Tsaqafah – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Islam dan Sekularisasi Sains dalam Pendidikan http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/08/27/149537/islam-dan-sekularisasi-sains-dalam-pendidikan.html Mon, 27 Aug 2018 09:56:03 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=149537

Tak masalah jadi saintis sekaligus menjadi Muslim yang ta’at. Dengan bangga kita mengatakan Islam Yes! Sains Yes! Sekular No!

The post Islam dan Sekularisasi Sains dalam Pendidikan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Daru Nurdianna

 “…Bahwa sains bisa berkembang dan maju, jika di dunia ini dikosongkan dari tradisi atau Agama yang menyatakan adanya kekuatan supernatural di dunia ini… Jika dunia ini dianggap manifestasi dari kuasa supernatural, maka sains tidak akan maju dan berkembang…” Harvey Cox

 

SUATU ketika, ada seorang siswa SMA Negeri atau mahasiswa Perguruan Tinggi yang merasa sulit untuk memahami hubungan tentang ilmu sains dan agama. Bahkan ada yang dengan alasan yang ilmiah dan sistematis, mereka punya argumen untuk memisahkan hubungan sains dan agama. Wajar saja sih, ya mau gimana lagi. Ia tumbuh dalam kondisi pendidikan sekolah Negeri yang basis kurikulumnya sekular, sehingga jauh dari nilai-nilai transendental. Maksudnya trasendental adalah jauh dari nilai-nilai yang menonjolkan rohani atau keimanan. Di kurikulum itu juga, tokoh-tokoh sains yang diangkat dalam buku ajar adalah tokoh-tokoh Barat. Ditambah lagi dari keluarganya juga bukan keluarga yang agamis. Siswa terbiasa belajar sains tanpa agama di dalam kelas. Sehingga aneh jika mengaitkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits di dalam kelas. Sebenarnya tidak berdosa kan ketika guru mengaitkan dengan agama di dalam kelas? Ya, kendalanya juga tidak ada guru yang menyadari bahwa sains dan agama bukan dua entitas yang terpisah. Kalau sudah begini, maka, sudah komplit dah!, akhirnya dinding sekularisasi sains dan agama sukses dibangun di dalam jiwa siswa-siswa itu.

Paham sekular yang memisahkan agama dan sains telah memberikan kerugian yang amat besar terhadap umat beragama, terkhusus umat Muslim. Sebenarnya, ide sekular ini dari mana sih? Ini perlu untuk kita gali. Dari sana kita akan memahami sebenarnya umat Islam tidaklah perlu untuk mengikuti sekularisasi karena bukan dari Islam, tidak Islami dan bertentangan dengan Islam. Sekularisasi telah memisahkan manusia dari ayat-ayat kauniyah yang tertulis di alam. Sehingga hati gersang tatkala belajar tentang Biologi, Fisika, Matematika. Akhirnya, orientasi siswa untuk menguasai ilmu itu untuk membangun peradaban Umat atau kemaslahatan umat tidakklah terbangun. Karena baginya, belajar sains itu tidak ada kaitannya dengan agama dan tidak bisa menambah keimanan. Ini nih masalah!

Sejarah dan Konsep Sekular

Untuk memahami lebih lanjut mengapa kaum Muslimin tidak perlu mengikuti paham sekularisme maka, kita perlu memahami dari mana asal muasal paham tersebut. Sekularisai singkatnya berawal dari pergumulan perseteruan pihak Gereja dan Saintis di Eropa pada Zaman Pertengahan (Medieval Period) yang dimana saat itu agama Kristen sebagai sentral peradaban Barat tidak memberikan ruang pada ilmu pengetahuan dan bahkan justru menghalangi ilmu pengetahuan bisa berkembang. Saat itu ketika orang Barat berfikir, mereka menjauhi gereja karena doktrin apriori gereja terasa mencurigakan dan konsep Tuhan menjadi meragukan. Akhirnya para pemikir Saintis mencerai agama dan sains. Mereka lebih tertarik mengambangkan budaya Filsafat Yunani dari pada gereja.

Akhir Abad ke-18 terjadi kekacauan yang kusut di Eropa. Saat itu terjadi revolusi sosial dan pergolakan yang mengubah pandangan manusia dari keyakinan kepada Tuhan menuju penyembahan alam materi yang sekularistik. Peran agama dipisahkan dari fungsi agama. Akibatnya, komersialisasi dan industrialisasi kehidupan, revolusi sains, dan visi keduniaan berubah dari persoalan moral dan keyakinan kearah kapitalisasi kehidupan, pasar bebas, peluang-peluang hedonisme, dan free-sex (seks bebas) yang meluas.

Teolog Kristen mulai pada abad ke-20 sepeti Karl Bart, Dietrich Bonhoeffer, Freidrich Gogarten, Paul van Buren, Thomas Altizer, Gabriel Vahanian, William Hamilton, Woolwich, Werner dan Lotte Pels, Harvey Cox dan lain-lain memodifikasi teologi Kristen supaya sesuai dengan peradaban Barat yang modern-secular.

Baca: Mencari Sains Islam 

Mereka menegaskan bahwa ajaran Kristen harus sesuai degan pandangan-hidup (worldview) sains moden yang sekular dan mereka membuat penafsiran baru terhadap Bibel seta menegasikan penafsiran lama bahwa ada alam lain yang lebih kuat dan hebat dari alam ini.

Komponen integral di sekularisasi menurut Harvey Cox, salah satunya memiliki sistem disenchantment of nature yang berasal dari terjemahan die Entzuberung der Welt yang diambil dari gagasan Max Weber. Bahwa sains bisa berkembang dan maju, jika di dunia ini dikosongkan dari tradisi atau agama yang menyatakan adanya kekuatan supernatural di dunia ini. Manusia harus mengekploitasi alam seoptimal mungkin, tanpa perlu dibatasi oleh pandangan-dunia agama manapun.

Jika dunia ini dianggap manifestasi dari kuasa supernatural, maka sains tidak akan maju dan berkembang. Jadi, dengan cara apapun, semua makna-makna ruhani keagamaan ini mesti dihilangkan dari alam. Maka ajaran, ajaran-ajaran Agama dan tradisi harus disiingkirkan. Jadi, alam bukanlah suatu entitas suci (devine entity).

Zaman modern, Filsafat Emanuel Kant sangat berpengaruh. Menurut Kant, pengetahuan adalah mungkin, namun metafisika adalah tidak mungkin karena tidak berlandaskan panca indra. Hal ini untuk menjawab keraguan terhadap Ilmu Pengetahuan yang dimunculkan oleh David Hume yang skeptik.

Emanuel Kant membuat demarkasi yang tegas bahwa agama adalah non-ilmiah dan sains adalah imiah. Ideologi sekular akhirnya mejadi fondasi kepada berbagai disiplin keilmuwan, seperti filsafat, teologi Yahudi-Kristen, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi-dari kapitalisasi, pertanian sebagai korban-, dan lain-lain. Maka, apakah pantas Islam mengikuti ajaran sekular? Padahal Peradaban Islam berpusat pada sikap mengakui dan mengikuti wahyu, sehingga muncullah ilmu pengetahuan dan peradaban. Sejarah sudah membuktikan.

Sains dan Agama  

Sentuhan transendental dalam pendidikan di non-pondok pesantren dinilai sangat diperlukan. Sentuhan rohani diperlukan karena ini bisa membentuk cara pandang siswa kedepan dan menentukan masa yang akan datang. Siswa atau mahasiswa yang memiliki cara pandang agamis, akan lebih mudah membentuk pribadi yang bermoral dan berakhlak mulia. Karena dalam dirinya ia menyadari akan keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan dan perkara kehidupan selalu terhubung dengan Sang Pencipta. Sehingga, nilai-nilai amoral terkikis. Itulah jiwa sehat yang terpancar dari keimanan dan keihsanan.

Baca: Empat Pendekatan Sains Islam

Orientasi paham sekularisme adalah dunia semata. Maka, pendidikan yang berbasis sekular hanya berakhir pada cita-cita keduniaan saja. Dipersubur dengan adanya degradasi nilai pendidikan menjadi perusahaan untuk mengeruk kekayaan dari konsumen (walisantri), yang menjadi pendidikan sebagai ‘lahan basah’ mencari keuntungan materil. Maka nilai moril tidaklah lagi penting.

Kemajuan sains dan teknologi hanya untuk memenuhi nafsu manusia tanpa memperhatikan nilai-nilai agama. Hati akan menjadi kering, karena saat belajar sains, peserta didik dijauhkan dari nilai Keimanan. Harga yang sangat murah jika dibanding dengan prinsip ajaran Islam. Islam menuntut penganutnya untuk mengejar Akhirat, karena dunia hanya sementara. Jika mengejar akhirat, Allah telah berjanji bahwa dunia akan mengikutinya. Sebaliknya jika orientasinya hanya dunia, akhirat tidaklah didapati.

Dalam uraian BNSPI (Badan Standarisasi Nasional Pendidikan Indonesia) mengenai pelajaran agama dalam standar di semua jenjang pendidikan telah ditemukan bahwa nilai agama direduksi menjadi sekadar alat untuk mendidik ‘mental-spiritual’. Yang bermakna bahwa agama hanya diposisikan sebagai instrumen pengembangan potensi kepribadian yang sangat individualis. Seperti terdengar suara besar yang samar bahwa itu juga mengatakan “tidak ada tempat untuk agama  dalam ruang publik dan sains”. Pun tidak hanya itu, semua Agama diposisikan sama rata. Maka nilai pluralisme agama pun tidak dielakkan harus diakui.

Dalam kasus tersebut, jika dilihat dari perspektif dari agama lain mungkin tidak masalah. Namun, jika dikaitkan dengan Islam, maka konsep ini bermasalah. Islam sebagai deen tidak sekedar mentalistas pribadi, namun sebagai instrument peradaban yang bahkan mejadi basis dari peradaban itu sendiri. Islam memiliki ruang lingkup yang multidimensional, menyeluruh, dan berlaku bagi siapapun karena nilai-nilainya universal. Islam mencakup budaya, politik, ekonomi, sosial, sains, dan peradaban yang inheren dalam seluruh ajarannya. Lebih dalam lagi, Islam mencakup cara berfikir, cara melihat, cara merasa, cara menyikapi realitas dan kebenaran yang nampak dan tidak nampak dengan mata hati, yang menembus langit dan nilainya berpusat pada Allah (teosentrisme). Hal ini bertolak belakang dengan paham sekular yang manusia sebagai pusat nilainya (antroposentrisme).

Maka, Syed al-Attas dalam bukunya Islam dan Sekularisme mengatakan bahwa kita harus melakukan islamisasi yang pertama-tama melakukan pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, nasional-kultural, dan sesudah itu melakukan pengendalian pembebasan jiwa dari paham sekular terhadap nalar dan bahasanya. Penjelasan tersebut merupakan penggambaran tentang Islamisai yeng bermakna sebagai suatu proses pembebasan. Kita harus menolak sekularisasi secara lahir maupun batin karena sekularisasi bukan bagian dari Islam, dan tidak sama sekali Islami.

Diharapkan pembebasan tersebut memunculkan semangat kepada para siswa dan mahasiswa untuk belajar sains yang sesuai dengan cara pandang Islam. Belajar adalah ibadah, dan ibadah untuk membangun ilmu dan peradaban. Menyambung kembali spirit para saintis Muslim yang telah menjadi pioner dalam ilmu-ilmu penting. Diantara para saintis besar Muslim dan temuannya adalah sebagai berikut: Ibnu Ishaq al-Kindi w.800 (pakar falsafah, fisika, dan optik); al-Battani w. 858  (Pakar astronomi dan matematika); Al-Farabi w.870 (pakar falsafah, logika, sosiologi, sains dan musik); Ibn Sina w.980 (pakar kedokteran, filsafat, matematika); Omar al-Khayyam w. 1044 (Pakar matematika dan penyair), Ibn al-Haitham w.965 (pakar fisika, optik dan matematika), Abu Raihan al-Birruni w.973 (Pakar astronomi dan matematika), Ibn Sina w. 980 (Pakar kedokteran, filsafat, dan matematika), al-Zarqali w.1029 (Pakar astronomi penemu astrolabe) dan lain-lain. Maka, menjadi sebuah keniscayaan menjadi saintis sekaligus menjadi Muslim yang ta’at. Dengan bangga kita bisa mengatakan Islam Yes! sains Yes! sekular No!*

Penulis adalah peserta Program Kaderisasi Ulama’ (PKU) UNIDA Gontor

The post Islam dan Sekularisasi Sains dalam Pendidikan appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
149537
Intoleransi Ekonomi, Tionghoa, dan Bung Hatta http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/08/14/148509/intoleransi-ekonomi-tionghoa-dan-bung-hatta.html Tue, 14 Aug 2018 02:27:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=148509

Jika ada toleransi ekonomi, didukung kebijakan yang adil, jurang kesenjangan ekonomi China dan akan menyempit

The post Intoleransi Ekonomi, Tionghoa, dan Bung Hatta appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Andi Ryansyah

 

TOPIK intoleransi agama sering diperbincangkan dan diangkat oleh media. Walaupun ada kasusnya, tapi secara umum, kerukunan umat beragama di Indonesia masih terjaga. Hasil survei Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tahun 2017 terhadap 7.140 responden di 34 provinsi di Indonesia menyatakan, skor kerukunan umat beragama sebesar 72,27. Skor ini menunjukkan sikap keberagamaan di Indonesia tergolong rukun (Republika.co.id, 22/3/2018).

Kita patut bersyukur dengan keadaan rukun ini dan harus terus menjaganya. Jangan malah kasus intoleransi agama ini dibuat-buat. Yang toleran malah dianggap intoleran. Ini bisa membuat masyarakat jadi tidak tenang dan bingung.

Intoleransi Ekonomi

Ketimbang membuat-buat kasus intoleransi agama, mending kita menaruh perhatian lebih pada kasus intoleransi ekonomi. Kasus ini juga berbahaya bagi kerukunan warga. Di mana yang konglomerat tidak ingin yang melarat maju ekonominya. Di mana yang raksasa modal membunuh usaha rakyat kecil. Di mana segelintir orang menguasai ekonomi bangsa ini. 1% orang terkaya, menurut data Credit Suisse 2016, menguasai 49,3% kekayaan nasional. Masya Allah!

Kalau keadaannya seperti ini, bagaimana yang kaya tidak makin kaya dan yang miskin makin masuk got? Bagaimana tidak menimbulkan kecemburuan sosial? Bagaimana tidak  berpotensi berontak dan memisahkan diri? Bagaimana tidak mengancam keutuhan NKRI? Bagaimana tidak bahaya?

Karenanya, masalah intoleransi ekonomi ini penting dan genting untuk segera diatasi. Perlu diungkap siapa saja orang atau kelompok yang intoleran di bidang ekonomi. Agar bisa kita ingatkan, jangan dzalim kepada orang kecil. Syukur mereka jadi insyaf.

Baca: Keturunan Tionghoa di Mata Bung Hatta 

Masalah intoleransi ekonomi ini jadi kompleks manakala masyarakat kita memandang bahwa saudara-saudara etnis Tionghoa (China) lah yang menguasai —untuk tidak menyebut menjajah— ekonomi bangsa ini. Sebab dari sini, masalah bisa merembet ke rasis. Tak dapat dipungkiri ketika api amarah berkobar dan konflik sosial meletus, umpatan rasis kadang keluar. Etnis Tionghoa jadi dianggapnya seperti orang luar. Bukan warga negara Indonesia.

Sebenarnya, tidak semua etnis Tionghoa berdompet tebal. Ada juga yang kantongnya kering. Ekonomi bangsa ini sebetulnya tidak hanya dikuasai mereka, tapi juga Amerika, Eropa, dan Jepang. Tapi mungkin karena Amerika, Eropa, dan Jepang relatif hanya modalnya yang masuk, sementara  Tionghoa masuk bersama modal dan orangnya —baik di level atas, menengah, maupun bawah, maka muncul tambahan perasaan terancam dan lebih cepat menimbulkan kecemburuan di kalangan masyarakat awam.

Soal penetrasi ekonomi asing, masyarakat awam tidak terlalu paham tentang hal itu. Mereka lebih mudah kesal dengan pelaku-pelaku yang tampak di depan matanya, yakni etnis Tionghoa.

Boleh dikatakan, masalah utama masyarakat kita dengan etnis Tionghoa sekarang ini sebenarnya bukanlah rasis, melainkan kesenjangan ekonomi. Inilah yang membangun tembok pemisah di antara keduanya. Oknum penguasa turut membangun tembok itu dengan lebih memberikan kesempatan kepada sejumlah pengusaha etnis Tionghoa untuk mengembangkan bisnisnya. Ada perlakuan diskriminasi ekonomi di sini. Tentu ini membuat rasa keadilan di dada masyarakat berontak. Kekesalan mereka kepada sebagian etnis Tionghoa ini didasari argumen ekonomi yang jelas, bukan berpijak pada sentimen ras.

Pikiran Bung Hatta

Untuk mengatasi masalah ini, pikiran Mohammad Hatta yang tertuang di majalah Star Weekly, 26 Januari 1957, agaknya masih relevan untuk dijadikan solusi. Dalam tulisannya yang berjudul “Warganegara Indonesia Turunan Tionghoa” itu, juga dituturkan bahwa kala itu, masyarakat memandang golongan Tionghoa lah yang menguasai ekonomi. Karenanya, mereka menuntut pemerintah untuk melindungi ekonomi nasional dan memberi kesempatan kepada pengusaha nasional untuk memperoleh kedudukan yang layak dalam perekonomian masyarakat.

Menurut Bung Hatta, masalah ini bisa diatasi dengan politik perekonomian yang tegas dengan menaikkan ekonomi rakyat yang lemah ke tingkat perekonomian golongan maju.  “Dengan dasar-dasar jang berlaku di dalam kapitalisme masalah ini tidak dapat diselesaikan,” tegasnya.

Itu artinya, politik harus digunakan untuk menelurkan kebijakan dan tindakan yang dapat memperbaiki nasib rakyat miskin menjadi  makmur. Bukan hanya satu golongan saja yang bisa menikmati hidup makmur. Pemerintah harus adil dan menyejahterakan semua warganya. Politik jangan malah digunakan untuk  kepentingan, keuntungan, dan kekayaan diri, kelompok, partai, dan pemodal saja.

Bung Hatta mengakui tidak sedikit WNI keturunan Tionghoa yang telah berjasa untuk Indonesia. Di masa mendatang, kata Bung Hatta, mereka diperlukan lebih banyak lagi untuk membantu pembangunan negara.  Mereka diajaknya untuk ikut serta membangun Indonesia yang adil dan makmur. “Ini hanja dapat dilaksanakan, apabila ia sanggup dalam segala usahanja menempatkan kepentingan umum di muka dan kepentingan diri sendiri di belakang,” terangnya.

Bung Hatta juga mengakui kepintaran WNI keturunan Tionghoa di bidang ekonomi. Sarannya kepada mereka agar kepintarannya itu dipakai untuk membantu perekonomian negara, seperti dengan melancarkan jalan ekspor ke pasar dunia. Selain itu, Bung Hatta juga menyarankan mereka agar membawa masyarakat  ke dalam usaha bersama dengan rasa tanggung jawab bersama. Bung Hatta ingin jiwa baru disuntikkan dalam perekonomian dengan menjunjung tinggi moralitas dagang dan kejujuran, serta memberantas kecurangan dan penyelundupan.

Baca: Invasi Ekonomi China di Afrika

Saran Bung Hatta ini akan menciptakan suasana kekeluargaan dalam berwirausaha. Dengan bekerjasama dan memajukan ekonomi golongan lemah, usaha golongan yang ekonominya kuat akan disokong pula oleh golongan yang ekonominya lemah. Walhasil keduanya jadi saling menguatkan. Inilah insan-insan toleran di bidang ekonomi.

Dengan adanya toleransi di bidang ekonomi serta didukung kebijakan ekonomi pemerintah yang adil, jurang kesenjangan ekonomi antara etnis Tionghoa dan rakyat pun akan menyempit. Tembok pemisah antara kita akan roboh. Sentimen ras akan sirna, dan bangsa ini akan semakin rukun. Salam damai dan persatuan.*

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

The post Intoleransi Ekonomi, Tionghoa, dan Bung Hatta appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
148509
Bersikap Inshaf, Ciri Ahlus Sunnah http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/08/06/147815/bersikap-inshaf-ciri-ahlus-sunnah.html Mon, 06 Aug 2018 05:02:37 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=147815

Meski Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut Shubuh itu bid’ah. Namun belaiu tidak pernah mengatakan bahwa amalan tersebut tidak disyariatkan dalam Islam

The post Bersikap Inshaf, Ciri Ahlus Sunnah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Bahrul Ulum

 

CIRI Ahlus Sunnah  Wal Jamaah adalah inshaf (adil dan pertengahan) dalam bersikap. Salah satu contohnya adalah persoalan qunut di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat mengenai hukumnya. Imam Syafi’i dan Imam Malik berpendapat sunnah. Sedang Imam Hanafi dan Imam Ahmad berpendapat sebaliknya.

Adanya perbedaan tersebut, yang menarik adalah sikap Imam Sufyan Ats Tsauri yang berkata bahwa  berqunut pada shalat Subuh itu  bagus, dan jika tidak berqunut itu juga bagus.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401).

Begitulah cara ulama salaf menyikapi perbedaan pendapat. Ini berbeda dengan sikap sebagian orang-orang sekarang dalam menyikapi hal yang sama.

Sebagai contoh dalam sebuah majalah yang membahas masalah ini dimana si penulis menulis, ”Alhamdulillah, shalat di belakang imam yang sesuai dengan sunnah adalah lebih baik, walau harus berjalan cukup jauh dari rumah kita. Akan tetapi mungkin di beberapa tempat atau daerah hal seperti itu sulit untuk mendapatkannya, sehingga terpaksa shalat berjama’ah di belakang imam yang terus menerus melakukan qunut shubuh.  [Majalah As-Sunnah 01/Th VI/1423H/hal.4-5].

Dari tulisan ini seakan penulis mengatakan bahwa shalat Subuh yang tidak pakai qunut sesuai dengan sunnah dan yang pakai qunut tidak sesuai dengan sunnah.  Apalagi penulis kemudian mengambil pendapat Imam Hanafi agar makmum tidak ikut qunut di belakang imam qunut dengan manambahi bahwa hal tersebut tidak disyariatkan dalam Islam.  Padahal Imam Hanafi hanya berpendapat bahwa qunut Subuh itu adalah hukum mansukh (yang telah dihapuskan).

Baca:  Argumen Madzhab Asy Syafi’i tentang Hadits Qunut Shubuh

Dari sini bisa kita lihat bahwa penulis ini bersikap tidak adil. Bandingkan dengan perkataan Imam Sofyan ats-Tsauri yang ilmunya jauh lebih tinggi namun bisa bersikap adil.

Memang untuk bersikap adil dibutuhkan kedalaman dan keluasan ilmu. Hanya orang yang berilmu tinggi dan hatinya bersih yang bisa bersikap seperti Imam Sofyan ats Tsauri.

Karenanya, Imam Suyuti sejak awal mewanti-wanti  agar umat Islam tidak terlalu fanatik terhadap mazhabnya yang bisa menyebabkan terjadinya konflik di tengah-tengah masyarakat.  Ia berkata,”Aneh, ada orang yang mengagung-agungkan sebagian mazhab melebihi yang lain. Pengagungan ini yang menyebabkan berkurang dan jatuhnya martabat mazhab yang dikalahkan, bahkan kadangkala menyebabkan konflik di tengah orang awam. Lahirlah kemudian fanatisme dan sentimen Jahiliah. Seharusnya, para ulama bersih dari perkara-perkara tersebut. Karena, perbedaan furu’iyah tersebut benar-benar telah terjadi pada zaman Sahabat, padahal mereka adalah umat terbaik. Namun, tak satu pun di antara mereka ada yang menyerang atau memusuhi yang lain, juga menyatakan yang lain salah dan pendek akalnya. (As-Suyuthi, dalam Jazil al-Mawahib fi Ikhtilaf al-Madzahib, hlm. 21-23)

Belajar Inshaf dari Imam Ahmad

Meski Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut Subuh itu bid’ah. Namun beliau tidak pernah mengatakan bahwa amalan tersebut tidak disyariatkan dalam Islam. Terbukti jika shalat di belakang imam yang qunut, beliau ikut qunut dan mengamininya. Hal ini ia lakukan dalam  rangka menyatukan kalimat, melekatkan hati, menghilangkan kebencian antara satu dengan lainnya. (Ibnu U’tsaimin, Syarah Mumti’ 4/64).

Sikap Imam Ahmad seperti ini menunjukkan bahwa beliau inshaf (adil dan pertengahan) terhadap permasalahan yang diperselihkan oleh para ulama. Meski berbeda pendapat dengan ulama lainnya, bukan berarti kemudian mengatakan pendapat lain tidak disyariatkan Islam. Buktinya beliau masih mengikuti qunut dan tidak membatalkan shalatnya. Amalan yang tidak disyariatkan berarti tidak boleh dilakukan. Namun Imam Ahmad malah dengan tegas mengikuti seorang imam yang qunut dan mengamininya. Kalau beliau menganggap qunut tidak disyariatkan pasti tidak akan mau shalat di belakang orang yang qunut.

Baca: Umat Islam Medan Serentak Melakukan Qunut Nazilah untuk Iraq

Sikap Imam Ahmad ini patut dicontoh oleh para ulama dan dai dewasa ini. Meski tidak sependapat dengan ulama lainya, hendaklah tetap bersikap inshaf (adil dan pertengahan).

Al-Quran dan As-sunnah menjelaskan bahwa sikap inshaf adalah akhlak mulia yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Adab-adab yang terkait dengannya, sangat penting untuk diperhatikan agar seorang muslim tidak terjatuh kepada perbuatan aniaya dan dzalim, yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sikap  inshaf terhadap orang yang berbeda merupakan manhaj Ahlus sunnah wal Jamaah. Salafus saleh sepakat agar setiap orang yang ingin menyampaikan sebuah ilmu hendaknya dilakukan apa adanya.

Al-Imam Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, dengan tegas mengatakan  bahwa mazhab salafus saleh akan menulis apa saja, baik menguntungkam maupun merugikan pendapatnya. Tetapi ahli bid’ah hanya akan menulis apa yang menguntungkan baginya saja.

Dalam hal ini Ibnul Qayyim memperingatkan, “Setiap kelompok akan menilai kelompok dan perkataannya dengan lafadz-lafadz yang paling baik, sementara menilai perkataan orang-orang yang bersebrangan dengannya dengan lafadz-lafadz yang paling buruk. Namun bagi orang yang dikaruniai bashirah oleh Allah, maka ia akan mampu menyingkap apa yang ada dibalik lafadz-lafadz itu dari kebenaran atau kebatilan. Maka, jangan tertipu dengan sekedar lafadz sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair: Ketika kau memujinya kau sebut ia (madu) hasil dari lebah. Jika engkau ingin kau juga bisa menyebutnya dengan muntah lebah. Pujian dan celaan engkau tidak melampaui sifatnya. Kebenaran saja terkadang ditimpa buruknya pengungkapan. (as-Showaiq al Mursalah: 3/944).

Mudah-mudahan kita bisa mencontoh para ulama dalam menyikapi perbedaan.*

Penulis dosen STAIL Surabaya dan Sekretaris MIUMI Jawa Timur

The post Bersikap Inshaf, Ciri Ahlus Sunnah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
147815
Adab dan Iman http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/07/19/146405/adab-dan-iman.html Thu, 19 Jul 2018 15:25:24 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=146405

Jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kedzaliman, kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak

The post Adab dan Iman appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

 

KETIKA kalimat adab disebut, yang terlintas dalam kebanyakan benak kita adalah kesopanan, etika atau akhlak. Sejumlah buku menerjemahkan adab dengan kesopanan. Singkatnya, kebanyakan memahami adab sebagai tindak-tanduk atau perilaku yang baik.

Jika ditelaah, adab memiliki kedudukan sangat istimewa, penting dan strategis dalam agama Islam. Ia bukan sekedar perilaku dzahir (a’malul jawarih), tetapi juga aktivitas jiwa dan akal. Ketika membincangkan problema terbesar umat Islam di zaman modern, Prof. Syed Naquib al-Attas misalnya, menunjuk pada kalimat the loss of adab. Krisis yang dialami umat Islam sangat kompleks dan beragam, tetapi beliau menyebut akarnya ada di loss of adab.

Bahkan, beberapa kalam para ulama terdahulu menunjukkan sikap mendahulukan adab daripada ilmu. Di antara sedikit beberapa contohnya adalah; Abdurrahman bin al-Qosim (ahli fikih madzhab Maliki dari Mesir yang disebut-sebut murid utama bahkan pewaris ilmu fikih Imam Malik) mengatakan: “Aku berkhidmat kepada imam Malik radhiallahu ‘anhu selama dua puluh tahun. Selama itu, dua tahun aku belajar ilmu, dan delapan belas tahun belajar adab. Seandainya aku jadikan semua rentang waktu tersebut untuk belajar adab”. Sebagian ulama menasihati anaknya: “Wahai anakku, belajar satu bab adab itu sesungguhnya lebih aku sukai daripada kamu belajar tujuh puluh bab ilmu”. Imam Malik pernah menasihati imam Syafi’i radhiallahu ‘anhuma: “Wahai Muhammad (Muhammad bin Idris As-Syafii), jadikanlah ilmu kamu sebagai garam dan adab mu sebagai tepung”.

Karena itu, kemungkinan para ulama menulis bab-bab tentang adab yang ditujukan oleh para penuntut ilmu, pelajar, dan al-murid (penganut jalan tariqah sufiyah) dengan landasan pemikiran pentingnya adab dalam agama. Misalnya, ada kitab yang sangat masyhur “Ta’lim al-Muta’allim Thoriq al-Ta’lim” karya imam al-Zarnuji. Imam al-Bukhari menulis suatu kumpulan hadis bernama “Adabul Mufrad”.

Ibnu Muqaffa’ menulis kitab “al-Adab as-Shaghir” dan “al-Adab al-Kabir”, yang disebut Rosailu al-Bulagho’. Imam al-Ghazali memiliki risalah kecil berjudul “Kitabul Adab” yang dimasukkan dalam kitab beliau “Roudhotut Thoalibin wa ‘Umdatus Salikin”.

Baca: Loss of Adab dan Kepercayaan Diri Muslim 

Ibnul Jama’ah memiliki karya “Tadzkirotu as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adabi al’Alim wa al-Muta’allim”. Dan dari Nusantara KH. Hasyim Asy’ari menulis kitab yang judulnya mirip dengan judul kitab Ibnul Jama’ah. Judul kitab adabMbah Hasyim adalah “Adabul ‘Alim wal Muta’allim”.

Lalu apa pentingnya adab, sehingga para ulama salaf dahulu menaruh perhatian terhadap adab ini? Untuk memahami ini, kita mulai dari kisah sahabat yang ditulis dalam hadis Imam Muslim, berikut ini.

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi ia menyakiti tetangga-tetangga dengan mulutnya.”. Maka berkatalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh ia termasuk ahli Neraka.”

Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau Si Fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sungguh ia termasuk ahli Surga.” (HR.Muslim).

Ada satu pelajaran penting dari hadis di atas. Banyaknya ibadah tetapi adabnya rusak tidak membawa manfaat apa pun. Amalnya tidak bisa menyelamatkan dirinya, karena jiwanya buruk. Sebaliknya, jiwa yang bersih meski amalnya sedikit bisa menyelamatkan dirinya.

Begitu pula, orang yang bertauhid, mesti berbuat baik kepada manusia.  Jika pun akhlaknya buruk, maka ia belum menjadi muslim bertahid yang ideal. Sebaliknya, berbuat baik kepada sesama juga mesti didasari dengan tauhid, keimanan, bukan yang lainnya. Inilah yang disebut muslim yang baik. Adab di sini disandingkan dengan makna akhlak. Oleh para ulama disebut adab dzahir.

Begitu juga berbuat baik kepada manusia, akan tetapi meninggalkan shalat misalnya bukan karakter seorang Muslim. Begitu pula, menyembah kepada Allah akan tetapi berbuat buruk kepada tetangga, adalah bukan karakter muslim bertauhid.

Baca: Adab Menjadi Hakim dalam Islam

Salah satu karateristik Islam adalah menjaga adab kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sekaligus adab kepada sesama manusia. Adab sendiri adalah mengetahui sesuatu pada tempatnya. Pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan derajat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta. Adab kepada-Nya dengan percaya dan beribadah. Sedang adab kepada manusia adalah memenuhi hak-hak yang mesti diberikan kepada mereka.

Atas hal ini, adab berkaitan dengan iman. Imam al-Ghazali menulis rumusan sangat penting tentang adab ini. Bahwa ada korelasi kuat antara; tauhid, iman, syariat dan adab. Ia mengatakan: “Tauhid seseorang menuntut adanya keimanan. Dan keimanan itu menuntut pengamalan syariah. Seseorang yang tidak berpegang pada syariah maka sesungguhnya ia tidak memiliki keimanan (sempurna) dan ketauhidan (sempurna). Sementara syariah menuntut adanya adab.

Barangsiapa yang tidak beradab maka sesungguhnya ia tidak mengamalkan syariah (dengan sempurna), tidak berimana (dengan sempurna) dan tauhidnya (tidak sempurna). Meninggalkan adab berarti tertolak oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Maka barang siapa yang adabnya buruk, maka ia tertolak dari pintuk kebenaran” (Imam al-Ghazali, Roudhotu al-Tholibin wa ‘Umdatus Salikin, hal. 11).

Rumusan kalimat tersebut diperjelas oleh Imam al-Ghazali bahwa yang ia maksud adab di situ adalah adab dzahir dan adab batin. Jika seseorang itu terlatih adab dzahir dan batinnya, maka ia menjadi seorang sufi yang beradab (sufiy adiib). Ia mengatakan: “Jika jiwa seseorang dilatih dengan adab sunnah (mengamalkan ajaran Allah) maka Allah Subhanahu Wata’ala akan memberi cahaya dalam hatinya dengan cahaya ma’rifah (nurul ma’rifah) (Imam al-Ghazali, Roudhotu al-Tholibin wa ‘Umdatus Salikin, hal. 10). Adab sunnah merupakan adab dzahir. Yakni melaksanakan kewajiban syariah dan anjuran-anjurannya. Yakni mengikuti perintah-perintah Nabi Muhammad, perbuatan-perbuatannya, akhlaknya, dan lain-lain. Seorang hamba bisa wushul (sampai) kepada Allah Subhanahu Wata’ala melalui praktik adab.

Sedangkan adab batin adalah penjagaan terhadap hati dari liarnya hawa nafsu. Karena sumber kesesatan akidah sumbernya dari kotornya hati dengan penyakit-penyakit hati (amradhul qulub).

Baca: 18 Tahun Belajar Adab

Imam al-Ghazali mengatakan: “Penyimpangan dari akidah yang benar itu disebabkan: Hati yang dikuasai oleh hawa nafsu dan fanatik kepada pemikiran ahli bid’ah”. Ciri hati yang dikuasai oleh hawa nafsu ada tiga: cinta kedududukan (hubbul jah), cinta dunia dan cinta harta. Jadi, tiga trilogi cinta inilah yang menjadi racun yang mematikan akidah seorang Muslim.a

Terkait hal itu, Ibnul Mubarak pernah mengatakan: “Barang siapa yang meremehkan adab maka dihukum dengan terhalang mengamalkan sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah, akan dihukum terhalang melaksanakan kewajiban. Dan barang siapa meremehkan kewajiban, maka dihukum terhalang dari ma’rifah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.” (Sayid Zein bin Smith, al-Manhaj al-Sawiy,hal.197).

Dari uraian singat di atas, paling tidak bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa memang kunci kebaikan itu ada dalam adab. Dan ternyata adab yang paling urgen adalah adab batin. Bagaimana mengenali hati dan jiwa kita, supaya hati dan jiwa berada pada posisinya yang “sehat”.

Seseorang yang kecenderungan hatinya kepada cinta kedudukan, cinta harta dan cinta dunia adalah hati yang tidak beradab. Mestinya dunia itu diletakkan di tangan bukan di hatinya. Cukup logis apa yang dikatakan imam al-Ghazali di atas, kecintaan pada tiga hal ini menjadi sebab penyimpangan dari akidah yang benar. Makanya, imam al-Ghazali memulai Kitab Bidayatul Hidayah dengan nasihat supaya niat mencari ilmu benar, sebab jika niatnya dunia maka sama dengan merobohkan agama.

Jika sesuatu itu bersemayam tidak pada posisinya, maka bisa terjadi kerusakan yang disebut bi-adab (tidak beradab). Jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kedzaliman, kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Manusia dikatakan dzalim, jika meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.*

Penulis adalah Dosen IAI Darullughah Wadda’wah Bangil

The post Adab dan Iman appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
146405
Segala yang Tidak Dikerjakan Rasulullah Haram? http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/06/29/145022/segala-yang-tidak-dikerjakan-nabi-haram.html Fri, 29 Jun 2018 00:49:17 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=145022

Oleh: Shalah Yusuf  El Haq* KITA seringkali mendengar seseorang melarang suatu amalan dengan landasan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah […]

The post Segala yang Tidak Dikerjakan Rasulullah Haram? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Shalah Yusuf  El Haq*

KITA seringkali mendengar seseorang melarang suatu amalan dengan landasan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukannya. Maka disini perlu kita pertanyakan, apakah dibenarkan penetapan hukum syariat sebuah amalan dapat dilakukan dengan cara tersebut? Dengan bahasa lain, apakah ‘at-tark’ (peninggalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap sebuah amalan) dapat menjadi alasan keharaman amalan tersebut?

Seluruh ulama yang berkonsentrasi dalam pembahasan otoritas sebuah metode dalam memberi dampak hukum dan hujjah, atau terkenal dengan sebutan ushuliyyun (ahli ushul fiqh) telah sepakat bahwa dalil untuk menetapkan sebuah hukum adalah nash Al-Quran dan as-Sunnah, Ijma’ (konsensus), serta Qiyas. Sedangkan dalil lain selain empat dalil yang disebutkan tadi, para ushuliyyun berbeda pendapat akan kehujjahannya. Dalil lain tersebut seperti; istishab, istihsan, saddu adz-dzari’ah, qoul as-sahabi, dll.

Dan yang perlu kita perhatikan adalah dari seluruh metode penetapan hukum yang diakui para ulama tersebut tidak ada ‘at-tark’ di dalamnya. Itu berarti para ushuli tidak memandang ‘at-tark’ sebagai hujjah atas sebuah hukum, sebagaimana yang dijelaskan mantan Mufti Mesir Syaikh Ali Jum’ah.

Beberapa Kasus yang Menunjukkan Bahwa At Tark Tidak Menyatakan Keharaman

Ada beberapa kasus di masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang menunjukkan bahwasannya apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bukanlah perkara yang diharamkan.

Shahabat Berdoa dengan Lafal yang Tidak Diajarkan Rasulullah

Diriwayatkan dari Rifa’ah bin Rafi’:
كنا يوما نصلي وراء النبي فلما رفع رأسه من الركعة قال: سمع الله لمن حمده. قال رجل وراءه: ربنا ولك الحمد، حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه. فلما انصرف قال: من المتكلم؟ قال: أنا. قال: رأيت بضعة وثلاثين ملكا يبتدرونها، أيهم يكتبها أولا.

“Pernah suatu ketika kami melaksanakan sholat di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian saat beliau i’tidal, beliau berkata: sami’allahu liman hamidah. (Tiba-tiba) seseorang di belakang beliau mengucapkan: hamdan katsīran thoyyiban mubārokan fīh. Kemudian setelah selesai sholat Rasulullah bertanya: siapa yang bicara tadi? Makmum tadi menjawab: saya. Rasulullah pun berkata: Aku melihat sekitar tiga puluh malaikat saling berebut, siapakah diantara mereka yang mencatatnya duluan.” (HR Bukhori)

Setelah menyebutkan hadist ini Imam Ibn Hajar menanggapi, “hadist ini dijadikan dalil akan kebolehan menyusun doa baru yang ghoiru ma’tsur (tidak terdapat contohnya dari Nabi) dalam sholat.” Jika dalam perkara sholat kita diperbolehkan berdoa dengan doa yang ghoiru ma’tsur maka di luar sholat tentu pintu kebolehan lebih terbuka lebar.

Para Sahabat Membuat Mimbar untuk Berkhutbah Tanpa Perintah Rasulullah

Pun saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjadikan dahan pohon sebagai pijakan beliau saat berkhutbah, itu tidak lantas membuat para sahabat memahami keharaman berkhutbah di atas mimbar. Hingga akhirnya pemahaman itulah yang mendorong mereka membuatkan mimbar untuk khutbah nabi shallallahu alaihi wasallam.

Para fuqoha’ juga dengan jelas tidak menjadikan ‘at-tark’ sebagai argumen yang mustaqil (independen).

Shalat Sunnah Dua Rakaat Setelah Ashar

Ibn Hazm, saat berkomentar tentang sholat sunnah dua rakaat setelah Ashar, berkata: “Adapun hadist dari Ali radhiyallahu ‘anhu maka tidak dapat dijadikan hujjah. Karena Ali hanya mengabarkan apa yang ia tahu bahwa ia tidak melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukannya. Dan Ali berkata benar. Namun itu tidak menunjukkan keharaman sholat tersebut, begitu pula kemakruhannya.” (al-Muhalla, 2/36)

Masalah Mengeringkan Air Wudhu dengan Kain

Dalam kitab Ibn Hazm lainnya, beliau berkata: “Dan begitu pula segala sesuatu yang ditinggalkan nabi shallallahu alaihi wasallam tanpa beliau larang ataupun perintahkan maka menurut madzhab kami hukumnya mubah. Barang siapa yang meninggalkannya mendapat pahala, dan barang siapa melakukannya tidak berdosa dan tidak diberi pahala.” (al-Ihkam fi ushulil ahkam, 4/436)

Imam Nawawi, saat menjelaskan hadist tentang penolakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atas kain yang diberikan Maimunah untuk mengusap air dari tubuh beliau setelah mandi junub, mengatakan: “Di dalamnya terdapat dalil kesunnahan untuk tidak mengeringkan anggota tubuh (dari bekas air).

Ulama madzhab Syafi’i berbeda pendapat dalam masalah mengeringkan anggota tubuh dari bekas wudhu dan mandi kepada lima pendapat. Pertama, meninggalkannya mustahab (sunnah), namun jika melakukannya tidak dikatakan makruh. Kedua, melakukannya makruh. Ketiga, melakukannya merupakan perkara mubah. Dan ini adalah pendapat yang kita pilih karena sebuah larangan dan kesunnahan suatu amalan membutuhkan dalil yang jelas.”(Syarh Muslim, 3/231)

Lihatlah bagaimana Imam Nawawi, seorang pakar fikih sekaligus ahli hadits memahami hadist tersebut. Beliau justru memahami apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggalkan (mengeringkan bekas mandi junud) merupakan perkara mubah. Padahal Imam Nawawi mengerti bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jelas-jelas meninggalkan bahkan menolaknya.

Ibnu Daqiq al-‘Ied juga berkata, “Penolakan (Rasulullah atas) kain (yang disodorkan Maimunah) terjadi dalam kondisi yang memungkinkan terjadi banyak kemungkinan (ihtimal). Karena bisa jadi penolakan tersebut bukan dikarenakan kemakruhan mengelap bekas air, namun karena sesuatu yang berkaitan dengan kain yang disodorkan (seperti kemungkinan najis) atau selain itu. Wallahu a’lam.” (Ihkamul ahkam, 135)

Dengan demikian kita dapat memahami kaidah para ulama yang kesimpulannya, jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan sesuatu tanpa memberi petunjuk sebab ia ditinggalkan maka akan menimbulkan kemungkinan (ihtimal). Dan sesuatu yang menimbulkan ihtimal tidak dapat dijadikan hujjah. Pemahaman tersebut juga dibangun atas landasan kaidah: لا ينسب لساكت قول “Sebuah perkataan tidak dapat dinisbatkan kepada seseorang yang diam”

Beda halnya dengan taqrir (diamnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat melihat sebuah amalan). Taqrir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi hujjah akan kebolehan sebuah amalan bukan karena diamnya (saja) namun karena diamnya tersebut diikuti dengan qarinah (petunjuk) bahwa ‘Rasulullah tidak akan diam dalam kemungkaran’. Akhirnya taqrir yang disertai qorinah tersebut menghasilkan kebolehan sebuah amalan yang dilakukan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diketahui beliau namun tidak beliau ingkari. Wallahu a’lam bishowab.

*Mahasiswa Syariah Islamiyah Universitas Al Azhar Kairo

 

 

 

 

 

 

The post Segala yang Tidak Dikerjakan Rasulullah Haram? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
145022
Hati-Hati Bersembunyi di Balik Toleransi http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/06/24/144601/hati-hati-bersembunyi-di-balik-toleransi.html Sun, 24 Jun 2018 03:07:18 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144601

Umat Islam seyogyanya lebih berhati-hati dalam memahami toleransi dan rahmatan lil-‘aalamiin.

The post Hati-Hati Bersembunyi di Balik Toleransi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

TOLERANSI yang dinisbahkan pada ajaran dan contoh konkret nabi seringkali disalahpahami. Dengan menggunakan bingkai “rahmatan lil-‘aalamiin” –oleh sebagian umat-, Islam disebut agama yang sangat toleran, damai dan penuh cinta. Sehingga, unsur-unsur lain yang mengandung ‘kekerasan’ seperti jihad qital dan yang semacamnya cendrung dipandang sebelah mata.

Pandangan demikan selalu mengedepankan cinta daripada murka; mengedepankan perdamaian daripada pertikaian; menonjolkan Islam yang sejuk daripadi Islam yang suka mengutuk; menampakkan Islam yang toleran daripada Islam yang intoleran.

Kisah nabi yang pulang dari Thaif ditawari Malaikat untuk menghancurkan penduduknya akibat perlakuan buruk mereka kepada nabi yang kemudian ditolak dengan halus oleh beliau bahkan menyertakan doa hidayah untuk mereka, seringkali diangkat menjadi dasar kelompok ini. Demikian kisah perilaku nabi yang memilih memaafkan dan perdamaian dalam Fathul Makkah juga dijadikan alasan.

Sepintas, pandangan ini begitu indah dan memukau, utamanya di zaman digital seperti sekarang ini dimana perdamaian menjadi cita-cita kebanyakan orang di dunia yang begitu mengglobal dan pluralistik.

Baca: Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi

Hanya saja, bila ditilik dari “sirah nabawiyah” (sejarah hidup nabi Muhammad), pandangan semacam itu akan terlihat jelas rapuhnya. Analisis berikut –berdasarkan sejarah nabi Muhammad- akan membongkar titik kerapuhannya.

Pertama, nabi Muhammad adalah nabi yang rahmatan lil-‘aalamiin, meski demikian dalam sejarahnya sekitar 80 lebih jihad fisik digulirkan pada masa beliau. Perang-perang besar seperti Badar, Uhud, Ahzab, Mu’tah dan Tabuk adalah sebagai bukti bahwa kekerasan –asal sesuai dengan syarat dan ketentuan syariat- sama sekali tidak keluar dari bingkai rahmatan lil-‘alamin dan bukan berarti tak toleran.

Kedua, perseteruan antara haq dan batil adalah bagian dari sunnatullah. Maka, orang yang mengambil sisi rahmat saja dalam berislam dan menafikan ajaran jihad dalam medan perang sama saja menafikan sunnatullah yang sudah tetap tersebut.

Bila atas nama toleransi dan “rahmatan lil-‘alamin” kemudian nabi mengurungkan pertempuran Badar dan pertempuran-pertempuran lain, maka umat Islam bisa habis di tangan para musuh.

Ketiga,  ketika nabi dan umat Islam memiliki kekuatan mandiri –saat di Madinah- ada perbedaan mencolok dengan yang terjadi saat di Makkah. Ketika pasukan muslim kuat, beliau sama sekali tidak mau menerima tawaran bantuan orang kafir. Saat ada wanita muslimah dilecehkan di pasar oleh salah seorang Yahudi Bani Qainuqa hingga terjadi saling bunuh, nabi bertindak tegas dan memerangi Bani Qainuqa yang menyalahi Piagam Madinah. Pasca perang Khandaq, nabi pernah menyatakan kepada para sahabat, “Sekarang kita yang akan menyerang mereka!”

Pertanyaannya, apakan sikap nabi yang demikian itu disebut tidak toleran dan tak mencerminkan “rahmatan lil-‘aalamiin”? Tentu saja tidak. Perdamaian dan rahmat adalah bagian dari ruh Islam, namun pada kondisi tertentu untuk menjaganya diperlukan tindakan-tindakan tegas untuk menjaganya melalui bentrok fisik.

Keempat, toleransi dan rahmat bukan berarti mengaburkan nilai Islam di hadapan agama-agama yang lain. Bisa diteliti, sepanjang hidup nabi, isinya adalah mendakwahkan kebenaran Islam. Surat-surat yang dikirim pada tahun ketujuh kepada para raja dan penguasa di penjuru dunia, sebagai bukti bahwa kebenaran Islam tetap disuarakan. Tidak ada rendah diri, tak ada kecil hati atau minder dengan agama-agama lainnya. Bendera Islam tetap ditegakkan.

Baca: Akhlak Umar dalam Toleransi Beragama

Kelima, nabi dalam menerapkan Islam itu selalu utuh, komprehensif dan tidak sepotong-sepotong. Tidak melulu diambil sisi lembut, namun saat sisi tegas diperlukan maka juga harus diambil. Maka ketika Mutsannah bin Haritsah –saat masih kafir- yang ingin membantu Rasulullah dengan kepentingan parsial duniawi, maka nabi berkomentar, “Sesungguhnya agama Allah azza wajalla  tidak akan ditolong oleh-Nya, melainkan bagi orang yang memperhatikan seluruh aspeknya.”

Dengan demikian, pemahaman mengenai Islam –misalnya toleransi dan rahmatan lil-‘aalamiin– tidak bisa dipahami sepotong-sepotong tanpa memperhatikan kondisi dan keadaan yang sedang berlangsung. Jika, umt sedang berjuang di medan tempur, kemudian teriak toleransi dan perdamaian, maka itu tidak relevan.

Kasus terkini misalnya, mengedepankan toleransi dengan melakukan diplomasi dengan Yahudi di tengah penderitaan yang dialami rakyat Palestina yang dijajah, maka toleransi semacam ini bukan pada tempatnya dan bertentangan dengan toleransi dan rahmatan lil-‘aalamiin.

Oleh karena itu, umat Islam seyogyanya lebih berhati-hati dalam memahami toleransi dan rahmatan lil-‘aalamiin. Dengan memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah secara tepat berikut memperhatikan secara saksama petunjuk nabi dalam sirahnya, besar kemungkinan tidak terjebak dalam baju toleransi palsu yang justru menguntungkan pihak-pihak yang benci dan memusuhi Islam.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Hati-Hati Bersembunyi di Balik Toleransi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144601
Jaminanan Keamanan Beragama pada Era Umar dan Shalahuddin http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/05/18/142666/jaminanan-keamanan-beragama-pada-era-umar-dan-shalahuddin.html Fri, 18 May 2018 07:30:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=142666

Tak seperti Pasukan Salib saat memasuki Baitul Maqdis 1099 M melakukan pembantaian, Shalahuddin Al Ayyubi justru memberi kebebasan dan jaminan keamanan

The post Jaminanan Keamanan Beragama pada Era Umar dan Shalahuddin appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DUA figur agung ini menempati posisi sangat penting dalam memori umat Islam. Kebesarannya bukan hanya diakui internal muslim, bahkan umat lain yang obyektif pun mengakuinya.

Dua sisi kepahlawanan yang begitu melekat dalam benak umat dari dua sosok ini adalah keberhasilan dalam pembebasan Baitul Maqdis dan toleransi yang begitu tinggi sehingga keamanaan beragama umat lain terjamin. Tulisan ini akan berfokus pada jaminan keamanan beragama di era Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Era Umar bin Khattab

Pada tahun 15 H / 636 M, disaksikan oleh Khalid bin Walid, Amru bin Ash, Abdurrahman bin ‘Auf dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhum, perjanjian agung yang diinisiasi oleh Umar (w. 644 M) di Bumi Baitul Maqdis menorehkan sejarah baru bagi kerukunan umat berama. Pasalnya, pada momentum sangat bersejarah ini, Khalifah Kedua ini membuat perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Elia.

Bagi yang memperhatikan dan menelaah secara saksama kandungan perjanjian ini, maka tidak akan terbantahkan bahwa di dalamnya mengandung jaminan keamanan bagi pemeluk agama.

Perjanjian ini berisi jaminan keamanan bagi penduduk Elia. Keamanan menyangkut jiwa, harta, gereja, salib, orang lemah, orang merdeka dan semua agama. Gerja dilindungi. Tidak akan dirusak, dikurangi bahkan dipindahkan. Termasuk salib dan harta mereka juga dilindungi.

Berikut ini di antara paragraf penting yang termaktub dalam perjajian tersebut, “Bismillah al-Rahman al-Rahim. Ini jaminan keamanan yang diberikan hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Elia. Umar menjamin keamanan hagi seluruh jiwa, harta, gereja, salib, orang lemah, orang merdeka, dan semua agama yang ada. Gcreja-gcrcja mereka tidak akan dihuni atau dirusak, dikurangi atau dipindahkan. Demikian pula dengan salib dan harta mereka. Mereka tidak akan dibenci karena agama.” (Qasim A. Ibrahim, 2014:145, 146)

Baca: Toleransi Umar

Melalui perjanjian ini, Umar Al-Faruq menunjukkan kesejatian Islam ketika memimpin dunia. Saat berkuasa, ternyata Islam mampu membangun iklim yang sejuk dan nuansa perdamaian bagi para pemeluk agama. Bahkan, sebelum perjanjian Elia pun, saat baru sampai di Baitul Maqdis, toleransinya kepada umat lain sudah tercermin jelas.

Ketika ayah Hafshah ini memasuki kawasan Baitul Maqdis, Palestina, beliau sempat masuk ke Gereja Al-Qiyamah (Holy Sepulchre). Bahkan sempat duduk di halamannya. Pada saat yang bersamaan, tibalah waktu shalat.

Umar pun berkata, “Aku hendak melaksanakan shalat.” Uskup Agung (Yerusalem Sophronius) pun menawarkan kepadanya untuk mendirikan shalat di Gereja ini, namun tawaran tersebut ditolak agar tak muncul anggapan bahwa gereja tersebut milik Muslim sehingga kelak bisa menimbulkan klaim dan membangun masjid secara paksa (Khudhari, 1982: 102).

Karen Amstrong dalam buku “Jerusalem: One City, Three Faiths” (2011:228) mengakui betapa besarnya toleransi Umar kepada pemeluk agama lain. Penulis terkenal Inggris ini mencatat: “He presided over the most peaceful and bloodless conquest that the city had yet seen in its long and often tragic history.”

Intinya, khalifah pengganti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ini memimpin penaklukan yang paling damai dan tanpa darah yang pernah dilihat kota ini dalam sejarahnya yang panjang dan sering tragis.

Baca: Akhlak Umar dalam Toleransi Beragama

Tak hanya itu, saat orang Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan, perusakan harta benda, pembakaran simbol agama, pengusiran atau pengambilalihan. Bahkan tidak ada upaya untuk memaksa penduduk untuk memeluk agama Islam

Era Shalahuddin Al-Ayyubi

Tak berbeda dengan Umar radhiyallahu ‘anhu jaminan keamanan Shalahuddin Al-Ayyubi (w. 1193) kepada pemeluk agama lain tidak perlu diragukan. Dalam catatan sejarah, di bawah pemerintahan beliau, rakyat hidup aman dan sejahtera. Menariknya, rombongan Kristen dibolehkan berkunjung ke Baitul Maqdis dan semakin hari jumlahnya makin banyak. Ketika Richard khawatir Shalahuddin marah, akhirnya ia memintanya untuk melarang peziarah yang tidak mendapat izin resmi atau rekomendasi dari Richard. Apa jawaban Shaladuddin? Pahlawan muslim agung kelahiran Tikrit ini menjawab dalam suratnya, “Mereka sudah datang jauh-jauh untuk berziarah ke tempat suci ini. Jadi tidak mungkin bagiku untuk menghalang-halangi mereka.” (Qasim A. Ibrahim, 2014 : 622)

Selain itu, yang tidak kalah menarik, Muhammad Ash-Shayim dalam buku “Shalahuddin Al-Ayyubi Sang Pejuang Islam”  (2006:51, 52) juga mencatat dengan baik bagaimana toleransi Shalahuddin kepada agama lain. Tidak seperti pasukan Salib yang ketika memasuki Baitul Maqdis 1099 M melakukan berbagai pembantaian, justru Shalahuddin memberi kebebasan dan jaminan keamanan dan sama sekali tidak menyimpan dendam. Beliau menunjukkan simpati, bersikap lemah lembut dan memberi kebebasan kepada pemeluk Nashrani untuk menjalankan ibadah, membebaskan panglima perang Salib dan memberikan waktu 40 hari untuk pergi dari sana.

Karen Amstrong (2011:299) juga mencatat suasana aman ketika Shalahuddin menguasai daerah Ascalon (Asqolan) pada tahun 1187. Penaklukan yang dilakukan oleh Shalahuddin sangat indah. Yerusalem pun menjadi tempat yang aman bagi pemeluk Kristen dan Yahudi. Maka tidak mengherangkan bila tokoh sekaliber Shalahuddin ini dihormati kawan maupun lawan. Karena di dalam jiwa terspimpan akhlak luhur yang menjamin keamanan pemeluk agama lain.

Akhirnya, pembahasan ini dirasa penting di tengah kondisi umat Islam Indonesia yang sedang dilanda teror bom bunuh diri. Dari keduanya umat Islam secara khusus, atau umat lain pada umumnya bisa mengambil hikmah dari kedua tokoh muslim kenamaan ini bagaimana toleransi Islam tercermin dengan sangat menawan ketika memegang kendali pimpinan atas umat lain.

Mereka yang berada di bawah nauangan kekuasaan Islam, merasakan dengan sangat riil keindahan toleransi beragama dalam Islam. Bukan sekadar kata-kata indah, tapi sudah menjadi fakta sejarah.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Jaminanan Keamanan Beragama pada Era Umar dan Shalahuddin appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
142666
FPI Renovasi Rumah Janda Non-Muslim di Sumut http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/05/08/141907/fpi-renovasi-rumah-janda-non-muslim-di-sumut.html Tue, 08 May 2018 07:35:13 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=141907

Warga pun sangat mengapresiasi keputusan FPI Sumut yang tidak membeda-bedakan agama dalam program sosial dan kemanusiaannya.

The post FPI Renovasi Rumah Janda Non-Muslim di Sumut appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com– Susanah br. Tarigan (47 tahun) yang lebih akrab dipanggil Bik Sannah, janda warga Desa Selandi, Kecamatan Payong, Karo, Sumatera Utara, tak henti-hentinya menitikan air mata.

Bukan tanpa sebab, pasalnya rumah yang ia tinggali bersama 4 orang anak-anaknya yang masih kecil, direvonasi oleh Tim Bedah Rumah Front Pembela Islam (FPI) Sumut.

“Awalnya saya tidak percaya, saat bapak-bapak dari FPI berkunjung ke rumah saya dan meminta izin kepada saya agar merenovasi rumah. Karena saya, kan, beragama Kristen, tapi saya iyakan saja agar mereka tidak merasa tersinggung,” jelas Bik Sannah dengan nada haru kutip laman resmi sayap FPI Hilal Merah Indonesia, Senin (07/05/2018).

Namun seiring saat semakin banyaknya tetangga dan warga yang mengucapkan selamat kepadanya, berangsur Bik Sannah mulai percaya. Terlebih pada Jumat (04/05/2018) rombongan laskar FPI Sumut datang dan mulai membongkar rumahnya untuk direnovasi.

Menurut warga, Bik Sannah yang sehari-harinya menafkahi dan memenuhi kebutuhan dirinya dan keempat orang anaknya dengan bekerja menjadi buruh panen di ladang orang, dengan gaji Rp 40 ribu per hari itu, memang layak menerima program tersebut.

Karena selain kehidupannya yang sangat memprihatinkan, bantuan tersebut akan memberikan semangat baru untuk keempat anaknya.

Anggota FPI Sumatera Utara merenovasi rumah seorang janda Kristen di Karo, Sumut. [Foto: hilalmerahindonesia.org]

Warga pun sangat mengapresiasi keputusan FPI Sumut di bawah kepemimpinan Sayed Hud Alatas yang tidak membeda-bedakan agama dalam program sosial dan kemanusiaannya.

Di tempat terpisah, Sayed Hud Alatas, membenarkan bahwa pilihan untuk merenovasi rumah Bik Sannah murni atas nama kemanusiaan dan tidak ada maksud dan niat lain.

“Tidak ada niatan lain. Ini benar-benar atas nama kemanusiaan. Ini sudah menjadi takdir beliau,” jelasnya.

“Awalnya kami mencanangkan renovasi tersebut akan dikerjakan setelah Ramadhan (bulan depan) mengingat pembiayaan kita yang sudah menipis. Tapi Allah berkehendak lain. Rezeki tidak bisa ditahan.

Di luar logika kami, setelah desas-desus akan direnovasinya rumah Bik Sannah akan direnovasi FPI sampai ke telinga petinggi-petinggi kepolisian. Ternyata kepolisian setempat, bahkan Polda Sumut merespons niatan kami ini, dengan mengutus perwakilannya untuk mengucapkan terima kasih atas program keumatan di wilayah kerja mereka,” tuturnya.

Polda Sumut meminta kepada FPI Sumut untuk tidak menolak bantuan berupa material yang untuk perenovasi rumah Bik Sannah.

“Atas adanya dukungan inilah, maka kami langsung mulai membongkar dan akan merenovasinya sekarang,” tambah Sayed Hud Alatas.

Sayed Hud Alatas juga menerangkan, bantuan yang disiapkan Polda Sumut lantas diteruskan ke Polres Tanah Karo untuk diserahkan kepada FPI Sumut berupa material bangunan.

Ketua DPD FPI Sumut tersebut juga berharap, agar hal ini nantinya dapat diteruskan menjadi kerja sama yang baik antara Polda Sumut dan FPI Sumut ke depannya di wilayah-wilayah Sumatera Utara. Di luar program bedah rumah FPI Sumut yang sudah berjalan sebelumnya.

Masyarakat Kutambaru terkhusus Desa Selandi Kecamatan, sangat antusias dengan keberadaan FPI.

Karena sejak pertama kali terjadinya erupsi Gunung Sinabung yang lalu, FPI langsung turun dan mondok di lokasi terdampak erupsi. Serta banyak memberikan bantuan berupa sembako, mesin air, dan kebutuhan pokok masyarakat lainnya yang sangat dibutuhkan.

Dan kini, dampak program bedah rumah FPI disebut mampu mengetuk hati warga sekitar untuk ikut saling berbagi kepada warga yang membutuhkan.

Sebagaimana yang disampaikan beberapa warga yang sempat diwawancarai, umumnya mereka sangat merasa bersalah selama ini, karena percaya begitu saja tentang isu-isu yang mengatakan FPI itu keras, radikal, intoleran, dan lainnya.

Dikatakan, selama hampir 3 bulan ini FPI Sumut telah bersosialisasi di Tanah Karo, nyatanya FPI telah dianggap sangat bersahabat, menjunjung rasa persaudaraan, dan mempunyai toleransi yang tinggi, tanpa membeda-bedakan kultur dan ras dalam kehidupan bermasyarakat di tengah mereka.*

The post FPI Renovasi Rumah Janda Non-Muslim di Sumut appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
141907
“Tafsir” Sains http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/04/05/139752/tafsir-sains.html Thu, 05 Apr 2018 08:30:19 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139752

Di dalam dunia tradisi Islam, diskusi sains dan agama serta cara melihat alam sudah pada tingkat metafisika.

The post “Tafsir” Sains appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

BERBICARA sains dan agama, tampaknya sudah tidak relevan lagi membuat garis demarkasi dikotomis atau dualis. Kini, banyak ilmuan meningkatkan diskusinya sampai pada tahap upaya bagaimana penyatuan antara sains dan agama. Gagasan itu popular dengan istilah ‘integrasi’.

Sejak lima belasan tahun terakhir di dalam beberapa perguruan tinggi Islam Negeri (UIN) berkembang diskusi integrasi ilmu, dengan gaya dan modelnya sendiri. Jadi, diskusinya masih relatif baru, padahal dalam tradisi Islam hal itu telah benar-benar mapan ribuan tahun.

Ternyata kemungkinan karena inspirasinya berasal dari ilmuan Barat modern yang pro integrasi ilmu. Antara lain yang dirujuk; Holmes Rolston, Ian G. Barbour, dan lain-lain.

Holmes mengatakan “antara teori dalam sains dan teologi dalam agama lebih banyak memiliki kesamaan dari pada perbedaannya” (Holmes Rolston, Ilmu dan Agama Sebuah Survey Kritis, hal.1).

Baca: Indonesia Siap Sumbang dalam Sains dan Teknologi di Dunia Islam

Sementara Barbour percaya bahwa Tuhan memiliki peranan dalam perubahan-perubahan alam semesta (Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama, hal. ).

Dua ilmuan tersebut memiliki dua latar; Barat dan Kristen. Holmes sendiri pernah menjadi pendeta.

Sudah pasti berangkat dari pengalaman itu. Pertanyaannya, bagaimana perguruan tinggi Islam mengaplikasikan model integrasi itu ke dalam dunia Islam.

Ternyata persoalannya berada dalam epistemologinya yang berpengaruh ke dalam pendekatan studi. Gagasannya masih berkisar pada “bagaimana”. Yakni bagaimana Islam ‘berdialog’ dengan alam. Apakah dialog itu bermaksud Muslim melihat alam dengan cara dan pengalaman Barat? Ini patut dipertanyakan.

Di dalam dunia tradisi Islam, diskusi sains dan agama serta cara melihat alam sudah pada tingkat metafisika. Hubungan sains dan agama bukan wacana atau isu, tetapi telah menjadi keyakinan epistemologis yang tsabit setiap Mu’min. Karena itu, kosmologi Islam itu sangat metafisis. Harus diakui, sains modern masih berjibaku pada alam fenomena (alam fisik/hissiyyah).

Prof. Wan Mohd Nor mengatakan:

“Menarik untuk diperhatikan bahwa manusia modern sekarang lebih terfokus pada alam yang terakhir (alam fenomenal) dan telah membelanjakan banyak uang untuk menguak angkasa raya dengan harapan bisa mengetahui asal-mula dan tujuan diciptakannya manusia serta alam yang ditempatinya” (Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, hal. 104).

Baca: Dengan Islamisasi Sains Diharapkan Orang Indonesia Makin Adil dan Beradab

Islam memadang alam fenomenal itu dengan cara yang metafisik. Ia harus dilihat dengan parameter ketuhanan. Hal ini berlaku dalam tradisi para ulama, khususnya para sufi.

Ibnu Athoillah al-Sakandari dalam untaian kata hikmahnya mengatakan:

أنت مع الأكوان مالم تشهد المكون فإذا شهدته كانت الأكوان معك

“Engkau terikat oleh alam (fenomenal) selama engkau belum bisa ‘melihat’ penciptanya. Apabila kamu mampu ‘melihat’ penciptanya, maka alam ini akan tunduk kepadamu.”

Maksudnya, untuk mengetahui rahasia alam ini, kita perlu mengenal Allah Sang Pencipta. Hal ini telah menjadi ‘rumus’ pada ilmuan Muslim terdahulu. Bahwa meneliti alam sudah pasti dengan menggunakan pendekatan dan ‘kaca mata’ Islam. Alam bukan sekedar benda mati, benda fisik.

Namun ia adalah tanda kekuasaannya. Atau ‘ayat’ Allah Subhanahu Wata’ala.

Dengan cara seperti itu, imam al-Ghazali mengatakan orang yang telah memahami hikmah-hikmah rahasia di balik alam ini akan menjadi menancap keimanannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Termasuklah dalam meneliti jiwa manusia (psikologi).

Baca: Din Syamsuddin Nilai Pentingnya Islamisasi Sains

Ia mengatakan: “Jika kamu melihat jiwa dirimu makan kamu akan menemukan keajaiban dan tanda-tanda kekuasan-Nya” (Imam al-Ghazali, Al-Hikmah fi Makhluqatillah, hal. 3 dan 52).

Cara melihat itu yang oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai cara pandang Islam (Islamic Worldview). Syed Naquib al-Attas membuat qiyas menarik tentang alam ini.

Menurutnya, alam ini merupakan kitab yang berisi ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala. Jika al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat yang disebut juga dengan tanda, maka seluruh ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala (alam) juga merupakan kitab yang berisi tanda-tanda yang bertujuan menunjukkan bahwa Tuhan itu ada (Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, hal. 105).

Dunia ini merupakan bentuk lain dari wahyu Allah Subhanahu Wata’ala, seperti al-Qur’an. Perbedaannya terletak pada keadaan bahwa alam ini merupakan sesuatu yang diciptakan. Ia tampil dalam pelbagai bentuk yang berbeda-beda, yang berfungsi sebagai simbol wujud yang secara kontinu diartikulasikan melalui Kalam Tuhan yang kreatif (Syed M. Naquib al-Attas, Islam and the Philosophy of Science, hal. 27).

Baca: Desekularisasi Ilmu Pengetahuan dan Sains [1]

Alam merupakan ayat (tanda kekuasaan-Nya), yang berguna bagi manusia untuk mengenal-Nya. Jadi, perlakuan alam dalam sains Islam seperti seorang yang membaca al-Qur’an. Dunia memiliki banyak tanda-tanda yang samar dan mungkin bagi sebagian orang tidak menarik, khususnya bagi orang yang tidak memiliki intelektualitas dan disiplin spiritual. Bagi mereka, dunia ini adalah benda fisik, mati dan bukan bagian dari ‘wahyu’/ayat Allah.

Sementara bagi orang yang memiliki intelektualitas ditambah pengalaman spiritual akan mampu melampaui dunia fenomena itu sampai ia menyaksikan (syuhud) atau merasakan (dzauq) rahasia di balik alam itu.

Selanjutnya, Syed al-Attas menerangkan, membaca alam itu ada adabnya. Sehingga pengkajian dan pemanfaatan alam yang diiringi kesadaran spiritual yang tinggi akan menciptakan sikap bertanggung jawab.

Dengan demikian, metodologi sains Islam dapat disamakan dengan ta’wil dalam ilmu tafsir al-Qur’an. Dengan mengasumsikan bahwa alam syahadah/alam thabi’ (alam fisik), merupakan kitab Kauniyah Allah. Dalam alam thabi’ ini terdapat banyak sekali ayat-ayat (tanda kekuasaan ) Allah.

Memahami alam semesta ini dengan mentakwil sebagaimana mentakwil kitab al-Quran. Takwil terhadap alam semesta ini sebagaimana berlaku dalam al-Qur’an harus berdasarkan tafsir. Susunan materi dalam alam semesta juga dianalogikan dengan susunan dan sistem kata dalam al-Quran.

Baca: Islam Tak Mengenal Pemisahan Ilmu Agama dengan Ilmu Umum

Dengan demikian, maka dapat dihasilkan suatu konsep-konsep sains. Dalam proses takwil (penyelidikan sains), diperlukan proses tafakkur (sebagaimana dijelaskan oleh imam al-Ghazali di atas).

Tafakkur merupakan penelitian (research). Dari tafakkur dengan proses mujahadah nafsu (memerangi hawa nafsu), maka seorang saintis akan mendapatkan apa yang disebut discovery.
Sehingga dengan perspektif seperti ini, maka seorang saintis Muslim sama dengan ahli tafsir (ta’wil).

Jika ahli tafsir bekerja menggali, menemukan, dan menampakkan makna yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an, maka seorang saintis alam, menggali, menemukan, dan menampakkan hakikat tersembunyi dari suatu realitas alam.

Dijelaskan oleh imam al-Ghazali bahwa jika seorang bertafakkur terhadap alam semesta, maka akan tersingkap banyak rahasia, yang ia gambarkan bagaikan suatu bangunan rumah yang di dalamnya tersedia perabotan yang diperlukan. Tafakkur tidak lain dengan cara melakukan riset.

Dengan demikian, terungkap bahwa seorang researcher (peneliti/periset) sains alam haruslah orang yang memiliki adab kepada diri dan Tuhannya. Sebagaimana ulama-ulama tafsir dahulu yang juga seorang yang mujahidu al-nafs (memerangi hawa nafsu) melalui tashfiyatul qalb (penjernihan hati). Karena posisi pandangan hidup (worldview) itu penting dalam soal ini, maka yang diperlukan adalah Islamisasi sebagaimana pandangan Syed M Naquib al-Attas.*

Penulis adalah dosen IAI Darullughah Wadda’wah Bangil

The post “Tafsir” Sains appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
139752
Perpustakaan Sebagai Jendela Peradaban http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/03/12/137690/perpustakaan-sebagai-jendela-peradaban.html Mon, 12 Mar 2018 00:58:34 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=137690

Perpustakaan al-Shahib bin `Abbād, abad 4 H berisi lebih dari buku-buku yang ada di semua negara Eropa

The post Perpustakaan Sebagai Jendela Peradaban appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

DR. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam bukunya yang berjudul “Peradaban Islam Makna dan Strategi Pembangunannya” (2015: 10) menyitir statemen Sosiolog Muslim Agung Ibnu Khaldun, bahwa subtansi peradaban adalah ilmu pengetahuan. Dalam sejarah keemasan peradaban umat Islam, terbukti bahwa mereka memberikan penghormatan sangat besar terhadap karya-karya ilmu pengetahuan (Nakosteen, 1996: 87)

Salah satu jendela ilmu pengetahuan adalah buku yang kemudian berkembang menjadi perpustakaan. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa perpustakaan adalah jendela peradaban. Perpustakaan-perpustakaan besar dalam sejarah umat Islam sebagai bukti paling riil bahwa peradaban Islam pernah eksis dalam dinamika peradaban dunia. Melalui perpustakaan, peradaban Islam bukan saja menjadi soko guru peradaban dunia kala itu, tapi juga menjadi jendela bagi bangsa-bangsa lain yang menginginkan peradaban tinggi.

Saat itu, ulama-ulama dan ilmuan muslim menaruh penghormatan besar kepada buku. Muhyiddin Ibnu ‘Arabi misalnya dalam “Muhâdharât al-Abrâr wa Musâmarah al-Akhyâr” -sebagaimana dikutip oleh Ahmad Shalaby dalam “History of Muslim Education” (1954: 75)- buku beliau ibaratkan sebagai tamu yang bisa singgah sebentar, tinggal bersama, menjadi bayangan diri, bahkan sebagai anggota badan manusia. Di saat yang lain, beliau mengumpamakan buku sebagai kebun raya, sebagai penyambung lidah bagi orang yang mati dan menjadi juru bicara bagi yang hidup.

Lain halnya dengan Jâhiz. Ilustrasi beliau mengenai buku cukup menarik. Baginya,  buku akan diam selama pembaca membutuhkan kesunyian; akan fasih berbicara jika pembaca butuh wacana; tidak pernah menyela pembaca saat berbicara; saat pembaca kesepian, ia bisa menjadi rekan yang baik; sebagai teman yang tidak pernah mencurangi atau memuji pembaca; sekaligus sebagai teman yang tak membosankan. Maka tidak mengherankan jika, dalam sejarah peradaban umat Islam banyak didirikan perpustakaan yang menghimpun berbagai buku bermutu tinggi.

Baca: Baitul Hikmah dan Peranannya Terhadap Peradaban Islam

Pada masa keemasan Islam, perpustakaan sudah menjadi sebuah keniscayaan, baik di rumah, gedung pemerintahan, di desa, kota, di rumah sakit dan lain sebagainya. Banyaknya perpustakaan bisa dilihat dalam buku “Maadza Qaddama al-Muslimuuna li al-‘Aalam” (2009: I/223-225). Dalam buku ini, Dr. Raghib As-Sirjani menunjukkan beberapa macam perpustakaan sebagai bukti kecintaan umat Islam kala itu terhadap ilmu dan buku.

Paling tidak, ada lima macam perpustakaan kala itu: Pertama, perpustakaan akademi (seperti Baitul Hikmah). Kedua, perpustakaan khusus (seperti: Perpustakaan Khalifah Al-Mustanshir). Ketiga, perpustakaan umum (seperti: Perpustakaan Cordova yang didirikan Khalifah al-Hakam al-Mustanshir pada 350 H/961 M). Kelima, perpustakaan sekolah (seperti: Perpustakaan al-Faadhiliyah di Mesir). Kelima, perpustakaan masjid (seperti: Perpustakaan Al-Azhar dan al-Qairuwan).

Baca: Baitul Hikmah dan Tragedi Tartar [1]

Ketika itu, yang mencintai perpustakaan bukan hanya individu, bahkan apresiasi negara pun begitu tinggi. Khalifah Ma`mun –selaku Khalifah Daulah Abbasiyah- misalnya, memberi imbalan emas bagi para penerjemah buku, (Ibnu Abi Ushaibah, `Uyûnu al-Anbâ`, II/133). Para penulis pada masa itu sangat didukung dan dihargai oleh negara, sehingga produktivitas menulis sedemikian tinggi. Salah satu bukti produktivitas mereka bisa dilihat dari banyaknya perpustakaan.

Di antara contoh perpustakaan besar dalam Islam ialah: Perpustakaan Baghdad (yang jumlahnya sangat banyak, sampai-sampai bisa dibuat jembatan oleh Tartar). Perpustakaan Darul `Ilm Kairo (Setiap bagian berisi 18000 buku) lebih dari tujuh ratus ribu kitab.

Perpustakaan Cordova (berisi setengah juta kitab) Perpustakaan Tripoli (Raghib As-Sirjani,  Kaifa Tushbihu `Âliman). Ada juga perpustakaan koleksi pribadi. Sebagai contoh: Abu al-Fadhl bin al-`Amīd, ketika dia mau pindah dari satu tempat ke tempat lain, ia membutuhkan seratus unta untuk mengangkatnya. Al-Shahib bin `Abbād, menurut penuturan Gustav Lobon dan Will Durent : “Perpustakaan al-Shahib bin `Abbād, pada abad keempat hijriah berisi lebih dari buku-buku yang ada di semua negara Eropa.”

Jika umat Islam menginginkan peradabannya tegak kembali, maka harus dimulai dari ilmu pengetahuan (Hamid, 2015: 88) Salah satu bagian fundamental dari ilmu pengetahuan adalah buku dan perpustakaan. Karenanya, umat mau tidak mau harus membangun tradisi keilmuan kuat dan literasi andal melalui perpustakaan-perpustakaan sebagai jendelan peradabannya yang pernah jaya di masa silam.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Perpustakaan Sebagai Jendela Peradaban appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
137690