frontpage hit counter

Bank Muamalat, Masjid, dan Kebangkitan Ummat

Bagi pembaca yang masih tega menebar berita hoax dan mengghibah soal Bank Muamalat, sebaiknya segera berhenti

Bank Muamalat, Masjid, dan Kebangkitan Ummat

Terkait

Oleh: Iman Ni’matullah

 

SAYA tidak mau berbicara tentang upaya yang sedang dilakukan Bank Muamalat Indonesia (BMI) untuk memperkuat permodalan dengan cara menerbitkan saham baru yang tentu saja, sebagai mana regulasi, pemegang saham lama yang pertama kali ditawarkan karena memiliki Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Termasuk dengan munculnya nama Minna Padi sebagai standby buyer (pembeli siaga), sekali lagi, saya tidak mau membahas tentang ini. Selain karena bukan spoke person, saya juga tidak memiliki kompetensi yang cukup. Saya berbicara sebagai pribadi yang dahulu aktif di gerakan mahasiswa Ekonomi Islam bernama Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI).

Saya hanya ingin menyampaikan testimoni saya tentang komitmen menegakkan Syariah dan peran Bank Pertama Murni Syariah ini untuk menjadi katalisator kebangkitan ummat.

Apa yang menjadi indikator utama penegakkan syariah pada Bank Syariah? Tentu pada ketundukkannya terhadap prinsip syariah terutama dalam transaksi bisnis dan aplikasi nilai syariah dalam culture perusahaan. Acuan prinsip syariah tentu saja Fatwa DSN MUI yang diratifikasi dalam prosedur yang diikuti oleh supremasi kewenangan Dewan Pengawas Syariah (DPS). Ingat, rujukan Bank Syariah adalah fatwa DSN MUI bukan pendapat ulama di media sosial.

Baca: Menyelamatkan dan Mengembangkan Bank Syariah

Sekedar cerita, fakta yang saya lihat adalah setiap pengajuan pembiayaan harus terlebih dahulu dianalisa aspek syariahnya. Bila jelas tidak sesuai dengan prinsip syariah, pembiayaan ditolak. Bila komite pembiayaan ragu, unit bisnis diminta konsultasi dengan para ustadz di unit kerja Syariah Compliance. Bila para ustadz itu juga masih ragu, akan dieskalasi ke para anggota DPS. Jumhur kaum muslimin di Indonesia mempercayai kompetensi kefaqihan KH. Ma’ruf Amin (Ketua Umum MUI) dan Dr. KH. Oni Syahroni (doktor fiqh muqoron jebolan Al-Azhar).

Impact penegakkan syariah itu jadinya memberi kesan ribet dan berbelit bagi nasabah pembiayaan. Tapi bagi insan BMI itu menjadi konsekuensi bersyariah.

“Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak mengenakkan” begitu dawuh Nabi.”

Begitu pun setiap ada inovasi bisnis ataupun pengembangan produk baru, selalu meminta arahan dan opini dari DPS. “Ah, opini DPS juga bisa dipesan dan ditekan oleh Managemen,” begitu kata orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Tentu saja segenap insan Bank Muamalat sangat segan dengan keilmuan mereka. Apalagi KH. Ma’ruf Amin adalah Rais Aam Nahdhatul Ulama, salah satu ormas besar di Indonesia. Mana berani?

Baru saja minggu yang lalu saya protes karena ada nasabah yang tak jadi cair pembiayaannya di bulan september. Saat dikonfimasi kepada bagian terkait, ternyata ada beberapa ketentuan akad murabahah yang belum terpenuhi sehingga pencairan harus ditunda.

Baca: Bela dan Beli Bank Muamalat Indonesia

Kesal? Naluri bisnis iya. Tapi nurani saya membenarkan keputusan itu. Naluri bisnis harus kalah oleh nurani. Begitulah faktanya.

