Mimbar – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 02 Nov 2017 04:49:02 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.3 Berhati-Hatilah Gunakan Medsos http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/10/24/126324/berhati-hatilah-gunakan-medsos.html Tue, 24 Oct 2017 06:35:31 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126324

Penyakit 'ain biasa muncul jika seseorang melihat foto, gambar, atau sesuatu lainnya yang diiringi oleh rasa kagum yang berlebihan

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Mujtahidah 

 

MARAH dan geram. Mungkin itulah yang dialami seorang artis wanita terkenal, beberapa waktu lalu.

Artis itu dikabarkan tidak terima hingga mengamuk sekaligus syok atas anak perempuannya yang jadi incaran kaum pedophilia (orang-orang yang orientasi seksualnya cenderung kepada usia anak-anak).

Konon, kejadiannya bermula dari kebiasaan mengunggah foto-foto anak perempuannya di media sosial (medsos). Tanpa sadar, berbagai pose anak berusia tujuh tahun itu menarik perhatian seorang pedofil.

Tidak terima atas yang menimpa anaknya, artis itu segera menyeret pedofil tersebut yang ternyata masih berumur 19 tahun ke meja hijau.

Menariknya, mungkin karena tak ingin kasus ini berulang, sang artis diberitakan juga menghapus semua foto-foto anak perempuannya yang selama ini diunggah di medsos.

Uniknya lagi, konon, beberapa artis-artis yang lain turut melakukan hal serupa.

Baca: 9 Tips untuk Anak yang Gemar Gunakan Media Sosial

Ada yang menghapus sama sekali foto-foto anaknya tanpa kecuali.  Ada juga yang sekadar mengaburkan (blur) sebagian foto wajah anaknya, sedang lainnya masih tampak jelas terlihat.

Sampai di sini, ada pelajaran yang bisa diambil dari kejadian di atas. Sebagai orang tua, tentu tidak ada yang menginginkan sesuatu kurang baik terjadi pada anak-anak kita.

Namun, di sisi lain, sikap bijaksana menyikapi dunia medsos juga layak dikedepankan oleh orang tua di zaman digital dan banjir informasi ini.

Bahwa tak semua yang kita punyai atau yang kita lakukan itu mesti dipertontonkan di jagat maya atau medsos.

Baca: 9 Tips untuk Anak yang Gemar Gunakan Media Sosial

Termasuk foto-foto anak-anak kita yang memang kadang begitu imut, menggemaskan, dan sebagainya.

Sebab tak ada yang tahu, bahwa di luar sana boleh jadi ada sepasang mata jahat atau sepotong hati dengki terhadap apa yang kita posting tersebut.

Belum lagi, potensi bahaya lainnya, yakni timbulnya penyakin ‘ain.

Penyakit ini biasa muncul jika seseorang melihat foto, gambar, atau sesuatu lainnya yang diiringi oleh rasa kagum yang berlebihan.

Akibatnya, orang tersebut lupa dengan hakikat sesuatu. Bahwa ada Zat Maha Kuasa dan Berkehendak yang mengendalikan segalanya, termasuk takjub terhadap foto atau gambar tersebut.

Terakhir mari saling mengingatkan untuk bijaksana dan berhati-hati dalam menggunakan medsos atau sarana komunikasi dan informasi yang ada.*

Ibu rumah tangga di Balikpapan, anggota komunitas menulis PENA

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Lima Prinsip Generasi Muda Merebut Dunia http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/10/23/126242/lima-prinsip-generasi-muda-merebut-dunia.html Mon, 23 Oct 2017 06:23:29 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=126242

Yuk! Kita rebut Indonesia dengan prestasi dan karya-karya kita agar membawa Islam ke pentas dunia

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Chusnatul Jannah

 

SALAH satu masalah krusial problem generasi muda saat ini problem identitas dan jati diri. Di saat teknologi informasi melewati batas-batas ruang, tidak sedikit generasi muda terombang-ambing dengan arus hedonis dan permisif.

Sudah banyak contoh pergaulan kekinian anak muda yang kebablasan. Mereka lebih bangga dengan idola kekinian seperti artis –artis sinetron. Pemuda tak lagi semangat, karena banyak dari mereka loyo dengan dunia kebaperannya.

Karena sedikitnya pemudia pembawa perubahan,  kini justru muncul gelombang gerakan  Barisan Emak-Emak Militan (BEM). Karena para Emak tak kuasa menaruh harapan di tangan mereka.

Pergaulan yang menyesatkan bukan sepenuhnya salah mereka. Kehidupan hedonis-permisif dan sekuleris inilah yang menjadi akar dari cabang-cabang permasalahan yang menimpa generasi muda kita. Bahkan pendidikan karakterpun tak mampu mengembalikan jati diri pemuda sebagai agent of change. Akibat kehidupan hedonis, pemuda hanya tahu apa dan bagaimana untuk bersenang-senang, tak peduli baik buruk, tak peduli halal haram.

Baca: Enam Karakter Pemuda Pilihan Islam

Akibat kehidupan permisif, segala hal kekinian dan modern selalu jadi percontohan seolah itu hal wajib yang harus diikuti boleh dinikmati, dan boleh diapresiasi. Karena kehidupan sekuleris, identitas hakiki pemuda banyak tergadaikan dengan gempuran budaya Barat yang sudah menghancurkan anak negeri ini.

Yang Muda yang Didamba

Patut kita renungkan bagaimana contoh pemuda teladan di masa kejayaan Islam seperti Muhammad Al Fatih. Di usianya yang masih belia 14 tahun, beliau sudah hafal al-Qur’an dan menguasai 6 bahasa dunia.

Di usia 21 tahun beliau menggantikan ayahnya sebagai kepala negara di kesultanan Turki Ustmani. Selain itu beliau juga ahli taktik militer, rajin ibadah, bahkan tak pernah meninggalkan sholat malam dan rawatibnya.

Berkat prestasi itulah, Allah Subhanahu Wata’ala berikan kemenangan beliau dalam menaklukkan Konstantinopel yang kala itu bentengnya tidak bisa ditembus selama 750 tahun lamanya. Kekuasaan Byzantium yang adigdaya saat itu takluk di tangan seorang Muhammad Al Fatih.

Sebagai generasi muda Muslim,  kewajiban kita untuk mengembalikan identitas hakiki anak-anak muda kita.  Agar tidak menjadi generasi muda mudah terombang-ambing dengan arus budaya Barat dan pemikiran yang merusak jiwa raga, maka perlu sekiranya melakukan langkah berikut:

Pertama, memiliki visi yang jelas

Sebagai pemuda harus jelas jati dirinya. Kita sebagai apa dan harus bersikap bagaimana. Sehingga tujuan hidup dan cita-cita itu menjadi terang dan gamblang.

Sebagai pemuda muslim, tentu tidak akan lepas dari visi dasar kita sebagai hamba Allah Subhanahu Wata’ala, yaitu beribadah kepada Allah serta tunduk dan taat kepada Allah. “Sesungguhnya Allah tidakakanmengubahnasibsuatukaumkecualikaumitusendiri yang mengubahapaapa yang padadirimereka”(QS. Ar-ra’du: 11)

Kedua, peduli sesama

Pantang bagi seorang pemuda untuk bersikap apatis dan cuek dengan kondisi sekitarnya. Karena pemuda adalah agent of change, maka harus tertanam dalam kesadaran kita bahwa kita adalah agen perubahan. Mengubah kondisi yang buruk menjadi kondisi yang lebih baik. “Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama  hamba itu menolong orang yang lain“. (Hadits Muslim)

Ketiga, bekerjasama dalam Kebaikan

Mengubah kondisi perlu untuk bahu-membahu dan bersama-sama dalam memperjuangkan kebaikan. Sebagaiman sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam: “Mukmin dengan Mukmin yang lain itu seperti satu bangunan; satu sama lain SALING MENGUATKAN.” (Muttafaq ‘alaih).

Keempat, pembelajar

Sebagai pemuda, harus senantiasa menjadi pembelajar. Terus belajar untuk meningkatkan kualitas diri, meningkatkan kualitas diri sebagai pemuda tentunya, dengan bekal ilmu yang  mumpuni agar peran sebagai agent of change dapat terealisasi dengan baik.

Baca: Jadilah Pemuda Muslim yang Berkarakter

Bukankah masa depan itu ada di tangan pemuda? Maka wajib bagi setiap pemuda muslim untuk mengkaji dan mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh, untuk diamalkan dalam kehidupan.

Kelima, sampaikan Kebenaran walau pahit

Pemuda adalah pribadi yang idealis, produktif, dan berani. Di sinilah cara untuk menghilangkan keloyoan pemuda dengan melantangkan setiap kedzaliman yang terjadi lalu menyampaikan kebenaran itu dengan berani, tidak takut dengan celaan orang yang mencelanya. “Oleh sebab itu, Sampaikan peringatan karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya(QS al-A’la [87]: 9-11).

Masa depan ini Indonesia ini ada di pundak kita. Bangkitlah wahai pemuda Muslim untuk melawan setiap bentuk ketidakadilan dan kedzaliman yang terjadi di negeri ini.

Sudah saatnya pemuda ambil peran,  jangan menjadi ‘sampah masyarakat’ sebagaimana ungkapan Arab mengatakan wujuduhu ka ‘adamihi (keberadaannya, sama dengan ketiadaannya).  Sungguh sia-sia.

Yuk! Kita rebut Indonesia dengan prestasi dan karya-karya kita agar membawa Islam ke pentas dunia.*

 Pembina IYCON (Islamic Youth Community) Pasuruan

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Model Pengawasan di Lembaga Keuangan Syariah http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/10/09/125332/model-pengawasan-di-lembaga-keuangan-syariah.html Mon, 09 Oct 2017 08:37:38 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=125332

Turki, negara yang menjadi sorotan karena kamajuan yang pesat di bidang ekonomi juga mulai melakukan manuver di sektor keuangan Islam

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Nur Muchamad Kurniawan

 

KEUANGAN Islam merupakan sektor yang mempunyai potensi cukup tinggi di masa depan. Apalagi dengan negara dengan penduduk yang mayoritas Muslim, sudah pasti pangsa pasarnya akan besar.

Kebanyakan Muslim mulai membawa tabungannya ke bank-bank yang menjalankan sistem yang sesuai dengan ajaran agama mereka. Motif ini dilakukan karena memang setiap Muslim ingin mendapatkan ganjaran akhirat dari setiap apa yang dilakukan selain ganjaran finansial yang diperolehnya di dunia.

Sistem keuangan Islam yang memang sudah ada sejak zaman dahulu mulai dilirik oleh pasar keuangan global terutama paska guncangan ekonomi yang terjadi di Amerika dan Eropa.

Di Indonesia sendiri sistem keuangan Islam terbukti lebih bandel daripada sistem keuangan konvensional yang menggunakan riba. Krisis moneter di Indonesia telah membuat bank-bank konvensional ciut dan gulung tikar.

Dua alasan yang sangat penting dimana keuangan Islam menjadi perhatian, pertama adalah krisis yang berkepanjangan serta pendistribusian pendapatan yang tidak merata sebagai akibat dari sistem finansial yang membuat uang dari uang itu sendirimenggunakan bunga. Kedua adalah karena jumlah pendapatan yang tinggi yang diperoleh dari sumber daya alam negara Muslim dimana sistem yang terikat di negara berkembang tersebut menyebabkan pembiayaan yang tinggi.

Baca: Pengawasan Syariah dan Keunggulan Bank Syariah

Kemudian, penting kiranya melakukan analisis terkait keuangan Islam di pasar global. Saat ini, total aset keuangan Islam menurut Laporan Keuangan Islam Global atau Global Islamic Financial Report 2017 mengalami pertumbuhan sebesar 7 persen yakni sebesar 2.293 triliun dolar AS pada tahun 2016.

Hal ini merupakan angin segar bagi sektor keuangan Islam untuk terus melakukan perkembangan yang lebih baik lagi.

Turki, negara yang menjadi sorotan karena kamajuan yang pesat di bidang ekonomi juga mulai melakukan manuver di sektor keuangan Islam. Dukungan pemerintah terhadap keungan Islam tampak jelas. Pemerintah menargetkan bahwa pada tahun 2030 sektor perbankan syariah harus meningkat menjadi 25% dari yang sebelumnya hanya 5%. Hal ini berarti peningkatan yang sedemikian besarnya membutuhkan dukungan yang besar pula.

Selain itu, dua bank umum di Turki juga memulai untuk mengoprasikan sistem keuangan Islam. Dan faktor-faktor pendukung lainnya seperti: pertumbuhan yang cepat pada industri pariwisata dan makanan halal, arus modal dari negara-negara di Timur Tengah yang masuk melalui sukuk, Turki yang merupakan 98% penduduknya adalah Muslim, dan gambaran masa depan bahwa Turki akan menjadi pusat keuangan.

Dengan adanya peluang-peluang tersebut, maka perlu adanya dewan yang mengawasi, memantau, dan memastikan bahwa bank-bank syariah (bank parsitipatif) telah menjalankan perannya dengan benar sesuai syariah guna menjaga kepercayaan masyarakat di sektor keuangan Islam.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lale dan Kurcat pada beberapa bank parsitipatif yang ada di Turki, menunjukkan bahwaDewan Pengawas Syariah di negara tersebut tidak memiliki wewenang dalam pengambilan keputusan serta tidak dilibatkan dalam pengembangan produk. Padahal fungsi itulah yang seharusnya dipegang oleh Dewan Pengawas Syariah di lembaga keuangan syariah.

Baca: Tiga Juta Penduduk Indonesia Menolak Bank Konvensional

Untuk alasan ini, maka dibuatlah model Dewan Pengawas Syariah di lembaga keuangan guna memetakan fungsi Dewan Pengawas Syariah yang seharusnya. Beberapa model yang diajukan adalah sebagai berikut:

Model1: Dalam proses pengauditan, auditor dan Dewan Pengawas Syariah saling bersinergi.

Model 2: Bank parsitipatif menentukan wewenang bagi Dewan Pengawas Syariahsehingga tugas dan fungsi dewan tersebut sesuai dengan kebutuhan pasar perbankan.

Model 3: Dewan Pengawas Syariah memiliki kecakapan di dua bidang ilmu yakni hukum Islam dan keuangan modern.

Model 4: Adanya laporan kepatuhan syariah dan mempublikasikannya sehingga masyarakat percaya bahwa bank tersebut telah menjalankan fungsinya sesuai dengan prinsip syariah.

Model 5: Adanya dewan nasional yang menaungi para Dewan Pengawas Syariah sehingga Dewan Pengawas Syariah pada tiap bank bertindak secara independen.

Model 6: Pada Rapat Umum Pemegang Saham(RUPS), bank menunjuk Dewan Pengawas Syariah atas opsi yang diberikan oleh dewan nasional.

Model 7: Adanya satu dewan dalam segi isu privasi dan memberikan kesempatan kepada tenaga kerja baru.

Baca: Bank Syariah Mau Maju Pesat? Harus Kaffah

Model 8: Adanya standar managemen dan standar untuk institusi Dewan Pengawas Syariah serta adanya anggota yang bebas dari tekanan dalam pengambilan keputusan.

Model 9: Melakukan sharing dengan para senior ahli guna melatih Dewan Pengawas Syariah yang baru.

Dari usulan beberapa model di atas, dapat diambil benang merahnya bahwa dewan pengawas  syariah yang ideal adalah Dewan Pengawas Syariah yang memiliki kompetensi di bidang hukum Islam serta keuangan modern.

Di Indonesia sendiri, fungsi Dewan Pengawas Syariah belum sepenuhnya optimal, hal tersebut lagi lagi terjadi karena kebanyakan perbankan syariah mengangkat Dewan Pengawas Syariah karena kharismanya dan popularitasnya di masyarakat bukan karena keilmuannya di bidang hukum Islam dan keuangan modern. Contohnya, seringnya terjadi kasus-kasus yang menyimpang dari syariah di bank syariah lebih dahulu diketahui oleh Bank Indonesia.Ini menunjukkan lemahnya pengawasan Dewan Pengawas SyariahMaka kebutuhan terhadap ulama yang integratif dalam hal ini semakin besar.

Dengan keadaan yang seperti ini, model di atas dapat dijadikan acuan bagi perbankan syariah di Indinesia dalam menjalankan aktifitasnya sehingga meski dengan kekurangan yang ada hal tersebut dapat tertambal.*

Mahasiswa STEI SEBI

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sumbangsih Haji terhadap Reformisme Islam di Masa Kolonial http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/09/25/124379/sumbangsih-haji-terhadap-reformisme-islam-di-masa-kolonial.html Mon, 25 Sep 2017 09:54:10 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=124379

Orang-orang Melayu Nusantara yang baru kembali dari Makkah datang dengan membawa angin perubahan di lingkungan tempat mereka tingga

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Abdul Lathif Ridho | Arya Pradipta

 

SEJAK berabad-abad lampau, Makkah memainkan posisi strategis sebagai mercusuar aktifitas intelektual Muslim. Di musim haji, kota ini menjadi tempat berkumpul dan berbagi pikiran para ulama yang datang dari berbagai belahan dunia. Hijaz, Kufah, Bashrah, Yaman, Samarqand, Khurasan, Mesir, India, serta negeri-negeri lainnya.

Tak heran jika kemudian banyak jamaah haji yang memanfaatkan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk belajar di tanah suci. Talaqi kepada para ulama di sana. Dari tradisi intelektual inilah, khususnya di era kolonial, ide-ide pembaruan Islam di kalangan para penuntut ilmu Melayu Nusantara mulai tumbuh, bersemi dan disebarluaskan.

Tercatat sejak abad ke 18, gerakan pembaruan Islam mulai digelorakan oleh orang-orang Melayu Nusantara yang baru kembali selepas berhaji dan menuntut ilmu di Makkah. Tak semuanya kembali ke Nusantara. Sebagian dari mereka memilih menetap dan mengajar di tanah suci, menjadi oase ilmu di tengah umat. Sebut saja; Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasi, dan Syekh Junaid Al-Batawi.

Baca: Raja Salman Undang Pimpinan Misi Haji, Ajak Persatuan

Di masa kini peran tersebut diteruskan oleh syekh Yasin Al-Fadani, Syekh Anis Thahir Al-Indunisi, serta Syekh Amir Bahjat (cicit dari Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi) yang masih memiliki garis keturunan Indonesia.

Orang-orang Melayu Nusantara yang baru kembali dari Makkah datang dengan membawa angin perubahan di lingkungan tempat mereka tinggal. Bermula dari gerakan pemurnian Islam di Paderi yang diinisiasi oleh H. Miskin, H. Piobang dan H. Sumanik, Ahmad Dahlan lewat Muhammadiyahnya, H. Abdul Karim Amrullah dengan Thawalib dan majalah Al Munir, Ahmad Syurkati melalui Al Irsyad, H. Samanhudi dengan Sarekat Dagang Islamnya serta H. Muhammad Yunus dan H. Zamzam melalui Persis (yang kemudian dilanjutkan oleh Ahmad Hassan).

Hindia Belanda

Angin perubahan yang mereka bawa tak sekadar mencangkup aspek ritual ibadah semata, namun juga semangat anti kolonial. Tak heran, sebab wacana penentangan terhadap kolonialisme negara-negara barat terhadap negeri-negeri Muslim kerap digelorakan tokoh-tokoh Islam dalam pertemuan tahunan ibadah haji. Hal inilah yang membuat pemerintah Hindia Belanda memberikan tambahan gelar haji untuk mengawasi aktifitas mereka setibanya di Nusantara.

Baca:Saudi Tahun Ini Beri Pelayanan Besar untuk Jamaah Haji

Samanhudi misalnya. Dipengaruhi oleh gagasan pembaruan Muhammad Abduh dan semangat anti imperialisme Jamaludin al Afgani yang dipelajarinya semasa di Makkah, Sarekat Dagang Islam didirikan sebagai bentuk perlawanan atas diskriminasi pemerintah kolonial terhadap pengusaha Muslim pribumi.

Di kemudian hari, organisasi ini bertransformasi menjadi Sarekat Islam yang berdiri di garda terdepan memperjuangkan hak-hak Muslim pribumi dengan HOS Tjokroaminoto dan H. Agus Salim sebagai tokohnya. Dari tempaan HOS Tjokroaminoto pula muncul seseorang yang kelak membacakan narasi kemerdekaan di tahun 1945: Sukarno.

Begitu halnya dengan Ahmad Dahlan. Didirikannya Muhammadiyah ketika itu merupakan bentuk respon terhadap kondisi masyarakat yang jauh dari tuntunan syariat, tumbuh suburnya lembaga pendidikan yang bertolak belakang dengan konsep Islam, serta opini di kalangan intelektual yang banyak menyudutkan agama Islam. Berdirinya Muhammadiyah tak bisa dilepaskan dari gagasan pembaruan Muhammad Abduh, Jamaludin al Afgani serta karya ulama-ulama klasik seperti Ibnu Taimiyah, Imam Syafi’i, dan Imam Ghozali yang dipelajari oleh Ahmad Dahlan di ketika belajar di Makkah.

Kini, setiap tahunnya ratusan ribu jamaah haji asal Indonesia pergi menunaikan rukun Islam yang ke lima ini. Para penuntut ilmu di tanah suci juga semakin meningkat dari masa ke masa. Namun adakah di antara mereka yang mampu dan telah meneruskan estafet perjuangan para pendahulu mereka, menjadi agen perubahan di tengah masyarakat, serta mengentaskan Umat Islam Indonesia dari keterpurukan? Wallahu’alam bisshowab*

Penulis adalah Tim Kajian Strategi PPMI Arab Saudi

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Jadikan Tahun Baru Islam Momentum Persatuan, Jika Tak Ingin Dijadikan “Hidangan” http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/09/19/123995/jadikan-tahun-baru-islam-momentum-persatuan-jika-tak-ingin-dijadikan-hidangan.html Tue, 19 Sep 2017 08:30:26 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123995

Persatuan ini semakin jauh panggang dari api, jika selain gila dunia, juga diperparah dengan berbagai faktor lainnya, seperti perkataan ulama Muhammad Abduh, "Islam itu tertutupi oleh umat Islam sendiri." Tapi jangan putus asa.

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Hidayatullah.com–  Masjid Al-Aqsha belum bebas. Muslimin Suriah masih dikejar-kejar tentara Bashar Al-Assad dan pendukung Syiah. Penduduk Yaman dan Afghanistan pun demikian mengalami nasib yang tak kalah memprihatinkan. Begitupun kondisi Muslim etnis Rohingya yang sekarang ini mengalami perlakuan yang sangat menyakitkan.

Bahkan di Indonesia pun benih-benih penghancuran Islam dan kaum Muslimin sudah mulai tampak.

Peristiwa kriminalisasi ulama, memenjarakan ulama dan pembiaran kepada penista agama serta agenda kebangkitan komunis tengah disiapkan adalah kenyataan tak terbantahkan, betapa umat Islam diujung tanduk.

Pertanyaannya, kapan semua ini berakhir?

Jawabnya, Muharram, tahun Baru Islam adalah momentum persatuan umat Islam benar-benar bisa dimulai. Kalau bukan dari sekarang, kapan lagi?

Sejatinya, memulai dan berani bermimpi mewujudkan persatuan kaum Muslimin hendaknya terpatri dalam diri setiap orang Mukmin.

Bahwa persatuan umat Islam harus benar-benar dikonsep dengan baik, jika tidak, maka selamanya umat Islam akan mengalami sejarah kelam, terus di desain untuk dihancurkan oleh musuh Islam.

Di depan mata, beberapa jam lagi kita akan memasuki tahun baru Hijriah, tahun baru Islam. Sebuah momentum yang sangat pas memulai persatuan itu.

Tahun yang menandai akan perpindahan suatu peradaban. Dari peradaban jahiliyah menuju cahaya Ilahi.

Sebuah era yang menjadi penanda permulaan kejayaan umat Islam dalam menerangi alam raya ini.

Tapi tampaknya, sampai sekarang cahaya itu semakin jauh dan meredup, semakin gelap, bahkan sebaliknya umat Islam semakin termarjinalkan.

Islam dan kaum Muslimin terpinggirkan dalam semua aspek kehidupan. Di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan seluruh sendi kehidupan nyaris tanpa ada celah keluar dari zona keterpurukan yang memang telah didesain musuh-musuh Islam menghabisi Islam dan kaum Muslimin.

Bahkan tak hanya termarjinalkan dan tertindas. Umat Islam dihempaskan ke ranah yang hina dan dinistakan, dibuat tak berharga.

Kaum Muslimin dikejar-kejar, dipenjara, dibantai, dikuliti seperti binatang, upaya genosida secara sistematis yang dilancarkan kaum kafir bekerja sama dengan kaum munafiq tengah dirasakan umat Islam dewasa ini.

Namun, perlu kita sadari khususnya umat Islam di Indonesia, bahwa jumlah yang besar dan banyak tampaknya tidak berdampak signifikan dengan kemajuan Islam. Bukan jumlah itu tidak penting, namun perlu kita renungkan bersama, bahwa menang jumlah saja tidak cukup.

Waspadai Wahn

Tentunya kita bertanya, apa yang salah? Mari kita renungkan Hadits Rasulullah yang berbicara tentang ini.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda yang diriwayatkan Abu Daud, “Akan datang suatu masa, nanti umat lain akan memperebutkan kalian, ibarat orang-orang yang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan.”

Sahabat bertanya, “Apakah pada waktu itu jumlah kami hanya sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukan, bahwa sesungguhnya jumlah kalian saat itu sangat banyak, tetapi kualitas kalian ibarat buih yang terapung-apung di atas air bah dan Allah akan mencabut wibawa kalian atas musuhmu serta jiwa kalian akan tertanam wahn, sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud wahn itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “yaitu cinta dunia dan takut mati”.

Hadits di atas memberi sinyal kepada kita, di kala dunia sudah menjadi tujuan hidup umat Islam, di kala dunia sudah menjadi pelabuhan terakhir hidupnya, dan di kala dunia lebih asyik dan indah di pandangan matanya mengalahkan indahnya taman-taman surga, indahnya istana yang memanjakan hidup di dalamnya, maka wajarlah umat ini dicabik-cabik, di koyak-koyak, dibuat tak berbentuk tak berdaya, ibarat bola ditendang ke sana ke mari sesuka hati penendangnya.

Persatuan ini semakin jauh panggang dari api, jika selain gila dunia, juga diperparah dengan berbagai faktor lainnya, seperti perkataan ulama Muhammad Abduh, “Islam itu tertutupi oleh umat Islam sendiri.”

Maksudnya entah karena perangai atau mindset berpikir kita yang menjadikan Islam tak kunjung bersinar.

Pendapat para ulama lainnya pun mengatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadikan umat Islam tidak bisa move on dari berbagai keterpurukan.

Di antaranya, rendahnya kualitas pendidikan di negara-negara Muslim sehingga berdampak pada rendahnya sumber daya manusianya, fanatisme golongan atau ormas belum sembuh bahkan dijadikan tunggangan oleh musuh Islam menghancurkan dari dalam, penyakit perseteruan antar mazhab yang tak sembuh, kurangnya kepedulian pada kondisi umat Islam di negara lain, sementara kader-kader Islam semakin suram bahkan pemuda-pemudi Islam justru berkiblat ke budaya musuh Islam.

Budaya hedonis, materialis, dan berbagai budaya lainnya tengah menghiasi generasi umat dan bangsa ini.

Jangan Putus Asa

Meski demikian banyaknya problem sedang melilit Islam dan kaum Muslimin, bukan berarti kita jadi pesimis dan putus asa.

Tidak ada kata putus asa dalam Islam. Malah sebaliknya, semangat kebangkitan justru perlu kita hidupkan kembali. Bukankah kondisi seperti ini pernah dialami oleh para Nabi kekasih Allah?!

Sebut saja di antaranya, peristiwa terjepitnya Nabi Musa dan kaumnya di Laut Merah, seolah tidak ada jalan keluar lagi, sehingga Allah memunculkan pertolongan-Nya melalui tongkat Nabi Musa sendiri yang bisa memberi solusi dengan membelah lautan. Tentunya nalar kita tidak akan pernah sampai ke sana, bagaimana bisa lautan bisa jadi jalanan.

Begitu pula peristiwa terselamatkannya Nabi Ibrahim Alaihissalam di tengah lautan api yang membara, nalar kita pun tak sanggup menjangkaunya, bagaimana mungkin api bisa dingin dan penyelamat bagi diri Nabi Ibrahim ketika itu.

Sekali lagi, semangat serta harapan kebangkitan dan kejayaan Islam bisa diwujudkan, tentunya dengan melalui persatuan kaum Muslimin.

Dan persatuan itu bisa diwujudkan melalui semangat Hijrah, semangat memaknai Muharram 1439 H.* Syamsul Alam, pegiat komunitas PENA Jawa Timur

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Apa Karena Rohingya Muslim, Tak Ada Tempat Baginya? http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/09/14/123615/apa-karena-rohingya-muslim-tak-ada-tempat-baginya.html Thu, 14 Sep 2017 07:32:15 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=123615

Apakah karena Rohingya Muslim sehingga kemanusiaan tak berlaku bagi mereka?

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Imam Nawawi

 

DIAM nya dunia internasional atas kebiadaban pemerintahan dan militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya, rasanya tidak mengherankan jika ada yang bertanya, apakah kemanusiaan tidak berlaku untuk mereka?

Padahal, tragedi kemanusiaan yang menimpa Muslim Rohingya bukanlah terjadi secara tiba-tiba. Majalah Masyarakat Asean Edisi 8 Juni 2015 pernah mengupas tentang masalah Rohingya secara kronologis.

Kata “Rohingya” berasal dari “Rohang” nama kuno untuk Kerajaan Islam Arakan. Etnis Rohingya tinggal di negara bagian Rakhine di Myanmar sejak abad ke-7 Masehi. Etnis Rohingya bukan berasal dari Bangladesh ataupun Bengali. Nenek moyang mereka berasal dari campuran Arab, Turki, Afghan, dan Indo-mongoloid (halaman 10).

Rohingya adalah warga negara Burma sampai tahun 1982 . Pada tahun itu dibuatlah undang-undang kewarganegaraan oleh rezim militer Myanmar atas tuduhan palsu bahwa mereka (etnis Rohingya) datang ke negara ini setelah tahun 1823 pendudukan Inggris di Negara Bagian Rakhine.

Sejak undang-undang tersebut, secara perlahan penderitaan yang dialami etnis Rohingya makin lengkap, terutama saat penguasa kala itu menolak memberikan status kewarganegaraan terhadap Muslim Rohingya.

Baca: Perlakuan Myanmar terhadap Rohingya Merupakan ‘Buku Contoh’ Penghapusan Etnis

Dengan  Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tahun 1982, etnis Rohingya akhirnya hanya dianggap imigran ilegal asal Bangladesh sehingga mereka diberi status warga tanpa kewarganegaraan. Berdasar UU tersebut,  , Myanmar tidak mengakui etnis Rohingya sebagai satu di antara 137 etnis yang ada di negari itu. Akibatnya, mereka kehilangan hak-haknya di tengah mayoritas kaum Buddhis, sehingga junta militer dapat bertindak sewenang-wenang.

Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tahun 1982 ini akhirnya melegalkan segala macam persekusi atas etnis Rohingya baik secara individu maupun kelompok, yang pada akhirnya membuat Muslim Rohingya “berhamburan” ke luar negeri mencari suaka atau pun hidup sebagai pengungsi dengan identitas sebagai stateless.

Bahkan, kala kekuasaan di bawah kendali Presiden Thein Sein secara jelas, ketidakmanusiawian Myanmar terhadap Rohingya semakin nyata. Ia mengatakan, “Rohingya are not our people and we have no duty to protect them.” 

“(Bahkan) Sein menginginkan agar etnis Rohingya berada dalam pengelolaan Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) atau ditampung oleh negara ketiga.”

Artinya cukup terang bukti bahwa Rohingya benar-benar diinginkan untuk segera meninggalkan Myanmar. Dan, tragedi kemanusiaan yang terjadi belakangan ini adalah bagian dari rangkaian untuk memaksa Rakhine State steril dari sejarah keberadaan Rohingya di negeri itu.

Berbagai kondisi yang menunjukkan kebiadaban atas Muslim Rohingya pun menyebar luas di media sosial, hingga akhirnya dunia tersadar bahwa tragedi kemanusiaan mengerikan benar-benar telah melilit kehidupan Muslim Rohingya. Kita mengutuk, kita membantu, kita prihatin, tetapi bagaimana kita bisa menghentikan itu semua?

Kekuatan PBB

PBB sebagai badan dunia telah memahami dan tegas menyatakan apa yang dialami etnis Rohingya sebagai genocida.

“Situasi (Rohingya) seperti contoh buku teks tentang pembersihan etnik,” kecam Pejabat Komisi HAM PBB Zeid Ra’ad al-Hussein di Jenewa dilansir Reuters.

Baca: Terjajah, Warga Palestina Masih Memikirkan Penderitaan Etnis Muslim Rohingya

Namun, alih-alih statement itu digubris oleh Myanmar, bantuan kemanusiaan PBB yang akan masuk ke Rakhine State pun diblokir oleh pemerintahan Myanmar. Media Inggris, The Guardian merilis laporan eksklusif bahwa terhitung (05/09/2017) PBB terpaksa menghentikan bantuan berupa makanan, air, dan obat-obatan ke ribuan warga sipil di Rakhine Utara sejak akhir Agustus.

Penyaluran bantuan juga semakin sulit dengan adanya batasan kunjungan dari pemerintah Myanmar ke negara bagian yang berbatasan darat dengan Banglades itu.

Sementara ini bisa disimpulkan bahwa PBB ternyata tidak berdaya dengan sikap kepala batu pemerintahan Myanmar. Bahkan Amerika, Eropa, dan Rusia tidak segera berunding untuk mendorong PBB selekasnya mengirim pasukan perdamaian ke Myanmar, menyelamatkan Muslim Rohingya. Bahkan Indonesia pun tidak mampu berbuat banyak, selama PBB tidak mengeluarkan maklumat agar Indonesia mengirim pasukan perdamaian ke Myanmar.

Sementara itu, dalam respon tindakan PBB yang lambat, Myanmar bahkan telah berupaya melakukan negosiasi dengan China dan Rusia yang memiliki hak veto di PBB untuk mencegah keluarnya resolusi PBB soal tragedi kemanusiaan etnis Rohingya.

“Kami sedang bernegosiasi dengan beberapa negara sahabat agar tidak membawa itu (krisis Rohingya) ke Dewan Keamanan,” tutur Penasihat Keamanan Nasional Myanmar Thaung Tun di Naypyitaw (06/09/2017).

Dengan demikian kian terkatung-katunglah etnis Rohingya. Tiongkok dan Rusia akan sangat kecil kemungkinan rela membela Muslim Rohingya. Pertanyaan sederhananya adalah, apakah karena Rohingya Muslim sehingga kemanusiaan tidak berlaku bagi mereka, tidak patut untuk mereka, dan tidak disegerakan untuk mereka?

Namun, sebagai warga dunia yang baik, kita sudah sepakat dengan penilaian PBB atas Rohingya, bahwa operasi keamanan brutal dan biadab itu adalah bukti dari genocida.

Semoga lembaga-lembaga dunia masih punya nurani dan nyali untuk berani dan bersikap adil atas tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya. Jika tidak, maka alam dan hukum Tuhan akan bertindak sesuai dengan mekanisme alamiahnya, menghukum siapapun yang bertindak irasional, biadab dan sadis dalam menginjak-injak nilai kemanusiaan yang sama-sama kita junjung tinggi. Wallahu a’lam.*

Aktivis Aliansi Gerakan Indonesia Baru (AGIB)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Hiasi Kemerdekaan dengan Move On http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/08/21/121864/hiasi-kemerdekaan-dengan-move.html Mon, 21 Aug 2017 03:30:13 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=121864

Kemerdekaan hakiki itu tak akan tercapai jika negeri ini masih belum mau move on dari sistem Neo-Imperialisme menuju sistem hidup yang mensejahterakan, yaitu Islam

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Widy Tsabitah

 

KEMERDEKAAN Republik Indonesia (RI) yang telah terlewati selama 72 tahun ini patut kita syukuri. Gebyar Dirgahayu kemerdekaan RI telah melewati puncaknya, 17 Agustus.

Demi menyambutnya, semua diwajibkan memasang segala atribut bernuansa merah putih. Lomba-lomba pun diakadakn untuk meramaikan suasana. Dari lomba makan kerupuk, tumpeng, nguleg rujak, tarik tambang, karung, olahraga, joget, nyanyi, hingga lomba apalah itu namanya yang bahkan sama sekali tidak ada hubungan dengan nuansa perjuangan, seronok. Intinya, semua semarak, senang dan gembira merayakan Hari Kemerdekaan.

Gempita HUT RI ke 72 seolah mengajak masyarakat melupakan sejenak hiruk pikuk kesengsaraan yang dialami beberapa waktu terakhir ini. Tak perlulah putar film kaleidoskop kemerdekaan 72 tahun ke belakang. Dalam 2 bulan ini saja masyarakat sudah dibuat jantungan dengan beberapa kebijakan pemerintah yang tiba-tiba dan semena-mena. Kenaikan TDL karena subsidi dicabut. Garam yang di”langka”kan hingga harus import dari Australia.

Pembubaran ormas Islam, yang sampai detik ini masih kontroversial dan menuai penolakan dari berbagai kalangan. Pengawasan ketat terhadap aktivis rohis sekolah, pembubaran acara pengajian di beberapa daerah. Seolah masyarakat tak boleh berilmu islam dengan benar. Dan munculnya pernyataan bahwa pemerintah akan gunakan dana haji umat  untuk infrastruktur pun cukup membuat masyarakat resah sekaligus geram.

Masih di bulan kemerdekaan, justru banyak bermunculan kasus penganiayaan dan pembunuhan. Dimana orang baik akan dicari, dibully habis-habisan, diteror, dicelakai, dianiaya bahkan dibunuh tanpa memberinya ruang untuk membela dan menyelamatkan diri. Seolah begitu murahnya harga nyawa seseorang, main bunuh saat emosi tak terkendali.

Baca: 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Jangan Lupakan Palestina

Dan di puncak acara kemerdekaan 17 Agustus, pemerintah mendatangkan grup Girlband dari Korea untuk menghibur masyarakat. Grup girlband yang beberapa waktu lAl- ditolak datang k AS karena gaya pakaiannya yang mirip pelacur, sekarang malah di”tanggap” ke Indonesia, negeri merdeka yang notabene adatnya masih ketimuran dan moyoritas muslim.

Ironi, merdeka namun harus dihadapkan pada banyak kenyataan pahit. Di negeri merdeka yang kaya raya ini, rakyatnya masih sulit menjangkau kebututhan-kebutuhan pokoknya seperti pangan, air, listrik, BBM dan rumah tinggal. Badan Pusat Statistik mencatat, pada bulan Maret 2017 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (tempo.co 17/07/2017)

Dan fakta mencengangkan dinyatakan bahwa stiap bayi baru lahirpun kini sudah harus menanggung hutang negara sebesar Rp. 16 juta, karena hutang Indonesia telah menginjak angka sekitar 4 ribu trillyun (postmetro 18/6/2017).

Masih mAl- rasanya kita teriak merdeka jika kondisi negeri yang gemah ripah loh jinawi ini masih tak mampu memakmurkan rakyatnya. Kekayaan alam tak mampu dikelola sendiri dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Malah  mempersilahkan asing dan aseng masuk mengelola semua SDA yang ada di tanah air tercinta kita ini.

Dengan dalih mengundang investor, semua tergadaikan bahkan diberikan percuma. Inilah Neo-Imperialisme. Penjajahan gaya baru yang tak banyak disadari oleh rakyat sebagai penghuni negeri yang merdeka ini.

Baca:  Sejarawan: Kemerdekaan Hasil Perjuangan Umat Islam, Indonesia Harus Dirawat

Bagaimana dulu penjajah menguasai kekayaan alam dan meperbudak rakyat Indonesia tentu menjadi pengalaman pahit dan menyakitkan bagi bangsa Indonesia. Bagaimana para pahlawan pejuang Nasional kita dulu bertaruh nyawa untuk membebaskan negeri ini dari penjajahan Belanda dan Jepang kala itu. Cukup menorehkan kenangan tak terlupakan di segenap benak rakyat Indonesia. Yah, membebaskan rakyat dan bangsa ini dari cengkeraman asing dan penghambaan pada selain Sang Pencipta, itulah yang diperjuangkan para pahlawan nasional kita. Dan atas berkat rahmat Allah SWT kita diberikan kesempatan untuk merdeka.

Kini, saatnya kita kembalikan semangat perjuangan pahlawan kita untuk terbebas dari segala bentuk penjajahan, termasuk neo-imperialisme yang telah mampu mengusai jiwa dan pemikiran rakyat Indonesia menjadi sekuler, liberal dan kapitalis. Harus ada tekad bulat dan kuat untuk lepas dari penghambaan terhadap asing dan aseng, baik kita secara individu, masyarakat dan negara, dalam hal ini pemerintah. Dan hal itu tidak lepas dari adanya dakwah, yakni ktivitas saling menasehati dan mengingatkan dalam hal kebaikan dan kebenaran.

Harus ada kerelaan diri dari semua pihak untuk mau kembali pada penghambaan diri hanya kepada Sang Pencipta.  Pada Pencipta yang telah memberikan jalan merdeka bagi bangsa ini. Pada Pencipta yang telah menyediakan tuntunan bagi seluruh aspek kehidupan.

Kemerdekaan hakiki itu tak akan tercapai jika negeri ini masih belum mau move on dari sistem Neo-Imperialisme menuju sistem hidup yang mensejahterakan, yaitu Islam sebagaimana dicita-citakan Pahlawan Nasional Indonesia dahulu.*

Penulis aktif di Majelis Rindu Syariah Sidoarjo

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Apakah Demokrasi Sudah Final? http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/08/16/121582/apakah-demokrasi-sudah-final.html Wed, 16 Aug 2017 06:00:39 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=121582

Demokrasi tidaklah final, ada sistem baru yang lebih membawa maslahat ummat, sudah seharusnya umat Islam beralih pada sistem tersebut

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Muhammad Fauzan Irvan

 

DISKURSUS  antara Islam dan demokrasi dalam negara penduduk musim adalah diskursus yang sangat panjang. Setiap ulama dan pemikir berangkat dari sudut yang berbeda-beda dalam mengurai makna demokrasi.

Perdebatan demokrasi pasti terjadi, karena memang tidak ada dalil atau nash yang “qath’i” atau “ajeg” menghukumi demokrasi, karena dasar demokrasi itu menurut saya pribadi bukan bagian ibadah mahdah(langsung ke Allah Subhanahu Wata’ala – shalat, zakat, puasa, dll) , hanya sebagai wasilah muamalah (sarana hubungan kepada manusia) untuk mencapai tujuan yang besar, yaitu Islam.

Dan ini sangat menarik kalau kita buat kajian secara komprehensif, agar kaum Muslimin mengetahui dan meningkatkan kapasitas wawasan nya dari dinamika dan ruang perdebatan demokrasi.

Walau sejujurnya ini perdebatan klasik tentang memahami demokrasi, sudah seharusnya kita berbicara bagaimana memenangkan Islam dengan demokrasi dan bagaimana konstruksi demokrasi dalam Islam.

Pemikir Islam abad ini , M.Elvandi (2011, hal. 247-248)  menjelaskan bahwa umat Islam di negara manapun, tidak ada yang menggunakan hukum Allah Subhanahu Wata’ala atau hukum Islam secara mutlak dan sepenuhnya dalam peraturan kenegaraan nya. Kita hari ini di hadapkan secara umum pada dua sistem, yaitu sistem demokrasi dan distem diktator.

Keduanya memang bukanlah dari Islam, tapi harus di hadapi. Keduanya tidak ideal, tapi harus dijalani sebagai warga negara dalam sebuah negara. Pertimbangan yang digunakan bukan sedang memilih antara yang ideal atau tidak, tetapi memilih sistem yang lebih memungkinkan dan yang lebih dekat dengan kemaslahatan umat Islam.

Baca: Demokrasi di Dunia Islam, Manfaat atau Madharat?

Demokrasi adalah produk Yunani pada mula nya, dan definisi yang familiar adalah demos artinya rakyat, dan cratos adalah kekuatan atau kekuasaan, sehingga ia berarti kekuasaan dan kedaulatan di tangan rakyat. Perbedaan mendasar antara demokrasi dan Islam tentang pemegang kekuasaan (Hakimiyyah) di atasdi jelaskan oleh  Muhammad bin syakir Asy-Syarif (Elvandi, 2011, hal. 260) bahwa asas demokrasi yang menjadikan rakyat sebagai pemegang kekuasaan sama sekali tidak bertentangan dengan Islam yang mengatakan konstitusi tertinggi di pegang Allah Subhanahu Wata’ala.

Tetapi maksud dari kekuasaan tertinggi di tangan rakyat adalah sebagai antitesis kekuasaan di tangan perorangan (diktator). Konteks yang saya pahami disinikedaulatan rakyat ini sebatas kedaulatan sesama manusia, bukan menegasikan kedaualatan dan kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala melalui hukum nya.

Tesis sintetik pertama di kalangan Islamis arus utama secara akademis di ajukan oleh  Al-Alamah Abu A’la Al Maududi, dalam karyanya Al Khilafah Wal Mulkdi kutip oleh Ahmad Dzakirin (2012, hal. 317) menjelaskan gagasan tentang “Theo Demokrasi”, yaitu rekonstruksi kedaulatan rakyat yang di batasi oleh kedaulatan Tuhan sebagai sumber hukum utama.

Baca: Sekularisasi Hukum Islam (1)

Maududi berpendapat bahwa Syura mereflesikan aspek demokrasi dalam Islam.

Ulama dan pemikir dari Mesir, Said Hawwa tidak memandang demokrasi sebagai tujuan, melainkan sarana atas apa yang di pandang sebagai tujuan yang paling mulia, yaitu Islam. Kembali menurut said hawwa, “pengalaman manusia telah membutuhkan bahwa demokrasi lebih kecil mudhorotnya di antara dua mudhorot yang ada, dan lebih moderat di antara dua keburukan di dalam mewujudkan pemerintahan yang Islami”.

Menurut Amin Rais, ada lima prinsip demokrasi dalam Islam, yakni : pertama, pemerintahan harus dilandaskan keadilan, kedua, sistem politik harus dilandaskan pada prinsip syura dan musyawarah, ketiga, terdapat prinsip kesetaraan yang tidak membedakan orang atas gender, etnik, suku ras dan agama, keempat , kebebasan didefinisikan sebagai kebebasan berfikir, berpendapat, pers, beragama, bebas dari rasa takut, hak untuk hidup dan mengadakan gerakan. (Sudarsono, 2010, hal. 74)

Sedangkan  Dr. Abdul Aziz Izzat Al-Khayyat di kutip oleh Elvandi (Elvandi, 2011, hal. 259) menyebutkan enam irisan antara demokrasi dan Islam , yaitu sebagai berikut :

  1. Pemilihan pemimpin dengan pemilu oleh masyarakat
  2. Menolak seluruh bentuk pemerintahan otoriter, tirani, atau rasis dan teokrasi.
  3. Membolehkan multi partai. Dalam Islam, keberagaman partai dan keolompok diakui, begitupun dengan demokrasi.
  4. Mengakui kepemilikan pribadi sesuai syura. Islam menjaminnya untuk kebaikan umat Islam, sebagaimana demokrasi menjaminnya dengan undang-undang untuk kebaikan masyarakat.
  5. Memberikan kebebasan publik, terutama kebebasan politik
  6. Memilih wakil-wakil rakyat untuk merepresentasikan aspirasi mereka.*>>> klik (BERSAMBUNG)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Pesantren, Antara Sikap Toleran dan Moderat? http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/08/15/121538/pesantren-antara-sikap-toleran-dan-moderat.html Tue, 15 Aug 2017 08:57:07 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=121538

Ajaran akhlak al kariimah dalam pesantren membuat jiwa santri berani dan berpegang teguh terhadap aqidah yang harus dibela

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh: Riki Faishol

 

DEWASA ini, pesatnya perkembangan pola pikir masyarakat mampu mengubah ideologi setiap individu masyarakat secepat kilat seperti membalikan telapak tangan.

Tak dapat dipungkiri bahwa faktor terbesar revolusi ini adalah media baik cetak maupun elektronik, dimana media mampu menyebarluaskan informasi secepat kilat dan mampu mengubah ideologi masyarakat dalam memahami konsep kehidupan.

Di abad milenium ini, semua hal negatif  yang berkaitan dengan agama Islam mampu mencuri perhatian lebih untuk terus dikaji, bahkan memunculkan stigma negatif dari pemeluk agama lain hingga muncul perspektif bahwa Islam-lah sumber terorisme, radikalisme, dan ekstrimisme.

Apakah seperti itu benarnya? Apakah Islam biang keladi dari semua ini? Tentu bukan, justru Islam lah yang berlabel rahmatan lil alamin  yang mengajarkan sebaliknya, Islam mengajarakan sikap tasamuh, tawasuth, dan tawazun serta berbuat baik kepada sesama.

Moderat

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008, moderat bermakna 1) berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah: 2) Selalu menghindarkan prilaku atau pengungkapan yang ekstrim. Sementara itu, istilah moderat, bagi kalangan Islam juga masih dianggap banyak masalah dan mengandung distorsi.

Baca: Menyedihkan, Pondok Pesantren Dianggap Sarang Teroris

Dr Adian Husaini dalam bukunya “Memahami Makna Muslim Moderat” memaknai kata moderat dengan baik dan adil. Dan begitu juga al imam Al-Qurthubi dalam tafsir Jami’ul Ahkamil Qur’an menafsirkan kata wasath (moderat) dalam surat Al-Baqarah dengan makna adil dan ditengah-tengah karena sebaik-baiknya sesuatu itu pada pertengahannya.

Bukan Radikal

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua diindonesia memiliki daya tarik tersendiri dan ciri khas yang tak dapat disaingi oleh lembaga pendidikan  manapun.

Sistem yang baik dan terorganisir mampu mempertahankan eksistensi pesantren hingga saat ini. Kurikulum pesantren yang terfokus pada pendalaman ilmu-ilmu agama menjadi daya tarik masyarakat untuk mempercayakan anaknya pada pendidikan pesantren.

Baca: Santri: Antara Dakwah dan Islah

Karakter pesantren yang selalu mengajarkan santrinya akhlaak alkariimah  dan mengajarkan untuk berpegang teguh pada akidah yang diyakininya mampu membawa dan menjaga panji-panji agama Islam hingga saat ini.

KH. Sahal Mahfudz dalam sebuah seminar “Memahami Karakter Islam di Pesantren” Yogyakarta 2005 beliau berpandangan ada empat karakter yang dimilki pesantren yaitu: 1) Teguh dalam hal aqidah dan syari’ah; 2) Toleran dalam hal syari’ah dan tuntunan sosial; 3) Memiliki dan dapat menerima sudut pandang yang beragam terhadap sesuatu permasalahan sosial; 4) Menjaga dan mengedepankan moralitas sebagai panduan sikap dan perilaku keseharian.

Banyak orang yang mengakui bahwa eksistensi pesantren sebagai agen perubahan (agent of change) bagi masyarakat dalam diskursus global diharapakan mampu menjadi struktur mediasi yang mampu memahami persoalan-persoalan yang mucul dalam masyarakat dan dapat menjembatani pemberdayaan masyarakat untuk mewujudkan cita-cita bersama membentuk civil society.

Karena lembaga pendidikan inilah yang “ramah” dengan masyarakat, pada ranah sosial-budaya, politik, ekonomi, lembaga ini juga mampu berperan sebagai lokomotif dan dinamisator dalam mengawali perubahan. Sudah banyak pesantren di Indonesia ini yang memiliki karakter seperti ini.

Maka patut kita jaga dan lestarikan karakter dan model pesantren seperti ini agar jauh dari stigma negatif dan intervensi oknum lain yang ingin mendiskreditkan Islam melalui pesantren.

Pendidikan pesantren sejatinya lebih menekankan kepada kemandirian para santri untuk mengarungi kehidupan. Lebih lanjut pendidikan pesantren juga sering dikenal dengan pendidikan yang mengajarkan syiar-syiar agama Islam kepada santri dan masyarakat.

Dunia pesantren yang mengajarakan para santri bijak dalam mengambil keputusan, selalu menerima perbedaan, dan bersikap moderat merupakan salah satu modal para santri untuk terjun di masyarakat. Implementasi kurikulum dan aktualisasi konsep pesantren yang terorganisir mampu mencetak para cendekiawan muslim moderat yang mampu bersikap adil dan bijak dalam setiap keadaan.

Baca: Membahas Ulang Konsep Moderat (Wasathiyah)

Sebagai contoh, di pesantren diajarkan kurikulum fiqh muqaran (fiqih perbandingan mazhab) dimana kurikulkum ini mengajarkan para santri bagaimana menghargai sebuah perbedaan, menerimanya, dan menolaknya dengan argument yang kuat tanpa harus mencederai lawan.

Artinya, pesantren mengajarkan kepada santri untuk bersikap adil dan bijak dalam menerima sebuah perbedaan dan tidak terjerumus kepada fanatisme yang berlebihan.

Namun semakin hari keharmonisan dunia pesantren mulai goyang seiring adanya intervensi politik internasional terhadap pendidikan Indonesia terkhusus pendidikan agama Islam yang ada di dunia pesantren.

Sebagai intitusi yang mengemban amanah mempertahankan syariat Islam pesantren sekarang sedang menuai badai tuduhan bahwa pesantren sebagai wadah kaderisasi terorisme. Mereka membabi buta dan menuduh gerakan Islam radikal dan fundamentalis sebagai munculnya akar terorisme di Indonesia.

Terlebih lagi jika persoalan ini dibenturkan dengan eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang dituduh sebagai wadah kaderisasi teroris yang lekat dengan budaya kekerasan, yeng merupakan antitesis dari orientasi agama Islam.

Maka disinyalir, wacana dan stigma ini hanyalah upaya dunia Barat untuk mendiskreditkan Islam dan hanya sebuah strategi barat untuk menghegemoni dunia Islam.

Pergerakan isu yang dipelopori oleh dunia Barat ini mampu mencuri perhatian lebih terhadap dunia Islam. Pergerakan isu yang masiv mampu memprovokasi masyrakat Indonesia untuk meragukan  pesantren dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan Islam.*>>> klik (BERSAMBUNG)

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>
Sikap “Pro-Nasional” dan “Anti-Islam” Warisan Penjajah Belanda? http://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2017/08/09/121139/sikap-pro-nasional-dan-anti-islam-warisan-penjajah-belanda.html Wed, 09 Aug 2017 03:00:04 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=121139

Kita berkeyakinan yang tak akan kunjung kering, bahwa di atas tanah dan dalam iklim Islamlah, Pancasila akan hidup subur

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>

Oleh:  Fathur Rohman

 

ADALAH  islamolog kebangsaan Prancis yang berdomisili di tanah jajahan Prancis, Aljazair, yang mengeluarkan pernyataan kontroversial.

Prof. Bousquet, nama islamolog itu, menyatakan ketidaksetujuannya dengan sikap Pemerintah Hindia Belanda saat itu. Ia memandang sikap penjajah Belanda terhadap orang Islam, justru “terlalu lembek dan mengambil muka.

“Pernyataan tersebut muncul selepas lawatannya ke Indonesia. Kontan tudingan itu tak luput dari tanggapan M Natsir, jurnalis muda muslim yang berusia 31 tahun kala itu.

Dalam majalah Panji Islam (Juli 1939), Natsir menyebut tudingan Bousquet itu sebagai “salah-wesel” alias salah alamat. Bagaimana tidak memancing kritik, sementara dalam realitanya penjajah bertindak sedemikian menindas umat Islam, malah oleh islamolog Prancis disimpulkan sebagai sebaliknya.

Dalam telaahnya, Prof. Bousquet menyuruh memperbandingkan sikap Pemerintah kepada “Taman Siswa” dan “Muhammadiyah”, sebagai bukti bahwa Pemerintah Belanda,—katanya—, pro-Islam dan anti-Nasional. Dengan argumentasi yang logis, retoris, dan dialektis, Natsir pun menjabarkan bukti-bukti yang membantah tudingan “salah-wesel” itu.

Diskriminasi Ormas

Sebagai bukti awal, Natsir membuka tabir soal kesan Belanda baik kepada Muhammadiyah. Karena setelah dibuka, yang sebenarnya pun terkuak. Bantuan sosial justru jelas tidak memihak kelompokkelompok Islam. Tidak ada sikap adil dan proporsional.

“Pemerintah memberi subsidi kepada Muhammadiyah. Betul! Akan tetapi bagaimanakah kalau tidak diberi, sedangkan zending dan missi mendapat bantuan yang berlipat ganda dari itu? Padahal Pemerintah menurut dasar pemerintahannya harus sama-sama adil terhadap segala macam agama!” Demikian Natsir menggugat sesuai fakta.

Diskriminasi Guru dan Sekolah

Natsir pun membongkar realita lainnya soal perlakuan diskriminatif dalam “pajak penghasilan” (loonbelasting) terhadap sekolah-sekolah Islam swasta. “Dan waktu Kepala Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara pergi audensi, untuk melepaskan guru-guru Taman Siswa dari “loonbelasting”, Pemerintahpun tidak enggan memberi kelonggaran; hal itu kalau diselidiki benar, sebenarnya satu hal jang “ajaib”, sebab sekolah-sekolah partikelir Islam, yang bertebaran itupun, seperti Taman Siswa juga dalam urusan keuangannya. Kenapakah guru-guru sekolah partikelir Islam terus membayar “loonbelasting”, sedang Taman Siswa tidak!”

Baca: MIAI: Wadah Ukhuwah Islamiyah [1]

Perihal adanya “larangan mengajar” (onderwijsverbod) kepada guru-guru Taman Siswa, Natsir pun menceritakan perlakuan lebih keji kepada para da’i Muhammadiyah.

“Maksud kita mengemukakan hal ini tidak apa-apa, melainkan menunjukkan bahwa terhadap Taman Siswa sebagai aliran Kebangsaan pun Pemerintah tidak enggan memberi bantuan jika perlu. Pernah guru-guru Taman Siswa mendapat “onderwijsverbod”. Benar! “Tetapi, berapa banyak dari muballighin Muhammadiyah yang sudah ditangkap dan sudah dihukum, berapa banyaknya sekolah Muhammadiyah yang sudah ditutup oleh Pemerintah, ataupun dengan perantaraan adat dari salah satu negeri yang beradat?”

Diskriminasi Politik

Tak hanya di sektor pendidikan, Natsir juga membantah kerancuan berpikir Bousquet dengan mencontohkan diskriminasi di sektor politik pemerintahan. “Pernahkah Pemerintah menolak permintaan Parindra atau Pasundan umpamanya, untuk diberi subsidi lantaran kebangsaannya? Burgemeester yang pertama sekali, yang telah diangkat oleh Pemerintah adalah orang Parindra!” Pada 1940, tercatat Burgemeester (pejabat kotapraja) memang berasal dari Parindra, partai yang berhaluan ko-operatif (sudi bekerjasama dengan penjajah Belanda).

Diskriminasi Tokoh

Selanjutnya Natsir mencontohkan diskriminasi yang menimpa sosok personal. “Pada waktu almarhum Cokroaminoto meninggal, kita tidak dengar bahwa ada wakil dari Pemerintah yang turut melawat. Akan tetapi cukup pembesar-pembesar Pemerintah yang menunjukkan perhatiannja, diwaktu dr. Sutomo meninggal.”

Baca: Sejarawan: Mosi Integral Natsir Selesaikan Konflik 

Sebagaimana diketahui Cokroaminoto adalah sosok penting dari kelompok Islam. Ia merupakan tokoh besar Sarekat Islam dan kemudian PSII. Adapun Sutomo tak lain jebolan Boedi Oetomo.

Diskriminasi Hukum

Diskriminasi Hukum atau kezaliman yang menimpa umat Islam, nyatanya menjelma pula di sektor penegakan hukum. Tuntutan-tuntutan ‘mosi’ koalisi umat Islam, terkait berbagai kasus ketidakadilan aturan hukum, tidak diperhatikan secara serius oleh pemerintah penjajah Belanda.

“Mosi Majelis Islam A’la, satu badan pergabungan dari perkumpulan-perkumpululan Islam yang besar, yakni mulanya yang berhubung dengan hinaan-hinaan atas agama Islam, sampai sekarang belum ada bekas-bekas perhatian Pemerintah atasnya, sesudah lebih dari setahun. Hal ini tentu tidak dapat dijadikan penguatkan dalil Prof. Bousquet itu, entahlah, kalau untuk yang sebaliknya.” Demikian Natsir menguraikan dalam M. Natsir. Capita Selecta, Jilid I.

Baca: MIAI: Wadah Ukhuwah Islamiyah [2]

Seperti dijelaskan Muhammad Cheng Ho (hidayatullah.com, 2016), setelah didahului sikap kompromi dan toleransi antar ormas Islam, serta aksi perlawanan kaum muslimin terhadap pemerintah kolonial, kaum adat, dan penista agama, kemudian mendorong berdirinya suatu federasi Islam yang baru, bernama Majelis Islam A’laa Indonesia (MIAI) di Surabaya pada tanggal 21 September 1937.

Dari 5 realita sosial di atas, tentu bukan berarti Natsir menyetujui penindasan atas kelompok nasionalis. Melainkan ia hanya menunjukkan kerancuan berpikir Bousquet yang mengambil kesimpulan tak berdasar.

Sebab kalangan nasionalis pun, banyaklah yang merupakan muslim bawaan dari bayi. Dan dalam diri muslim Indonesia, nasionalisme itu pun mekar lestari. Bahkan Natsir tegas berkata, “Kita berkeyakinan yang tak akan kunjung kering, bahwa di atas tanah dan dalam iklim Islamlah, Pancasila akan hidup subur.”

Maka setelah menerangkan 5 bukti di atas, dengan nada retoris, Natsir pun memungkas argumen bantahannya terhadap telaah Prof Bousquet, dengan balik bertanya: Sekarang, kalau andai kata ada orang yang menarik kesimpulan, bahwa Pemerintah “pro-nasional” dan “anti-Islam” bagaimana pulakah akan jawabnya?

 Pegiat CADIK Indonesia ( cadik.id ) , Alumus SPI Fatahillah Jakarta

(Admin Hidcom,Hidayatullah.com - Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran )

]]>