Ghazwul Fikr – Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com Berita Dunia Islam, Mengabarkan Kebenaran Thu, 30 Aug 2018 22:00:59 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.6 61797197 Ulama Jangan Jadi Alat Penguasa http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/08/13/148448/ulama-jadi-alat-penguasa.html Mon, 13 Aug 2018 05:34:15 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=148448

Ulama dan umat seringkali dijadikan pendorong mobil mogok. Mereka dijadikan alat untuk memenangkan kampanye politisi

The post Ulama Jangan Jadi Alat Penguasa appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

 

ULAMA di negeri ini, dari masa ke masa, kebanyakan lebih sering dijadikan alat oleh penguasa untuk mewujudkan ambisinya. Kala butuh, ulama dirangkul; ketika hajat sudah terpenuhi, mereka “didengkul”. Ini tak terkecuali, sejak penjajah bercokol, hingga era digital. Ulama menjadi kawan ketika diperlukan dan menjadi lawan saat ambisi telah terealisasikan.

Aji Dedi Mulawarman dalam buku “Jang Oetama Jejak dan Perjuangan H.O.S. Tjokro Aminoto” (2015: 102, 103), menyebutkan contoh konkret. Di zaman penjajahan Belanda, ada ulama yang diperalat penguasa. Sosok itu bernama Usman Husaini, seorang penasihat honorer alias bayaran Belanda untuk urusan masyarakat Arab.

Tokoh keturunan Arab ini sebenarnya adalah mufti Betawi. Jabatan yang begitu mentereng ini ternyata digunakan oleh Belanda untuk memenuhi ambisi mereka. Meski sebagai mufti (pemberi fatwa), namun pernyataan-pernyataannya kerap merugikan kegiatan pergerakan Islam yang kala itu adalah Sarekat Islam.

Dalam tulisan yang berjudil “Minhaj Al-Istiqamah fi Al-Din bi Al-Salamah” misalnya, mengatakan bahwa Islam bukanlah gerakan perlawanan tapi kedamaian. Sehingga, tidak selayaknya umat Islam melakukan gerakan perlawanan seperti Sarekat Islam. Pendapatnya ini tentu sangat menguntungkan Belanda yang sedang menggunakan strategi “Devide et Impera” untuk menghancurkan Sarekat Islam dari dalam.

Baca: Ulama, Politik dan Nahi Munkar

Gerakan Usman Husaini ini ternyata tak hanya cukup pada rana interpretasi saja, dia juga menyebarkan pamflet di seluruh lapisan masyarakat yang menyudutkan SI (Sarekat Islam). SI dan Pak Tjokro dituduh tidak islami sama sekali dalam menjalankan aktivitasnya. Sehubungan dengan hal ini, lebih lengkapnya, bisa dibaca dalam buku karya Sjafrizal Rambe yang berjudul “Sarekat Islam: Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942”, halaman: 70, 71.

Dalam buku “Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sumatra” (1977: 22) disebutkan bahwa sebagaimana raja-raja, sebagian ulama ada yang dijadikan alat kolonial untuk mengamankan dan menjaga stabilitas kekuasaan kolonial di bumi putra. Cara ini memang begitu efektif untuk melanggengkan kekuasaan.

Sementara ulama-ulama yang hanif dan berjuang teguh untuk mewujudkan kemerdekaan, pasti akan diberangus oleh kolonial, utamanya yang berjuang di ranah politik. Salah satu nasihat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda adalah sebagai berikut, “Yang harus ditakuti pemerintah (maksudnya: Belanda) adalah bukanlah Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik.” Islam jenis ini dipimpin oleh ulama yang lurus. Merekalah yang menjadi motor penggerak perjuangan. Karenanya, ulama jenis ini harus dihabisi. Sedangkan yang bisa dijadikan alat, harus tetap dipelihara.

Itulah mengapa, kata-kata masyhur yang dinisbatkan orang kepada Buya Mohammad Natsir ini penting untuk dicermati, beliau pernah berucap, “Islam beribadah, akan dibiarkan, Islam berekonomi, akan diawasi, Islam berpolitik, akan dicabut seakar-akarnya.” Dan ini tidak lepas dari peran ulama pejuang yang tak mau dijadikan alat oleh penguasa.

Pada masa Jepang pun, ulama ada yang dijadikan alat penguasa untuk memuluskan ambisinya. Di depan peserta konferensi dakwah, KH. Wahid Hasyim (1913-1953) di antaranya menyatakan bahwa Pemerintah Hindia Belanda dan Jepang tahu betul harga kedudukan ulama. Karena itu, keduanya menjadikan ulama sebagai alat untuk mempertahankan serta memperkokoh kedudukan mereka sebagi penguasa. Bahkan, Jepang memasukkan ulama sebaga alat strategis untuk mencapai kemanangan akhir dalam perang Asia Timur Raya saat melawan sekutu (Choirotun, 2008: 99).

Disepakatinya Piagam Jakarta oleh ulama dan bapak bangsa masih belum lekang dari ingatan umat. Di dalam pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa negara Indonesia berdasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun, sehari kemudian (18 Agustus 1945), kata-kata yang merupakan hasil kesepakatan tersebut dihapus dan diganti menjadi “yang maha esa”.

Kasman Singodimejo yang membujuk Ki Bagus Hadikusumo untuk menghapus tujuh kata akibat ucapan Soekarno pada akhirnya merasa bersalah terhadap penghapusan tujuh kata itu. Perhatikan janji manis Soekarno kepada Kasman, “Bahwa ini adalah UUD sementara, UUD darurat, Undang-Undang Kilat. Nanti 6 bulan lagi MPR terbentuk . Apa yang tuan-tuan dari golongan Islam inginkan silakan perjungkan di situ.” Ternyata, enam bulan kemudian janji itu tak ditepati.

Kepada Daud Beureueh, tokoh pejuang dan ulama Aceh, Ir. Soekarno juga pernah menjanjikan, “Wallah, billah, daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai syariat Islam. Akan saya pergunakan pengaruh saya agar rakyat aceh benar-benar bisa melaksanakan syariat Islam. Apakah kakak masih ragu?” Kata-kata yang disampakain Soekarno sambil terisak ini nyatanya hanya janji yang tak ditepati. Padahal, Beureueh sudah mengerahkan rakyat Aceh untuk berjuang membantu Soekarno. Wajah jika kemudian ia melakukan pemberontakan.

Baca: Krisis Politik karena Krisis Ulama

Demikian selalu polanya tidak berubah. Ulama seringkali dijadikan alat untuk mewujudkan ambisi. Pada era setelah Soekarno misalnya, dari Orde Baru hingga sekarang ulama sering kali tetap dijadikan sebagai alat penguasa. Siapa yang menyangka, Soeharto dengan pembawaan kalem yang dulunya terlihat sebagai antitesa bagi Orde Lama dan dekat dengan ulama, justru dalam perjalanannya memusuhi ulama. Baru di akhir-akhir pemerintahannya, mulai mendekati ulama, sampai ia jatuh dari kursi kekuasaannya.

Pada era selanjutnya, cara-cara ini tak kunjung usai. Ulama dan umat seringkali dijadikan pendorong mobil mogok. Mereka dijadikan alat untuk memenangkan kampanye politisi. Saat pemilu tiba, berbagai partai –bahkan nasionalis sekalipun—berlomba mendekati ulama untuk mendulang suara. Namun, setelah menjadi penguasa atau mendapat jabatan yang diidamkan, seolah-olah lupa terhadap ulama. Ibarat peribahasa: habis manis, sepah dibuang. Janji pun hanya sekadar janji.

Dari sejarah, seyogianya para ulama dan umat bisa mengambil ibrah. Sungguh ironis, jika pola yang digunakan penguasa atau orang yang hendak mencari kekuasaan ini terus berulang dengan menggunakan ulama dan suara umat. Ulama adalah pewaris para nabi. Ia seharusnya menjadi suluh dan penggerak umat untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam. Bukan sekadar menjadi alat penguasa, bukan sekadar menjadi pendorong mobil mogok yang akhirnya ditinggal pergi.*

Penulis alumni Universitad Al Azhar, Kairo dan Pendidikan Kader Ulama (PKU), PP Darussalam – Gontor

The post Ulama Jangan Jadi Alat Penguasa appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
148448
Mengislamkan Indonesia Bukan Mengindonesiakan Islam http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/07/08/145522/mengislamkan-indonesia-bukan-mengindonesiakan-islam.html Sat, 07 Jul 2018 23:00:36 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=145522

Jasa besar para dai dari Arab yang mengislamkan Indonesia. Menjadikan Nusantara lebih beradab

The post Mengislamkan Indonesia Bukan Mengindonesiakan Islam appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

 

“Tugas kita dalam berdakwah dan mensyiarkan Islam sebagai Rahmatan lil’alamin adalah mengindonesiakan Islam dan bukan mengislamkan Indonesia. Statemen ini pernah disampaikan oleh Prof. Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, yang menjadi viral belakangan ini.

Pendapat ini disampaikan Mahfud MD beberapa kali dalam sejumlah kesempatan. Misalnya pada 22/4/2017 pada saat pelantikan pengurus IKA-UII (Ikatan Alumni Universitas Islam Indonesia) Cabang Australia di Melbourne dan pada peringatan hari Santri Nasional (HSN) di Konsulat Jenderal RI di Melbourne Australia 22/10/2016.

Apa maksud Mahfud MD “mengindonesiakan Islam” dan apa bedanya dengan “mengislamkan Indonesia”?. Dalam sebuah kesempatakan dijelaskan bahwa mengindonesiakan Islam yang dimaksud Mahfud adalah menyebarkan Islam secara damai melalui relung-relung budaya serta akulturasi melalui proses saling memberi dan menerima. Sedangkan mengislamkan Indonesia lebih terkesan memaksakan dan kooperatif sehingga berwatak eksklusivisme.

Mengindonesikan Islam, jelas Mahfud, akan melahirkan inklusivisme dan toleransi dibarengi pluralisme seperti yang ditempuh Nabi Muhammad saat mendirikan Negara Madinah.

Jadi kalau disimpulkan pendapat Prof. Mahfud, mengindonesiakan Islam itu melahirkan inklusivisme dan pluralisme. Sedangkan mengislamkan Indonesia melahirkan eksklusivisme.

Pendapat tersebut mengandung kesalahan yang cukup serius. Khususnya dalam penggunaan istilah.

Baca: Menguak Logika ‘Islam Nusantara’ 

Pertama, “Mengindonesiakan Islam” artinya mengubah Islam menjadi ‘Indonesia’. Atau menjadikan Islam sebagai ‘Indonesia’. Jadi dari kalimat ini mengandung makna, yang diubah itu Islamnya bukan Indonesianya. Siapapun yang pernah belajar dasar-dasar bahasa akan menyimpulkan makna ini.

Sama dengan kalimat ini, “Suporter Persebaya menghijaukan Stadion Bung Karno”. Yaitu, Stadion Bung Karno yang semula beraneka warna, menjadi berubah dominan warna hijau dikarenakan suporter Persebaya memakai kaus warna hijau. Sehingga warna dominan stadion Bung Karno menjadi hijau.

Jika yang diubah itu Islamnya bukan Indonesianya, maka inilah awal kesalahan berpikir yang sangat serius. Islam itu agama wahyu (tanzil). Agama ini tegak dengan rukun Imam dan rukun Islam yang keduanya bersifat tetap (tsabit) tidak berubah. Selain hal itu, dalam Islam ada istilah perkara-perkara ushul yang sifatnya tetap, tidak boleh berubah. Contoh, shalat menghadap kiblat, shalat wajib lima waktu, puasa wajib di bulan Ramadhan, dan lain-lain.

Dalam Islam, ada aspek ushul dan ada aspek furu’. Ushul dalam Islam bersifat tetap, final dan qath’i. Sedangkan aspek furu’ merupakan medan ‘kreatifitas’ ulama mujtahid. Bisa terjadi perbedaan antara ulama satu dengan ulama yang lain. Kewajiban shalat merupakan perakar ushul. Barangsiapa yang mengingkarinya wajibnya shalat lima waktu maka dia batal Islamnya.

Karena itu, kaum Islam liberal lebih menyetujui istilah “mengindonesiakan Islam” daripada “mengislamkan Indonesia”. Karena liberalisme itu merupakan aliran pemikiran meletakkan agama dalam sejarah dan budaya. Bukan meletakkan sejarah dan budaya dalam agama. Apa akibatnya?

Baca: 5 Kejanggalan Gagasan Islam Nusantara

Sejarah itu berjalan selalu berubah. Budaya itu dinamis. Maka jika agama masuk dalam dinamika sejarah dan budaya, maka agama selamanya akan berubah terus. Dalam Islam Liberal tidak ada lagi perbedaan ushul dan furu’, tsawabit dan mutaghayyirat. Inilah rumus liberalisme.

Karena itu, suatu hal biasa dalam liberalisme, semula homo itu haram kemudian dibolehkan, dilegalkan dicarikan dalil-dalil. Jilbab menutup aurat wanita itu wajib, lalu diakal-akali, yang wajib itu cuma menutup dada dan kemaluan. Seperti pendapat Mohammad Syahrour, tokoh liberal kelahiran Damaskus. Inilah akibat jika mengikuti rumus liberalisme.

Karena itu, jika Prof. Mahfud tidak setuju dengan pemikiran liberalisme ini, maka sebaiknya dia tidak ceroboh lagi menggunakan istilah.

Kedua, “mengindonesiakan Islam’. Apa hakikat Indonesia? Dan apa hakikat Islam? Meskipun tidak banyak masyarakat yang menyadari, peduli dan mengerti, sebenarnya Indonesia sudah banyak menganut kebudayaan dan peradaban Barat. Meski demikian, tidak semua unsur budaya Barat ditolak. Pendidikan, bahkan di universitas Islam mengikut metodologi Barat, ekonomi, dan lain-lain.

Kita tidak ingin mengatakan Indonesia itu telah westernized (terbaratkan), namun jika dikatakan separuhnya, ada yang membenarkan. Sehingga, mengindonesiakan Islam sama saja menjadi Islam separoh western.

Indonesia merupakan nama negara, sebagai kesepakatan bersama. Sementara Islam nama agama wahyu dari Allah. Sebagai sebuah negara, ia berdiri atas kesepakatan (konsensus). Sedangan Islam lahir langsung dari wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Karena itu, namanya sebuah kesepakatan manusia itu berubah. Bahkan UUD 1945, dasar Negara Indonesia itu bisa diubah pasal-pasalnya melalui amandemen. Tergantung penguasa mau dibawa kemana, diapakan dan dijadikan apa  negara ini.

Dulu Negara ini pernah bernama RIS (Republik Indonesia Serikat). Dalam sejarah kita pernah ada pengukuhan presiden seumur hidup. Meskipun kemudian lengser sebelum meninggal. Artinya, Indonesia itu bersifat qabil li taghaiyyur (memungkinkan untuk berubah). Berarti bersifat mutaghaiyyir. Sementara Islam sebagai agama tidak pernah berubah namanya, dan tidak boleh berubah. ‘Undang-undang dasar’ Islam yaitu al-Qur’an dan Hadis bersifat tetap.

Karena itulah, sebuah kesalahan fatal mengubah yang tsabit kepada yang mutaghayyir. Sesuatu yang mutlak diubah kepada relative. Ini namanya bukan proses inklusivisme, tapi eksklusivisme. Menyempitkan Islam pada Indonesia. Islam bukan rahmatan lil’alamin lagi. Karena, lil’alamin sifatnya universal bukan lokal. Sifat Islam sudah universal. Sholih likulli zaman wa makan. Tanpa diubah-ubah akan sesuai dengan zaman dan tempat dengan sendirinya. Tanpa di’Nusantara’kan, Islam sudah akan secara langsung cocok dengan Nusantara. Jadi,  cara berpikir Prof. Mahfud yang terbalik, dan tidak logis.

Baca: Islamisasi Tanah Melayu bukan Arabisasi 

Ketiga, apa yang telah berlaku dalam dakwah sejak kelahiran Islam di Arab, di belahan bumi seluruh dunia hingga sampai ke Indonesia adalah Islamisasi. Dakwah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam adalah mengislamkan Arab, bukan mengarabkan Islam. Karena mengislamkan Arab, maka terjadi pertemuan dua budaya. Terjadi proses take and give. Budaya-budaya Arab diislamkan. Sehingga, Islam tidak hanya sesuai untuk orang Arab saja, tetapi relevan dengan orang Arab dan non-Arab. Karena itu, bunyinya rahmatan lil’alamini (rahmat untuk seluruh alam, red) bukan rahmatan lil’Arab (rakhmat untuk seluruh Arab), apalagi hanya rahmatan linusantara (rakhmat untuk seluruh Nusantara).

Bukti bahwa dai-dai Walisongo melakukan Islamisasi adalah saat ini bahasa Indonesia kaya dengan serapan istilah-istilah bahasa Arab – Islam. Dalam tiga kata dalam singkatan “DPR” dan “MPR” semuanya bahasa Arab. Yaitu ‘Diwan, Wakil, Ro’iyyah, Majelis, Syuro, Ro’iyyah’. Dan itu semulanya istilah para dai-dai untuk mengislamkan pikiran penduduk Nusantara.

Tulisan pegon adalah perpaduan Arab dan Jawa. Bahasa nya Jawa tetapi ditulis dengan huruf Arab. Ini contoh kecil hasil Islamisasi.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar sejarah Melayu, mengatakan bahwa teologi Ahlussunnah wal Jama’ah memainkan peranan dalam proses Islamisasi terutamanya dalam mengubah sistem pemikiran alam Melayu-Nusantara dari segi kefahaman tentang agama dan kehidupan, khususnya pada fase kedua penyebaran Islam (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme, hal. 70).

Selanjutnya ia menjelaskan Islam datang ke kepulauan ini dalam kemasan metafisika sufi. Melalu tasawuflah semangat beragama yang berunsur intelektual dan rasional  masuk ke dalam pemikiran masyarakat, menimbulkan kebangkitan rasionalitas dan intelektualitas yang tidak kelihatan pada masa pra-Islam (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme, hal. 212).

Inilah jasa besar para dai dari Arab yang mengislamkan Indonesia. Menjadikan wilayah Nusantara ini lebih beradab dan membangun rasionalitas penduduk.  Kunci sukses Islamisasi di wilayah ini adalah metode Islamisasi tanpa paksaan, fleksibel, dan menyatu dengan  pribumi.

Jadi,  Islamisasi Indonesia (mengislamkan Indonesia) itu sumbangannya besar. Membangkitkan rasionalitas dan intelektualitas. Sehingga jangan dibalik menjadi mengindonesiakan Islam (Indonesasi Islam), yang belum ada sumbangannya. Justru meliberalkan, atau membaratkan.*

Penulis adalah dosen IAI Darullughah Wadda’wah Bangil-Pasuruan

The post Mengislamkan Indonesia Bukan Mengindonesiakan Islam appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
145522
Menyoal Kunjungan Elit Indonesia ke Israel http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/07/04/145297/menyoal-kunjungan-elit-indonesia-ke-israel.html Wed, 04 Jul 2018 05:55:02 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=145297

Jika Yahudi tak senang pada seseorang/sekelompok orang, artinya orang tersebut jauh dari millah Yahudi

The post Menyoal Kunjungan Elit Indonesia ke Israel appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Teuku Zulkhairi

 

 

SEBENARNYA hingga sejauh ini sudah cukup banyak tokoh-tokoh di negeri muslim “merapat” ke Israel. Tidak sedikit elit-elit dunia Islam yang diundang atau mengunjungi negeri zionis itu. Dan yang terbaru, seperti kita ketahui adalah kunjungan dari tokoh Indonesia, Yahya Cholil Staquf yang kebetulan saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.  Di Timur Tengah sendiri, sudah bukan rahasia lagi banyak elit negara-negara Arab yang menjalin hubungan terang-terangan atau dalam sunyi dengan Israel, seperti para elit di UEA, Mesir dan lain-lain.

Di Mesir, setelah As-Sisi mengkudeta Muhammad Mursi, presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis, lalu setelah itu kita menyaksikan video-video kunjungan menterinya As-Sisi ke Israel. Pada titik ini, maka janganlah heran jika sampai saat ini Palestina masih terjajah. Sebab, kiri, kanan, depan dan belakang Palestina, mereka adalah kawannya Israel. Mereka lebih nyaman mendukung Israel, atau setidaknya diam atas apa yang Israel lakukan ketimbang menentang.

Merapat ke Israel berarti merapat ke Amerika Serikat sebagai “penguasa” dunia saat ini. Merapat ke Israel berarti akan meraih “syurga dunia”. Sementara itu, mendukung Palestina maka akan beresiko dimusuhi, diperangi, dikucilkan atau dikriminalisasi. Itu berat, kecuali bagi orang-orang mukmin. Ada semacam kepercayaan di tengah para para pembesar dunia Islam, bahwa jika ingin mendapatkan “kekuasaan dunia”, maka mesti menjadi jongos Israel. Ini misalnya yang dilakukan As-Sisi di Mesir, seperti dijelaskan di awal.  Jika tidak mau menjadi jongos mereka, maka pemerintahannya akan dikudeta oleh pion-pionnya, seperti yang menimpa pemerintahan Erdogan di Turki. Meski alhamdulillah, kudeta terakhir ini berhasil digagalkan rakyat Turki dengan izin Allah.

Lalu bagaimana dengan kunjungan salah satu tokoh muslim Indonesia ke Israel beberapa waktu lalu? Bagaimana kita melihat persoalan ini secara kritis? Sebab, para pendiri bangsa Indonesia telah sangat jelas menempatkan posisi Indonesia dalam isu Palestina, yaitu menentang penjajahan Israel. Artinya, sampai saat ini Indonesia masih memandang Israel sebagai penjajah. Jadi, beramah-tamah dengan Israel berarti berteman dengan penjajah bukan?

Pertama, mari kita lihat respon Yahudi yang ditunjukkan langsung oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu melalui cuitan akun Twitternya. Sembari mengupload foto-foto bersama Yahya Cholil Staquf, Netanyahu menulis “I’am Very Happy” (saya sangat senang). Jadi, sebagai pimpinan Yahudi Israel, Netanyahu jelas sangat senang atas kunjungan tersebut.

Kedua, mari kita lihat respon umat Islam di Palestina dan Indonesia. Di Palestina, sikap kontra telah ditunjukkan oleh dua faksi utama, HAMAS dan Fatah. Keduanya mengecam kunjungan tersebut via website mereka, karena kunjungan tersebut dianggap gagal memahami apa yang sedang dihadapi umat Islam di Palestina berupa penjajahan yang semakin tak berperikemanusiaan.

Baca: Wawancara Rabi David Rosen dengan Yahya C Staquf

Sementara di Indonesia, kunjungan tokoh tersebut, praktis telah menimbulkan kontra muslim Indonesia karena posisi yang bersangkutan sebagai elit pemerintahan yang sedang berkuasa. Dari para politisi sampai rakyat biasa mengkritisi kunjungan tersebut. Para ulama juga ikut mengecam. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menegaskan kunjungan tersebut tidak mewakili organisasi ulama tersebut. Dan pemerintah juga telah menegaskan, kunjungan tersebut adalah inisiatif pribadi, bukan mewakili pemerintah.

Kendati pun demikian, kita memang cukup prihatin karena efek perpecahan ummat yang ditimbulkan. Dan cukup prihatin karena seharusnya muslim Indonesia kompak mendukung kemerdekaan Palestina sesuai amanat pendiri bangsa ini. Di sini kita melihat, bahwa kita punya banyak pekerjaan rumah untuk memperkuat pemahaman muslim Indonesia, bahwa rakyat biasa, maupun tokohnya, bahwa kita perlu konsisten bersikap tegas kepada Israel hingga mereka mengakhiri penjajahannya di bumi Palestina.

Juga penting untuk kita melihat kembali penjelasan Islam tentang watak Yahudi. Sehingga kita tidak seperti pungguk merindukan bulan. Berharap bisa berteman dengan Israel, tapi mereka sedang menyiapkan belati di balik meja pedamaian.  Kita berbusa-busa berbicara Islam itu rahmat di depan mereka, tentang konsep kasih sayang dalam Islam, tapi gagal memahami penjelasan Islam tentang watak dan karakter Yahudi yang juga dijelaskan dalam Islam.

Akibatnya, kita gagal mengejawantahkan pesan Islam untuk, “Keras kepada kaum kuffar dan lemah lembut kepada sesama muslim” (baca QS.Al-Fath: 29). Kondisi ini justru mengakibatkan tidak jarang banyak yang lebih keras kepada sesama muslim.  Jadi, adalah penting untuk memahami karakter Yahudi, sehingga, sekali lagi, jangan sampai kita seperti pungguk merindukan bulan. Kita berharap bisa mendakwahi Yahudi dengan konsep Rahmah (kasih sayang) dalam Islam, tapi setelah itu yang kita saksikan adalah semakin menggilanya penjajahan Yahudi di bumi Palestina.

Baca: KH Ma’ruf Amin: Kita Tidak Mendukung Yahya Staquf Kunjungi Israel

Millah Yahudi

Betul kita perlu mendakwahi siapapun, termasuk Yahudi, itu juga perintah Islam, tapi jangan melupakan karakter dasar mereka dan apa yang sedang mereka perbuat untuk umat Islam di Palestina.  Di antara penjelasan Al-Quran yaitu, “Dan sekali-kali Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha (senang) kepada kamu sehingga kamu mengikuti millaj mereka” [al-Baqarah: 120]”. Ayat ini adalah penegasan Islam tentang watak Yahudi, bahwa Yahudi tidak akan pernah senang kepada kita (umat Islam/pengikut Nabi Muhammad Saw)  Dan mereka baru akan senang jika kita mengikuti ‘millah’ mereka.  Tentulah tidak kita meragukan penjelasan Alquran ini, bukan? Dari berbagai literatur diterangkan, Millah Yahudi itu baik kategori budaya, agama, pola atau cara berfikir (wordview), kebijakan-kebijakan dan seterusnya. Jadi bukan hanya agama.

Dari keterangan Alquran ini seharusnya kita bisa memahami berbagai fenomena dunia saat ini sehingga kita bisa melihat garis demarkasi yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Bahwa jika Yahudi senang kepada kita, itu karena kita telah terperangkap dalam millah mereka. Kalau tidak, maka tidak mungkin mereka akan senang. Itu cara mudah untuk berfikir. Kalau kita mengadakan pertemuan dengan Yahudi lalu mereka senang kepada kita, itu artinya besar kemungkinan kita telah terperangkap dalam millah mereka.

Begitu juga sebaliknya, jika Yahudi tidak senang kepada seseorang atau sekelompok orang, maka itu artinya orang tersebut jauh dari millah Yahudi. Dan jauh dari millah Yahudi itu pertanda konsisten dalam Islam. Jika hari ini kita melihat sejumlah umat Islam sangat tidak disukai Yahudi, maka itu artinya mereka sedang berada di atas jalan Islam.

Lalu bagaimana dengan kunjungan tokoh muslim Indonesia di atas? Kunjungan ini, pada faktanya telah membuat Benjamin Netanyahu (bos Yahudi) sangat senang seperti dituliskannya dalam akun twitternya.  Kita tidak perlu menyimpulkan kunjungan tokoh tersebut ke Israel telah terperangkap dalam agenda Yahudi. Karena Allah Subhanahu Wata’ala Maha Penerima Taubat. Namun yang pasti, kita harus selalu meyakini kebenaran Al-Quran, bahwa Yahudi tidak akan pernah senang kepada kita (umat Islam) sebelum kita ikuti millah mereka. Apalagi, cukup banyak ayat-ayat Alquran yang lain yang menegaskan watak dan karakter Yahudi.

Oleh sebab itu, marilah kita terus berdoa agar istiqamah di jalan Islam, meskipun seperti kita mengenggam bara api di lautan. Berat untuk berdiri pada posisi Islam, tapi balasan yang Allah janjikan sangat besar kelak di hari akhirat. Marilah kita berdo’a agar Allah Subhanahu Wata’ala memperlihatkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran, dan kebatilan sebagai kebatilan. Agar kita tidak tertipu melihat kebatilan sebagai kebenaran. Wallahu a’lam bishshawab.*

Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Alumnus Dayah Babussalam Matangkuli Aceh Utara

The post Menyoal Kunjungan Elit Indonesia ke Israel appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
145297
Standar Ganda ‘Israel’ terhadap Delegasi Indonesia http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/06/13/144162/standar-ganda-israel-terhadap-delegasi-indonesia.html Wed, 13 Jun 2018 08:57:00 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=144162

Yahya menghadiri undangan komunitas Yahudi bertepatan peringatan 70 tahun pendirian ‘Negara palsu Israel’

The post Standar Ganda ‘Israel’ terhadap Delegasi Indonesia appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Muhammad

 

KEDATANGAN tokoh NU Yahya Cholil Staquf ke ‘Israel’ menuai polemik. Kehadiran Yahya pada konferensi tahunan Forum Global AJC (Komite Yahudi Amerika) dinilai melukai perjuangan bangsa Palestina.

Apalagi perhelatan tersebut digelar di tanah Yerusalem (Baitul Maqdis), yang kini sedang dijajah. Sontak Hamas dan Fatah kompak mengecam. Mereka menilai kehadiran Yahya adalah bentuk penghinaan dan pengkhianatan karena Indonesia selama ini berdiri bersama bangsa Palestina dan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara penjajah tersebut.

Padahal, jika mau melihat sejarah, maka kita akan melihat hamparan standar ganda ‘Israel’ terhadap delegasi Indonesia.

Mereka yang mau berbicara di forum Palestina ditolak. Namun, mereka yang datang ke forum ‘Israel’ disambut dengan suka cita.

Jika Yahya disambut hangat oleh ‘Israel’, maka hal yang sama tak berlaku kepada delegasi Indonesia yang hendak bersuara lantang membela Palestina, termasuk Menteri Luar Negeri dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang kini diketuai Rais Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin.

Dukung Palestina, Menlu Ditolak

Pada tahun 2012, Menlu Marty Natalegawa tidak bisa memasuki Kota Ramallah, Palestina, guna mengikuti Konferensi Tingkat Menteri Gerakan Non-Blok untuk membahas Palestina.

Kedatangan Marty tegas ditolak oleh otoritas ‘Israel’ yang menjajah kawasan Palestina.

Baca: Wawancara Rabi David Rosen dengan Yahya C Staquf

‘Israel’ beralasan penolakan itu dilakukan karena Indonesia tidak mau mengakui negara zionis tersebut.

“Sebuah keputusan telah diambil untuk melarang perwakilan diplomatik dari beberapa negara yang tidak mengakui ‘Israel’,” ujar salah seorang pejabat ‘Israel’.

Insiden diplomatik ini kontan mendapat reaksi keras dari DPR. Komisi Pertahanan dan Luar Negeri DPR mengecam penolakan ‘Israel’ atas kedatangan Marty Natalegawa. Penolakan itu menunjukkan sikap arogan ‘Israel’ atas wilayah yang seharusnya masuk wilayah Palestina.

Namun, penolakan itu tidak membuat Indonesia melunak. Indonesia tetap tidak mau berwajah manis dan duduk bersama ‘Israel’.

Sebaliknya, Marty menegaskan bahwa penolakan itu tanda kehormatan bagi bangsa Indonesia.

“Bagi Indonesia, tidak diterima ‘Israel’ merupakan tanda kehormatan. Ini adalah pengakuan bagi posisi Indonesia dan posisi dunia internasional bahwa ‘Israel’ membatasi Palestina untuk berhubungan dengan dunia luar,” kata Marty.

Tindakan intoleran ‘Israel’ kembali terulang kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada tahun 2016.

Saat itu, negara yang disebut Presiden Erdogan sebagai teroris ini menolak delegasi Indonesia yang ingin memasuki wilayah Palestina, tapi tidak mau bertemu pejabat ‘Israel’.

Saat itu, rombongan Retno Marsudi ingin datang untuk meresmikan pengangkatan Maha Abu-Susheh sebagai Konsul Kehormatan Indonesia di wilayah itu.

Tapi delegasi Indonesia yang bermaksud datang dengan helikopter militer Yordania tidak mendapat ijin masuk dari otoritas ‘Israel’.

”Tidak diberikannya izin over flight tersebut tidak menyurutkan determinasi Indonesia untuk melantik Konhor RI Ramallah. Dengan pengaturan yang sangat cepat, maka pelantikan dapat dilakukan di Amman dengan lancar,” tegas keterangan Kementerian Luar Negeri.

Baca: Inilah Acara Organisasi Yahudi Dihadiri Benyamin Netanyahu dan Yahya C Staquf

MUI dilarang bicara Al Quds

Tindakan intoleran tersebut tidak hanya berlaku kepada Menlu, tapi juga kepada institusi keulamaan di Indonesia.

April lalu, ‘Israel’ dengan tegas menolak izin perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memasuki Palestina.

Saat itu, Ketua MUI Muhyiddin Junaidi hendak datang untuk mengikuti konferensi pembebasan Al-Quds di digelar di Ramallah, Palestina pada April 2018 lalu.

Karena tidak bisa masuk, Ketua MUI Muhyiddin terpaksa menginap di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yordania. Sebagai gantinya, MUI Palestina mendatanginya.

Dalam pertemuan itu, Muhyiddin memberikan sumbangan sebesar dari masyarakat Indonesia yang nilainya sebesar US$120 ribu atau sekitar Rp1,5 miliar.

Sumbangan tersebut adalah hasil donasi masyarakat Indonesia yang diberikan kepada MUI dan diterima oleh Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin.

Kiai Ma’ruf, sapaan akrabnya, mengutus Muhyiddin Junaidi untuk menyerahkannya langsung kepada bangsa Palestina sebagai bentuk dukungan bangsa Indonesia.

Nahas, ternyata sumbangan yang hendak diberikan itu pun tak bisa masuk ke Palestina karena bank Yordan dan Mesir takut, menolak.

Untuk itu, uang sumbangan dari MUI akhirnya disimpan di KBRI Yordania. “Begitulah kondisi muslim bangsa Palestina di negaranya sendiri,” kata Muhyiddin.

Baca:  Gerakan Perlawanan Islam Palestina Kecam Kehadiran Yahya C Staquf ke Israel

Sejatinya, dari fakta-fakta ini kita mengetahui bahwa tidak ada lampu hijau sedikitpun dari ‘Israel’ bagi siapa saja yang sungguh-sungguh berjuang untuk kemerdekaan Palestina.

‘Israel’ hanya akan mau berbicara kepada mereka yang dinilai dapat menguntungkan posisi zionis.

Itulah mengapa ‘Israel’ bersuara tegas memblok wisatawan Indonesia yang hendak mengunjungi Al-Aqsha, tapi di sisi lain justru menyutujui kedatangan Yahya untuk berbicara di forum American Jewish Comitte pada 10 Juni kemarin.

Undangan komunitas Yahudi yang dikenal paling getol mengkampanyekan pendirian ‘Israel’ sesungguhnya bertepatan dengan peringatan 70 tahun berdirinya ‘Negara palsu ‘Israel’.  Bukankah dengan menghadiri acara ini sama saja mengakui 70 tahun penjajahan?

Menariknya, acara itu hanya berlangsung beberapa hari dari keputusan ‘Israel’ menunda larangan WNI memasuki negaranya yang tadinya mulai berlaku pada tanggal 9 Juni.

Pertanyaannya, kenapa ACJ menjadi penting bagi ‘Israel’? Karena itu adalah momentum yang tepat untuk menggalang opini dunia, khususnya Muslim, untuk mendukung negara penjajah tersebut, sebagaimana pesan Benyamin Netanyahu di acara tersebut.

“Saya mengetahui ada yang sangat penting (dalam konferensi kali ini), benar-benar penuh harapan, selamat datang kepada kalian semua dari Indonesia.”*

Penulis adalah wartawan peliput isu-isu luar negeri di Indonesia

The post Standar Ganda ‘Israel’ terhadap Delegasi Indonesia appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
144162
Hidup Susah ala Perumus Pancasila http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/06/04/143642/hidup-susah-ala-perumus-pancasila.html Mon, 04 Jun 2018 03:53:46 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=143642

Menteri Luar Negeri era revolusi Haji Agus Salim wafat dengan bersatus sebagai ‘kontraktor’ alias pengontrak rumah

The post Hidup Susah ala Perumus Pancasila appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Rizki Lesus

 

RUMAH itu masih berstatus sewa, ketika sang penghuninya, Haji Agus Salim wafat sepenggal November 1954. Salah satu dari 9 perumus Pancasila,  anggota dewan Volksraad, diplomat kesohor, Menteri Luar Negeri era revolusi itu wafat dengan – masih – bersatus sebagai ‘kontraktor’ alias pengontrak rumah.

Baru setelah itu, beberapa tahun kemudian, anak-anaknya patungan membeli rumah kontrakannya yang bertempat di Jalan Gereja Theresia (kini Jl. Agus Salim no 72) Jakarta.

Begitu kesederhanaan Haji Agus Salim dikisahkan sang cucu, Agustanzil Sjahroezah dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik (2013: hal.114). Entah berapa kali, tokoh Partai Islam terbesar saat itu hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu gang ke gang lainnya di berbagai kota.

Sangat jarang kita dengar, petinggi partai di negeri ini masih mengontrak rumah, pinda-pindah bahkan hampir tiap bulan. Padahal, mungkin di luar sana, seorang ayah tidur dengan anaknya di atas gerobak beratap langit.

Di dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang pada perkampungan di sudut kota, di tempat becek, di kawasan kumuh, di sanalah Agus Salim dan istrinya, Zainatun Nahar mengisi hari-hari mereka.

Di Jakarta, sejoli ini pernah menikmati masa-masa indah di daerah Tanah Abang, Karet, Petamburan, Jatinegara, di gang-gang Kernolong, Tuapekong, gang Listrik dan masih banyak lagi.

Baca: Tauladan Kepemimpinan Mohammad Natsir

Khusus gang listrik, menjadi kenangan tersendiri bagi sejoli ini. Di gang Listrik, justru Haji Agus Salim dan Zainatun Nahar hidup tanpa listrik gara-gara tak sanggup membayar iuran listrik. Anak keempat Salim, Adek, mengingatnya dulu ia harus membersihkan bola lampu setiap sore. (Kustiniyati Mochtar: 1984).

“Rumah kampung dengan meja kursi sangat sederhana,” tambah muridnya yang juga diplomat, Mohammad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah, mengenang. Pernah pula, kasur gulung, ruang makan, dapur, dan ruang tamu kontrakan Haji Agus Salim bersatu dalam satu ruangan besar.

Jangan tanya ada atau tidak uang belanja, atau sembako di dalam lemari. Nasi goreng kecap mentega menjadi favorit ketika keluarga ini sedang tak ada makanan.

Tak heran, dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik, ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati, Willem Schermerhorn bilang,” Ia hanya mempunyai satu kelemahan : selama hidupnya melarat!”

Frasa selama hidupnya melarat ini artinya sangat jelas. Sebelum, saat, hingga pasca menjabat sebagai Menteri, atau jabatan lainnya, ia tetap melarat, dan tetap mengontrak rumah hingga akhir hayatnya.

Bisa dibayangkan kini, ada seorang menteri yang tidak punya rumah? Anggota Dewan yang kekurangan bahan makanan? Seorang yang menolak menjadi ketua partai besar? Seorang diplomat kelas dunia yang tidak bisa bayar listrik?

Baca: Jangan Pertentangkan Islam dan Pancasila

Kisah kesederhanaan – atau kemelaratan – ini tak hanya dirasakan Haji Agus Salim. Perumus Pancasila lainnya, Mohammad Hata pun mengalami masa-masa senja yang tak jauh berbeda.

Ramadhan KH dalam Bang Ali, Demi Jakarta 1966 – 1967 mengisahkan bagaimana Ali Sadikin, gubernur legendaris Jakarta ini terenyuh melihat kondisi Bung Hatta yang tak mampu membayar iuran air hingga pajak.

“Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu,” kata Bang Ali terharu. Bahkan, hingga akhir hayatnya, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepatu Bally tak juga terpenuhi.

Wakil Presiden Indonesia pertama ini menabung, sampai-sampai beliau menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Namun apadaya, tabungan beliau tak cukup karena kebutuhan rumah tangganya. Sepatu Bally tinggallah kenangan.

Perumus Pancasila lainnya, KH Wahid Hasyim merupakan sosok yang sangat bersahaja. Saat orang-orang bertanya ketika dirinya tak lagi menjabat sebagai menteri, ia menjawab:

“Tak usah kecewa! Saya toh bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang, tinggal pilih saja,” katanya mengundang gelak tawa orang –orang di sekitarnya. (Saifudin Zuhri : 2013).

Di saat masyarakat hidup sulit, katanya, tak elok jika para pemimpinnya hidup dengan mewah dan bersenang-senang. Karenanya, ia turut merasakan kesulitan serupa. Suatu kebiasaannya adalah berpuasa sunnah, bahkan dalam kondisi sesibuk apapun di mana pun.

Saifudin Zuhri mencatat, saat mereka menginap di suatu hotel, ia lupa menyiapkan sahur. Di atas meja ada sebutir telur rebus dari sisa santapan sahur kemarin dan segelas teh bagian Saifuddin Zuhri ketika sore.

“Dengan sebutir telur dan segelas teh itulah KH Wahid Hasyim bersahur,” kenang Saifudin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren. Sambil menyelesaikan sebutir telur yang satu-satunya untuk sahur itu KH  Wahid Hasyim mengingatkan agar jangan sampai hidup menampakkan kemewahan di saat kondisi masyarakat sedang sulit.

”Kita berlapar-lapar supaya tidak melupakan nasib kaum lapar,”pesannya.

Tokoh perumus Pancasila lainnya, Prof. KH Abdul Kahar Muzakkir, tokoh Muhammadiyah yang pernah juga menjadi anggota Dewan Konstituante bahkan  hingga pengujung senjanya, masih tinggal di rumah warisan ayahnya, Haji Muzakkir.

Mitsuo Nakamura mencatat bahwa kendaraan Abdul Kahar Muzakkir hanyalah sebuah skuter bekas pemberian mahasiswanya, yang sering kali mogok. Sebagai alternatif, ia kadang menggenjot sepeda, naik becak atau andong menempuh perjalanan sepanjang lima atau enam kilometer dari rumahnya mengajar di UII atau ke kantor PB Muhammadiyah di Yogyakarta. (Mitsuo Nakamura: 1996).

Baca: Islam dan Tafsir Pancasila: Di Antara Teori Keberagamaan

Ironi memang, tapi itulah mereka, para pendiri bangsa ini. Pantas saja, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) – DPR kini – pertama, Kasman Singodimedjo melihat kondisi gurunya, Haji Agus Salim, dengan lirih  berkata, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Memang, mereka bukanlah Pembina, pengarah, atau apapun jabatan yang melekat terkait dasar negara ini. Namun mereka menyusun pondasi bangsa ini dengan penuh ketulusan,  mungkin tanpa berpikir-pikir apakah anggaran sekian bisakah kami membina masyarakat?

Mereka membina nilai-nilai kebangsaan dengan keteladanan. Mungkin saja, balasan materi yang diterima saat itu minim, atau bahkan harus merogoh kocek pribadi, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Mereka yang  memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil –mobil dan rumah mewah, gemerlap jantung kota lainnya.

Kemiskinan tak membuat mereka berhenti berbuat. Kesungguhan mengalahkan keber-ada-an, dan sejarah telah mencatatnya.

Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan, kepekaan nurani, yang masa kini mungkin semakin sulit kita ditemukan.*

Penulis adalah penulis buku Perjuangan yang Dilupakan, Founder Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

The post Hidup Susah ala Perumus Pancasila appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
143642
Menyelami Jurnalisme Islami http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/05/20/142749/menyelami-jurnalisme-islami.html Sat, 19 May 2018 17:21:15 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=142749

Jurnalis Islam (Muslim) harus berkomitmen untuk penyebaran dakwah, menjelaskan isu-isu Islam, dan mempertahankan sudut pandang Muslim

The post Menyelami Jurnalisme Islami appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Beggy Rizkiyansyah

 

“Truth, it seems, is too complicated for us to pursue. Or perhaps it doesn’t exist, since we are all subjective individuals. There are interesting arguments, maybe, on some philosophical level, even valid.…”

Demikian terang Bill Kovach dalam artikelnya Journalism’s First Obligation is To Tell The Truth di niemanreports.org,. Alih-alih, menurut Kovach kebenaran adalah sebuah proses dalam kerja jurnalistik. Pandangan yang menolak kebenaran mutlak amatlah khas Barat yang sekular. Teori-teori tentang jurnalisme sesungguhnya memang didominasi oleh pandangan dari Barat. Padahal menurut Lawrence Pintak dari Washington State University, AS, jurnalisme di berbagai belahan dunia dibentuk oleh budaya, agama, politik etnisitas tekanan ekonomi dan faktor lainnya.

Hal ini juga ditekankan oleh Wasserman dan De Beer dalam Towards De-Westernizing Journalism Studies, mencoba menawarkan de-westernisasi dalam studi jurnalisme. Menurut mereka,

“As more comparative studies are being done (see Hanitzsch, 2007, for a summary), the dominant Anglo-American view of journalism is being challenged by studies showing up the gap between theory and practice (Josephi, 2005, p. 576)” (Wasserman, Herman dan Arnold S. de Beer: 2009)

Baca: Jurnalisme Islami Harus Kedepankan Proses Tabayun

Bagi umat Islam memiliki pandangan jurnalisme yang khas dari Islam bukanlah suatu harapan kosong. Beberapa tawaran tentang jurnalisme Islami, jika kita boleh menamakannya demikian, dilakukan diantaranya oleh Nurhaya Muchtar, Lawrence Pintak, Sayeed al Seini, Mohammad A Siddiqi dan mungkin banyak lainnya. Meski demikian, harus diakui bahwa jurnalisme Islami belum mendapat banyak perhatian (Muchtar, Nurhaya, dkk : 2017; Steele, Janet: 2014)

Meski demikian, belum banyak mendapat perhatian bukan berarti Islam tidak bisa membentuk satu pandangan yang khas dalam jurnalisme. Nurhaya Muchtar dan kawan-kawan (2017) bahkan menyebutkan perspektif islam dalam jurnalisme berasal dari worldview Islam.

Tentu saja ajaran dalam Islam tidak mengenal istilah jurnalisme. Namun dalam Qur’an disebutkan beragam kata yang berakar dari kata “naba” yang disebutkan sebanyak 138 kali. (Muchtar, Nurhaya, dkk : 2017)  Naba yang berarti kabar (berita) menjadi salah satu hal penting dalam ajaran Islam. Ibnu Taimiyyah membagi kabar menjadi kabar baik yang benar  maupun yang keliru atau bohong. Kabar baik  (khabar shadiq) dalam Islam menurut al-Attas haruslah didasari sifat-sifat saintifik atau agama yang mana diriwayatkan oleh otoritas agama yang otentik. (Salim, Mohammad Syam’un: 2014)

Baca: Jurnalisme dan Nyawa Wartawan

Dilhat dari otoritasnya, khabar Shadiq menurut Mohammad Syam’un Salim, terbagi menjadi dua. Pertama otoritas mutlak yaitu Qur’an dan Hadist. artinya Al-Qur’an dan hadist menjadi sumber kebenaran tertinggi.  Kedua otoritas nisbi yang terdiri dari kesepakatan alim ulama (tawatur) dan orang yang terpercaya secara umum. (Salim, Mohammad Syam’un: 2014) Baik Qur’an maupun Hadist memberikan petunjuk untuk memperoleh dan menyaring berita dari ketidakjujuran, ketidakakuratan dan perbuatan jahat. (Muchtar, Nurhaya, dkk : 2017)

Mohammad A. Siddiqi dari Western Illinois University menyebutkan bahwa Qur’an dan Sunnah membentuk bingkai tersendiri tentang definisi berita. Qur’an dan Sunnah juga menentukan proses pengumpulan, pembuatan dan penyebaran berita dalam bingkai Islam. Hal ini menjadi kode etik bagi jurnalis Muslim. Namun yang menjadi pondasi utama adalah konsep tauhid.

Tawhid also implies unity, coherence, and harmony between all parts of the universe. Not only this, but the concept of Tawhid signifies the existence of a purpose in the creation and liberation of all human kind from bondage and servitude to multiple varieties of gods. The concept of the hereafter becomes a driving force in committing to one God, and the inspiration as well definitive guidelines are provided by the traditions and the life of the Prophet (PBUH).

A journalist who uses his/her faculty of observation, reason consciousness, reflection, insight, understanding and wisdom must realize that these are the Amanah (trust) of God and must not be used to injure a human soul for the sake of self-promotion or for selling the news, rather, as Dilnawaz Siddiqui has noted these are to be used in arriving at truth. A journalist must not ignore God’s purpose in creating this universe and various forms of life.” (Siddiqi, Mohammad A: 1999). * <<<>>> (BERSAMBUNG)

The post Menyelami Jurnalisme Islami appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
142749
‘Ustadzah’ Selebritis dan Destruksi Ke-faqih-an http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/05/15/142450/ustadzah-selebritis-dan-destruksi-ke-faqih-an.html Tue, 15 May 2018 08:34:15 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=142450

Jika diamati, banyak ‘ustadz’ selebritis yang dianggap tidak memperhatikan adab-adab Islam sewaktu manggung

The post ‘Ustadzah’ Selebritis dan Destruksi Ke-faqih-an appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Muh. Nurhidayat

 

SEORANG gadis muslimah berhijab dikabarkan menjalin hubungan pra-nikah secara tidak syar’i dengan seorang lelaki selebritis olahraga. Meskipun tidak mengakui telah berpacaran, namun rekaman video kedekatan mereka sewaktu makan di restoran, telah diunggah ke sebuah akun medsos. Dikabarkan, kedekatan hubungan tersebut direstui oleh ibu dari sang gadis, yaitu seorang ‘ustadzah’ selebritis. Dan si ‘ustadzah’ dikenal selalu memakai hijab syar’i yang dilengkapi cadar.

Sejak beberapa tahun terakhir, hijab (termasuk hijab bercadar) telah dijadikan sebagai busana populer di kalangan muslimah Indonesia. Begitu populernya, hijab tidak hanya dipakai oleh para muslimah shalehah saja, namun juga oleh perempuan yang belum menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Sehingga tidak mengherankan, jika banyak gadis muslimah berhijab, meskipun rata-rata hijab yang dipakai mereka juga bukan hijab syar’i) yang berpacaran.

Kabar tentang anak gadis dari seorang ‘ustadzah’ yang diduga berpacaran menunjukkan adanya destruksi ke-faqih-an di tengah masyarakat. Selain dianggap merusak citra para muslimah shalehah berhijab syar’i, sikap permissive ‘ustadzah’ juga dapat menghancurkan reputasi para ustadzah beneran. Mengapa demikian?

Sebelumnya, tidak pernah dijumpai adanya muslimah memakai syar’i bercadar, apalagi berstatus sebagai ustadzah, yang membiarkan anak gadisnya berpacaran.

Fenomena destruksi ke-faqih-an ditandai dengan munculnya para ‘ustadz’ maupun ‘ustadzah’ selebritis di Indonesia. Destruksi ke-faqih-an dapat diartikan sebagai penghancuran nilai-nilai ke-faqih-an di tengah khalayak.

Ke-faqih-an dikenal sebagai pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran Islam. Seseorang dikatakan sebagai “faqih” ketika ia mengetahui, memahami, dan tentu saja melaksanakan ajaran Islam dengan baik.

Hijab tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam secara umum. Sehingga seorang yang faqih tentu dikenal mengetahui, memahami, serta melaksanakan aturan tentang hijab dengan baik.

Baca: MUI Akui Keluarkan Surat Klarifikasi “Waspada terhadap Ustad

Contoh lain fenomena destruksi ke-faqih-an adalah munculnya seorang selebritis perempuan, yang tiba-tiba dijadikan sebagai ‘ustadzah’ oleh para penggemarnya. Dulunya ia dikenal sebagai model berpakaian minim. Sejak berstatus sebagai ‘ustadzah’, ia dilihat konsisten berhijab secara syar’i di hadapan publik. Bahkan tiba-tiba pula ia dikabarkan bercadar.

Namun demikian, meskipun telah berstatus sebagai ‘ustadzah’ dan berhijab syar’i, ia belum meninggalkan kebiasaannya ber-khalwat dengan lelaki non-mahram. Bahkan secara terbuka ia dianggap sengaja memperlihatkan khalwat tersebut melalui postingan-postingan foto di akun medsos. Khalwat masih dilakukannya dengan beberapa lelaki secara bergantian.

Lelaki non mahram pertama yang diberitakan sedang ber-khalwat dengan si ‘ustadzah’ adalah seorang pekerja pendukung karier para selebritis. Mereka disyuting kamera infotainmen sedang makan berduaan di sebuah restoran. Keduanya dilihat tidak canggung di depan kru infotainmen, bahkan dianggap cenderung menunjukkan kemesraan.

Si ‘ustadzah’ selebritis sempat digosipkan khalayak akan dijadikan sebagai istri muda lelaki tersebut. Namun gosip itu disangkal olehnya. Berdasarkan kabar yang beredar di kalangan praktisi infotainmen, si lelaki sempat dimarahi, bahkan hampir diceraikan istrinya yang sah, akibat seringnya ia dipergoki ber-khalwat dengan si ‘ustadzah’.

Beberapa waktu kemudian, si ‘ustadzah’ dikabarkan telah putus hubungan dengan si lelaki yang telah beristri itu. Namun ia kembali sering dilihat khalayak sedang ber-khalawat mesra dengan seorang selebritis lelaki yang juga bukan mahram-nya di tempat publik. Mereka berdua pun dikira khalayak sedang berpacaran, karena dilihat begitu mesra. Malah mereka juga digosipkan akan segera menikah. Anggapaan khalayak dianggap wajar, mengingat si ‘ustadzah’ diketahui sebagai janda, sementara si lelaki belum memiliki istri meskipun usianya sudah tidak muda lagi.

Sewaktu diwawancarai kru infotainmen, di samping si lelaki teman khalwat-nya, ia menyangkal anggapan khalayak bahwa mereka sedang berpacaran, apalagi akan melangsungkan pernikahan. Menurutnya, si lelaki sedang dibimbingnya.  Si lelaki diketahui meminta bimbingan agama dari si ‘ustadzah’.

Tidak berapa lama kemudian, ia dikabarkan juga putus hubungan dengan si selebritis lelaki tersebut. Tetapi si ‘ustadzah’ kerap dipergoki ber-khalwat dengan selebritis lelaki lainnya yang telah beranak-istri. Ia pun diketahui sering meng-upload foto selfie yang memperlihatkan kemesraan mereka pada akun medsos. Sehingga muncul kabar yang ber-seliwer-an di kalangan netizen, bahwa si ‘ustadzah’ telah dinikahi secara sirri. Bahkan si ‘ustadzah’ diberitakan telah hamil dari pernikahan sirri tersebut.

Belakangan diketahui, bahwa ‘ustadzah’ tersebut memanag telah menikah secara sirri dengan lelaki yang telah beranak-istri tersebut. Diberitakan pula, ia juga telah melahirkan seorang bayi dari pernikahan sirri tersebut. Ia pun dituduh sebagai pelakor oleh istri dari lelaki yang menikahinya secara sirri itu. Bahkan si lelaki yang menikahinya secara sirri tersebut dituntut cerai oleh istri sahnya di mata agama dan hukum positif.

Baca: Komunitas Sedekah Motor Dai Lovers

Si ‘ustadzah’ yang sering dipergoki ber-khalwat dengan beberapa lelaki non-mahram, apalagi juga menikah sirri dengan lelaki beranak-istri, adalah contoh yang menunjukkan bahwa destruksi ke-faqih-an semakin menggerogoti umat. Sebelumnya tidak ditemukan ada seorang ustadzah yang melakukan kemaksiatan. Apalagi kemaksiatan itu dilakukan secara terang-terangan. Khalwat sendiri oleh agama Islam dinilai sebagai kemaksiatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka janganlah seorang laki-laki ber-khlawat (berduaan) dengan seorang perempuan yang tidak disertai mahram-nya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syetan.” (HR. Ahmad)

Khalwat yang dilakukan si ‘ustadzah’ telah dianggap merusak citra para ustadz dan ustadzah beneran. Para ustadz dan ustadzah sungguhan dikenal sangat memperhatikan masalah hijab. Khalwat dengan seorang lawan jenis yang bukan mahram, tidak akan dilakukan oleh mereka, karena perilaku tersebut dinilai sebagai sarana mendekati zina yang dilarang agama.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra : 32)

Selain itu, Perbuatan si ‘ustadzah’ juga dinilai merusak citra para muslimah shalehah yang berhijab syar’i. Para muslimah yang berhijab syar’i beneran, dikenal senantiasa berusaha menjaga ketaqwaan mereka kepada Allah subhanahu wata’ala dan rasul-Nya. Karena dikenal sebagai pemakai hijab syar’i, mereka senantiasa menjaga diri dan kehormatannya agar tidak berniat, apalagi sampai melakukan hal-hal yang dilarang agama.

Bagi para muslimah shalehah yang berhijab syar’i, melakukan hal-hal terlarang dianggap sebagai bentuk kedurhakaan kepada-Nya. Mereka dikenal sangat takut terhadap ancaman bagi orang yang durhaka kepada-Nya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Katakanlah (Muhammad): ‘Aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS. Al An’am : 15).* >>> (Bersambung)

The post ‘Ustadzah’ Selebritis dan Destruksi Ke-faqih-an appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
142450
Sinyal Dajjal di Era Digital http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/04/30/141536/sinyal-dajjal-di-era-digital.html Mon, 30 Apr 2018 07:48:58 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=141536

Jika sinyal-sinyal dajjal bisa terlacak di era digital, lalu bagaimana agar terlindungi dari fitnahnya?

The post Sinyal Dajjal di Era Digital appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

MENURUT Thomas L. Friedman dalam buku “The World Is Flat 3.0: A Brief History of the Twenty-first Century” (2005: 9-10), pada sekitar tahun 2000, dunia masuk pada era “Globalisasi 3.0”. Di antara tanda-tanda era ini adalah penggunaan teknologi digital, masing-masing individu dan kelompok kecil terkovergensi dengan internet dan terhubung di dunia digital. Informasi dengan mudah didapatkan, bisa menjadi narasumber di jaringan internet, dan sangat mudah tampil ke publik.

Apa yang disebut dengan “Era Digital” sekarang ini, memang sangat relevan dengan catatan Friedman tersebut.  Sekarang dengan beralihnya media lama ke media baru (internet dan digital) dunia terasa semakin sangat kecil, teknologi-informasi begitu cepat, kemudahan akses yang pada era sebelumnya yang terlihat mustahil, saat ini menjadi riil. Yang menarik untuk dipertanyakan adalah; pada faktanya berapa besar kadar manfaat yang ditimbulkan di era digital ini dibanding dengan bahayanya? Kemudian adakah sinyal-sinyal dajjal di era digital?

Tema ini perlu diangkat karena beberapa alasan: Pertama, sebagai kewaspadaan dan benteng diri dari bahaya fitnah dajjal. Kedua, bisa menggunakan kecanggihan digital secara proporsional untuk hal-hal positif. Ketiga, bisa memaksimalkan potensi-potensi kebaikan agar keburukan tidak menjadi dominan di era digital.

Informasi tentang kedatangan dajjal dalam hadits-hadits nabi begitu melimpah. Sebegitu banyaknya hingga mencapai derajat mutawatir (al-Mubayyadh, 2006: 657).

Bahkan, Hisyam bin ‘Amir al-Anshari pernah mendengar langsung dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sejak penciptaan Adam hingga hari kiamat, tidak ada fitnah paling besar, melebihi fitnah dajjal.” (HR. Muslim).

Di sini, penulis tidak akan membahas detail-detail riwayat mengenai dajjal, tapi berfokus kepada hal-hal subtansial seputar dajjal yang sinyal-sinyalnya bisa dilacak di era digital.

Baca: Bagaimana Berpuasa di Masa Kedatangan Dajjal?

Di antara hal-hal subtansial terkait dajjal –tanpa bermaksud membatasi- adalah sebagai berikut: Pertama, pandai berdusta dan mengaburkan kebenaran. Dilihat dari sisi etimologi –sebagaimana yang tertera dalam “Lisaan al-‘Arab” (1414: 11/236)- kata ‘dajjal’ sendiri berarti: dusta, menutupi, menyamarkan, mengkamuflase, melapisi. Bila ditilik dari hadits-hadits nabi, memang dajjal memiliki kemampuan tersebut. Apa yang oleh kebanyakan orang dianggap benar, bisa ditutupi sedemikian rupa olehnya sehingga menjadi salah; demikian pula sebaliknya.

Sebagai contoh, adalah pengakuannya sebagai Tuhan atau penguasa. Dengan bukti bisa menghidupkan orang mati, menurunkan hujan di masa paceklik, menumbuhkan tanaman dan lain sebagainya yang menggambarkan kekuasaan Tuhan. Padahal, semua itu, bagi orang beriman adalah kebohongan dan pengelabuan saja. Sebab, bagi orang yang mengerti sosok sejati dajjal, akan tahu bahwa antara pengakuannya sebagai Tuhan, dengan bentuk fisiknya yang penuh cacat, tidak layak disebut Tuhan, terlebih doktrin yang dibawanya.

Kedua, buta sebelah mata. Karena itu, ia hanya melihat dari satu sisi yang negatif saja. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad dengan ungkapan “a`war” (bermata satu). Selain itu, di dahinya ada tulisan “kaf”, “fa” dan “ra” yang menunjuk pada kata “kafir”. Bila diamati dari hadits-hadits yang ada, memang orientasi dajjal hanya satu: bagaimana menutupi kebenaran sehingga orang menjadi kufur kepada Allah.

Ketiga, menggunakan syubhat dan syahwat untuk menundukkan seseorang. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim misalnya, kelak dajjal (di masa kemarau panjang) akan membawa air dan api. Apa yang terlihat api oleh kebanyakan orang sejatinya adalah air; sedangkan yang terlihat air, hakikatnya adalah api. Dengan syubhat dan syahwat ini, banyak sekali korban yang terkelabui.

Keempat, kecepatan yang luar biasa. Melalui bacaan hadits-hadits nabi, salah satu kemampuan dajjal adalah kecepatannya. Kedatangan wujud aslinya di dunia hanya empat puluh hari, namun, satu hari pertama laksana setahun; hari kedua seperti satu bulan; dan hari ketiga bagaikan satu minggu, kemudian berikutnya normal seperti hari biasa (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa dajjal memiliki kecepatan di atas rata-rata.

Baca: Inilah Berbagai Kejadian Besar Sebelum Munculnya Dajjal

Kelima, daya jangkau fitnah yang luas. Menurut riwayat muslim, tidak ada satu negeripun yang tak diinjak dajjal, melainkan Mekah dan Madinah. Ini menunjukkan bahwa daya jangkau fitnah dajjal ini bukan hanya terbatas pada negeri tertentu, tapi akan mengena ke berbagai negara secara global, kecuali wilayah yang dilindungi oleh Allah.

Sebenarnya masih banyak hal-hal subtansial lainnya, bisa dirujuk dalam hadits-hadits shahih. Pertanyaannya, apakah kelima sinyal tersebut (kebohongan [manipulasi], orientasi duniawi, syubhat-syahwat, kecepatan luar biasa dan daya jangkau luas)  terkandung dalam era digital?

Semua jawaban kembali pada kepekaan dan kejelian masing-masing individu dalam penggunaannya. Tapi yang jelas, sejak Adam hingga kiamat tidak pernah sepi dari peringatan sinyal-sinyal kedatangan dajjal. Setiap nabi pun juga selalu mewanti-wantinya.

Jika pada zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja, sudah sedemikian peka dan antusias dalam menangkap sinyal-sinyalnya seperti dalam kasus Ibnu Shayyad (orang yang terindikasi sebagai dajjal) dan cerita Tamim ad-Dâri dalam sebuah pulau tentang dajjal, lalu bagaimana dengan kita di era digital ini?

Jika sinyal-sinyal dajjal bisa terlacak di era digital, lalu bagaimana agar terlindungi dari fitnahnya? Salah satunya adalah membaca 10 awal atau sepuluh akhir dari Surah al-Kahfi sebagaimana tertera dalam riwayat Muslim.

Namun, menurut penulis, meski membaca dan menghafalnya sudah bagus, tapi bagi yang mau mentadabburi lebih dalam ada pesan yang kuat di dalamnya: Jika mau terhindar dari fitnah dajjal, maka teladanilah Ashabul Kahfi. Mereka adalah para pemuda yang demi memegang teguh iman dan hidayah Allah rela melawan kebatilan, walaupun itu sudah menjadi mainstream di masyarakatnya.

Di dalam gua itu mereka seolah terisolir, tersisihkan dan menjadi manusia asing di tengah masyarakat yang menolak kebenaran, padahal hakikatnya mereka selamat dan menjadi percontohan bagi orang-orang setelahnya. Ini menunjukkan bagaimana kekuatan iman yang beriring amal dan hidayah Allah ta’ala, sebagai salah satu pelindung terbaik dari bahaya apapun, termasuk: Dajjal.*/Mahmud Budi Setiawan

The post Sinyal Dajjal di Era Digital appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
141536
Sukmawati dan Naturalisasi Kesombongan Hijab-Phobia http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/04/09/140081/sukmawati-dan-naturalisasi-kesombongan-hijab-phobia.html Mon, 09 Apr 2018 10:14:08 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=140081

Naturalisasi kesombongan seperti yang dicontohkan Sukmawati dan para hijab-phobia dianggap sebagai ke-ngawur-an pemikiran yang membahayakan para muslimah

The post Sukmawati dan Naturalisasi Kesombongan Hijab-Phobia appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Muh. Nurhidayat

 

SEORANG perempuan lansia, Sukmawati Soekarno Putri dikecam oleh jutaan warga muslim Indonesia. Beberapa istilah suci bagi umat muslim, yaitu “syariat Islam”, “cadar”, dan “adzan” diperolok-olok oleh Sukmawati dalam puisinya.

Mungkin ia sendiri juga tidak menduga sebelumnya, bahwa puisi yang dibacakannya pada Indonesia Fashion Week 2018, ternyata dapat menjeratnya sebagai pelaku penistaan agama. Tidak hanya itu, ia juga dapat terjerat pasal ujaran kebencian (hate speech), dan dianggap jauh lebih bodoh daripada Ahok, terpidana penistaan agama pada 2016 silam.

Di berbagai jaringan medsos, ada ribuan puisi ‘balasan’ yang dibuat para netizen untuk menasehati, bahkan mem-bully Sukmawati. Seandainya ayahnya, mantan presiden Soekarno masih hidup, tentu akan sangat malu diperdengarkan puisi terburuk di dunia itu. Sebab Soekarno sendiri—terlepas dari politik nasakom yang diterapkannya—adalah pribadi yang sangat menghormati syariat Islam.

Penistaan agama dalam puisi Sukmawati dapat dipandang sebagai contoh adanya naturalisasi kesombongan para hijab-phobia. Fenomena hijab syar’i, terutama hijab bercadar yang telah menjadi budaya populer di kalangan muslimah negara ini, ternyata tidak disukai oleh segelintir orang.

Ketidaksukaan tersebut sudah lama diungkapkan para hijab-phobia secara lugas. Bukan hanya tidak suka saja, mereka pun aktif woro-woro (mengumumkan) sikapnya agar diikuti oleh para muslimah. Mereka beralasan, bahwa hijab bukanlah ‘dilahirkan’ sendiri oleh budaya asli Indonesia, melainkan hasil dari invasi budaya asing dari Arab.

Meskipun secara terbuka menolak hijab, beberapa tokoh perempuan hijab-phobia ternyata tidak mau disebut anti-Islam. Bahkan mereka mengklaim diri sebagai muslimah taat, yang dilahirkan dari keluarga muslim taat pula. Agar dianggap tidak anti-Islam, tokoh perempuan itu juga ‘berhijab’. Meskipun ‘hijab’ yang dipakai hanyalah kerudung yang sangat tipis dan transparan. Menurut para hijab-phobia, kerudung yang dipakai mereka adalah budaya asli Indonesia.

Baca: Puisi Sukmawati, Teori Keadilan dan Penodaan Agama

Ditinjau dari segi syariat, kerudung versi mereka tidak bisa disebut sebagai hijab, apalagi hijab syar’i.  Karena kerudung yang dipakai mereka itu tetap memperlihatkan bagian rambut dan leher. Selain itu, bagian dada mereka pun tidak bisa ditutupi. Apalagi biasanya, kerudung tersebut akan dililitkan pada bagian leher (seperti syal) agar tidak nyusahin pemakainya. Dengan demikian, kerudung yang sangat tipis dan transparan itu lebih tepat disebut sebagai hiboob.

Istilah “boob” sendiri diadopsi dari kosakata pasaran dalam bahasa Inggris untuk menyebut (maaf) payudara perempuan. (Dalzell & Victor, 2008).

Kerudung seperti ini memang menjadi identitas kaum muslimah Indonesia tempo doeloe, yang  biasanya dipakai sebagai pelengkap baju kebaya dan jarik. Namun jika diteliti, kerudung seperti ini pun juga bukan ‘dilahirkan’ oleh budaya asli Indonesia. Mengapa demikian? Ceritanya sangat panjang!

Sejarah Hijab Syar’i dan Cadar di Indonesia

Pada abad ke-7, wilayah dakwah Islam dapat diperluas oleh pemerintahan khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Sehingga Islam tidak hanya dipeluk oleh masyarakat Arab saja, namun juga dianut oleh masyarakat di luar Arab. Islamisasi wilayah Bumi Syam (kini meliputi Yordania, Suriah, Palestina, dan Libanon) berhasil dilakukan oleh umat muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Islamisasi di Babilonia (kini Irak) dan Persia (kini Iran) pun juga berhasil dilakasanakan oleh tim Sa’ad bin Abi Waaqqash radhiyallahu ‘anhu.  (Iqbal, 2000).

Selain itu, Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma ditugaskan khalifah untuk berdakwah ke Nusantara (kini Indonesia) melalui jalur laut. Dakwah Islam yang dilakukan Mu’awiyah disambut baik oleh dua kerajaan besar saat itu, yaitu Aceh dan Kalingga (Jawa Tengah). Pasca kunjungan Mu’awiyah, Aceh dan Kalingga meminta dikirimkan beberapa ulama dari Arab untuk berdakwah di kerajaan masing-masing. (Sastranegara, 2000).

Disebutkan dalam sejarah, raja dan seluruh masyarakat Aceh masuk Islam. Sehingga Aceh dikenal sebagai kerajaan pertama di Nusantara yang menjadi muslim. Sementara itu, Ratu Sima, tokoh perempuan yang memimpin kerajaan Kalingga diketahui tidak masuk Islam.

Namun anak beliau yang menjadi putra mahkota diketahui menjadi muslim. Bahkan pada masa pemerintahan Ratu Sima sendiri, nilai-nilai Islam secara substansial telah dijadikan sebagai hukum kerajaan. Penerapan hukum hudud (seperti hukuman potong tangan) telah diberlakukan kepada adik kandung Ratu Sima sendiri yang diketahui terlibat korupsi. (Sastranegara, 2000).

Baca: Hiboob dan Strategi Komunikasi Perlindungan

Kerajaan besar lainnya seperti Sriwijaya (Sumatra Selatan) belum sempat dikunjungi Mu’awiyah. Namun beberapa tahun kemudian, khalifah Umar bin Abdul Azis dikirimi surat diplomatik dari raja Sriwjaya, yaitu Sri Indrawarman. Umar diminta Indrawarman untuk menugaskan beberapa ulama dari Arab yang dapat mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Sriwijaya. (Sastranegara, 2000).

Pada abad ke-7 Islam telah dipeluk oleh sebagian besara masyarakat Nusantara. Dan Islam pun dijadikan sebagai agarma resmi kerajaan-kerajaan di Nusantara. Sejak saat itu, umat muslim Nusantara dikenal taat menjalankan ajaran agamanya secara kaffah. Sehingga hijab syar’i pun dipakai oleh para muslimah Nusantara.

Beberapa abad kemudian, syariat Islam yang diajarkan para ulama dari madzhab Syafi’i dijadikan sebagai referensi oleh sebagian besar kerajaan di Nusantara. Sehingga dimungkinkan hijab syar’i bercadar juga banyak dipakai oleh para muslimah Nusantara saat itu. Sebab menurut Madzhab Syafi’i, seluruh tubuh muslimah (termasuk wajah dan kedua telapak tangan) dianggap sebagai aurat, sehingga harus ditutupi.

Dengan demikian, hijab dapat dipastikan memang bukanlah budaya asli Nusantara. Namun dikenalnya hijab oleh muslimah negeri ini bukanlah dari hasil invasi (penjajahan) budaya Arab. Hijab para muslimah negeri ini dihasilkan dari akulturasi (‘perkawinan’) budaya Arab – Nusantara. Hijab, seperti ajaran Islam lainnya, dikenal luas oleh masyarakat Nusantara melalui dakwah. Dan dakwah sendiri harus disampaikan melalui perdamaian. Umat muslim dilarang mendakwahkan Islam melalui pemaksaan, apalagi penjajahan.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran : 159)

Sejarah Kerudung Transparan di Indonesia

Hijab telah dijadikan sebagai busana dan identitas kaum muslimah Nusantara selama lebih-kurang 9 abad. Sampai akhirnya, pada abad ke-16, Nusantara mulai dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa, terutama Belanda. Selama 350-an tahun, penjajah Belanda terus dilawan oleh masyarakat Nusantara yang sebagian besar muslim. Perlawanan tersebut umumnya dipimpin oleh para ulama di berbagai kerajaan. Bukan hanya ulama pria saja, banyak ulama wanita yang dicatat sejarah berhasil memimpin masyarakat untuk mengusir penjajah Belanda.

Baca: Cadar Menghantui Kampus Islam?

Salah satu ulama wanita yang ditakuti penjajah adalah Malahayati dari kerajaan Aceh Darussalam. Beliau juga dicatat sebagai wanita pertama di dunia yang menjabat sebagai panglima tertinggi angkatan laut, dengan pangkat laksamana (admiral). Hingga kini belum ada satupun tentara perempuan di dunia yang mencapai karier militer seperti Malahayati, (Nurhidayat, 2008).

Selain Malahayati, Tiyahahu dari Jazirah al-Mulk (Maluku) juga dicatat sejarah sebagai ulama wanita yang memimpin perlawanan kepada penjajah Belanda. Tiyahahu dikenal sebagai perwira angkatan darat negeri Jazirah al-Mulk. Negeri itu dipimpin seorang ulama besar bernama Ahmad Matulessy. Matulessy disebut oleh penjajah Belanda sebagai Pattimura. Malahayati dan Tiyahahu dikenal sebagai ulama muslimah berhijab syar’i yang memiliki banyak santriwati yang berhijab syar’i pula.

Mengingat begitu besarnya semangat juang yang dimiliki umat muslim, termasuk para muslimah berhijab dalam melawan penjajah, maka seorang penasehat penjajah bernama Snouck Hurgonye, menyarankan kepada Belanda, agar umat muslim dijauhkan dari ajaran Islam yang sesungguhnya. (Husaini, 2002).

Atas saran Hurgonye, program de-Islamisasi pun diterapkan oleh penjajah Belanda. Umat muslim dijauhkan dari ajaran Islam secara kaffah. Salah satunya, para muslimah Nusantara dilarang berhijab. Degan demikian, pelarangan inilah yang dianggap sebagai represivitas terhadap hijab pertama di Nusantara (cikal bakal Indonesia).

Oleh Belanda, kaum muslimah negeri ini pun diperkenalkan dengan syal yang sangat tipis dan transparan sebagai pengganti hijab. Syal seperti ini biasa dipakai perempuan Belanda ketika akad nikah di gereja. Kaum muslimah pun semakin dipersulit geraknya dengan diharuskan memakai baju kebaya dan jarik yang sangat ketat. Sehingga ada anggapan di kalangan pemerhati masalah gender, betapa mudahnya pelecehan seksual yang dialami kaum perempuan pada zaman penjajah, karena  mereka memakai baju yang super ketat tersebut. (Syah, 1999)

Sejak itulah kerudung tempo doeloe dipakai para muslimah, dan menjadi budaya Nusantara. Dengan demkian, justru kerudung seperti itulah yang dikenal sebagai hasil invasi (penjajahan) budaya asing dari Belanda.

Penolakan hijab oleh para hijab-phobia dianggap sebagai naturalisasi kesombongan. Artinya, kesombongan dipromosikan sebagai hal yang mulia, dengan alasan nasionalisme yang salah kaprah. Padahal sejatinya kesombongaan dinilai sebagai akhlaq tercela yang paling besar dosanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Tidak akan bisa masuk ke dalam Surga seseorang yang di dalam hatinya ada setitik kesombongan.” (HR. Muslim)

Lagipula, hijab-phobia merupakan contoh materi pemikiran sekuler dan liberal. Kedua pemikiran ini yang diusung para hijab-phobia merupakan aliran sesat, yang juga bukan budaya asli Indonesia. Pemikiran ini merupakan hasil invasi pemikiran dari Barat, (Jaiz, 2001).

Bangsa-bangsa Barat sadar, bahwa Indonesia sangat sulit untuk kembali dijajah secara fisik. Maka mereka pun melancarkan invasi (penjajahan) pemikiran, dengan memanfaatkan para londo ireng, yaitu orang-orang pribumi sebagai ‘kaki tangannya’.

Para londo ireng mengklaim bahwa mereka lah orang yang paling agamis dan paling nasionalis. Padahal seseorang yang agamis dan nasionalis sejati dipastikan tidak akan berani melawan aturan dari Allah subhanahu wataa’ala.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi pria yang mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan (aturan), aka ada bagi mereka pilihan (aturan yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

Naturalisasi kesombongan seperti yang dicontohkan Sukmawati dan para hijab-phobia dianggap sebagai ke-ngawur-an pemikiran yang membahayakan para muslimah awam. Para ulama dan umara (pemerintah) Indonesia pun kini dianggap semakin besar PR-nya dalam melindungi kaum wanita, setelah Sukmawati dan para hijab-phobia semakin berani memperlihatkan kesombongan pemikirannya. Wallahua’lam.*

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ichsan Gorontalo

The post Sukmawati dan Naturalisasi Kesombongan Hijab-Phobia appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
140081
Bisakah Pers Netral? http://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2018/04/08/139997/bisakah-pers-netral.html Sun, 08 Apr 2018 00:49:25 +0000 http://www.hidayatullah.com/?p=139997

Berita yang dibentuk oleh media massa bukan berasal dari ruang yang hampa, tapi diproduksi oleh ideologi tertentu

The post Bisakah Pers Netral? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>

Oleh: Beggy Rizkiyansyah

 

BISAKAH pers netral? Pertanyaan itu mungkin menggelayuti benak masyarakat hingga saat ini. Kita saat ini memang dipertontonkan keberpihakan yang telanjang tanpa malu-malu dari banyak media saat ini. Musim politik semakin menyuburkan praktek keberpihakan media hingga bukan saja terkesan partisan, tapi tanpa sungkan berpolitik praktis menjadi juru propaganda dalam pilkada atau pilpres.

Fenomena ini jika ditelisik lebih jauh menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Di satu sisi pers seringkali mengklaim independen, netral atau objektif. Tetapi keberpihakan pada satu kelompok atau partai dilakukan semakin telanjang. Jika demikian, apakah pers bisa netral?

Media massa atau tepatnya perusahaan pers sesungguhnya adalah kumpulan manusia dengan jurnalis sebagai ujung tombaknya. Ketika bersentuhan dengan fakta di lapangan, ia bukanlah perekam pasif, tetapi terjadi interaksi antara dirinya dengan realitas. Para jurnalis ini tentu saja bukan robot yang tak memiliki seperangkat nilai, kepercayaan, pandangan hidup atau ideologi dalam dirinya. Malah disadari atau tidak, hal-hal tadi turut membentuk dirinya menilai sebuah realitas.

Fakta dilapangan kemudian dibawa ke ruang redaksi yang terdiri dari sekumpulan manusia yang memiliki nilai-nilai pula. Menurut Mark Fisherman, “News story, if they reflect anything, reflect the practice of the workers in the organizations that produce news.” (Eriyanto: 2012)

Di dalam perusahaan pers, jurnalis hidup dalam institusi media dengan seperangkat aturan dan nilai-nilai tertentu. Hal itu memungkinkan bagi sebuah media mengontrol wartawan untuk melihat peristiwa dalam kemasan tertentu. Bahkan dapat dikatakan di ruang redaksi media condong menjadi kediktatoran, dalam arti seseorang yang berada dalam komando teratas yang membuat keputusan terakhir (Bill Kovach & Tom Rosenstiel: 2004).

Baca: Kelicikan Media Massa

Eriyanto, dalam Analisis Framing (2012) menyebutkan bahwa berita yang dibentuk oleh media massa bukan berasal dari ruang yang hampa, tapi diproduksi oleh ideologi tertentu. Begitu besarnya pengaruh ideologi dalam media massa sehingga ideologi berperan menampilkan pesan dan realitas hasil konstruksi tampak seperti nyata, alami dan benar. Melalui bahasa dan kata-kata, ideologi menjelma menjadi “realitas” yang harus dipahami oleh khalayak. (Eriyanto: 2012)

News, Discourse and Ideology (2008) yang ditulis Teun A. Van Dijk dalam The Handbook of Journalism Studies, menyebutkan ideologi yang rasialis misalnya, memberikan dampak pada produksi berita. Mulai dari pemilihan sumber daya jurnalis (hiring), pemilihan sumber (beats and sources), nilai berita (news values), penempatan berita (salience), hingga pilihan kata (rhetoric).

Jika demikian maka netralitas bukanlah sifat yang dapat diberikan pada pers. Bahkan Kovach dan Rosesnstiel tidak menempatkan ketidakberatsebelahan (fairness) dan keseimbangan (balance) dalam sembilan elemen jurnalisme mereka.

Baca: Pers dan Akhlak Jurnalistik

Ketidakberatsebelahan dan keseimbangan bukanlah tujuan, tetapi metode. Keseimbangan bukanlah semacam kesan matematis pada porsi berita yang disajikan. Begitu pula ketidakberpihakan. Bukanlah soal apakah berita terkesan berat sebelah? Seharusnya ketidakberpihakan dimaknai sebagai sikap jurnalis yang berlaku adil terhadap fakta dan pemahaman warga atas fakta-fakta tersebut.  (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Satu hal yang dapat dituntut dari jurnalis adalah objektivitas. “Objektivitas Meminta wartawan mengembangkan sebuah metode untuk secara konsisten menguji informasi –pendekatan transparan menuju bukti-bukti-dengan tepat sehingga bias personal dan bias budaya tidak melemahkan akurasi kerja mereka,” demikian menurut Kovach dan Rosenstiel. (2004)

Maka objektif yang dapat dituntut bukanlah pada sosok jurnalis itu sendiri, namun metode yang dipakai oleh jurnalis untuk memperoleh berita. Metode ini merupakan pencerminan dari disiplin verifikasi informasi yang harus dilakukan setiap jurnalis.

Seperangkat konsep inti dalam disiplin verifikasi yang ditawarkan Kovach dan Rosenstiel adalah; jangan pernah menambahi sesuatu yang tidak ada, jangan pernah menipu audiens, berlakulah setransparan mungkin tentang metode dan motivasi anda; andalkan reportase anda sendiri; dan bersikaplah rendah hati. Seperangkat prinsip tersebut dapat membantu jurnalis untuk menjadi objektif. (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Objektivitas tersebut yang dapat diharapkan. Bukan netralitas atau ketidakberpihakan. Oleh sebab itu bukanlah persoalan jika jurnalis memiliki ideologi, pandangan hidup atau nilai-nilai tertentu. Meminjam kalimat jurnalis Maggie Gallagher, “Ada perbedaan antara jurnalis dengan juru propaganda. Saya mencari berita tidak untuk memanipulasi audiens saya. Saya mencari untuk mengungkap dan menyampaikan kepada mereka dunia sebagaimana saya melihatnya.” (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: 2004)

Seorang jurnalis Muslim sudah seharusnya memiliki Islam sebagai pandangan hidupnya dalam situasi apa pun. Termasuk ketika ia menjadi jurnalis (meliput). Pandangan hidupnya tak dapat dilepaskan dari dirinya. Nilai-nilai Islam sebagai seorang Muslim akan memandu dirinya dan menjadi kacamata dalam melihat realitas. Islam memiliki cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu. (Hamid Fahmi Zarkasyi: 2013) Di saat yang bersamaan, sebagai jurnalis, ia tetap berpijak pada fakta dan disipilin verifikasi dalam menulis berita. Termasuk berlaku adil menyikapi fakta.

Baca: “Pentingnya Kebebasan Pers, Jangan Larang Media yang Mengajak Keimanan

Adalah menggelikan jika ada yang mengatakan, ketika jurnalis sedang meliput berarti harus menanggalkan sementara identitas agamanya agar tetap independen. Tidak ada manusia yang bebas dari nilai dan pandangan hidup. Pemahaman menanggalkan agama ketika meliput justru sebenarnya adalah bentuk lain dari pandangan hidup barat moderen yang mengusung sekularisme. (Hamid Fahmi Zarkasyi: 2013)

Baik seorang jurnalis Muslim, ataupun pers Islam tak perlu ragu untuk menerapkan dan mengungkapkan pandangan hidup Islam dalam dirinya. Justru keterbukaan atas pendirian dan sikap tersebut menjadi bagian dari kejujuran dalam menulis berita yang tetap bersandar pada fakta. Persoalannya betapa banyak saat ini media atau pers yang menepuk dadanya sebagai netral dan tidak berpihak, seakan bebas nilai, padahal hal tersebut adalah mustahil.

Lebih parah lagi betapa banyak saat ini pers yang menyokong satu kelompok, figur atau partai politik, namun mendapuk dirinya tak berpihak. Kekonyolan loyalitas semacam ini adalah manipulatif. Loyalitasnya pada partai atau faksi hendak ditutupi oleh jubah dengan slogan independensi. Jurnalis dan pers ketika meliput dan memproduksi berita seharusnya loyal pada tujuan, bukan pada faksi atau partai.

Kenyataannya, di Indonesia saat ini media arus utama begitu telanjang menunjukkan keberpihakan pada kelompok, partai atau figur. Misalnya, Kelompok Media MNC jelas dimiliki oleh pendiri partai Perindo. Metro TV didirikan oleh pendiri partai Nasdem.

Fenomena menyedihkan seperti ini terus melaju semakin kencang dan massif. Namun jurnalis Muslim dan pers Islam tak perlu terseret arus yang sama. Tak perlu menceburkan diri dalam politik praktis dan partisan. Cukuplah Islam sebagai pandangan hidup yang menjadi panduan tanpa menjadi media partisan. Karena pandangan hidup yang bersemayam dalam jurnalis Muslim dan disiplin verifikasi (objektivitas) adalah dua hal yang dapat hidup berdampingan dalam diri seorang jurnalis Muslim.*

Anggota Jurnalis Islam Bersatu. Tulisan ini merupakan Program #MelekMedia dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

  

The post Bisakah Pers Netral? appeared first on Hidayatullah.com.

]]>
139997