Pustaka – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Wed, 01 Nov 2017 15:28:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.3 Umat Islam harus Miliki Pola Pikir Surgawi http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2017/10/25/126503/umat-islam-harus-miliki-pola-pikir-surgawi.html Wed, 25 Oct 2017 02:42:29 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126503

Hidayatullah.com—Orang beriman harus memiliki pola pikir surgawi. Pola pikir ini penting mengingat banyaknya pola pikir sesat yang dapat menjerumuskan konsep […]

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com—Orang beriman harus memiliki pola pikir surgawi. Pola pikir ini penting mengingat banyaknya pola pikir sesat yang dapat menjerumuskan konsep hidup manusia ke jalan yang salah dan mengarah ke neraka.

Adapun pola pikir surgawi yang dia maksud adalah sebuah cara berpikir dan melihat sesuatu sesuatu sesuai dengan cara pandang Al-Qur’an dan Sunnah.

“Orang yang menjadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai pola pikir serta acuan hidup maka akan selamat dan berujung kepada Surga,” demikian disampaikan  Imam Nawawi, penulis buku Mindset Surga pada kajian malam Jum’at (20/10/2017) di Masjid Hidayatullah, Karang Bugis Balikpapan, Kalimantan Timur.

Imam mengambil contoh bagaimana manusia melihat sektor ekonomi. Tak sedikit manusia yang menggunakan cara berpikir kapitalistik dalam mendudukkan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, lanjutnya, konsep ekonomi kapitalistik bersumber dari pemikiran para ahli ekonomi barat yang sekular dan bertentangan dengan konsep ekonomi syariah Islam.

Islam sendiri memandang sektor ekonomi harus dengan kaca mata Al-Qur’an dan Sunnah. Semuanya telah dijabarkan secara detail dan jelas. Sebuah konsep ekonomi non-ribawi yangmenyejahterakan dan membahagiakan manusia dunia dan akhirat.

Sayangnya, dalam hal ini, tidak sedikit orang yang justru tertarik pada ekonomi kapitalistik daripada ekonomi syari’ah. Mirisnya, justru kebanyakan dari kalangan umat Islam sendiri.

Acara yang dimoderatori M Usamah, alumni PENS ITS ini ikut menghadirkan  pembanding praktisi pendidikan asal Kalimantan Timur, Dr Abdurrohim. Dalam keterangan tertulisnya,   ia mengatakan, buku Mindset Surga bisa menjadi oase di tengah kehidupan sehari-hari yg menggerus sensivitas terhadap hakikat kehidupan dan penciptaan.

Menurutnya, budaya hidup hedonisme dan materialisme, membuat sebagian masyarakat lupa dan abai tentang hakikat dan tujuan akhir dari semuanya, yaitu kampung akhirat.

“Tetapi dari semua itu, yang paling penting adalah dengan mindset surga kita mampu menghadirkan atmosfir surgawi dalam kehidupan keseharian di masyarakat, keluarga, dan lingkungan sekitar,” kata doktor sejarah lulusan UIN SUKA Jogjakarta yang saat ini menjadi Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Balikpapan itu.

Abdurrahim memuji kreatifitas Imam Nawawi yang produktif menulis di berbagai media. Seperti diketahui, Imam saat ini adalah Sekjen Syabab Hidayatullah, organisasi kepemudaan di bawah organisasi masa Hidayatullah.

Tulisan-tulisan Imam telah menghiasi berbagai media masa, baik cetak mau pun online. Termasuk hidayatullah.com dan Majalah Suara Hidayatullah, Republika. Tradisi menulis ini sudah menghasilkan  tiga buku .

Acara bedah buku ditutup dengan tanya jawab. Ada lima pertanyaan yang diajukan oleh para jemaah. Setiap penanya dapat hadiah satu buku karya kedua Imam yang berjudul, “Change Yourself to Change The World”.*/Saiful Anshor

 

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Berdoalah dalam Urusan Apa Pun http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2017/10/19/125981/berdoalah-dalam-urusan-apa-pun.html Thu, 19 Oct 2017 09:40:38 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125981

Mintalah sepenuh hati seraya besungguh-sungguh menyempurnakan tawakal, bahkan ketika terlihat mustahil untuk berhasil. Ingatlah Bunda Hajar, ibu dari Nabi Ismail AS.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–Doa adalah sejata kaum Muslimin. Tapi mengapa bibir sampai lelah, doa tak kunjung dikabulkan. Nah, jawabnya ada di dalam buku ini

Berdoalah, bahkan ketika seolah sudah tidak mungkin. Betapa banyak yang meraih kesembuhan, justru saat ia telah divonis tinggal menunggu waktu.

Mintalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sepenuh kesungguhan, bahkan ketika jalan keluar seakan sudah buntu dan solusi sudah tak ada lagi. Ingatlah tatkala Musa AS membelah laut, bukankah ketika itu semua jalan sudah tertutup? Tetapi Allah Subhanahu Wata’ala bukakan jalan yang tak terpikir oleh manusia, tak pernah pula berulang di masa-masa berikutnya.

Baca: Doa Dengan Hadits Dhaif, Boleh?

Mintalah sepenuh hati seraya besungguh-sungguh menyempurnakan tawakal, bahkan ketika terlihat mustahil untuk berhasil. Ingatlah Bunda Hajar, ibu dari Nabi Ismail AS. Berlari-lari ia dari Shafa ke Marwa, berputar balik berulang-ulang seolah sia-sia tiada hasil. Tetapi inilah yang Allah Subhanahu Wata’ala tinggikan kebaikannya. Allah ridhai. Inilah ketaatan yang Allah Subhanahu Wata’ala muliakan sehingga kemudian Ia karuniakan zam zam melalui hentakan kecil kaki Ismail.

Demikian prolog dalam buku Berdoalah dalam Urusan Apa Pun karya Muhammad Fauzil Adhim. Penulis kelahiran Jombang ini dikenal sebagai penulis buku-buku pernikahan dan parenting. Hampir semua bukunya bertema dua hal ini  best seller.

Kali ini penulis lulusan psikologi Universitas Gajah Mada ini keluar dari spesialisnya. Bermula dari kegelisahan Fauzil melihat praktek-praktek doa di kalangan umat Islam.

Suatu waktu ia hadir dalam suatu kegiatan. Penyelenggara kemudian mencoba mengobarkan semangat untuk bedoa. Tapi dengan cara yang salah.

“Tulislah doa Anda dengan rinci,” katanya, “Tulislah dengan lengkap, selengkap-lengkapnya. Apa saja. Mau mobil, kalau perlu warnanya apa, mereknya apa. Makin lengkap makin baik.”

Fauzil mengaku, tuntunan seperti di atas tak pernah ia temukan. Justru hal seperti itu berlebihan dan berlebihan dalam bedoa itu dilarang. Mengapa?

Baca: Doa Orang yang Dianiaya

Jawabannya bisa di baca pada bagian pertama buku ini dengan judul ‘Berdoa dalam Amplop (h. 12-26)

Pada kesempatan lain, Fauzil melihat umat ini tidak sopan jika berda. Kita meminta kepada Allah Subhanahu Wata’ala, tetapi kepada-Nya kita bersikap seolah lebih mengetahui atau bahkan serasa memberi kuliah. Lebih dalam soal ini, Fauzil membahas dalam buku ini dengan judul ‘Berdoa yang Tidak Sopan,’ (h. 31-38).

Masih ada puluhan kegelisahan penulis tetap di majalah Suara Hidayatullah ini. Lebih lengkapnya silakan baca bukunya. Selama membaca.*

 

Judul Buku       : Berdoalah untuk Urusan Apa pun

Penulis               : M Fauzil Adhim

Pesan buku      : 0813-3000-1456,  SMS/Whatsapp: 0813-3000-1456

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Idlib Dibanjiri Pengungsi dari Aleppo http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/12/30/108818/idlib-dibanjiri-pengungsi-dari-aleppo.html Fri, 30 Dec 2016 03:24:11 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=108818

Sekitar 35.000 penduduk meninggalkan Aleppo setelah pemerintah Suriah mengambil alih kota itu

(Panji Islam,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–Ribuan penduduk Aleppo yang melarikan diri dari kota itu kini berbondong-bondong menuju Idlib dengan banyak mengalami penderitaan akibat infeksi kuman pada luka yang dialami selain mengalami hipotermia dan kekurangan gizi.

Maram, anak berusia 5 bulan, menjadi salah satu pasien yang ditangani oleh ahli bedah, dr. Mounir Hakimi.

“Dia kehilangan kedua orang tuanya dalam serangan udara, terdapat beberapa tulang yang patah, luka di perutnya, dan kehilangan sebagian kulit”, ujar Hakimi.

Menurutnya, Maram sempat ditinggal di rumah sakit, hingga kemudian diangkut oleh ambulans evakuasi.

Hakimi melanjutkan, kasus Maram banyak dialami oleh pengungsi lainnya. Dokter di Idlib telah melihat puluhan luka yang terinfeksi secara serius.

Menurut Hakimi, beberapa diantaranya kemungkinan perlu diamputasi atau harus mengalami cacat jangka panjang dan permanen.

Staf medis terutama dokter bedah melaporkan telah melakukan operasi hingga 12 jam sehari sedangkan perlengkapan medis terpaksa ditambah dua kali lipat dari kebutuhan normal.

Dokter di Idlib menyaksikan puluhan korban mengalami luka yang terinfeksi kuman dan mulai membusuk akibat cedera yang dialami akibat serpihan peluru atau bom.

Aleppo, Kota Para Ulama Ahlus Sunnah yang akan jadi ‘Kota Syiah”?

Menurut Ketua Suriah Relief, Mounir Hakimi yang juga dokter bedah, banyak korban yang terluka terpaksa harus diampurasi.

“Akibat serangan berkelanjutan di Aleppo, serpihan bom atau peluru tertanam pada tulang belakang korban terutama anak-anak menyebabkan mereka lumpuh dan kami menyaksikan anak-anak menjadi buta sebelah mata akibat serpihan itu, ” katanya dikutip Aljazeera, Rabu (28/12/2016).

Banyak warga  mulai mengalami gejala trauma psikologis.

“Seorang ayah yang memiliki putra berusia tiga tahun bertanya-tanya mengapa anaknya masih belum bisa berbicara. Anaknya lahir selama pertempuran meletus namun sampai hari ini masih tidak mampu berkata-kata karena mengalami kejutan dari serangan itu, ” katanya.

Infrastruktur medis di Idlib telah mengalami kerusakan sebelum evakuasi penduduk Aleppo setelah serangan bom barel selama lima tahun dan serangan udara Rusia terhadap rumah sakit, kantor pertahanan sipil dan sekolah.

Maram adalah salah satu dari 35.000 orang yang meninggalkan Aleppo pekan lalu saat pasukan rezim Bashar al Asaad  merebut kembali wilayah timur yang sebelumnya dikuasai milisi pembebasan.Mereka pergi ke propinsi Idlib, di mana mereka berharap bisa memulai hidup baru.

Para pengungsi baru itu merasakan situasi keamanan yang lebih baik di kota Idlib, sangat kontras dengan pertempuran dan serangan-serangan udara yang mengepung Aleppo dalam beberapa pekan terakhir ini.

“Situasi di kota ini tenang,” kata Abd al-Latif Tarboush, seorang warga Aleppo yang tiba di  Idlib pekan ini. “Tidak ada pemboman atau pertempuran, terima kasih Tuhan.”

Ribuan Warga Pro Bashar Rayakan Kemenangan Jatuhnya Aleppo Timur

Meski demikian, beberapa pekan lalu dilaporkan terjadi serangan-serangan udara di daerah pinggiran Idlib.

Idlib sudah menjadi sasaran serangan udara Suriah dan Rusia, namun belum jelas apakah Suriah akan mengirimkan pasukan darat ke sana atau untuk sementara ini hanya mengepung mereka.

Komite Penyelamatan Internasional berkata bahwa “Selamat dari Aleppo bukan berarti selamat dari perang. Setelah menyaksikan kebrutalan serangan terhadap penduduk Aleppo, kami sangat khawatir bahwa pengepungan dan bom curah akan mengikuti ribuan orang yang tiba di Idlib.”*

(Panji Islam,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Cara ulama Menyelesaikan Ikhtilaf dalam Hadits http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/11/10/104787/cara-ulama-menyelesaikan-ikhtilaf-dalam-hadits.html Thu, 10 Nov 2016 07:30:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=104787

Adakalanya saat mengkaji kitab-kitab hadits, kita akan menemukan hadits yang secara lahiriah bertentangan. Misal bertentangan dengan al-Quran, bertentangan dengan Hadits […]

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Adakalanya saat mengkaji kitab-kitab hadits, kita akan menemukan hadits yang secara lahiriah bertentangan. Misal bertentangan dengan al-Quran, bertentangan dengan Hadits lainnya, bertentangan dengan akal/logika bahkan bertentangan dengan Ijma’.

Contoh yang bertentangan dengan ijma’ adalah hadits tentang hukum bunuh bagi peminum khamr. Dari Muawiyyah bin abu Sufyan ia berkata, “Rasulullah bersabda : Jika mereka minum khamr maka cambuklah, jika mereka minum lagi cambuklah, jika mereka minum lagi maka cambuklah, dan jika mereka minum lagi maka bunuhlah” (Sunan abu Dawud, no 3886).

Hadits ini dianggap bertentangan dengan ijma’, yang menyatakan bahwa hukum diatas telah di nasakh oleh hadits lain yang menyatakan bahwa hukuman bagi peminum khamr adalah dipukul, tidak sampai dibunuh.

Hadits-hadits yang bertentangan akan memunculkan masalah bahkan kebingungan bagi orang awam, bagaimana cara menyikapinya agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah umat? Oleh karena itulah Dr Salamah Noorhidayati menulis buku tentang ilmu “Mukhtalif al-Hadits” (Yogyakarta : Lentera kreasindo, 2016). Dalam bukunya yang tebalnya 220 halaman ini, dosen IAIN Tulungagung tersebut menjelaskan kepada pembaca bagaimana ulama-ulama terdahulu merumuskan cara atau metodologi penyelesaian hadits-hadits yang secara lahiriah bertentangan alias kontradiktif.

Terdapat empat faktor penyebab terjadinya pertentangan/ikhtilaf dalam hadits.

Pertama, Latar belakang munculnya sebuah hadits. Kedua, faktor yang menyangkut redaksi teks hadits yang memang terkesan bertentangan. Ketiga, Faktor yang disebabkan oleh konteks dimana Rasulullah saw menyampaikan hadits dan kepada siapa beliau berbicara. Keempat, Faktor yang berkaitan dengan metode seseorang ulama memahami hadits dan kelima, Faktor mazhab atau ideologi seseorang ketika memahami suatu hadits. Contohnya hadits tentang kawin mut’ah, hadits tentang boleh tidaknya bertawasul kepada Nabi atau hadits tentang imamah vs khilafah (Dr Salamah Noorhidayati, 2016, hal 41-43).

Pencetus ilmu Mukhtalif hadits dalam sejarah peradaban  Islam adalah Imam Syafi’i. Beliau menulis kitab khusus berjudul Ikhtilaf al-Hadits. Menurut Dr Salamah Noorhidayati, sebagai peletak dasar ilmu ini, usaha Imam syafi’i diteruskan oleh ulama bernama Ibn Qutaibah. Imam syafi’i menawarkan penyelesaian untuk hadits yang nampak bertentangan. Pertama, al-jam’u wa at-Taufiq.

Kedua, metode an-Naskh dan terakhir Tarjih. Sementara Ibn Qutaibah menwarkan 2 metode yaitu al-Jam’u dan Tarjih. Metode nasakh terkadang beliau gunakan apabila suatu hadits dianggap cacat. (hal 92-94).

Selain ketiga metode diatas, masih ada metode “at-tasaqut” yang dalam istilah Ibnu hajar al-Asqalani disebut “at-tawwaquf”. Ini sebuah metode yang membuat ulama tidak mengamalkan kedua hadits yang Nampak kontradiktif atau menangguhkannya sambil menunggu petunjuk dari Allah swt dalam menyelesaikan pertentangan tersebut (hal 101-102).

Untuk meneliti lebih jauh hadits mukhtalif, bisa ditempuh dengan jalan sebagai berikut :

1) Menentukan tema hadits, 2) Melakukan takhrij Hadits, 3) Mendokumentasikan hasil takhrij, 4) Mencatat hadits dan mengidentifikasi ada tidaknya perbedaan redaksi dalam matan hadits (hal 127-128)

Keberadaan Mukhtalif al-Hadits dengan berbagai bentuknya bisa berimplikasi pada dua hal: Pertama memunculkan perbedaan pendapat dan kedua, menyebabkan perpecahan. Menurut Dr Salamah, perbedaan yang pertama adalah perbedaan dalam hal furu’iyyah dan variasi ibadah. Menyikapi hal ini perlu kedewasaan sikap, toleransi dan objektivitas ilmiah (hal 182).

Sebelum mengakhiri tulisan ini, dengan mengetahui metode ulama dalam menyelesaikan ikhtilaf dalam hadits, akan membuat seseorang tidak buru-buru mengatakan bahwa hadits yang redaksi/isinya bertentangan itu palsu. Wallahu’allam bishowwab.*

Fadh Ahmad Arifan | Pengajar ilmu Hadits di MA Muhammadiyah 2 Kota Malang

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mengenal Lebih Dekat Buya HAMKA http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/09/22/101315/mengenal-lebih-dekat-buya-hamka.html Thu, 22 Sep 2016 05:35:01 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=101315

“Sehari sebelum Buya Hamka wafat, pada 25 Juli 1981 malam saya bermimpi. Saya melihat sebuah mobil Lincoln-Continental besar, berkilau-kilau, enam […]

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

“Sehari sebelum Buya Hamka wafat, pada 25 Juli 1981 malam saya bermimpi. Saya melihat sebuah mobil Lincoln-Continental besar, berkilau-kilau, enam pintu, perlahan-lahan berhenti. Pintu paling belakang sebelah kiri pelan-pelan membuka. Dari dalamnya keluar seorang laki-laki, gagah, berjubah panjang terbuat dari emas berkilau-kilau di bawah cahaya matahari. Saya terpana. Laki-laki berjubah emas itu Buya Hamka,” demikian tutur Sastrawan Besar Indonesia, Dr. Taufiq Ismail memberi kata pengantar dalam buku ini.

Sebuah buku yang berkisah tentang riwayat hidup seorang Ulama Besar Indonesia. Sastrawan juga Negarwan. Dia adalah H. Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Hamka (1908-1981). Ditulis oleh Irfan Hamka, putra kelima dari sepuluh bersaudara putra-putri beliau (7 laki-laki, 3 perempuan).

Karya masterpiece-nya yang banyak dikagumi umat Islam adalah Tafsir AlQur’an 30 Juz yang diberi nama Tafsir Al-Azhar. Nasehat dan dakwahnya yang begeitu sejuk, membumi, dan aktual sangat disukai banyak jema’ah Masjid Agung Al-Azhar, Pemirsah TVRI, Pendengar RRI, serta jemaah lainnya yang menghadiri taklim-taklim yang diisi oleh Buya Hamka sebagai penceramahnya. Tulisan-tulisannya, baik dalam bentuk buku, artikel, opini, hasil wawancara, dan lain sebagainya abadi sampai saat ini.

Mungkin, selama ini kita baru mengenal Hamka sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama. Seniman yang melahirkan karya besar dalam dunia sastra seperti; Di Bawah Naungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Vanderwijk. Negarawan yang menjadi angota Konstituante dari Partai Masyumi pada tahun 1955. Jurnalis senior yang memimpin majalah Pandji Masyarakat.

Namun, lewat karya setebal 323 halaman ini, kita akan mengenal Buya dari sudut pandang berbeda. Sudut pandang seorang anak dalam mengenang ayahnya. Sebagai Insan biasa yang menikah dan berkeluarga. Buya Hamka memiliki kisah-kisah sederhana, menarik, dan sangat inspiratif.

Contohnya saja cerita tentang si kuning. Seekor kucing peliharaan beliau berwarna kuning loreng yang berumur seperempat abad. Setiap kali Buya berangkat shalat ke Masjid Agung Al Azhar di depan rumahnya, si kuning selalu ikut dan menunggu di pintu. Bilamana Buya sedang menulis, beliau bersila, maka si kuning akan tiduran di pangkuannya dengan tenang.

Cerita Buya Hamka yang berkomunikasi dan membuat “kesepakatan” denganInnyiak Batungkek atau Kakek Bertongkat. Sosok Jin yang sering jail dan mendiami rumah barunya di Kebayoran Lama. Cara Buya Hamka memberi pendekatan dan pemahaman yang utuh tentang tasawuf kepada masayrakat Minang yang terlanjur keliru menyamakan tasawuf dengan ilmu kesaktian. Dan masih banyak lagi kisah-kisah lainnya.

Buku ini ibaratnya pohon yang rimbun dengan buah-buahnya yang ranum. Memetik dan menyantapnya akan melegakan jiwa yang merindu. Selamat memetik!* /M Rizky Utama

Buku                    :  Ayah… Kisah Buya Hamka

Penulis                 : Irfan Hamka

Tebal                     : 323 halaman

Penerbit              : Republika Penerbit

Cetakan               : Kesepuluh, September 2015

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Mengungkap Kebenaran Wahyu Melalui Fakta Ilmiah http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/05/03/94259/mengungkap-kebenaran-wahyu-melalui-fakta-ilmiah.html Tue, 03 May 2016 14:01:51 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=94259

Di masa kini fenomena bulan terbelah telah dibuktikan secara ilmiah oleh NASA yang telah banyak melakukan penelitian ruang angkasa.

(Insan Kamil,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Dr. Zakir Naik, seorang ulama India dan dai ahli perbandingan agama yang kerap menyampaikan dakwah lewat debat dan ceramah di seluruh dunia, menulis buku berjudul Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah. Buku ini berisi tentang fenomena-fenomena yang ada di alam semesta ini sebagaimana tertuang di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang kemudian di zaman sekarang ini terbukti berdasarkan penelitian ilmiah.

Pada 1400 tahun yang lalu banyak orang kafir meragukan ungkapan di dalam hadist tentang bulan terbelah. Bahkan orang kafir Quraisy yang melihat langsung fenomena tersebut ketika meminta Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam membuktikan kenabiannya, tetap masih dalam ketidakpercayaan atas kejadian tersebut. Mereka justru menyatakan, kejadian itu hanya merupakan sihir belaka. Padahal di belahan wilayah lain di India dan China, para sejarawan masa lalu ada yang sempat mencatat peristiwa tersebut.

Di masa kini fenomena bulan terbelah telah dibuktikan secara ilmiah oleh NASA yang telah banyak melakukan penelitian ruang angkasa. Para ilmuwan NASA yang di antaranya telah melakukan pengamatan terhadap bulan, telah menemukan bukti ilmiah bahwa bulan pernah terbelah. Fakta yang mereka temukan, dahulu kala bulan pernah terbelah menjadi dua, kemudian menyatu kembali. Ada banyak bukti nyata yang bisa mengungkapkan hal ini berdasarkan penelitian pada permukaan bulan.

Dalam hadist yang disampaikan Anas bin Malik r.a menceritakan bahkan penduduk Makkah meminta Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wassalam untuk menunjukkan kepada mereka sebuah mukjizat, kemudian beliau menunjukkan kepada mereka bahwa bulan terbelah. (HR Bukhari).

Umat Islam juga meyakini fenomena adanya bulan terbelah berdasarkan ayat Al-Qur-an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Telah dekat datangnya saat itu (Kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus.’ Mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat peringatan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmah yang sempurna. Maka, peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).” (Al-Qamar: 1-5).

Zakir Naik menuliskan banyak aspek disiplin ilmu yang telah menemukan bukti-bukti ilmiah dari apa-apa yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dari aspek astronomi, para ahli astrofisika telah mengungkapkan fenomena ‘Big Bang’ tentang terciptanya alam semesta. Menurut teori Big Bang, seluruh alam semesta pada awalnya berbentuk satu massa yang besar (Nebula Primer). Kemudian terjadi ‘Big Bang’ (Ledakan Pemisah Sekunder) yang mengakibatkan pembentukan galaksi. Kemudian, terbentuk dan terbagi dalam bentuk bintang, planet, matahari, bulan, dan lain-lain.

Berkenaan dengan fakta ini, Al-Qur’an telah berbicara dalam ayatnya, “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?” (Al-Anbiya’: 30).

Kemudian Sir Francis Drake adalah orang pertama yang membuktikan bumi bulat. Kesimpulan itu ia dapatkan setelah berlayar mengelilingi bumi pada 1597. Sebelumnya banyak orang takut bepergian terlalu jauh karena khawatir jatuh dari ‘tepian’ bumi.

Allah berfirman dalam Az-Zumar ayat 5, “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Dialah Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” Kata bahasa Arab ‘Kawwara’ yang digunakan pada ayat ini berarti tumpang tindih atau menggulung seperti jalinan surban yang dililitkan di kepala. Tumpang tindih antara siang dan malam hanya akan terjadi jika bumi itu bulat.

Dari aspek fisika, Al-Qur’an telah menyebut dharrah (Saba’: 3), yakni suatu partikel yang lebih kecil dari atom. Ilmu pengetahuan moderen pun telah menemukan bahwa ada materi yang lebih kecil dari atom. Dalam aspek geologi, Al-Qur’an menyebut gunung-gunung sebagai pasak (An-Naba’: 6-7), kemudian buku sains ‘Earth’ yang menjadi rujukan ilmu geologi telah menggambarkan gunung berbentuk pasak.

Demikian pula Al-Qu’ran telah menyebut beberapa hal lain, yang telah terbukti secara ilmiah dalam disiplin ilmu geografi, oseanologi, biologi, zoologi, embriologi, fisiologi, dan lainnya. Ini membuktikan kebenaran wahyu yang telah disampaikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada utusannya Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam pada 14 abad yang silam. Kebenaran wahyu tersebut juga banyak yang telah terbuktikan sebagaimana tertuang di dalam As-Sunnah.

Dengan berkesesuasiannya antara risalah wahyu dari Allah dan fakta ilmiah, tentu saja diharapkan semakin memudahkan orang dalam meyakini kebenaran agama Islam. Tidak ada sesuatu yang mengetahui seluruh kejadian di alam semesta ini, kecuali Allah. Dan Allah melalui Rasul-Nya telah mengabarkan jauh sebelum fakta-fakta ilmiah membuktikan. Semua hal yang telah dibuktikan secara ilmiah tersebut, akan menjadi rahmat bagi umat Islam, dan menjadi pengajaran bagi seluruh umat manusia yang bersedia membuka hati dan pikirannya akan kebenaran wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.*

Judul Buku : Miracle of Al-Qur’an & As-Sunnah
Penulis: Dr. Zakir Naik
Penerbit: Aqwam, Solo, Januari 2016, Tebal 224 halaman

(Insan Kamil,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Melejitkan Inovasi Santri Ala Rumi http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/04/22/93594/melejitkan-inovasi-santri-ala-rumi.html Fri, 22 Apr 2016 06:32:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=93594

RUMI menginginkan kita agar mendengar intuisi dan suara hati yang pada gilirannya akan melahirkan rasa dan kenginan bari (hal. 33) […]

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

RUMI menginginkan kita agar mendengar intuisi dan suara hati yang pada gilirannya akan melahirkan rasa dan kenginan bari (hal. 33)

Pada pertengahan April lalu, saya mendapatkan hadiah dari Konya, Turki. Dalam pesannya, saya akan dikirimi buku hasil terjemahan dan hasil editorianya sendiri tentang Masnawi Jalaluddin Ar-Rumi, dikarang oleh Prof. Nevzat Tarhan, rektor University of Uskudar, Istambul.

Di dunia pesantren Kitab Masnawi bukan kurikulum wajib pesantren,tapi paling tidak, substansi ajarannya telah merasuki raga pesantren sejak ratusan tahun lalu melalui tasawuf yang direfleksikan oleh para ulama nusantara pendiri pesantren tersebut.

Membaca lembar demi lembar racikan Tarhan ini sungguh mengasikkan ibarat berlayar di tengah samudera yang landai, ditemani angin sepoi dan ombak yang bersahabat, sambil lalu beragam makhluk bawah air yang menyunggingkan senyum dengan mutiara berkilau selalu memancar pada bahtera yang kita naiki. Pengalaman menyelami dunia Ar-Rumi dalam Masnawi-nya adalah pengalaman rohani tiada tara, lebih-lebih pada kurun abad XXI ini yang haus akan kembalinya sinar langit yang tergerus kapitalisme serakah (hal. 8), Tarhan telah memberikan jalan ke dunia Ar-Rumi untuk melindungi diri sebagai immunitas dunia modern dari keserakahan tersebut.

Dalam pandangan Tarhan, Rumi menawarkan berbagai bentuk terapi kejiwaan yang dapat menghindarkan kita dari berbagai tekanan kehidupan ini, sehingga berbagai kasus yang menimpa umat Islam ini, terutama kasus yang berkaitan timpangnya kejiwaan mereka, atau labilnya susunan syaraf mereka, sedikit terobati dengan membaca karyanya.

Bagi Tarhan, Rumi secara praktis tidak hanya berhasil menjawab problematika yang muncul pada zamannya, tetapi juga menjawab permasalahan demi permasalahan zaman-zaman setelahnya dengan merujuk kepada nilai-nilai yang diajarkan dan contoh-contoh yang ditunjukkanya (hal. 20). Menariknya, Tarhan mengekspos terapi Rumi dari sisi di mana ia menggeluti ilmu yang selama ini ia tekuni, yaitu ilmu kedokteran jiwa (psikiatri).

Terapi Rumi sangat dibutuhkan oleh mereka yang terserang panyakit berkaitan masalah jiwa, seperti iri, dengki, ujub, angkuh, sombong, egois, dan lain-lain. Karenanya, pencarian kecerdasan hati, kecerdasan emosi, potensi diri, prestasi diri, pengetahuan diri adalah berbagai istilah yang ada di lembaran buku ini , yang patut kita betot dengan teratur dan istikomah.

Dalam penelitian Tarhan, Rumi menganjurkan kita agar mempunyai pengetahuan tentang pengenalan diri sendiri (fasda’bin an-nafsi). Manusia mempunyai lima tipe gaya ketika merespon satu yang dapat diurutkan sebagai berikut: ketika berada pada sisi kuat, ketika berada pada sisi lemah, ketika memecahkan masalah, ketika berkomunikasi, dan ketika menghadapi kesempatan yang ada. Menurut Tarhan, sudut pandang lima dimensi ini adalah sudut pandang menyeluruh (hal. 28).

Kelimanya, akan berkaitan dengan DNA (genetika) seseorang. Seperti diketahui, DNA tersusun secara kompleks yang didalamnya terdapat sandi-sandi yang menentukan wujud dan nilai suatu hal. Apabila sandi-sandi itu diperlakukan menurut fitrahnya, pekerjaan yang dilakukannya akan berhasil dengan baik (hal. 21)

Sebagai karya yang berhulu pada kemurnian dunia kejiwaan, maka untuk seorang santri, konklusi lengkap ala terapi Rumi yang sampaikan dengan bahasa abad ini oleh Tarhan memang sangat pantas menjadi kajian dan renungan mendalam. Santri adalah sosok manusia integral yang mempunyai tingkat immunitas jiwa penuh prima. Sebaliknya, menjadi santri di dunia kontemporer adalah menjadi manusia paradoks yang siap terselubung dalam jerat kapitalisme. Jika tidak cerdas menyikapinya, santri akan menjadi manusia nyinyir  yang lebih parah dari manusia yang ‘bukan santri’.

Optimisme santri harus selalu dibangkitkan dengan terapi Masnawi ala Rumi ini, sebab optimisme adalah kunci utama dalam kehidupan orang yang mempunyai kecerdasan batin (hal. 57) walaupun secara dhahir barangkali ia nampak lemah dan dekil, ibaratnya, seorang yang buta tidak akan tahu berapa jauh jalan yang ditempuh, meskipun ia telah berjalan 100 tahun (Masnawi jilid VI: 417, hal. 183).

Untuk itu, menggunakan akal dan hati secara bersamaan dalam proses belajar, mengenali diri, empati, kemampuan berkomunikasi, motivasi diri, problem solving, kecerdasan emosi, mengelola waktu, mengelola stress dan amarah, toleransi dan memaafkan, gigih dalam usaha dan niat, disiplin dan bekerja dan dermawan, menjadi penengah, dan sebagainya (hal. 254-309) adalah untaian terapi Masnawi yang sangat bermanfaat.*

Ahmad Muhli Junaidi, S.Pd.

Guru Sejarah di SMA 3 Annuqayah dan PKn&IPS  di MTs 1 Putri Annuqayah, Guluk-Guluk. Alamat email: ahmad.muhli@gmail.com

 

Judul Buku : Terapi Masnawi (Mesnevi Terapi)

Penulis: Prof. Dr. Navzat Tarhan

Penerjemah: Ridho Assiddiky, Lc,Ummahati Sholihin, Lc, Bernando J. Sujibto, M.A.

Penerbit: QAF Media, Jakarta, Cetakan Maret 2016, Tebal 315 halaman

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sidogiri ‘Mematahkan’ Dr Said Aqil http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/04/12/92920/sidogiri-mematahkan-dr-said-aqil.html Tue, 12 Apr 2016 06:07:04 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=92920

Menurut PP Sidogiri, pemikiran Dr Said Aqil itu sulit dinalar secara ilmiah. Ia hanya mengambil penggalan ayat dan meninggalkan penggalan berikutnya. Lalu membuat kesimpulan yang dinilai sesat

(Bambang S,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, dikenal sering melontarkan pemikiran kontroversial. Misalnya, ia menyamakan antara Sunni dengan Syiah. Perbedaan keduanya, katanya, hanya furu’iyah alias bukan pokok.

Pemikiran nyeleneh Said Aqil itu membuat resah umat Islam, bahkan juga di kalangan NU sendiri. Di antara yang resah itu adalah Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Keresahan itu kemudian mendorong para kiai di pesantren yang terbilang tertua di NU ini menulis buku berjudul Menolak Pemikiran KH Said Aqil Siroj.

Sesuai judulnya, buku ini meng-counter pemikiran Said. Tentu dengan hujjah dan argumentasi yang kuat. Umpamanya soal pandangan Said tentang Syiah, menurut buku ini jelas bertentangan dengan realita dan pendapat seluruh ulama ahlusunnah wal jamaah (h 66). KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, sudah menegaskan bahwa Syiah itu sesat dan bukan bagian dari ahlusunnah wal jamaah.

Buku ini juga membantah pemikiran Said soal pluralisme (h 76). Said berpendapat bahwa keimanan bukan monopoli umat Islam. Kaum Yahudi, Kristiani, Shabi’in, Budha, Hindu dan Konghucu maupun kepercayaan lainnya. Semua itu umat beriman, sepanjang dalam keyakinan mereka terselip butir-butir keimanan kepada Allah, Tuhan, Sang Hyang Widi atau apa pun namanya.

Menurut Sidogiri, pemikiran Dr Said Aqil itu sulit dinalar secara ilmiah. Ia hanya mengambil penggalan ayat dan meninggalkan penggalan berikutnya. Lalu membuat kesimpulan yang dinilai sesat.

Selain Syiah dan pluralisme, Sidogiri juga menolak 5 pemikiran Said yang lain. Yaitu motif dakwah Nabi, jabariyah, muktazilah, ukhuwah Islamiyah dan syariat Islam.

KH A Nawawi Abd Djalil, pengasuh Sidogiri, seperti di tulis dalam buku ini, secara pribadi sudah mengingatkan Said. Namun menurut KH Nawawi tetap perlu diterbitkan buku untuk mengcounter pemikiran Said Aqil. “Agar bisa dibaca secara seksama oleh masyarakat,” katanya.*

Judul Buku: Menolak Pemikiran KH Said Aqil Siroj

Penerbit: PP Sidogiri

(Bambang S,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Konsep Imamah: Sumber Petaka Takfiri Syiah http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/03/28/91958/konsep-imamah-sumber-petaka-takfiri-syiah.html Mon, 28 Mar 2016 05:00:47 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=91958

Ulama Syiah sudah konsensus (sepakat) membenamkan ke neraka jahannam siapa saja yang tidak mengimani imamah dan kekal di dalamnya, layaknya kaum-kaum kafir yang lain seperti Yahudi dan Nasrani

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–Idiologi takfiri yang menyelimuti Syiah dasarnya adalah akidah mereka tentang konsep “Imamah”, dimana mereka meyakini dan mengimani bahwa setelah nabi meninggal maka kepemimpinan dunia dan agama akan diwariskan kepada para imam-imam Syang juga diyakini mendapatkan wahyu dari Allah dan maksum tanpa salah, tanpa dosa, serta dapat mengeluarkan syariat-syariat dan ketentuan-ketentuan keagamaan baru yang dinilai perlu dan sebagai tempat merujuk urusan dunia akherat, persis seperti Nabi.

Keyakinan Tentang imamah ini adalah pondasi utama Syiah sesat, rukun iman mereka, bagai trinitas dalam kristen. Tanpa rukun iman imamah Syiah tiada, dan  siapapun  yang tidak mengimani konsep imamah maka dia tidak beriman alias kafir.

Dengan demikian, dapat dipastikan dengan valid tanpa keraguan bahwa Syiah akan mengkafirkan semua kaum muslimin yang bikan Syiah, semua kamum maslimin yang tidak mengimani konsep Imamah KAFIR.

Syiah menjadikan  Imamah bagian dari pondasi agama, alias rukun imannya mereka, layaknya seperti mengimani kenabian dan hari akherat, bahkan mereka menganggap bahwa mengimani imamah jauh lebih penting dari Rukun Iman Utama lainnya, lebih penting dari rukun iman kepada nabi.

Ada banyak ulama Syiah yang menukil bahwa Imamah sebagai rukun iman (ushuluddin) mereka, diantaranya:

Pertama, ayatullah Ja’far Sobhani, menukil dalam kitabnnya Al-Milal Wan Nihal dengan judul, “هل الإمامة من الأصول أو من الفروع” dan mengatakan bahwa para ulama Syiah telah konsensus bahwa imamah adalah rukun iman mereka. Dalam buku itu dituliskan, “sejak awal Syiah sudah melakukan konsensus bahwa imamah adalah salah satu dari rukun iman dan merupakan pondasi utama akidah Syiah. Para ulama-ulama Syiah sudah memberikan dalil-dalil akidah imamah dalam kitab-kitab mereka.

Oleh karena itu, keyakinan akan imamah para imam Syiah dianggap menjadi bagian yang wajib dalam rukun iman yang sahih, menurut mereka”. Sedangkan dalam akidah kaum muslimin, imamah bukan bagian dari rukun iman mereka.

Kedua, Muhammad Rida Al-Muzaffar mengatakan, “Kami mengimani dan meyakini bahwa Imamah adalah rukun Iman agama kami, Tidak akan dianggap beriman bagi siapa saja yang tidak meyakini imamah.”

Ketiga,  tokoh Syiah Imam Khumaini sendiri pernah mengatakan, “Imamah adalah salah satu rukun agama kami.”

Keempat,  Abdul Husein Al-Muzaffar mengatakan, “oleh karena itu kami wajib mempelajari konsep imamah, karena itu adalah bagian dari rukun iman agama kami, dan agama kami tidak akan ada tanpa idiologi imamah.”

Kelima,  ulama Syiah lain,  Ayatullah Naser Makarem Shirazi pernah mengatakan, “Imamah dalam pAndangan Syiah dan sekte ahlul bait adalah rukun iman dan pondasi akidah agama kami, oleh karena itu mengimani imamah bagian dari akidah agama ini, bukan asesioris belaka.”

Enam, sedangkan Ali Al-Husaini tokoh Syiah pengarang buku “Tidak ada penyelewengan al-Qur’an” mengatakan, “Terkait, apakah Imamah bagian dari rukun iman atau bukan, maka sesungguhnya Imamah adalah rukun iman seperti wajibnya mengimani kenabian.”

Tujuh, Ayatullah Abdul Husein Syarafuddin dalam kitab al-Muraja’at mengatakan, “Maka sudah maklum bahwa Ali sebagai pewaris kepemimpinan nabi adalah rukun Iman menurut agama Syiah”.

Pernyataan-pernyataan mereka terkait imamah sebagai rukun iman Syiah secara otomatis menghasilkan kesimpulan logis berupa pengkafiran siapa saja yang tidak mengimani imamah sebagai rukun iman, persis seperti orang-orang yang tidak mengimani rukun iman Syiah yang lainnya baik iman kepada tauhid, nubuwwah dan iman kepada Mi’ad atau hari akhirat.

Sehingga ketika ada yang mengingkari tauhid, kenabian dan akherat maka sudah menjadi konsensus para ulama Syiah bahwa dia kafir dan murtad. Begitu juga bagi yang tidak mengimani imamah, sudah barang tentu para ulama Syiah akan menghukumi mereka sebagai orang yang kafir dan keluar dari agama.

Berikut  saya akan nukilkan langsung kesimpulan logis ulama Syiah terkait pengkafiran yang dilakukan Syiah kepada siapa saja yang mengingkari imamah:

  1. Muhaqqiq Syiah Yusuf Al-Bahrani: “Anda kan sudah mengetahui bahwa orang yang tidak sependapat dengan Syiah (mukhalif) adalah kafir, dan sama sekali bukan bagian dari agama ini, dari seluruh aspek. Sebagaimana yang sudah kami tahqiq di dalam kitab kami “al-Syihab al-Tsaqib”. Selanjutnya, apa bedanya antara orang yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya dengan orang yang mengingkari para imam pengganti nabi, pada hal imamah adalah rukun iman.”
  2. Al-Amili, yang digelar dengan Syahid II dalam Haqa’iq al-Iman mengatakan, “Anda juga sudah mengetahui bahwa mengimani imamah para imam-imam Syiah alaihissalam adalah bagian dari rukun iman, dan itu sudah dianggap perkara aksiomatis di dalam agama (maklum bi dharurah). Dan Muhaqqiq Al-Thusiy juga menukil hal itu secara jelas. Sudah tidak diragukan lagi bahwa segal hal akan dianggap tidak ada jika anasir-anasir dasarnya tidak ada. Maka sudah barang tentu orang akan dihukum kafir (tidak beriman) jika sudah jelas-jelas tidak mengimani salah satu unsur dasar dari unsur-unsur akidah agama kita, sehingga siapapun yang tidak mengimani imamah maka dia kafir meskipun sudah mengucapkan syahadat. Dan hukum kafir ini berlanjut sampai kapanpun baik secara lahir maupun bathin selama orang tersebut belum mengimani imamah.”
  3. Muhammad Jamil Hamud, dalam kitabnya al-Fawa’id al-Bahiyyah Fi Syarh ‘Aqa’id al-Imamiyyah tidak hanya menyatakan bahwa imamah adalah bagian dari rukun iman, bahkan secara terang-terangan menyampaikan kesimpulan yang berbaya yang diakibatkan olehnya, yaitu dengan mengkafirkan semua mazhab kaum muslimin. Hamud menulis, “Jika sudah jelas bahwa imamah adalah rukun iman maka semua mazhab Islam yang tidak mengakui imamah itu berarti sudah keluar dari agama, dan siapa saja yang mengingkari imamah wajib dikafirkan, agar mazhab agama kita cuma satu saja yang kita akui, sedangkan mazhab-mazhab lainnya semuanya kafir. Dan label kafir ini sudah menjadi keharusan terhadap siapa saja yang tidak meyakini keimaman para imam-imam suci Syiah.”

Dengan demikian, para ulama Syiah sudah konsensus atau sepakat untuk membenamkan ke neraka jahannam siapa saja yang tidak mengimani imamah dan  kekal di dalamnya, layaknya kaum-kaum kafir yang lain seperti Yahudi dan Nasrani, meskipun orang tersebut sepakat dengan Syiah pada rukun-rukun iman yang lainnya, meskipun orang tersebut bersyahadat, shalat, berzakat, puas dan haji. Namun jika tidak mengakui imamah maka semua rukun-rukun iman yang pernah diyakininya tidak ada gunanya, semua amal ibadah wajib dan sunnat yang pernah dilakukannya tidak ada gunanya. Mengingkari imamah sama dengan pendurjana yang durhaka dan murtad dalam pAndangan Syiah, balasannya  pastilah neraka jahannam, dan tidak ada bedanya dengan kaum majusi dan wasani.

Pengakafiran seluruh kaum muslimin yang dilakukan Syiah karena tidak mengakui imamah bukanlah sekedar tuduhan belaka, melainkan sebuah hakikat.*/diambil dari Al-Fikr Al-Takfiri ‘Inda Al-Syiah, Abdul Malik Bin Abdurrahman As-Syafii, Hal.47-53, Cet. I, Maktabah Imam Bukhari, 2006, Ismailiah-Egypt. Diterjemahkan Kivlein Muhammad

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sakinah Finance, Tips Mengatur Keuangan Keluarga Agar Lebih Berkah http://www.hidayatullah.com/artikel/pustaka/read/2016/01/20/87743/sakinah-finance-tips-mengatur-keuangan-keluarga-lebih-berkah.html Wed, 20 Jan 2016 05:14:05 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=87743

Banyak keluarga muda yang hidup dari gaji ke gaji. Lebih mirisnya lagi, hidup dari pinjaman kartu kredit dan lilitan utang

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Pekan ini buku Sakinah Finance dikutak katik lagi. Kali ini yang memberikan resensi adalah seorang penulis “Jelajah Inggris” yaitu Rosi Meilani yang sudah cukup lama tinggal di Inggris. Beliau menulis buku jalan jalan di negara Harry Potter ini dengan harapan dapat memberikan ide tentang kota-kota dan situs-situs menarik di Inggris. Juga termasuk tips jalan – jalan hemat berkualitas dan penuh perhitungan gaya Sakinah Finance.

Dalam bukunya, Rosi mengatakan bahwa sebelum melakukan perjalanan usahakan browsing penginapan terlebih dahulu. Lakukan  jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan. Biasanya pihak hotel di Inggris memberikan tarif murah.

Tak kalah pentingnya, Rosi memberikan tips jika akan melancong ke Inggris bersama keluarga atau teman (sekitar 4-5 orang), sebaiknya menyewa mobil. Tapi hal ini tidak disarankan untuk perjalanan dalam kota London yang terkenal dengan peraturan ketat dan parkir yang mahal. Selengkapnya bisa dibaca di halaman 22 di Buku Jelajah Inggris.

Selanjutnya berikut penuturan Rosi tentang Sakinah Finance.

“Mengatur keuangan keluarga diperlukan kedisiplinan. Jika tak pintar mengatur, bisa terjadi defisit. Sebaliknya, jika pandai  mengatur, pastilah keuangan keluarga akan mengalami surplus. Setidaknya  seimbang.”

Kondisi seimbang ataupun surplus ini akan membuat hati tentram dan tenang. Sesuai artinya, sakinah adalah sebuah kondisi ketenangan dalam sebuah keluarga, tentunya hal itu menjadi dambaan kita semua. Tentunya juga bisa kita pelajari.

Buku ini tidak seperti buku perencanaan keuangan kovensional kebanyakan. Buku ini lebih menitikberatkan pada proses memperoleh pendapatan dan pengeluaran keuangan dengan baik dan benar secara Islami. Jalan menuju Sakinah Finance harus dilakukan dengan niat yang benar, fokus mencari yang halal, bekerja keras, bersilaturahmi, membersihkan harta, bermuhasabah dan bersyukur (hal. 12-20).

Banyak keluarga muda yang hidup dari gaji ke gaji. Lebih mirisnya lagi, hidup dari pinjaman kartu kredit dan lilitan utang. Untuk bisa menghindari dan memecahkan masalah tersebut kita bisa mempelajarinya dalam bab pengelolaan dan perencanaan keuangan (hal.21).

Secara singkat pengelolaan keuangan keluarga sakinah bisa disimpulkan sebagai berikut: Pendapatan (Managing Income) >> Pengeluaran Utama (Managing  Needs) >> Impian & Keinginan (Managing Dreams) >> Managing Surplus (Deficit)  >> Managing Contingency (hal.26).

Kehalalan pendapatan adalah sebuah hal yang paling pokok dalam mencapai sakinah dalam keuangan. Hal tersebut dibahas detail di bab Managing Income (hal 35). Selain pendapatan yang halal, networking (silaturahmi) dibahas pula di bab ini. Betapa silaturahmi bisa melapangkan rejeki dan kebaikan-kebaikan lainnya (hal.46).

Managing Needs adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Mulai dengan mengalokasikan pengeluaran. Diantaranya: membayar  kewajiban utang (credit card, cicilan rumah dan barang dll), membayar zakat, membeli kebutuhan pokok keluarga, biaya pendidikan, tabungan dana pendidikan, dana emergensi, tabungan dana pensiun.

Semua materi tersebut dijelaskan secara detail dengan mengunakan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti.

Seperti halnya neraca tahunan keuangan perusahaan, keuangan keluarga pun idealnya memiliki perhitungan akhir untuk mengetahui kondisi keuangan keluarga, apakah surplus atau defisit. Dari sana, kita bisa mengevaluasi tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Baik defisit maupun surplus, keduanya harus ditindaklanjuti dengan baik dan benar (hal. 101-118).

Ketidakpastian atau contingency adalah sebuah kondisi yang terjadi tanpa kita perkirakan sebelumnya. Misalnya tiba-tiba anggota keluarga kita ada yang sakit keras, kecelakaan, meninggal, tertimpa bencana alam dan sebagainya, di sinilah perlunya dana emergency, asuransi syariah salah satunya (hal.120). Di bab ini dijelaskan pula cara memilih produk asuransi syariah.

Buku ini tidak hanya membahas tahapan-tahapan apa saja yang harus kita lakukan dalam mencapai sakinah finance tapi juga pembimbing kita dalam menyusun perencanaan keuangan dengan tabel-tabel serta hitungan rinci tentang cara menghitung zakat, juga persentase-persentase biaya ideal yang harus kita alokasikan sesuai keperluannya. Dalam buku inipun kita bisa belajar menyusun laporan keuangan.

Bagi saya pribadi sebagai ibu rumah tangga, buku ini mudah dimengerti dan mudah diterapkan. Apalagi di bab terakhir disertakan tips dan konsultasi keuangan keluarga. Studi kasus konsultasi keuangan keluarga ini diambil dari pertanyaan-pertanyaan pembaca di sebuah media harian, dimana si penulis menjadi pengasuh.

Kata ‘sakinah’ atau ‘ketenangan’ salah satunya diambil dari pemahaman ayat Al-Fath (48): 4 yaitu:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَّعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيماً حَكِيماً

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang orang mukmin untuk menambahkan keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”  [QS: Al-Fath (48): 4].*

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>