Opini – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Salahkah Umat Islam Menuntut Vaksin Halal? http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/08/28/149567/salahkah-umat-islam-menuntut-vaksin-halal.html Tue, 28 Aug 2018 02:54:55 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=149567

Salahkah Umat Islam menuntut Vaksin Halal?

The post Salahkah Umat Islam Menuntut Vaksin Halal? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Surya Fachrizal Ginting

 

RIBUT-ribut penolakan vaksin mengandung bahan haram kembali membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) merilis fatwa. Kali ini tentang vaksin Measles Rubella atau MR.

Fatwa MUI nomor 33 tahun 2018 itu menyatakan vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII) adalah haram. Karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi.

Meski pun haram, MUI membolehkan penggunaan vaksin itu karena alasan darurat dan belum tersedianya vaksin pengganti yang suci dan halal.

MUI menegaskan, fatwa bolehnya vaksin MR ini batal jika ditemukan alternatif lain yang halal.

Jujur saja, penulis turut senang dengan adanya penolakan terhadap vaksin berbahan haram. Hal ini menandakan sensor imam umat Islam di negeri ini masih bekerja. Mereka menolak dipaksa mengkonsumsi bahan haram.

Jika ada pihak yang mengecam sikap penulis, hal itu suatu yang wajar dan sah.

Di sini, penulis akan berargumen dengan suatu yang sangat fundamental bagi seorang Muslim. Penulis tidak akan menyodorkan kasus-kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), yang selalu ada beritanya saat musim imunisasi dan selalu dibantah oleh kalangan pro-vaksin.

Baca: MUI Dorong Peneliti Muslim Buat Vaksin Halal 

Atau, Penulis juga tidak akan membawakan berbagai pro-kontra vaksinasi sebagai penyebab autisme karena mengandung logam berat, dlsb.

Yang menjadi stand point Penulis adalah hak absolut umat Islam untuk mengkonsumsi produk halal. Dalam hal ini vaksin halal.

Sebab konsekuensi dari konsumsi bahan haram bagi seorang Muslim sangat fatal. Kata Rasulullah shallallahu’alaihi wassallam, setiap daging yang tumbuh dari yang haram tempatnya di neraka.

Menurut catatan Penulis, fatwa pertama MUI soal vaksin adalah pada 2002 untuk vaksin polio suntik (IPV). Bunyinya sama. Vaksin tersebut dihukumi haram karena bersinggungan dengan babi, tetapi boleh karena darurat.

Namun ada hal yang Penulis cermati dari fatwa-fatwa MUI soal vaksin haram. Baik yang lawas hingga yang terbaru. Yakni MUI selalu menyertakan rekomendasi. Khususnya bagi Pemerintah dan produsen vaksin.

Bunyinya :

  • Pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat.
  • Produsen vaksin wajib mengupayakan produksi vaksin yang halal dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
  • Pemerintah harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan.
  • Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agara memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan yang suci dan halal.

Dari berbagai ulasan tentang fatwa MUI ini, kebanyakan orang terpaku pada frase: haram tetapi boleh karena darurat.

Dari situ muncul banyak kesimpulan, bahkan dari Menteri Kesehatan, bahwa MUI telah menghalalkan semua vaksin. Sehingga semua program imunisasi, apapun jenis vaksinnya, dianggap telah halal.

Baca: MUI: Kemenkes-Biofarma Setuju Sertifikasi Halal Vaksin MR

Padahal, setiap fatwa MUI tentang vaksin berlaku spesifik untuk jenis vaksin tertentu. Seperti vaksin IPV pada fatwa tahun 2002, dan vaksin MR produksi SII tahun 2018.

Kembali ke frase “haram tapi boleh karena darurat” tadi. Hal ini malah kerap dipakai untuk menyudutkan dan membully kalangan yang menolak vaksin karena bahan haram.

Padahal, kalau dicermati, fatwa MUI tidak bertendensi menyinggung kalangan pro-vaksin atau yang anti-vaksin. Yang ada, MUI malah mendesak pihak-pihak yang bertanggung jawab soal vaksin untuk mewujudkan adanya vaksin halal.

Pertanyaannya, sejak rekomendasi dibuat pada 2002 apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah untuk menyediakan vaksin halal?

Upaya apa yang telah dibuat oleh produsen farmasi untuk mewujudkan vaksin yang suci lagi halal?

Sudahkah Pemerintah menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan?  >>> (BERSAMBUNG)

The post Salahkah Umat Islam Menuntut Vaksin Halal? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
149567
Pemberitaan Vonis Meiliana dan Penistaan Agama http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/08/27/149490/pemberitaan-vonis-meiliana-dan-penistaan-agama.html Mon, 27 Aug 2018 01:41:23 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=149490

Dalam kasus Meiliana, pers telah terlampau jauh membuat pemberitaan dengan menilai benar salahnya putusan Majelis Hakim

The post Pemberitaan Vonis Meiliana dan Penistaan Agama appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Rangga Lukita Desnata

 

PASCA putusan perkara penistaan agama dengan Terdakwa Ny. Meiliana, media mainstream sangat gencar membuat pemberitaan yang menyalahkan putusan Pengadilan Negeri Medan karena menjatuhkan vonis penjara 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan. Kontennya sendiri didominasi oleh pendapat dari pihak-pihak yang kontra tanpa menghadapkannya dengan pihak-pihak yang pro terhadap putusan tersebut. Dari pendapat “Aktivis HAM”  yang menuduh Majelis Hakim melakukan peradilan sesat, pendapat politisi partai berkuasa yang menganjurkan agar ditempuh jalan musyawarah sampai kepada komentar juru bicara organisasi masyarakat keagamaan, dimuat dan dikemas sedemikan rupa dalam rangka mencari justifikasi kesalahan vonis tersebut, meskipun pihak yang dimintai pendapat belum tentu telah membaca putusannya.

Menjadi permasalahan serius bahwa pemberitaan seperti itu tidak lagi menjadi alat kontrol terhadap pengadilan yang konstruktif, akan tetapi malah menjadi ‘pengadilan di atas pengadilan’ yang mendestruksi kewibawaan, martabat dan kehormatan badan peradilan.

Alasan yang sering digunakan untuk membenarkannya adalah kemerdekaan pers dengan merujuk kepada hak konstitusional dalam kemerdekaan berekspresi, menyatakan pendapat dan hak untuk mengelola serta menyalurkan informasi, tanpa sedikitpun mengindahkan pembatasan yang digariskan Pasal 28J ayat (2) UUD 1945: “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang denngan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”.

Karena konstitusi Indonesia menyatakan Indonesia merupakan negara hukum yang berdemokrasi maka dalam waktu bersamaan Negara dituntut untuk menjunjung tinggi supremasi hukum dan menjamin adanya kemerdekaan pers sebagai pilar utama demokrasi. Menyangkut hal itu Pasal 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 secara tegas menyatakan bahwa kemerdekaan pers berasaskan supremasi hukum. Dalam kaitannya dengan lembaga peradilan sebagai tempat menegakkan hukum dan keadilan bahwa Pasal 3 ayat (1) dan (2) beserta penjelasannya Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman melarang segala bentuk campur tangan dan tekanan-tekanan apapun baik fisik maupun psikis terhadap Pengadilan.

Baca: MUI Minta Semua Pihak Menghormati Vonis 18 Bulan Penjara Meliana

Terhadap relasi antara kemerdekaan pers dan supremasi hukum tersebut Supreme Court of California dalam kasus Times-Mirror Co. and L. D. Hotchkiss v. Superior Court of California menyatakan “Liberty of the press is subordinate to the independence of the judiciary”, yang berarti kemerdekaan pers tunduk kepada kemandirian peradilan (Elisha Hanson, Supreme Court on Freedom of the Press and Contempt by Publication, Cornell Law Review, Volume 27, Issue 2 February 1942, Page 177).

Sebagai wahana pembentuk opini pers berkewajiban menghormati norma-norma agama, rasa kesusilaan masyarakat dan asas praduga tak bersalah sebagaimana tercantum Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Pers: “Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah” yang dalam penjelasannya menyatakan bahwa “Pers nasional dalam menyiarkan informasi, tidak menghakimi atau membuat kesimpulan kesalahan seseorang, terlebih lagi untuk kasus-kasus yang masih dalam proses peradilan, serta dapat mengakomodasikan kepentingan semua pihak yang terkait dalam pemberitaan tersebut”.

Oleh karenanya pers dilarang menyatakan seseorang bersalah sebelum adanya putusan Pengadilan berkekuatan hukum tetap, dan  secara a contrario pers dilarang pula menyalahkan putusan hakim karena menyatakan seseorang telah bersalah. Tidak diindahkannya ketentuan ini menjadikan pers masuk mencampuri kemandirian peradilan, atau yang lazim dikenal sebagai contempt of court.

Menurut Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung bahwa contempt of court merupakan perbuatan, tingkah laku, sikap dan/atau ucapan yang dapat merendahkan dan merongrong kewibawaan, martabat, dan kehormatan badan peradilan.

Ketentuan contempt of court ini semata-mata ditujukan untuk menjaga kesakralan dan kewibawaan badan peradilan, bukan ditujukan untuk membungkam  pihak-pihak yang kritis terhadap pengadilan. Jangan sampai masyarakat tidak lagi mempercayai pengadilan hanya karena opini-opini pemberitaan.

Larangan untuk mencampuri proses peradilan melalui pemberitaan merupakan hukum yang berlaku umum baik di negara yang menganut sistem anglo saxon maupun eropa kontinental dan bahkan terdapat Negara yang mengancamnya dengan sanksi pidana (Ida Keumala Jeumpa, Contempt Of Court: Suatu Perbandingan Antara Berbagai Sistem Hukum, Kanun Jurnal Ilmu No. 62, Th. XVI (April, 2014), halaman 168 s.d. 174).

Dalam kasus Meiliana, pers telah terlampau jauh membuat pemberitaan dengan menilai benar salahnya putusan Majelis Hakim dengan menuduh Majelis Hakim telah melakukan uproffesional conduct dalam menjatuhkan putusan.

Pemberitaan semacam itu jelas sebagai contempt of court karena bersifat merendahkan dan meremehkan Pengadilan. Selain itu pula tidak dapat disangkal bahwa pemberitaan tersebut mengandung tekanan-tekanan baik secara terselubung maupun secara terang-terangan kepada Pengadilan tingkat berikutnya, mengingat perkara Ny. Meiliani sampai dengan saat ini masih berlanjut (interference with justice as a continuing process).

Campur tangan dan tekanan yang dilakukan pers dalam kasus Meiliana merupakan pelanggaran dari sub judice rule yang melarang penggiringan opini dalam pemberitaan yang berpotensi (reasonable tendency) maupun secara nyata (clear and present danger) membahayakan kemandirian peradilan.

