara tentang kemajuan bangsa karena dia lihat antara tataran ideal dengan realitas itu terlalu jauh perbedaannya. Saya pikir antara ulama dan umara bisa menjadi dua komponen utama untuk menjembatani supaya antara realitas dan idealitas itu bisa semakin mendekat.*/Andi R

The post Politik di Mata Tuan Guru Bajang M. Zainul Majdi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
136304
“RUKHP Perlu Dikawal, Agar Liberalisasi Seksualitas dan LGBT Tak Makin Marak” http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/02/14/135580/rukhp-perlu-dikawal-agar-liberalisasi-seksualitas-dan-lgbt-tak-makin-marak.html Wed, 14 Feb 2018 11:02:32 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=135580

LGBT ini bukan sekedar soal orang ingin diakui, tetapi sebuah gerakan yang disengaja

The post “RUKHP Perlu Dikawal, Agar Liberalisasi Seksualitas dan LGBT Tak Makin Marak” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

BELUM lama ini, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menuturkan DPR dan pemerintah akan merampungkan beberapa rancangan undang-undang yang menjadi skala prioritas pada akhir masa persidangan III DPR tahun sidang 2017-2018.

Salah satunya adalah Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP).

Sebagian kecil masyarakat melakukan penolakan terhadap RUU KUHP atau RKUHP  ini. Padahal Revisi KUHP perlu dilakukan mengingat KUHP yang kita gunakan sampai hari ini adalah produk Penjajah Belanda yang tidak semua nilainya sesuai dengan  Pancasila dan jati diri bangsa Indonesia yang berketuhanan.

Di antara penolakan terbesar terutama pada pasal-pasal terkait pernikahan, zina, dan hubungan sesama jenis yang banyak mengandung aspek perluasan makna.

Para penolak berdalih bahwa hukum-hukum baru tersebut akan merugikan masyarakat luas.

Baca: Penolak RKUHP Beraksi di depan Gedung DPR

Benarkah RKUHP ini merugikan? Bagaimana sikap kita?

Hidayatullah.com mewawancarai Direktur the Center for Gender Studies (CGS), Dr Dinar Dewi Kania.

Bersama kaum ibu yang peduli masa depan keluarga yang tergabung dalam Aliansi Cinta Keluarga (AILA) sejak awal berjuang melawan maraknya kampanye gerakan LGBT dengan melakukan Judicial Review (Uji Materi), meski permohonannya ditolak oleh Mahkamah Kontitusi pada Desember 2017 tahun lalu. Inilah petikan wawancaranya.

Bagaimana sikap AILA dengan RUKHP yang tengah digodok DPR?

RUU KUHP itu harus dikawal bukan ditolak. Kenapa? Karena ada pasal pasal yang sudah lebih mengakomodasi nilai nilai agama dan moralitas dibanding KUHP yang berlaku saat ini seperti zina, pelarangan promosi alat kontrasepsi di muka umum kecuali bagi petugas yang ditunjuk resmi. Perluasan pasal cabul sesama jenis yang mencakup usia di atas 18 tahun, dll.

Walaupun ada pasal-pasal yang kurang sesuai aspirasi, misalnya pasal penodaan kepada Pancasila dan menghinda presiden dipenjara, namun bukan berarti RUU KUHP ini harus ditolak seluruhnya.

Lebih tepatnya harus dikawal dan didesak. Jangan  ditunda lagi pengesahannya karena pembahasan RUU KUHP ini sudah sangat lama dan belum juga rampung. Ini merugikan karena dengan ditolaknya Judicial Review (Uji Materi) AILA di Mahkamah Konstitusi (MK) maka terus terjadi kekosongan hukum untuk menindak pelaku penyimpangan seksual seperti Lesbian, Homoseksual, Biseksual dan Transgender, Zina dan Perkosaan kepada laki laki. Padahal kejahatan dan penyimpangan seksual semakin marak, termasuk di dalamnya promosi LGBT.

Di mana titik krusial bagi masyarakat agar bisa memantau RUU ini, agar masyarakat tahu?

Pertama, dalam Pasal 284 KUHP,  yang dinyatakan terlarang adalah  perzinaan bagi pasangan yang terikat pernikahan saja. Artinya, hubungan itu  tidak dinyatakan terlarang jika kedua pelakunya belum menikah. Pasal ini di RUU KUHP  menjadi Pasal 484 yang mencakup zina baik bagi yang sudah menikah ataupun belum menikah karena  untuk melindungi bangsa Indonesia dari seks bebas yang semakin marak.

Kedua, dalam Pasal 285 KUHP, pemerkosaan telah dinyatakan terlarang, namun pemerkosaan didefinisikan sebagai pemaksaan oleh seorang lelaki terhadap perempuan.  Padahal, dengan merebaknya homoseksualitas saat ini, banyak juga lelaki yang menjadi korban pemerkosaan. Pasal ini sekarang menjadi pasal 423 yang tidak  saja melindungi korban perempuan tapi juga laki laki.

Ketiga, dalam Pasal 292 KUHP, hubungan sejenis yang dinyatakan terlarang hanya terbatas jika dilakukan dengan anak-anak. Padahal perilaku homoseks tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia yang religius, juga tidak sejalan dengan adat dan kepribadian bangsa. Oleh karena itu di dalam RUU KUHP  pasal 495 diharapkan dapat juga mencakup cabul  sesama jenis di atas 18 tahun.

Perluasan makna ini justru akan melindungi semua pihak jadi tidak hanya anak-anak saja yang terlindungi. dan Bila pelakunya anak-anak  ada UU Perlindungan  Anak dan UU Sistem Peradilan Pidana Anak yang menjadi payung hukum bagi mereka.

Baca:  RUU KUHP, Penggiat Keluarga Dorong DPR Masukkan Pasal Homoseksual

 Ada beberapa LSM demo  menentang RUU KUHP?

Demo itu hak setiap anggota masyarakat. Jadi itu hal yang wajar namun kita bisa menyaksikan siapa-siapa saja LSM dan tokoh tokoh pendukung penolakan RUU KUHP ini. Banyak di antara mereka memang golongan pendukung LGBT dan pengusung liberalisme.

Massa yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Sipi menolak RKUHP di Senayan, Jakarta, Senin (12/02/2018).

Kampanye penolakan terhadap RUU KUHP pun sayangnya tidak disadari dampaknya bagi masyarakat umum yang terpengaruh kampanye ngawur mereka.

Contohnya, sekarang mereka mengatakan RUU KUHP akan ‘mengkriminalisasi pelaku nikah sirri’. Sejak kapan kelompok liberal membela nikah sirri? Lagi pula nikah sirri dan zina jelas-jelas beda. Nikah sirri  ada saksi, ada rukun lainnya yang harus dipenuhi.  Nikah sirri dan adat itu diakui oleh negara jadi ini ada penyesatan opini yang disengaja untuk menolak RUU KUHP dan melanggengkan KUHP warisan belanda. Sekarang mereka ndompleng dalam kasus nikah sirri. *** (bersambung)

The post “RUKHP Perlu Dikawal, Agar Liberalisasi Seksualitas dan LGBT Tak Makin Marak” appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
135580
Pesan dari Perempuan Palestina Korban Kejahatan Tentara Israel http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2018/01/18/133363/pesan-dari-perempuan-palestina-korban-kejahatan-tentara-israel.html Thu, 18 Jan 2018 10:23:28 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=133363

Delapan jarinya hilang, dan sebagian besar anggota tubuhnya tak berfungsi. Bahkan untuk mandi saja, ia  dibantu anggata Napi lainnya

The post Pesan dari Perempuan Palestina Korban Kejahatan Tentara Israel appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com–Suratan takdir yang ia terima membuat hati teriris. Musibah terjadi pada 10 Oktober 2015. Perempuan Palestina bernama Israa Jaabis (32) mengalami kecelakaan mobil saat sedang mempersiapkan pindah rumah dari tempat lama di Jabal a Mukaber, wilayah yang dijajah Zionis-Israel.

Mobilnya terbakar di dekat pos pemeriksaan penjajah Israel. Bukannya ditolong, Isaa Jaabis justru ditangkap dan dijatuhi hukuman 11 tahun penjara. Jaabis dituduh sengaja ingin meledakkan mobil.

Tanpa mendengar penjelasannya, pasukan penjajah itu mengamankan wanita berusia 32 tahun yang sedang mengalami luka bakar hingga 60 persen di sekujur tubuhnya. Dia sempat dirawat selama tiga bulan di Hadassah Ein Kerem Hospital sebelum akhirnya dipindah ke rumah sakit khusus tahanan Ramleh Hospital.

Namun karena fasilitas dan perlakukan yang begitu buruk, tahanan lebih suka menyebutnya sebagai rumah jagal. Jaabis dijebloskan ke penjara Hasharon, satu-satunya penjara untuk perempuan warga Palestina.

Karena perawatan yang tak memadai, delapan jarinya tak bisa diselamatkan. Kulit ketiaknya lengket sehingga membuatnya tak bisa mengangkat tangan. Telinga kanannya hampir hilang dan salah satu lubang hidungnya kini lebih lebar.

Baca juga pengakuan Israa: ‘Anda Tidak Mengerti Penderitaan Saya’

Ia juga mengalami gangguan saraf serta krisis psikologi. Di bawah ini pengakuannya yang dipetik dari laman www.wattan.tv berbahasa Arab.

“Saya menderita kram di tangan dan kaki, kram ini mencegah saya dari melakukan kegiatan sehari-hari dan saya selalu membutuhkan anak perempuan untuk melakukan hal-hal yang paling sederhana dan ini menyakitkan dan membuat saya merasa bahwa saya kurang dari orang lain, merasa terhina dan malu, merasa kerdil diri ini karena saya membutuhkan orang lain.

Saya sangat membutuhkan operasi untuk mengurangi  sakit kram ini agar dapat melakukan sendiri hal-hal pribadi yg sederhana, akan tetapi sipir penjara selalu mempersulit permintaan saya, sejak penangkapan saya, mereka mengatakan bahwa operasi akan dilakukan pada bulan tertentu namun tidak ada yang terjadi, dan ini semakin memperburuk  kondisi saya dari hari ke hari.

Setiap hari saya melihat cermin dan bayangan itu diam-diam menyakiti saya serta menghancurkan jiwa  saya setiap harinya.

Saya sangat  membutuhkan pengobatan agar dapat menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini, betapa takut diri ini ketika melihat wajah di cermin, bagaimana dengan orang lain yang melihat saya dan apa yang dikatakan anak saya ketika ia melihat saya? Apakah dia merasa takut pada saya?

Ribuan pertanyaan hinggap di kepala setiap hari dan saya tidak bisa menjawabnya. Bahkan bertambah rasa takut,  merasa hina dan rasa cemas. Saya mencoba untuk membantu diri ini akan tetapi tidak berhasil. Saya sangat memerlukan perawatan serta operasi untuk dapat hidup dengan situasi yang serba sulit ini, bahkan jika sakit ini mengantarkan saya pada kematian maka saya pasrah dengan kematian dan takdir Allah Subhanahu Wata’ala, akan tetapi apa yang saya derita memungkinkan saya tetap hidup  jika dilakukan operasi dan mendapatkan perawatan secara manusiawi.

Perban yang menutupi luka bakar sangat  menyulitkan gerakan saya bahkan dapat merobek luka, dan sipir penjara sangat tidak membantu saya.

Kedua mata saya terasa kering sehingga sakit sekali setiap kali terkena udara atau ketika dicuci dengan air, maka saya sangat butuh pengobatan mata, namun tidak ada yang mampu menjawab permintaan saya.

Baca: Gadis Cacat Ditabrak Mobil Pemukim Yahudi

Saya memiliki gangguan pernafasan, serasa terbakar ketika bernafas lewat hidung sehingga mengharuskan bernafas lewat mulut, lubang hidung saya sangat kecil dan saya tidak mendapatkan pengobatan apapun meskipun kondisi saya semakin hari semakin buruk.

Saya kekurangan kalisum dan ini menyebabkan gigi saya rusak, saya meminta didatangkan dokter dari luar penjara namun setelah kesulitan  yg terjadi akhirnya disetujui oleh sipir penjara untuk mendatangkan seorang dokter gigi dari luar, akan tetapi ia datang hanya sekali dan tidak kembali lagi.

Saya tidak bisa mengangkat tangan ke atas, gerakan tangan saya sangat terbatas karena melekat dengan ketiak saya. Pegawai kantor penjara dan dokter-dokter di sini tidak pernah mencoba membantu saya, padahal saya juga menderita gatal di kaki.

Telinga kanan saya ini terluka karena terbakar sehingga tidak berfungsi lagi dan banyak yang saya derita karena infeksi parah, saya sangat membutuhkan pengobatan telinga namun semua orang mengabaikan apa yang saya alami,” pungkasnya.*/Waode Aisyah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The post Pesan dari Perempuan Palestina Korban Kejahatan Tentara Israel appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
133363