Tsaqafah – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 02 Nov 2017 04:49:02 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.3 Ketuhanan yang Maha Esa http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/10/18/125861/ketuhanan-yang-maha-esa.html Wed, 18 Oct 2017 05:57:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125861

Umat Islam Indonesia harus tetap mengawal Sila Pertama dari Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena ia telah menjiwai aqidah mereka yang mengesakan Allah

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

 

PERANAN umat Islam dalam sejarah pembentukan dan perkembangan bangsa dan negara ini sangat besar. Jika boleh dikatakan, kontribusi umat Islam terhadap bangsa dan negara yang bernama Indonesia ini ‘terlalu’ banyak.

Diantara kontribusi itu adalah tentang perumusan falsafah hidup bangsa Indonesia, yang ternyata diawali dengan proses sejarah konseptualisasi Pancasila ditandai sejak awal oleh kemunculan berbagai organisasi pergerakan kebangkitan (Muhammadiyah, NU, Perhimpunan Indonesia, Syarikat Islam, dan yang lainnya). (Lihat, MPR RI, Materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2016), 27).

Namun Pancasila tidak lah konsep yang fleksibel, sebagaimana dimaknai bahkan ditafsirkan secara bebas oleh banyak pihak. Dimana seorang sarjana Kristen semacam Prof. Dr. Drijarkoro, misalnya, menyatkan, “Negara yang berdasarkan Pancasila bukanlah negara agama, tetapi bukan negara profan, sebab dengan Pancasila, kita berdiri di tengah-tengah.” (Lihat, Dr. Adian Husaini, Pancasila Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 1430 H/2009 M), 85). Tentu saja pandangan ini amat keliru dan menyesatkan. Karena Indonesia ini negara yang dasarnya adalah agama, bukan sekularisme. Itu sebabnya Sila Pertama berbunyi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Berarti dasar negara Indonesia adalah ‘ketuhanan’, bukan tanpa Tuhan alias sekular.

Ketuhanan yang Maha Esa, Ya Tauhid!

Di dalam Sila Pertama disebutkan bunyinya, ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Apakah maksudnya? Apa maknanya? Apa hakikatnya?

Semua tokoh Muslim dapat meyakini bahwa Sila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ mengandung makna Tauhid, bukan profan, sekular alias konsep tanpa Tuhan. Ini pasti keliru besar dan mengarah kepada penghancuran falsafah bangsa, ideologi bangsa. Karena makna dari Sila Pertama itu adalah ‘Tauhid’: pengesaan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala. Ini yang sampai saat ini diyakini oleh seluruh umat Islam. Sebagaimana yang dipahami oleh para tokoh para founding fathers bangsa ini. Karena sejak tahun 1945, tokoh Islam tetap bertahan pada posisi semula, bahwa konsep “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah konsep Ketuhanan yang memiliki makna konsep Tauhid, yaitu konsep Ketuhanan dalam Islam yang mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, ditaati, dan dipuja.

Ketuhanan Yang Maha Esa tidak dapat dimaknai dengan pemahaman, bahwa “Tuhan tidak ada, karena Tuhan hanya ilusi pikiran manusia”. Karena itu, konsep Tauhid tidak mungkin dapat hidup damai dengan ateisme. (Dr. Adian Husaini, Pancasila, 137).

Nah, berkaitan dengan hal ini, penting kiranya memahami kembali apa yang disampaikan oleh Rais Aam NU, KH. Achmad Siddiq dalam satu makalahnya yang bertajuk“Hubungan Agama dan Pancasila”. Beliau menulis,

“Kata “Yang Maha Esa” pada sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) merupakan imbangan tujuh kata yang dihapus dari sila pertama menurut rumusan semula. Pergantian ini dapat diterima denan pengertian bahwa kata “Yang Maha Esa” merupakan penegasan dari sila Ketuhanan, sehingga rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu mencerminkan pengertian Tauhid (monoteisme murni) menurut akidah Islamiyah (surah al-Ikhlas). Kalau para pemeluk agama lain dapat menerimanya, maka kita bersyukur dan berdoa.” (Dalam buku Sudjangi (Penyunting),Kajian Agama dan Masyarakat, 15 Tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Agama 1975-1990 (Jakarta: Balitbang Departemen Agama, 1991-1992), 262, dalam Dr. Adian Husaini, Pancasila, 137-138).

Keyakinan inilah yang sampai hari ini – Insya Allah sampai generasi Muslim di negeri ini – sudah “berurat-berakar” dalam nadi umat Islam. Bahwa Sila Pertama itu konsepnya adalah Tauhid, bahwa Allah itu itu Satu (Wahid) sekaligus Esa (Ahad). Maka, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa pasti Tauhid. Tidak ada tafsiran yang lebih kuat dari ini. Maka umat Islam wajib meyakininya dan memperjuangkannya. Karena jika ia tak tegak di negeri ini maka aqidah umat ini berada dalam ancaman dan marabahaya.

Toleransi Dibalas dengan Tamparan

Kalimat ‘Toleransi Dibalas dengan Tamparan’ adalah pernyataan pemikir dan ulama besar Nusantara, Buya Hamka, dalam bukunya Dari Hati ke Hati. Karena pentingnya, maka penulis kutipkan seluruhnya bagi para pembaca. Hal ini agar jadi renungan buat kita semua dan generasi mendatang. Penulis kitab tafsir fenomenal, Tafsir Al-Azhar ini menulis dengan tegas dan berani sebagai berikut:

“Kita kaum Muslimin sebagai golongan terbesar jumlahnya di negeri ini telah menerima dengan puas dasar negara Pancasila. Sebab, selalu dijelaskan bahwa sumber sila yang empat ialah sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kita pun bersenang hati karena merasa bahwa dengan dasar pertama itu kehidupan agama kita dalam negeri ini telah terjamin. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah i’tikad dan kepercayaan kita. Pegangan kita, hidup dan mati, dunia dan akhirat. Yang Maha Esa menurut kepercayaan kita ialah tidak bersekutu dengan yang lain, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak lagi dalam satu dan satu dalam tiga, sekali lagi menurut kepercayaan kita. Tidak Tuhan yang bingung karena melihat dosa Adam memakan buah yang terlarang, bingung di antara sifat Kasih-Nya dan sifat Adil-Nya sehingga beribu tahun lamanya Dia kebingungan. Akhirnya mendapat keputusan, yaitu datang sendiri ke dunia, menjelma ke dalam tubuh perempuan suci yang bernama Maryam, lalu lahir ke dunia menjadi anak. Tegasnya, Bapak itu menjelma menjadi anak.

Tuhan yang bingung beribu tahun, lalu mengambil keputusan sangat ganjil, yaitu bapak lahir ke dunia menjelma menjadi anak, lalu Tuhan itu karena kasihnya kepada manusia memberikan dirinya mati di atas kayu palang (salib). Kepercayaan demikian, menurut kita kaum Muslimin adalah kepercayaan yang membingungkan. Untuk memercayai kepercayaan itu orang wajib terlebih dahulu membekukan pemikirannya, baru bisa menerimanya.

Alhamdulillah, kita tidak menganut kepercayaan demikian. Bagi kita adalah ucapan laa ilaaha illallaah, Tidak ada Tuhan melainkan Allah. Esa Dia pada sifat-Nya, Zat-Nya, dan pada perbuatan-Nya.*>>> (BERSAMBUNG) Pertama | Kedua | Ketiga

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Islam dan Tafsir Pancasila: Di Antara Teori Keberagaman http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/10/06/125030/islam-dan-tafsir-pancasila-di-antara-teori-keberagaman.html Fri, 06 Oct 2017 03:39:33 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125030

Pancasila tak dapat ditafsirkan dengan tafsir yang bertentangan dengan nilai

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

“Kami betul-betul memastikan di Jakarta tidak boleh satu pun diterbitkan Perda-Perda syariah. Saya jamin itu nggak boleh ya, ini adalah kota miniaturnya Indonesia…” ~Dajrot Saiful Hidayat, Wakil Gubernur Jakarta, detik.com, 24 Marer 2017 ~

 

oleh: Muhammad Iswardani Chaniago 

 

SUASANA agak menegang, Ki Bagus Hadi Kusumo, tiba-tiba menginterupsi rapat: “Saya berlindung kepada Allah dari syetan yang merusak. Tuan-tuan dengan pendek sudah kerapkali diterangkan di sini, bahwa Islam itu mengandung ideologi negara.  Maka tidak bisa negara dipisah dari Islam, sebab corak Islam negara dan agama itu sudah diterangkan.. Kalau ideologi negara tidak diterima, tidak diterima!..” (Risalah Sidang BPUPKI, Jakarta: Sekretariat Negara, hal 351)

Itulah penggalan sikap Ki Bagus Hadikusumo dalam BPUPKI soal Islam dan negara. Pernyataan itu keluar menanggapi usul bahwa presiden Indonesia harus beragama Islam. Karena usul itu ditentang sejumlah tokoh, terjadilah perdebatan alot. Muncullah pernyataan tawaran sekaligus sindiran pedas dari Ki Bagus.

Demikian kukuhnya para pendiri bangsa (founding fathers) dari kalangan Islam menghendaki agar Indonesia berdiri berdasarkan Islam. Mengapa demikian kukuh? Jawabannya karena dalam Islam tak ada tempat bagi sekularisme, baik itu gaya anglo-saxon yang dianut Amerika Serikat ataupun french republican seperti yang dibanggakan Prancis. Keduanya tidak pernah terdetik di benak pemimpin Islam awal. Bagi mereka Islam adalah agama secara spritual, emosional maupun norma. Bukan dipecah-pecah, Islam spritual, Islam normatif atau Islam emosional. Persis sebagaimana yang digambarkan Ki Bagus.

Tapi kompromi tetap dilakukan. Singkat cerita, muncullah Piagam Jakarta yang kemudian mengalami sedikit perubahan dengan disahkannya UUD 1945 pada 18 Agustus 1945 sebagai konstitusi disertai format Pancasila yang disepakati (Bukan Pancasila Soekarno 1 Juni 1945 seperti yang kerap diaku-aku kelompok sekuler). Tapi menariknya para pendiri bangsa dari kubu Islam tetap bersemangat agar Islam dijadikan dasar negara di forum Konstituante hasil Pemilu 1955.

Baca: Jangan Pertentangkan Islam dan Pancasila

Apa yang menyebabkan mereka demikian gigih memperjuangkan Islam untuk kali kedua. Apakah mereka tidak menyadari bahwa Indonesia adalah negara majemuk, negara plural, negara beragam? Ataukah para pemimpin Islam itu memiliki hasrat untuk menzalimi agama di luar Islam dengan menetapkan dasar negara adalah Islam?

Pertanyaan sejenis bisa diajukan kepada mereka yang kukuh memperjuangkan syariat dalam lingkup Pancasila. Apakah memperjuangkan klausul dan regulasi islami dalam sebuah sistem nilai Pancasila dapat dikatakan anti keberagaman sebagaimana kerap dituduhkan kelompok sekuler?  

Teori Keberagaman

Di Barat teori kemajemukan juga ramai dibahas dan didebat. Adalah Isiah Berlin, filsuf Eropa, yang membuka kran perdebatan saat menulis Four Essays on Liberty. Teorinya tentang value pluralism memancing sejumlah filsuf menanggapi balik, mengkritik atau mendukung.Pertanyaan penting dalam teori keberagaman Barat menyoal bagaimana menyelesaikan masalah kemajemukan yang mengalami konflik konsepsi satu dengan yang lain terutama di ruang pubkik. Padahal keberagaman adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Sejumlah kubu mengajukan teori.

Pertama, kubu liberalis. Sejumlah sarjana seperti John Rawls dan Will Kymlicka menyadari bahwa dunia kontemporer kini semakin plural dan di luar ekspektasi liberalis klasik dulu, sehingga rawan menyuplai konflik ruang publik. Guna mengatasi potensi konflik yang muncul ke permukaan, Rawls menawarkan gagasan reasonable pluralism (atau juga disebut political liberalism).

Adapun Kymlicka menggagas liberal multiculturalism. Inti gagasan keduanya tak jauh beda. Konflik konsepsi yang bisa muncul di ruang publik karena fakta keberagaman harus di atasi dengan cara liberalisme. Hanya saja Rawls tidak menonjol dibandingkan Kymlicka untuk menyebut solusi liberalisme. Tapi yang jelas, doktrin agama, moral dan filsafat tidak bisa masuk dalam ranah politik konstitusional ala Rawls. Yang ada adalah argumen rasional dan penghormatan terhadap hak individu (basic liberties).

Baca: Habib Rizieq: Membenturkan Pancasila dengan Islam adalah

Kedua, Kubu komunitarian juga tak mau kalah. Meskipun awalnya berkonsentrasi pada urgensi nilai-nilai komunal, pengaruh kuat kelompok pada diri individu yang sekaligus mengkritik liberalisme tradisional yang berkutat pada individu. Toh akhirnya, mereka tak bisa membendung efek gagasan mereka yg berdampak pada social pluralism (keberagaman sosial). Terlebih sejumlah tokoh komunitarian juga menggagas hak komunal yang berakibat pada pemberian ruang bagi kelompok guna mengajawantahkan nilai partikular dalam kelompok mereka secara internal. Jelas ini memberikan pengaruh langsung pada ide pluralisme. Lalu bagaimana jika nilai komunal bertentangan dengan nilai-nilai lain? Di negara liberal, para pengusung komunitarianisme menginsafi hal ini. Muncullah gagasan komunitarian baru (new communitarianism). Bagi pengusungnya, seperti Etzioni, nilai-nikai komunal yang beragam tersebut rentan keluar garis dan berubah menjadi relativisme. Untuk itu dibuatlah kesepakatan agar nilai komunal terkontrol. Dibentuklah universalisme, semacam titik temu antar nilai.

Ketiga, kubu liberal petarung. Kubu liberal yang satu ini diwakili Robert Talisse. Ia memandang keberagaman yang tak terelakkan tidak harus disikapi dengan menghilangkan nilai-nilai yang eksis dalam banyak kelompok. Nilai-nilai tersebut malah harus dibiarkan berkontestasi secara sehat dan argumentatif, sehingga tercipta pertukaran argumen di antara para kontestan. Yang perlu diperhatikan hanyalah ciptaan situasi yang dibuat agar tidak terbentuk suasana penghinaan, paksaan, kebohongan dan lainnya.

Yang agak mirip dengan Talisse adalah John Gray. Ia membayangkan dalam lingkungan yang pluralis nilai yang hidup tidak dimonopoli oleh liberalisme, sedangkan non liberal tersingkir. Liberalisme diposisikan bukan sebagai satu-satunya, melainkan salah satu solusi yang tidak bisa sepenuhnya diklaim universalis dibandingkan solusi yang lain. Saat liberalisme mengklaim dirinya universal, maka liberalisme telah merusak pondasi pluralisme.

Baca: Pluralisme Agama

Para penyokong teori keberagaman, baik itu Isaiah Berlin, John Rawls, Ametai Etzioni, Will Kymlicka, Robert Talisse dan John Gray sepakat bahwa bila terjadi benturan antar nilai di ranah publik, maka harus ada solusi penengah. Mereka hanya berbeda dalam rincian solusinya. John Rawls memilih mengosongkan publik dari doktrin (agama, fiksafat dan moral) dan menggunakan kebijakan yang reasonable. Etzioni menggunakan universalisme. Kymlicka memakai prinsip liberalisme sebagai solusinya. Sedangkan Gray cenderung pada modus vivendi.

Negara berbasis Islam dan Teori Keberagaman

Negara berbasis Islam kerap dituduh anti keberagaman hanya karena nilai yang dipakai adalah Islam dan dipandang tidak memberikan ruang pada nilai lain untuk berkontribusi. Tuduhan itu tidak tepat. Karena bila yang dimaksud oleh para penuduh bahwa negara berbasis Islam tidak memberikan ruang pada nilai lain dalam urusan pokok, maka hal itu tidak hanya berlaku untuk negara berbasis Islam. Tapi juga berlaku untuk negara berbasis non Islam, seperti negara berbasis liberal. John Gray, salah satu filosof politik Barat, telah jauh-jauh hari menyadari hal ini. Ia mengkritik liberalisme yang terlalu universalis di tengah beragamnya nilai.

Sikap liberalisme yang memaksa universalismenya ini bisa diraba pada sejumlah gagasan filsuf liberal kontemporer seperti Rawls dan Kymlicka. Ralws menghendaki agar sebuah regulasi dasar kosong dari pengaruh doktrin-doktrin termasuk agama. Hal yang tak terlalu berbeda dengan Kymlicka. Jejak model seperti ini juga bisa ditemukan pada filsuf komunitarianisme. Lalu yang menjadi masalah adalah mengapa telunjuk tuduhan sektarianisme dan anti keberagaman hanya diarahkan kepada negara berbasis Islam dan nyaris tidak pernah kepada negara berbasis liberal?* >> (BERSAMBUNG

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sofisme dan ‘Rezim Kata-Kata” http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/10/04/124869/sofisme-dan-rezim-kata-kata.html Wed, 04 Oct 2017 03:21:54 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124869

Dalam epistemologi Islam, bukan saja hakikat kebenaran yang diakui tetapi  kemampuan manusia memperolehnya juga turut diakui

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Derajat Fitra

 

IKLIM demokrasi kita saat ini, seperti sedang dikuasai ‘rezim kata-kata’. Melalui media cetak, elektronik ataupun dunia maya, di mana hampir setiap orang berani berbicara mengenai apapun layaknya seorang pakar sehingga banyak di antara kita terkadang bingung menentukan cara menyikapinya, karena apa-apa yang dibicarakan itu seolah-olah itulah realita.

Itulah ciri era pemikiran post-modern. Semua boleh bicara. Karena kebenaran dan kesalahan dianggap tamat. Otoritas sudah dirobohkan. Klaim kebenaran diharamkan. Alat untuk bersuara itu media. Ironinya, masyarakat penikmat media masih banyak yang awam. Jadi, kebenaran menjadi kepalsuan.

Kondisi ini mirip seperti fenomena Sofisme yang muncul dari orang-orang Sofis yang mendahului Sokrates, Plato dan Aristoteles pada abad ke-5 atau 6 SM di Yunani dulu. Di mana masyarakat Athena sedang menikmati demokrasi setelah berhasil bebas dari tirani Imperium Persia.

Sofisme itu dikaitkan dengan orang-orang Sofis yang menguasai seni beragumentasi meyakinkan orang lain bahwa pendapatnya lah yang paling benar.

Para sofis adalah semacam kaum professional yang bergaji tinggi karena menjajakan kepintaran mereka dengan harga mahal untuk membantu orang-orang supaya menang beradu argumentasi di tempat-tempat terbuka.

Baca: Kaum Sofis dan Diskursus Kebenaran (1)

Meski demikian, intelektualitas dan moralitas mereka diragukan, karena sikap kesewenang-wenangan mereka yang selalu meragukan dan mempersoalkan kriteria kebenaran membawa masyarakat pada relativisme moral dan kebenaran sehingga lambat laun berujung pada terurai dan hancurnya masyarakat Kota Athena.

Plato menjuluki mereka sebagai pemikir-pemikir yang amoral, tidak lagi mementingkan baik dan buruk, yang terpenting bagi mereka adalah memenangkan argumen. Bagi mereka hukum adalah kesepatan, bukan ciptaan para dewa bukan pula semacam kesucian, tapi betul-betul kesepakatan, apa yang benar, baik dan adil adalah apa yang dipercaya oleh komunitas. Tidak ada landasan kodratiah.

Ada yang menyebutkan bahwa Sofisme merupakan bentuk postmodernisme di era klasik dan bahwa pemikir-pemikir postmodernisme saat ini menurut analisis Foulcoult dan Derrida, itu tak lain adalah kaum sofis yang muncul diera kita saat ini, Agustinus Wibowo cukup setuju dengan pendapat ini (Komunitas Salihara, Kuliah Sejarah Filsafat Yunani Kuno: Sofisme).

Sejalan dengan adanya fenomena Sofisme, Al-Attas membagi para Sofis ke dalam tiga kelompok.

Pertama, Al-la adriyyah (gnostik), yakni kelompok yang selalu mengatakan saya tidak tahu atau ragu-ragu mengenai keberadaan segala sesuatu.

Kedua, al-indiyyah (yang selalu bersikap subyektif), kelompok ini menerima posibilitas ilmu tetapi menolak objektivitas ilmu pengetahuan dan kebenaran.

Ketiga, al inadiyyah (mereka yang keras kepala), yang menafikan realitas segala sesuatu dan menganggapnya sebagai fantasi dan khayalan semata (Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam S.M.N. Al-Attas. Terjemahan Hamid Fahmy dkk. Bandung: Mizan. 2003. hal. 127).

Baca: Kaum Sofis dan Diskursus Kebenaran (2)

Fenomena Sofisme di Barat (Yunani Kuno) menandakan adanya persoalan ilmu yang sangat mendasar. Persoalan ilmu tersebut secara cermat telah disoroti oleh seorang pemikir besar Muslim abad ini, Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

Attas memfokuskan pada aspek-aspek peradaban Barat yang menjadi sumber permasalahan itu. Watak peradaban Barat diidentifikasi dengan baik oleh al-Attas kedalam lima karakteristik yang saling berhubungan, sebagai berikut (Al-Attas, Islam dan Sekularisme. Terjemahan Khalif Muammar dkk, Bandung: PIMPIN. 2010. hal. 170-176):

  1. Mengandalkan kekuatan akal rasional untuk membimbing manusia dalam kehidupan.
  2. Mengikuti kepercayaan terhadap pandangan dualisme tentang realitas dan kebenaran.
  3. Membenarkan sisi fana kehidupan sebagai realitas yang menjadi proyeksi pandangan hidup sekuler.
  4. Penerimaan terhadap doktrin humanisme (Adnin Armas dan Dinar Dewi Kania dalam Sekularisasi Ilmu; Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani. 2013. hal. 27-48).
  5. Penerimaan terhadap drama dan tragedi yang dianggap sebagai realitas universal kehidupan spiritual, atau transendental, atau kehidupan batin manusia, sehingga drama dan tragedi menjadi unsur nyata bahkan sangat berpengaruh dalam hakikat dan eksistensi.

Kelima elemen perdaban Barat tersebut tidak hanya berdampak pada timbulnya masalah kultural Islam, tapi juga pada konsep ilmu pengetahuan. Sehingga dikatakan bahwa ilmu pengetahuan yang dipahami dan disebarkan oleh peradaban Barat telah disusupi oleh unsur-unsur pandangan hidup Barat (Western Worldview) di mana seringkali pendapat dan spekulasi yang merefleksikan unsur-unsur kepribadian, agama, dan kebudayaan dianggap sebagai ilmu pengetahuan.

Dengan kata lain, ilmu pengetahuan itu tidaklah bebas nilai (neutral) karena ia adalah sifat manusia. Sedangkan segala sesuatu yang berada di luar pikiran manusia bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan fakta dan informasi yang kesemuanya adalah objek ilmu pengetahuan (Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam S.M.N. Al-Attas. Terjemahan Hamid Fahmy dkk. Bandung: Mizan. 2003. hal. 115).

Dalam Islam, segala kebenaran atau ilmu pengetahuan datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala. Menjelaskan hal ini al-Attas menegaskan bahwa oleh karena segala pengetahuan itu datangnya dari Allah dan ia ditafsirkan oleh jiwa dengan perantaraan daya dan indera kerohanian dan jasmaninya, maka ini dengan sendirinya bermaksud bahwa pengetahuan itu apabila merujuk kepada Allah Subhanahu Wata’ala selaku sumbernya, adalah “ketibaan ma’na sesuatu perkara atau sesuatu objek pengetahuan dalam diri” (husul ma’nal-shay’ fi’l-nafs) dan apabila merujuk kepada jiwa selaku penafsirnya, pengetahuan itu adalah “kesampaian jiwa pada ma’na sesuatu perkara atau suatu objek pengetahuan.” (wusul al-nafs ila ma’nal-shay).

Baca: Ilmu, Sofis, dan Akhlak

Dalam epistemologi Islam, bukan saja hakikat kebenaran yang diakui tetapi juga kemampuan manusia untuk memperolehnya juga turut diakui. Digariskan bahwa tiga saluran utama manusia untuk memperoleh ilmu adalah pancaindera yang baik, akal sehat, dan khabar yang benar.

Kitab suci Al-Quran sebagai sumber utama epistemologi Islam menyatakan dengan istilah-istilah yang tanpa keraguan bahwa seluruh alam semesta dengan apa yang ada padanya adalah sebuah Buku yang agung, dan terbuka untuk dimengerti dan ditafsirkan. Kitab suci al-Quran juga mengatakan bahwa manusia yang memiliki kecerdasan, pengertian, kefahaman, ketajaman dan ilmu akan mengetahui makna dari ‘Buku’ itu.

Gambaran Kitab Suci al-Quran mengenai alam tabii dan manusia-baik yang terjelma di luar maupun yang tersembunyi di dalamnya-sebagai ayat (kata-kata, kalimat-kalimat, tanda-tanda, lambang-lambang) yang menerangkan dengan sendirinya secara jelas yang bercerita kepada manusia tentang Maha Pencipta (Wan Suhaimi Wan Abdullah, Beberapa Wajah dan Faham Dasar Tasawuf Menurut al-Attas…. Hlm 222-224).

Karena itu, kebenaran dalam Islam telah jelas, tidak samar. Sumbernya tidak berubah-ubah. Bila ada keperluan penjelasan, akan diterangkan oleh otoritas ilmuan Muslim. Dulu sahabat, diteruskan ulama’ tabi’in dan tabiut’tabi’in dan dilanjutkan oleh para ulama pengikutnya. Jadi, posisi ulama itu penting. Mereka yang memiliki otoritas membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Perintah Allah sudah jelas, jika kamu mau tidak tahu, maka tanyalah orang yang punya otoritas. Agar manusia tidak bingung menyatakan kebenaran.*

Peserta PKU Angkatan XI Unida Gontor

 

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Merajut Ukhuwwah Ilmiah Melalui Universitas http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/09/20/124018/merajut-ukhuwwah-ilmiah-melalui-universitas.html Wed, 20 Sep 2017 03:37:51 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124018

Negara-negara Islam harus mempunyai langkah yang kuat untuk meningkatkan peran sentral universitas agar lebih efektif menyiapkan generasi muda

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi

 

Pendidikan dan kualitas sumber daya manusia mempunyai kaitan yang erat dengan kemakmuran ekonomi suatu negara. Nalar ini dapat dibuktikan dari perbandingan kualitas perguruan tinggi di Negara-negara Barat dan di Negara-negara dunia ketiga.

Menurut Ranking Web of Universities dari Webometrics (Februari 2015), Universitas terbaik dunia ternyata berada di negara-negara Barat. Sebut misalnya Universitas Harvard, Institute Teknologi Massachusset, Universitas Cornell, Universitas Michigan, Universitas Stanford dan lain-lain adalah ranking universitas teratas di dunia.

Universitas di dunia Islam menduduki ranking jauh dibawah itu semua. Dalam sebuah survei ditemukan bahwa di dunia Islam hanya terdapat 5 universitas terbaik di dunia. Empat diantaranya berada di Turki dan 1 universitas berada di Saudi Arabia.

Sementara di Indonesia ranking yang terbaik yaitu Universitas Gajah Mada yang menempati ranking ke 414 dunia. Sedangkan universitas Indonesia (ranking 532), Institut Teknologi Banding (622) Institut Pertanian Bogor (ranking 813) dan seterusnya.

Akibat dari kondisi ini dunia Islam yang memiliki jumlah penduduk 16% dari penduduk dunia ini hanya mampu menghasilkan 6.9% karya Ilmiah, dan hanya dapat mengekspor 3.3% produk teknologinya. Maka wajar jika income per kapita Amerika US$ 51.749 dua puluh kali lipat income per kapita Indonesia yang hanya US$ 2.750, atau lima kali lipat Malaysia yang hanya US$ 10,432, atau sepuluh kali lipat Thailand US$ 5.480. Begitu jauh perbedaannya.

Forum Rektor

Kondisi ini mungkin yang mendorong Pemerintah Turki melalui Majelis Pendidikan Tinggi Turki untuk mengadakan acara Vice Chancellors’ Forum on Universities in the Islamic World. Acara yang diadakan pada tanggal 26-27 Juli 2017 di Ankara ini bertema Forming The Higher Education Area in the Islamic World.

Forum Rektor ini diikuti oleh 350 universitas dari 75 negara dan dibuka oleh Presiden Recep Tayyib Erdogan sendiri di istananya.

“Dunia Islam saat ini mengalami berbagai persoalan dan perpecahan. Universitas-universitas di negara-negara Islam mempunyai peran dan kapasitas untuk memberikan solusi bagi persoalan-persoalan tersebut,” ujar Erdogan dalam pembukaan.

Baca: INSISTS Ingin Dirikan Kampus Studi Islam

Direktur Majelis Pendidikan Tinggi Turki Prof.Dr. M.A. Yekta Saraç dalam pidatonya menyatakan bahwa Majelis yang dipimpinnnya mempunyai motto  “Stronger Turki”, yang bermakna ‘kita menjadi kuat karena harus tahu masalah dan tahu bagaimana menyelesaikannya’.

Demikian pula Negara-negara Islam harus mempunyai langkah yang kuat (stronger step) untuk meningkatkan peran sentral universitas agar lebih efektif lagi dalam menyiapkan generasi muda.

Prof. Yekta mengingatkan bahwa dalam sejarahnya sains Islam merupakan tulung punggung sejarah sains dunia. Pusat-pusat kajian sains dari Baghdad ke Basra, dari Qordoba ke Urfa; dari Isfahan dan Samarkand ke Mesir saling berhubungan dan bekerjasama sepanjang sejarah.

Setiap langkah perkembangan dalam dunia sains didukung oleh seluruh dunia Islam dan memberikan kemakmuran dunia Islam pula. Demikian pula ketika sains dunia Islam mundur, semua kawasan geografis dunia Islam pun ikut merasakan kemundurannya. Ini berarti bahwa sekarang waktunya kita memperkuat dunia Islam dengan sains dan akademisi yang kuat, khususnya untuk perkembangan ekonomi dan teknologi di dunia Islam bagi kesejahteraan umat di dunia Islam.

Baca: Rektor Universitas Imam Arab Saudi Resmikan Kampus LIPIA

Untuk meralisasikan ini, pertama-tama kita harus menghilangkan batas-batas antara perguruan tinggi satu negara dengan negara lain.  Artinya pendidikan tinggi di setiap Negara Islam harus saling menjalin jaringan kerja yang kuat dan bekerjasama dalam berbagai bentuk (networking).

Isu-isu penting

Tema yang dibahas dalam forum dua hari itu terdiri dari empat. Pertama adalahQuality Framework and Quality Assurance. Ini di Indonesia dikenal dengan standard akreditasi yang di universitas di kelola oleh Lembaga Penjamin Mutu. Di sini Kedua,adalah Credit Transfer and Mobility. Ini adalah kerjasama akademik dimana mahasiswa semester tertentu dari satu universitas di Negara-negara Islam dapat pindah ke universitas di Negara Islam lain tanpa kehilangan SKS nya.

Ketiga, adalah Quality Assurance Agencies and Recognition & Equavalency. Ini pengakuan terhadap akreditasi satu universitas di satu negara dengan akreditasi di negara lain. Keempat, adalah joint dual/double Degree ProgramJoint programartinya satu mahasiswa semester tertentu di suatu Negara Islam dapat kuliah satu dua semester di luar negeri dan mendapatkan nilai dari kuliah tersebut. Double degree artinya mahasiswa suatu universitas dapat kuliah di universitas lain untuk beberapa semester dan mendapatkan dari universitas tersebut dan universitas asalnya. Program seperti ini sudah dipraktekkan oleh Negara-negara yang tergabung di uni Eropa yang disebut Erasmus.

Dari keempat tema bahasan tersebut beberapa isu muncul. Dalam masalah quality assurance ternyata pengalaman Indonesia dan Malaysia lebih maju ketimbang Negara-negara yang hadir.

Universitas-universitas di Turki telah banyak yang mengikuti Qualifikasi Perguruan Tinggi Eropa (Qualification of European Higher Education Area (QF-EHEA) dan diantaranya menjadi anggota yang disebut Bologna Process. Selain itu universitas-universitas terkemuka di Turki juga telah mengikuti European Qualification for Lifelong Learning (EQF-LLL), dimana kompetensi output didefinisikan dengan jelas. .* >>>> klik  (Bersambung)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Asy’ari dan Identitas Muslim Nusantara http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/08/22/122008/asyari-dan-identitas-muslim-nusantara.html Tue, 22 Aug 2017 10:27:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=122008

Faktor lain yang menjadikan teologi Sunni-Asy’ari menjadi identitas Muslim Nusantara, yaitu karakter keseimbangan antara naqal (teks wahyu) dan aqal

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

 

KEHADIRAN Islam di bumi Nusantara berlangsung secara sistematis, terencana, dan tanpa kekuatan militer, dibawa oleh para ulama-alim yang memang membawa misi khusus menyebarkan Islam.

Berbeda dengan kedatangan agama Kristen pertama kali yang dibawa oleh kolonialis, khususnya dari Belanda. Para dai membawa misi kedamaian, bukan peperangan. Yang dibawa adalah ilmu, bukan senjata.

Sehingga, para dai pembawa Islam berhasil melakukan perubahan besar-besaran dan mendasar dalam jiwa penduduk bumi Nusantara. Perubahan yang bukan fisik semata-mata, tetapi peningkatan dalam jiwa dan alam fikir ini menjadi kekuatan Muslim Nusantara. Dalam hal ini Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas memberi catatan:

“Kedatangan Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia harus kita lihat sebagai mencirikan zaman baharu dalam persejarahannya, sebagai semboyan tegas membawa rasionalisme dan pengetahuan akliah serta menegaskan suatu sistem masyarakat yang berdasarkan kebebasan orang perseorang, keadilan dan kemuliaan kepribadian insan”(Wan Mohd Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu, hal. 106).

Kesimpulan Prof. Al-Attas di atas penting untuk dijadikan dasar membaca sejarah Islam di Indonesia. Bahwa, penduduk bumi Nusantara sangat patut bersyukur dengan para ‘misionaris’ Muslim (meminjam istilah dari Prof. Al-Attas) itu. Merekalah yang membawa pribumi kepada zaman baru. Era tumbuh-kembangnya semangat rasionalisme sehingga menjadi bangsa yang maju dan berkepribadian mulia.

Apa dampak yang bisa disaksikan? Tiga abad lebih dijajah kolonialis Kristen. Tetapi, Islam tetaplah kekal hingga hari ini. Memang ada penurunan kejayaan di masa penjajahan dibandingkan dengan zaman kesultanan-kesultanan Islam. Tetapi, jiwa Islam tidak pernah luntur. Hal itu disebabkan pengislaman yang berangsur-angsur di bumi Nusantara itu sampai pada level struktur pandangan alam Islam (Islamic Worldview) yang menancap dalam diri Muslim Nusantara sebagai identitasnya yang asli.

Baca: Mengenal Madzab Asy’ari dan Akidah Ahlus Sunnah

Jadi, Islam yang dibawa para ‘misionaris’ Muslim adalah Islam yang asli. Dari ulama-alim yang ahli dari Timur-Tengah. Bukan Islam ‘luaran’ yang bercampur dengan kebudayaan lain. Jika pun Islam yang dibawa para penyebar agama itu tidak asli – sebagaimana dituduhkan oleh orientalis – niscaya identitas keislaman penduduk Nusantara mudah luntur, lenyap dan hilang.

Kesimpulan Prof. Al-Attas yang menyatakan kedatangan Islam membawa kepada pengetahuan aqliyah ini perlu digaris bawahi. Sehingga wujud iklim tradisi keilmuan yang melahirkan filsuf, pemikir tingkat internasional dengan karya-karya yang berbobot.

Maka patut untuk dibahas, bahwa ternyata peranan teologi Ahlussunnah wal Jama’ah (disingkat Aswaja) memainkan pernan dalam proses Islamisasi terutamanya dalam mengubah sistem pemikiran alam Melayu-Nusantara dari segi kefahaman tentang agama dan kehidupan. Khususnya pada fase kedua penyebaran Islam (baca Syed Muhammad Naquib al-Attas,Islam and Secualism, hal. 70).

Dalam hal ini para sarjana Muslim dan sejarawan menulis bahwa teologi yang berperan besar itu adalah teologi Sunni bermadzhab Asy’ariyah, mengikut imam al-Asy’ari. Mohd Farid Mohd Shahran, seorang sarjana Malaysia, dalam artikel nya berjudul Kerangka Teologi Islam di Alam Melyau: Kekuatan dan Cabaran berpendapat:

“Madzhab teologi yang mendominasi Islamisasi di alam Melayu adalah Ahlussunnah wal Jama’ah aliran Asya’irah. Aliran ini pada awalnya dipelopori oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan kemudiannya telah diteruskan oleh tokoh-tokoh besar seperti Abu Bakar al-Baqillani, Abu al-Ma’ali al-Juwaini, Abu Hamid al-Ghazali, Fakhr al-Din al-Razi, Abu al-Fath al-Syahrastani, Abd Qahir al-Baghdadi, Abu Ishaq al-Isfarayini dan Muhammad Yusuf al-Sanusi. Aliran ini dicirikan dengan keutamaan dalil wahyu dalam penghujahan disamping memperkukuhnya dengan kehujahan akal dan pengambilan jalan tengah antara pendekatan ultrarasional Mu’tazilah yang mengutamakan pandangan akal dan juga pendekatan sempit sebahagian ahli Hadis yang terlalu menenkankan pendekatan tekstual” (Mohd Farid Mohd Shahran, Akidah dan Pemikiran Islam: Isu dan Cabaran, hal. 6).*>>> klik (Bersambung)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]> Masalah Bangsa: Masalah tentang Manusia http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/08/01/120795/masalah-bangsa-masalah-tentang-manusia.html Tue, 01 Aug 2017 08:08:54 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=120795

Segala kerusakan politik, ekonomi, dan sosial merupakan cermin dan ranting dari akar masalah yang besar, yaitu manusia

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Arif Munandar Riswanto

 

SAAT ini,  bangsa ini sedang menghadapi masalah-masalah besar. Penegakan hukum yang tidak adil, kesenjangan kehidupan kaya-miskin, penistaan agama, money politics, kezaliman penguasa, korupsi, dan lain sebagainya adalah sedikit contoh dari banyak fenomena bahwa bangsa ini memang sedang dilanda masalah-masalah besar.

Masalah-masalah besar tersebut akhirnya menyebabkan kegaduhan yang besar serta menghabiskan energi dan ongkos yang tidak sedikit. Sehari-hari bangsa ini pun disuguhi oleh kegaduhan yang seolah-olah tiada henti.

Apalagi di zaman perkembangan arus informasi yang seperti tanpa batas. Setiap orang bisa menulis, memberikan opini, menyebarkan berita, membentuk image, dan membuat kepalsuan dengan bebas. Sebuah fenomena yang akan merusak dan meruntuhkan otoritas.

Mungkin banyak di antara kita yang bertanya: apa akar penyebab dari masalah-masalah besar tersebut? Apakah ia disebabkan oleh iklim kehidupan politik yang tidak kondusif, kesenjangan ekonomi, atau nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan baik?Banyak orang yang berpendapat bahwa akar masalah dari bangsa ini adalah politik. Artinya, jika kehidupan politik sudah baik, maka bangsa ini akan menjadi baik. Jika masalah asasinya adalah politik, maka solusinya pun adalah politik.Pun begitu dengan orang-orang yang berpandangan bahwa akar masalahnya adalah ekonomi, sosial, atau nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan baik oleh masyarakat.

Jika kita renungkan lebih dalam, pada hakikatnya, akar masalah besar bangsa ini adalah manusia.Masalah bangsa ini adalah masalah tentang manusia. Masalah-masalah politik, ekonomi, sosial dan lain-lain hanyalah ranting yang mudah dilihat oleh semua orang dari pohon besar yang bermuara pada akar yang sama, yaitu manusia.

Baca: GIB Ingatkan Pemerintah Utamakan Pembangunan Manusia Beradab

Masalah-masalah tersebut adalah cermin dari fenomena manusia Indonesia.Hal ini berarti juga, jika akar dari masalah-masalah besar bangsa ini tidak diperbaiki, masalah-masalah tersebut akan terus-menerus terulang. Mungkin bentuk dari masalah tersebut bisa berbeda dari satu generasi ke generasi lain, tapi hakikatnya selalu sama. Dengan kata lain, jika manusia-manusia Indonesia tidak dididik untuk menjadi manusia yang baik (al-insān al-ṣāliḥ), bisa dipastikan pemimpin-pemimpin zalim, para penista agama, dan koruptor-koruptor baru akan terus-menerus lahir dari satu generasi ke generasi lain.Siapa yang menyangka bahwa pergantian politik dari Orde Baru ke Reformasi justru tidak bisa membuat kehidupan bangsa menjadi lebih baik. Ia menunjukkan bahwa pemimpin yang baru tidak dijamin bisa menjadi lebih baik dari pemimpin sebelumnya.

Padahal, dalam iklim demokrasi seperti zaman sekarang, untuk mengganti seorang pemimpin saja pasti memerlukan ongkos yang sungguh sangat besar. Karena pemimpin baru ternyata tidak lebih baik dari pemimpin sebelumnya, lagu-lagu indah tentang pembangunan, perubahan, dan kebebasan ketika Orde Baru diturunkan mulai terasa seperti fatamorgana di tengah sahara. Akhirnya banyak individu yang ingin kembali ke zaman Orde Baru.

Hakikat Manusia

Di dalam Islam, hakikat tentang manusia (yang meliputi ajaran-ajaran tentang siapa dirinya, tujuan hidup di dunia, akhlak, dan kebahagiaan) termasuk ke dalam salah satu ajaran asasi agama.Bahkan,al-Attas memasukkan hakikat manusia ke dalam salah satu unsur penting metafisikaIslam, yang dalam banyak hal berkaitan sangat erat dengan psikologi jiwa manusia (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam [Kuala Lumpur: ISTAC, 2001], 143-176).Al-Attas adalah salah seorang ilmuwan Muslim besar yang memberikan perhatian besar terhadap manusia.

Dalam tradisi Islam,para ilmuwan yang memiliki perhatian besar terhadap hakikat manusia adalah ilmuwan-ilmuwan yang memiliki pandangan-pandangan besar dalam metafisika Islam (Filsafat, Kalam, dan Tasawuf).

Manusia diciptakan oleh Allah memiliki dua karakteristik: jiwa dan tubuh. Yang pertama merujuk kepada hakikat sebenar manusia ketika dia mengatakan “aku”dimana jiwa, kemuliaan, akhlak, dan kebahagiaan hakiki berasal, sedangkan yang kedua merujuk kepada potensi hewani. Para ulama menyebut hakikat jiwa pertama dengan jiwa rasional (al-nafs al-nāṭiqah) sedangkan yang kedua disebut jiwa hewani (al-nafs al-ḥayawāniyyah).Ini yang kemudian disebut oleh para ulama bahwa manusia adalah ḥayawān al-nāṭiq.Jiwa rasional adalah jiwa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya dimana kemuliaan, akhlak mulia, dan kebahagiaan berasal, sedangkan jiwa hewani adalah jiwa yang betul-betul identik dengan hewan. Karena memiliki sifat hewani, jiwa hewani harus diatur oleh jiwa rasional dengan baik. Menurut Fakhr al-Dīn al-Rāzī, jiwa hewani yang harus diwaspadai oleh manusia wujud dalam tiga kekuatan: nafsu syahwat, nafsu amarah, dan nafsu kekayaan atau kekuasaan (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 32 vols. [Beirut, Dār al-Fikr, 1981]: 1: 258).

Baca: Keteladanan Melahirkan Manusia Beradab

Agar berhasil dalam hidup, manusia harus mengatur kedua hakikat jiwa tersebut dengan baik. Jiwa rasional harus senantiasa ada di atas dan mengatur jiwa hewani. Namun sebaliknya, jika jiwa hewani justru yang lebih dominan untuk kemudian menjadi raja dalam kerajaan manusia, manusia akan berubah menjadi seperti hewan, bahkan bisa lebih buruk daripada hewan (QS al-Aʿrāf [7]: 179). Dalam kondisi seperti itu, maka akan lahir kesengsaraan (al-shaqāwah) dan akhlak yang hina dari manusia.

Karena memiliki kedua potensi jiwa tersebut, manusia layaknya seperti kerajaan, yaitu kerajaan kecil (microcosmos). Fakhr al-Dīn al-Rāzī misalnya menyebut bahwa manusia pada hakikatnyaseperti kerajaan; jiwa rasional seperti seorang raja; indera eksternal dan internal seperti tentara; anggota-anggota badan seperti warga negara; syahwat dan amarah seperti musuh yang selalu berusaha untuk menghancurkan kerajaan dan membunuh warga negara.

Jika raja mampu mengendalikan musuh, negara akan stabil dan jauh dari konflik (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Kitāb an-Nafs wa ar-Rūḥ wa Syarḥ  Quwāhumā, ed. Muḥammad Ṣaghīr Ḥasan al-Maʿṣūmī [Islamabad, Islamic Research Institute: t.t.], 79-84).

Kedua hakikat jiwa yang ada di dalam diri manusia senantiasa tarik ulur dan berperang seumur hidup. Yang satu sering berusaha untuk mengalahkan yang lain.

Di sini kita bisa melihat bahwa pada hakikatnya seluruh manusia aktif dalam “politik”, yaitu politik untuk mengatur kerajaan diri sendiriyang berlaku seumur hidup dan disamakan dengan jihad paling besar (al-jihād al-akbar). Namun, karena semua orang memahami politik hanya sebatas hubungan manusia dengan negara, manusia banyak yang tidak menyadari dan gagal melaksanakan tugas-tugas politik untuk mengatur kerajaan diri sendiri. Ini yang kemudian menyebabkan kerusakan besar dimana-mana, termasuk bangsa Indonesia.>>> (BERSAMBUNG)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Muslim Tak Perlu Radikal dan Liberal http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/07/17/119974/muslim-tak-perlu-radikal-dan-liberal.html Mon, 17 Jul 2017 00:14:50 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119974

Yang kufur diperlakukan sebagai sesama manusia. Yang Muslim kita perlakukan sebagai saudara Muslim. Inilah yang disebut moderat

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

 

UMAT Islam kerap disodori dua pilihan statemen yang bisa menyempitkan pemahaman tentang Islam. ‘Jika menolak liberal, maka berarti Anda radikal’. ‘Jika Anda anti radikal, berarti liberal’. Dua pernyataan tersebut keliru. Karena slam itu tidak kedua-duanya.

Ada sekelompok orang menyeru: ‘Kaum Muslimin yang menolak pluralisme dan multikulturalisme berarti mereka mereka intoleran, kaku, radikal dan fundamentalis’. Sebuah cap yang gegabah.

Sedangkan, kelompok yang toleran dan ramah disimpulkan  hanya milik kaum liberal. Sedangkan kelompok yang bukan barisan liberal terburu-buru divonis radikal dan keras.

Inilah yang namanya menyempitkan makna Islam itu. Islam yang sempurna sejatinya tidak membutuhkan liberal. Juga tidak pula memerlukan bentuk radikal. Untuk menjadi muslim yang toleran tidak perlu menjadi seorang pluralis. Bersikap ramah kepada makhluk, baik Muslim maupun kafir tidaklah tepat harus menjadi seorang liberal.

Kerugiannya amat besar jika ingin menjadi seorang yang humanis, ramah, dan toleran sampai membedol syari’ah. Perkataan ‘Islam tanpa liberal pasti menjadi radikal’ hanyalah khayalan. Mitos yang tidak terbukti.

Jika ada semacam dorongan massal agar kaum Muslimin menggunakan perspektif satu dalam melihat realitas. Dorongan paling berpengaruh adalah perspektif HAM Barat.

Statemen yang berbunyi, “Orang yang beribadah harus menghormati orang yang tidak beribadah”, adalah salah satu contoh penggunaan cara pandang sempit, HAM ala Barat. Seorang Muslim tidak perlu mempermasalahkan memilik pemimpin Muslim atau non-Muslim. Ulama yang menyeru memilih pemimpin Muslim adalah ulama yang keras. Suatu kesimpulan yang sangat rancu.

Baca: Dalami Islam dengan Baik, Cara Bentengi Paham Liberal …

Supaya menjadi seorang Muslim yang toleran, maka pelacuran, narkoba, perzinahan dan kemaksiatan yang lain, tidak disentuh.

Sekali mengkritik pelacuran dan mengajukan pasal perzinahan, tidak lama mendapat lemparan tuduhan ‘radikal’, dan ‘intoleran’. Suatu vonis yang semena-mena. Bentuk dari suatu bentuk kekerasan verbal.

Radikal dalam konteks adalah kekerasan. Tidak ada dalam agama Islam. Sikap yang berlebih-lebihan terminologi agamanya adalah ghuluw.

Ibn Hajar mengatakan: “Ghuluw adalah berlebih-lebihan terhadap sesuatu dan menekan hingga melampau batas” (Fathul Bāri, 13, hal. 278).

Allah Swt berfirman:“Wahai ahli Kitab, janganlah kalian bertindak melewati batas (ghuluw) dalam agama kalian.” (QS an Nisa’:171).

Yahudi, misalnya, sejarah menceritakan betapa banyak kisah–kisah seputar kehadiran mereka yang sangat aktif dalam lapangan tindakan ekstrem yang berbentuk aksi teror, kebiadaban, dan keangkuhan yang salah satunya terwujud dalam aksi mendustakan, mengintimidasi, dan bahkan membunuh sebagian para Nabi.

Allah Swt menjelaskan sifat ghuluw tersebut: “Orang-orang Yahudi berkata: Uzair itu putera Allah dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu putera Allah. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. Al-Taubah: 30).

Yahudi dan Nasrani dikatakan melampaui batas (ghuluw), karena melintasi batas-batas yang telah Allah Swt gariskan. Bahwa Uzair dan Isa adalah manusia, bukan Tuhan. Nashrani bertindak ghuluw (melampaui batas atau sikap ekstrem) dengan mengangkat Isa bin Maryam sampai pada tingkat ketuhanan dan mereka pun menyembahnya.

Beginilah fenomena tindakan radikal yang dilakukan umat terdahulu dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Jadi, sebelum Islam datang, dua kaum ini sudah memulai tindak radikal atau ghuluw.

Jadi ghuluw dalam beragama adalah sikap melampau batas-batas dalam perintah agama. Hal itu dilakukan dengan cara menambah dengan porsi yang  berlebihan sehingga mengeluarkannya dari apa yang dimaksudkan perintah agama. Sebab menjalankan perintah syariat itu tidak boleh berlebihan (ifrāth) tidak pula menganggap remeh (tafrīth) (Mas’ud Shobri, al-Ghuluw fi al-Dīn wa al-Hayāh,14). Radikal biasanya muncul dengan bentuk sifat ifrath terhadap sesuatu ajaran. Dan karakter kaum liberal dengan asas kebebasannya itu biasanya merendahkan perintah agama.

Baca: Gurita Liberalis di Kampus UIN Jakarta

Contoh sikap ifrath yang bisa melahirkan tindak radikal adalah berlebihan dalam hukum takfir. Selama seorang muslim itu mengamalkan ijtihad fiqh para ulama’, maka ia tidak boleh dikafirkan. Perbedaan dalam ijtihad fiqih di kalangan para ulama’ tidak sampai kepada hukum saling mengkafirkan. Seperti hukum membaca qunut subuh, jumlah shalat tarawih, membaca dzikir bersama-sama, mengadakan majelis kelahiran Nabi Saw dan ijtihadijtihad lainnya tidak diperkenankan sampai mengkafirkan. Perkara-perkara ijtihad itu disebut ikhtilaf tanawwu (perbedaan fariatif). Adapun jika seseorang telah keluar jauh dari al-haq, berbuat kekufuran secara jelas, dan hal-hal lain yang dalam teks agama masuk ke dalam kelompok yang dikafirkan, maka otoritas hukum tentu menghukumi kafir.

Islam sudah sempurna. Ajaran kebaikan apa saja dapat dicari dalam khazanah Islam. Dalil-dalil tentang toleransi, cinta, kasih-sayang, berakhlak, ramah, disiplin, kebersihan dan lain-lain cukup banyak. Ajaran sosial pun menumpuk dalam petuah-petuah Nabi Saw. Mulai adab kepada teman, tetangga, saudara, orang tua, guru, bahkan terhadap orang yang membenci kita ada etikanya. Jadi, Islam sudah tidak membutuhkan ideologi-ideologi sosialis, marxs dan komunis.

Pluralisme adalah paham yang merusak akidah. Jika ada Muslim yang mengajarkan pluralisme kepada orang lain maka harus dicegah. Tindak pencegahan ini bukan bentuk radikalisme, tetapi mengamalkan ajaran Islam yang ramah.

Bila ada orang yang memang tidak menyembah Allah dan menentang Rasulullah Saw, maka hukum nya kafir. Vonis ini khas dalam Islam. Imam al-Ghazali mengatakan: …dan termasuk perkara qat’i adalah sesungguhnya barang siapa yang mendustakan Nabi Muhammad Saw adalah kafir yaitu kekal di dalam neraka setelah mati” (Imam al-Ghazali,Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, hal. 156).

Sementara dalam al-Milal wa an-Nihal karya Imam al-Syahrastani dinyatakan: “Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah golongan yang keluar dari agama yang benar dan syariat Islam”(Syahrastani,al-Milal wa an-Nihal, hal.247).

Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari pernah berfatwa kitabnya Risalah Ahlissunnah wal Jama’ah mengutip pendapat Imam Qadhi Iyadh: “Begitu juga orang yang mengakui keesaan Tuhan akan tetapi menolak kenabian Nabi Saw maka dia kafir tanpa diragukan” (Hasyim Asy’ari,Risalah Ahlissunnah Wal Jama’ah, hal. 12).

Nabi Saw bersabda: “Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun, baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim).

Jadi hukum tentang kekufuran itu ada dalam Islam. Dalam ajaran agama lain juga kemungkinan ada dengan istilah yang lain. Karena term kufur itu khas dalam khazanah Islam, yang tidak ada term itu dalam diktum agama lain. Sebagai bagian dari ajaran Islam, maka harus dipahami betul-betul. Tidak serampangan mudah mengkufurkan, juga tidak menghilangkan hukum kufur ini.

Dalam interaksi muslim dengan non-muslim atau kepercayaan yang berbeda, Islam memiliki dua konsep penting; toleransi dan berdakwah. Toleransi (samahah) merupakan ciri khas dari ajaran Islam. Islam mempunyai kaidah dari sebuah ayat Al-Qur’an yaitu laa ikraaha fi al-dien (tidak ada paksakan dalam agama).

Namun bukan artinya tidak menyebarkan Islam. Tetapi, dakwah dalam Islam bersifat mengajak, bukan memaksa. Dari kaidah inilah maka ketika non-muslim (khususnya kaum dzimmi) berada di tengah-tengah umat Islam atau di negara Islam, maka mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam bahkan dijamin keamanannya karena membayar jizyah sebagai jaminannya.

Sehingga yang disebut tawasuth dan tawazun itu adalah pemikiran yang seimbang dan adil. Bila ada orang Islam yang berbeda madzhab fikih dalam ubudiyahnya, maka tidak boleh dikafirkan, karena mereka memiliki dalil yang merujuk pada imam madzhabnya. Sedangkan, jika kaum Yahudi dan Nasrani itu memang menentang kenabian Nabi Muhammad Saw, maka disebut kufur. Serta ajaran yang menyama-nyamakan agama itu juga ajaran kekufuran. Meskipun begitu mereka yang kufur tetap manusia, tetapi bukan yang Muslim. Memperlakukannya sebagai manusia yang berbeda perlakuannya dengan yang Muslim. Yang kufur diperlakukan sebagai sesama manusia. Yang Muslim kita perlakukan sebagai saudara Muslim. Inilah yang disebut moderat.*

 Penulis adalah dosen INI Dalwa Bangil-Pasuruan, peneliti INSISTS

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Korban Sekularisasi dan Fenomena Perppu Ormas http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/07/16/119928/korban-sekularisasi-dan-fenomena-perppu-ormas.html Sun, 16 Jul 2017 00:27:54 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119928

Mengapa gagasan seperti homoseksualisme dan sekularisme tidak masuk menjadi poin tambahan penjelasan pada Perppu Ormas?

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Muhammad Iswardani Chaniago

 

SETELAH menjalani proses panjang konflik keagamaan bahkan perang, Barat mulai menapaki jalan sekularisasi. Satu negara dengan negara lain menjalaninya dengan cara yang tidak tunggal. Namun, ada semacam kepercayaan diri yang nyaris sama di Barat yakni sekularisasi diyakini membawa pencerahan.Peradaban  yang tadi terbelakang mulai menatap masa depan dengan langkah sekuler yang dipandang berkemajuan.

Perkembangan sekularisasi di tengah kehidupan peradaban memberi dampak tersendiri yang cukup membekas sekaligus memakan korban. Di antara korban yang paling menderita akibat sekularisasi adalah agama. Ini wajar, karena sekularisasi hadir sebagai reaksi atas agama dengan pelbagai fenomenanya sekaligus menjadi kritikus paling keras -setidaknya pada derajat tertentu. Maka tak aneh bila agama adalah pihak yang paling merasakan kekerasan tamparan sekularisasi.

Akan tetapi, tidak semua sarjana setuju bahwa agama adalah korban sekularisasi yang paling menderita. Adalah Graeme Smith yang bisa dikatakan mengambil posisi demikian. Dalam karyanya,  A Short History of Secularism, Ia justru memiliki sikap yang lebih positif terhadap sekularisasi dan relasinya dengan agama. Dalam pandangannya, eksistensi agama -khususnya Kristen- tidak sedang menjadi korban sekularisasi, melainkan tengah mempraktikkan sebuah ekspresi akhir kristianitas. Kristianitas tidak sedang dikorbankan, tetapi tengah mengalami semacam metaformosis yang adaptif terhadap sekularisasi. “Secularism in the West is the new manifestation of christianity,” tulis Smith.

Meskipun begitu, apa pun alasan dicari sejumlah fakta tak dapat dipungkiri bahwa sekularisasi menjadikan agama sebagai korban. Di Prancis nasib agama dengan segala anasirnya cukup tragis. Institusi agama mengalami kerugian baik materil maupun immateril. Mereka pernah merasakan getirnya penjara dan persekusi. Aset mereka berupa tanah juga pernah diambil alih untuk membayar utang negara. Institusi agama pun kehilangan keistimewaan yang dinikmati di masa monarki. Sampai kemudian pada tahun 1791 negara diharamkan mendukung dan mensubsidi agama via disahkannya konstitusi baru Prancis. Itulah yang mendasari keluarnya peraturan yang membolehkan praktik perceraian di Prancis yang sebelumnya dilarang oleh Gereja Katolik.

Baca: 17 Ormas Islam Menolak Perppu

Di era Napoleon nasib agama sedikit membaik setelah ditandatanganinya Concordat tahun 1801. Agama Katolik mendapat subsidi negara dan dijadikan agama resmi, meskipun sejumlah konsekuensi harus ditanggung seperti kewajiban untuk tidak menuntut kepemilikan gereja yang telah diambil negara.

Di era modern, Prancis nyaris mengadopsi habis pola sekularisasi awal-awal revolusi yang lumayan keras terhadap agama. Hasilnya simbol-simbol agama tidak bisa masuk ke ranah publik. Inilah sekularisasi dengan model french republican yang dipandang tidak ramah terhadap agama dibandingkan model anglo-american. (Ahmet T. Kuru, Secularism and State Policies toward Religion: 2009, 139)

Di Amerika Serikat geliat sekularisasi yang makin marak juga memberi dampak yang luar biasa. Tren AS tengah berjalan di rel sekularisasi diulas sejumlah ilmuwan. Di awal 2000-an Pippa Norris dan Ronald Inglehart dalam Sacred and Secular: Religion and Politics Worldwide masih melihat kecenderungan sekularisasi pada masyarakat AS, kendati religiusitas juga masih eksis. Ini diperkuat dengan hasil pemilu pilpres AS dimana dukungan politik kepada Hillary Clinton dari partai demokrat yang cenderung sekuler-liberal masih kokoh. Meskipun kalah electoral vote ia mengungguli Donald Trump dalam popular vote dengan selisih lebih dari 2 juta suara.

Sekularisasi tingkat masyarakat juga berbanding lurus dengan sekularisasi pada level negara. Pada level ini AS dikenal dengan model sekularisme anglo-american yang konon lebih ramah terhadap agama. Namun, apakah model ini tidak mengorbankan agama? Belum tentu.

Baca:  17 Ormas Islam akan Ajukan Judicial Review Perppu yang Dinilai ‘Anti Islam

Setidaknya ada dua elemen penting dalam relasi agama-negara di negara sekuler termasuk Amerika Serikat (AS). Pertama adalah aspek dukungan negara (establisment). Kedua adalah kebebasan beragama (free exercise). Dalam konteks sekularisme AS elemen yang paling merugikan agama berada pada ranah establishment. Di sini negara mencabut semua dukungannya terhadap agama. Awalnya prinsip no establishment hanya pada lingkup diskriminasi. Artinya regulasi yang dibatalkan Mahkamah Agung AS (Supreme Court)  hanya saat regulasi itu mendiskriminasi agama tertentu, namun kemudian meluas menyorot pada regulasi yang menyentuh agama secara umum meski tidak mendiakriminasi. Oleh sebab itu, banyak putusan Mahkamah Agung AS yang menjadikan agama sebagai korbannya. Misalnya kasus yang menarik adalah pembatalan sejumkah regulasi negara bagian yang mengajarkan teori penciptaan dan melarang teori evolusi di sekolah. Seperti yang yang terjadi pada kkasus Epperson v Arkansas (1968) dan Edward v Aguillard (1987). Terakhir Supreme Court melegalisasi praktik LGBT sebagai sesuatu yang konstitusional di AS. Fenomena ini jelas merupakan pukulan telak bagi kelompok agama di AS yang sangat menentang LGBT.* klik >>> (BERSAMBUNG)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Fanatisme: Akar Perbedaan Berujung Perpecahan http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/07/08/119510/fanatisme-akar-perbedaan-berujung-perpecahan.html Sat, 08 Jul 2017 12:50:02 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119510

Fanatisme satu paham yang harus di hindari, sikap yang harus di jauhi, karena sudah ada tahdzir (peringatan) langsung dari Rasulullah

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Ricky Faishol

 

FANATISME adalah paham atau prilaku  yang menunjukan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. sikap fanatik biasanya dianut oleh kebanyakan orang yang terlalu jatuh cinta terhadap sesuatu yang diikutinya baik itu seorang tokoh, kelompok, sekte, ataupun negara.

Fanatik jelas tak dapat dihindari bahkan sikap ini bisa menjadi jembatan menuju perpecahan. Bukan hanya itu, fanatik dapat merubah worldview (pandangan hidup) seseorang menjadi sinis dan skepetis.

Winston Churchiil, seorang Filsuf Barat menuturkan “seorang fanatik tulen tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan bisa mengubah haluannya”. Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak akan mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan.

Manchester, satu kota besar di inggris yang dihuni oleh dua klub sepak bola yaitu Manchester United dan Manchetser City. Jika Manchester City memilik fans yang fanatik, begitu pula dengan Manchester United memiliki fans yang begitu fanatik. Meski MU adalah klub yang saya banggakan namun saya menolak sikap fanatik supporter-nya.

Dipinggir jalan kota Manchester Inggris terdapat papan iklan besar bertuliskan “It’s Like Religion”. Iklan ini terpampang besar dengan salah satu ikon pesepakbola dengan ribuan supporter-nya yang fanatik. Ternyata ini salah satu iklan klub sepak bola yaitu Manchester United. Karena sangat fanatiknya supporter Manchester united, mereka rela menuliskan “Manchester Is Our Heaven”. Mereka memposisikan Klub tersebut setara agama sebagai  juru selamat menuju surga.

Baca: Jangan Takut Dicap Fanatik!

18 maret 2016, terjadi bentrokan luar biasa antara supporter Manchetser United dan Liverpool,  kedua klub yang memiliki supporter ribuan yang begitu fanatik. Bentrokan yang dipicu oleh provokasi supporter MU dan di perburuk oleh balasan supporter Liverpool membuat kericuhan tak dapat dihindari. Bentrokan, kericuhan, dan kerusakan yang terjadi berakar dari fanatisme kedua fans klub tersebut yang sudah mendarah daging. Ini contoh fanatik kelompok (Fanatical Class)

Jika Adam Smith begitu fanatik dengan paham kapitalisnya, Karl Marx tak kalah fanatik dengan paham komunisnya. Marx yang geram dengan kaptalisme ala Smith yang menciptakan manusia borjuis dan proletar, Marx mencoba mengapus manusia tanpa kelas. Dengan kepercayaan dirinya bahwa komunisme mampu memberikan kesejahteraan dan pemerataan.

Tapi, equality (persamaan) yang diusung Marx nampaknya tidak memberikan solusi. Karena komunisme hadir bukan untuk pemerataan namun untuk melawan kapitalisme. Karena sikap fanatik kedua kubu, sampai kapanpun komunisme dan kapitalisme tidak akan dapat bergandengan. Inilah contoh fanatik ajaran (Fanatical Theory/Fanatical Concept).

Dari contoh di atas mengingatkan kita kepada satu Hadits Nabi Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ.  رواه أبو داود.

“Bukan termasuk kaumku orang yang mengajak pada fanatisme, dan bukan termasuk kaumku orang yang saling bunuh karena fanatisme, dan bukan dari kaumku yang meninggal karena (dalam keadaan) fanatisme”.

Baca: Para Dai Sebaiknya Menghindari Fanatisme Kelompok

Abdul Rouuf al-Munawi dalam kitab Faidul Qodir menjelaskan : “bahwa orang yang mengajak untuk bersikap fanatik (ta’asub) dan berkumpul bersama orang-orang yang fanatik baik itu terhadap satu golongan, kaum, kelompok, sekte, maka ia telah membantu kedzoliman”.

Ibn Atsir mengatakan : “ orang yang fanatik adalah orang yang marah ketika idolanya dilecehkan, dan ia akan selalu menjaganya apapun keadaannya, karena fanatisme itu sikap attack (menyerang) dan defend (menahan)”.

Dari penjelasan Hadits diatas, kita bisa ambil beberapa poin :

Pertama, fanatisme satu paham yang harus di hindari, sikap yang harus di jauhi, karena sudah ada tahdzir (peringatan) langsung dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Kedua, fanatik buta adalah sikap tercela karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengategorikan sebagai kedzoliman. Dzolim terhadap diri sendiri dan dzolim kepada orang lain. Dzolim kepada diri sendiri karena fanatik adalah sikap destruktif dirinya dan yang diikutinya. Dzolim kepada orang lain karena ia akan bersikap sinis dan skeptis jika perspektif lawan bicaranya tidak sejalan.

Ketiga, fanatisme akan menumbuhkan eskalasi kepercayaan terhadap sesuatu atau seseorang, apapun keadaanya baik atau buruk, hak atau bathil pasti akan ikuti. Dan begitupun jika ada yang melecehkan, menyudutkan dan menjatuhkan  sesuatu atau seseorang yang ia idolakan walaupun idolanya itu salah pasti akan dibelanya, dan akan menyerang balik kepada lawannya.

Meski fanatisme tidak nampak pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dikarenakan rujukan dalam segala aspek kembali kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, namun Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sudah memberikan tahdzir (peringatan) keras kepada siapapun yang bersikap fanatik. Fanatisme yang tidak dikenal dari zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sampai zaman Khalifah Utsman bin Affan, menunjukan eksistensinya diakhir jabatan Khalifah Utsman bin Affan. Eksistensi fanatisme kala itu memberikan pengaruh hebat terhadap dunia Islam dengan ditandai perbedaan dan perpecahan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim, kemudian perpecahan antara Khawarij dan kaum lainnya.

Dari contoh dan penjelasan tadi, kuriositas kita terhadap fanatisme adalah akar perpecahan terjawab sudah. Karena fanatisme adalah sebab dan perpecahan adalah akibat maka tak dapat dihindari kausalitas antara keduanya bahkan itu sebuah keniscayaan. jika fanatisme terhadap suku, budaya, ataupun kelompok tumbuh kembang dalam masyarakat yang plural, niscaya akan mencederai pluralitas negara tersebut dan perpecahan tak dapat dihindari.

Baca: Mencontoh Ahli Hadist yang Hanya Fanatik pada Rasulullah

Al-Imam Muhammad Abu Zahroh mengatakan : “fanatisme adalah akar perbedaan bahkan akar perbedaan yang dahsyat yang dapat memecah belah umat”. (Kitab Tarikh Madzahib Islamiyah, hal:12).

Dalam konteks ke-Indonesiaan, negara yang pluralitas yang dihuni berbagai macam suku, ras, keyakinan, dan kepercayaan, justru tak dapat dihindari adanya sikap fanatik kepada hal tertentu. “semakin banyak kepala semakin banyak pendapat” kalimat ini merupakan representasi wajah Indonesia yang pluralitas. Karena perbedaan merupakan sunatullah dan keniscayaan, tentu itu tak dapat dihindari di Indonesia. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa menggambarkan Indoensia  yang pluralitas, penuh perbedaan namun sarat toleransi.*

Penulis mahasiswa Universitas Al-Ahgaff Hadrhamaut Yaman

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sekularisasi Barat dan Islam, Mengapa Berbeda? http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/07/04/119320/sekularisasi-barat-dan-islam-mengapa-berbeda.html Tue, 04 Jul 2017 02:30:52 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=119320

Agama di Barat tidak setegas Islam. Masih banyak ambiguitas yang mungkin tak akan pernah selesai seputar sekularisasi

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Muhammad Iswardani Chaniago

 

SELAMA ini teori yang mengatakan mengapa Barat menjadi sekuler cukup beragam. Salah satu penjelasan yang sering dikutip sebagai penyebab sekularisasi Barat adalah trauma mendalam terhadap agama.

Perang bertahun-tahun, tangan institusi agama yang masuk dalam banyak aspek, dan konflik tafsir. Atau dalam benak sosiolog pro sekularisasi penjelasan ini terdapat dalam eksplanasi rasio. Teori rasio ini menjelaskan mengapa Barat menjadi sekuler, disebabkan proses rasionalisasi yang massif. Dan perang, konflik agama serta kekuasaan agama yang menggurita adalah irrasional, sehingga saat terjadi proses rasionalisasi, agama menjadi terpinggirkan.

Penindasan keagamaan yang demikian keras dan panjang telah menciptakan pengalaman traumatik. Bayangkan, di Eropa abad pertengahan ada ratusan aliran sesat keagamaan yang eksis. Beberapa diantaranya diperangi oleh agama induknya karena dipandang sesat. Perang ini panjang dari satu sekte ke sekte yang lain. Tapi sejarah tidak  merekam semua konflik keagamaan itu.

Degradasi agama sebagai salah satu faktor penting sekularisasi Barat banyak diulas para intelektual. Adian Husaini dalam bukunya Wajah Peradaban Barat termasuk cendikiawan yang memandang demikian. Sarjana Barat sendiri seperti Perez Zagorin dengan karyanya How Toleration Come to the West juga mengambil garis yang kurang lebih sama. Ia menggambarkan doktrin toleransi sekuler Barat berkembang disebabkan perlawanan terhadap institusi agama yang kerap berkonflik karena tafsir, memiliki kekuasaan besar dan berperang.

Baca: Antara Harun Nasution, Attaturk dan Sekularisme

Pertanyaannya adalah jika benar pengalaman keagamaan traumatik menjadi penyebab Barat sekuler, mengapa hal yang sama tidak terjadi pada dunia Islam? Bukankah perang lantaran perbedaan mendasar keagamaan, konflik tafsir, dan kekuasaan agama yang besar juga kerap tejadi di dunia Islam.

Di awal sejarah khalifah pasca Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam wafat, ada perang riddah yang terjadi akibat penolakkan membayar zakat dan konflik dengan nabi palsu yang difatwa sesat. Dalam rekaman peradaban Islam juga ditemukan pertikaian akibat perbedaan tafsir keagamaan yang mendasar, sehingga muncul fatwa kesesatan sejumlah sekte agama. Kekuasaan agama, kala Islam berkuasa  juga cukup kuat dan masuk ke dalam banyak sektor kehidupan. Mengapa pengalaman keagamaan yang nyaris tak berbeda, antara Barat dengan Islam, tidak menghasilkan trauma sejarah tersendiri bagi Islam?  Kenapa fenomena sekularisasi tidak masif, bahkan bisa dikatakan gagal, pada dunia Islam?

Itu pertanyaan menarik. Jika direnungi setidaknya ada tiga penjelasan atas kegagalan sekularisasi Islam dan keberhasilannya di Barat. Pertama, sikap Islam terhadap hubungan negara-agama cukup tegas sehingga susah dimanipulasi atau ditafsir menjadi pro sekularisasi. Mencari preseden anti sekularisasi sangat mudah, karena bisa mencarinya langsung dari praktik kenabian. Efeknya, meskipun terjadi perang keagamaan, munculnya fatwa kesesatan atas sekte tertentu, dan kuatnya agama masuk dalam ranah kehidupan, sekularisasi nyaris tidak pernah menjadi solusi para ulama. Tapi bukan berarti tidak ada upaya sekularisasi Islam. Sejumlah pihak berupaya demikian.

Namun, upaya yang keras sekalipun bak menghadapi tembok tebal yang sukar ditembus. Kasus paling heboh dari upaya sekularisasi Islam adalah Ali Abdul Raziq. Hakim jebolan al-Azhar yang dihukum akibat argumen sekulernya mengatasnamakan Islam. Tapi gagasan Raziq tidak laku di dunia Islam. Bahkan ia sendiri konon mengubah pendapatnya dan bertobat setelah mendapat hukuman dari institusi al-Azhar.

Baca: Bibit Sekularisme

Argumen sekuler Raziq pernah dipakai Soekarno saat berdebat dengan Natsir, yang diabadikan Soekarno dalam buku tebalnya Di Bawah Bendera Revolusi. Tapi akhirnya, bisa jadi Soekarno paham, memisahakan Islam dengan negara (politik)  adalah pekerjaan orang tak punya kerjaan.

Agama di Barat tidak setegas Islam. Masih banyak ambiguitas yang mungkin tak akan pernah selesai seputar sekularisasi. Kalangan Kristen, misalnya, agak kesulitan mencari justifikasi anti sekularisasi dalam diri Yesus. Karena Yesus belum sempat mendirikan komunitas politik. Sehingga wajar tafsir soal sikap kristianitas atas sekularisasi tidak sekuat Islam.

Katolikisme awal menganut doktrin unifikasi agama-negara. Adapun Protestan tak selamanya menganut doktrin tersebut. Bahkan kaum intelektualnya menentang unifikasi dengan menggunakan tafsir lain. Dan kemudian tafsir separasi  tersebut laku. Hal ini nyaris tak terjadi dalam Islam. Secara umum kelompok teologis utama Islam (sunni, syiah, mu’tazilah) tidak menganut separasi agama-negara.

Kedua, Barat mengalami subjektifitas nilai yang berujung pada pandangan minor terhadap penyatuan agama dan negara. Bisa jadi ini merupakan efek lanjut dari agama di Barat yang terlanjur identik dengan kemunduran, sehingga penyatuan agama dan negara ikut terseret dalam anggapan ketertinggalan. Jadilah pemberantasan aliran sesat, konflik tafsir dan kekuasaan agama yang besar, disorot Barat sebagai sebuah kejahatan. Dengan penjelasan ini, sekularisasi sejatinya merupakan efek ikutan dari suratan agama yang terlanjur buruk di Barat. Itulah mengapa nyaris semua penganjur sekularisasi awal di Barat akan menyertakan cerita perang, konflik tafsir, tingkah agamawan serta insitusi agama yang menggurita sebagai lampiran dari gagasan sekularisasi pada banyak karya mereka. (BERSAMBUNG)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>