Baca: Ini Omongan Meiliana Versi MUI Sumut

Prinsip sub judice rule ini dimaksudkan agar pihak-pihak yang terlibat pada proses peradilan tidak terpengaruh oleh pemberitaan, yang dapat mengakibatkan mereka mengenyampingkan fakta-fakta dan bukti-bukti di persidangan.

Alih-alih menjalankan fungsi kontrol sosialnya, pers malah menjadi pendikte pengadilan (trial by press). Konsekuensi dari dilanggarnya sub judice rule ini adalah menurunnya kualitas putusan, yang pada akhirnya dapat menjadikan masyarakat antipati terhadap Pengadilan (Lihat Wahyu Wagiman, Contempt Of Court  Dalam Rancangan  KUHP 2005, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, Jakarta, 2005, Halaman 15 s.d. 16).

Tentu saja putusan pengadilan tidak akan dapat memuaskan semua pihak, karena terdapat pihak yang dikalahkan dan terdapat pihak yang dimenangkan sehingga suka tidak suka, terima tidak terima apapun yang telah diputus Pengadilan mesti dihormati.

Bukan sebaliknya dengan mendelegetimasi lembaga peradilan melalui pemberitaan yang menyalahkan Hakim karena memutus perkara yang tidak sesuai dengan seleranya. Menjadi berbeda apabila pers hanya menyampaikan berita ansich tanpa menilai benar salahnya putusan, yang masih dalam ruang lingkup kemerdekaan pers dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Oleh karena itu demi menjunjung tinggi supremasi hukum dan mencegah masyarakat “menemukan keadilan dengan jalannya sendiri” sudah sepatutnya pers menahan diri untuk membuat pemberitaan yang mencampuri kemandirian peradilan. | Lubuk Basung, 26 Agustus 2018.*

Penulis adalah Ex Direktur Eksekutif Street Lawyer  Legal Aid, yang kini Calon Hakim pada Pengadilan Negeri Lubuk Basung

The post Pemberitaan Vonis Meiliana dan Penistaan Agama appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
149490
Staquf dan Kado Buruk Hari Pancasila http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/06/21/144424/staquf-dan-kado-buruk-hari-pancasila.html Thu, 21 Jun 2018 01:08:52 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144424

Janganlah sikap kritis dibantah kurang bijak bahkan dengan bahasa-bahasa mbelgedes, "seni diplomasi" ‘diplomasi tingkat tinggi’ lah

The post Staquf dan Kado Buruk Hari Pancasila appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Fathur Rohman

 

KETIKA Pak  Staquf, demikian pihak American Jewish Council (AJC) menulis nama panggilan Yahya Cholil Staquf, duduk di kursi empuk di atas panggung berceloteh soal Al-Quran dan Hadits sebagai “dokumen sejarah” serta mengungkapkan bahwa keduanya bukan saja ‘mungkin’ tetapi ‘harus’ diubah dirombak  (pemaknaannya) agar sesuai zaman, tercatat (data Jumat, 8 Juni) 124 warga Palestina di jalur Gaza, hanya sepelemparan bom fosfor Zionis dari kota tempatnya bicara, Yerusalem, telah gugur insyaallah sebagai syuhada menyusul kekerasan yang dilakukan zionis ‘Israel’ terhadap peserta aksi Great Return March (GRM) yang berlangsung sejak 30 Maret.

Ketika Pak Staquf bicara pada hari Ahad 10 Juni 2018, Indonesia pada 1 Juni baru saja meliburkan diri untuk peringatan Hari Kelahiran Pancasila. Itu peringatan yang didasarkan pada momen 1 Juni 1945 di mana Bung Karno menyampaikan pidato soal lima sila, yaitu, secara berurutan, Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila tentu saja tidak lahir pada hari libur. Ia lahir pada hari-hari genting dan penting di mana para tokoh bangsa ini saling berembug, berdebat, berdialektika siang dan malam, merumuskan falsafah negara dengan segala dinamika dan komprominya yang pada satu titik disebut Bung Karno sendiri telah menghasilkan suatu gentlemen’s agreement.

Dalam wewanti Pancasila, kita mengenal kaidah agar selalu meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Wewanti ini terus didengungkan sejak zaman PMP hingga PPKn. Bahkan terakhir kali didengungkan kembali oleh Menko PMK Puan Maharani dalam kesempatan acara Dewan Masjid Indonesia pada 8 Juni.

Di sisi lain, politik luar negeri bebas aktif NKRI kita dengan tegas menyatakan bagaimana sikap pembelaan atas kemerdekaan Palestina adalah juga harga mati, sebagaimana lazim sering kita saksamai ucapan Bung Karno soaI itu: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan ‘Israel’.”

Maka ketika Pak Staquf dengan entengnya bilang bahwa tindakannya itu dilakukan atas kepentingan pribadi, kita pun bertanya, bisikan apa gerangan yang telah mendatanginya untuk melecehkan Pancasila. Karena tak lain ia telah meletakkan tinggi-tinggi kepentingan pribadinya, seraya menginjak-injak kepentingan bangsa dan negara.

Baca: Wawancara Rabi David Rosen dengan Yahya C Staquf

Bagaimana kita menjelaskan kepada anak cucu kita, tokoh sekelas Sekjen PBNU dan anggota Wantimpres bertindak sedemikian itu. Anak-anak di sekolah pastilah akan kebingungan menjawab, sesuai dengan Pancasila sila berapakah tindakan Pak Staquf tersebut. Sungguh kado buruk buat Hari Kelahiran Pancasila.

Memang sekurangnya ada 2 wajah Pak Staquf yang ditampilkan ke media massa. Satu wajah Pak Staquf adalah sebagai narasumber talkshow yang dipandu rabbi Yahudi, seperti video yang diunggah langsung oleh pihak AJC. Tidak ada yang keliru dari berbincang dengan orang Yahudi. Tapi bahkan dalam kesempatan dialogis inipun Pak Staquf tidak sepatah katapun menyebut Palestina, apalagi pembelaannya.

Wajah kedua adalah transkrip bahasa Indonesia dari pidatonya di Yerusalem (Baitul Maqdis), yang dipuji sementara pihak karena dianggap cukup menyuarakan kegelisahan soal derita Palestina. Tetapi yang luput diperhatikan, bahkan dalam wajah kedua ini Pak Staquf melakukan bid’ah yang menodai Pancasila dengan menihilkan ketidakadilan sebagai sumber konflik, dan malah mendekritkan tudingan bahwa perjuangan Palestina itu akibat permusuhan dan kebencian.

Padahal kita tahu sama tahu, tidak mungkin ada perlawanan terhadap Zionisme Yahudi ‘Israel’ jikalau tidak ada ketidakadilan dalam rupa penjajahan, tembok apartheid, penggusuran paksa, permukiman ilegal, dan berbagai rupa kezaliman lainnya. Di sisi lainnya kita juga paham, dalam catatan sejarah, justru umat Islam dan otoritas Islam menjadi pelindung orang Yahudi dari kejaran persekusi. Sehingga perlawanan rakyat Palestina, selain sah dalam kacamata peraturan internasional sebagai hak resistensi melawan penjajahan, juga wujud sebagai perjuangan menegakkan keadilan. Maka wajar jika kita jadi khawatir, kacamata apa yang sesungguhnya dipakai Pak Staquf, apakah begitu kacamata “Islam rahmah”? Dicampakkan ke manakah Jas Merah-nya Bung Karno, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah? Apakah Pak Staquf juga lupa, Indonesia adalah bangsa yang lahir bersama penghayatan bahwa “kita mencintai perdamaian tapi kita lebih mencintai kemerdekaan.”

Jika orang yang bertandang ke Suriah di mana ISIS suatu tempo berkuasa diwaspadai keberadaannya, tak lain demi keamanan bangsa dan negara, bagaimana mungkin orang yang datang ke negara ilegal-cum-teroris seperti ‘Israel’ sembari mengiyakan saja perkataan mereka, tidak dicurigai. Jangan sampai Pak Staquf pulang sebagai antek teroris yang menebar syubhat pemikiran dan fitnah perpecahan atau membawa benih terorisme negara atau sekurangnya tanpa sadar telah dijadikan ‘human shield’ bagi aksi terorisme negara Zionis ‘Israel’.

Alasan bahwa AJC sebagai penyelenggara bukanlah lembaga negara tapi swasta, jelaslah invalid dan hanya bisa disetujui oleh kenaifan karena tak mampu melihat lebih dalam saling kelindannya AJC dengan diplomasi negara zionis ‘Israel’, seperti misalnya sudah diungkap oleh Imam Syamsi Ali.

Di sisi lain, kita sudah kelewat mafhum, bagaimana ‘Israel’ mengemas retorika soal perdamaian dan bahkan playing victim, padahal tembok apartheid mereka bangun, permukiman ilegal terus mereka dirikan, sedang senapan dan bom mereka arahkan menyerang warga Palestina dari semua kalangan tak peduli termasuk unlawful killing menurut peraturan internasional atau tidak.

Baca: KH Ma’ruf Amin: Kita Tidak Mendukung Yahya Staquf Kunjungi Israel

Ketika Pak Staquf mengenakan peci hitam berwajah sumringah dan bertepuk tangan atas pidato jagal abad ini, Benjamin Netanyahu di forum AJC itu, kita teringat Bung Karno yang berpeci hitam ketika pidato Inggris kita linggis Amerika kita setrika. Dan kita segera tahu keduanya amat berbeda.

Ketika Pak Staquf “i’tikaf” di acara AJC pada hari 25 Ramadhan 1439 itu, dengan kehadiran yang atas nama pribadi serta muatan penyampaian seperti itu, kita patut khawatir slogan “Islam rahmah” yang dilaungkannya sesungguhnya slogan kosong belaka atau paling banter umpan pemancing duit proyekan (wal ‘iyadzu billah) yang bagi zionisme Yahudi justru lebih jelas terdengar sebagai suara sumbang “Islam remeh” dan “Islam remah”. Islam yang seolah entah dengan metodologi berpikir macam apa, justru berusaha diremehkan dan diremahkan oleh Pak Staquf sendiri.

Semoga dalam hal ini Pak Staquf lekas kembali ke khittah dan tak tampak sebagai pihak yang diam-diam tanpa sepenuhnya sadar mendeklarasikan diri menjadi kakitangan penyangga zionisme.

Hari-hari berlalu selepas Ahad 10 Juni itu. Kita membayangkan tindakan Pak Staquf tersebut mestinya tidak tanpa konsekuensi. Apalagi MUI melalui KH. Ma’ruf Amin sudah menyatakan sikapnya, demikian juga Ketua Umum PBNU K.H. Said Agil Siraj sampai bersumpah Demi Allah. Apalagi Wantimpres sebagai lembaga negara yang semestinya menempatkan sikap Indonesia soal kemerdekaan Palestina sebagai kepentingan bangsa.

Apakah dalam waktu dekat akan ada pencopotan jabatan Pak Staquf dari PBNU dan Wantimpres? Atau jangan-jangan penunjukkan Pak Staquf pada 31 Mei 2018 (tak berselang lama setelah Pak Staquf diundang bertemu Wapres AS Mike Pence) sebagai Wantimpres pun dilakukan atas tekanan/dukungan Amerika Serikat, sekutu dan penyangga Zionisme ‘Israel’? Sehingga wajarlah jika Presiden Jokowi bakal sungkan dan enggan melakukan tindakan pendisiplinan atas manuver Pak Staquf yang terbukti jauh lebih banyak mudharatnya.

Lalu apa benar Presiden Jokowi hanya akan membiarkan sumber kegaduhan dan pelanggaran itu sebagaimana sikapnya membiarkan menteri-menterinya yang serupa? Ya kita hanya bisa bersikap kritis dan bertanya. Kalau sikap kritis dan pertanyaan kita hanya dibantah secara kurang bijak –bahkan membabibuta–  dengan dalih bahwa tindakan Pak Staquf itu dengan bahasa-bahasa tak penting dan mbelgedes sebagai alasan yang memaksakan  diri dengan istilah; “ikhtiar perdamaian”, “seni diplomasi”, “terobosan pemikiran” atau ‘diplomasi tingkat tinggi” tanpa betul-betul awas membelalakkan mata atas penderitaan warga Palestina terjajah, atau malah sikap kritis kita “membentur meja-meja kekuasaan yang macet”, maka lagi-lagi untuk sementara waktu, seperti kata Rendra, kita hanya akan terus bertanya, “Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.” Wallaahu a’lam.*

Alumnus Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta

The post Staquf dan Kado Buruk Hari Pancasila appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144424
Yahudi-Yahudi ‘Nyeleneh’ http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/06/13/144173/yahudi-yahudi-nyeleneh.html Wed, 13 Jun 2018 09:49:38 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144173

Margareth mengaku keheranan, banyak orang Islam sendiri yang tidak meyakini keunggulan Islam, bahkan banyak memilih paham liberal

The post Yahudi-Yahudi ‘Nyeleneh’ appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Dr Adian Husaini

 

MESKIPUN banyak mendapat kritik tajam dalam al-Quran, ada saja diantara kaum Yahudi yang nyeleneh. Ia tidak seperti Yahudi kebanyakan. Di masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, ada Abdullah bin Salam dan Mukhairiq, dua orang pemuka Yahudi yang akhirnya menerima kebenaran Islam. Namun, keduanya menjadi bahan olok-olokan oleh kaumnya. Mukhairiq bahkan akhirnya gugur sebagai syuhada dalam Parang Uhud.

Di masa modern ini, ada juga sejumlah Yahudi yang nyeleneh. Di antara mereka ada yang masuk Islam dan menjadi cendekiawan Muslim yang hebat. Ada juga yang belum sampai masuk Islam. Tapi, memberikan kritik-kritik yang keras terhadap ajaran agama Yahudi dan kekejaman negara ‘Israel’. Salah satu tokoh Yahudi jenis yang kedua adalah Prof. Dr. ‘Israel’ Shahak,seorang pakar biokimia dari Hebrew University.

Prof. Dr. Israel Shahak memang bukan Yahudi biasa. Dia tidak seperti sebagaimana kebanyakan Yahudi lainnya, yang mendukung atau hanya bengong saja menyaksikan kejahatan kaumnya. Suatu ketika, saat dia berada di Jerusalem, pakar biokimia dari Hebrew University ini menjumpai kasus yang mengubah pikiran dan jalan hidupnya. Saat itu, hari Sabtu (Sabath) Shahak berusaha meminjam telepon seorang Yahudi untuk memanggil ambulan, demi menolong seorang non-Yahudi yang sedang dalam kondisi kritis.

Di luar dugaannya, si Yahudi menolak meminjamkan teleponnya. Orang non-Yahudi itu pun akhirnya tidak tertolong lagi. Prof. Shahak kemudian membawa kasus ini ke Dewan Rabbi Yahudi – semacam majlis ulama Yahudi – di Jerusalem. Dia menanyakan, apakah menurut agama Yahudi, tindakan si Yahudi yang tidak mau menyelamatkan orang non-Yahudi itu dapat dibenarkan oleh agama Yahudi. Lagi-lagi, Prof. Shahak terperangah. Dewan Rabbi Yahudi di Jerusalem (The Rabbinical Court of Jerusalem) menyetujui tindakan si Yahudi yang mengantarkan orang non-Yahudi ke ujung maut. Bahkan, itu dikatakan sebagai ”tindakan yang mulia”. Prof. Shahak menulis: ”The answered that the Jew in question had behaved correctly indeed piously.”

Baca: Inilah Acara Organisasi Yahudi Dihadiri Benyamin Netanyahu dan Yahya C Staquf

Kasus itulah yang mengantarkan Prof. Shahak untuk melakukan pengkajian lebih jauh tentang agama Yahudi dan realitas negara ‘Israel’. Hasilnya, keluar sebuah buku berjudul  Jewish History, Jewish Religion (London: Pluto Press, 1994). Dalam penelitiannya, ia  mendapati betapa rasialisnya  agama Yahudi dan juga negara Yahudi (‘Israel’). Karena itulah, dia sampai pada kesimpulan, bahwa negara ‘Israel’ memang merupakan ancaman bagi perdamaian dunia. Katanya, “In my view, ‘Israel’ as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond.”

Sebagai satu ”Negara Yahudi” (a Jewish state), negara palsu ‘Israel’ adalah milik eksklusif bagi setiap orang yang dikategorikan sebagai ”Jewish”, tidak peduli dimana pun ia berada. Shahak menulis: “‘Israel’ ’belongs’ to persons who are defined by the ‘Israel’i authorities as ‘Jewish’,   irrespective of where they live, and to them alone.”

Shahak menggugat, kenapa yang dipersoalkan hanya orang-orang yang bersikap anti-Yahudi. Sementara realitas pemikiran dan sikap Yahudi yang sangat diskriminatif terhadap bangsa lain justru diabaikan.

Kaum Yahudi, misalnya, dilarang memberikan pertolongan kepada orang non-Yahudi yang berada dalam bahaya. Cendekiawan besar Yahudi, Maimonides, memberikan komentar terhadap salah satu ayat Kitab Talmud: “It is forbidden to save them if they are at the point of death; if, for example, one of them is seen falling into the sea, he should not be rescued.”

Jadi, kata Maimonides, adalah terlarang untuk menolong orang non-Yahudi yang berada di ambang kematian. Jika, misalnya, ada orang non-Yahudi yang tenggelam di laut, maka dia tidak perlu ditolong. ‘Israel’ Shahak juga menunjukkan keanehan ajaran agama Yahudi yang menerapkan diskriminasi terhadap kasus perzinahan. Jika ada laki-laki Yahudi yang berzina dengan wanita non-Yahudi, maka wanita itulah yang dihukum mati, bukan laki-laki Yahudi, meskipun wanita itu diperkosa.

Tidak banyak orang Yahudi yang berani bersuara keras terhadap agama dan negaranya, seperti halnya Prof. ‘Israel’ Shahak, sehingga dia memang bisa dikategorikan Yahudi yang nyeleneh.

Yahudi lain yang nyeleneh, bahkan kemudian menjadi seorang Muslim yang hebat adalah Margareth Marcus. Ia seorang Yahudi Amerika yang sangat tekun dalam mempelajari berbagai agama dan pemikiran-pemikiran modern. Akhirnya, sinar hidayah datang  padanya, dan mengantarkannya menjadi seorang Muslimah. Ia kemudian berganti nama menjadi Maryam Jameela. Sejak remaja, Margareth Marcus sudah berbeda dengan kebanyakan teman sebayanya. Dia sama sekali tidak menyentuh rokok atau minuman keras. Pesta-pesta dan dansa-dansa pun dia jauhi. Ia hanya tertarik dengan buku dan perpustakaan.

Ia bercerita tentang kisah ketertarikannya kepada Islam. Pada tahun kedua di Universitas New York, Margareth mengikuti mata kuliah tentang Yudaisme dan Islam. Dosennya seorang rabbi Yahudi. Pada setiap kuliah, sang dosen selalu menjelaskan, bahwa segala yang baik dalam Islam sebenarnya diambil dari Perjanjian Lama (Bibel Yahudi), Talmud, dan Midrash. Kuliah itu juga diselingi pemutaran film dan slide propaganda Zionis. Tapi, kuliah yang menyudutkan Islam itu justru berdampak sebaliknya bagi Margareth. Dia justru semakin melihat kekeliruan ajaran Yahudi dan semakin tertarik dengan Islam.

Baca:  Gerakan Perlawanan Islam Palestina Kecam Kehadiran Yahya C Staquf ke Israel

Margareth Marcus kemudian memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Dalam salah satu tulisannya, Margareth menulis: ”… saya percaya bahwa Islam adalah jalan hidup yang unggul dan merupakan satu-satunya jalan menuju kebenaran.”  Namun, Margareth mengaku keheranan, banyak orang Islam sendiri yang tidak meyakini keunggulan Islam. Ia menulis tentang hal ini: ”Berkali-kali saya bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Islam yang belajar pada universitas-universitas di New York yang berusaha meyakinkan saya bahwa Kemal Attaturk adalah orang Islam yang baik, dan bahwa Islam harus menerima kriteria filsafat kontemporer, sehingga bila ada akidah Islam dan periabadatannya yang menyimpang dari kebudayaan Barat modern, maka hal itu harus dicampakkan. Pemikiran demikian dipuji sebagai ”liberal”, ”berpandangan ke depan”, dan ”progresif”. Sedang orang-orang yang berpikiran seperti kita dicap sebagai ”reaksioner dan fanatik”, yakni orang-orang yang menolak untuk menghadapi kenyataan masa kini.”

Sebelum resmi menyatakan diri sebagai Muslimah, Margareth Marcus telah menulis berbagai artikel yang membela Islam di sejumlah jurnal internasional. Ia dengan tegas memberikan kritik-kritiknya terhadap paham-paham modern. Dalam suratnya kepada Maududi, 5 Desember 1960, ia  menulis:

”Pada tahun lalu saya telah berketetapan hati untuk membaktikan kehidupan saya guna berjuang melawan filsafat-filsafat materialistik, sekularisme, dan nasionalisme yang sekarang masih merajalela di dunia. Aliran-aliran tersebut tidak hanya mengancam kehidupan Islam saja, tetapi juga mengancam seluruh umat manusia.”

Setelah masuk Islam, Margareth kemudian memilih untuk berhijrah ke Pakistan, setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya. Maryam Jameela pun termasuk sedikit diantara kaum Yahudi yang memiliki sikap kejujuran dan keberanian untuk menerima Islam. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah beberapa kaum Yahudi yang nyeleneh tersebut. (2009).*

Penulis buku “Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam” dan menulis tesis berjudul “Pragmatisme Politik Luar Negeri Israel”

The post Yahudi-Yahudi ‘Nyeleneh’ appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144173
Tobat Hoax di Bulan Suci http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/05/23/142957/tobat-hoax-di-bulan-suci.html Wed, 23 May 2018 08:01:26 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=142957

Bertobatlah dari hoax di bulan Ramadhan, sebab hoax adalah sebentuk kerusakan (mafsadah) yang berbahaya

The post Tobat Hoax di Bulan Suci appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Yanuardi Syukur

 

SECARA bahasa, hoax  berarti “tipuan lucu/tipuan jahat” (a humorous or malicious deception). Cambridge Dictionary mengartikannya sebagai “rencana untuk menipu seseorang” (a plan to deceive someone), seperti memberi tahu polisi bahwa ada bom di suatu tempat, padahal tidak ada.

Curtis D. MacDougall (1958) dalam bukunya Hoax es, menjelaskan bahwa hoax  adalah “kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menyamar sebagai kebenaran.” Kepalsuan itu berbeda sekali dengan kesalahan observasi, penilaian, rumor, atau legenda. Singkatnya, hoax  adalah sebuah kepalsuan yang disengaja.

Perubahan dan Kompleksitas

Terjadinya hoax  berkaitan erat dengan masalah perubahan dan kompleksitas. Seiring dengan adanya media sosial hoax  menjadi sesuatu yang mudah sekali dibuat lewat berbagai aplikasi gratis dan diviralkan dengan cepat lewat berbagai media. Hoax  atau berita bohong belakangan ini menjadi “limbah media sosial” yang mengganggu jalannya interaksi sosial kita yang harmonis antarsesama.

Kemudahan itu menjadi hoax  mudah untuk diproduksi. Produksi hoax  sesungguhnya berjalan seiring-sejalan dengan dinamika yang berkembang dalam tataran sosial dan politik. Saking beruntunnya produksi hoax  kita jadi sulit membedakan mana fakta dan mana opini, mana kebenaran dan mana kepalsuan. Benar dan palsu seolah-olah menjadi menu yang harus kita telan sehari-hari.

Baca: Kiat-kiat Mengenali Berita Palsu atau Hoax versi Facebook

Menurut saya, setidaknya hoax  diproduksi karena dua faktor.

Pertama, bentuk resistensi kepada lawan. Hoax  tidak hanya dilakukan oleh satu orang kepada orang lainnya, akan tetapi juga dilakukan secara massif oleh kekuatan terstruktur.

Biasanya, hoax  itu hadir karena semangat perlawanan kepada kekuatan lain yang dianggap musuh. Ada anggapan bahwa “dalam perang, semua hal menjadi boleh, dan hoax  adalah bagian dari perang itu sendiri yang dibolehkan.”

Kedua, minimnya kesadaran literasi yang positif. Masyarakat kita tidak melewati budaya membaca secara serius. Langsung loncat kepada budaya internet. Minimnya budaya membaca membuat pembuat hoax  melakukan apa saja yang menurutnya baik. Tidak dipikirkannya apa plus dan minus dari aktivitas tersebut. Asal hoax  tersebar—dan berpengaruh, dipercaya orang—itu sudah bagian dari kesenangan mereka.

Baca: Redam Berita Palsu dengan Hoax Buster

“Manusia Piltdown”

Kasus “manusia Piltdown” (Eoanthropus Dawsoni) misalnya, adalah kasus hoax  akademik yang sempat dipercaya orang—bahwa ada jenis manusia itu—selama 40 tahun (1913 sampai 1953). Padahal, itu hanya hoax . Hoax  akademik. Pelakunya adalah Charles Dawson yang mengklaim bahwa dia telah menemukan sebuah tengkorak hominid di daerah Piltdown, dekat Uchfield, Sussex, Inggris.

Menurut Dawson, “manusia Piltdown” adalah kunci hubungan antara kera dan manusia, karena katanya ada cranium (bagian tulang belakang yang membungkus otak) yang rada mirip dengan manusia, serta adanya rahang yang berbentuk seperti rahang kera.

Empat tahun setelah itu, tepatnya 21 November 1953, ternyata ditemukan bahwa “manusia setengah kera dan setengah manusia” itu adalah sebuah penipuan karena pretensi dari Dawson ketika itu adalah untuk memuaskan keinginan orang-orang Eropa bahwa manusia yang awal-awal itu berasal dari Eropa. Semacam kesadaran Eurosentris, bahwa sentral dari semuanya adalah di Eropa.

Rupanya, skandal “kepalsuan yang disengaja” itu tidak terlepas dari persaingan antar bangsa yang ingin menjadi lebih superior dibanding bangsa lainnya. Maka, ada betulnya juga jika ada disebut bahwa hoax  itu dibuat oleh orang/kelompok yang punya kekuatan, kekuasaan atau power. Karena, mereka yang punya kekuatan bisa melakukan berbagai keculasan-keculasan—dalam berbagai tingkatannya—untuk mengelabui orang lain, seperti kasus Dawson dalam konteks “kekuasaan akademik.” >>> (BERSAMBUNG)

The post Tobat Hoax di Bulan Suci appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
142957
13 Pelajaran Peristiwa Tumbangnya Rezim di Malaysia http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/05/22/142883/13-pelajaran-peristiwa-tumbangnya-rezim-di-malaysia.html Tue, 22 May 2018 04:11:41 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=142883

Masalah yang membuat rakyat Malaysia marah --hingga membuat tumbangnya penguasa lama-- hampir sama dengan masalah di Indonesia, dominasi investasi China berserta tenaga kerjanya terjadi

The post 13 Pelajaran Peristiwa Tumbangnya Rezim di Malaysia appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Afriadi Sanusi

 

BANYAK hal yang perlu dipelajari dari Malaysia antara lain; Malaysia memperoleh kemerdekaannya dengan jalan diplomasi di meja rundingan. Pemilu Malaysia (PRU), tanggal 9 Mei 2018  juga sukses mengganti rejim yang telah berkuasa lebih dari 61 tahun dengan tanpa pertumpahan darah, kekerasan dan pengrusakan yang banyak merugikan bangsa dan infrastruktur negara sebagaimana yang sering berlaku di negara berkembang seperti Thailand, Myanmar, Afrika, Philipina, Indonesia, Arab dan sebagainya.

Pemimpin yang ada pula menerima dengan lapang dada proses demokrasi itu untuk menghormati kehendak dan suara rakyat yang inginkan perubahan. Yang paling mengagumkan adalah pendukung partai pemerintah yang kalah juga menerima keputusan itu dengan lapang dada tanpa menimbulkan kekerasan dan ancaman.

Sementara pendukung partai yang menang tidak merayakan kemenangan itu berlebihan melalui euforia kemenangan.Tiada perarakan, pesta pora kemenangan selain puji syukur kepada Allah dan doa selamat yang banyak di share dalam group media sosial disaat media mainstream nampaknya masih berpihak pada pemerintah yang lama.

Para pendukung partaiyang menang pula tidak menabik dada bangga merasa paling berjasa mengganti rejim apalagi inginkan balas jasa berupa jabatan, pangkat dan uang.

Perdana Menteri terpilih pula sejak awal lagi menjelaskan bahwatiada aksi balas dendam terhadap mereka yang kalah selain proses penegakan hukum (rule of law) yang harus dihidupkan di bawah bidang kuasa yudikatif.

Tindakan profesional yang dilakukan petugas keamanan seperti Polisi yang berhasil menyekat anarkisme dan tindakan Komite Pemilihan Umum Malaysia (SPR) yang melambat-lambatkan pembacaan hasil PRU menurut saya juga adalah bahagian dari strategi menghalang berlakunya kekerasan antara pihak yang kalah dengan pihak yang menang.

Para bawahan ini sepenuhnya bekerja untuk kebaikan bangsa dan negara walaupun pimpinan atasan mereka terpaksa atau dipaksa harus memihak pada pemimpin ketika itu.

Hikmah

Ada beberapa hikmah yang dapat kita pelajari pada PRU ke 14 Malaysia yang menyebabkan jatuhnya rejim Barisan Nasional yang telah berkuasa selama lebih 61 tahun di Malaysia, antara lain;

Pertama; pemimpin jangan lambat membaca gelombang kebangkitan kehendak dan suara hati nurani rakyat. Tetap maju dan tidak mundur sebagai pemimpin walaupun hanya menang secara minoritas pada PRU ke 13 dulu.

Baca: 60 Tahun Berkuasa di Malaysia Barisan Nasional Kalah Pemilu

Kebangkitan rakyat yang sudah diperlihatkan semenjak tahun 1998 lagi yang dipimpin oleh Anwar Ibrahim di Malaysia. Ini adalah sebuah gerakan ketuanan rakyat untuk menyedarkan rakyat akan hak-hak mereka sebagai pemilik mutlak tanah air mereka. Gelombang kebangkitan rakyat ini menurut perhatian saya tidak pernah surut walaupun dihadapi dengan berbagai-bagai tekanan, penipuan, ancaman dan penyalahgunaan kuasa lainnya dari penguasa dan pengusaha.

Kedua; belalah dan perjuangkanlahkonsep ketuanan rakyat yang diperjuangkan di atas. Sistem monarki dan sistem pemerintahan kuno yang mendewakan dan mengagungkan pemimpin sudah lama ditinggalkan.

Pemimpin diktator, kuku besi, zalim akan selamanya dimusuhi rakyat. Di sisi lain pemimpin menjelma bagaikan raja-raja baru dengan keangkuhan dan kesombongannya. Padahal perjuangan ketuanan rakyat telah melahirkan rakyat yang berjiwa merdeka.

Sehingga pegawai negeri, polisi, tentara, guru dan PNS lainnya tidak memilih partai pemerintah. Ini karena mereka sangat sadar bahwa mereka diangkat, bekerja dan digaji adalah untuk kepentingan negara dan bangsa bukan untuk kepentingan presiden apalagi untuk kepentingan partainya presiden. Mereka sadar bahwa presiden, menteri, dan jabatan politik lainnya adalah bersifat sementara yang setiap waktu boleh diganti dalam proses demokrasi.

Pemimpin akan datang dan pergi, sementara mereka akan tetap berbakti pada negara dan bangsa tanpa mengira siapa pun dan dari partai mana pun yang menang dalam pemilu. Bahkan di suatu negeri yang agak kental budayaberajanya, partai yang disokong oleh pihak istana secara peribadi kalah total di negeri tersebut.

Artinya mereka menyadaribahwa suara rakyat adalah kekuasaan tertinggi di negara mereka. Inilah antara hasil perjuangan ketuanan rakyat yang menghasilkan rakyat yang berjiwa merdeka tanpa merasa takut dengan kekuasaan yang bersifat sementara.

Ketiga; jangan menciptakan musuh melalui rejim anti kritik dengan memecat para petinggi negara yang dianggap kritis. Mendikte institusi negara untuk kepentingan mempertahankan status quo demi kepentingan individu dan partainya.

Pemimpin bagaikan manusia super yang mampu berbuat apa saja tanpa menghiraukan konsep pembagiankuasa dalam teori triaspolitica legislatif, judicative dan eksekutif. Ini karena rakyat mencatat dan mengingat semua bentuk kezaliman dan penyalahgunaan kuasa yang pernah dilakukan oleh pemimpin mereka dan sebagai balasnya mereka tidak akan pilih lagi partai dan pemimpin yang zalim serta menyalahgunakan kuasa tersebut.

Keempat; jangan mengabaikan suara tokoh intelektual cendekiawan masyarakat. Beberapa tokoh yang diakui kehebatannya dan memiliki ramai pengikut akar umbi seperti Tun Dr Mahathir yang ramai peminat di tanah air terutama di Kedah, Muhyidin Yasin yang ramai pengikut di Johor, Rafidah Aziz yang didengarkan suaranya oleh orang Perak, Rais Yatim yang menjadi tokoh di Negeri Sembilan, Zety Akhtar Aziz yang dikagumi oleh para ekonom. Tun Daim, Rais Yatim, Rafidah Aziz sebagai tokoh veteran juga telah menyatakan dukungan pada koalisi oposisi, Pakatan Harapan.

Semua tokoh hebat tersebut melakukan safari politik ke pelbagai negeri untuk mengajak masyarakat mendukung Pakatan Harapan. Beberapa negeri yang disebutkan di atas ternyata berhasil dikuasai oleh partai Pakatan Harapan hasil daripada effect para tokoh tersebut.

Kelima; pemimpin jangan mengabaikan kritikan kalangan akademik seperti tentang bahaya investasi China yang tidak adil dan membahayakan masa depan bangsa dan negara. Proyek raksasa tersebut diberikan bukan atas dasar tender terbuka, tidak transparant, sangat mahal, membawa pekerja dari China dan berbagai-bagai kelemahan lainnya yang jelas melanggar konsep good governance, demikian menurut pandangan tokoh akademik.

Keenam; jangan anggap enteng gerakan para profesional, think thank dan aktivis dalam koalisi apapun, karena ia telah mendatangkan hasil yang memuaskan. Ada murabbi yang bergerak di belakang layar, ada pemuda dinamik yang bergerak di alam nyata dan dunia media, tindakan Selangor mematahkan anggaran 1500 Ringgi pejabat kerajaan yang di lawan dengan bonus tiga bulan gaji oleh Pakatan Harapan.

Baca: Bebas, Anwar Ibrahim Dukung Penuh PM Mahathir

Strategi meraih simpati dengan dugaan kezaliman yang dilakukan oleh Lembaga Pendaftaran partai politik Malaysia, RoS (Registrar of Societies),  SPR, Jaksa Agung, Komisi Anti Korupsi Malaysia (SPRM), bendera partai yang dirusak dan sebagainya. Strategi Pakatan Harapan menaikkan bendera partai pada hari-hari terakhir menjelang hari Pemilu dan berbagai-bagai strategi yang mantap lainnya.

Ketujuh; jangan membuat rakyat marah karena mereka adalah ‘bos’ yang mengangkat dan menggaji pemimpin (sebagaimana sistem demokrasi).  Salah satu contoh adalah, isu yang membuat rakyat Malaysia marah adalah tentang tenaga kerja China yang datang berserta proyek yang ada. GST atau pajak 6% juga sangat membebankan kehidupan rakyat. Kasus uang 1MDB yang penuh kontroversial juga membuat masyarakat sangat marah pada Najib Razak.

Di sisi lain,  harga barang keperluan jadi sangat mahal setelah berbagai-bagai subsidi bahan keperluan pokok dicabut.

Kedelapan; sebagai peringatan kepada petinggi negara dan kita semua bahwa pangkat, jabatan, harta dan kedudukan semuanya adalah milik Allah Ta’ala yang setiap waktu bisa diambil-Nya kembali. Untuk itu gunakanlah ia untuk mencapai ridha Allah sebaik mungkin.  Perdana Menteri dan petinggi negara lainnya secara automatik akan diganti semuanya.

Kehidupan mereka akan bertukar secara total. Yang selama ini ada sopir, pengawal, pakai kenderaan, rumah, perhiasan mewah, disanjung, dipuji, diiyakan setiap ucapannya, sekarang semua akan berubah. Mungkin bank akan menarik kenderaan, rumah, perhiasan mewah yang mereka hutang selama ini. Atau sebahagian mereka akan hidup dalam penjara yang penuh dengan penderitaan dan kesakitan.

Tiada lagi gelak ketawa, senyum sombong angkuh dan bongkak yang selama ini mereka perlihatkan. Kata-kata mereka tidak akan didengar lagi dan sejarah mereka akan jadi sempadan dan pengajaran buruk untuk generasi akan datang.Orang yang tiada iman akan mengalami tekanan jiwa, sementara yang kuat imannya menganggap ia sebagai sebuah cobaan saja.

Kesembilan; jadilah ahli akademik yang profesional dan objektif bukan penjilat. Banyak para pengamat dan akademisi yang bersikap Asal Bapak Senang  (ABS) dengan mengemukakan hujjah yang subjektif dan cenderung mendukung pemerintah sebelum ini akan tamat riwayat akademik mereka.

Baca: Mahathir Mohamad dan Gerakan #2019GantiPresiden

Di Universiti mereka akan dianggap tidak memiliki integritas dan tidak akan didengarkan lagi pendapat-nya.

Kesepuluh; media haruslah objektif bukan untuk mencari keuntungan sementara. Berbagai-bagai media yang pro pemerintah selama ini telah ditinggalkan oleh masyarakat sehingga diperkirakan media-media tersebut akan rugi dan atau akan menjadi penjilat kepada tuan mereka yang baru pula.

Kesebelas; petinggi negara harus menganggap kerja sebagai ibadah kepada Allah. Jangan melanggar hukum manusia dan hukum Allah. Kemungkinan akan banyak petinggi negara yang selama ini bertindak di luas kerangka konsep trias politica akan diganti setelah ini. Mereka yang korup, dzalim dan menyalahgunakan kekuasaan akan segera dihukum dan diganti dengan mereka yang lebih baik.

Kedua belas; pengusaha harus menghargai rakyat sebagai konsumen yang membuat mereka jadi kaya selama ini, bukan penguasa ataupun partai. Para toke yang selama ini memberi orang politik biaya yang banyak untuk kampanye agar mereka dapat proyek pemerintah, akan rugi besar dan akan mengancam masa depan bisnis mereka selepas ini.

Ketiga belas; jangan melawan guru karena dalam dunia persilatan dikatakan guru akan menyimpan satu dua ilmu yang tidak diajarkan sebagai senjata jika suatu hari muridnya melawan guru. Perdana menteri Malaysia (PM) sebelum ini telah melawan gurunya dengan berbagai-bagai cara –yang boleh dikatakan– mendurhakai pada gurunya. Walaupun PM yang lama telah berguru pada PM yang baru puluhan tahun lamanya, namun nampaknya sang guru tidak mengajarkan semua ilmunya.

Jika dilihat dari masalah yang membuat rakyat Malaysia marah –hingga membuat tumbangnya penguasa lama– dan mengganti pemerintah mereka hampir sama dengan masalah yang berlaku di Indonesia saat ini, di mana dominasi investasi China berserta tenaga kerjanya terjadi, penyalahgunaan kekuasaan, melanggar konsep trias politica dan sebagainya yang diuraikan di atas.

Sementara kedudukan PM sebelum ini yang didukung oleh minoritas hampir sama dengan Jokowi yang hanya mendapat 70. 997. 833 (37 %) suara dibadingkan 119. 309.301 rakyat tidak memilihnya (hampir 63%) dengan perincian 62 juta pemilih prabowo dan 57 juta Golput.) pada pilpres 2014.*

Penulis mendapat PhD Student Islamic Political Science di University Malaya Kuala Lumpur, juga  pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia

The post 13 Pelajaran Peristiwa Tumbangnya Rezim di Malaysia appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
142883
Mahathir Mohamad dan Gerakan #2019GantiPresiden http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/05/11/142066/mahathir-mohamad-dan-gerakan-2019gantipresiden.html Thu, 10 May 2018 23:18:14 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=142066

Kemenangan Mahathir mengalahkan petahana dapat menjadi pelajaran bagi semua relawan Gerakan #2109GantiPresiden

The post Mahathir Mohamad dan Gerakan #2019GantiPresiden appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Mardani Ali Sera

 

HUBUNGAN saya dengan Malaysia cukup erat, bukan cuma karena sempat lima tahun menimba ilmu disana tapi dua anak sayapun lahir disana. Juga cukup banyak saya terlibat dan membuat kegiatan bersama dengan beberapa partai di sana mulai dari PAS, PKR, Amanah hingga kawan-kawan pergerakan Islam di sana.

Dan izinkan dengan sedikit pengetahuan yang ada saya ingin mengambil beberapa pelajaran dari kemenangan Pakatan Harapan dengan kandidat Perdana Mentrinya Tun Dr Mahathir Mohamad.

Selama proses kampanye yang singkat 28/4 Parlemen dibubarkan dan waktu pemilu yang 9 Mei proses politik berjalan sangat cepat. Walau ini pelajaran utamanya empat partai dengan “besar jiwa” bergabung menggunakan satu bendera, lambang Mata milik PKR.

Empat partai itu adalah PKR (didirikan oleh Anwar Ibrahim), DAP (sebelumnya dipimpin Lim Kit Siang dan dilanjutkan oleh anaknya yang juga Mentri Besar Pulau Pinang Lim Guan Eng), Partai Amanah (sebagian didirikan oleh alumni PAS dan profesional) serta Partai Bersatu didirikan oleh alumni Umno Mahathir Mohamad dan Muhyidin Yasin yang asal Johor. Keempatnya sepakat membuat konfederasi maju dengan bendera yang sama dan dengan isu yang sama.

Karena memang menggunakan sistem distrik, pemilu di Malaysia berprinsip the winner takes all karena itu konfederasi ini — dikenal dengan Pakatan Harapan— menyepakati siapa maju di daerah mana dan semua wajib memenangkan calon itu walau tidak berasal dari golongannya.

Baca: Umumkan Kemenangan, Mahathir Mengaku akan Kembalikan Supremasi Hukum

Maju bersama dengan payung konfederasi ( Pakatan Harapan) menjadi strategi jitu pertama menumbangkan Barusan Nasional yang juga Konfederasi beberapa partai pendukung pemerintah. Konfederasi teorinya seperti sapu lidi yang disatukan hingga dapat membawa gelombang besar ketimbang jalan sendiri-sendiri.

Pelajarannya, partai di Indonesia perlu memikirkan peluang konfederasi ini. Ini sekaligus ujian kedewasaan dan kecerdasan kita dalam berpolitik sehingga mampu mengedepankan kepentingan yang lebih besar ketimbang kepentingan suara per partai.

Pertama, bagi partai Islam atau Partai yang muncul setelah reformasi ide konfederasi ini menarik. Bagi Gerindra, PKS, PAN dan PBB wacana ini sangat layak dilakukan karena ada banyak kesamaan dlm langkah perjuangannya.

Kedua, pelajaran pentingnya adalah mahalnya harga sebuah TOKOH. Pada PRU (Pilihan Raya Umum) ke-13 tahun 2013 Barisan Nasional menang dibanyak negeri dan banyak kursi parlemen disebabkan oposisi belum mendapat tokoh besar bernama Mahathir Mohamad.

Indahnya lagi PKR menerima Tun Dr Mahathir walau lambang Mata yang Lebam yang jadi logi PKR merupakan cerminan mata Anwar Ibrahim yang saat itu mendapat perlakuan hingga matanya lebam. Semua mampu menepikan kasus internal atau masa lalu dan bekerjasama melangkah ke depan.

Dan sosok Mathir adalah sosok luar biasa. Di usia 92 tahun ( dalam kelender hijriyah usianya 94 tahun) masih memiliiki semangat dan pesona pada rakyat Malaysia. Saya kebetulan 8/5 sehari sebelum menjadi saksi pencoblosan di Kuala Lumpur berjumpa dengan beberapa aktivis dan beberapa pakcik dan makcik di kedai kopi.

Dan magnetnya adalah Mahathir Mohamad atas tiga alasan:

Pertama, Mahathir bukanlah salah satu Ketua Umum partai yang bergabung. Partai Bersatu yang dididirkan Mahathir, Ketuanya Muhyind Yasin. Jadi pilihan Mahathir membuat keempat partai nyaman.

Kedua, ketokohan Mahathir sebagai Bapak Pembangunan Malaysia tetap kuat. Bagi pendududk luar bandar (pedesaan) khususnya, Mahathir Mohammad adalah Bapak Pembangunan Malaysia. Suara pedesaan (rural area) yang selama ini jadi basis BN bisa diambil Harapan.

Ketiga, seperti biasa Mahathir Mohammad selalu bersuara lugas dan jelas. Dengan beberapa kasus besar 1MDB yang merembet pada BUMN seperti Felda dll turun asetnya plus serbuan pengusaha Tiongkok yang membawa sentimen ketersinggungan lokal diangkat dengan lugas dan jelas oleh Mahathir.

Baca: 60 Tahun Berkuasa di Malaysia Barisan Nasional Kalah Pemilu

Dampaknya suara Melayu yang jadi basis BN banyak diambil Pakatan Harapan. Pelajarannya mahal harga sebuah ketokohan. Dan itu tidak dibangun dengan wacana, dengan pencitraan ataupun politicking tapi dengan naiknya secara signifikan kesejahteraan dan martabat bangsa.

Bagi kita para pemimpin Indonesia, kompetisi kita bukan dengan orang lain. Tapi kita kompetisi dengan diri sendiri untuk benar benar menjadi pemimpin yang mendedikasikan seluruh diri bagi rakyat.

Ketiga, kecerdasan menggunakan social media. Sebenarnya ini blessing in disguise, rahmat yang terselubung, karena tidak mendapat saluran resmi digunakanlah Facebook live dan seluruh lini sosmed baik twitter, instagram dll untuk kanal kampanye. Dengan infrastruktur Jaringan internet yang baik strategi ini berjalan dengan sukses.

Pelajarannya selalu ada jalan selama ada kemauan. Sebagai oposisi, kecerdasan menggunakan cara dan sarana baru sebuah kemestian. Tagar #2019GantiPresiden, diakui atau tidak membawa kita pada sebuah keseimbangan pertarungan antara petahana dengan oposisi.

Bahkan banyak pengamat mengatakan tagar ini menjadi trend setter dan pendukung Pak Jokowi malah terjebak menjadi follower. Karena itu, kemenangan Tun Dr Mahathir mengalahkan petahana dapat menjadi salah satu pelajaran bagi semua relawan Gerakan #2109GantiPresiden. So, let’s work as smart and as ikhlas as possible. Insya Allah, kita bisa lakukan #2019GantiPresiden.*

Penulis relawan Gerakan #2109GantiPresiden

The post Mahathir Mohamad dan Gerakan #2019GantiPresiden appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
142066
Persatuan Umat Kunci Pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/05/07/141825/persatuan-umat-kunci-pembebasan-masjid-al-aqsha-dan-palestina.html Mon, 07 May 2018 02:17:22 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=141825

Solusi pembebasan Masjid Al Aqsha dan Palestina adalah persatuan umat dibawah kepemimpinan kaum Muslim

The post Persatuan Umat Kunci Pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Tatang Hidayat

 

KONFERENSI Pemuda Muslim Internasional untuk Pembebasan Masjid Al Aqsha dan Palestina di  Bandar Lampung pada 30 April – 2 Mei 2018 patut mendapatkan apresiasi. Pasalnya,  problematika yang terjadi di Palestina ternyata masih sedikit dari kalangan pemuda muslim yang memahaminya dan menjadikan isu prioritas.

Hal senada disampaikan delegasi pemuda dari berbagai negara yang menyatakan bahwa masih sedikit dari pemuda muslim di berbagai negara yang memahami dan menjadikan konflik yang  terjadi di Palestina sebagai isu yang utama.

Begitupun diskusi penulis dengan saudara Ali sebagai delegasi pemuda dari Thailand menegaskan bahwa di negerinya masih sedikit pemuda yang memahami problematika Palestina.

Hal serupa disampaikan delegasi pemuda dari beberapa negara lainnya, bahkan delegasi pemuda dari Jepang menyatakan bahwa isu Masjid Al Aqsha tidak di kenal di Jepang.

Oleh karena itu, digelarnya konferensi tersebut diharapkan mampu membahas penyatuan pemahaman pemuda Muslim dunia untuk pembebasan al-Aqsha dan Palestina dari penjajahan Zionisme Israel. Konferensi ini mengundang setidaknya 200 peserta pemuda baik individu maupun lembaga/organisasi dari 20 negara, utamanya negara yang mendukung kemerdekaan Palestina di PBB.

Sudah menjadi komitmen bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina sebagaimana amanat konstitusi UUD 1945, secara tegas Indonesia menyatakan dalam pembukaan UUD 1945 bahwa “kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Dari konferensi tersebut menghasilkan rekomendasi, salah satunya menekankan pada pentingya persatuan para pemuda Muslim sehingga mempermudah strategi perjuangan dalam mencapai tujuan utama, yaitu pembebasan Masjid Al Aqsha dan Palestina dari kolonialisme.

Telah kita pahami bersama bahwa Al- Quds adalah ibukota Palestina, pembebasan Al Quds, Masjid Al-Aqsha dan Palestina dari belenggu penjajahan mesti menjadi kewajiban kolektif kaummuslim di seluruh dunia yang digariskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan seharusnya dilaksanakan melalui gerakan yang bersatu padi di bawah kepemimpinan yang mengikuti jejak kenabian.

Pemuda muslim adalah potensi dan bagian kokoh umat Islam yang harus menjadi garda terdepan dalam perjuangan membebaskan Al-Aqsha dan Palestina. Pemudia muslim di seluruh dunia harus menyatukan langkahnya sebagai inisiatif nyata untuk mewujudkan kesatuan umat menuju terbebaskannya Masjid Al-Aqsha dan Palestina.

Masjid adalah pusat pergerakan pemuda dan sebagai titik awal kebangkitan umat. Kita selaku kaum Muslim seharusnya terus memberikan dukungan dan keteguhan kepada bangsa Palestina serta menguatkannya dengan berbagai cara.

Dalam pandangan kita selaku muslim, konflik yang terjadi di Palestina bukan hanya sekedar masalah kemanusiaan, tetapi akar masalahnya berkaitan juga dengan aspek aqidah/syariah, sejarah dan politik. Jika melihat dari aspek akidah/syariah tentunya akan kita pahami bahwa tanah Palestina (Syam) adalah tanah milik kaum Muslim. Di tanah ini berdiri al-Quds, yang merupakan lambang kebesaran umat ini, dan ia menempati posisi yang sangat mulia di mata kaum Muslim.

Tanah Palestina adalah tanah kiblat pertama umat Islam, tanah wahyu dan kenabian. Di dalamnya ada masjid Al-Aqsha sebagai tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam untuk dikunjungi.

Palestina juga adalah tanah Ibu kota Khilafah. Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. pernah bersabda, “Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku di Madinah,  lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah, lalu di al-Quds (Baitul Maqdis). Jika Khilafah ada di al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibu kotanya keluar dari sana (al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya.” (HR Ibn Asakir).

Dalam aspek sejarah tercatat bahwa Syam (Palestina adalah bagian di dalamnya selain Lebanon (Libanon), Yordania dan Suriah) pernah dikuasai Romawi selama tujuh abad (64 SM-637 M). Namun, berita akan jatuhnya Syam dari imperium Romawi ke tangan kaum Muslim muncul kala Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. menghancurkan sebuah batu ketika penggalian parit di Madinah dalam rangka menghadapi kaum musyrik dari Makkah.

Cita-cita agung untuk merebut Syam dari imperium Romawi terus digelorakan oleh Rasulullah Yunus bin Maisarah bin Halbas. kepada para Sahabat, di antaranya kepada Muadz pada suatu hari. Beliau bersabda; “Muadz! Allah Yang Mahakuasa akan membuat kalian sanggup menaklukkan Syam, setelah kematianku…”

Baca: Baitul Maqdis dan Sikap Umat Islam

Tepat pada tahun ke-8 H sebanyak tiga ribu pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah bergerak menuju Balqa’, salah satu wilayah Syam. Di sana sudah menanti bala tentara Romawi

yang berjumlah dua ratus ribu di bawah pimpinan Herqel, seorang kaisar Romawi. Sampailah detik-detik yang menegangkan tiga ribu pasukan kaum Muslim berhadapan dengan kekuatan besar berjumlah dua ratus ribu pasukan.

Saat itu, sebagian Sahabat berharap agar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengirim tentara tambahan. Namun, seorang sahabat bernama Abdullah bin Rawahah memberikan semangat kepada seluruh pasukan sembari berkata, “Wahai kaum Muslim, demi Allah…bersaksilah bahwa kita tidak berperang karena banyaknya pasukan. Kita tidak berperang melawan mereka kecuali atas nama Islam yang Allah telah memuliakan kita karena Islam. Berangkatlah, berjihadlah! Sesungguhnya hanya ada satu pilihan bagi kita, menang atau syahid!”

Saat pasukan kaum Muslim mendengar seruan ini, mereka segera bangkit melawan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya walau dengan jumlah yang tidak seimbang. Dalam pertempuran itu, panglima perang kaum Muslim, Zaid bin Haritsah syahid, dan diganti oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far pun syahid, lalu tonggak kepemimpinan diserahkan kepada panglima Islam yang ketiga, Abdullah bin Rawahah. Beliau pun syahid. Akhirnya, pasukan Islam dipimpin Khalid bin Walid.

Perjuangan panjang dan melelahkan kaum Muslim itu baru menuai hasil pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. (638 M). Namun sayang, setelah dikuasai kaum Muslim sekian abad hingga masa Kekhilafahan Abbasiyah, tanggal 25 November 1095, Paulus Urbanus II menyerukan Perang Salib dan tahun 1099 pasukan Salib menaklukkan al-Quds.

Namun, pada tahun 1187, Salahuddin al-Ayyubi sebagai komandan pasukan Muslim berhasil membebaskan kembali al-Quds dari pasukan Salib yang telah diduduki selama sekitar 87 tahun (1099–1187).

Jika memandang dari aspek politik, isu Palestina ini tidak bisa dilepaskan dari zionisme dan imperialisme Barat. Secara nyata, gerakan ini didukung oleh tokoh-tokoh Yahudi yang hadir dalam kongres pertama Yahudi Internasional di Basel (Swiss) tahun 1895.

Sebagai gerakan politik, zionisme tentu membutuhkan kendaraan politik. Zionisme lalu menjadikan Kapitalisme–yang berjaya dengan imperialismenya–sebagai kendaraan politiknya.

Zionisme ternyata berhasil menuai berbagai keuntungan politis berkat dukungan imperialisme Barat sejak dimulainya imperialisme (penjajahan) tersebut hingga saat ini.

Jelas dari paparan di atas, isu Palestina sesungguhnya akan selalu berkaitan dengan aspek aqidah/syariah, sejarah dan politik, bukan semata-mata masalah kemanusiaan. Karena itu, belum terlambat waktunya bagi kaum Muslim untuk menyadari bahwa musuh mereka saat ini adalah Zionisme Yahudi dan Imperialisme Barat. Kaum Muslim harus sadar bahwa akar masalah Palestina adalah keberadaan negara Israel yang berdiri di atas tanah milik kaum Muslim dan menjajah Palestina.

Baca: Hamas, Baitul Maqdis dan Izzah Islam

Jika masalah hakikinya adalah perampasan tanah Palestina (tanah kaum Muslim) oleh Zionisme Israel yang didalangi oleh Barat maka solusinya adalah seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu Wata’ala:

وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ

dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Baqarah: 190).

Mereka telah memerangi kaum Muslim, merampas tanah-tanah kaum Muslim, dan mengusir  kaum Muslim dari negeri mereka sendiri. Oleh karena itu, solusinya adalah dengan jalan melawan mereka dan mengusir mereka dari negeri kaum Muslim. Jadi, solusi tuntas krisis Palestina adalah jihad fii sabilillah, tidak ada yang lain.

Supaya solusi ini dapat dijalankan secara sempurna harus ada pengerahan pasukan dan persenjataan kaum Muslim. Untuk saat ini, langkah praktis yang harus ditempuh jelas tidak akan terlaksana kecuali oleh negara, karena negaralah yang memiliki pasukan dan perlengkapan militer yang memadai.

Oleh karena itu, kaum Muslim di seluruh dunia mesti mendorong dan mendesak para penguasa di negeri masing-masing, khususnya para penguasa di Timur Tengah, untuk bersama-sama mengirimkan tentaranya ke Palestina dalam rangka mengusir Israel. Merekalah yang bertanggung jawab, karena sikap diam merekalah krisis Palestina terus berlarut-larut.

Sayangnya solusi ini tidak dapat dilakukan selama kaum Muslim terpecah belah dan dipimpin oleh pemimpin yang tuduk di bawah hegemoni Barat. Karena itu, jangan pernah putus asa untuk terus bersatu dan mempersatukan kaum Muslim dan membangun sebuah institusi kepemimpinan kuat yang mengikuti jejak kenabian.

Sebab, ideologi Barat yakni Kapitalisme yang melahirkan imperialisme dan zionisme hanya mungkin dilawan dengan persatuan umat dibawah satu institusi kepemimpinan. Begitu pula negara semacam Amerika Serikat dan Israel hanya mungkin dapat dilawan dengan sebuah institusi yang menyatukan kaum Muslim.

Sehingga dengan cara persatuan umat yang dipimpin seorang pemimpin yang akan mengerahkan pasukan terbaiknya untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha dan Palestina. Jadi, solusi tuntas pembebasan Masjid Al Aqsha dan Palestina adalah persatuan umat dibawah satu institusi kepemimpinan kaum Muslim yang mengikuti jejak kenabian dan Jihad fii Sabilillah.

Sehingga dengan begitu insya Allah masjid Al-Aqsha dan Palestina akan kembali ke pangkuan  kaum Muslimin.*

Delegasi Pemuda Dari Bandung Raya Dalam Konferensi Pemuda Muslim Internasional untuk Pembebasan Masjid Al-Aqsha dan

The post Persatuan Umat Kunci Pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
141825
Benarkah Kartini Pelopor Kebebasan Perempuan? http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/04/23/141037/benarkah-kartini-pelopor-kebebasan-perempuan.html Mon, 23 Apr 2018 01:45:19 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=141037

Kartini tak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Ia hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak mendapatkan pendidikan layak

The post Benarkah Kartini Pelopor Kebebasan Perempuan? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: dr. Ifa Mufida

 

BEBASKAN Pikiranmu bahwa perempuan adalah sebuah keterbatasan, langkahkan kakimu jauh ke depan bersama kebebasan, menjadi Kartini-kartini Baru”.. demikian lah pendapat salah satu ibu Menteri Indonesia di hari Kartini  21 April kemarin.

Kita bisa melihat dari pendapat beliau bahwa Kartini dianggap adalah wanita yang bebas, wanita penggagas Kebebasan. Apa maksudnya?

Kita urai dari makna kata bebas. Bebas berarti tidak terikat dengan aturan, bersikap sesuka hati, tidak mau diatur dengan seperangkat tertentu. Lalu Aturan apa yang mengikat?

Selama ini wanita dianggap rendah karena adanya aturan bahwa dia harus dipimpin oleh seorang laki-laki di dalam rumah tangganya, bahkan dia harus mengikuti laki-laki sebagai pemimpin di dalam rumah tangga nya. Ada aturan harus izin ketika keluar rumah, ada aturan bahwa peran utama dia adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga yang menjadikan dia harus berperan besar di area domestiknya.

Wanita terikat juga untuk menutup aurat ketika keluar dari rumahnya. Hal ini lah beberapa yang menjadikan  anggap bahwa perempuan bukanlah wanita yang Bebas, dianggap wanita penuh keterbatasan karena harus terikat dengan seperangkat aturan.

Berbeda dengan seorang laki-laki yang memiliki peran utama sebagai qowwam, sebagai pemimpin di dalam rumah tangga. Laki-laki juga memiliki peran utama di luar rumah mereka yakni memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, yakni sebagai tulang punggung keluarga, sebagai sang pencari nafkah. Belum lagi dengan adanya kebolehan poligami, hal  ini dianggap  semakin  mendeskritkan  perempuan.

Baca: Menggugat Peringatan Hari Kartini

Seperangkat aturan inilah yang dianggap menjadikan wanita serba terbatas, dan tidak bisa melangkah kan kakinya jauh ke depan bersama laki-laki. Ironisnya ini dianggap sebagai gagasan yang dibawa Kartini. Pertanyaannya apakah benar Kartini yang membawa ide-ide kebebasan tersebut?

Pemaknaan perjuangan Kartini oleh kaum wanita sekarang ini nampaknya telah melampaui batas. Petikan surat Kartini berikut ini menegaskan kesalahan penterjemahan kaum wanita Indonesia.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama ” (Surat Kartini kepada Prof. Anton Dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Tak ada sepatah katapun dalam surat tersebut yang mengajarkan wanita untuk mengejar persamaan hak, kewajiban, kedudukan dan peran agar sejajar dengan kaum pria. Kartini memahami bahwa kebangkitan seseorang ditandai oleh kebangkitan cara berfikirnya. Kartini mengupayakan pengajaran dan pendidikan bagi wanita semata-mata demi kebangkitan berfikir kaumnya agar lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai seorang wanita.

Atas nama perjuangan Kartini, para wanita justru terjebak pada nilai-nilai liberalisasi dan ide barat yang justru ditentang sang pahlawan.

Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembela hak-hak wanita sangat jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tak lebih dari itu.

Kartini bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang baik dengan memenuhi seruan Surat Al Baqarah 257: Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya telah mendoronganya untuk merubah diri dari pemikiran yang salah kepada ajaran Allah. Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk menjadi muslimah yang memegang teguh ajaran agamanya.

“.. tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu2nya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).

Maka ketika kita menilik sosok Ibunda Kartini maka sesungguhnya Ibunda Kartini adalah sosok wanita yang pemikir, mencari kebenaran dan taat dengan syariat, meskipun dia belum secara sempurna belajar syariat Islam. Ada beberapa fakta yang bisa kita pelajari dari perjalan perjuangan hidup R.A Kartini.

Antara lain sebagai berikut;

Pertama. Kartini melihat bahwa kehidupan adat Jawa selama ini sangat mengekang perempuan karena tidak memberikan haknya secara utuh terutama tentang pendidikan. Yang perlu digaris bawahi adalah yang mengekang bukanlah syariat Islam, tetapi adat Jawa dimana beliau tinggal.

Baca: Sitti: Pejuang Perempuan yang Terlupakan 

Kedua. R.A Kartini berusaha mencari hakikat kebenaran tentang kehidupan sehingga mendorong beliau untuk belajar tentang syariat Islam. Yang akhirnya mengantar beliau belajar dengan KH.Mohammad Sholeh bin Umar, dan ini akhirnya merubah pemikiran beliau terhadap kemajuan Barat.

Ketiga. R.A Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya, dan beliau sangat taat terhadap ajaran Islam. Yang awalnya beliau menenteng poligami, tetapi setelah mengenal ajaran Islam, beliau mau menerima dengan lapang.

Keempat. Beliau pun menyadari bahwa Islam nya yang telah menunjukkan jalan dari kegelapan kebodohan menuju cahaya yang terang benderang. Salah satunya berkenaan dengan kedudukan wanita bukanlah untuk menyaingi Laki-laki tetapi untuk menjadikan mereka perempuan yang berpendidikan sehingga mampu menjadi ibu dan pendidik utama anak-anak mereka.

Hanya saja beliau wafat, saat usia beliau masih sangat muda. Terlebih belum tuntas mempelajari Islam. Maka pantaslah banyak slogan “Andai Kartini khatam mengaji” pasti lah beliau akan berusaha menerapkan syariat Islam secara sempurna.

Dengan demikian, menjadi Kartini-kartini baru bukanlah membebaskan diri dari seperangkat aturan yang mengikat perempuan, dan menganggap itu sebagai keterbatasan. Akan tetapi sejatinya justru kaum perempuan meneladani R.A Kartini untuk bersemangat mempelajari Al-Qur’an, dan mendalami Islam. Kemudian Berusaha dengan semaksimal mungkin melaksanakan aturan Allah, karena hanya Aturan Allah lah yang sesuai dengan kapasitas kita sebagian manusia. Dan aturan Allah lah yang telah mengantarkan kita kepada jalan kebenaran.

Dan yang terakhir, Muslimah harus menjadi agen perubahan di tengah-tengah Masyarakat. Perubahan apa? Bukan perubahan untuk menjadi sejajar dengan laki-laki tapi menjadi agen pelopor perubahan untuk umat menjadi peradaban yang tinggi, menemukan setiap akar permasalahan yang dihadapi mayarakat dan memberikan solusi yang tepat dan solutif.*

Penulis adalah praktisi kesehatan

The post Benarkah Kartini Pelopor Kebebasan Perempuan? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
141037
Penodaan Agama, Belajar pada Mohammad Natsir http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2018/04/12/140339/penodaan-agama-belajar-pada-mohammad-natsir.html Thu, 12 Apr 2018 09:42:47 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140339

Jadi bukan Islamnya yang perlu pembelaan, tapi kehadiran iman kita dan loyalitas kita kepada Islam agar Allah Subhanahu Wata’ala

The post Penodaan Agama, Belajar pada Mohammad Natsir appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Ali Muhtadin

 

BELAKANGAN ini Indonesia semakin sering  hebohnya kasus penistaan dan penodaan agama, khusunya terhadap agama Islam.

Masalah ini timbul sejak kasus Penistaan Agama yang dilakukan oleh Mantan Gubernur D. K. I Jakarta, Basuki Tjahaja Purama alias Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Peristiwa tersebut terjadi saat mantan Wali Kota Belitung tersebut sedang meninjau program pemberdayaan budi daya ikan kerapu pada 27 September 2016 lalu. Dalam pidatonya, Ahok menyatakan agar masyarakat tidak dibodohi oleh surat Al-Ma’idah ayat 51 tentang pemimpin kafir. Hal tersebut menimbulkan reaksi yang sangat besar dari kalanagan umat Islam setelah video sambutan tersebut diunggah Buni Yani melalui laman Facebooknya. Karena pidatonya tersebut, Ahok terbukti telah menistakan agama dan dijerat dengan 2 tahun hukuman penjara setalah mengalami beberapa rangkaian persidangan.

Dua tahun kemudian, tepatnya hari Kamis (29/03/2018) lalu, umat Islam kembali diributkan dengan kasus serupa, Penistaan Agama. Kali ini, putri Presiden pertama Indonesia, Sukmawati dianggap melakukan Penistaan Agama Islam melalui puisinya yang berjudul “Ibu Indonesia”.

Puisi tersebut dibacakannya saat acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya Fashion Week 2018 di Jakarta. Di dalam puisinya, Sukmawati menyebutkan bahwa suara kidung Ibu Indonesia lebih merdu daripada suara adzan. Puisi tersebut juga menimbulkan reaksi yang cukup besar dari kalangan umat Islam Indonesia. Bahkan, Sukmawati dilaporkan oleh beberapa elemen masyarakat kepada kepolisisan dengan dugaan melanggar pasal 156a Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan atau pasal 16 Unddang-undang (UU) no. 40 tahun2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis.

Baca: “Jihad Politik“ Mohammad Natsir

Kasus seperti ini nampaknya bukan hal baru. Pada bulan September 1929, seorang pendeta Protestan bernama A.C. Christoffels menggelar ceramah di sebuah gereja yang baru selesai dibangun dekat Pieterspark (sekarang Taman Merdeka), Bandung. Acara tersebut juga dihadiri oleh murid-murid Algemene Middelbare School (AMS), Sekolah Menengah Umum setingkat dengan SMA sekarang, termasuk Muhammad Natsir, salah satu pendiri partai Masyumi.

Di dalam ceramahnya yang berjudul “Mohammed als Profeet” (Muhammad sebagai Nabi), Natsir meniali bahwa Christoffelas telah menghina nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Secara umum, Christoffelas mengakui bahwa Muhammad sebagai seorang Nabi, namun Christoffelas menempatkan Muhammad sebagai Nabi Perjanjian Lama kelas 3 saja.

Isi ceramah pendeta tersebut esoknya dimuat oleh surat kabar berbahasa belanda A. I. D secara utuh. Hal tersebut membuat hati Natsir gelisah dan segera melaporkan hal tersebut kepada gurunya, Tuan Hassan.

Tuan Hassan atau biasa dikenal dengan Ahmad Hassan merupakan guru besar Organisasi Islam (Ormas) Islam Persatuan Islam pada saat itu. Kegigihan Natsir dalam mencari dan mendalami ilmu agama mengantarkannya bertemu dengan A. Hassan di gang bernama Gang Belakang Pakgede, Bandung. Dari A. Hassan lah Natsir banyak mempelajari Islam melalui diskusi dan buku-buku berbahasa Arab dan Inggris yang ia peroleh dari A. Hassan.

Menganggap pentingnya untuk membantah tulisan Christoffelas tersebut, A. Hassan menyarankan Natsir untuk membuat tulisan dan dikirm ke surat kabar A. I. D. tersebut. Meski sempat ditolak karena alasan A. I. D tidak memuat tuisan yang membahas soal agama, akhirnya tulisan yang mengatasnamakan Komite Pembela Islam tersebut dimuat. Dari kasus tersebut, Komite Pembela Islam akhirnya membuat sebuah majalah berjudul “Pembela Islam”. Majalah tersebut sebagai sarana dan wadah untuk meng-kounter pemikiran-pemikiran yang berusaha mengikis Iman dan Islam pada zaman itu. Termasuk di dalamnya juga dimuat bantahan-bantahan dari M. Natsir terhadap pemikiran Soekarno yang berusaha memisahkan agama dari negara.

Nampaknya, kasus penistaan agama tidak hanya terjadi satu dua kali saja. Pada April 1931, Seorang pastur Katolik Orde Jesuit, JJ Ten Berge, menulis artikel bernada hinaan kepada Al-Quran dan Nabi Muhammad yang dimuat secara provokatif di Jurnal Studien.

“Kita lihat… bagaimana dia (=Muhammad) seorang antropomorfis, seorang Arab buta huruf, pemuas nafsu syahwat yang kasar, yang biasa tergolek di atas pangkuan perempuan, bagaimana dia akan mempunyai pandangan tentang ke-Bapak-an (di Surga) yang luhur,” demikian tulis Ten Berge.

Baca: Tauladan Kepemimpinan Mohammad Natsir

Hal tersebut membuat Natsir merasa terusik dan sakit hati. Dalam Majalah Pembela Islam (no. 33) yang berjudul “Islam, Katolik, Pemerintah”, Natsir secara tegas mengkritik pemerintah (Hindia Belanda saat itu) yang dianggap tidak adil terhadap orang Islam dibandingkan dengan orang katolik dan kristen lainnya. Kritikan tersebut bermula ketika “Surat Tantangan” umat Islam yang ditujukan kepada Ten Berge untuk menghadiri rapat umum terbuka tidak disetujui oleh pemerintah.

Agaknya, pemerintah merasa khawatir jika akan terjadi konfrontasi yang dapat menimbulkan kekacauan. Akhirnya, surat yang ditandatangani oleh A. Bahaswan sebagai Ketua II Komite Sentral Al-Islam dan Wondoami selaku Sekretaris Umum disita pemerintah.

Natsir mengkritik sikap dan kebijakan pemerintah dengan kalimat, “Semua diserahkan kepada kerahiman dan ketinggian budinya Tuan Pastur yang terhormat!”.

Tidak hanya dengan sebuah kalimat, di dalam tulisan tersebut juga secara tegas dan terang-terangan Natsir menuliskan;

“Bandingkan suara mereka yang gemuruh dan aksi mereka yang berurat-berakar dalam negeri kita sudah berpuluh tahun itu, dengan suara dua-tiga surat kabar dan perkumpulan-perkumpulan Islam yang ada sekarang. Bandingkan dengan segala apa yang sudah ditanggung oleh kaum Muslimin di dalam dan di luar negeri kita dalam puluhan tahun akhir ini, dengan sepuluh atau dua puluh vergedering (rapat) Komite Al-Islam yang pakai sensor polisi! Sesungguhnya! Apa yang telah dikerjakan oleh orang Islam masa-masa yang akhir ini berhubungan dengan segala apa yang membencanai agama dan kaum seagama mereka, hanyalah setipis-tipis iman yang bisa dibukukan oleh orang yang bertauhid dengan “la Illaha Illallah!” [Biografi M Natsir, Ajip Rosidi, 1990]

Baca: “Keikhlasan dan Kepedulian dalam Dakwah”

Islam tak Perlu Dibela?

Apa yang telah diperjuangkan oleh M. Natsir dan umat Islam pada masa itu bukanlah hal yang harus dilupakan. Bahwa perjuangan membela Islam dan apa yang terkandung di dalamnya merupakan kewajiban umat Islam sampai kapan pun dan di mana pun. Meskipun, Islam sejatinya merupakan agama yang tidak perlu dibela. Karena Islam sendiri adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam.

Namun, kehadiran kita dalam barisan depan saat Islam itu sendiri dihina atau dilecehkan merupakan pembuktian dari Iman yang kita akui. Jadi bukan Islamnya yang perlu pembelaan, tapi kehadiran iman kita dan loyalitas kita kepada Islam agar Allah Subhanahu Wata’ala mencatat usaha kira menjaga agama ini.

Natsir mengajarkan kita bahwa sepahit apapun kebenaran harus diucapkan dan disampaikan, meskipun itu terhadap pemerintah atau penguasa. Karena di dalam hadits pun dikatakan bahwa Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kalimat yang haq di hadapan penguasa yang dzholim.

Selain itu, kasus yang terjadi di zaman dulu dan zaman sekarang ini merupakan bukti bahwa umat Islam akan selalu mendapatkan tantangan guna untuk menguji kadar keimanan mereka. Bagaiamana sikap kita terhadap penghinaan Islam merupakan bukti nyata dari Iman yang bersemayam di hati kita. Wallahu a’lam bishowab.*

Penulis mahasiswa International Islamic University of Islamabad

The post Penodaan Agama, Belajar pada Mohammad Natsir appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
140339