frontpage hit counter

Setelah 8 tahun, WNI asal Cirebon Ini Akhirnya Bebas dari Hukuman Mati

Masamah tetap pada pendirian bahwa dirinya tidak pernah membuat surat pernyataan atau pengakuan membunuh

Setelah 8 tahun, WNI asal Cirebon Ini Akhirnya Bebas dari Hukuman Mati
ISTIMEWA
Keluarga Masamah Bt Raswa Sanusi di Cirebon

Terkait

Hidayatullah.com–Bagi  Masamah Bt Raswa Sanusi, hari Selasa,  13 Maret 2017 menjadi hari yang bersejarah dan terlupakan. Pasalnya, di tanggal itu dirinya dinyatakan bebas oleh Hakim Pengadilan Tabuk, Arab Saudi.

Alkisah di  tahun 2009, WNI asal Cirebon ini ditahan di Penjara Tabuk, Arab Saudi, atas dakwaan membunuh anak majikan yang  berumur 11 bulan. Sejak saat itu, Masamah yang baru tujuh bulan bekerja di rumah majikannya terpaksa harus merasakan dinginnya tembok penjara.

Masamah sempat divonis hukuman kurungan selama 5 (lima) tahun, namun Jaksa Penuntut Umum menyatakan banding yang kemudian dikabulkan oleh Mahkamah Banding. Selanjutnya Mahkamah Tabuk kembali menggelar persidangan atas kasus Masamah hingga tahap akhir persidangan.

Baca:  TKW Asal Madura Jalani Hukuman Mati di Madinah

Sejak kasus ini bergulir, majikan/ahli waris korban bersikukuh menuntut Masamah dengan hukuman mati qishas. Hasil sidang pada tanggal 26 Februari 2017  menetapkan bahwa sidang yang digelar tanggal 13 Maret 2017 sedianya menjadi tahap pembacaan vonis terhadap terdakwa. Namun, Hakim  ternyata masih mempertimbangkan untuk menggali lebih dalam keterangan dari saksi-saksi yang dulu pernah mengikuti jalannya sidang, termasuk keterangan dari Kepala Mahkamah Umum Tabuk terkait legalitas pengakuan Masamah sebelumnya.

Beberapa tahun terkahir, pengawalan kasus Masamah diambil alih oleh Rahmat Aming, Pelaksana Fungsi Konsuler III KJRI Jeddah, dan Muhibuddin Muhammad Thaib, Atase Hukum dan HAM KBRI Riyah.

“Kami terus-menerus berupaya menempuh berbagai cara damai dengan melakukan pendekatan kepada majikan agar beliau mengubah pendiriannya (menarik tuntutannya). Kasian kan Masamah sudah begitu lama dipenjara dan tidak ada bukti kuat bahwa dia pelakunya,” terang Rahmat Aming yang bolak-balik Jeddah-Tabuk untuk menghadiri setiap sidang perkara di Provinsi paling ujung yang berjarak lebih dari 1000 kilometer dari Jeddah.

“Saya sama sekali tidak membunuh Marwah (anak majikan). Waktu kejadian itu saya tinggalkan Marwah sebentar untuk ke dapur  bikin susu buat dia. Tapi waktu  kembali,  saya temukan dia telah meninggal,”  ucap Masamah ditirukan Hakim dalam keterangan pers yang dikirim ke hidayatullah.com.

Baca: Hukuman Mati di Saudi: Antara Perlakuan TKW

Masamah tetap pada pendirian bahwa dirinya tidak pernah membuat surat pernyataan atau pengakuan membunuh. “Waktu itu saya hanya disuruh tanda tangan saat di kantor polisi, gak tahu itu isinya apa,” jawab Masamah yang mengaku tidak didampingi penerjemah saat dirinya diperiksa penyidik delapan tahun tahun silam.

Setiap sebelum sidang digelar,  Tim KJRI Jeddah menyempatkan diri bersilaturrahmi dan melakukan pendekatan kepada majikan (ayah korban) dan menanyakan jalannya sidang yang berlarut-larut sejak kasus ini bergulir 8 tahun silam. Dia pun sebenarnya menginginkan agar proses hukum segera selesai.

Hakim mempertimbangkan untuk menunda pembacaan putusan karena masih menunggu konfirmasi kesaksian dari penyidik yang melakukan investigasi terhadap Masamah  setelah memperoleh persetujuan dari Kepala Mahkamah Tabuk.

Baca: Indonesia Akan Pulangkan 700 Ribu Pembantu dan TKI dari Timur Tengah

Tanpa diduga, ayah korban yang bernama Ghalib sambil terisak meneteskan meneteskan air mata mengangkat tangan  “Tanazaltu laha liwajhillah” (aku maafkan Masamah karena mengharap pahala dari Allah),” ucapnya sambil terisak dengan suara   terbata-bata.

Dengan sedikit terkejut, Hakim menanyakan secara berulang kepada Galib terkait pernyataan pemaafan (tanazul) terhadap Masamah. Ghalib menyampaikan bahwa dirinya dengan penuh kesadaran dan ikhlas telah memaafkan Masamah tanpa syarat, dan tanpa meminta uang diyat sedikit pun. Dia hanya berharap kebaikan buat dirinya dan Masamah.Akhirnya, Majelis Hakim mencacat pernyataaan tanazul dari ayah  korban dalam persidangan hari itu.

Baca:  Mantan TKI Arab Saudi Raih Doktor Hukum dari Unpad

Dengan tanazul ini, maka Masamah telah dinyatakan bebas dari tuntutan hak khusus, yaitu hukuman mati qishas.

“Alhamdulillah, semoga saya  bisa segera bebas dan pulang ke keluarga di Tanah  Air. Terima kasih safarah (KJRI) ,” ujar Masamah saat meninggalkan ruang sidang siang itu.

Sidang terakhir ini menjadi antiklimaks dari rentetan proses hukum yang berjalan selama hampir 8 tahun.

“Terbebasnya Masamah merupakan buah dari sekian upaya strategis KJRI Jeddah dalam memberikan makna kehadiran negara bagi WNI di Arab Saudi,” pungkas Rahmat Aming, Pelaksana Fungsi Konsuler sekaligus menjabat selaku Kepala Kanselerai KJRI Jeddah usai  mendampingi Masamah di Mahkamah dalam persidangan.*

Rep: Ahmad

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !