Pustaka – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Kitab “Al-Ta’arruf” dan Para Peragu Tasawuf http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2018/07/28/147045/kitab-al-taarruf-dan-para-peragu-tasawuf.html Sat, 28 Jul 2018 00:49:09 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=147045

Dalam bab tentang tauhid, akidah al-Kalabadzi sama dengan akidah para ulama-ulama salaf. Tidak ada tajsim,tasybih,ta’thil, dan lain-lain.

The post Kitab “Al-Ta’arruf” dan Para Peragu Tasawuf appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

 

TASAWUF telah menjadi objek persilangan pendapat hingga hari ini. ‘Nasib’ ilmu ini tidak sama dengan ilmu fikih, ilmu hadis, ilmu tafsir, dan ilmu nahwu sharaf. Empat ilmu ini tidak dilabeli dengan bi’dah. Sementara tasawuf kerap dipojokkan sebagai ilmunya orang-orang ahli bid’ah, sesat, dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, ‘nasib’nya mirip dengan ilmu kalam.

Untuk menilai suatu objek ilmu atau masalah keilmuan alangkah baiknya mengambil saran dari imam al-Ghazali yang beliau tulis dalam otobiografinya yang berjudul “Al-Munkidz min al-Dholal wa al-Mushil ila Dzil ‘Izzi wa al-Jalal”.

Kitab yang mengkisahkan perjalanan pengembaraan ilmu imam al-Ghazali dalam mencari kebenaran. Ia mengatakan, sebelum menilai suatu pemikiran, haruslah terlebih dahulu mempelajarinya secara mendalam sampai pada tingkat ahli (Imam al-Ghazali,al-Munkidz min al-Dholal).

Tentu saja saran Imam al-Ghazali ini tidak setiap orang mampu melakukannya. Tetapi pelajaran dari beliau untuk konteks ilmu tasawuf adalah,  jika ingin menilai ilmu ini rujuklah kepada kitab-kitab standarnya. Jika masih tidak mampu, dengarkanlah salah satu tokoh ilmu tasawuf yang diakui. Artinya, rujuklah pada otoritas tingginya.

Baca: Tasawwuf dan Wali Menurut Syeikh Hasyim Asy’ari 

Sebagaimana jika kita ingin tahu tentang ilmu kesehatan. Maka, pelajarilah buku yang ditulis oleh dokter, jangan baca buku yang ditulis oleh dukun. Tanyalah pada dokter ahli, jangan bertanya pada tukang bengkel mobil.

Salah satu kitab standar yang diakui otoritasnya dalam ilmu ini adalah kitab “At-Ta’arruf li Madzhabi Ahli al-Tasawuf” ditulis oleh  Abu Bakar Muhammad bin Ishaq al-Kalabadzi al-Bukhari (wafat 380H/990M). Atau disingkat “Abu Bakar al-Kalabadzi”. Ia seorang ulama sufi ahli hadis yang hidup sebelum imam al-Ghazali. Jarak tahun antara wafatnya Abu Bakar Kalabadzi dengan kelahiran imam al-Ghazali sekitar 68 tahun (imam al-Ghazali lahir pada tahun 1058 M). Ia bergelar “Tajul Islam” (artinya: mahkota Islam). Ahli fikih madzhab Hanafi dan juga ahli hadis.

Sekedar untuk mengetahui keahliannya dalam bidang hadis adalah, beliau menulis kitab hadis berjudul “Bakhr al-Fawa’id fi Ma’ani al-Akhbar”. Kitab ini memuat sekitar 222 hadis. Dari segi tempat kelahiran dan tumbuh besar, al-Kalabadzi lahir di Kalabadz suatu distrik di kota Bukhoro, tempat lahir imam hadis terbesar, imam al-Bukhari. Meski tidak sezaman dengan imam Bukhari yang hidup sebelumnya (al-Bukhari wafat tahun 870 M satu berjarak 120 tahun dengan wafatnya al-Kalabadzi), dimungkingkan pengaruh tradisi ilmu hadis cukup kuat dalam al-Kalabadzi. Singkatnya, ia ulama tasawuf yang ahli hadis.

Ia sezaman dengan Abu Nasr al-Sarraj al-Thusi (wafat tahun 988 M), seorang ulama tasawuf yang menulis kitab “Al-Luma fi al-Tasawuf. Sebuah kitab penting yang menjelaskan sejarah, definisi, kontrofersi dan urgensi tasawuf.

Tetapi, menurut Abdul Halim Mahmud (Syaikh al-Azhar tahun 1970-1978), kitab “At-Ta’arruf” merupakan kitab tasawuf yang sistematis yang paling tua, paling rinci, paling murni tentang pengertian tasawuf, ajaran dan tokoh-tokohnya.

Kelebihan kitab ini antara lain adalah; ia ditulis pada akhir abad ke-4 H. Yaitu masa dimana ilmu tasawuf mencapai puncak kematangan, dan kesempurnaan. Baik dari sisi metodologi maupun dari sisi tokoh-tokohnya. Fase-fase sebelumnya adalah, masa pembentukan. Sehingga wajar ada sisi-sisi pro dan kontra.

Kelebihan lainnya adalah kitab ini, meskipun tua, disajikan dengan bahasa yang cukup mudah dipahami, uslub (gaya bahasa) yang tidak terlalu rumit dan tidak bersayap, urutan penyajian tema sistematis, dan tidak terlalu tebal. Cetakan Darul Kutub al-Ilmiyah tahun 2011 dengan ketebalan 232 dengan footnote.

Baca: Tasawuf dan Gerakan Pemalsuan Sufi 

Jumlah bab kitab ini adalah 75 bab. Dengan tiap bab, bahasan singkat, pendek, langsung pada pokok persoalan. Diawali dengan tema yang teramat penting dalam isu ilmu tasawuf, yaitu alasan kenapa ilmu ini dinamakan tasawuf.

Kajiannya agak mirip dengan Nasiruddin al-Sarraj al-Thusi (penulis kitab al-Luma’), yang mengawalinya dengan diskusi tentang pengertian tasawuf dan keabsahan penggunaannya kenapa dinamakan tasawuf. Tetapi, pembahasan kitab “At-Ta’arruf” lebih singkat tanpa mengurangi kepentingan bahasan tema. Bab pertama dibuka dengan judul:

قولهم في الصوفية ولم سميت الصوفية صوفية

“Pendapat para ulama tentang tasawuf dan Mengapa Mereka Menamakan dengan Sufi”.

Dalam bab pertama ini, al-Kalabadzi tidak memberikan definisi tertentu terhadap tasawuf. Akan tetapi, ia memberi penjelasan kenapa seorang itu disebut sufi, siapa itu sufi, dan kenapa amaliyah sufi itu disebut tasawuf.* (BERSAMBUNG)

The post Kitab “Al-Ta’arruf” dan Para Peragu Tasawuf appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
147045
Kristenisasi Membawa Misi Peradaban http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2018/03/20/138363/kristenisasi-membawa-misi-peradaban.html Tue, 20 Mar 2018 09:31:43 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=138363

Pembaca akan dibawa pada konsep inti kristenisasi hingga upaya-upaya strategis sampai dalam ranah peradaban di bumi Nusantara

The post Kristenisasi Membawa Misi Peradaban appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

KRISTENISASI yang hingga sekarang masih terus berjalan dan bergulir dengan barbagai varian dan caranya yang canggih, terkadang masih kurang dipahami dan disikapi secara tepat oleh umat Islam.

Dalam bidang penulisan buku-buku yang ditulis umat Islam mengenai tema kristenisasi misalnya, yang dibahas masih hal-hal yang permukaan dan belum menembus ke arah yang lebih subtansial. Dalam nuansa demikian, buku berjudul “Berebut Indonesia Pergumulan Kultural Misi Kristen dan Dakwah Islam” hendak  mengisi kekosongan tersebut.

Buku ini ditulis oleh Arif Wibowo. Intelektual muslim muda ini terlahir di Purworejo 5 Februari 1971. Beliau menyelesaikan S-1 di Fakultas Pertanian pada 1995, dan melanjutkan S-2 di Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Penulis yang juga berprofesi sebagai bakul beras ini sempat aktif di berbagai organisasi seperti: GPI (Gerakan Pemuda Indonesia), PBB (Partai Bulan Bintang), dan DDII (Dewan Dakwah Islamiah) Surakarta. Sekarang menjadi Direktur PSPI (Pusat Setudi Peradaban Islam) dan peneliti  Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS).

Selain menulis buku, beliau juga aktif menulis artikel di berbagai media online.

Buku ini terdiri dari empat belas bab yang tema intinya demikian: Pertama, mengenal Misi Kristen. Kedua, penginjilan di dunia Islam. Ketiga, Nusantara sebelum Kristen datang. Keempat, kedatangan Katolik dan Protestan. Kelima, Abad Misi dari Penginjilan ke Kristenisasi. Keenam, Jawa, Sebuah Eksperimen. Ketujuh, Penginjilan Kebudayaan. Kedelapan, Kebatinan, Penginjilan Jalan Memutar. Kesembilan, Kristenisasi Akar Rumput. Kesepuluh, Merespon dengan Dakwah. Kesebelas, Melanjutkan Dakwah Peradaban. Keduabelas, Perlawanan Muhammadiyah. Ketigabelas, Muhammad Natsir Modus Vivendi dan DDII. Keempatbelas, Nahdhatul ‘Ulama Garda Depan Dakwah Kultural.

Baca: “Mengkristenkan Jawa”

Dalam kata pengantar buku ini, Dr. Adian Husaini (Pembina INSISTS) mengatakan bahwa buku yang ditulis oleh Arif Wibowo ini membahas problem Kristenisasi di Indonesia.

Yang menjadi menarik dari buku ini, dibanding dengan buku-buku lain yang bergenre kristenisasi adalah penulis bukan saja memiliki pengetahuan luas tentang literatur seputarnya, tapi juga melakukan interaksi dan dialog kebudayaan dengan pelaku misi.

Melalui buku ini, pembaca akan dibawa pada suatu kenyataan yang selama ini barangkali belum terpikir, bahwa: misi Kristen yang akrab dikenal orang dengan kristenisasi, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

ILustrasi buku Berebut Indonesia dan kegiatan kristen di Jawa

Menurut pengalaman Arif Wibowo, dalam pendahuluan bukunya, bahwa misi Kristen bukan sekadar prosilitisasi, diakonia atau konversi keagamaan. Lebih dari itu, misi Kristen juga pada tingkat peradaban.

Selain itu, dengan membaca buku ini, pembaca akan dibawa pada konsep inti kristenisasi hingga upaya-upaya mereka secara strategis sampai dalam ranah peradaban yang diperjuangkan di bumi pertiwi.

Sesuai dengan judul buku, bila kita membaca pergumulan kultural misi kristen dan dakwah Islam di Indonesia, maka sebenarnya apa yang dilakukan keduanya adalah berebut Indonesia hingga pada taraf peradaban.

Sejak kedatangannya pertama kali di Nusantara dan kemudian disokong oleh penjajah dan sampai berkembang sedemikian rupa hingga sekarang, umat Islam seharusnya jangan menganggap remeh masalah ini.

Tokoh-tokoh muslim Indonesia seperti Hamka, Natsir, Ahmad Dahlan dulu sudah berusaha mengatasi problem ini. Sedangkan ormas seperti Muhammadiyah, NU dan DDII misalnya, juga berupaya membendung arus deras kristenisasi dengan caranya masing-masing. Lalu bagaimana dengan umat Islam sekarang?

Penyajian buku dengan bahasa populer membuat buku ini gampang dicerna dan dipahami. Meski tema-tema yang diangkat kadang-kadang hal yang serius dan berbobot, namun karena kepiawaian penulis dalam mengolah kata, maka isinya menjadi renyah dan gurih untuk dibaca. Bagi siapa saja yang menginginkan bacaan bermutu dan ‘tidak biasa’ terkait kristenisasi maka disarankan membaca buku ini.

Baca: “Misi Kristen dan Budaya Jawa”

Secara umum buku ini berkonten menarik, inspiratif, dan mencerahkan. Hanya saja, adanya kesalahan-kesalahan pengetikan huruf (seperti: pengawasa [hal. 262] seharusnya ‘penguasa’, kecenderingan [hal. 264] harusnya kecenderungan dan lain-lainnya) atau penulisan kata, misalnya: lahirpun [hal. 15] seharusnya dipisah ‘lahir pun’.

Selain itu misalnya: kata yang seharusnya Najasyi pada hal 16 ditulis “Najyasi” (dalam catatan sejarah, Najasyi itu sebutan gelar raja di Habasyah bukan nama raja. Seperti halnya gelar raja di Persia disebut Kisra atau di Romawi disebut Kaisar)  dan lain-lain  namun masih bisa dimengerti.

Sisi lain yang menurut peresensi kurang begitu bagus dari buku ini adalah cetakan bukunya kurang bagus karena penjilitannya kurang kuat. Pada hal IV misalnya, kertasnya hampir copot karena jilidanya kurang kuat dan ada pula bekas-bekas lem atau apa namanya yang membuat bercak cokelat sehingga terlihat kurang bersih.

Mengingat Kristenisasi juga merambah sampai ke ranah peradaban, di akhir pembahasan (Hal: 264-269) ada beberapa usulan mendesak yang diajukan oleh Arif  Wibowo: Pertama, mendesaknya dakwah berbasis riset. Kedua, merajut Islam dengan kebudayaan lokal. Ketiga, penguatan lembaga sosial politik dan kemasyarakatan umat Islam. Keempat, tim dakwah ke kalangan non muslim.

Akhirnya, dengan kehadiran buku berbobot ini, mudah-mudahan umat Islam semakin sadar mengenai kristenisasi. Di samping itu, langkah-langkah yang diambil ke depan untuk menghadapinya lebih strategis dan menyentuh ranah yang jauh lebih subtansial.

Sebagai penutup, kata-kata menarik Dr. Husaini dalam pengantar (Hal: XIV) ini bisa direnungkan, “Umat Islam seharusnya memiliki semangat untuk tidak mau kalah dengan Kaum Kristen dalam berbagai bidang: pendidikan, sosial dan lain sebagainya. Dengan semangat dan amanh ‘Umat Terbaik’ (khaira ummah), umat Islam dapat memandang Kristenisasi dari ‘kacamata positif’ untuk meningkatkan kualitas umat.” */Mahmud Budi Setiawan

Judul buku          : Berebut Indonesia Pergumulan Kultural Misi Kristen dan Dakwah Islam di Indonesia

Penulis                 : Arif Wibowo

Penerbit               : PSPI Publising 2018

Tebal                    : 280 halaman

Genre                   : Agama dan Kebudayaan

Harga                  : 80.000

The post Kristenisasi Membawa Misi Peradaban appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
138363
Umat Islam harus Miliki Pola Pikir Surgawi http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2017/10/25/126503/umat-islam-harus-miliki-pola-pikir-surgawi.html Wed, 25 Oct 2017 02:42:29 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126503

Hidayatullah.com—Orang beriman harus memiliki pola pikir surgawi. Pola pikir ini penting mengingat banyaknya pola pikir sesat yang dapat menjerumuskan konsep […]

The post Umat Islam harus Miliki Pola Pikir Surgawi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com—Orang beriman harus memiliki pola pikir surgawi. Pola pikir ini penting mengingat banyaknya pola pikir sesat yang dapat menjerumuskan konsep hidup manusia ke jalan yang salah dan mengarah ke neraka.

Adapun pola pikir surgawi yang dia maksud adalah sebuah cara berpikir dan melihat sesuatu sesuatu sesuai dengan cara pandang Al-Qur’an dan Sunnah.

“Orang yang menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai pola pikir serta acuan hidup maka akan selamat dan berujung kepada Surga,” demikian disampaikan  Imam Nawawi, penulis buku Mindset Surga pada kajian malam Jum’at (20/10/2017) di Masjid Hidayatullah, Karang Bugis Balikpapan, Kalimantan Timur.

Imam mengambil contoh bagaimana manusia melihat sektor ekonomi. Tak sedikit manusia yang menggunakan cara berpikir kapitalistik dalam mendudukkan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, lanjutnya, konsep ekonomi kapitalistik bersumber dari pemikiran para ahli ekonomi barat yang sekular dan bertentangan dengan konsep ekonomi syariah Islam.

Islam sendiri memandang sektor ekonomi harus dengan kaca mata Al-Qur’an dan Sunnah. Semuanya telah dijabarkan secara detail dan jelas. Sebuah konsep ekonomi non-ribawi yangmenyejahterakan dan membahagiakan manusia dunia dan akhirat.

Sayangnya, dalam hal ini, tidak sedikit orang yang justru tertarik pada ekonomi kapitalistik daripada ekonomi syari’ah. Mirisnya, justru kebanyakan dari kalangan umat Islam sendiri.

Acara yang dimoderatori M Usamah, alumni PENS ITS ini ikut menghadirkan  pembanding praktisi pendidikan asal Kalimantan Timur, Dr Abdurrohim. Dalam keterangan tertulisnya,   ia mengatakan, buku Mindset Surga bisa menjadi oase di tengah kehidupan sehari-hari yg menggerus sensivitas terhadap hakikat kehidupan dan penciptaan.

Menurutnya, budaya hidup hedonisme dan materialisme, membuat sebagian masyarakat lupa dan abai tentang hakikat dan tujuan akhir dari semuanya, yaitu kampung akhirat.

“Tetapi dari semua itu, yang paling penting adalah dengan mindset surga kita mampu menghadirkan atmosfir surgawi dalam kehidupan keseharian di masyarakat, keluarga, dan lingkungan sekitar,” kata doktor sejarah lulusan UIN SUKA Jogjakarta yang saat ini menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Balikpapan itu.

Abdurrahim memuji kreatifitas Imam Nawawi yang produktif menulis di berbagai media. Seperti diketahui, Imam saat ini adalah Sekjen Syabab Hidayatullah, organisasi kepemudaan di bawah organisasi masa Hidayatullah.

Tulisan-tulisan Imam telah menghiasi berbagai media masa, baik cetak mau pun online. Termasuk hidayatullah.com dan Majalah Suara Hidayatullah, Republika. Tradisi menulis ini sudah menghasilkan  tiga buku .

Acara bedah buku ditutup dengan tanya jawab. Ada lima pertanyaan yang diajukan oleh para jemaah. Setiap penanya dapat hadiah satu buku karya kedua Imam yang berjudul, “Change Yourself to Change The World”.*/Saiful Anshor

 

The post Umat Islam harus Miliki Pola Pikir Surgawi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
126503
Berdoalah dalam Urusan Apa Pun http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2017/10/19/125981/berdoalah-dalam-urusan-apa-pun.html Thu, 19 Oct 2017 09:40:38 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125981

Mintalah sepenuh hati seraya besungguh-sungguh menyempurnakan tawakal, bahkan ketika terlihat mustahil untuk berhasil. Ingatlah Bunda Hajar, ibu dari Nabi Ismail AS.

The post Berdoalah dalam Urusan Apa Pun appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com–Doa adalah sejata kaum Muslimin. Tapi mengapa bibir sampai lelah, doa tak kunjung dikabulkan. Nah, jawabnya ada di dalam buku ini

Berdoalah, bahkan ketika seolah sudah tidak mungkin. Betapa banyak yang meraih kesembuhan, justru saat ia telah divonis tinggal menunggu waktu.

Mintalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sepenuh kesungguhan, bahkan ketika jalan keluar seakan sudah buntu dan solusi sudah tak ada lagi. Ingatlah tatkala Musa AS membelah laut, bukankah ketika itu semua jalan sudah tertutup? Tetapi Allah Subhanahu Wata’ala bukakan jalan yang tak terpikir oleh manusia, tak pernah pula berulang di masa-masa berikutnya.

Baca: Doa Dengan Hadits Dhaif, Boleh?

Mintalah sepenuh hati seraya besungguh-sungguh menyempurnakan tawakal, bahkan ketika terlihat mustahil untuk berhasil. Ingatlah Bunda Hajar, ibu dari Nabi Ismail AS. Berlari-lari ia dari Shafa ke Marwa, berputar balik berulang-ulang seolah sia-sia tiada hasil. Tetapi inilah yang Allah Subhanahu Wata’ala tinggikan kebaikannya. Allah ridhai. Inilah ketaatan yang Allah Subhanahu Wata’ala muliakan sehingga kemudian Ia karuniakan zam zam melalui hentakan kecil kaki Ismail.

Demikian prolog dalam buku Berdoalah dalam Urusan Apa Pun karya Muhammad Fauzil Adhim. Penulis kelahiran Jombang ini dikenal sebagai penulis buku-buku pernikahan dan parenting. Hampir semua bukunya bertema dua hal ini  best seller.

Kali ini penulis lulusan psikologi Universitas Gajah Mada ini keluar dari spesialisnya. Bermula dari kegelisahan Fauzil melihat praktek-praktek doa di kalangan umat Islam.

Suatu waktu ia hadir dalam suatu kegiatan. Penyelenggara kemudian mencoba mengobarkan semangat untuk bedoa. Tapi dengan cara yang salah.

“Tulislah doa Anda dengan rinci,” katanya, “Tulislah dengan lengkap, selengkap-lengkapnya. Apa saja. Mau mobil, kalau perlu warnanya apa, mereknya apa. Makin lengkap makin baik.”

Fauzil mengaku, tuntunan seperti di atas tak pernah ia temukan. Justru hal seperti itu berlebihan dan berlebihan dalam bedoa itu dilarang. Mengapa?

Baca: Doa Orang yang Dianiaya

Jawabannya bisa di baca pada bagian pertama buku ini dengan judul ‘Berdoa dalam Amplop (h. 12-26)

Pada kesempatan lain, Fauzil melihat umat ini tidak sopan jika berda. Kita meminta kepada Allah Subhanahu Wata’ala, tetapi kepada-Nya kita bersikap seolah lebih mengetahui atau bahkan serasa memberi kuliah. Lebih dalam soal ini, Fauzil membahas dalam buku ini dengan judul ‘Berdoa yang Tidak Sopan,’ (h. 31-38).

Masih ada puluhan kegelisahan penulis tetap di majalah Suara Hidayatullah ini. Lebih lengkapnya silakan baca bukunya. Selama membaca.*

 

Judul Buku       : Berdoalah untuk Urusan Apa pun

Penulis               : M Fauzil Adhim

Pesan buku      : 0813-3000-1456,  SMS/Whatsapp: 0813-3000-1456

The post Berdoalah dalam Urusan Apa Pun appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
125981
Idlib Dibanjiri Pengungsi dari Aleppo http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/12/30/108818/idlib-dibanjiri-pengungsi-dari-aleppo.html Fri, 30 Dec 2016 03:24:11 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=108818

Sekitar 35.000 penduduk meninggalkan Aleppo setelah pemerintah Suriah mengambil alih kota itu

The post Idlib Dibanjiri Pengungsi dari Aleppo appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Hidayatullah.com–Ribuan penduduk Aleppo yang melarikan diri dari kota itu kini berbondong-bondong menuju Idlib dengan banyak mengalami penderitaan akibat infeksi kuman pada luka yang dialami selain mengalami hipotermia dan kekurangan gizi.

Maram, anak berusia 5 bulan, menjadi salah satu pasien yang ditangani oleh ahli bedah, dr. Mounir Hakimi.

“Dia kehilangan kedua orang tuanya dalam serangan udara, terdapat beberapa tulang yang patah, luka di perutnya, dan kehilangan sebagian kulit”, ujar Hakimi.

Menurutnya, Maram sempat ditinggal di rumah sakit, hingga kemudian diangkut oleh ambulans evakuasi.

Hakimi melanjutkan, kasus Maram banyak dialami oleh pengungsi lainnya. Dokter di Idlib telah melihat puluhan luka yang terinfeksi secara serius.

Menurut Hakimi, beberapa diantaranya kemungkinan perlu diamputasi atau harus mengalami cacat jangka panjang dan permanen.

Staf medis terutama dokter bedah melaporkan telah melakukan operasi hingga 12 jam sehari sedangkan perlengkapan medis terpaksa ditambah dua kali lipat dari kebutuhan normal.

Dokter di Idlib menyaksikan puluhan korban mengalami luka yang terinfeksi kuman dan mulai membusuk akibat cedera yang dialami akibat serpihan peluru atau bom.

Aleppo, Kota Para Ulama Ahlus Sunnah yang akan jadi ‘Kota Syiah”?

Menurut Ketua Suriah Relief, Mounir Hakimi yang juga dokter bedah, banyak korban yang terluka terpaksa harus diampurasi.

“Akibat serangan berkelanjutan di Aleppo, serpihan bom atau peluru tertanam pada tulang belakang korban terutama anak-anak menyebabkan mereka lumpuh dan kami menyaksikan anak-anak menjadi buta sebelah mata akibat serpihan itu, ” katanya dikutip Aljazeera, Rabu (28/12/2016).

Banyak warga  mulai mengalami gejala trauma psikologis.

“Seorang ayah yang memiliki putra berusia tiga tahun bertanya-tanya mengapa anaknya masih belum bisa berbicara. Anaknya lahir selama pertempuran meletus namun sampai hari ini masih tidak mampu berkata-kata karena mengalami kejutan dari serangan itu, ” katanya.

Infrastruktur medis di Idlib telah mengalami kerusakan sebelum evakuasi penduduk Aleppo setelah serangan bom barel selama lima tahun dan serangan udara Rusia terhadap rumah sakit, kantor pertahanan sipil dan sekolah.

Maram adalah salah satu dari 35.000 orang yang meninggalkan Aleppo pekan lalu saat pasukan rezim Bashar al Asaad  merebut kembali wilayah timur yang sebelumnya dikuasai milisi pembebasan.Mereka pergi ke propinsi Idlib, di mana mereka berharap bisa memulai hidup baru.

Para pengungsi baru itu merasakan situasi keamanan yang lebih baik di kota Idlib, sangat kontras dengan pertempuran dan serangan-serangan udara yang mengepung Aleppo dalam beberapa pekan terakhir ini.

“Situasi di kota ini tenang,” kata Abd al-Latif Tarboush, seorang warga Aleppo yang tiba di  Idlib pekan ini. “Tidak ada pemboman atau pertempuran, terima kasih Tuhan.”

Ribuan Warga Pro Bashar Rayakan Kemenangan Jatuhnya Aleppo Timur

Meski demikian, beberapa pekan lalu dilaporkan terjadi serangan-serangan udara di daerah pinggiran Idlib.

Idlib sudah menjadi sasaran serangan udara Suriah dan Rusia, namun belum jelas apakah Suriah akan mengirimkan pasukan darat ke sana atau untuk sementara ini hanya mengepung mereka.

Komite Penyelamatan Internasional berkata bahwa “Selamat dari Aleppo bukan berarti selamat dari perang. Setelah menyaksikan kebrutalan serangan terhadap penduduk Aleppo, kami sangat khawatir bahwa pengepungan dan bom curah akan mengikuti ribuan orang yang tiba di Idlib.”*

The post Idlib Dibanjiri Pengungsi dari Aleppo appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
108818
Cara ulama Menyelesaikan Ikhtilaf dalam Hadits http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/11/10/104787/cara-ulama-menyelesaikan-ikhtilaf-dalam-hadits.html Thu, 10 Nov 2016 07:30:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=104787

Adakalanya saat mengkaji kitab-kitab hadits, kita akan menemukan hadits yang secara lahiriah bertentangan. Misal bertentangan dengan al-Quran, bertentangan dengan Hadits […]

The post Cara ulama Menyelesaikan Ikhtilaf dalam Hadits appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Adakalanya saat mengkaji kitab-kitab hadits, kita akan menemukan hadits yang secara lahiriah bertentangan. Misal bertentangan dengan al-Quran, bertentangan dengan Hadits lainnya, bertentangan dengan akal/logika bahkan bertentangan dengan Ijma’.

Contoh yang bertentangan dengan ijma’ adalah hadits tentang hukum bunuh bagi peminum khamr. Dari Muawiyyah bin abu Sufyan ia berkata, “Rasulullah bersabda : Jika mereka minum khamr maka cambuklah, jika mereka minum lagi cambuklah, jika mereka minum lagi maka cambuklah, dan jika mereka minum lagi maka bunuhlah” (Sunan abu Dawud, no 3886).

Hadits ini dianggap bertentangan dengan ijma’, yang menyatakan bahwa hukum diatas telah di nasakh oleh hadits lain yang menyatakan bahwa hukuman bagi peminum khamr adalah dipukul, tidak sampai dibunuh.

Hadits-hadits yang bertentangan akan memunculkan masalah bahkan kebingungan bagi orang awam, bagaimana cara menyikapinya agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah umat? Oleh karena itulah Dr Salamah Noorhidayati menulis buku tentang ilmu “Mukhtalif al-Hadits” (Yogyakarta : Lentera kreasindo, 2016). Dalam bukunya yang tebalnya 220 halaman ini, dosen IAIN Tulungagung tersebut menjelaskan kepada pembaca bagaimana ulama-ulama terdahulu merumuskan cara atau metodologi penyelesaian hadits-hadits yang secara lahiriah bertentangan alias kontradiktif.

Terdapat empat faktor penyebab terjadinya pertentangan/ikhtilaf dalam hadits.

Pertama, Latar belakang munculnya sebuah hadits. Kedua, faktor yang menyangkut redaksi teks hadits yang memang terkesan bertentangan. Ketiga, Faktor yang disebabkan oleh konteks dimana Rasulullah saw menyampaikan hadits dan kepada siapa beliau berbicara. Keempat, Faktor yang berkaitan dengan metode seseorang ulama memahami hadits dan kelima, Faktor mazhab atau ideologi seseorang ketika memahami suatu hadits. Contohnya hadits tentang kawin mut’ah, hadits tentang boleh tidaknya bertawasul kepada Nabi atau hadits tentang imamah vs khilafah (Dr Salamah Noorhidayati, 2016, hal 41-43).

Pencetus ilmu Mukhtalif hadits dalam sejarah peradaban  Islam adalah Imam Syafi’i. Beliau menulis kitab khusus berjudul Ikhtilaf al-Hadits. Menurut Dr Salamah Noorhidayati, sebagai peletak dasar ilmu ini, usaha Imam syafi’i diteruskan oleh ulama bernama Ibn Qutaibah. Imam syafi’i menawarkan penyelesaian untuk hadits yang nampak bertentangan. Pertama, al-jam’u wa at-Taufiq.

Kedua, metode an-Naskh dan terakhir Tarjih. Sementara Ibn Qutaibah menwarkan 2 metode yaitu al-Jam’u dan Tarjih. Metode nasakh terkadang beliau gunakan apabila suatu hadits dianggap cacat. (hal 92-94).

Selain ketiga metode diatas, masih ada metode “at-tasaqut” yang dalam istilah Ibnu hajar al-Asqalani disebut “at-tawwaquf”. Ini sebuah metode yang membuat ulama tidak mengamalkan kedua hadits yang Nampak kontradiktif atau menangguhkannya sambil menunggu petunjuk dari Allah swt dalam menyelesaikan pertentangan tersebut (hal 101-102).

Untuk meneliti lebih jauh hadits mukhtalif, bisa ditempuh dengan jalan sebagai berikut :

1) Menentukan tema hadits, 2) Melakukan takhrij Hadits, 3) Mendokumentasikan hasil takhrij, 4) Mencatat hadits dan mengidentifikasi ada tidaknya perbedaan redaksi dalam matan hadits (hal 127-128)

Keberadaan Mukhtalif al-Hadits dengan berbagai bentuknya bisa berimplikasi pada dua hal: Pertama memunculkan perbedaan pendapat dan kedua, menyebabkan perpecahan. Menurut Dr Salamah, perbedaan yang pertama adalah perbedaan dalam hal furu’iyyah dan variasi ibadah. Menyikapi hal ini perlu kedewasaan sikap, toleransi dan objektivitas ilmiah (hal 182).

Sebelum mengakhiri tulisan ini, dengan mengetahui metode ulama dalam menyelesaikan ikhtilaf dalam hadits, akan membuat seseorang tidak buru-buru mengatakan bahwa hadits yang redaksi/isinya bertentangan itu palsu. Wallahu’allam bishowwab.*

Fadh Ahmad Arifan | Pengajar ilmu Hadits di MA Muhammadiyah 2 Kota Malang

The post Cara ulama Menyelesaikan Ikhtilaf dalam Hadits appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
104787
Mengenal Lebih Dekat Buya HAMKA http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/09/22/101315/mengenal-lebih-dekat-buya-hamka.html Thu, 22 Sep 2016 05:35:01 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=101315

“Sehari sebelum Buya Hamka wafat, pada 25 Juli 1981 malam saya bermimpi. Saya melihat sebuah mobil Lincoln-Continental besar, berkilau-kilau, enam […]

The post Mengenal Lebih Dekat Buya HAMKA appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

“Sehari sebelum Buya Hamka wafat, pada 25 Juli 1981 malam saya bermimpi. Saya melihat sebuah mobil Lincoln-Continental besar, berkilau-kilau, enam pintu, perlahan-lahan berhenti. Pintu paling belakang sebelah kiri pelan-pelan membuka. Dari dalamnya keluar seorang laki-laki, gagah, berjubah panjang terbuat dari emas berkilau-kilau di bawah cahaya matahari. Saya terpana. Laki-laki berjubah emas itu Buya Hamka,” demikian tutur Sastrawan Besar Indonesia, Dr. Taufiq Ismail memberi kata pengantar dalam buku ini.

Sebuah buku yang berkisah tentang riwayat hidup seorang Ulama Besar Indonesia. Sastrawan juga Negarwan. Dia adalah H. Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Hamka (1908-1981). Ditulis oleh Irfan Hamka, putra kelima dari sepuluh bersaudara putra-putri beliau (7 laki-laki, 3 perempuan).

Karya masterpiece-nya yang banyak dikagumi umat Islam adalah Tafsir AlQur’an 30 Juz yang diberi nama Tafsir Al-Azhar. Nasehat dan dakwahnya yang begeitu sejuk, membumi, dan aktual sangat disukai banyak jema’ah Masjid Agung Al-Azhar, Pemirsah TVRI, Pendengar RRI, serta jemaah lainnya yang menghadiri taklim-taklim yang diisi oleh Buya Hamka sebagai penceramahnya. Tulisan-tulisannya, baik dalam bentuk buku, artikel, opini, hasil wawancara, dan lain sebagainya abadi sampai saat ini.

Mungkin, selama ini kita baru mengenal Hamka sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama. Seniman yang melahirkan karya besar dalam dunia sastra seperti; Di Bawah Naungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Vanderwijk. Negarawan yang menjadi angota Konstituante dari Partai Masyumi pada tahun 1955. Jurnalis senior yang memimpin majalah Pandji Masyarakat.

Namun, lewat karya setebal 323 halaman ini, kita akan mengenal Buya dari sudut pandang berbeda. Sudut pandang seorang anak dalam mengenang ayahnya. Sebagai Insan biasa yang menikah dan berkeluarga. Buya Hamka memiliki kisah-kisah sederhana, menarik, dan sangat inspiratif.

Contohnya saja cerita tentang si kuning. Seekor kucing peliharaan beliau berwarna kuning loreng yang berumur seperempat abad. Setiap kali Buya berangkat shalat ke Masjid Agung Al Azhar di depan rumahnya, si kuning selalu ikut dan menunggu di pintu. Bilamana Buya sedang menulis, beliau bersila, maka si kuning akan tiduran di pangkuannya dengan tenang.

Cerita Buya Hamka yang berkomunikasi dan membuat “kesepakatan” denganInnyiak Batungkek atau Kakek Bertongkat. Sosok Jin yang sering jail dan mendiami rumah barunya di Kebayoran Lama. Cara Buya Hamka memberi pendekatan dan pemahaman yang utuh tentang tasawuf kepada masayrakat Minang yang terlanjur keliru menyamakan tasawuf dengan ilmu kesaktian. Dan masih banyak lagi kisah-kisah lainnya.

Buku ini ibaratnya pohon yang rimbun dengan buah-buahnya yang ranum. Memetik dan menyantapnya akan melegakan jiwa yang merindu. Selamat memetik!* /M Rizky Utama

Buku                    :  Ayah… Kisah Buya Hamka

Penulis                 : Irfan Hamka

Tebal                     : 323 halaman

Penerbit              : Republika Penerbit

Cetakan               : Kesepuluh, September 2015

The post Mengenal Lebih Dekat Buya HAMKA appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
101315
Mengungkap Kebenaran Wahyu Melalui Fakta Ilmiah http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/05/03/94259/mengungkap-kebenaran-wahyu-melalui-fakta-ilmiah.html Tue, 03 May 2016 14:01:51 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=94259

Di masa kini fenomena bulan terbelah telah dibuktikan secara ilmiah oleh NASA yang telah banyak melakukan penelitian ruang angkasa.

The post Mengungkap Kebenaran Wahyu Melalui Fakta Ilmiah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Dr. Zakir Naik, seorang ulama India dan dai ahli perbandingan agama yang kerap menyampaikan dakwah lewat debat dan ceramah di seluruh dunia, menulis buku berjudul Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah. Buku ini berisi tentang fenomena-fenomena yang ada di alam semesta ini sebagaimana tertuang di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang kemudian di zaman sekarang ini terbukti berdasarkan penelitian ilmiah.

Pada 1400 tahun yang lalu banyak orang kafir meragukan ungkapan di dalam hadist tentang bulan terbelah. Bahkan orang kafir Quraisy yang melihat langsung fenomena tersebut ketika meminta Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam membuktikan kenabiannya, tetap masih dalam ketidakpercayaan atas kejadian tersebut. Mereka justru menyatakan, kejadian itu hanya merupakan sihir belaka. Padahal di belahan wilayah lain di India dan China, para sejarawan masa lalu ada yang sempat mencatat peristiwa tersebut.

Di masa kini fenomena bulan terbelah telah dibuktikan secara ilmiah oleh NASA yang telah banyak melakukan penelitian ruang angkasa. Para ilmuwan NASA yang di antaranya telah melakukan pengamatan terhadap bulan, telah menemukan bukti ilmiah bahwa bulan pernah terbelah. Fakta yang mereka temukan, dahulu kala bulan pernah terbelah menjadi dua, kemudian menyatu kembali. Ada banyak bukti nyata yang bisa mengungkapkan hal ini berdasarkan penelitian pada permukaan bulan.

Dalam hadist yang disampaikan Anas bin Malik r.a menceritakan bahkan penduduk Makkah meminta Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wassalam untuk menunjukkan kepada mereka sebuah mukjizat, kemudian beliau menunjukkan kepada mereka bahwa bulan terbelah. (HR Bukhari).

Umat Islam juga meyakini fenomena adanya bulan terbelah berdasarkan ayat Al-Qur-an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Telah dekat datangnya saat itu (Kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus.’ Mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat peringatan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmah yang sempurna. Maka, peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).” (Al-Qamar: 1-5).

Zakir Naik menuliskan banyak aspek disiplin ilmu yang telah menemukan bukti-bukti ilmiah dari apa-apa yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dari aspek astronomi, para ahli astrofisika telah mengungkapkan fenomena ‘Big Bang’ tentang terciptanya alam semesta. Menurut teori Big Bang, seluruh alam semesta pada awalnya berbentuk satu massa yang besar (Nebula Primer). Kemudian terjadi ‘Big Bang’ (Ledakan Pemisah Sekunder) yang mengakibatkan pembentukan galaksi. Kemudian, terbentuk dan terbagi dalam bentuk bintang, planet, matahari, bulan, dan lain-lain.

Berkenaan dengan fakta ini, Al-Qur’an telah berbicara dalam ayatnya, “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?” (Al-Anbiya’: 30).

Kemudian Sir Francis Drake adalah orang pertama yang membuktikan bumi bulat. Kesimpulan itu ia dapatkan setelah berlayar mengelilingi bumi pada 1597. Sebelumnya banyak orang takut bepergian terlalu jauh karena khawatir jatuh dari ‘tepian’ bumi.

Allah berfirman dalam Az-Zumar ayat 5, “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Dialah Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” Kata bahasa Arab ‘Kawwara’ yang digunakan pada ayat ini berarti tumpang tindih atau menggulung seperti jalinan surban yang dililitkan di kepala. Tumpang tindih antara siang dan malam hanya akan terjadi jika bumi itu bulat.

Dari aspek fisika, Al-Qur’an telah menyebut dharrah (Saba’: 3), yakni suatu partikel yang lebih kecil dari atom. Ilmu pengetahuan moderen pun telah menemukan bahwa ada materi yang lebih kecil dari atom. Dalam aspek geologi, Al-Qur’an menyebut gunung-gunung sebagai pasak (An-Naba’: 6-7), kemudian buku sains ‘Earth’ yang menjadi rujukan ilmu geologi telah menggambarkan gunung berbentuk pasak.

Demikian pula Al-Qu’ran telah menyebut beberapa hal lain, yang telah terbukti secara ilmiah dalam disiplin ilmu geografi, oseanologi, biologi, zoologi, embriologi, fisiologi, dan lainnya. Ini membuktikan kebenaran wahyu yang telah disampaikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada utusannya Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam pada 14 abad yang silam. Kebenaran wahyu tersebut juga banyak yang telah terbuktikan sebagaimana tertuang di dalam As-Sunnah.

Dengan berkesesuasiannya antara risalah wahyu dari Allah dan fakta ilmiah, tentu saja diharapkan semakin memudahkan orang dalam meyakini kebenaran agama Islam. Tidak ada sesuatu yang mengetahui seluruh kejadian di alam semesta ini, kecuali Allah. Dan Allah melalui Rasul-Nya telah mengabarkan jauh sebelum fakta-fakta ilmiah membuktikan. Semua hal yang telah dibuktikan secara ilmiah tersebut, akan menjadi rahmat bagi umat Islam, dan menjadi pengajaran bagi seluruh umat manusia yang bersedia membuka hati dan pikirannya akan kebenaran wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.*

Judul Buku : Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah
Penulis: Dr. Zakir Naik
Penerbit: Aqwam, Solo, Januari 2016, Tebal 224 halaman

The post Mengungkap Kebenaran Wahyu Melalui Fakta Ilmiah appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
94259
Melejitkan Inovasi Santri Ala Rumi http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/04/22/93594/melejitkan-inovasi-santri-ala-rumi.html Fri, 22 Apr 2016 06:32:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=93594

RUMI menginginkan kita agar mendengar intuisi dan suara hati yang pada gilirannya akan melahirkan rasa dan kenginan bari (hal. 33) […]

The post Melejitkan Inovasi Santri Ala Rumi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

RUMI menginginkan kita agar mendengar intuisi dan suara hati yang pada gilirannya akan melahirkan rasa dan kenginan bari (hal. 33)

Pada pertengahan April lalu, saya mendapatkan hadiah dari Konya, Turki. Dalam pesannya, saya akan dikirimi buku hasil terjemahan dan hasil editorianya sendiri tentang Masnawi Jalaluddin Ar-Rumi, dikarang oleh Prof. Nevzat Tarhan, rektor University of Uskudar, Istambul.

Di dunia pesantren Kitab Masnawi bukan kurikulum wajib pesantren,tapi paling tidak, substansi ajarannya telah merasuki raga pesantren sejak ratusan tahun lalu melalui tasawuf yang direfleksikan oleh para ulama nusantara pendiri pesantren tersebut.

Membaca lembar demi lembar racikan Tarhan ini sungguh mengasikkan ibarat berlayar di tengah samudera yang landai, ditemani angin sepoi dan ombak yang bersahabat, sambil lalu beragam makhluk bawah air yang menyunggingkan senyum dengan mutiara berkilau selalu memancar pada bahtera yang kita naiki. Pengalaman menyelami dunia Ar-Rumi dalam Masnawi-nya adalah pengalaman rohani tiada tara, lebih-lebih pada kurun abad XXI ini yang haus akan kembalinya sinar langit yang tergerus kapitalisme serakah (hal. 8), Tarhan telah memberikan jalan ke dunia Ar-Rumi untuk melindungi diri sebagai immunitas dunia modern dari keserakahan tersebut.

Dalam pandangan Tarhan, Rumi menawarkan berbagai bentuk terapi kejiwaan yang dapat menghindarkan kita dari berbagai tekanan kehidupan ini, sehingga berbagai kasus yang menimpa umat Islam ini, terutama kasus yang berkaitan timpangnya kejiwaan mereka, atau labilnya susunan syaraf mereka, sedikit terobati dengan membaca karyanya.

Bagi Tarhan, Rumi secara praktis tidak hanya berhasil menjawab problematika yang muncul pada zamannya, tetapi juga menjawab permasalahan demi permasalahan zaman-zaman setelahnya dengan merujuk kepada nilai-nilai yang diajarkan dan contoh-contoh yang ditunjukkanya (hal. 20). Menariknya, Tarhan mengekspos terapi Rumi dari sisi di mana ia menggeluti ilmu yang selama ini ia tekuni, yaitu ilmu kedokteran jiwa (psikiatri).

Terapi Rumi sangat dibutuhkan oleh mereka yang terserang panyakit berkaitan masalah jiwa, seperti iri, dengki, ujub, angkuh, sombong, egois, dan lain-lain. Karenanya, pencarian kecerdasan hati, kecerdasan emosi, potensi diri, prestasi diri, pengetahuan diri adalah berbagai istilah yang ada di lembaran buku ini , yang patut kita betot dengan teratur dan istikomah.

Dalam penelitian Tarhan, Rumi menganjurkan kita agar mempunyai pengetahuan tentang pengenalan diri sendiri (fasda’bin an-nafsi). Manusia mempunyai lima tipe gaya ketika merespon satu yang dapat diurutkan sebagai berikut: ketika berada pada sisi kuat, ketika berada pada sisi lemah, ketika memecahkan masalah, ketika berkomunikasi, dan ketika menghadapi kesempatan yang ada. Menurut Tarhan, sudut pandang lima dimensi ini adalah sudut pandang menyeluruh (hal. 28).

Kelimanya, akan berkaitan dengan DNA (genetika) seseorang. Seperti diketahui, DNA tersusun secara kompleks yang didalamnya terdapat sandi-sandi yang menentukan wujud dan nilai suatu hal. Apabila sandi-sandi itu diperlakukan menurut fitrahnya, pekerjaan yang dilakukannya akan berhasil dengan baik (hal. 21)

Sebagai karya yang berhulu pada kemurnian dunia kejiwaan, maka untuk seorang santri, konklusi lengkap ala terapi Rumi yang sampaikan dengan bahasa abad ini oleh Tarhan memang sangat pantas menjadi kajian dan renungan mendalam. Santri adalah sosok manusia integral yang mempunyai tingkat immunitas jiwa penuh prima. Sebaliknya, menjadi santri di dunia kontemporer adalah menjadi manusia paradoks yang siap terselubung dalam jerat kapitalisme. Jika tidak cerdas menyikapinya, santri akan menjadi manusia nyinyir  yang lebih parah dari manusia yang ‘bukan santri’.

Optimisme santri harus selalu dibangkitkan dengan terapi Masnawi ala Rumi ini, sebab optimisme adalah kunci utama dalam kehidupan orang yang mempunyai kecerdasan batin (hal. 57) walaupun secara dhahir barangkali ia nampak lemah dan dekil, ibaratnya, seorang yang buta tidak akan tahu berapa jauh jalan yang ditempuh, meskipun ia telah berjalan 100 tahun (Masnawi jilid VI: 417, hal. 183).

Untuk itu, menggunakan akal dan hati secara bersamaan dalam proses belajar, mengenali diri, empati, kemampuan berkomunikasi, motivasi diri, problem solving, kecerdasan emosi, mengelola waktu, mengelola stress dan amarah, toleransi dan memaafkan, gigih dalam usaha dan niat, disiplin dan bekerja dan dermawan, menjadi penengah, dan sebagainya (hal. 254-309) adalah untaian terapi Masnawi yang sangat bermanfaat.*

Ahmad Muhli Junaidi, S.Pd.

Guru Sejarah di SMA 3 Annuqayah dan PKn&IPS  di MTs 1 Putri Annuqayah, Guluk-Guluk. Alamat email: ahmad.muhli@gmail.com

 

Judul Buku : Terapi Masnawi (Mesnevi Terapi)

Penulis: Prof. Dr. Navzat Tarhan

Penerjemah: Ridho Assiddiky, Lc,Ummahati Sholihin, Lc, Bernando J. Sujibto, M.A.

Penerbit: QAF Media, Jakarta, Cetakan Maret 2016, Tebal 315 halaman

The post Melejitkan Inovasi Santri Ala Rumi appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
93594
Sidogiri ‘Mematahkan’ Dr Said Aqil http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/04/12/92920/sidogiri-mematahkan-dr-said-aqil.html Tue, 12 Apr 2016 06:07:04 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=92920

Menurut PP Sidogiri, pemikiran Dr Said Aqil itu sulit dinalar secara ilmiah. Ia hanya mengambil penggalan ayat dan meninggalkan penggalan berikutnya. Lalu membuat kesimpulan yang dinilai sesat

The post Sidogiri ‘Mematahkan’ Dr Said Aqil appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, dikenal sering melontarkan pemikiran kontroversial. Misalnya, ia menyamakan antara Sunni dengan Syiah. Perbedaan keduanya, katanya, hanya furu’iyah alias bukan pokok.

Pemikiran nyeleneh Said Aqil itu membuat resah umat Islam, bahkan juga di kalangan NU sendiri. Di antara yang resah itu adalah Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Keresahan itu kemudian mendorong para kiai di pesantren yang terbilang tertua di NU ini menulis buku berjudul Menolak Pemikiran KH Said Aqil Siroj.

Sesuai judulnya, buku ini meng-counter pemikiran Said. Tentu dengan hujjah dan argumentasi yang kuat. Umpamanya soal pandangan Said tentang Syiah, menurut buku ini jelas bertentangan dengan realita dan pendapat seluruh ulama ahlusunnah wal jamaah (h 66). KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, sudah menegaskan bahwa Syiah itu sesat dan bukan bagian dari ahlusunnah wal jamaah.

Buku ini juga membantah pemikiran Said soal pluralisme (h 76). Said berpendapat bahwa keimanan bukan monopoli umat Islam. Kaum Yahudi, Kristiani, Shabi’in, Budha, Hindu dan Konghucu maupun kepercayaan lainnya. Semua itu umat beriman, sepanjang dalam keyakinan mereka terselip butir-butir keimanan kepada Allah, Tuhan, Sang Hyang Widi atau apa pun namanya.

Menurut Sidogiri, pemikiran Dr Said Aqil itu sulit dinalar secara ilmiah. Ia hanya mengambil penggalan ayat dan meninggalkan penggalan berikutnya. Lalu membuat kesimpulan yang dinilai sesat.

Selain Syiah dan pluralisme, Sidogiri juga menolak 5 pemikiran Said yang lain. Yaitu motif dakwah Nabi, jabariyah, muktazilah, ukhuwah Islamiyah dan syariat Islam.

KH A Nawawi Abd Djalil, pengasuh Sidogiri, seperti di tulis dalam buku ini, secara pribadi sudah mengingatkan Said. Namun menurut KH Nawawi tetap perlu diterbitkan buku untuk mengcounter pemikiran Said Aqil. “Agar bisa dibaca secara seksama oleh masyarakat,” katanya.*

Judul Buku: Menolak Pemikiran KH Said Aqil Siroj

Penerbit: PP Sidogiri

The post Sidogiri ‘Mematahkan’ Dr Said Aqil appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
92920