frontpage hit counter

Kamp Migran Kotor dan Pesing, Pemda Paris Diam, Warga Ancam Mogok

Kamp Migran Kotor dan Pesing, Pemda Paris Diam, Warga Ancam Mogok
Para migran tinggal di tenda-tenda di bawah jembatan di Paris, Prancis.

Terkait

Hidayatullah.com—Warga Paris mulai geram dengan pemandangan buruk yang mereka lihat di sekitar tempat yang dijadikan para migran dan pengungsi berkemah. Sebagian dari mereka mengancam akan melakukan mogok makan, jika pemerintah daerah tidak bertindak membersihkan jalan-jalan yang kotor dan mengenyahkan tenda-tenda pengungsi dari tepi jalan.

Warga di distrik X dan XIX, dekat gereja Katolik Roma yang terkenal Basilique du Sacré-Cœur, mendesak pihak berwenang agar merelokasi tempat pemrosesan aplikasi suaka di bagian utara Paris. Mereka mengkhawatirkan kondisi tidak bersih dan tidak sehat yang menjadi tempat para pengungsi dan migran tinggal.

“Kami terpaksa memasang pagar ini untuk melindungi tempat parkir umum kami dari kotoran dan air seni, dan untuk itu pastinya diperlukan dana. Itu satu-satunya solusi yang bisa kami lakukan, tapi itu saja tidak cukup,” kata Oscar, salah seorang warga kepada RT Selasa (12/12/2017).

Para migran dan pengungsi, frustasi setelah berhari-hari menunggu proses aplikasi suaka dan tidur di jalanan, tidak punya pilihan kecuali mendirikan kemah di sejumlah kawasan di Paris.

“Musim panas atau musim dingin, kami datang tiap pekan untuk memberikan makanan dan obat-obatan kepada tunawisma. Dan dengan banyaknya kedatangan migran, jumlah mereka sekarang bertambah. Kami baru saja membagikan sekitar 100 paket roti isi dan pie, produk kebersihan serta pakaian. Ada sekitar 100 migran di luar sana yang datang dari Afghanistan dan Suriah,” kata Nadia, seorang relawan, kepada RT.

“Pemerintah sama sekali tidak berbuat apa-apa,” imbuhnya. “Mereka tidak memberikan dukungan kepada organisasi-organisasi yang membantu. Orang-orang yang ada di sini [menolong migran] semuanya adalah relawan. Kami tidak menerima apa-apa dari pemerintah. Kami meminta perusahaan-perusahaan swasta –toko dan tukang roti misalnya– untuk membantu kami.”

Pierre Vuarin, juru bicara asosiasi warga, mengatakan bahwa untuk mengatasi masalah itu pihak berwenang pertama harus mengubah sistem penampungan sementara bagi para pencari suaka.

“Sistem itu merusak distrik kami, menghancurkan citra para pencari suaka dan mencederai hak mereka. Sistem ini harus diganti dengan sistem yang lebih layak untuk membantu orang-orang tersebut pulang kembali ke negeri asalnya secara normal. Jika hal itu tidak dilakukan sampai akhir tahun ini, kelompok kami akan melakukan mogok makan,” kata Vuarin.

Bulan lalu, Vuarin dan kelompok-kelompok pendukungnya menulis surat terbuka kepada Presiden Emmanuel Macron, memintanya agar bertindak. Mereka mengatakan lebih dari dua tahun terakhir 4.000 warga mengalami malam-malam frustasi ketika harus berjalan menyusuri trotoar sepanjang 100 meter di Boulevard de la Villette. Sekarang ini, ada lebih dari 30 kawasan perkemahan mini yang “muncul dan hilang” mengikuti ada atau tidaknya operasi polisi, kata surat itu.

Sistem permohanan suaka yang ada sekarang ini memaksa ribuan migran dan pengungsi menggelandang di tempat terbuka dalam waktu yang lama, tidak sekedar berhari-hari. Akibatnya, lingkungan menjadi kotor, semrawut dan mudah menyulut pertikaian baik antarmigran dan pengungungsi maupun bentrokan dengan warga setempat.

“Jika tidak ada tindakan yang diambil guna menutup pusat-pusat penampungan pencari suaka sementara sebelum tanggal 1 Januari, kami akan melakukan mogok makan,” kata Vuarin dan sejumlah aktivis lain.

Alexandra Cordebard, kepala distrik X Paris, mengatakan bahwa pemerintah telah berjanji pusat penerimaan pencari suaka itu akan dipindah sebelum akhir tahun ini.

Pada bulan Agustus lalu, hampir 2.500 migran dan pengungsi, yang kebanyakan asal Afrika, dievakuasi dari perkemahan di bagian utara Paris. Mereka direlokasi ke 18 pusat penerimaan pencari suaka dan pengungsi yang tersebar di berbagai lokasi di ibukota Paris.

Awal tahun ini, pemerintahan Presiden Macron mengajukan usulan pendirian lebih dari 12.500 tempat penampungan pencari suaka dan pengungsi sebelum 2019.

Bulan Oktober, Presiden Macron mengatakan bahwa para pendatang tidak berdokumen yang terlibat tindak kriminal akan didepak dari Prancis kembali ke negeri asalnya.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !