frontpage hit counter

Fahri Hamzah Berharap RUU Kepulauan Segera Disahkan

Fahri mengatakan, konsepsi Indonesia sebagai kekuatan laut telah hilang, semakin lama sekarang Indonesia menjadi kekuatan darat.

Fahri Hamzah Berharap RUU Kepulauan Segera Disahkan
MAHLADI
Pemandangan Raja Ampat yang indah

Terkait

Hidayatullah.com– Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah berharap Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Kepulauan bisa disahkan paling cepat tahun ini, dan paling lambat sebelum DPR periode ini berakhir, yaitu tanggal 30 September 2019.

Namun, untuk menggolkan ini harus ada pembagian tugas dari masing-masing pihak, dalam hal ini DPR, DPD RI, juga ke 8 Provinsi Kepulauan.

“Ini adalah Golden Moment kita. Setiap Undang-Undang beginian, biasanya disahkannya dalam transisi,” kata Fahri selaku pimpinan rapat didampingi Wakil Ketua DPD RI Ahmad Muqowam saat menyampaikan kesimpulan hasil audiens antara DPR, DPD RI dengan para Gubernur Provinsi Kepulauan (8 Gubernur) membahas RUU Kepulauan di Ruang Rapat Komisi II Gedung Nusantara di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (10/08/2018) dirilis.

Baca: Krisis Da’i di Kepulauan Mentawai

Karena, menurut Fahri kalau tidak Menteri Keuangannya, Sri Mulyani, mikir panjang, tahun depan bagaimana dirinya? “Nah sekarang menteri keuangannya, ah saya tak akan terpilih lagi, setuju! Dia bilang begitu,” tambahnya lagi.

Di DPR, Fahri berjanji akan mengejar fraksi-fraksi yang belum mendaftar.

“Nanti hari Senin ada rapat pimpinan dan kami usahakan ada rapat Bamus segera, untuk meminta perhatian dari seluruh fraksi yang ada,” katanya.

Kepada pimpinan DPD RI, saran Fahri agar membuat surat kepada Presiden Joko Widodo usulan memasukkan masalah RUU Kepulauan dalam pidato, biar itu menjadi bahan.

“Kan Ketua DPD itu dekat dengan Presiden, masa masukin satu alenia dalam pidato Presiden saja enggak bisa,” seloroh politisi dari PKS itu yang disambut tawa audiens.

Baca: Kecelakaan Kapal Beruntun, Jargon “Indonesia Poros Maritim Dunia” Disoroti

Fahri juga mengatakan, ia akan membicarakannya kepada Presiden agar mendesak atau meminta menteri keuangan dan menteri terkait khususnya untuk membahasnya, sehingga pengalokasian anggarannya bisa dilakukan.

“Jadi, kita nanti akan minta, dan saya akan bicara langsung dengan menteri keuangan. Tapi, sebagai pihak yang ada di pihak pemerintah, rasanya lobi kepada Presiden perlu kita tingkatkan supaya pengalokasian ini bisa dilakukan,” ucapnya.

Dengan demikian, lanjut anggota DPR asal NTB itu, tidak akan membebani pemerintahan yang sekarang. Sebab APBN 2019 itu akan berakhir pembahasannya sekitar Oktober 2018 tahun ini.

“Dan kalau UU disahkan di tahun yang akan datang, pasti jatuhnya beban anggaran itu pada APBN 2020. Jadi enggak akan ada beban bagi pemerintah saat ini,” ujar Fahri.

Baca: Poros Maritim Hanya Mimpi Jika Pertahanan Laut Lemah

Di sisi lain, Fahri melanjutkan, konsepsi Indonesia sebagai kekuatan laut telah hilang, semakin lama sekarang Indonesia menjadi kekuatan darat.

Kalau di darat, Indonesia sudah banyak sekali saingan, semua peradaban besar yang ada sekarang memakai peradaban darat, seperti China, Amerika, Eropa, dan lainnya.

“Kita itu ya seharusnya memakai peradaban laut, kalau kita mau melawan dan bersaing dengan mereka kita harus pakai konsep sendiri, yaitu maritim. Nah ini yang tidak didalami, maka undang-Undang ini (poros maritim) adalah dasar dari peletakan konsepsi awal, bagaimana kita mengelola negara maritim, saya kira itu,” ujarnya.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !