Hampir dua tahun setelah gelombang besar masyarakat Pegunungan Tengger, Senduro, Lumajang, mengucapkan dua kalimat Syahadat, geliat berislam terus semarak di kalangan warga.
Hidayatullah.com--Para dai semakin giat berdakwah di kawasan yang bernama Desa Argosari, Senduro, Lumajang, tersebut. Bahkan model berdakwah pun bisa bermacam-macam yang sulit dicari padanannya di kota. Demikian pula, dengan semakin banyaknya para mualaf –menyebabkan kawasan mualaf di Senduro itu bisa disebut “Kampung Mualaf”—perlu diciptakan dai-dai dan guru mengaji yang berasal dari masyarakat setempat. Ini mengingat para mualaf di Desa Argosari dan sekitarnya telah mencapai lebih dari 60% dari seluruh penduduk yang ada. Tidak memadai jika hanya ditangani oleh dai-dai dari luar Senduro yang didatangkan ke kawasan pegunungan itu. Yang menarik saat ini juga sudah ada guru-guru TK Islam di situ. Di luar itu, para dai pun saat ini sedang bergiat membangun tempat-tempat ibadah guna aktivitas pemantapan akidah masyarakat setempat. Baca selengkapnya pada tiga tulisan berikut: Berdakwah dari Tumang ke Tumang, Warga Muslim Pun Sekarang Jadi Mayoritas, dan Tidak Ada Lagi Kain Kafan Sepanjang 100 Meter. Selamat membaca. [si/www.hidayatullah.com]
Seri tulisan selanjutnya ada pada link dibawah ini:
Geliat di Kampung Mualaf Senduro(2)
Berdakwah dari Tumang ke Tumang
Geliat di Kampung Mualaf Senduro(3)
Warga Muslim Pun Sekarang Jadi Mayoritas
Geliat di Kampung Mualaf Senduro(4-habis)
Tidak Ada Lagi Kain Kafan Sepanjang 100 Meter
| ![]() | |
![]() | ![]() | |
| |












