frontpage hit counter

Antara PP Al-Mukmin, Gontor dan Ghazali Said

Dilihat dari materi, al-Mukmin, tak jauh dengan KMI Darussalam, Gontor

Antara PP Al-Mukmin, Gontor dan Ghazali Said

Terkait

Oleh: Fatchul Umam

SENIN, 06 Juni 2011, Kantor Berita Antara dan Harian Republia memuat berita berjudul “Diplomat Australia Tanya Radikalisme ke Pesantren”. Menariknya, dalam berita itu, pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur, Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur, KH Imam Ghazali Said menjawab pertanyaan diplomat Australia bernama Greg Ralph yang didampingi aktivis The Wahid Institute dengan mengatakan, KH Imam Ghazali Said yang juga dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya itu menjawab pertanyaan sang diplomat dengan mengatakan di Indonesia ada 20.000-an pesantren milik Nahdlatul Ulama (NU), tapi di Indonesia sekarang juga ada ratusan pesantren yang berafiliasi dengan Pesantren Ngruki yang diasuh Abubakar Ba`asyir dan pesantren yang berafiliasi dengan kelompok Wahabi di Arab Saudi.

“Kalau pesantren milik NU yang jumlahnya puluhan ribu itu, saya jamin tidak ada satu pun yang mencetak kader radikal, tapi radikalime di Indonesia selalu memiliki keterkaitan dengan Pesantren Ngruki dan cabang-cabang di seluruh Indonesia serta sejumlah pesantren yang membawa paham Wahabi di Indonesia,” begitu kutipnya.
Pernyataan ini sungguh menarik untuk ditanggapi.

Pertama, saya mengaku sangat heran. Bagaimana orang berjuluk kiai bisa keliru fatal? Bagaimana ia bisa tahu bahwa radikalisme di Indonesia selalu memiliki keterkaitan dengan pesantren Ngruki dan cabang-cabang di seluruh Indonesia? apakah Imam Ghazali Said sudah pernah berkunjung ke PP al-Mukmin? Bagaimana suasana belajar di al-Mukmin Solo

Selama 13 tahun paling tidak sebulan sekali saya mengunjungi pondok al-Mukmin. Di pondok ini keempat putra dan putri saya sudah mengenyam asam garam pendidikan keagamaan dan ilmu-ilmu yang lain. Beberapa tahun yang lalu putra tertua dan adiknya sudah menyelesaikan S1-nya dari ITB. Anak ketiga sudah lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia yang diadakan oleh Konsili Kedokteran Indonesia dan 2 bulan yang lalu sudah disumpah menjadi dokter umum. Sedang anak terkecil saat ini menginjak semester 5 pada jurusan pendidikan dokter di perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Sungguh tidak tepat kalau dikatakan bahwa al-Mukmin mengajarkan kekerasan dalam beragama. Yang benar adalah bahwa al-Mukmin telah terbukti mengajar dengan keras dan terarah sehingga seorang santri yang selama di pondoknya menekuni tahfidz dan ilmu-ilmu keagamaan, namun secara radikal dapat mengantarkan santrinya untuk menguasai ilmu-ilmu umum yang, ketika masih di al-Mukmin, tidak menjadi fokus perhatian pengajarannya.

Saya teringat, tahun 1974, saat memberi mau’idzah kepada para santri kelas terakhir, Niha’y, di Gontor, Pak Zar (KH Imam Zarkasyi, Direktur KMI Pondok Modern Darussalaam Gontor) sangat memuji proses pendirian PP al-Mukmin di Solo. Beliau menyatakan bahwa Pondok ini benar-benar didirikan dengan asas taqwa. Karena itu, banyak di antara alumni KMI Gontor tahun 1974 yang bersedia ditugaskan mengabdi untuk membesarkan pondok ini. Yang jelas ustadz senior di pondok ini adalah lulusan Gontor pada tahun yang lebih tua lagi.

Di lihat dari materi pelajaran di al-Mukmin, modelnya tak jauh dengan KMI Darussalam, Gontor, Ponorogo. Sebab, hampir kebanyakan modelnya berawal dari bahan ajar KMI Gontor plus penyesuaian dengan bahan dari Kementerian Agama dan hafalan al-Qur’an. Setidaknya nampak bagi Gontorian (alumni Gontor) bahwa unsur ke-gontoran-nya memang benar-benar ada. Plusnya adalah adanya kewajiban bagi setiap santri untuk menghafal 1 juz al-Qur’an setiap tahun yang wajib disetorkan kepada pembimbing tahfidz.

Selain itu, kegiatan santri berjalan selama 24 jam nonstop, meniru pondok para pendirinya yang sengaja dijadikan benchmark. Yaitu dimulai sejak bangun tidur sebelum waktu subuh sampai kembali tidur lagi. Saat-saat santri sedang menikmati istirahat malam, juga tetap ada santri yang melakukan hirasah (menjaga) pondok sebagai haris lail (penjaga malam). Ibaratnya kalau membaca “Negeri 5 Menara” pasti terasa seolah-olah Ahmad Fuadi sang penulisnya sedang menggambarkan denyut kehidupan PP al-Mukmin Solo.

Shalat witir, shalat tahajjud dan memperbaiki materi hafalan al-Qur’an adalah kegiatan sehari-harinya. Shalat Subuh wajib dilaksanakan berjamaah di masjid. Santri putri di masjid khusus putri, sedang santri pria melaksanakan jamaah di masjid lingkungan asramanya masing-masing yang khusus pria. Para santri sadar dan hafal adanya hadits bahwa dua rekaat sebelum shalat Subuh lebih utama dari pada dunia seisinya. Karena itu, seusai adzan berkumandang, seluruh jamaah melaksanakan shalat sunnah 2 rekaat yang pendek.

Usai dzikir dan doa, biasanya ada tausiah pendek dari ustadz sepuh. Materinya adalah tentang akhlaq. Santri selalu diajarkan hidup bermasyarakat. Setiap individu harus bergaul dengan masyarakatnya tidak boleh menyendiri (uzlah). Sebab berbuat baik kepada tetangga adalah ajaran Rasulullah Saw.

Materi menarik lain adalah program Qismu Tasy-ji’il-lughah. Yaitu bagian yang mendorong untuk pemberdayaan penguasaan bahasa asing. Hal ini dilakukan dari masih gelap sepulang dari masjid sampai pagi.

Pelajaran Bahasa Arab menggunakan bahan yang juga digunakan oleh KMI Gontor, “Duruusul Lughah al-Arabyyah”, karya Pak. Zar. Metode pengajarannya, benar-benar copy-paste dari metode Gontor. Itulah memang metode modern yang sering disebut sebagai metode “undzur wa qul” (Lihat dan Katakan). Pelajaran hadits kelas 1 diambil dari “al-Birr was-silah” atau “Arba’iin an-Nawawy”, sedang sorof menggunakan “al-Amtsilah at-Tasriifyyah” karya ulama Jombang.

Usul Fiqh menggunakan bahan dari karya Dr. Abdul Hamid Hakim, yang merupakan buku standar model Gontor. Yang berbeda adalah pelajaran Fiqh dan Tafsir. Fiqh pada kelas yang lebih tinggi memakai buku ajar “Minhaajul Muslim” sedang tafsirnya diambil dari surat-surat tertentu yang dinukil dari “Mukhtasar Ibn Katsiir”.

Pelajaran umum mengambil rujukan dari kementerian agama, karena PP al-Mukmin memang sengaja mengikuti kurikulum resmi. Letak kampus PP al-Mukming berada di pinggir kota Solo, sehingga para santri sangat mudah untuk mendapatkan sumber bahan pelajaran ilmu umum yang banyak dijajakan di sekitar Sriwedari. Hal ini sangat membantu mempercepat pemahaman dan proses belajar para santri.

Di kampus PP al-Mukmin sudah tentu santri IPA melaksanakan juga praktikum pelajaran eksakta. Seperti pengukuran, cahaya, listrik juga kimia dan biologi. Ada memang praktikum yang mengajar kekerasan, yaitu ketika praktikum biologi untuk mempelajari anatomi katak, ikan dan semisalnya. Mengapa disebut keras? Karena menggunakan pisau yang tajam untuk menyayat materi praktikum. Seperti halnya di sekolah umum, semua santri juga mendapat pelajaran computasi, sejarah dll juga diajarkarkan cara menggunakan fasilitas IT yang tersedia.

Dengan proses belajar seperti di atas, tidak aneh alumni PP al-Mukmin berkiprah di berbagai lapangan kehidupan. Banyak yang menjadi ustadz, pedagang, wartawan, dokter sampai kepada engineer yang aktif di berbagai perusahaan di Indonesia. Jadi apa yang aneh dari semua kegiatan itu?

Kedua, lebih heran lagi, jika seorang Kiai Imam Ghazali Said yang juga dosen di IAIN Sunan Ampel mengatakan: “Tapi, radikalisme di Indonesia selalu memiliki keterkaitan dengan pesantren Ngruki.”

Apakah jika ada pesantren di luar NU, lalu semuanya dikatakan berafiliasi dan memiliki keterkaitan dengan Al Mukmin? Apakah pernyataan seperti ini tidak menyinggung perasaan lembaga pesantren lain yang sesungguhnya tak ada hubungan dengan Al Mukmin?

Melihat pernyataanya, saya menduga, beliau terbiasa menggunakan analisis “kacamata kuda” dan gebyah uyah (generalisasi).

Ketiga, bagaimana mungkin, seorang terdidik seperti Imam Ghazali bisa begitu percayanya orang asing, yang nota-bene pasti punya kepentingan terselubung terhadap kegiatan dan perkembangan Islam di Indonesia. Satu sisi, ia begitu mempercayai orang asing dan lebih mudah curiga saudara sendiri.

Sebagai seorang Muslim yang baik, tak ada salahnya saya menyarankan, sebaiknya Imam Ghazali segera datang, melihat, memerika dan mendalami seluruh kegiatan di PP al-Mukmin agar melihat fakta yang ada. Kalau memang disebut radikal, apakah gara-gara banyak yang belajar melanjutkan di perguruan tinggi umum sehingga disebut radikal? Mari kita tanamkan ukhuwwah.*

Penulis adalah orangtua dan wali murid di Al Mukmin, Ngruki

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !