frontpage hit counter

Al-Quran, Sepilis dan Urgensi Kepemimpinan

Islam sangat mewanti-wanti agar jangan sembarangan memberikan loyalitas dan ketaatan kepada pemimpin

Al-Quran, Sepilis dan Urgensi Kepemimpinan

Terkait

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

 

Menjelang Pilkada DKI sepertinya suhu politik di Ibu kota akan semakin “panas”. Karena perebutan kursi DKI 1 memang sangat menentukan: bagi ibukota sendiri dan tentunya bagi daerah lain. Kemurnian demokrasi segera diuji kembali. Disamping sikap kenegarawan patut ditonjolkan.

Namun demikian, isu-isu agama sepertinya tak dapat dikesampingkan begitu saja. Mau tidak mau, terima atau tidak, agama adalah bagian dari ritme kehidupan. Khususnya bagi umat Islam. Agama bagi mereka adalah kehidupan. Karena di dalamnya diatur segala urusannya: dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Dari hal yang sifatnya ushūl (fondasi) sampai yang paling furūʻ (cabang). Diantaranya adalah masalah politik yang menyangkut kepemimpinan.

Di dalam Al-Quran diulas masalah amanat, hukum, keadilan, ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada para pemimpin (ulu al-amr) (QS.4: 58-59). Sebagai Mukmin harus percaya dan yakin bahwa ajaran Al-Quran pasti benar, karena dia adalah wahyu dari Allah: yang tak disentuh sedikitpun oleh kebatilan, baik dari arah depan maupun belakangnya. Karena diturunkan dari sisi Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mulia (QS.41:42).

Anehnya, banyak dari kaum Sekular, Liberal, dan Marxis, menolaknya. Mengaku Islam tapi tidak mau tunduk kepada hukumnya, tidak taat kepada perintah dan larangannya, tidak mau merujuk kepada kitabullah dan sunnah rasul-Nya. Meskipun suatu saat merujuk kepada ajaran Islam, itu hanya untuk mengubah ajarannya.

Mereka biasanya “menundukkan leher” teks-teks Al-Quran dan sunnah untuk kepentingan mereka. Ini jelas bukan perbuatan ahli iman. Padahal, kaum beriman jika diseru untuk menerapkan hukum Allah dan rasul-Nya jawabannya cuman satu:samiʻnā wa athʻnā, kami dengar dan kami taati (QS.24:51).

Kaum Sekular, Liberal, dan Marxis itu biasanya memang mengolok-olok Islam yang komprehensif, yang tak pernah dikenal oleh selain umat Islam. Mereka Akhirnya menyebut istilah-istilah yang mereka buat sendiri, semisal: Islam politik, seolah-olah ada istilah Islam warna-warni: Islam spiritual, Islam pemikiran, Islam sosial, Islam politik! Padahal Islam ya Islam: intinya Islam, unsur pembangunnya ya Islam, sumbernya ya Islam, yaitu Islam Al-Quran dan sunnah. (Syekh Yusuf al-Qaradhawi, Min Fiqh al-Daulah fi al-Islām (Kairo: Dār al-Syurūq, 1417 H/1997 M), 8).

Oleh karena itu tidak mengherankan jika menjelang Pilkada DKI istilah-istilah yang berkaitan dengan Islam bermuncul. Ada yang mengatakan jangan menggunakan QS.5:51 untuk melawan salah satu calon. Ada pula dari kaum sekular yang mengatakan bahwa istilah awliyā’ (QS.5:51) tak pernah ditafsirkan sebagai ‘pemipin’ oleh para mufassir, baik klasik maupun modern.

Padahal para ulama sudah makna dan maksud dari QS.5:51 itu dengan baik dan mantap sekali. Misalnya, Imam Ibn Katsir (w.774 H), ketika menafsirkan QS.5:51 di atas mengutip satu kisah menarik mengenai ketegasan khalifah ‘Umar ibn al-Khatthab.

Menurut riwayat Ibn Abi Hatim, dari ‘Iyadh, bahwa ‘Umar menyuruh Abu Musa al-Asy’ari untuk melaporkan kepadanya pemasukan dan pengeluaran (yang dicatat) pada selembar kulit yang telah disamak. Pada waktu itu, Abu Musa al-Asy’ari mempunyai seorang sekretaris seorang Nasrani. Kemudian sekretarisnya itu menghadap ‘Umar untuk memberikan laporan, maka ‘Umar sangat kagum seraya berujar, ‘Ia benar-benar orang yang sangat teliti. Apakah engkau bisa membacakan untuk kami di masjid surat-surat yang baru kami terima dari Syam.’ Maka Abu Musa al-Asy’ari mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukannya. Maka ‘Umar bertanya,‘Apakah dia sedang junub?’ Abu Musa menjawab, ‘Tidak, tetapi dia seorang Nasrani.’ Maka ‘Umar pun membentakku dan memukul pahaku, dan berkata,‘Keluarkan orang itu!’ Selanjutnya ‘Umar  membaca QS.5: 51. (Lihat, Imam Ibn Katsir,Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, editor: Muhammad Husain Syams al-Din (Beirut-Lebanon: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1419 H/1998 M): 3/120).

Bahkan, Ibn ‘Aun, dari Muhammad ibn Sirin, dia berkata bahwa ‘Abdullah ibn ‘Utbah menyatakan, “Hendaklah kalian takut menjadi Yahudi atau Nasrani namun dia tidak merasa.” (Imam Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, 3/120).

Doakan Jakarta, Syaikh Ikrimah: Pilihlah Pemimpin Muslim!

Dan ketika menafsirkan QS.5:52 Imam Ibn Katsir menjelaskan frase, “Dan orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit….” dengan: keraguan, ketidakyakinan, dan kemunafikan. Artinya: orang-orang yang ragu dan tidak yakin dengan agamanya cepat sekali untuk menjadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin, dan mencintai mereka secara zahir maupun batin.

Kenapa mereka melakukan itu? Allah jawab, “…karena mereka takut akan terjadinya kemenangan kaum kafir atas kaum Muslimin. Jika ini terjadi, maka mereka mendapat perlindungan dari Yahudi dan Nasrani. Dan ini, menurut mereka, akan bermanfaat buat mereka.”

Padahal Allah sudah katakan akan berikan kemenangan bagi umat Islam (QS.5:52). Dan kalau sudah mendapat kemenangan, orang-orang yang mendukung kaum kafir tadi akan menyesal. Karena mereka tidak akan mendapat apapun dari orang-orang Yahudi dan Kristen yang mereka dukung itu. Akhirnya, mereka pun tidak mendapatkan apa-apa. Sebaliknya, mereka malah mendapat keburukan. Rahasia mereka yang selama ini mereka sembunyikan akhirnya ditampakkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Dan, kemunafikan mereka pun terbongkar. (Imam Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, 3/120).

Anehnya, fenomena yang disampaikan oleh Allah dalam ayat-ayat-Nya di atas acap kali menjadi kenyataan. Tapi bagi kaum sekular, liberal, maupun para munafiqun itu hal biasa. Karena bagi mereka prinsip berpolitik adalah: “Tidak ada sahabat yang hakiki, yang ada adalah kepentingan yang abadi.” Meskipun yang didukung adalah partai yang selama ini menyudutkan umat Islam dan mendiskreditkan Islam, selama ada maslahat pribadi di dalamnya akan didukung dan didakwahkan. Sungguh, ini sangat memalukan sekaligus memilukan.

Melihat hal di atas maka umat Islam memang sangat perduli terhadap kepemimpinan (riyāsyah, zaʻāmah) dalam membawa umat ini kepada kondisi yang lebih baik. Maka memilih pemimpin Muslim di berbagai daerah adalah kewajiban utama dalam mengubah nasib dan keadaan umat ini. Ini adalah bentuk usaha yang “digantung” oleh Allah (QS.13:11), agar umat Islam menggapainya dengan baik.

Itu mengapa Islam sangat mewanti-wanti agar jangan sembarangan memberikan loyalitas dan ketaatan kepada pemimpin. Karena ‘aqidah seorang pemimpin sangat menentukan. Maka menjadi ijma’-lah bahwa memilih pemimpin kafir adalah haram. Apalagi di Indonesia saat ini, pemimpin Muslim yang jujur, adil, dan kapabel sangat mudah untuk ditemukan.

Wakil Ketum MUI: Pemimpin Muslim yang Jujur-Adil Itu Lebih Baik

Dalam kasus calon pemimpin DKI memang umat Islam harus jeli dan cerdas dalam memilih. Pengalaman mereka selama ini (penggusuran, celaan terhadap beberapa ajaran Islam) semestinya sudah cukup menjadi pelajaran bagi mereka bahwa pemimpin Muslim tidak boleh ditawar-tawar lagi. Dan ini memang menentukan sedalam apa keimanan dan ‘izzah (rasa bangga dan mulia) dalam diri setiap Muslim terhadap agamanya, Islam yang mulia ini. Wallahu a’lam bi al-shawab.*

Penulis adalah staf pengajar di PP. Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !