frontpage hit counter

Madinah Zaman Nabi adalah Negara Maju

Pentingnya menjadikan keluarga sebagai institusi pendidikan yang utama dalam membangun peradaban Islam di masa depan

Madinah Zaman Nabi adalah Negara Maju
Masjid Nabawi di Madinah

Terkait

Hidayatullah.com–Negara Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tahun 622 M, adalah sebuah negara maju; dalam arti negara itu merupakan negara ideal dalam perspektif peradaban Islam.  Hal itu disampaikan oleh Dr. Adian Husaini dalam acara Kajian Bulanan di Masjid Darut Tauhid Bandung, Ahad (19/03/2017).

Merujuk kepada QS 7:96, Adian menjelaskan bahwa negara ideal (negara maju) adalah “negara taqwa”, yakni negara yang masyarakatnya beriman dan bertaqwa. Negara seperti itulah yang akan mendapatkan kucuran berkah Allah dari langit dan bumi. “Jadi, konsep kemajuan suatu masyarakat atau suatu negara jangan hanya diukur dari aspek materi saja, seperti aspek pendapatan per kapita,” kata Adian di hadapan ratusan jamaah Darut Tauhid.

Merujuk kepada konsep kemajuan manusia yang digagas oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Adian menguraikan konsep kemajuan jiwa manusia. Secara hakiki, manusia yang maju, adalah manusia yang jiwanya mengalami proses pembersihan (tazkiyatun nafs). Jiwanya bersih dari berbagai penyakit jiwa, seperti sombong, dengki, malas, penakut, lemah, riya’, dan sebagainya.

“Lihatlah bagaimana al-Quran menjelaskan para orang tua yang bijak, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Luqman al-Hakim, dan sebagainya dalam mendidik anaknya agar mereka menjadi manusia yang maju, dalam arti menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala,” kata Doktor Peradaban Islam dari ISTAC-IIUM tersebut.

Baca: Madinah, Kota yang Selalu Dirindukan

Dalam kaitan konsep kemajuan itulah, menurut Adian, negara Madinah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan para Khulafa al-Rasyidun adalah negara maju, yang bisa dijadikan sebagai negara model yang ideal.  Karena itu, Adian menyesalkan, mengapa dalam pelajaran di sekolah-sekolah pada umumnya, para pelajar muslim tidak dikenalkan dengan konsep ideal “negara Madinah”.

“Ahli manuskrip kuno, Prof. Hamidullah, menulis bahwa Piagam Madinah adalah the first written constitution in the world,” jelas Adian.

Bahkan, masyarakat Madinah ketika itu adalah masyarakat yang cinta ilmu, cinta pengorbanan, dan saling mengasihi satu sama lain. Karena itu tidak heran, dalam waktu singkat, Madinah menjelma menjadi pusat peradaban di dunia. Tahun 636 M, umat Islam sudah mampu merebut Kota Jerusalem dan membangun peradaban baru yang penuh toleransi.  Merujuk pada buku “Jerusalem” karya Karen Armstrong, Adian menyebut, Umar bin Khathab adalah pemimpin pertama yang memberikan toleransi beragama di Kota Jerusalem.  Pada tahun 711 M, umat Islam mulai membangun peradaban maju dan besar di Andalusia yang berlangsung sekitar 800 tahun.

Dalam Kajian yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu, Adian mengimbau perlunya orang tua memiliki kepedulian terhadap pendidikan sejarah bagi anak-anaknya. “Orang-orang Barat saja sampai sekarang tetap membanggakan warisan intelektual Yunani dan para intelektual masa lalu mereka. Jangan sampai anak-anak muslim tidak paham sejarah, akhirnya mereka tidak bangga dengan khazanah sejarah mereka sendiri,” jelasnya.

Baca: Madinah pada Akhir Zaman

Pada kesempatan itu Adian menekankan pentingnya menjadikan keluarga sebagai institusi pendidikan yang utama dalam membangun peradaban Islam di masa depan. Ironisnya,  mulai TK sampai Perguruan Tinggi, para pelajar tidak diberikan pendidikan bagaimana menjadi orang tua yang baik. Pemerintah pun tidak punya kementerian pemberdayaan keluarga.

“Yang ada sekarang kementerian pemberdayaan perempuan. Padahal,  sekarang makin banyak laki-laki yang tidak berdaya, yang juga perlu diberdayakan,” kata Adian, sambil ketawa, diiringi tawa jamaah.

Secara panjang lebar, Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor itu kemudian menjelaskan bagaimana tanggung jawab dan kiat orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Ia mengimbau para pemuda yang belum menikah, agar memiliki ilmu bagaimana mendidik anak, sebelum menikah. “Orang tua wajib mendidik anak-anaknya, agar anak-anaknya bisa mendidik anak-anak mereka menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dengan itu akan tercipta generasi Muslim yang makin tangguh dari masa ke masa,” paparnya.*

Rep: Ahmad

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !