Ekonomi Syariah – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Tue, 19 Dec 2017 06:35:35 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.1 Program Zakat Saham Diluncurkan oleh BAZNAS-HP Sekuritas http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/11/13/127917/program-zakat-saham-diluncurkan-oleh-baznas-hp-sekuritas.html Mon, 13 Nov 2017 07:34:58 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=127917

Menurut Ketua BAZNAS, Prof Bambang Sudibyo, program ini akan menjadi jalan alternatif untuk membendung kepungan kapitalisme.

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– PT Henan Putihrai Sekuritas (HP Sekuritas) sebagai pelopor ‘Investasi Berbagi’ bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) meluncurkan Program Shadaqah dan Zakat Saham Nasabah (SAZADAH).

Program ini dimaksudkan untuk memfasilitasi investor (syariah maupun konvensional) untuk dapat menyucikan harta sekaligus berbagi kepada sesama melalui sedekah dan zakat saham/dana.

Peluncuran program ini dilaksanakan di Main Hall Bursa Efek Jakarta, Senin (13/11/2017) bersamaan dengan pembukaan perdagangan saham.

Direktur HP Sekuritas Ferry Sudjono menyampaikan, peluncuran program ini merupakan kelanjutan dari komitmen HP Sekuritas dalam memperkenalkan variasi sarana donasi, meningkatkan kesadaran berinvestasi dan berbagi, serta yang tak kalah penting mendukung program pasar modal syariah.

“Siapapun dapat berpartisipasi dalam program SAZADAH, investor retail, lembaga/institusi, organisasi kemasyarakatan, selama mereka terdaftar sebagai nasabah/pemegang rekening HP Sekuritas dan bertransaksi dalam bentuk saham melalui HP Sekuritas,” tambahnya sebagaimana siaran pers diterima hidayatullah.com.

Baca: Membangun Bangsa dengan Zakat

Menurut Ketua BAZNAS, Prof Bambang Sudibyo, program ini akan menjadi jalan alternatif untuk membendung kepungan kapitalisme.

“Di tengah kesenjangan sosial yang tinggi, sedekah dan zakat saham menjadi sangat strategis karena program ini merupakan koreksi terhadap kapitalisme, yang semangatnya adalah memaksimalkan akumulasi kapital,” ujarnya.

Ia berharap, semakin banyak para pelaku pasar modal yang bersedekah dan berzakat produk-produk sekuritasnya. Selain saham, diharapkan juga berzakat obligasi untuk membantu pengentasan kemiskinan.

Akronim SAZADAH diilhami dari kata sajadah yang menggambarkan HP Sekuritas sebagai wadah untuk menghimpun shadaqah dan zakat dari berbagai lapisan masyarakat dengan mengharap ridha Allah Subhanahu Wata’ala.

Program SAZADAH merupakan pengembangan dari program Berinvestasi Sambil Sedekah (BERKAH) yang tahun lalu diluncurkan, juga sebagai hasil kerja sama HP Sekuritas dengan BAZNAS, dinilai sebagai bukti inovasi tanpa henti dalam memberikan layanan kepada masyarakat untuk menunaikan zakat dan sedekahnya.

Baca: Problematika Zakat Profesi

Hadir dalam acara tersebut, Ketua BAZNAS Prof Dr Bambang Sudibyo, Direktur PT Henan Putihrai Sekuritas Ferry Sudjono, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin, dan Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hadir pula sejumlah tamu undangan dari OJK, BNI Syariah, BRI Syariah, Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, Bidang Pasar Modal DSN MUI, IAEI, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), FoSSEI, GP Ansor, serta Fatayat NU.

Sedekah dan zakat yang dikeluarkan oleh para pemilik saham tersebut akan disalurkan kepada mustahik yang membutuhkan melalui BAZNAS, untuk membantu mustahik memperoleh penghidupan lebih baik melalui Program Zakat Community Cevelopment (ZCD).

Program ini merupakan pengembangan komunitas dengan mengintegrasikan aspek sosial (pendidikan, kesehatan, agama, lingkungan, dan aspek sosial lainnya) dan aspek ekonomi secara komprehensif. Dimana pendanaan utamanya bersumber dari zakat, infak, dan sedekah, sehingga diharapkan terwujud masyarakat sejahtera dan mandiri. Tahun ini ditargetkan sebanyak 41 titik ZCD terbangun di berbagai desa di Indonesia.

Baca: Zakat Perusahaan, Bagaimana Menghitungnya?

KH Ma’ruf Amin menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang menyentuh para pelaku di bursa saham Indonesia yang kini dapat menyucikan harta mereka. Prinsip-prinsip syariah yang terkandung dalam program ini telah mendapatkan pengakuan dari MUI.

Saham termasuk jenis harta yang wajib dikeluarkan zakatnya setelah mencapai nishab. Menunaikan zakat saham perusahaan merupakan bagian dari kewajiban zakat perusahaan yang harus dibayarkan. Sebab saham adalah surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan.

Dengan demikian, disebutkan, apabila seseorang membeli saham, sama halnya ia membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut dan berhak atas keuntungan perusahaan dalam bentuk dividen pada saat perusahaan membukukan keuntungannya.

Dalam pembahasan forum-forum ulama dunia, lanjutnya, keputusan fatwa hukum mengeluarkan zakat atas kepemilikan saham adalah wajib bagi yang telah mencapai haul dan nisab (waktu dan jumlah yang ditentukan). Di Indonesia, kewajiban mengeluarkan zakat perusahaan ini sesuai dengan UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.*

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Perwakafan Dinilai Berkembang, Dituntut Pengelolaan Lebih Baik http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/11/10/127628/perwakafan-dinilai-berkembang-dituntut-pengelolaan-lebih-baik.html Fri, 10 Nov 2017 01:11:59 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=127628

Slamet optimistis, wakaf akan semakin besar kontribusinya bagi kesejahteraan masyarakat dan bahkan perekonomian nasional, jika semua pemangku kepentingan dan praktisi wakaf memberikan kontribusi-kontribusi nyata, bukan sekadar berwacana.

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Kondisi wakaf Indonesia hingga saat ini dinilai sudah jauh berkembang ini. Oleh karena itu, dituntut adanya tata kelola perwakafan yang lebih baik dari sisi regulasi, pengawasan, manajemen, pelaporan, penyaluran manfaat, dan aspek-aspek lainnya.

Bahkan Undang-Undang Wakaf pun dinilai perlu direvisi agar sejalan dengan perkembangan wakaf. Karena itulah, Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Bank Indonesia (BI) menyusun dokumen Waqf Core Principles (WCP) bekerja sama dengan para akademisi sejak dua tahun yang lalu.

“Dokumen WCP ini bisa menjadi kerangka acuan dalam penyusunan tata kelola wakaf masa depan, sebagai salah satu kontribusi BWI sebagai otoritas wakaf dan BI sebagai otoritas kebijakan makro ekonomi,” ujar Muhammad Luthfi, Ketua Divisi Luar Negeri BWI dalam rilisnya kepada redaksi kemarin.

Menurut BWI, sebelum Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf lahir, ragam harta wakaf dan pengelolaannya masih terbatas. Saat itu wakaf pada umumnya baru sebatas tanah yang dikelola menjadi masjid, madrasah, dan kuburan.

Baca: Kesadaran Wakaf Produktif Masih Minim Dinilai karena Pola Pikir

Kini, jelasnya, 13 tahun setelah kelahiran UU Wakaf, sudah bisa ditemukan tanah wakaf yang dikelola menjadi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU); beberapa rumah sakit yang dibangun dengan skema kombinasi wakaf tanah dan wakaf uang; sudah ada aset wakaf berupa hotel, gedung perkantoran, perkebunan; dan ragam wakaf produktif lainnya.

Ketua BWI Dr Slamet Riyanto berharap, dokumen WCP yang disusun BI bersama BWI bisa menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan wakaf ke arah yang lebih baik. Yaitu dari aspek penghimpunan, perlindungan, pengelolaan, penyaluran manfaat, dan pelaporan kepada otoritas dan kepada masyarakat.

Slamet optimistis, wakaf akan semakin besar kontribusinya bagi kesejahteraan masyarakat dan bahkan perekonomian nasional, jika semua pemangku kepentingan dan praktisi wakaf memberikan kontribusi-kontribusi nyata, bukan sekadar berwacana.

Luthfi menjelaskan, penyusunan WCP tidak bisa sekali jadi, tetapi ada beberapa tahapan. Di antaranya adalah tahap pembahasan dalam kelompok kerja internasional dan dengar pendapat masyarakat.

“Semester pertama tahun ini telah diadakan 3rd International Working Group on WCP di Yogyakarta,” ujar Luthfi.

Baca: Mengintip Kebun Wakaf Produktif Indonesia Berdaya di Subang

Kegiatan Internasional

Pada bulan November ini, di Surabaya diadakan Seminar Internasional Wakaf, Public Hearing on WCP, dan 4rd International Working Group. Ketiga kegiatan internasional itu diadakan BWI bekerja sama dengan BI, Kuwait Awqaf Public Foundation (KAPF), dan Islamic Research and Training Institute-Islamic Development Bank (IRTI-IDB) di Grand City, Surabaya, Jawa Timur, 8-9 November lalu.

Ketiganya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan The 4th Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2017. ISEF berlangsung pada tanggal 7 November 2017 hingga besok, Sabtu (11/11/2017) di tempat yang sama, Grand City.

Baca: Kembangkan Potensi Wakaf Produktif, BWI Bangun Rumah Sakit Mata

Public Hearing dan International Working Group bertujuan untuk memyempurnakan dokumen WCP. Sedangkan Seminar Internasional Wakaf digelar untuk meningkatkan kapasitas nazhir-nazhir yang ada di Indonesia. BWI mengundang KAPF dan IRTI-IDB untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai pengelolaan dan manajemen aset wakaf, agar bisa lebih produktif dan semakin besar manfaatnya bagi masyarakat.

“Dalam ketiga kegiatan ini kami mengundang otoritas wakaf, nazhir, dan investor dari beberapa negara; akademisi, praktisi keuangan, dan nazhir-nazhir potensial di Indonesia; juga para pemangku kepentingan terkait wakaf, seperti Kementerian Agama dan Otoritas Jasa Keuangan,” jelas Luthfi.*

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Indonesia Bakal Dijadikan Pusat Keuangan Syariah Global http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/10/30/126736/indonesia-bakal-dijadikan-pusat-keuangan-syariah-global.html Sun, 29 Oct 2017 22:36:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126736

Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang stabil pada kisaran 5,0 persen dan berpenduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi untuk tumbuhnya perekonomian syariah, khususnya pasar modal syariah.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Pasar Keuangan Dubai (DFM) bersepakat untuk bekerja sama dalam pengembangan keuangan syariah. Misalnya, menjadikan Indonesia sebagai hub atau pusat pasar keuangan syariah global.

Usai bertemu dengan otoritas pasar keuangan di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Ahad (29/10/2017), Direktur Utama BEI Tito Sulistio belum bisa merinci kesepakatan awal itu.

Dikatakannya, dua pekan ke depan, pihaknya kembali akan bertemu dengan mereka di Dubai untuk pembicaraan lanjutan.

Tito optimistis harapan kerja sama itu bakal terlaksana karena empat keuangan syariah terbesar saat ini, yakni Dubai, Turki, Malaysia, dan Indonesia, tentunya memiliki pandangan yang sama bahwa bersinergi lebih baik dalam meningkatkan pangsa keuangan syariah di keuangan global.

Ia menyatakan pernah menyampaikan rencana pengembangan pasar modal syariah kepada otoritas di Indonesia. Ia yakin pemerintah dan otoritas bakal mendukungnya karena itu adalah upaya baru dalam memobilisasi dana sebagai sumber pembiayaan.

Sebelumnya kepada wartawan, Tito mengatakan perlunya membentuk bursa efek syariah yang tidak hanya menyediakan produk. Namun juga proses yang sesuai syariah karena negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia itu berpotensi menjadi pusat unggulan bursa efek syariah dunia.

“Kita perlu punya bursa efek syariah yang full syariah. Kita bisa jadi center of excellence dunia. Apakah kita bisa? Bisa,” ujar Tito kutip Antara, Senin (30/10/2017).

Ia menjelaskan, Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang stabil pada kisaran 5,0 persen dan berpenduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi untuk tumbuhnya perekonomian syariah, khususnya pasar modal syariah.

Berkaitan dengan itu, menurut Tito, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani menyatakan ketertarikannya untuk mempromotori pembentukan bursa efek syariah.

“BEI mendukung rencana itu dan siap membantu,” ujar Tito seraya menambahkan bahwa sebaiknya bursa efek syariah itu ada di Jawa Timur.

Pasar modal syariah Indonesia kini memiliki empat efek syariah yang dapat ditransaksikan investor, 343 saham syariah, 160 reksadana syariah, satu ETF syariah, 68 sukuk korporasi dan 29 sukuk pemerintah.

Per Juni 2017 dibandingkan tahun sebelumnya return indeks saham syariah Indonesia meningkat sebesar 28,1 persen.

Kapitalisasi saham syariah dalam lima tahun terakhir meningkat 42 persen menjadi Rp 3.479 triliun. Sementara kapitalisasi total saham saat ini sebesar Rp 6.473 triliun.*

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mantan Dirut BMI Optimistis, Bank Muamalat akan Bertahan http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/10/18/125820/mantan-dirut-bmi-optimistis-bank-muamalat-akan-bertahan.html Wed, 18 Oct 2017 01:09:14 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125820

"Tetapi juga kita harus berhati-hati," lanjutnya segera, "jangan sampai yang masuk (ke Muamalat) itu malah membelokkan nilai-nilai Islamnya gitu."

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia (BMI) periode 1999-2009, A Riawan Amin, mengajak umat Islam untuk melakukan sesuatu demi bertahan dan berkembangnya bank syariah pertama di Indonesia tersebut.

Menurutnya, cara paling minimal bagi umat, khususnya para nasabah Bank Muamalat, dalam menjaga bank tersebut adalah dengan mempertahankan depositonya. Jangan sampai malah mencabut atau memindahkannya dari Bank Muamalat.

“Paling sedikit kalau kita tidak beli sahamnya nanti, setidak-tidaknya jangan mencabut depositonyalah. Karena (kalau dicabut deposito) nanti runtuhnya karena likuiditas, karena deposito ilang. Bukan karena masalah-masalah lain,” ujar Riawan dimintai pendapatnya oleh hidayatullah.com ditemui di kawasan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur, awal pekan ini.

Senin (16/10/2017) siang itu, Riawan baru saja mengikuti rapat terbatas bersama Center of Study for Indonesian Leadership (CSIL), sejumlah tokoh ekonomi Islam, dan pihak perwakilan Bank Muamalat, terkait kondisi terkini Bank Muamalat.

Baca: Direktur CSIL: Umat Perlu Dilibatkan Soal Rights Issue Bank Muamalat

Riawan optimistis, Bank Muamalat akan tetap bertahan dan tidak akan jatuh.

“Bank ini tidak akan, insya Allah menurut saya, tidak akan runtuh, cuma resikonya tidak akan berkembang, gitu aja. Tapi dia tidak akan bangkrut, insya Allah,” ujarnya.

Diketahui, hingga saat ini Bank Muamalat dalam proses penambahan modal lewat rights issue (penjualan saham baru). Dimana PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI), perusahaan efek yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), menjadi pembeli siaga (standby buyer) saham baru tersebut jika pemegang saham existing (yang ada saat ini) tidak menyerap saham baru Bank Muamalat.

Jika nanti Bank Muamalat jadi dimiliki oleh PADI, apakah Bank Muamalat akan tetap jadi milik umat Islam?

Ditanya begitu, Riawan menjelaskan. Yang paling mendasar, Islam itu menjadi nilai yang bisa dipakai oleh siapa saja.

“Kita tuh, kan, senang bahwa Islam itu menjadi nilai yang dipakai oleh siapapun. Basic-nya itu dulu. Islam bukan hanya untuk orang Islam, Islam untuk dunia,” ujarnya.

“Tetapi juga kita harus berhati-hati,” lanjutnya segera, “jangan sampai yang masuk (ke Muamalat) itu malah membelokkan nilai-nilai Islamnya gitu.”

Baca: KH Ma’ruf Amin: Bank Muamalat Harus Kita Jaga

Diberitakan hidayatullah.com sebelumnya, terkait kondisi terkini Bank Muamalat yang mengundang perhatian tersendiri di internal umat Islam, CSIL menggelar disuksi terbatas dengan tokoh-tokoh ekonomi umat dan manajemen BMI di sebuah restoran di Jl Cipinang Cempedak 1, Polonia, Jakarta Timur, Senin (16/10/2017).

“Diskusi ini kami hadirkan sebagai wujud kecintaan kita pada bank umat, ya karena Bank Muamalat ini bisa disebut bank perjuangan atau bank umat tepatnya,” terang Direktur CSIL Dr Aji Dedi Mulawarman.*

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Direktur CSIL: Umat Perlu Dilibatkan Soal Rights Issue Bank Muamalat http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/10/16/125749/direktur-csil-umat-perlu-dilibatkan-soal-rights-issue-bank-muamalat.html Mon, 16 Oct 2017 14:54:24 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125749

Bank Muamalat, menurutnya, bisa memberikan jawaban tegas bahwa bank syariah pertama ini memang benar-benar menerapkan perbankan syariah, agar umat paham dan rela untuk kembali bergerak memajukan bank yang sedemikian lama berkiprah di tengah-tengah umat.

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Terkait rights issue (penjualan saham baru) Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang mengundang perhatian tersendiri di internal umat Islam, Center of Study for Indonesian Leadership (CSIL) menggelar disuksi terbatas dengan tokoh-tokoh ekonomi umat dan manajemen BMI di sebuah restoran di Jl Cipinang Cempedak 1, Polonia, Jakarta Timur, Senin (16/10/2017).

“Diskusi ini kami hadirkan sebagai wujud kecintaan kita pada bank umat, ya karena Bank Muamalat ini bisa disebut bank perjuangan atau bank umat tepatnya,” terang Direktur CSIL Dr Aji Dedi Mulawarman.

Internal umat memang kritis melihat apa yang dilakukan Bank Muamalat dalam hal ini right issue.

“Umat sekarang sejatinya simpel saja melihat rights issue Bank Muamalat ini. Sebab, Bank Muamalat benar atau salah, Bank Muamalat sendiri mesti membuka ruang untuk perubahan, kalau tidak ingin menjadi olok-olokkan umat lainnya,” ujarnya.

Bank Muamalat, menurutnya, bisa memberikan jawaban tegas bahwa bank syariah pertama ini memang benar-benar menerapkan perbankan syariah, agar umat paham dan rela untuk kembali bergerak memajukan bank yang sedemikian lama berkiprah di tengah-tengah umat.

“Jangan sampai syariah sebatas label, dimana umat belakangan mengenal istilah ekstrem, yaitu kapitalisme syariah,” tegas Aji Dedi yang juga Ketua Umum Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam (Fordebi).

Oleh karena itu, Dedi berharap Bank Muamalat bisa membuka ruang untuk melibatkan umat ikut mengatasi masalah yang sesungguhnya menurutnya lebih dari sekadar soal modal.

“Ya, kita harap, Muamalat mau mengundang umat, diskusi bersama bagaimana mengatasi semua ini, jangan kemudian berpikir dan bertindak semakin menjauh dari umat,” tutupnya.

Hadir dalam diskusi terbatas tersebut beberapa tokoh seperti mantan Direktur Utama Bank Muamalat Riawan Amin, Heppy Trenggono, Marzukie Ali, Ahmad Zuwaini, Afriq dari Bank Muamalat Indonesia, Wahyu Dwi Agung, Asih Subagyo, dan Andi Lubis.

Sebelumnya diberitakan hidayatullah.com, terkait rights issue itu, Direktur Bisnis Ritel sekaligus Plt Direktur Utama Bank Muamalat, Purnomo B Soetadi berharap, masuknya investor baru dapat mendorong kinerja, meningkatkan size bisnis, dan mengembangkan usaha Bank Muamalat.

“Rencana rights issue ini telah kami peroleh persetujuannya dari para pemegang saham, sebagai salah satu hasil dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (20/09/2017).

Aksi korporasi yang kami lakukan ini adalah melalui HMETD dengan memberikan kesempatan kepada pemegang saham yang ada saat ini, untuk menggunakan haknya membeli saham Perseroan. Dengan hadirnya Minna Padi sebagai pembeli siaga (stanby buyer), maka diharapkan dapat mengembangkan size bisnis dan kinerja Bank Muamalat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang,” jelas Purnomo di Jakarta, 28 September lalu.*

(Imam Nawawi,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Aplikasi ‘MySyariah’ Didukung Bank Syariah, Termasuk Muamalat http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/10/14/125661/aplikasi-mysyariah-didukung-bank-syariah-termasuk-muamalat.html Sat, 14 Oct 2017 03:04:50 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125661

"Ini merupakan salah satu bentuk komitmen Bank Muamalat untuk mendukung pemberdayaan masjid serta meningkatkan kualitas aktivitas masyarakat dalam bermuamalah."

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Aplikasi digital, MySyariah Payment Umat, yang diluncurkan Koperasi Rakyat Indonesia Syariah (Kopnus Syariah) baru-baru ini, turut didukung oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI), lansir BMI.

“MySyariah adalah aplikasi yang memberikan kemudahan bagi anggotanya untuk melakukan pembelian, pembayaran, pembiayaan, hingga investasi,” ujar Finance Manager Kopnus Syariah, Dewi, kepada hidayatullah.com di Jakarta, Jumat (13/10/2017).

Layanan online berbasis mobile application itu, jelas pihak Muamalat secara terpisah, dapat digunakan untuk transaksi pembayaran tagihan, angsuran, dan pembelian (pulsa, listrik, tiket, token, dan lain-lain).

Baca: KH Ma’ruf Amin: Bank Muamalat Harus Kita Jaga

“PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (“Bank Muamalat”) turut mendukung aplikasi MySyariah dalam penyediaan layanan virtual account untuk top-up (isi ulang)deposit,” lansir laman resmi Muamalat, 11 Oktober 2017 lalu.

Ke depannya, layanan perbankan lain dari Bank Muamalat juga akan diintegrasikan pada aplikasi ini.

“Ini merupakan salah satu bentuk komitmen Bank Muamalat untuk mendukung pemberdayaan masjid serta meningkatkan kualitas aktivitas masyarakat dalam bermuamalah,” jelas BMI.

Diberitakan hidayatullah.com sebelumnya, soft opening MySyariah digelar di Ballroom Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, pekan ini, Selasa (10/10/2017).

Baca: Untuk Berdayakan Umat, Kopnus Syariah Luncurkan Aplikasi ‘MySyariah’

Dalam penggunaannya, layanan program ini bekerja sama dengan semua bank syariah dan didukung langsung oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia MUI, KH Ma’ruf Amin. Aplikasi ini bisa didapatkan di Play Store.*

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
KH Ma’ruf Amin: Bank Muamalat Harus Kita Jaga http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/10/13/125612/kh-maruf-amin-bank-muamalat-harus-kita-jaga.html Fri, 13 Oct 2017 06:05:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125612

"Kami dari Majelis Ulama (MUI) mengawal bank syariah," ujar Kiai Ma'ruf yang juga Rais 'Aam PBNU.

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Masyarakat khususnya umat Islam diajak untuk turut menjaga keberlangsungan dan keberadaan bank syariah di negeri ini, khususnya terkait posisi Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang tengah dalam proses penambahan modal.

“Bank Muamalat sebagai bank pertama syariah, yang merupakan awal syariah, ini memang harus kita jaga,” ujar KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat, dalam rekaman keterangan resmi diterima hidayatullah.com Jakarta, Jumat (13/10/2017).

Menjaga Bank Muamalat, kata Kiai Ma’ruf, agar bank yang didirikan pada 1 November 1991 atau 24 Rabi’us Tsani 1412 H ini tetap kokoh sebagai bank syariah.

“Supaya Muamalat itu tidak mengalami kegoncangan, dan karena itu kita selalu mengawal bank syariah, kami dari Majelis Ulama (MUI) mengawal bank syariah,” ujar Kiai Ma’ruf yang juga Rais ‘Aam PBNU.

Oleh karena itu, menurutnya, proses penambahan modal yang sekarang ditempuh Bank Muamalat itu sudah tepat. “Sudah benar,” imbuhnya.

Baca: BMI: Penambahan Modal Bank Muamalat untuk Pertumbuhan yang Lebih Baik

 

Diketahui, penambahan modal Bank Muamalat guna mendorong kinerja serta mendukung pertumbuhan bisnis di masa depan. Rencana ini sebagai salah satu hasil pada mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, Rabu, 20 September 2017 lalu di Jakarta.

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BMI) memulai perjalanan bisnisnya sebagai bank syariah pertama di Indonesia pada 1 November 1991 atau 24 Rabi’us Tsani 1412 H.

Pendirian BMI digagas oleh MUI, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), dan pengusaha Muslim yang kemudian mendapat dukungan dari pemerintah Republik Indonesia.

Sejak resmi beroperasi pada 1 Mei 1992 atau 27 Syawal 1412 H, BMI terus berinovasi dan mengeluarkan produk-produk keuangan syariah seperti Asuransi Syariah (Asuransi Takaful), Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat (DPLK Muamalat), dan multifinance syariah (Al-Ijarah Indonesia Finance) yang seluruhnya menjadi terobosan di Indonesia.

Baca: Bela dan Beli Bank Muamalat Indonesia

Selain itu, produk bank yaitu Shar-e yang diluncurkan pada tahun 2004 juga merupakan tabungan instan pertama di Indonesia. Produk Shar-e Gold Debit Visa yang diluncurkan pada tahun 2011 tersebut mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Kartu Debit Syariah dengan teknologi chip pertama di Indonesia, serta layanan e-channel seperti internet banking, mobile banking, ATM, dan cash management.

Seluruh produk-produk tersebut menjadi pionir produk syariah di Indonesia dan menjadi tonggak sejarah penting di industri perbankan syariah, demikian profil resmi Muamalat.*

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
BMI: Penambahan Modal Bank Muamalat untuk Pertumbuhan yang Lebih Baik http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/10/13/125606/bmi-penambahan-modal-bank-muamalat-untuk-pertumbuhan-yang-lebih-baik.html Fri, 13 Oct 2017 02:59:12 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125606

“Insya Allah, manajemen dan pemegang saham Bank Muamalat akan menjalankan proses right issue ini dengan amanah dan sebaik-baiknya, demi kemajuan Bank Muamalat dan industri keuangan syariah di Indonesia,” harap Kiai Ma'ruf.

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Penghujung bulan lalu, Senin (25/09/2017), PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Bank Muamalat/BMI) secara resmi mulai melakukan proses penambahan modal baru, dengan menandatangani perjanjian bersyarat dengan PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (Minna Padi/PADI).

Manajemen Bank Muamalat berharap masuknya modal baru akan meningkatkan permodalan demi mendorong pertumbuhan kinerja perusahaan.

“Muamalat harus menambah modal, karena itu peraturan, untuk supaya ada pertumbuhan yang lebih baik, dalam rangka revitalisasi,” ujar Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat, KH Ma’ruf Amin, dalam rekaman penjelasan resmi diterima hidayatullah.com.

“Itu penjelasan resmi dari Bank Muamalat dan Minna Padi,” ujar sumber itu kepada media ini, Jumat (13/10/2107) pagi.

Baca: Bank Muamalat, Masjid, dan Kebangkitan Ummat

Dalam penjelasan resmi lainnya secara tertulis, dijelaskan, berdasarkan keterbukaan informasi yang sudah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Muamalat menerbitkan sebanyak-banyaknya 80 miliar lembar saham baru melalui penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 32/POJK.4/2015.

PADI, baik sendiri maupun bersama-sama dengan investor lain, akan bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer). Sebanyak 80 miliar saham baru yang akan diterbitkan tersebut merepresentasikan porsi kepemilikan saham minimal 51 persen dengan total modal baru yang akan masuk mencapai Rp 4,5 triliun.

Direktur Bisnis Ritel sekaligus Plt Direktur Utama Bank Muamalat, Purnomo B Soetadi berharap, masuknya investor baru dapat mendorong kinerja, meningkatkan size bisnis, dan mengembangkan usaha Bank Muamalat.

“Rencana rights issue ini telah kami peroleh persetujuannya dari para pemegang saham, sebagai salah satu hasil dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (20/09/2017).

Aksi korporasi yang kami lakukan ini adalah melalui HMETD dengan memberikan kesempatan kepada pemegang saham yang ada saat ini, untuk menggunakan haknya membeli saham Perseroan. Dengan hadirnya Minna Padi sebagai pembeli siaga (stanby buyer), maka diharapkan dapat mengembangkan size bisnis dan kinerja Bank Muamalat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang,” jelas Purnomo di Jakarta, 28 September lalu, lansir laman resmi Bank Muamalat, pekan ini, Selasa (10/10/2017).

Purnomo kemudian juga menjelaskan, penambahan modal ini dilakukan bukan dengan cara menjual saham existing. Namun, dengan cara mengeluarkan saham baru (right issue).

“Melalui proses HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) maka pemegang saham existing diberikan kesempatan untuk membeli saham baru tersebut. Dalam proses ini Bank Muamalat telah menandatangani perjanjian bersyarat (Conditional Share Subscription  Agreement) dengan PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk. (“Minna Padi”) sebagai pembeli siaga (stand by buyer)” jelas Purnomo di Jakarta, Senin pekan ini masih dari sumber resmi tersebut.

Baca: Menyelamatkan dan Mengembangkan Bank Syariah

Adapun proses menuju right issue saat ini sedang berlangsung dengan tetap mengikuti ketentuan dari regulator. Kiai Ma’ruf yang turut mengawal proses right issue ini berharap, agar setiap prosesnya berjalan sesuai syariah dan sesuai dengan harapan umat.

“Insya Allah, manajemen dan pemegang saham Bank Muamalat akan menjalankan proses right issue ini dengan amanah dan sebaik-baiknya, demi kemajuan Bank Muamalat dan industri keuangan syariah di Indonesia,” harap Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Terkait kabar yang beredar bahwa Bank Muamalat akan “dicaplok oleh LIPPO”, baik pihak Bank Muamalat maupun PADI telah membantahnya. Kabar tersebut merupakan berita bohong (hoax).

“Saya bisa confirm (pastikan), itu tidak benar, enggak benar,” ujar Corporate and Strategic Planner Minna Padi, Harry Danardojo dalam rekaman video tersebut. Hal senada ditegaskan oleh Kiai Ma’ruf.*

(SKR,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Menyelamatkan dan Mengembangkan Bank Syariah http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/10/09/125359/menyelamatkan-dan-mengembangkan-bank-syariah.html Mon, 09 Oct 2017 12:31:47 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125359

Mengubah mind-set sangatkah penting, sehingga dalam bersyariah itu, yang dikedepankan bukan aspek transaksional semata

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Asih Subagyo 

 

BEBERAPA hari terakhir, media tidak terkecuali media sosial riuh  dengan rencana right issue dari Bank Muamalat Indonesia (BMI), yang pada akhirnya melebar kemana-mana, akibat ketidaktahuan (atau ketidakmautahuan) sebagian besar umat dan media akan sebuah proses.

Berbekal pengetahuan yang kurang memadai, yang tidak jarang bersumber dari copy-paste, dan nge-share tulisan yang belum jelas kebenaran dan keakuratan informasinya, menjadikan isu kian ramai namun nir dari bobot dan kebenaran.Ironisnya hal tersebut ternyata menjadikan banyak pihak terjebak untuk mudah kita men-judge, menjatuhkan hukuman tanpa ampun.

Parahnya, meskipun sebagian pihak kemudian melakukan klarifikasi (termasuk atas nama orang dalam) dan meng-counter persoalan itu, dengan pemahamaan yang relatif lebih jernih, berdasar fakta dan data, komprehensif, terstruktur dan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Namun nampaknya sebagian besar umat sudah termakan hoax  itu.

Pertanyaanya, apakah penyebaran hoax  itu, berjalan alamiah begitu saja? Saya melihat –meskipun sulit dibuktikan- nampaknya ada upaya dari pihak tertentu yang secara sistematis, terencana dan masif dengan sengaja terus menyebarkan hoax  tentang BMI ini.

Baca: Bela dan Beli Bank Muamalat Indonesia

Issue negatif terus digoreng untuk menjatuhkan kredibilitas BMI, dan mempengaruhi umat untuk kemudian tidak mempercayai BMI. Ujungnya adalah adanya rush alias penarikan dana besar-besaran dari BMI. Penggoreng nampaknya faham betul, bahwa sentimen umat Islam, saat ini sedang tinggi-tingginya, sehingga dengan menggoreng dan menggoyang BMI ini, lalu menyusupkan informasi adanya kelompok tertentu di belakang Mina Padi sebagai standby buyer (Lippo Group) yang akan masuk ke BMI, maka kepercayaan umat Islam akan BMI menjadi jatuh dan hilang.

Padahal kenyataannya tidak begitu. Dan ini jelas menjadi tujuan mereka. Ini telah menjadi semacam perang bisnis yang tidak sehat. Umat harus paham tentang ini, jangan mudah terpengaruh. BMI hanya sebagai sasaran awal, target utamanya  adalah hancurya sistem ekonomi Islam.

Patut rasanya kita menduga bahwa ada sekenario besar yang sedang bermain, dan anehnya, kita dengan tanpa sadar (ataupun sadar) terseret arus yang diciptakandengan sekenario yang benar-benar tertata rapi.

Namun, secara pasti, hanya pihak Bank Muamalat Indonesia sendiri yang mampu meredam hoax  yang sudah sedemikian rupa. Sebagian publik yang kritis memang masih menunggu klarifikasi dari BMI terhadap apa yang diriuhkan media dan masyarakat di media sosial. Sebab, BMI di satu sisi dicintai, meski belum sepenuhnya benar-benar membuktikan diri.

Menguji Kecintaan Kita

Sebagai wujud kecintaan kita terhadap Bank Syariah(BS), tentunya adalah rekening kita, secara mayoritas selayaknya ada di BS tersebut. Tetapi kenyataannya tidak begitu.

Artinya dengan market share BS yang hanya sekitar 5% itu membuktikan, bahwa mayoritas umat ini, tidak menaruh dananya (tabungannya) di BS (dalam hal ini BMI).

Ini sebuah ironi. Bahkan menjelang dan pasca 212, yang dikampayekan untuk memindahkan dana dari bank konvensioal (BK) ke BS, nyatanya menurut beberapa BS, hal tersebut tidak signifikan.

Bahwa ada moving dana adalah iya, tetapi tidak besar. Artinya, kita lebih kuat berteriak, tetapi minim aksi nyata. Sekarang coba kita lihat rekening dan ATM di dompet kita masing-masing, betulkah main account itu di BS atau Bank Konvensional (BK) ?

Baca:  Bank Syariah Mau Maju Pesat? Harus Kaffah

Disisi lain, pemilik dana (besar) jika menempatkan dana ke BS ternyata juga minta bagi hasil yang besar, bahkan harus lebih besar dari yang diberikan oleh BK, sehingga dari informasi yang saya dapat, tidak sedikit yang mau menempatkan dananya ke BS asal nisbahnya 90 : 10.

Karena BS juga dalam posisi membutuhkan dana, sehingga di terima saja. Dan ini, dalam bahasa bank-nya, menyebabkan BS mengalami kendala tingginya Cost of Fund. Dana yang di dapatkan mahal. Akibatnya ketika “dijual” dalam bentuk pembiayaan ke nasabah jelas tidak kompetitif.

Padahal sumber dana yang murah (berupa tabungan) ini, akan berdampak pula kepada murahnya pembiayaan kepada nasabah. Namun karena pemilik dana melakukan “jual mahal”, akibatnya mahal pula jualannya ke nasabah.

Kondisi di atas, menunjukkan bahwa kecintaan kita kepada BS masih penuh keraguan jika tidak dikatakan semu.

Tanpa disadari justru umat Islam selama ini ternyata masih dihinggapi materialismeyang akut. Akibat dari dicekoki oleh sistem BK yang berbasis kapitalisme itu. Sehingga untuk menerapkan sebuah sistem syariah-pun, tolok ukur kita masih dalam hitungan untung rugi.

Sehingga dalam konteks mewujudkan kecintaan kita terhadap BS, adalah dengan mengalihkan seluruh simpanan yang kita miliki dari BK ke BS. Dan main account kita dalam menggunakan aktifitas keuangan adalah di BS.

Jika perpindahan ini bias dilakukan secara masif, maka BS akan mendapatkan sumber pendanaan yang banyak dan relative murah, yang kemudian bisa bersaing dengan BK. *>>> klik (BERSAMBUNG)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Dana Keuangan Syariah untuk Infrastruktur, OJK: Harus Terukur http://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/10/06/125046/dana-keuangan-syariah-untuk-infrastruktur-ojk-harus-terukur.html Fri, 06 Oct 2017 14:17:53 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125046

pakar ekonomi syariah, Adiwarman Karim, memandang, akan terjadi lonjakan yang besar dan diikuti oleh resiko yang kecil pada aset keuangan syariah jika masuk kepada pembiayaan infrastruktur.

(Yahya G Nasrullah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com– Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, menilai, rencana Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) untuk menyertakan dana keuangan syariah kepada pembiayaan proyek-proyek infrastruktur harus dilakukan secara terukur.

“Harus terukur, ada kaidah-kaidahnya,” ujarnya di sela-sela acara diskusi bertema ‘Industri Syariah dan Pemerataan Ekonomi’ di Wisma Antara, Jakarta, kemarin, Kamis (05/10/2017).

Menurutnya, keuangan syariah jangan sampai terjebak pada pembiayaan-pembiayaan besar saja.

Baca: Pertumbuhan Industri Keuangan Syariah, OJK Optimistis, MUI Konsisten Mendukung

Sasaran keuangan syariah, sambung Wimboh, baik juga diarahkan kepada sektor mikro. Karena terbukti tahan terhadap goncangan ekonomi.

“Sehingga justru likuiditasnya bertahan di produk-produk yang pembiayaannya besar tadi,” imbuhnya.

Sementara itu, pakar ekonomi syariah, Adiwarman Karim, memandang, akan terjadi lonjakan yang besar dan diikuti oleh resiko yang kecil pada aset keuangan syariah jika masuk kepada pembiayaan infrastruktur.

“Karena proyeknya milik negara,” tandasnya.*

(Yahya G Nasrullah,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>