Dimulai dari Masjid

Ada yang menarik saat Bapak Ahmad K. Permana memberikan sambutan pertamanya ba’da shalat dua hari setelah RUPS menyetujuinya sebagai Direktur Utama Bank Muamalat.

“Di masjid ini kita memulai langkah kita membangun kembali kejayaan Bank Muamalat,” kata Dirut baru ini lantang.

“Saya bukan Superman. Tapi kita adalah Super Team, ” tambahnya.

Pernyataan mengharukan itu kemudian diwujudkan dengan komitmen memakmurkan Masjid Al-Muamalah. Di dalam Gedung Muamalat Tower yang berlantai 20 ini. Lantai tertingginya didedikasikan khusus untuk masjid. Dengan karpet yang empuk, penyejuk ruangan, tempat wudhu, dan pengeras suara yang berkualitas tinggi. Adzan dikumandangkan ke setiap ruangan hingga terdengar sampai ke cubicle kecil para karyawan.

Ba’da Ashar dibacakan Kitab Riyadhus Shaalihiin oleh Ustadz Akmal, kepala Syariah Compliance. Setiap Rabu ba’da Dhuhur ada ustadz yang diundang untuk kajian, agar para karyawan antusias hadir tepat waktu mereka disiapkan makan siang hanya Rp. 10.000 per-paket. Harganya murah sebab disubsidi oleh kas masjid.

Kegiatan qiyamullail berjamaah juga dilakukan secara berkala baik di kantor pusat ataupun di cabang seluruh Indonesia. Pada moment tertentu, direksi bahkan meminta pengurus masjid mengadakan qiyamullail untuk mendoakan Bank Muamalat.

Meskipun di setiap lantai ada mushalla, para direksi berkomitmen shalat berjamaah di masjid lantai 20,  mereka ingin menunjukkan komitmen bahwa masjid adalah pangkal kejayaan.

Baca: Pangsa Pasar Syariah yang Manalagi?

Saya  sangat bahagia ketika shalat Ashar, Direktur Utama BMI berdiri paling depan sebagai imam. Saat shalat Maghrib, direktur compliance didaulat menjadi imam. Masya Allah, bacaannya sangat merdu dan memenuhi kaidah tajwid. Sebagai alumni pesantren di Banten, penulis bisa mengidentifikasi kualitas bacaan Pak Direktur ini. Beliau menguasai kaidah ikhfa, beda mad thabi’i dengan mad wajib muttashil, tarqiq dan tafkhim, qolqolah kubro yang dipraktekkan oleh Pak Direktur ini sangat fasih ketika Surat Atthaariq dibacakan pada rakaat pertama.

Saya tidak terlalu merisaukan isu yang beredar di media sosial yang kebanyakan hoax soal BMI. Karena begitu banyak fakta-fakta di lapangan yang begitu menyejukkan.

Penulis sendiri bekerja di bagian khusus yang didedikasikan untuk mengembangkan elemen ekonomi ummat. Mereka sedang membangun kemandirian, membuat berbagai inovasi untuk kemashlahatan ummat. Bank Muamalat begitu antusias menjadi pelayan dan katalisator kebangkitan ummat.

Apa yang harus dimengerti oleh kita adalah Undang-Undang No. 21 tahun 2008 telah mengatur pada pasal 24 bahwa  Bank Syariah dilarang melakukan  kegiatan  usaha  yang bertentangan  dengan Prinsip Syariah. Bagi siapa saja baik direksi, komisaris, maupun pemegang saham yang mengabaikan larangan ini akan terkena sanksi pidana.

Bagi para pembaca yang masih tega menebar berita hoax dan mengghibah saudara sendiri yang sedang berjuang mensyiarkan nilai ilahiyah, sebaiknya  berhenti mencaci maki kegelapan, lebih baik menyalakan secercah cahaya untuk menerangi mereka yang terjebak gulita.*

Penulis mantan Presidium Nasional Forum Shilaturrahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) (2004-2005)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !