Cover Story – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Tue, 19 Dec 2017 06:19:01 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.1 (Video) Tante Dolly Telah Pergi http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2014/11/03/32475/video-tante-dolly-telah-pergi.html Sun, 02 Nov 2014 23:31:34 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=32475

Lokalisasi pelacuran Dolly dan Jarak di Surabaya, Jawa Timur, resmi ditutup pada 18 Juni 2014. Kompleks pelacuran yang kerap disebut […]

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Lokalisasi pelacuran Dolly dan Jarak di Surabaya, Jawa Timur, resmi ditutup pada 18 Juni 2014. Kompleks pelacuran yang kerap disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara ini dinyatakan beralih fungsi lewat deklarasi oleh para penghuninya.

Sebelumnya, menutup lokalisasi seluas 5 RW ini sangat sulit untuk dibayangkan. Rumitnya masalah dan banyaknya kepentingan membuat penutupan Dolly dan Jarak ibarat sebuah mimpi. Namun, Allah menakdirkan lain. Keseriusan pemerintah, ulama, dan masyarakat di Jawa Timur.

Hidayatullah TV hadir di Surabaya, menjelang dan beberapa hari setelah deklarasi penutupan Dolly, untuk menggali berbagai informasi menarik dan penting di balik penutupan tersebut. Untuk menyaksikan videonya, klik di sini!

Untuk melihat video ini di Youtube, klik di sini!

Persembahan dari Hidayatullah TV, Media Dakwah dan Informasi Masa Depan.
—————————————-­­——-
Subscribe Hidayatullah TV Official Youtube:
http://www.youtube.com/HidcomTV
—————————————-­­——-
Hidayatullah TV adalah salah satu media publikasi yang dimiliki oleh Kelompok Media Hidayatullah (KMH). H-TV memproduksi konten-konten berita dan non-berita dalam bentuk audio — visual, atau dikenal dengan sebutan video. Subscribe channel Youtube Hidayatullah TV agar selalu terinformasi dengan video-video terbaru dari Hidayatullah TV.
—————————————-­­——-
[Visit Hidayatullah TV Official Pages]
Homepage : http://hidayatullah.com/video
Twitter : https://twitter.com/hidcom
Facebook : https://www.facebook.com/hidayatullahonline

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
(Video) Menguji Toleransi di Bali http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2014/05/22/21926/video-menguji-toleransi-di-bali.html Wed, 21 May 2014 17:28:56 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=21926

MENGUJI TOLERANSI DI BALI–MENINGKATNYA KESADARAN UMAT ISLAM / UNTUK MENJALANKAN SYARIAT DALAM SEGALA ASPEK / KERAP DISALAH-PAHAMI PEMELUK AGAMA LAIN// […]

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

MENGUJI TOLERANSI DI BALI–MENINGKATNYA KESADARAN UMAT ISLAM / UNTUK MENJALANKAN SYARIAT DALAM SEGALA ASPEK / KERAP DISALAH-PAHAMI PEMELUK AGAMA LAIN// BAHKAN / KESALAH-PAHAMAN ITU BISA BERUJUNG PADA TINDAK DISKRIMINASI//

DI BALI / PEMAKAIAN JILBAB DI SEKOLAH NEGERI /  DIANGGAP SEBAGAI SIKAP MENUTUP DIRI// PERGI KE MASJID PADA HARI RAYA NYEPI / DIANGGAP MENCEDERAI TOLERANSI // NAMUN / BAGI UMAT ISLAM DI BALI / PERLAWANAN BUKANLAH SOLUSI // YANG DIBUTUHKAN ADALAH PEMAHAMAN  UNTUK MEMBUAT SIKAP SALING MENGERTI //

========

INI ADALAH SUASANA SHALAT SUBUH DI MASJID BAITUL MAKMUR / KAWASAN MONANG-MANING / DENPASAR / BALI // PADA HARI BIASA JUMLAH JAMAAH BISA MENCAPAI RATUSAN ORANG // NAMUN / PADA HARI TERTENTU / SEPERTI RAMADHAN / JUMLAH JAMAAH SHALAT SUBUH DI MASJID INI / BISA MENCAPAI RIBUAN ORANG // JAUH MELEBIHI JUMLAH JAMAAH SHALAT JUMAT // MASJID BAITUL MAKMUR MEMANG DIKENAL SEBAGAI MASJID PALING RAMAI DI BALI // NAMUN / KEGIATAN DI MASJID-MASJID BESAR LAIN DI BALI JUGA TAK KALAH SEMARAK //

SELAIN MAKMURNYA MASJID / GAIRAH BERAGAMA UMAT ISLAM DI BALI JUGA BISA DILIHAT DARI RAMAINYA KAUM MUSLIMAH YANG MEMAKAI JILBAB // SEOLAH TIDAK INGIN KETINGGALAN DENGAN KAUM PRIA / PARA MUSLIMAH JUGA IKUT MERAMAIKAN MASJID //

TAK KETINGGALAN / MESKI UMAT ISLAM ADALAH MINORITAS DI PULAU DEWATA INI / RUMAH MAKAN HALAL JUGA RELATIF MUDAH DITEMUI //

SEKILAS / SEMUA HAL TERSEBUT MENUNJUKKAN HARMONISNYA HUBUNGAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI BALI // MESKI DEMIKIAN / RELASI UMAT ISLAM DAN HINDU DI BALI JUGA PERNAH MENGALAMI MASA PASANG DAN SURUT // HUBUNGAN UMAT ISLAM DAN HINDU DI BALI SEMPAT MENENGANG AKIBAT PERSITIWA BOM BALI YANG MENEWASKAN RATUSAN ORANG // PEMBOMAN YANG TERJADI PADA TAHUN DUA RIBU DUA / DAN TAHUN DUA RIBU LIMA ITU / BENAR-BENAR MEMOJOKKAN UMAT ISLAM BALI // KARENA PELAKUNYA MEMANG ORANG ISLAM YANG DATANG DARI LUAR BALI //

HAL DIURAIKAN OLEH TOKOH HINDU BALI / YANG JUGA KETUA FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA PROVINSI BALI / IDA BAGUS GDE WIYANA // KATA WIYANA / PERISTIWA BOM BALI MENIMBULKAN RASA CURIGA UMAT HINDU TERHADAP UMAT ISLAM // WIYANA MENGAKU HARUS BEKERJA KERAS MEMBUAT BALI KEMBALI HARMONIS //

Untuk melihat videonya, klik di sini!

Untuk melihatnya di Youtube, klik di sini!

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Usaha Mengkaji Ulang “Paradigma Baru” LDII http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2013/07/15/5492/usaha-mengkaji-ulang-paradigma-baru-ldii.html Mon, 30 Nov -0001 00:00:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=5492

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menegaskan, pihaknya belum mengakui secara menyeluruh paradigma baru Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–Didin Hafidhuddin, ulama Bogor yang juga Direktur Pascasarjana Univesitas Ibnu Khaldun Bogor meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkaji serius akar masalah serangan massa LDII terhadap kajian mahasiswa di masjid UIKA Bogor pada (15/06/2013) lalu.

“Harus dicari akar masalahnya agar tidak terjadi konflik horisontal,” kata Didin pada pertemuan ulama dan masyarakat Bogor dengan pengurus MUI Pusat di kantor MUI Jakarta, Senin, (25/06/2013).

Kata Didin, usai serangan LDII merusak sebagian fasilitas masjid UIKA itu, umat Islam setempat sudah meminta izin kepadanya untuk menyerang balik kompleks LDII yang letaknya kurang dari satu kilometer dari kampus UIKA itu.

Didin menambahkan, ini kali kedua LDII menyerang kajian ilmiah mahasiswa di Bogor. Katanya, yang pertama tahun 2002 di Masjid al-Hurriyah Institut Pertanian Bogor.

“Yang tahun 2002 yang mengupas LDII peneliti dari luar LDII. Yang di UIKA pembicaranya mantan LDII (Adam Amrullah, mantan ketua pemuda LDII),” kata Didin.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menegaskan, pihaknya belum mengakui secara menyeluruh paradigma baru Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Ketua MUI, Ma’ruf Amin bahkan mengatakan, pengakuan terhadap “paradigma baru” LDII baru dilakukan oleh sekitar 20 kepengurusan MUI tingkat provinsi.

“Jangan keliru. Kita masih belum buat kesimpulan,” kata Ma’ruf dalam pertemuan antara Pengurus MUI Pusat dengan tokoh-tokoh Islam Bogor di kantor MUI Pusat, Jakarta, Senin (25/06/2013).

Karena itu, rombongan ulama dan tokoh Islam Bogor yang diketuai Prof. KH. Didin Hafidhuddin ini meminta MUI menarik kembali Surat Keputusan Komisi Fatwa No. 03/Kep/KF-MUI/XI/2006 tentang paradigma baru LDII yang dijadikan tameng LDII untuk menutupi ajaran mereka yang masih eksklusif dan menganggap kafir umat Islam di luar jamaahnya.

Ma’ruf Amin mengaku akan segera memanggil pihak pengurus pusat LDII atas laporan tokoh-tokoh Bogor ini.

Sementara Adam Amrullah, mantan pemuda LDII yang menjadi pembicara pada kajian mahasiswa UIKA yang diserang massa LDII mengatakan, sudah terlalu banyak bukti bahwa LDII memang penerus aliran Islam Jamaah yang sudah dilaran oleh Kejaksaan Agung RI pada 1971 ini.

Adam yang bersama para mantan LDII telah mendirikan Forum Ruju’ Ilal Haq (FRIH) ini telah melakukan audiensi ke MUI Pusat tapi tidak ditanggapi.

“Kami punya bukti-bukti otentik, tapi kami tidak pernah diundang,” kata Adam.*

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Dr. Ending: Penyerangan Satu Bukti Kesesatan Akidah LDII http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2013/07/15/5491/dr-ending-penyerangan-satu-bukti-kesesatan-akidah-ldii.html Mon, 30 Nov -0001 00:00:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=5491

"Tindakan anarkis penyerangan massa LDII kepada civitas akademika UIKA Bogor di dalam Masjid al-Hijri II kampus UIKA adalah salah satu bukti otentik kesesatan akidah dan paradigma mereka," kata Rektor UIKA Bogor, Dr. Ending Bahruddin

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–Perwakilan ulama dan umat Islam Bogor berkunjung ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat untuk melaporkan dan menjelaskan penyerangan yang dilakukan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) terhadap sebuah kajian mahasiswa di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor, 15/6/2013.

“Tindakan anarkis penyerangan massa LDII kepada civitas akademika UIKA Bogor di dalam Masjid al-Hijri II kampus UIKA adalah salah satu bukti otentik kesesatan akidah dan paradigma mereka,” kata Rektor UIKA Bogor, Dr. Ending Bahruddin dalam pertemuan di Kantor MUI Pusat, Senin (25/06/2013).

Kata Ending, seminar bertema Mengungkap Kedustaan Paradigma Baru LDII yang diadakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Orsat UIKA itu bersifat ilmiah, untuk memperkaya wacana intelektual dan keilmuan serta memperkuat akidah mahasiswa.

Karenanya, atas nama ulama dan umat Islam se-Bogor, Ending menyatakan mengutuk keras tindakan rusuh dan perusakan massa LDII yang terjadi di masjid kampus UIKA.

Pernyataan yang ditandatangani 232 perwakilan warga kota dan kabupaten Bogor ini juga disetujui sejumlah tokoh Bogor seperti Prof. Didin Hafidhuddin, Prof. Didin Saefuddin (PD Muhammadiyuah Kota Bogor), Muhammad al-Khaththath (Sekjen FUI), Hendri Tanjung (Ketua Dewan Da’wah Kota Bogor), Khaerul Yunus (Ketua Dewan Da’wah Kab. Bogor), dan sejumlah tokoh lainnya.*

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Kenapa Mereka Marah? http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2013/07/10/5398/kenapa-mereka-marah.html Mon, 30 Nov -0001 00:00:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=5398

Kasatreskrim Polresta Bogor, Didi Purwanto, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap kasus ini

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–Serangan massa Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) terhadap kajian mahasiswa di masjid kampus Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor (15 Juni 2013), menjadi bumerang bagi LDII. Niat hati membubarkan kajian bertema Mengungkap Kedustaan Paradigma Baru LDII itu,  lembaga yang acap dianggap sebagai penerus ajaran Islam Jamaah ini – aliran sempalan yang resmi dilarang Jaksa Agung RI pada 1971- malah menuai kecaman para ulama dan tokoh umat Islam Bogor.

Tiga orang jamaah dan pengurus LDII Kota Bogor, Ali Akbar Hutzi, Wilnan Fatahillah, dan Iskandar (Ketua PC LDII Tanah Sareal, Bogor) dilaporkan ke Polres Kota Bogor.

“Kita laporkan ke polisi atas tindakan penganiayaan, pengeroyokan, dan perusakan fasilitas umum, serta penodaan agama,” kata Achmad Iman, Ketua Forum Komunikasi Umat Islam (Forkami) Bogor yang mendampingi para mahasiswa korban serangan LDII ke Polresta Bogor, 17 Juni 2013.

Prof. KH. Didin Hafidhuddin, tokoh Islam Bogor yang juga mantan rektor UIKA mengutuk aksi anarkis massa LDII yang menodai kesucian masjid dan memukuli sejumlah mahasiswa UIKA yang menjadi panitia kajian ilmiah tersebut.

Didin mengatakan, usai serangan tersebut, umat Islam yang tinggal di sekitar UIKA, sempat meminta izin kepadanya untuk menyerang balik komplek LDII yang jaraknya cuma sekitar 1 kilometer dari UIKA. “(Tapi) kita tidak ingin terjadi konflik horizontal,” kata Didin.

Kecaman terhadap massa LDII pun datang dari tokoh-tokoh ormas Islam Bogor lainnya seperti dari PD Muhammadiyah, Dewan Da’wah Kota Bogor, Forum Umat Islam, PUI Kota Bogor, dan lainnya. Pata tokoh Islam Bogor pun melaporkan hal tersebut ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pada 25 Juni 2013. Mereka meminta MUI menarik keputusan Komisi Fatwa MUI (No. 03/Kep/KF-MUI/XI/2006) yang menyatakan LDII telah berparadigma baru dan buka penerus organisasi terlarang Islam Jamaah.

“Tindakan anarkis penyerangan massa LDII kepada civitas akademika UIKA adalah salah satu bukti otentik kesesatan akidah dan paradigma mereka,” kata Rektor UIKA, Ending Bahruddin yang membacakan pernyataan sikap ulama dan umat Islam Bogor di kantor MUI itu.

Keadaan itu membuat Pengurus LDII Kota Bogor segera memasang pernyataan permohonan maaf di dua suratkabar lokal, Jurnal Bogor (16/6/2013) dan Radar Bogor (17/6/2013). Permohonan maaf ditujukan kepada rektor dan civitas akademika UIKA, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) orsat UIKA, DKM Masjid al-Hijri II UIKA, Pesantren Mahasiswa Ulil Albab UIKA, panitia dan peserta seminar, serta seluruh masyarakat Kota Bogor.

“Semoga ukhuwah Islamiyah di Kota Bogor tetap terjaga dengan baik,” demikian bunyi pernyataan yang ditandatangi Ketua Dewan Pengurus Daerah LDII Kota Bogor, Dr. Radjab Tampubolon.

Menurut penuturan pengurus Masjid al-Hijri, Radjab sempat mendantangi kampus dan masjid UIKA untuk minta maaf. Menurut pihak kampus dan DKM, soal maaf masalah mudah namun proses hukum tetap jalan.

Ketua IMM UIKA, Muhajir Abbasi, bahkan belum bisa menerima permintaan maaf tersebut.”Proses hukum kita ikut komando Forkami,” kata Muhajir. Forkami adalah Forum Komunikasi Umat Islam, yang menggagalkan pembangunan gereja ilegal di Taman Yasmin, Bogor tahun lalu.

Hidayatullah.com sudah berusaha berkali-kali menghubungi Radjab via telepon dan SMS, hingga laporan ini diturunkan Radjab belum menjawab.

Usai kejadian di Bogor itu, hidayatullah.com menelusuri kembali berita-berita soal LDII dalam beberapa tahun belakangan. Redaksi hidayatullah.com juga melakukan wawancara dengan dengan berbagai pihak, terutama dengan LDII. Baik pengurus DPP, PC hingga imam masjid dan jamaah biasa.

Dari penelurusan itu didapati, kajian-kajian yang membahas tentang LDII selalu berakhir ricuh atau batal sama sekali. Pemerhati aliran sesat Ust. Hartono Ahmad Jaiz tercatat dua kali acaranya diserbu massa LDII. Pertama di Ciracas-Jakarta Timur (18 Desember 2005) dan di Karanganyar Solo (26 Maret 2006). Tas berisi buku-buku dan bahan ceramah juga dirampas massa LDII.

LDII juga tercatat berhasil memejahijaukan dua penceramah yang mencoba membahas hakikat LDII. Hajarullah Aswad, dai yang juga Sekjen Badan Amil Zakat Prov. Kepulauan Riau divonis dua tahun penjara oleh Mahkamah Agung RI pada 2009 karena dinilai telah memfitnah LDII sebagai aliran sesat.

Di tahun yang sama, mantan petinggi Islam Jamaah, Bambang Irawan, juga dipenjara selama 5 bulan di LP Bekasi. LDII menuntut Bambang karena dinilai menghasut kebencian terhadap LDII dalam ceramahnya di Islamic Center Bekasi pada 10 September 2005. Pihal LDII memenangkan perkara hingga ke tingkat Mahkamah Agung.

Namun, LDII tampaknya akan sulit melakukan hal yang sama pada kasus UIKA Bogor ini. Sebab panitia memiliki bukti-bukti otentik massa LDII melakukan ancaman, perusakan, dan pemukulan terhadap panitia kajian yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Orsat UIKA itu.

Pihak Rektorat UIKA, IMM, dan DKM Masjid Al-Hijri II UIKA telah melaporkan pihak LDII Kota Bogor ke Polresta Bogor dengan sejumlah alat bukti seperti hasil visum sejumlah panitia kajian, sejumlah SMS ancaman dari Ketua PC LDII Tanah Sareal, dan rekaman video.

Achmad Iman, Ketua FORKAMI, bertekad mengawal proses hukum para pelapor dari UIKA sesuai jalur. “Agar kita bisa menangkap ikan, tapi tidak membuat air menjadi keruh,” kata Achmad saat melaporkan kasus tersebut di Polres Bogor (17/6/2013).

Kasatreskrim Polresta Bogor, Didi Purwanto, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap kasus ini. Kata Didi, berkas-berkas masih disusun sebelum diserahkan ke kejaksaan untuk diproses ke pengadilan.

“Masih banyak pihak dari UIKA dan LDII yang belum diminta keterangannya,” kata Didi saat dihubungi hidayatullah.com (3/07/2013).

Mengapa disembunyikan?

Para mantan LDII yang tergabung dalam Forum Ruju’ Ilal Haq (FRIH) mengaku mempunyai sejumlah bukti (rekaman ceramah Ketum DPP LDII Prof. Abdullah Syam di acara perkemahan pemuda LDII 2011 (CAI 2011) dan salinan korespondensi surat elektronik salah satu ketua DPP LDII Achmad Kuntjoro dengan mantan istrinya) yang menunjukkan LDII adalah penerus Islam Jamaah.

Menurut bukti yang dimiliki FRIH, ada seorang bernama Abdul Aziz Sultan Aulia yang disebut sebagai amir jamaah yang menaungi LDII. Dalam dokumen itu, Abdullah Syam dan Achmad Kuntjoro menyebut Abdul Aziz Sultan Aulia sebagai imam jamaah LDII yang wajib dibaiat sebagai syarat sah keislaman seseorang dan sebagai satu-satunya jalan untuk masuk surga.

“Kalau benar membaiat Sultan Aulia adalah syarat wajib untuk masuk surga, kepada disembunyikan?” demikian pernyataan  Adam Amrullah, Sekjen FRIH yang menjadi pengisi acara kajian kampus UIKA Bogor yang diserang massa LDII itu.

sementara itu,  Iskandar Siregar, Wakil Sekretaris Umum DPP LDII yang ditemui hidayatullah.com di Plaza FX-Senayan (01/07/2013), lebih banyak diam ketika ditanya soal itu.

“Kita tidak mau terpancing mereka (FRIH),” katanya sambil meminta semua pernyataannya agar tidak dikutip.*

 

(Surya Fachrizal Ginting,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Suka Duka Perjuangan Da’I di Daerah Pelosok Kupang NTT http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2013/05/24/66538/suka-duka-perjuangan-dai-di-daerah-pelosok-kupang-ntt.html Mon, 30 Nov -0001 00:00:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=66538 Di tempat yaSuka Duka Perjuangan Da’I di Daerah Pelosok Kupang NTTng terbatas ini, Ia berharap lahir generasi Islam dan ilmuwan-limuwan Muslim

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
HATI  Robith begitu bahagia ketika melihat anak-anak didiknya bisa baca tulis  al-Qur’an.  Meski panas teri begitu menyengat, ia tak pernah letih dan tetap tegar mendampingi anak-anak agar bisa membaca al-Quran.  Robith adalah lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammad Natsir Jakarta.

Robith ditugaskan pertama ke Pulau Kera Kabupaten Kupang  NTT beberapa bulan yang lalu. Meski baru pertama kali terjun di medan dakwah, baginya ini sebuah pengalaman sangat luar biasa yang tak akan pernah dia dapatkan di kampus.

“Apa yang saya rasakan sekarang adalah pelajaran hidup yang berharga, kebahagian yang sulit digambarkan oleh kata-kata. Saya serong menetes air mataketika melihat anak-anak bisamengaji. Apa yang selama ini saya dapatkan di bangku kuliah sangat sedikit, tapimanfaatnya begitu besar untuk mereka,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Baru beberapa bulan saja di Pula Kera, Robith mengaku kulitnya langsung berubah kehitam-hitaman.

“Mudah-mudahan Allah akan mengannti kulit saya kelak di yaumul qiyamah, ” ujar pria kelahiran Temanggung Jawa Tengah ini berharap. Maklum saja di Pulau Kera sulit untuk mendapatkan air bersih untuk mandi, cuci dan minum.

Berbeda dengan Amanda Ikramatullah.  Lelaki asal Madura inipun punya kisah tidak kalah menarik. Perjalanan dakwah hingga sampai ke Pulau Kera sudah lebih 10 bulan. Awalnya, ketika pertama kali akan ditugaskan di pula ini, terbayang dalam benaknya  pulau ini banyak monyet, sesuai namanya. Akan tetapi saat kakinya mendarat tak seekor monyet yang nampak berkeliaran.

Yang ada justru terdengar suara anak-anak mengaji dari sebuah mushollah kecil yang sederhana. Kala itu ia memperhatikan anak-anak tampak asyik mengikuti kegiatan Taman Pendidikan Qur’an (TPA) yang dilakukan setiap pagi dan sore hari.

Semangat dan ketekunan yang selalu ditunjukan anak-anak Pulau Kera membuat  lulusan pesantren Abu Hurairah Sepeken, Madura Jatim ikut menjadi ceria dan gembira. Terutama ketika melihat anak didiknya menampakkan semangat dan ketekunan belajar.

Tidak heran jika tadinya anak yang kurang menangkap pelajaran saat diterangkan bacaan panjang  dan pendek huruf hijaiyah, merekapun cepat menangkap pelajaran yang diterangkan.

“Suatu kesyukuran saat anak-anak itu bisa cepat menangkap apa yang dijelaskan,” ucap Amanda. Lain hal kalau anak-anak yang menangkap pelajaran agak lambat, biarpun dijelaskan dengan bahasa setempat tetap saja ada yang kurang paham, tambahnya.

Yang menarik menurut Amanda, mayoritas masyarakat yang mata pencaharian adalah nelayan membuat watak dan tutur katapun terdengar keras  seolah kasar. Namun hatinya sangat lembut.

Selain Robith dan Amanda ada pula pengalaman Muhammad Saharuddin. Saharuddin, kelahiran Pulau Gili Genting, Madura Jatim adalah lulusan STAIL PP Hidayatullah Surabaya.

Saat pertama kali akan dibacakan penugasannya untuk dakwah,  Sahar, demikian panggilan akrab Saharuddin tidak mengetahui sama sekali di mana dia akan ditugaskan. Pikirnya dia akan ditugaskan di Sumatra, Jawa atau Sulawesi.

Namun ketika dibacakan Surat Keputusan (SK) penugasan ke Kupang   Barat, NTT, saat itu juga gema takbir keluar dari lisannya memekkikan ruangan wisuda.

Setelah dibacakan SK, diapun berpamitan sama para guru dan keluarganya di Pulau Gili Genting Madura dan segera menuju tempat tugas.

Setiba di Kupang ia dijemput Ustad Aldo. Sudah  menjadi tradisi saat tamu yang hadir di Kampus Hidayatullah Kupang Barat selalu dipersilahkan memperkenalkandiri. Saat akan memperkenalakan diri, Saharuddin menatap wajah para santri. Tapi betapa kagetnya, menurutnya wajahnya hampir mirip semua.

“Hampir semua wajah santri sama danmirip-mirip,” ujarnya mengenang.

Sudah satu tahun lebih Sahar ditugaskan di Kota Karang, banyak pengalaman menarik yang didapatkan di antaranya, saat dirinya diamanahkan mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Kelas VII, VIII, IX MTs dan XI MA  ia lenih suka membawa para siswanya keluar ruangan sekaligus melihat alam semesta ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala.

Sebenarnya, membawa anak-anak ke luar ruangan dilakukannya mengingat kondisi buku panduan belajar di daerah itu sangat minim.  Karena itu Sahar berharap ada pihak-pihak yang ikut memperhatikan nasib anak-anak ini dengan menyumbangkan buku-buku yang menunjang pengetahuan mereka.

Meski terbatas, Sahar bukan tipe yang pesimis. Dia yakin, suatu hari nanti di tempatnya mengabdikan ilmu ini akan menjadi sekolah bermutu di daratan Timor dan sekitarnya.Tidak hanya itu  ia bahkan berharap di tempat ini akan lahir generasi Islam yang melahirkan ilmuwan-limuwan Muslim yang memumpuni dan melanjutkan estafeta perjuangan Islam di NTT ke depan.*/Usman Aidil Wandan, kontributor hidayatullah.com Kupang NTT

Rubrik ini adalah kanal khusus lembaga Persaudaraan Dai Nusantara (Pos Dai). Dukung dakwah para dai nusantara melalui rekening donasi Bank BSM: 733-30-3330-7 atau BNI 0254-5369-72 a/n Pos Dai atau Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta. Ikuti juga program, kegiatan dan kiprah dakwah dai lainnya serta laporan donasi di portal www.posdai.com

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Bertahan di Tengah Kesunyian demi Dakwah http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2013/05/21/66515/bertahan-di-tengah-kesunyian-demi-dakwah.html Mon, 30 Nov -0001 00:00:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=66515 Ia sadar, ia tak lancar berhasa Bugis. Padahal mayoritas penduduk wilayah itu asli Bugis.

(Ainuddin Chalik,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
SUDAH tengah malam. Lukman Alfath, 33 tahun, tengah di perjalanan yang sunyi itu menuju pulang usai mengisi kegiatan dakwah di dusun sebelah.

Tiba-tiba, turun hujan sangat deras. Perjalanan kaki yang harus ia tempuh sepanjang 600 meter sudah setengahnya. Sehingga, mustahil baginya kalau harus balik kanan.

Tak ada pilihan lain, Lukman akhirnya terus saja menerobos padatnya lintingan hujan menuju kediamannya di Dusun Data Orai, Desa Mario, Kecacamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Malam itu, seperti biasa, jalanan sama sekali tak berpenerang dan berkerikil licin karena hujan. Ia menembus dinginnya malam menggunakan senter.

“Harus selalu berhati-hati karena becek dan tanah lengket,” kata Lukman kepada media ini beberapa waktu lalu.

Kondisi alam membuat Lukman harus kerap berjibaku dengan medan dakwah yang tidak selalu mulus. Lokasi Pondok Pesantren Hidayatullah di pedalaman Desa Mario, Kecamatan Tanasitolo, yang dirintisnya dengan jarak tempuh 600 meter dari perkampungan masyarakat itu, lokasinya sunyi.

“Karena lokasi tanah hibah ini harus ditempuh ratusan meter dari perkampungan, sehingga lokasi pesantren belum punya tetangga sama sekali. Kalau malam sunyi senyap. Kalau siang baru bisa lihat orang lalu lalang,” ujarnya.

Kebetulan masyarakat di sekitar yang bertetangga 600 meter itu tiap pagi mengambil air bersih tidak jauh dari lokasi pesantren. Ada sebuah sumur tua kurang lebih 100 meter dari lokasi melintasi lokasi pondok.  

Tantangan lain yang dihadapi Lukman adalah belum adanya tenaga dai selain dirinya di sana. Hanya dia, istri, dan tiga orang anaknya. Sementara masyarakat semakin haus dengan pembinaan agama Islam.

Tak pelak, kondisi itu membuat Lukman merasa cukup kewalahan. Setiap ada tugas dakwah ke tempat lain, misalnya, ia harus mengantar dulu anak istri pulang ke kampung untuk tinggal sementara dengan orangtua sampai ia kembali. Karena istri tidak cukup berani tinggal sendiri di lokasi yang terbilang masih berupa semak belukar itu. 

“Yang lebih sulit lagi kalau saya ada urusan keluar daerah, harus ijin untuk pulang kampung menitip mereka sama orangtua. Begitulah kondisi tinggal di lokasi tanpa ada tetangga dekat,” ujarnya.

Belum ada masjid, kalaupun ada harus beranjak dulu ke dusun lain yang berjarak tempuh kiloan meter. Sehingga, Lukman hanya bisa sholat berjamaah bersama dengan istri dan anak-anaknya. Mengumandangkan adzan di tengah hutan, namun ia yakin bahwa ada malaikat Allah yang mendengar dan ikut shalat berjamaah.

Karena terbatasnya tenaga, praktis Lukman harus bertanggungjawab penuh untuk mengendalikan semua urusan pesantren yang baru dirintisnya itu. Yang cukup melelahkan baginya ketika musim penghujan tiba. Sekedar diketahui, Kabupaten Wajo adalah wilayah di Sulawesi Selatan yang terbilang berhawa cukup panas. Namun, kalau musim hujan tiba, tanahnya becek sekali, terutama pada jalan yang belum beraspal.

“Termasuk jalanan untuk ke arah lokasi pondok. Walau sudah dikerikil namun kalau hujan licin sekali. Selain licin tanahnya lengket. Gak bisa pakai alas kaki,” ungkap suami dari Darlina ini.

Bagi Lukman dan “staf-stafnya” yang tak lain istri dan anak-anaknya sendiri, kondisi alam di tempat tugasnya tersebut sangat berkesan dan kondisi itu masih berlangsung sampai sekarang.

Saat ini Lukman hanya tinggal bertiga dengan anak istri di lokasi tanah hibah dari pemerintah kota itu. Namun 2 orang anaknya kemudian dipindahkan ke Pesantren Hidayatullah Bone karena memang kampus yang dirintisnya ini belum mempunyai bangunan representatif, apalagi sekolah.

Pernah juga anaknya disekolahkan di MTS As’adiyah Sengkang. Seperti diketahui, Kabupaten Wajo adalah kabupaten yang identik dengan Pesantren As’adiyah yang didirikan oleh K.H. M. As’ad. Namun Salwa Syaika Syuhda, anak pertamanya itu, hanya bertahan satu bulan di Pendidikan As’adiyah sebab Lukman sangat kewalahan siang pagi harus antar jemput dengan jarak 8 kilo meter pulang pergi.

Masyarakat Bugis

Mayoritas penduduk Kabupaten Wajo adalah asli Bugis dan kegiatan dakwah apapun bentuknya diharuskan menggunakan bahasa Bugis asli yang dikenal mengandung tradisi linguistik sopan yang mengakar.

Itulah juga yang sedikit menjadi tantangan buat Lukman, karena walaupun terlahir sebagai orang suku Luwu tapi ia tidak fasih berbahasa Bugis. Sementara jamaah masjid pada hari Jumat lebih “mendengar” khatib yang berkhutbah dengan bahasa Bugis ketimbang bahasa Indonesia.

Sementara, Lukman tidak fasih berbahasa Bugis dan lebih familiar menggunakan bahasa Indonesia saat khutbah Jumat. Pernah suatu kali, pada saat khutbah masih tahap mukaddimah, jamaah orang-orang tua masih memperhatikan dirinya.

Begitu masuk ke materi inti di mana Lukman menggunakan bahasa Indonesia, jamaah khususnya orang-orang tua langsung memalingkan wajah. Namun, tidak di semua tempat atau dusun di Wajo berlaku “status quo” ini.

Kendati begitu, Masyarakat Wajo dan Bugis pada umumnya di wilayah tersebut dan sekitarnya dikenal relijius. Hal itu, diantaranya, nampak pada tataran masyarakat tingkat kota maupun desa subur dengan pembangunan masjid-masjid.

Bahkan, Sengkang yang merapat di wilayah tersebut dikenal sebagai Kota Santri di mana Pesantren As’adiyah berpusat di sini. Konon cikal bakal meluasnya pembangunan pendidikan pesantren di Sulawesi Selatan berawal dari Sengkang, Kabupaten Wajo.

Sengkang juga terkenal dengan istilah Kota Sutera di mana masyarakat Wajo adalah pengrajin kain sutra. Selain sebagian besar berprofesi sebagai PNS, mayoritas masyarakat Sengkang juga pedagang, nelayan, dan bertani. Sengkang juga adalah penghasil beras terbesar kedua di Indonesia.

Tak Merasa Sepi di Kesunyian

Hidayatullah Wajo sendiri dirintis oleh Lukman Alfath mulai akhir 2010.  Dia mendapat amanah dari PW Hidayatullah Sulsel untuk memulai perintisan Hidayatullah di Kabupaten Wajo.

Alhamdulillah, dengan bantuan pemerintah kabupaten setempat, Lukman mendapat amanah hibah dari  pemerintah Bupati Wajo H. Amran Mahmud, M.Si berupa tanah seluas ± 1 Hektar dengan harga 75 juta rupiah, tepatnya Dusun Data Orai, Desa Mario Kecamatan Tanasitolo, kurang lebih 600 meter dari jalan poros.

Selama perintisan Pesantren Hidayatullah di Kabupaten Wajo, Lukman harus berpindah-pindah tempatnya layaknya kaum nomaden. Awalnya tinggal di rumah simpatisan Hidayatullah bernama Drs. Legiman kurang lebih satu bulan. Kemudian pindah lagi di rumah salah seorang simpatisan Hidayatullah bernama Bapak Drs. H. Abd. Salam.

Satu tahun dia dan keluarga tinggal di rumah Haji Salam. Bersama istri, anak, dan 5 santrinya saat itu. Tiap pagi ke lokasi memulai perintisan membabat pembersihan lokasi. Tak dinyana, lokasi itu ternyata berkas perkampungan. Di dalamnya ada pohon coklat, pisang, dan kelapa.

“Kegiatan lainnya gencar melakukan silaturahim ke berbagai pihak dan tokoh-tokoh masyarakat,” ujar sarjana pendidikan jebolan STAN Baubau Sulawesi Utara tahun 2008 ini.

Selain itu, Lukman juga rutin mengisi kegiatan dakwah lainnya seperi khutbah Jum’at, ceramah tarawih, mengajar TPA, dan lain-lain. Ketua Yayaysan Fathul Mubarak Pondok Pesantren Hidayatullah Wajo memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dengan berkebun.

Lukman yang juga pernah diamanahi menjadi imam tetap Masjid Polres Luwu Utara ini kini terus mendaraskan kegiatan dakwahnya kepada khalayak yang haus akan pencerahan rohani.

Alhamdulillah, kini di pesantren yang dirintisnya di Tanasitolo telah berdiri bangunan pondok sederhana berukuran 6×12 beratapkan seng, berdinding bambu, berlantai semen. Lukman dan partner perjuangannya tak merasa sepi di kesunyian.*

Rubrik ini adalah kanal khusus lembaga Persaudaraan Dai Nusantara (Pos Dai). Dukung dakwah para dai nusantara melalui rekening donasi Bank BSM: 733-30-3330-7 atau BNI 0254-5369-72 a/n Pos Dai atau Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta. Ikuti juga program, kegiatan dan kiprah dakwah dai lainnya serta laporan donasi di portal www.posdai.com

(Ainuddin Chalik,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (2) http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2013/05/16/66489/penjaga-akidah-muslimah-dari-larantuka-2.html Mon, 30 Nov -0001 00:00:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=66489 Karena dengan kehadirannya para muallaf dibina dengan baik dan rutin sehingga keislamannya tetap terjaga

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
DIJAUHKAN dari sanak keluarga tak membuat iman Nur Chandra Yosefina luntur dan hilang.Sebaliknya bahkan semakin bertambah. Ia yakin bahwa setiap apa yang ditetapkan Allah Subhanahu Wata’ala itu baik untuknya. Semua Ia terima dengan lapang dada. [baca: Penjaga Akidah Muslimah dari Larantuka (bag 1)]

Tak berapa lama di Pulau Cendrawasih, ia pun dipersunting seorang pria kelahiran Padang.
Kisah pernikahan merekapun unik, dengan membawa pakaian ala kadarnya, seperangkat alat shalat dan sebuah mushaf al-Qur’an mereka menuju Kantor Urusan Agama(KUA) setempat untuk melangsungkan pernikahan.

Setelah menikah merekapun memutuskan untuk berangkat meninggalkan kota Cendrawasih menuju Pelabuhan Kota Kupang NTT. Walaupun dekat dengan kampung orangtua tapi tidak membuat Chandra merasa kwatir dan bimbang. Justru bertambah kuat dan tegar untuk mempertahankan keimanannya.

Saat keluarganya mengetahui ia berada di Kota Kupang merekapun sempat mengancamnya lewat keluarga yang ada di Kupang.

“Kalau saja kamu kembali ke Larantuka akan dibunuh oleh keluargamu, “ ujarnya menirukan salah seorang keluarganya kala itu.

Mendapat ancaman, tak membuatnya bergeser sedikitpun dari keyakinannya. Lama kelamaan keluarganyapun membiarkan saja karena mungkin itu sudah jalan hidup yang dianut sehingga tidak ada lagi paksaan baginya untuk masuk ke ajaran sebelumnya.

Hanya untuk Islam

Beberapa tahun di Kota Karang merekapun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman tepatnya di Larantuka Kabupaten Flores Timur. Di kota ini ia terpanggil untuk mengurus dakwah, sebagai seorang Muslimah.

“Dan hati sanubari ini berkata bahwa hidup ini untuk Islam maka seluruh sisa hidupnya hanya untuk dakwah Islam.”

Tak lama setelah itu ia membentuk sebuah majelis taklim yang diberi nama Badan Kontak Majlis Taklim Kab. Flotim (BKMT).Tujuan dibentuk BKMT ini adalah menghidupkan suasana pengajian, taklim dan tilawah al Qur’an dari rumah ke rumah dan dari masjid ke masjid yang ada di Larantuka, khusunya masjid dan tempat yang tidak pernah tersentuh oleh nilai-nilai dakwah.

Selanjutnya ia menghimpun ibu rumah tangga yang muallaf untuk dibina rutin setiap pekan.
Kini jumlah jama’ah BKMT mencapai 72 majelis taklim yang tersebar di pelosok Kabupaten Flores Timur.

Meski sudah tak ada halangan keluarga, menjalankan misi dakwah tidak semulus yang dibayangkan orang. Halangan dan rintangan selalu didapatnya.

Suatu hari, kiprahnya didengar seorang aktifis gereja. “Hai! Ibu Chandra, tidak usahlah engkau memakai jilbab toh juga semua orang tau kalau kamu itu orang Islam dan dunia juga tau kalau kamu itu muslimah yang baik.” Dengan nada yang sopan Chandra menimpalinya, “Kalau ibu melarang saya pakai jilbab, berarti Itu sama saja, saya juga boleh dong melarang ibu tidak boleh ke gereja, apa ibu mau tidak ke gereja?”

Dengan rasa malu akhirnya aktifis tersebut pergi meninggalkannya. Ada pula hujatan dan cacian. Bahkan untuk yang ini  tidak hanya datang dari kalangan non Muslim, cobaan juga datang sendiri dari orang Islam.

“Wah, apa yang Anda cari sampai harus mati-matian untuk berdakwah kan kami sudah Islam jadi tidak usah lagi diajak-ajak untuk ikut majlis taklim,” ujarnya mengutip komentar orang yang mencemooh.

Menurutnya, semua cemohan ia terima dengan sabar,tabah dan tegar. Baginya, yang dilakukan saat ini masih jauh dari apa yang pernah dialami oleh Nabi dan Rasul. Baginya itu semua adalah nyanyian hidup yang harus ia terima.

Pernah ia diundang menghadiri sebuah acara yang diadakan oleh ibu-ibu pengajian Pulau Solor tepatnya di Kampung Lamakera. Kala aktu itu hujan angin dan arus gelombang yang begitu kencang tetap mereka lului demi mengajarkan satu bab ilmu dan ayat al Qur’an.

Pernah juga suatu ketika mereka menaiki truk muatan pasir untuk berdakwah dipelosok Kecamatan Wulan Gitan Kabupaten Flores Timur. Saat  turun dari mobil tumpangan, semua wajah ibu-ibu majelis taklim berubah memakai “bedak” asli berupa debu pasir dari muatan truk.

Satu hal yang diinginkannya saat ini adalah mendirikan  perpustkaan Islam di Kabupaten Flores Timur. Kenapa harus mendirikan perpustakaan?

“Karena minat baca orang Nagi (sebutan Kota Larantuka, red) terhadap buku masih rendah, jangankan baca buku pegang buku saja tidak pernah, bagaimana mau maju,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Selain itu, ia juga ingin mendirikan sebuah pondok pesantren. Karena  dari tempat itu akan lahir para mujahid dan mujahidah dakwah.
 
Fatimah, seorang ibu rumah tangga yang aktif mengikuti pengajian yang selalu digelar oleh BKMT menuturkan, adanya Ibu Chandra, para ibu-ibu rumah tangga di Kabupaten Flores Timur merasa terbantu dalam mengenal ajaran Islam.Walupun ilmunya pas-pasan, paling tidak sedikit banyaknya ada yang didapatkan setelah mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh BKMT.

“Alhamdulillah kami bisa mengikuti pengajian ini, jika tidak maka kami bisa-bisa kembali kepada ajaran sebelumnya,” ujar Fatimah.

Sebelum memeluk ajaran Islam Fatimah menganut Katolik. Fatimah kini mengaku bahagia dan salut kepada Chandra.

“Karena dengan kehadirannya para muallaf dibina dengan baik dan rutin sehingga keislamannya tetap terjaga,” tutup wanita kelahiran Pulau Adonara Tengah itu.*/Usman Aidil Wandan, dari Larantuka Flores Timur NTT

Untuk dukung dakwah para dai nusantara bisa melalui rekening donasi Bank BSM: 733-30-3330-7 atau BNI 0254-5369-72 atau Bank Muamalat Indonesia 0002-5176-07 a/n Pos Dai atau Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (1) http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2013/05/13/66469/penjaga-akidah-muslimah-dari-larantuka-1.html Mon, 30 Nov -0001 00:00:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=66469 Ia dibawa orangtuanya pada salah seorang Pastor terkemuka di Kabupaten Flores Timur agar kembali pada ajaran lamanya

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
PANAS terik matahari siang itu tak menghalangi wanita paruh baya bersama rombongan Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), menapaki perjalan dengan sebuah truk muatan pasir menuju sebuah desa terpencil di salah-satu Kabupaten Flores Timur NTT. Desa yang sedang dituju adalah Desa Bale Tebang Kecamatan Wulan Gitan Kab. Flores Timur, perbatasan dengan Maumere Kabupaten Sikka NTT.

Dialah, Nur Chandra Yosefina RN, seorang wanita yang penuh semangat dan gigih memperjuangkan dakwah di Kabupaten Flores Timur. Baginya, mengurus umat kini separoh dari perjalanan hidupnya.

Tidak heran jalan berliku-liku, jurangnya jurang, terjalnya tebing, puluhan kilometer ia lalui hanya karena ingin mengajarkan satu ayat al-Qur’an kepada masyrakat terpencil.

Senin, (29/04/2013), wanita yang kini menjadi Ketua Badan Kontak Majlis Taklim Kabupaten Flores Timur ini menemui hidayatullah.com di kediamannya Jalan Soekarno-Hatta Kecamatan Larantuka. Kepada media ini, ia mengisahkan mengapa di masa tua nya ia justru memilih jalan dakwah.

Didoakan Pastor

Kisah perjalanan dakwah Nur Chandra Yosefina bermula ketika ia mengalami kejenuhan dalam hidup. Kala itu, ia yang kala itu masih menganut Katolik membaca sebuah buku mengenai “KetuhananYesus”. Inti dari buku tersebut tidak ada nash yang mengatakan Yesus itu Tuhan, tetapi hanya seorang utusan/Rasul Tuhan.

Ia merasa banyak keganjilan dalam memahami ajaran yang dianutnya. Selama dua tahun ia mengalami kejenuhan yang sangat luar biasa.

“Saat itu saya tak pernah lagi melangkahkan kaki ke gereja,” akunya.

Puncaknya bulan Maret tahun 1984, Chandra memutuskan keluar dari agama lama dan memutuskan memeluk ajaran Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah Masjid Kota Jogjakarta Jawa Tengah.

Kala itu, alumni SMA Steladuce Kota Jogja ini sedang berdomisili dan menimba ilmu di Kota  Gudeg selama lebih 7 tahun.

Perjalanan awal masuk Islam ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Hanya beberapa gelintir orang yang mengetahui karena khawatir ada keluarga yang. Bahkan ia mengaku, awal melaksanakan ibadah shalat ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi.

“Jika melakukan shalat di rumah selalu saya tutup rapat pintu kamar, “ ujarnya. Begitupun pada saat tiba bulan puasa ia selalu bersembunyi di dalam kamar bila waktu makan siang berlangsung di keluarganya.

Tapi apa daya, lama menyembunyikan diri, akhirnya ketahuan juga. Ia mengisahkan, kala itu ia sedang melakukan shalat di saat pintu kamar tidak sempat ditutup rapat. Sehingga ada salah satu keluarganya yang masuk dan melihat. Usai shalat dzuhur, iapun dipanggil dan ditanya mengapa melakukan hal itu. Beberapa pertanyaan lain juga diajukan kepadanya.

“Sejak kapan kamu memeluk ajaran Islam?” ujarnya menirukan pertanyaan orangtuanya. Sambil menjawab, ia mengaku sempat meneteskan air mata kemudian bertutur tentang perjalanan masuk Islamnya.

Akibat peristiwa itu, Chandra dibawa orangtuanya pada salah seorang Pastor terkemuka di Kabupaten Flores Timur. Sesampai di kediaman pastor, ia sempat dibacakan doa, agar bacaan itu membuatnya sadar dari dan kembali pada ajaran laman.

Tapi apa daya, sang Pastor mengaku sia-sia dan menyerah. Kepada kedua orangtua, Sang Pastur menjelaskan, putrinya  masuk Islam bukan karena dorongan siapa-siapa, tetapi karena dari dalam hati nuraninya.

Sampai akhirnya terjadilah hal yang paling ia khawatirkan. Chandra diasingkan oleh keluarganya, sebuah pulau cukup jauh dari tanah kelahirannya, Irian Jaya. */kiriman Usman Aidil Wandan, Flores Timur NTT. Bersambung

Untuk dukung dakwah para dai nusantara bisa melalui rekening donasi Bank BSM: 733-30-3330-7 atau BNI 0254-5369-72 atau Bank Muamalat Indonesia 0002-5176-07 a/n Pos Dai atau Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Dauroh Muallim Dai se-Nusantara http://www.hidayatullah.com/berita/cover-story/read/2013/05/02/66429/dauroh-muallim-dai-se-nusantara.html Mon, 30 Nov -0001 00:00:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=66429 Dukungan moril komponen umat terhadap setiap gerakan dakwah di lapangan yang dilakukan para aktifis dai menjadi bagian penting keberlangsungan dakwah.

(Ainuddin Chalik,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Hidayatullah.com–Dakwah tak semata menuntut semangat. Lebih dari itu, aktifitas ini mengharuskan setiap pelakunya memiliki  aqidah yang benar, wawasan yang luas, kemampuan memetakan skala prioritas, dan memiliki kompetensi keilmuan praktis di bidang agama Islam.  

Berangkat dari kesadarn tersebut, Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) didukung Majelis Taklim TELKOMSEL, HiTC, BMH, dan Hidayatullah Media menggelar acara “Daurah Muallim dan Grand MBA” yang diselenggarakan selama 7 hari yakni tanggal 19 sampai dengan 25 Maret 2013 di Gedung Hidayatullah Training Center (HiTC), Kota Depok, Jawa Barat.

Acara ini diikuti sebanyak 33 orang peserta perwakilan dai dari seluruh Indonesia. Dauroh muallim diisi oleh instruktur nasional POSDAI diantaranya Ustadz Muhdi Muhammad, Ustadz Agung Tranajaya, M.Psi, Ustadz Asep Soepriatna, dan Ustadz Shohibul Anwar, M.HI.

Selain mengkaji dan mempelajari bidang keilmuan Islam seperti metode Gerakan Dasar Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA), peserta juga menerima materi training intensif seperti fiqh dakwah, komunikasi dakwah, wawasan global, dan lain-lain.  

Ketua PP Hidayatullah Bidang Pelayanan Umat, Ustadz Tasyrif Amin, dalam sambutannya saat membuka acara ini, mengatakan gerakam dakwah adalah pekerjaan berat. Di waktu yang sama setiap Muslim memiliki tanggungjawabjawab menyampaikan dakwah Islam sesuai dengan fungsi dan perannya di masyarakat.

“Dakwah adalah kewajiban setiap Muslim. Setiap kita harus berdakwah, sebab seperti kata Nabi Sampaikanlah olehmu walaupun satu ayat. Namun demikian, tidak semua orang punya kesempatan sama untuk dapat terjun langsung ke wilayah objek dakwah,” katanya.

Untuk itu, kata dia, dukungan moril komponen umat terhadap setiap gerakan dakwah di lapangan yang dilakukan para aktifis dai menjadi bagian penting keberlangsungan dakwah.

Salah seorang peserta, Ilham Lubis dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan yang digelar selama 7 hari tersebut. Ia yang mengemban amanah dakwah di daerah minoritas ini semakin tambah antusias untuk mendakwahkan nilai-nilai  Qur’an.  

“Kita semakin termotivasi untuk mempelajari Al-Qur’an. Tidak bisa dipungkiri bahwa kadang-kadang dengan kesibukan, kita akhirnya lupa dengan Al Qur’an. Dengan mengikuti kegiatan dauroh kemarin, semangat untuk mempelajari, membaca, dan mendakwakan Qur’an terus membuncah,” kata Ilham yang berdarah Batak ini, Rabu (02/05/2013).

Senada dengan itu, dai asal Manokwari Papua Barat, Sulthan, punya kesan yang cukup medanal. Dihubungi terpisah, Sulthan menceritakan bahwa dirinya sudah lama menjadi guru ngaji. Namun setelah mengikuti dauroh metode Grand MBA ia merasa masih memiliki banyak kekurangan yang harus diperbaiki.

“Belajar ketepatan huruf Hijaiyah saja harus benar-benar fokus hingga 2 hari,” kata dai yang sudah berdakwah selama 20 tahun di Papua ini.

Sulthan mengatakan waktu 7 hari untuk mempelajari Al Qur’an adalah waktu yang teramat singkat. Ia pun merasa belum terpuaskan dahaganya.

“Hanya 7 hari tidak cukup waktunya, saya sendiri belum puas. Kegiatan dauroh semacam itu perlu terus digulirkan Posdai sebab Qur’an yang kita pelajari dan akan disampaikan ke orang lain adalah ujung tombak yang berisi metodologi dakwah,” kata Sulthan.  

Ketua Panitia acara itu, Samani Harjo, mengatakan POSDAI secara rutin menggelar kegiatan upgrading untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi dai. Kata Samani, kegiatan tersebut dinilai penting untuk bekal para dai agar ketika terjun di medan dakwah dahaga masyarakat akan pemahaman Islam bisa terpenuhi dengan baik.

“Alhamdulillah, acara ini terselenggara dengan baik dan lancar atas dukungan para dermawan Muslim melalui POSDAI yang memiliki kepedulian terhadap gerakan dakwah Islam. Semoga dukungan tersebut menjadi rangkaian amal shaleh, bersama dai membangun negeri,” kata Samani.*

PESERTA DAUROH MUALLIM DAI NUSANTARA

NO

NAMA DAI

ASAL DAERAH

1

Abd. Kadir

Ambon

2

Abdul Hamid

Gorontalo

3

Abdul Kadir

Papua

4

Abdullah Azzam

Jatim

5

Abdurrahman

Palu

6

Abdurrahman Hasan

Sul-Bar

7

Ahmad Suradi

Berau

8

Ali Imron

Kal-Bar

9

Ali Mufrod

Depok

10

Asep Muhidin

Pati

11

Asy’ari

Pontianak

12

Awaluddin

Lampung

13

Budiman Stenhar

Sum-Sel

14

Faruq Sodikin

Bengkulu

15

Hartono Abu Aisy

Pati

16

Hendra Abdurrahman

Bandung

17

Ilham L

NTT

18

Imam Rohani

Banjarmasin

19

Irfan Yahya

Sul-Sel

20

Jumain

Samarinda

21

Khairul Anam

Jateng

22

Kisman

Palangkaraya

23

Misjaya

Makassar

24

Mochamad Muslih

Bali

25

Muh. Naim

Sul-Bar

26

Muhammad

Mataram

27

Mujahid

Banten

28

Safruddin

Sul-Sel

29

Saiful Prihatin

Gunung Kidul

30

Samsul Alam

Manado

31

Sultan

Manokwari

32

Sumono

Jambi

33

Yusuf Q

Papua

Rubrik ini atas kerjasama dengan Persaudaraan Dai Nusantara (Pos Dai). Dukung dakwah para dai nusantara melalui rekening donasi Bank BSM: 733-30-3330-7 atau BNI 0254-5369-72 a/n Pos Dai atau Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta. Ikuti juga program dan kiprah dakwah dai lainnya serta laporan di portal www.posdai.com

(Ainuddin Chalik,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>