frontpage hit counter

Diakui, Peran Nyata dan Strategis Alumni Timur Tengah Bagi Bangsa

"Tidak perlu ada kekhawatiran bahwa alumni Timur Tengah akan (menjadi) tokoh intelektual yang merongrong NKRI dan Pancasila."

Diakui, Peran Nyata dan Strategis Alumni Timur Tengah Bagi Bangsa
Bilal Tadzkir/hidayatullah.com
Hidayat Nur Wahid pada Aksi Bela Islam III di Monas Jakarta, Jumat (02/12/2016).

Terkait

Hidayatullah.com– Para ulama-alumni Timur Tengah diakui selama ini memiliki peran nyata dan strategis bagi bangsa Indonesia, bahkan di kancah dunia.

Demikian pengakuan Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, di depan 300-an alumni Universitas Islam Madinah (UIM) pada seminar bertema peran dan fungsi strategis ulama dalam pembinaan umat, pekan kemarin.

Seminar itu rangkaian dari acara Silaturahim Nasional (Silatnas) Alumni UIM yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu-Ahad (15-16/07/2017).

Baca: Silaturahim Nasional Alumni Universitas Islam Madinah di Jakarta

Hidayat mengatakan, para ulama, terkhusus yang pernah menuntut ilmu di Makkah dan Madinah, Arab Saudi, memiliki peran strategis yang nyata. Sebagaimana, katanya, juga dinyatakan oleh Azyumardi Azra dalam disertasinya.

“Baik yang bersifat lokal ke-Indonesiaan atau internasional,” ujarnya.

Pada Muktamar Jam’iyyatul Khair tahun 1903, Jam’iyyatul Khair yang berdiri pada tahun 1901 diakui memiliki peran yang sangat serius.

Begitu pula, lanjutnya, Syeikh Al-Minangkabawy, Mufti Madzhab As-Syafi’iyah di Makkah (guru dari pendiri Muhammadiyah dan NU) adalah salah satu ulama, terkhusus ulama Indonesia, yang memiliki peran yang mendapat pengakuan internasional.

Baca: Dubes Usamah: Alumni UIM Berperan Strategis Penghubung Indonesia-Saudi

Maka, dengan fakta-fakta nyata kiprah positif alumni Timur Tengah, kata Hidayat, “tidak perlu ada kekhawatiran bahwa alumni Timur Tengah akan (menjadi) tokoh intelektual yang merongrong NKRI dan Pancasila.”

Apatah lagi, secara empirik banyak alumnus Timur Tengah, yang notabene memiliki ilmu agama yang mendekati kapasitas ulama, menjadi pejabat publik di beberapa daerah, kata Hidayat, seperti di Sambas.

Bahkan, menjadi anggota DPR RI ataupun Wakil Ketua MPR RI. “Dan tidak ada di antara mereka yang terlibat atau terindikasi gerakan terorisme,” ungkap Hidayat yang juga alumnus UIM.

Kepada para ulama, dipesankan harus mampu memposisikan diri secara konstruktif di tengah-tengah arus perkembangan Indonesia.

Baca: UIM Anti Mengafirkan Sesama Muslim dan Anti Terorisme

Menyinggung bumi pertiwi, Hidayat mengatakan, Indonesia ini negara ‘bukan-bukan’. Maksudnya, bukan negara Islam juga bukan negara sekuler. Bukan negara parlementer juga bukan kerajaan.

“Bukan negara dengan parlemen 1 kamar seperti Saudi Arabia, juga bukan negara dengan parlemen 2 kamar,” ungkap politisi PKS ini.

Indonesia pun katanya bukan sekadar negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, tapi juga dengan perguruan tinggi Islam terbanyak di dunia.* Kiriman Naspi Arsyad/SKR

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !