Tentara AS Pembantai Rakyat Afghanistan Mengaku Bersalah

Bales didakwa melakukan pembantaian terhadap penduduk desa, kebanyakan perempuan dan anak-anak, saat melakukan serangan ke tempat tinggal mereka di Provinsi Kandahar pada Maret 2012.

Tentara AS Pembantai Rakyat Afghanistan Mengaku Bersalah

Terkait

Hidayatullah.com—Seorang prajurit Amerika Serikat yang didakwa membantai 16 orang warga sipil Afghanistan dalam dua kasus penembakan tahun lalu, akhirnya membuat kesepakatan dengan jaksa penuntut guna menghindari hukuman mati.

Robert Bales dijadwalkan menyampaikan pernyataan bersalahnya itu dalam sidang tanggal 5 Juni mendatang di sebuah pangkalan militer di Amerika Serikat, kata pengacaranya Henry Browne hari Rabu (29/5/2013), lansir Aljazeera.

Bales didakwa melakukan pembantaian terhadap penduduk desa, kebanyakan perempuan dan anak-anak, saat melakukan serangan ke tempat tinggal mereka di Provinsi Kandahar pada Maret 2012.

“Hakim akan menanyai Sersan Bales tentang apa yang dilakukannya, apakah dia mengingatnya dan tentang kondisi mentalnya,” kata Browne.

Sidan vonis kasus Bales itu dijadwalkan digelar bulan September mendatang, namun sebelumnya hakim dan para jenderal atasan Bales harus memutuskan apakah akan menerima pengurangan hukuman yang diajukan Bales sebagai balasan atas pengakuan bersalahnya.

Emma Scanlan, salah seorang pengacara yang juga mendampingi mantan prajurit AS yang pernah ditugaskan empat kali ke Iraq dan Afghanistan itu, mengatakan bahwa setelah pernyataan bersalahnya, juri pengadilan militer akan memutuskan apakah Bales akan diganjar hukuman mati dan diberikan peluang dibebaskan setelah menjalani sebagian masa hukuman.

Jurubicara militer AS Mayor Gary Dangerfield membenarkan adanya pengakuan bersalah yang akan diajukan Bales itu, namun dia menolak untuk memberikan komentar lebih lanjut.

Bales ke luar meninggalkan posnya dini hari 11 maret 2012. Dia mendatangi dua rumah warga setempat yang penghuninya sedang terlelap tidur. Dia menembaki korban yang kebanyakan perempuan dan anak-anak, lalu menumpuk dan membakar mayatnya.

Sebelumnya Browne mengatakan bahwa kliennya itu hanya teringat sedikit mengenai tindakan brutal yang dilakukannya. Dia juga mengatakan bahwa Bales dalam kondisi “gila dan terganggu mentalnya” pada malam peristiwa itu terjadi.

Namun setelah tim pembela, termasuk pengacara militer yang ditugaskan mendampingi Bales, mengkaji hasil pemeriksaan dokter jiwa yang mengatakan bahwa Bales sulit untuk membuktikan dirinya tidak waras saat melakukan aksinya, maka mereka memutuskan agar Bales mengajukan pengakuan bersalah guna meringankan hukuman.

Menurt Browne, saat melakukan serangan itu, Bales sebelumnya menenggak minuman keras selundupan dan Valium yang diberikan rekannya.

Namun saat kasus itu mencuat ke publik pertama kali, banyak pihak di Afghanistan tidak percaya bahwa Bales melakukan aksi brutalnya itu sendirian. Dan prajurit berpangkat sersan itu dijadikan tumbal untuk menutupi pelaku-pelaku lainnya.

Pembantaian itu merupakan aksi balasan tentara Amerika Serikat yang marah karena rekannya terkena bom di jalanan di Afghanistan. Baca berita sebelumnya: Balas Dendam, Alasan Tentara AS membantai Warga Afghanistan.*

Rep: Ama Farah

Editor: Cholis Akbar

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !