Hidayatullah.com—”Iman iku kaya ombak-e banyu. Kadang gedhe, kadang cilik. Seperti itulah iman kita, kadang tebal, kadang bisa juga menurun. Maka itu setiap hari kita harus selalu ingat pada Allah, dan beribadah kepada-Nya agar iman kita terjaga dan kuat.”Nasihat ini disampaikan Ust. Ali Farchu, seorang dai pegunungan asal Lumajang. Dai ini memiliki jadwal rutin berdakwah di kawasan pegunungan Tengger di Lumajang. Tepatnya, berdakwah di Desa Argosari, Kec. Senduro. Suatu kawasan yang di masa lalu dihuni oleh mayoritas suku Tengger beragama Hindu.
Tetapi Ali Farchu tidak sedang berdakwah kepada masyarakat beragama Hindu tentunya, melainkan kepada para mualaf guna mengajarkan dasar-dasar syariat Islam dan memperkuat akidah, serta iman mereka.
”Kita untuk sementara lebih banyak mengajarkan cara bersuci, mengerjakan shalat, dan memperkuat akidah mereka,” kata Ali Farchu, dai utusan Hidayatullah yang sudah 19 tahun berdakwah di Desa Argosari itu. Hal ini juga dibenarkan Ust. Arofik, dai utusan Hidayatullah lainnya yang sudah 2 tahun berada di desa itu.
Pada waktu Ali Farchu sedang berdakwah tentang keimanan kepada para mualaf di Dusun Puncak, Argosari, itu dilakukannya di dapur rumah seorang mualaf. Ya, ini pun salah satu keunikan cara berdakwah para dai di pegunungan Tengger, Lumajang, tersebut. Tempat berdakwah mereka tidak terpaku dilakukan di atas mimbar, di dalam masjid, atau di dalam musholla. Melainkan juga dilakukan di dapur warga muslim, atau warga yang baru menjadi muslim.
Pada saat pengajian dilakukan, para warga mengelilingi sebuah tungku dengan api dari bahan bakar kayu sedang menyala. Di atas tungku pun tidak dibiarkan kosong begitu saja, tetapi juga dijerang panci berisi minuman.
Pada saat kegiatan dakwah sedang berlangsung, para peserta pengajian dapat melakukan aktivitas minum dengan cara menuangkan air minum (teh) panas yang sedang dijerang di atas tungku menyala ke dalam gelasnya. Tungku itu sendiri bagi warga Tengger lebih dikenal dengan nama tumang.
”Sebenarnya semacam ini kalau warga menjamu tamunya, berbincang-bincang di sekitar tumang, walaupun sekarang rumah-rumah warga umumnya telah memiliki ruang tamu. Jadi kita pun kalau berdakwah di rumah warga, juga dilakukan di dekat tumang itu,” kata Ali Farchu.
Alasan melaksanakan kegiatan di sekitar tumang itu yang utama tentu untuk menghangatkan badan. Maklum, udara di kawasan penggunungan Tengger ini selalu dingin, baik malam atau siang hari. Udara pun sering gelap berkabut di siang hari. Suhu udara bertambah dingin jika memasuki musim kemarau.
”Dengan mengelilingi tumang, kemudian sambil minum air yang sedang berada di atas tumang, tubuh kita jadi hangat luar dan dalam. Kegiatan pengajian pun berlangsung dengan nikmat,” ucap Ali Farchu. Apalagi sembari mendengarkan pengajian, para warga pun masih bisa kemulan kain atau sarung. Maksudnya juga untuk mengusir udara dingin yang menerpa tubuh.
Menurut Arofik, aktivitas keagamaan untuk warga Tengger ini, di luar kegiatan yang membutuhkan alat bantu semacam Al Quran atau buku pelajaran Al Quran, umumnya dilakukan di sekitar tumang itu. Dengan demikian para ustadz sewaktu-waktu bisa mendatangi warga dengan tempat yang berpindah-pindah. ”Hanya untuk pengajaran Al Quran, kita melakukan di masjid atau musholla,” jelasnya.
Juga di ladang
Ali Farchu mengatakan, keingintahuan para mualaf terhadap kegiatan ibadah Islam sangat besar. Mereka pun aktif menanyakan cara-cara ibadah Islam di mana pun saja mereka berada, di luar aktivitas di tumang atau di masjid. Di ladang pun mereka suka bertanya tentang cara beribadah, seperti cara berwudhu dan shalat.
”Akhirnya kita pun berdakwah di mana pun saja kita berada,” ujarnya. Hal ini memang harus dilakukannya agar para mualaf itu segera bisa memahami dan melaksanakan aktivitas beribadah agama Islam.
Bagi Ali Farchu motivasi berdakwah di tempat mana saja bukan sesuatu yang baru. Dorongan ini sudah dipahaminya dari ucapan ulama besar Indonesia, Hamka. ”Sampaikan Islam di mana pun kita berada,” kata Ali, mengutip ucapan Hamka.
”Kata Hamka, kalau Islam hanya disampaikan di atas mimbar, perkembangannya akan lambat,” ucapnya.
Hanya saja untuk berdakwah ini kita pun memahami dasar-dasarnya. ”Kata Rasulullah, saat kita berdakwah jangan lupa kita memberikan senyum dan menyampaikan salam,” ucap Ali.
Agar dakwah bisa dipahami masyarakat, yang umumnya tingkat pendidikannya minim, Ali Farchu dan Arafik menggunakan ungkapan-ungkapan sederhana.
”Cara kita mengetahui Allah, ingat saja kalau kita ambekan atau melihat daun digoyang angin. Kita kan tidak pernah melihat nafas kita, atau angin yang menggoyang daun. Semacam itulah Allah, dzat yang gaib. Dia pasti ada, tetapi kita tidak dapat melihat-Nya,” kata Ali dalam suatu kesempatan berdakwah kepada para mualaf di tumang. Semoga dari tumang ini, Islam bisa terus tumbuh dan dipahami. [syaiful irwan/www.hidayatullah.com]







