frontpage hit counter

Islamic Worldview dan Peradaban Islam

Dengan merealisasikan Islam worldview, mudah-mudahan akan melahirkan semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam yang berbuah kedamaian, kesejahteraan dan peradaban Islam

Islamic Worldview dan Peradaban Islam

Terkait

Oleh: Fakhrurrazi

 

KENAPA negara Islam sekarang pudar eksistensinya dalam skala ilmu pengetahuan dunia? Padahal Islam adalah suatu ajaran yang sangat konsen dan menyeru umatnya untuk mencari ilmu, megangkat derajat orang yang beriman dan yang memiliki ilmu pengetahuan (QS. Al-Mujadalah: 11).

Dengan ilmu pula manusia (Nabi Adam ‘Alaihissalam) lebih mulia dan tinggi derajatnya dari pada makhluk lain tak terkecuali malaikat sekalipun. Lalu dimanakah letak kemuliaan itu sekarang, Ironisnya, dewasa ini yang terjadi pada umat Islam di seantero bumi sana adalah penyerangan, pembantaian umat, pertikaian antar ideologi notabennya juga dalam tubuh umat Islam sendiri dan pada akhirnya melahirkan peperangan dalam satu aqidah. Sekali lagi, dimanakah letak “Kewibaan umat Islam ?”

Negara Islam hari ini jika boleh dikatakan seperti anak ayam yang kehilangan Induknya, walaupun sebagian ahli berpendapat kemunduran umat Islam dikarenakan banyak faktor diantaranya; ada faktor eksternal dan internal, namun faktor tersebut tidak penulis bahas disini. Karena yang harus dipahami oleh umat Islam sekarang adalah bagaimana caranya memulai dan membangkitakan kembali marwah Islam kepentas dunia, yaitu dengan mengusung trilogi; mencipta kedamaian umat, memberikan kesejahteraan dan melahirkan peradaban.

Baca:  Membangun Indonesia dengan Worldview Islam

Kondisi ini menggiring kita yang satu aqidah turut berduka dan ikut mencari solusi, apa yang salah dengan Islam sekarang hingga bisa terjadi hal-hal yang disebutkan di atas. Menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, kondisi ini terjadi antara lain, karena ketegangan sosial atau kekacauan politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan lain sebagainya. Artinya Pembangunan Ilmu Pengetahuan Islam dalam melahirkan masyarakat yang sehat dan beradab sedang dalam masalah.  Terus sebenarnya siapa yang salah, apakah konsep Islam, ataukah orang Islam yang mungkin sudah jauh dan keliru dalam memahami Islam yang sebenarnya. 

Konsep Islam

Dalam Hal ini penulis ingin mengulas kembali pemikiran Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, seorang cendikiawan muslim Indonesia yang menaruh perhatian terhadap belantika pemikiran dan peradaban Islam. Sebelumnya, Penulis ingin memulai dengan ungkapan seorang Ilmuwan besar dunia Albert Einstein “Ilmu tanpa agama buta, Agama tanpa Ilmu lumpuh”.

Artinya agama dan Ilmu seperti salah satu sisi mata uang yang saling mengikat dan memberi makna, hubungannya tak saling terpisahkkan, ia tereduksi dalam “konsep Islam”. Dalam Islam tidak dikenal pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Karena agama dalam Islam bersumber dari wahyu (al Quran) yang berbicara tentang ilmu dan kebermanfaatan ilmu kepada manusia. Agama Islam memberi label kepada manusia sebagai khalifah fil ardh (perwakilan Tuhan) dibumi, bumi yang harus dikelola dengan baik dan dapat memberikan kesejahteraan kepada alam sendiri dan kepada sesama manusia.

Meskipun petunjuk hidup (Al Quran) telah diwahyukan, namun dewasa ini kemauan untuk mempelajari kandungan Alquran secara mendalam dan kritis miris sangat kurang, hal ini dapat kita lihat apakah disekolah maupun diperguruan tinggi. Akibatnya kekacauan negara-negara Islam sekarang adalah karena telah meninggalkan Al Quran (agama Islam).

Posisi Ilmu Pengetahuan Islam

Padahal jika kita lihat secara historis, perkembangan ilmu pengetahuan yang berperadaban di Jazirah Arab (Kekhalifahan Bani Umayyah I 661-750 M dan Abbasiyah 750-1258 M) dan Eropa, (Umayyah II 929-1031 M dan Kekhalifahan Turki Ustmani 1453-1924 M) adalah dengan menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam setiap aktifitas kehidupan sehingga peradaban Islam muncul kepentas dunia. Sebab agama dalam Islam bisa melahirkan ilmu dan ilmu bisa melahirkan peradaban.

Maksudnya penerapan dari nilai-nilai agama dikejawantahkan dalam kehidupan (Ilmu) atau komunitas masyarakat hingga melahirkan tradisi keilmuan. Wahai para pembaca yang budiman, agama di sini jangan dipahami secara sempit yang hanya berkutat pada ibadah-ibadah pribadi tapi pahamilah agama Islam secara betul dan universal yang pernah dibawa dan disampaikan oleh baginda Nabi.

Hakikat dari disiplin ilmu menurut Imam Ghazali terklasifikasi dalam dua bagian yaitu Ilmu Ainiyah (fikih, tauhid, tasawuf; baca penjelasan ulama) dan kifayah (kedokteran, ekonomi, sains dan teknologi dan sebagainya) pembagian ini jangan dilihat secara dikotomis namun lihatlah sebagai kesatuan ilmu yang berasal dari Ilahi. Agama Islam masuk dalam segala sektor kehidupan, mulai dari masalah teologi, politik, sains, militer, ekonomi dan seterusnya dengan matarantai ilmu pengetahuan seperti ini sehingga terbentuklah peradaban dalam suatu komunitas, wilayah atau negara.

Agama dan Peradaban

Dalam salah satu karya Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yaitu “Tamaddun Sebagai Konsep Peradaban Islam”,  ditulis bahwa peradaban Islam akan muncul kembali dengan menghadirkan agama Islam sebagai konsep Islam rahmatan lilalamiin dalam jiwa umat Islam, kenapa karena interpretasi agama dalam Islam (ad-Dinul Islam) adalah agama yang di dalamnya kaya dengan strategi, cara, aturan-aturan, pedoman, undang-undang, kenyamana, kejayaan dan peradaban.

Pengakuan Gutas bahwa peradaban Islam “disusun sesuai dengan agama yang diwahyukan kepada Muhammad”, Islam adalah bukti bahwa peradaban Islam disusun berdasarkan din Islam, dan karena itu sangat sesuai disebut sebagai peradaban. Di dalam peradaban itu terdapat kedamaian (Demitris Gutas, Greek Thought, Arabic Culture, 1988).

Ketika menjalankan agama Islam dengan benar dan universal maka akan  menciptakan peradaban yang dapat mensejahterakan penghuni pada tempat tersebut. Agama Islam adalah agama yang bersumber dari wahyu tuhan berisi anjuran, larangan dan pedoman kehidupan diwahyukan kepada nabi Muhammad dan pada akhirnya dikodifikasikan dalam bentuk kitab suci Alquran. Jadi Alquran itu adalah wahyu dari tuhan sebagai bentuk petunjuk dalam menjalankan kehidupan.

Secara Epistimologi isi dari alquran itu sendiri sangat kompleks dalam menginterpretasikan dunia dan akhirat, maka dari itu beragama Islam dalam arti yang benar adalah suatu keniscayaan dalam membina hidup dan bisa mengelola bumi ini dengan baik. Apabila umat Islam sudah jauh meninggalkan agama maka kehidupan akan kacau tak berarah, maka terjadilah ketimpangan-ketimpangan yang sebenarnya secara naluriyah tidak diinginkan oleh manusia.

Baca:   Akidah Ahlus Sunnah adalah Asas dari Worldview Islam

Hal ini pernah diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya Muqaddimah, “jika umat telah jauh dan meninggalkan agama maka akan timbul ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan akibatnya terjadilah pembunuhan, korupsi, perjudian, keserakahan dan perbuatan amoral lainya.”

Maka untuk menjawab tindakan amoral dan re-peradaban Islam, konsep yang ditawarkan oleh Hamid Fahmy Zarkasyi dan sama pula seperti gurunya Prof. Naquib Al Attas yaitu dengan kembali kepada Islam worldview.

Worldview adalah falsafah atau prinsip dalam berkehidupan dan asas bagi pemahamam realitas. Menurut Ilmuwan Muslim Syekh Atif al-Zayn, pandangan hidup Islam ada tiga macam 1) ia berasal dari wahyu Allah, 2) berdasarkan konsep din yang tidak terpisah dari negara, 3) kesatuan antara spiritual dan material (sosial, budaya, ekonomi) (Syekh Atif al-Zayn, al-Islam wa Idulujiyyat al-Insan, 1989). Berdasarkan pandangan Syekh Atif, bahwa Islam worldview/pandangan hidup Islam ini melibatkan aktifitas epistimologi manusia kepada Tuhan sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitas penalaran manusia baik pada sosial, realitas dan aktifitas ilmiah.

Islam Worldview

Maka hal yang paling utama yang harus diperhatikan dalam membangun peradaban umat adalah cara pandang terhadap Islam. Artinya pandangan umat Islam harus menggunakan pandangan atau cara berpikir yang berasas Islam, menghadirkan Islam dalam semua lini kehidupan baik Politik, Ekonomi, Pendidikan, Sains dan sektor-sektor lainnya. Sebab Islam yang bersumber dari Alquran membahas secara universal tentang politik. Tatanan pemerintahan yang sesuai agar bisa menjalankan syariat, bagaimana menata kehidupan yang baik dan wilayahnya bisa berdaulat dan bermartabat juga rakyatnya bisa sejahtera. Begitu juga pendidikan, ekonomi, budaya dan sebagainya. Semua itu diserahkan kepada umat Islam berdasarkan penjelasan orang yang ‘alim atau ulama sebagai orang yang lebih senior atau profesional dalam hal pengartian dan interpretasi makna-makna Alquran. Hal ini seperti yang berlaku diperguruan tinggi di mana para sarjana muda tentu merujuk kepada karya-karya ilmiah sang profesor yang menguasai secara mendalam disiplin ilmu masing-masing.

Mengubah Islam worldview/framework atau cara pandang umat kepada cara pandang Islam (prinsip Islam) adalah kunci bangkitnya peradaban Islam. Sebab peradaban itu muncul dari pandangan yang melahirkan tindakan dan berbuah Ilmu Pengetahuan. Hal ini sama ketika nabi berdakwah di Makkah, Hal pertama yang diperkenalkan nabi kepada umatnya ialah dengan memantapkan cara pandang kepada Allah, bertauhid yang benar, bagaimana beriman kepada hari kiamat, malaikat dan sebagainya. Singkatnya di awal periode Mekkah yang diajarkan nabi kepada umat adalah memposisikan cara pandang/berpikir yang benar tentang nilai-nilai teologi dan ketuhanan. Setelah mantap dengan worldview Islam kepada Tuhan dengan menghadirkan nilai-nilai  Ilahiyah dalam segala sektor kehidupan maka inilah awal dari kebangkitan keilmuan Islam dan peradaban.

Baca:  Pakar: Sejarah Mencatat, Peradaban Islam Membawa Kemajuan

Peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan dari pandangan hidup Islam. Menurut Dr. Hamid, pemikiran yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat adalah intelektual. Ia berfungsi sebagai individu yang bertanggung jawab terhadap ide dan pemikiran tersebut. Bahkan perubahan di masyarakat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual. Ini bukan sekedar teori tapi fakta yang terdapat dalam sejarah kebudayaan Barat dan Islam.

Di Barat ide-ide para pemikir, seperti Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam Smith dan sebagainya adalah pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dan merubah pemikiran masyarakat. Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti Imam Syafii, Hanbali, Imam al-Ghazzali, Ibn Khaldun, Ibn Rusy mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka. Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran umat Islam, meskipun tidak berarti kita berhenti membangun bidang-bidang lain.

Artinya, pembangunan ilmu pengetahuan Islam yang berasas dari cara pandang Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam. Walhasil dengan merealisasikan Islam worldview dalam sanubari umat Islam, mudah-mudahan akan melahirkan semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam. Berbuah kedamaian, kesejahteraan dan peradaban Islam yang kita cita-citakan Amin. Waallahu ‘alam bishawab.*

Penulis mahasiswa Program Magister Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta Jawa Tengah

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !